Archives for “Catatan Pribadi”

Ismail Fahmi [dari blog pribadi]

Seorang bijak berkata kepadaku, “Anakku, mari kita bicara tentang cinta. Cinta apa yang kau miliki?” Merasa diri ini memang belum paham apa makna cinta yang sebenarnya, maka aku dengarkan baik-baik setiap wisdom yang menyemburat seperti cahaya.

Anakku, kamu harus membuka hatimu lebar-lebar agar bisa menangkap esensi cinta yang akan aku sampaikan. Simpan pertanyaanmu nanti, karena setiap pertanyaan itu terlahir dari akal. Seperti langit, akal melayang tinggi di atas bumi tempatmu berpijak. Dan kau pun akan jauh dari hati pijakanmu, satu-satunya titik yang mampu menangkap esensi cinta.

Selengkapnya…


Ismail Fahmi

Dalam setiap perdebatan di milis-milis yang saya ikuti, ada sebuah pertanyaan populer yang tidak pernah absen ketika UU Pornografi dijadikan topik pembahasan. Pertanyaan itu adalah:

Apakah kita benar-benar perlu UU khusus untuk pornografi?

Pertanyaan lanjutannya yang memperjelas pertanyaan utama di atas antara lain: Bukankah sudah ada KUHP dan juga mungkin undang-undang atau peraturan lain yang bisa dipakai untuk mengatasi masalah pornografi? Bukahkan masalah kita saat ini ada di penegakan hukum yang lemah? Polisi, hakim, dan jaksa yang bisa disogok?

Selengkapnya…


Kita, Kami, dan Revans

Filed under Catatan Pribadi

Pada hari rabu tanggal 27 Juli 2005, setelah sempat beberapa hari tidak bersentuhan dengan internet, saya menyempatkan diri membaca beberapa blog dan situs berita mengenai tanah air. Pendek kata, setelah membuka-buka beberapa halaman situs, mata saya mulai terasa gatal. Ternyata setelah diperhatikan, ada beberapa penggunaan bahasa Indonesia yang sedikit membuat saya “tersinggung”.

Masalah penggunaan “kami” dan “kita” memang sudah mengusik saya sejak lama. Hanya saja, “serangan” yang bertubi-tubi pada hari Rabu kemarin itu, membuat saya ingin menumpahkan kerisauan saya di tempat yang dapat dibaca oleh publik luas. Media mana lagi yang lebih cocok dari café degromiest yang ratingnya di google sudah amat tinggi ini?

Kami dan Kita

Perhatikan contoh dibawah ini :

A ingin mengungkapkan kepada B, bahwa ia dan X kemarin beli ikan Tongkol di Vismarkt.

A: “Eh, B, kemarin aku dan X ke Vismarkt lho.. kita beli ikan Tongkol masing-masing 3 ekor!
B: “Wah.. berarti aku bisa ke rumah mu ya malam ini, numpang makan.. maklum, di Gedung Kuning udah enggak ada makanan lagi”

Sebelum dibahas lebih lanjut, ada baiknya kita (!) mengulangi sedikit pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 3 SD. Dalam suatu percakapan, “Kita” digunakan untuk mengacu kepada si pembicara (orang pertama), dan si lawan bicara (orang kedua). Sedangkan “kami” digunakan untuk mengacu kepada si pembicara (orang pertama), dan orang lain (orang ketiga), selain si lawan bicara (orang kedua).

Sehingga, menurut kaidah bahasa Indonesia, A pada contoh diatas, seakan-akan mengatakan bahwa A dan B lah yang beli ikan tongkol di Vismarkt, dan bukan A dan X. Seharusnya, A menggunakan “kami”, bukan “kita”.

Dalam percakapan sehari-hari, sering sekali kesalahan macam ini terjadi. Mungkin, karena sudah terlalu sering, otak kita (!) cenderung untuk mengabaikannya. Atau bahkan, penggunaan “kita” untuk contoh diatas sudah dirasa benar, dan penggunaan “kami” malah dirasa janggal. Tetapi, bagi yang memperhatikan, tentu telinganya akan menderita gatal-gatal yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter THT.

Selama ini, sering terdengar keluhan, bahwa Bahasa Indonesia banyak menyerap kata-kata dari bahasa lain, karena Bahasa Indonesia itu tidak memiliki kosa kata yang cukup, sehingga harus dilengkapi oleh bahasa lain. Contoh diatas, telah membuktikan, bahwa keluhan tersebut tidak sepenuhnya benar. Bandingkan dengan bahasa Inggris dan bahasa Belanda yang hanya punya “we” dan “wij”, sementara bahasa Indonesia punya “kami” dan “kita”. Bukankah dalam hal ini bahasa kita lebih kaya?

Revans

Penggunaan kata serapan, dalam hal memang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, memang dapat diterima, atau malah dianjurkan. Akan tetapi, apabila diperhatikan, banyak juga kata serapan yang seharusnya tidak perlu diserap, karena padanan katanya sudah terdapat dalam Bahasa Indonesia.

Pada hari yang sama, hari Rabu kemarin, di salah satu rubrik olahraga situs berita dari tanah air, saya menjumpai kata “revans”. Ini juga bukan yang pertama kali kata ini saya jumpai. Namun, kali ini karena dijumpai di salah satu situs berita yang menurut beberapa informan diakses sekian ratus ribu kali perharinya, saya menjadi amat prihatin. Penggunaan “revans” pada situs itu adalah kira-kira sebagai berikut:
“Dalam olahraga X, A ingin revans terhadap B”.

Setelah beritanya dibaca, ternyata yang dimaksud oleh si penulis berita dengan “revans” adalah “balas dendam”. Apakah begitu nistanya bahasa Indonesia sehingga si penulis harus menggunakan “revans”? atau apakah tujuannya agar pembaca situs itu tahu, bahwa si penulis berita sudah mengerti bagaimana cara menggunakan kata “revenge” dalam bahasa Inggris?


Kemalasan berbahasa Indonesia yang baik dan benar (bukan propaganda orba ya..) akhir-akhir ini sema(ng)kin memprihatinkan. Makin banyak kosa kata bahasa kita hilang ditelan bumi, karena sudah tidak digunakan lagi, diganti dengan kata lain, dan dari bahasa lain. Di lain pihak, kekayaan bahasa kita makin dipermiskin, bahwa walaupun sedianya ada “kita” dan “kami”, saat ini secara perlahan-lahan “kami” sedang dalam proses pengikisan dari kosa kata bahasa Indonesia.

Dengan tetap chusnudzan, saya ingin berkata bahwa mungkin, program pengajaran bahasa Inggris di tanah air sudah sedemikian hebatnya, sehingga para pemakai bahasa Indonesia sudah mulai lupa dengan bahasa ibunya (English disease – mulai mewabah di Belanda), , dan siap “Go International”. Tetapi sepertinya, saya belum bisa berkata demikian. Pejabat negara bagian pariwisata saja, bahasa inggrisnya masih “belepotan”. Masa sudah lupa bahasa Indonesia?

Repot amat sih sama bahasa Indonesia? So What Gitu Lho!!?


DeGromiest, Origination

Filed under Catatan Pribadi

Berikut adalah tulisan Mba Heni Rachmawati, lulusan PhD RuG bidang Farmasi, yang menceritakan asal-muasal organisasi DeGromiest dan kesan-kesan indahnya pada saat pertama kali menginjakkan kaki di kota Groningen.

Assalamu�laikum wr.wb,

Sahabat semua di groningen….

Kalau saya boleh bercerita mundur, bahwa kurang lebih
4 tahun silam tepatnya tanggal 31 januari 2001, saya
pertama kalinya melihat belahan bumi lain, EROPA.
Bulan januari di Eropa sini berarti musim dingin.
Sesaat keluar dari KLM, saat itu pula pertama kalinya
saya mengenakan jaket winter, yang seumur2 sebelumnya
nggak pernah. Dengan sedikit bergumam: wah gue jadi
bule neh!!!!

Selengkapnya…


Kota Bandung

Filed under Catatan Pribadi

Hari ini adalah hari rabu tanggal 20 April 2005. Ini adalah hari pertamaku di kota Bandung semenjak aku menginjakkan kakiku di negara Indonesia tercinta ini. Aku berangkat dari Jakarta jam setengah sembilan pagi dengan memakai kijang inova baru milik ibuku. Kakakku yang pertama-tama menyetir karena dia pun ingin mencoba mobil baru ini. Dia bilang kijang naik kelas karena sekarang segala accesorinya dari mulai mesin hingga dashboard dibuat dengan kualitas yang sangat bagus. Kakakku mengantarku hanya sampai perbatasan, dia masih ada urusan di Jakarta. Kemudian perjalanan selanjutnya dilanjutkan oleh supir pribadiku, Ajat. Kami tiba di kota Bandung pukul 11.30 siang. Kami langsung menuju kantor imigrasi Bandung untuk memperpanjang pasporku yang harus diperpanjang 5 tahun lagi. Disana sudah menunggu seseorang yang memang bekerja untuk mengurus dan memudahkan segala keperluan orang yang ingin memperpanjang paspor. Karena aku memang tidak punya banyak waktu untuk mengurus sendiri dan memang kalau aku mengurus sendiri akan memakan waktu yang sangat lama, maka aku putuskan untuk memakai jasa seseorang, mumpung sekalian bagi-bagi rezeki kepada orang yang membutuhkan, mudah-mudahan Tuhan menerima niat baikku ini.

Urusan paspor berjalan dengan sangat lancar. Ternyata sudah tiba waktu makan siang. Aku telepon teman lamaku yang sudah pulang bekerja dari negeri Norwegia di salah satu perusahaan swasta terbesar di dunia di bidang perminyakan. Dia sudah keluar dari perusahaan tersebut karena pada umurnya yang juga seumuranku dia sudah divonis oleh dokter menderita sakit hypertensi kronis akibat kelelahan bekerja di perusahaan swasta tersebut. Namun departemen sumber daya manusia perusahaan tersebut bermain sinetron dengan departemen tenaga kerja untuk tidak memberikan pesangon yang selayaknya kepada temanku tersebut. Malang nian nasibnya. Oleh karena itu kuniatkan untuk bertemu dengannya sekalian melepaskan rindu setelah sekian tahun tidak bertemu dengannya. Sekarang dia bisnis sendiri di rumahnya dengan melalui internet. Yaitu bisnis forex alias foreign exchange. Beli dengan harga rendah dan jual dengan harga tinggi. Atau beli dengan harga tinggi dan jual dengan harga yang lebih tinggi lagi. Simpel dan sederhana. Cukup main satu bulan sekali saja, yaitu pada saat sentimen pasar yang sangat tinggi untuk menjamin profit yang cukup besar. Dia menceritakan kepadaku kapan saja waktu yang tepat untuk bermain. Sekali main bisa profit sampai 2000 US dollar. Jumlah yang fantastis untuk satu jam permainan. Tentu saja risiko ruginya pun ada, yaitu ketika salah menterjemahkan sentimen pasar. Uang yang ada bisa ludes sekaligus.

Dia bercerita kalau kondisi pasar Amerika memang mirip dengan kondisi pasar di Indonesia. Banyak peluang potensi pasar dan yang sukses bisa sukses banget dan yang bangkrut bisa bangkrut banget. Memang benar. Namun di Eropa, sistem sudah sangat mapan sehingga tidak ada orang miskin dan tidak ada orang kaya, semua sama rata. Menurutku dia terlalu mengeneralisir. Kondisi seperti ini hanya ada di negara-negara scandinavia saja, seperti Norwey, Denmark dan Finlandia. Belanda memang menganut sistem sosial namun karena krismon yang dashyat seperti saat ini, negeri ini pun dilanda kemiskinan. Tentunya kemiskinan yang disesuaikan dengan kondisi dan standar negara belanda dan tidak bisa dibandingkan dengan kemiskinan absolut yang diderita oleh masyarakat di negara Indonesia. Di Eropa yang paling dijunjung tinggi adalah hukum dan hak asasi manusia serta kode etik. Memang sebagian benar tapi tetap tidak bisa digeneralisir begitu saja. Tentunya seperti di semua negara dan di dunia rusak ini, dimana-mana outlier akan selalu ada. Ini pasti. Seperti telah diajarkan oleh hukum statistik.

Makan siang terjadi di Bandung Indah Plaza. Aku memesan nasi timbel komplit dengan dua ayam goreng ditambah sayur asam ditambah dengan minuman es kelapa muda dan teh botol dingin. Rasanya nikmat tidak terkira karena memang menu ini adalah menu favoritku setiap aku pulang ke Indonesia. Sambil makan kami mengobrol banyak tentang ini dan itu selayaknya waktu jaman dahulu ketika kami kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan matematika. Bedanya sekarang kami sudah pernah mengalami apa yang dinamakan dengan dunia kerja yang keras. Sekarang sudah bukan waktunya untuk main-main lagi seperti jaman di universitas, namun sekarang hutan rimba yang ada di depan mata kami. Kalau tidak cerdik, akan diterkam oleh harimau. Kalau tidak pintar, akan lenyap ditelan gelapnya malam di tengah-tengah hutan belantara. Selayaknya teori evolusi Darwin, survival of the fittest tetap berlaku pada manusia karena sebenernya menurut Darwin, manusia adalah termasuk salah satu jenis binatang yang mempunyai akal pikiran. Jadi binatang pintar maksudnya dia begitu. Namun saya punya argumentasi lain yang berbeda dengan Darwin, manusia tetap berbeda dengan binatang, manusia mempunyai hati. Seburuk atau sejelek apa pun manusia, tetap ada sisi kebaikannya, aku yakin akan hal ini. Inilah yang membuatku bisa tetap exist di dunia manusia ini. Kalau aku sudah tidak percaya terhadap kaum manusia, aku tidak akan bisa hidup di dunia yang penuh dengan kerusakan dan kebusukan dan lengkap dengan tipu dayanya ini.

Setelah selesai makan siang aku pun pergi lagi ke kantor imigrasi Bandung untuk foto dan mengambil paspor baruku. Kemudian setelah itu aku pergi ke Geger Kalong Bandung untuk menginap di MQ Guest House. Ternyata nona Shirley yang cantik dan manis itu masih mengenaliku disana dan dia tersenyum sangat lebar menyambutku. “Kapan datang dari belanda pak?”, tanyanya. “Ooh, ini hari ketiga saya berada di Indonesia”, jawabku. “Mau menginap disini pak?”, tanyanya. Aku sedikit mengerutkan kening karena bukankah sudah jelas bahwa aku akan menginap disini karena aku membawa koper dan ransel serta keresek penuh dengan makanan. Namun aku segera ingat bahwa memang budaya di Indonesia untuk selalu berbasa-basi. Lalu aku pun mengangguk dan menyambut basa-basi tersebut dengan basa-basi lagi. Bersambutlah percakapan tersebut dengan sangat enak dan ramah. Sesuatu yang tidak mungkin aku bisa dapatkan di negeri Eropa. Di Eropa, segala sesuatu ada harganya, walaupun itu senyum atau pun sekadar basa-basi saja. Di Indonesia, masih ada dan mungkin tidak banyak aku pun tidak tahu karena belum pernah mengadakan riset tentang hal ini, orang yang tulus dan ikhlas untuk saling membantu dan memberi. Sayangnya di dunia rusak ini sudah semakin sedikit saja orang seperti ini.

Karena aku dianggap tamu langganan, aku pun mendapat diskon. Memang mungkin sudah menjadi rejekiku untuk mendapatkan diskon hari ini di MQ Guest House. Sudah tempatnya enak ditambah servicenya juga memuaskan. Setelah mandi dan membersihkan diri dari keringat busuk selama di perjalanan 3 jam Jakarta Bandung, aku pun pergi ke MQ Travel untuk memberikan paspor baruku ke seseorang yang bernama kang Sukarta. Beliau bekerja sebagai customer service dan bertugas untuk mengurus dan membantu serta melayani customer dalam setiap acara. Yang membuat saya terkesan adalah walaupun kaki kanan beliau lumpuh namun beliau sangat mandiri dan tidak membutuhkan bantuan orang lain. Bahkan dari segi finansial beliau adalah orang yang sudah sangat mandiri. Kekaguman saya akan beliau sangat tinggi sehingga mengingatkan saya pada seseorang di negeri Belanda yang juga sangat saya kagumi kepribadiannya, yaitu Cak Fu. Malam itu pula saya ajak kang Sukarta ke Warnet untuk mengunjungi web site Cak Fu dan kami mengirimkan email kepada beliau agar kang Sukarta dan Cak Fu bisa saling berkenalan dan saling berbagi cerita, ide dan gagasan. Tidak terkira senang dan bahagianya kang Sukarta ketika saya ceritakan segalanya mengenai Cak Fu dan DeGromiest. Dia tidak pernah mengira bahwa hari ini akan ada seseorang yang memberi tahu informasi ini. Ini adalah pertama kalinya dia mengetahui akan keberadaan seorang Cak Fu. Dan hal ini merupakan intan berlian penuh emas permata bagi seorang seperti Kang Sukarta.

Setelah selesai mengirim email saya pun mencoba berbaur dengan masyarakat sekitar untuk mengetahui lebih jauh kondisi setempat di Geger Kalong. Seperti apa komposisi masyarakatnya dan apa saja kegiatan disana. Sangat impresif menurut pandangan saya. Semua ini dimulai dari 3M, yaitu mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil dan mulai saat ini juga. Akhirnya lingkaran kecil ini bertambah besar dan bertambah besar lagi, bahkan bukan tidak mungkin bahwa akhirnya lingkaran besar ini menjadi lingkaran cosmic yang menutupi seluruh jagat raya. Siapa tau? Yang terpenting adalah setiap orang menyadari posisinya masing-masing dan kalau setiap orang sudah menerapkan 3M ini, maka bukan tidak mungkin, peradaban manusia yang kita damba-dambakan akan terwujud. Yaitu peradaban civil society yang diliputi oleh perasaan tentram, damai, tenang, penuh dengan kepercayaan satu sama lain, saling tolong-menolong dan saling membantu baik itu dalam kesulitan ataupun saling membantu dalam kesenangan. Saling mengingatkan dan sangat didambakan bahwa seorang manusia menjadi saudara bagi manusia lainnya dan bukan menjadi mangsa dan pemangsa. Bukan pula survival of the fittest karena kita tidaklah sama dengan bangsa binatang.


Wardi

Filed under Catatan Pribadi

Setelah update berita mengenai perkembangan milis yang akhir-akhir ini makin seru, ada satu conversation antara Wangsa dan Mia yang mengingatkan saya pada seseorang. Alkisah, ada seorang jejaka bernama Wardi. Wardi ini lahir dan besar di Pemalang. Pendidikannya cuma sampai kelas 4 SD. Sampai dengan umur 24 tahun, dia bekerja di sawah, mengkomando kerbau narik bajak, menemani sang kerbau merumput (tentunya si Wardi tetap makan nasi dan nggak ikut merumput), dan bantu-bantu hal lainnya. tidak jelas apakah si Wardi ini termasuk pengangguran terselubung atau bukan. Suatu hari, kakak ipar wardi yang bekerja di Jakarta pulang kampung dan menawarkan pekerjaan di Jakarta, karena menurut sang kakak, value si Wardi ini bisa ditingkatkan. Kalau di Pemalang, pendapatan Wardi tidak bisa dinilai dengan uang. Di Jakarta bisa. Paling tidak, tiap dua bulan sekali bisa beli satu kambing, dan masih bersisa untuk keperluan sehari-hari dan ditabung.

Wardi yang selalu membawa kartu anggota NU di dompetnya itu, awalnya agak bimbang. Maklumlah, embel-embel di depan nama Wardi itu “mas”. Kalau “uda”, tanpa berfikir dua kali pasti sudah dikemas pakaiannya yang tidak seberapa banyak itu dalam kurang dari sepuluh menit.

Sesampainya di Jakarta, Wardi bekerja sebagai “office boy“. Memang, job description agak berbeda dengan yang biasa dia kerjakan di sawah dengan kerbaunya. Tetapi pada hakikatnya, tetap kerja sedikit ini, sedikit itu (tapi kalau digabung jadi banyak juga), namun dengan beban relatif lebih ringan. Wardi diberikan sebuah kamar di kantornya tempat dia tinggal. Tidak bisa dibilang bagus, tetapi masih lebih bagus dari kamarnya di Pemalang. Paling tidak, sekarang kamarnya dikelilingi tembok, dan kaca yang tergantung di tembok itu ukurannya 5 kali lipat dari kaca spion yang dahulu selalu dia gunakan waktu menyisir rambutnya. Di meja di dekat kaca tersebut, ada sebuah radio tape lengkap dengan pemutar CDnya. Dan, yang paling membuat Wardi senang adalah, itu kamarnya sendiri. nggak usah bagi-bagi dengan orang lain.

Setiap hari Wardi dapat makanan dari kantornya. Walaupun selera makan Wardi cukup besar, namun jatah dari kantornya itu masih mencukupi. Sehabis main course, Wardi selalu menyiapkan dua hal untuk pencuci mulut. Secangkir kopi tubruk, dan dua batang rokok kretek. Sehari-hari, Wardi jarang meninggalkan kantor itu. Bukan karena tidak boleh atau tidak ada waktu karena mengejar deadline, tetapi karena memang dia tidak melihat kepentingannya untuk jalan-jalan. Saat malam-malam banyak anak muda nongkrong di belakang kantor di sekitar warung rokok, lantunan suara Wardi yang melagukan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu sayup-sayup terdengar dari arah kamarnya.

Suatu ketika, salah seorang “boss” Wardi bertanya :”Di, kamu tuh punya pacar enggak sih?” Wardi menjawab :”Enggak Mas”, sambil tersipu-sipu dengan cengkok Pemalangnya yang masih kental. “Biar dicariin di kampung aja”, lanjutnya lagi. Pada hari lainnya, ada penggantian perabot di wilayah “kekuasaan” Wardi di kantor itu. Tivi yang biasa ia tonton, dipindahkan, dan diganti dengan tivi yang lebih besar dan lebih bagus. Akses ke saluran tivi kabel yang dahulu hanya ada di ruang rapat dan kamar kerja para boss juga diberikan. Keesokan paginya, saat “boss besar” datang, Wardi menghampirinya, seraya berkata “Pak, mohon maaf, tapi, apa saya boleh minta tivi yang dulu saja? saya bingung mau nonton yang mana, dan tivinya besar sekali, pusing Pak”. Sang bos besar cuma bisa melongo saja mendengar curhat si Wardi. Akhirnya tivi si Wardi yang kecilpun dipasang kembali. Namun, walau sekarang menggunakan antena biasa, akses tivi kabelnya dibiarkan menggantung di sebelah tivi tersebut, kalau-kalau saja suatu waktu nanti Wardi tiba-tiba berhasrat ingin menonton MTV.

Wardi itu cuma salah satu contoh orang yang kehidupannya sederhana, dan tidak banyak maunya. Saat musim naik gaji, Wardi sempat bertanya, mengapa ia terima uang banyak sekali, sementara pendapat kebanyakan orang adalah :”gak bisa tambah lagi ya?”. Memang disatu sisi, sepertinya kehidupannya monoton, datar, tidak berkembang. . Tetapi, dilain pihak, Wardi merasa kesejahteraannya terjamin, dan ia merasa senang sentosa. nggak pingin motor, mobil, gak pingin komputer dengan prosesor 4GHz dan Windows 64 bit, gak pingin mikir negara kesatuan atau federal, gak pingin punya saham Philip Morris. Relatif jarang ya orang kayak gini?

Ada yang berminat dengan Wardi? masih belum punya pacar lho… ^_^


Muslim di Belanda

Filed under Catatan Pribadi

Tadi siang, sehabis shalat jum’at, ada ajakan dari pengurus masjid Groningen untuk duduk dan mendengarkan selama 30 menit diskusi dengan para pemimpin partai politik di pemerintahan kota Groningen. Adapun inisiatif diskusi tersebut datang dari para pemimpin partai politik di pemerintahan kota Groningen. Mereka ingin mengetahui apa pendapat dan pengalaman orang-orang muslim di kota Groningen khususnya, dan negara belanda pada umumnya. Hal ini dilandasi oleh keadaan panas yang terjadi beberapa bulan terakhir ini di negeri belanda setelah terjadinya kasus penembakan Theo van Gogh oleh Muhammad B., immigrant Maroko yang sudah berwarga negara Belanda. Kasus ini begitu merebak apalagi setelah media membuat kasus ini malah kian memanaskan keadaan. Mesjid2 dibakar, ketegangan antar orang muslim dan orang non-muslim lebih menjadi2. Malah ketegangan ini merebak menjadi ketegangan antara orang yang beragama dan orang yang tidak beragama. Contoh dari hal ini adalah gereja2 dibakar.

Dari diskusi yang saya dengar, dari pengakuan orang2 muslim di Groningen ini, kehidupan mereka tidaklah menyenangkan. Mereka hidup dalam ketakutan. Mereka tidak bisa secara bebas berjalan di luar tanpa orang lain melihat mereka secara rendah. Mereka tidak bisa hidup secara tenang di negeri belanda ini tanpa orang lain mencibir terhadap diri mereka. Salah seorang diantara mereka bilang malah kondisi seperti ini dimulai dari tragedi 11 September 2001. Dan semakin kemari semakin sulit. Contoh lain lagi adalah ketika wanita muslim keturunan afro yang memakai jilbab keluar rumah, ada orang yang menjaili mereka. Dan banyak contoh2 lainnya lagi. Sebelum saya mendengar lebih banyak lagi saya keluar dari masjid karena saya tidak tahan untuk mendengarkan lebih lanjut lagi. Saya tidak tahan mendengar bahwa ada orang lain yang berkeyakinan sama dengan saya menderita sedangkan saya merasakan nikmat dan rahmat. Dan yang paling saya tidak tahan adalah bahwa saya tidak bisa melakukan apa2!

Kemudian keajaiban terjadi, saya bertemu dengan Cak Fu di C1000, Padepoel. Saya ceritakan apa yang telah terjadi di masjid Selwerd. Dan Beliau berkata, “Mas Teguh, jika semua orang diam, tidak akan ada perubahan.” Saya pun berkata balik, “Cak Fu, diam pun adalah suatu sikap, dan dengan diam bukan berarti saya tidak melakukan apa2. Saya merasa belum menjadi orang yang baik, maka saya akan perbaiki diri saya sendiri dulu baru saya akan berkata atau bertindak untuk memperbaiki yang salah.” Kemudian Cak Fu berkata kembali, “Kalau semua individu baik memang gampang, tetapi dunia ini tidak seperti ini. Nabi Muhammad pun datang untuk melakukan perubahan. Seperti pemimpin revolusi lah beliau itu.” Saya setuju untuk melakukan perubahan. Tetapi kemudian saya bilang kembali, “Perjuangan yang paling sulit adalah melawan hawa nafsu sendiri. Diri sendiri adalah musuh yang paling sulit untuk ditaklukan. Maka dari itu memang 3M lah yang paling baik yang bisa kita lakukan. Yaitu Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal2 yang kecil dan Mulai dari sekarang.”

Kemudian diskusi kita terus berlanjut ke hal2 yang lain. Namun ada satu hal yang menggelitik hati saya. Memang kalo kita diam terus, tidak akan ada perubahan yang terjadi di sekitar kita. Kita harus mulai, walaupun dari hal2 yang sekecil mungkin. Mungkin dengan tulisan ini saya memulai untuk melakukan perubahan2. Mungkin dengan tulisan ini ada yang tergelitik dengan keadaan muslim2 di kota Groningen. Mungkin dengan tulisan ini ada yang memiliki ide cemerlang untuk mengatasi dan memberikan solusi yang nyata agar masalah ini bisa terselesaikan. Kalau saya sendirian memang tidak akan mampu untuk memecahkan masalah serumit dan sekompleks ini. Tapi dengan bantuan teman2 semua, insya Allah, masalah serumit dan sekompleks apa pun akan bisa ditemukan jalan solusinya. Insya Allah. Terima kasih Cak Fu atas diskusinya.


Bagi siapa saja yang kelak ingin punya anak, atau yang sudah punya anak dan nantinya akan menyekolahkan anaknya di TK/SD di Indonesia, ada baiknya menyimak uraian berikut. Semoga bermanfaat.

“Ha ha ha, huehehe…” Si kecil Lala tertawa terbahak-bahak, tapi setelah itu dia diam dan malah bertanya “Bunda, kenapa sih orang-orang pada ngomongin
setan?” begitu pertanyaan Lala. Entah mengerti atau tidak dengan pembicaraan kami waktu itu, tapi dia ikut juga tertawa ketika kami sedang menyimak cerita
tentang setan. Ya maklumlah, namanya juga anak-anak, kadang suka ikut-ikutan nggak jelas :-) Lalu apa hubungannya pertanyaan Lala dengan masalah menyekolahkan anak?

Malam itu, di sebuah rumah yang nyaman di dekat Hornsmeer, Tuan dan nyonya rumah sedang mengadakan acara syukuran bagi kelahiran bayi mungil mereka, Dhafin. Tentu saja DeGromiest and the gang menyempatkan hadir di acara tersebut. Setelah menyantap makan malam yang lezat, dan sholat maghrib bergantian, sekelompok ibu-ibu dan juga yang belum berstatus ibu, asyik bercanda ria dan berbagi cerita. Mulai dari cerita tentang penculikan anak yang kian marak di Indonesia, kisah serunya pengalaman mbak Heni waktu dihipnotis, sampai kepada cerita tentang setannya mbak Ponky–yang membuat Yunia panik :-) dan si kecil Lala bingung.

Tak hanya sampai disitu, ada kisah menarik yang disampaikan mbak Diana dan membuat curiousity saya meningkat. “Di Jerman, ada sebuah kasus menarik, seorang anak 5 tahun dari Indonesia yang sudah bisa membaca, ternyata oleh
gurunya malah dikatakan bahwa orangtuanya telah melakukan child abuse” begitu kira-kira kisahnya.

Hal ini bagi saya menarik, karena Lala pun mengalami kasus yang sama di Belanda, tapi oleh gurunya sebaliknya malah didukung dan sedang diupayakan agar bisa naik kelas lebih cepat. Ada apa sebenarnya? Padahal Jerman dan Belanda sama-sama memberlakukan aturan, anak baru ‘diajarkan’ membaca saat usianya 7 tahun. Kalau begitu apa jadinya dengan sebagian besar
anak Indonesia ya, umumnya di usia 5 tahun mereka sudah mampu membaca bukan?

Selain itu, hal ini mengingatkan saya pada diskusi menarik–tentang masalah kemampuan membaca anak Indonesia beserta kurikulum pendidikannya–dengan mbak Ike dulu. Akhirnya, permasalahan ini saya lempar ke salah satu milis yang saya ikuti. Dari hasil diskusi itu telah dibuat resumenya, dan kebetulan ada 2 orang ibu dari Jerman yang ikut memberikan komentar.

Resumenya, silahkan dilihat disini :
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=302

Tapi bagi yang ‘malas’ membaca karena rangkumannya pun cukup panjang, saya coba untuk memberikan kesimpulan dari diskusi tersebut.

***

Kata kunci dari permasalahan di atas adalah ‘keterpaksaan’. Bisa jadi kasus di Jerman itu memang kerap terjadi. Di Jerman, perlindungan terhadap anak
memang sangat ketat. Karena disana anak baru ‘diajarkan’ membaca saat anak berusia 7 tahun, tak heran bila ketidaklaziman ini membuat mereka berhati-hati terhadap kasus yang tidak biasa. Selain itu, pendefinisian terhadap pengajaran membaca itu sendiri belum jelas. Bisa saja materi yang diberikan pada anak dibawah 7 tahun di Jerman oleh beberapa orang dikatakan bukan mengajarkan membaca. Tapi oleh sebagian yang lain hal itu sudah bisa dikatakan pengajaran membaca (proses menuju membaca).

Dari diskusi tersebut, hampir semua ibu sepakat bahwa yang disebut child abuse sebenarnya bukanlah pengajaran membacanya melainkan pemaksaannya. Ketika seorang anak enjoy-enjoy saja dan have fun dengan
pengajaran membaca, why not? Guru-guru di Jerman pun akan mengerti dan tidak akan menganggap tindakan ini sebagai child abuse bila alasan yang dikemukan jelas, bahkan mungkin akan didukung seperti yang terjadi pada
Lala di Belanda.

Apalagi bagi anak yang memang punya kemampuan otak di atas rata-rata atau memang sejak kecil sudah biasa dibacakan buku oleh orangtuanya. Mereka begitu familiar dengan huruf dan cepat sekali menyerap apa-apa yang mereka lihat. Sehingga sangat wajar bila akhirnya minat mereka untuk bisa membaca begitu besar. Pada anak-anak seperti ini, kebanyakan orangtua akhirnya ‘mengajarkan’ anak-anaknya membaca. Tetapi metodanya pun diupayakan agar sesuai dengan dunia anak–dunia bermain– dan tentu saja menyenangkan.
Karena hal-hal itulah maka tak heran bila di Indonesia, terdapat cukup banyak kasus anak-anak kecil–yang tanpa dipaksa–sudah bisa membaca.

Tapi, tentu saja yang juga patut diperhatikan adalah motivasi dibalik pengajaran orangtua pada anak-anak dengan minat besar tersebut. Betulkah memang karena minat besar si anak? ataukah lantaran keinginan pribadi yang terkait dengan proud as parents–yang bangga jika melihat anak-anaknya kecil-kecil sudah bisa membaca? Hal ini terpulang kepada hati nurani masing-masing orangtua.

Kalau tanpa dipaksa oke, bagaimana dengan yang dipaksa? Ini lah yang patut dikuatirkan dan layak disebut child abuse tampaknya. Apalagi, di Indonesia
sekolah TK yang melakukan metoda pengajaran membaca dengan paksaan ini pun cukup marak. Bahkan dibeberapa sekolah ada pula yang konsepnya ‘bermain sambil belajar’ tapi ujung-ujungnya tetap saja ‘belajar sambil bermain’ Sebagai informasi dari saya, ternyata ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa pemaksaan pengajaran membaca di usia dini, malah bisa menurunkan
tingkat IQ saat di SD kelak! Hmm pantas saja bila akhirnya dikatakan child abuse bukan?

Indonesia memang sedang ‘terkapar’ di segala bidang, termasuk pendidikan. Orangtua di Indonesia yang memiliki anak usia TK kerap bingung memilih sekolah dan bagaimana seharusnya bertindak. Di satu sisi kurikulum anak SD kelas 1 mengharuskan anak untuk sudah bisa membaca. Di sisi lain, orangtua yang sadar dan tidak ingin memaksa anaknya, tetap dihadapkan pada tuntutan tersebut. Sehingga mau tak mau tetap saja mereka harus mengajarkan anaknya membaca. Dari kondisi tersebut, akhirnya banyak orangtua yang malah meminta guru-guru TK untuk mengajarkan anaknya membaca lewat
les. Guru-guru TK pun ‘asik-asik’ saja karena malah mendapat penghasilan tambahan barangkali.

Masalah ini memang menjadi dilema bagi banyak orangtua di Indonesia. Jadi, bagi anak-anak balita yang akan bersekolah di Indonesia, tampaknya orangtuanya harus berpikir masak-masak sebelum memutuskan untuk memilih
sekolah. Keliru pilih sekolah atau main paksa sama anak , jangan heran kalau akhirnya orang-orang di negara lain malah menuduh kita telah melakukan child
abusing.


30 Menit yang Berharga

Filed under Catatan Pribadi

Minggu sore (3/4/05), bersama teman-teman deGromiest aku ke rumah Hari dan Dian di Hornsemeer. Tuan rumah mengadakan syukuran atas kelahiran Dhafin, sang calon pemimpin, yang meskipun prematur tetapi selamat dan semakin baik keadaannya. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Sang Pengasih kepada setiap hambaNya.

hehehee..

Seperti biasa kalau lagi ngumpul, selalu diwarnai dengan ngobrol ngalor ngidul, guyon sana sini, dan ngrumpi ini itu. Di atas sebuah sofa yang empuk, aku duduk bersama Pak Totok dan Mas Nandang. Di pinggirku duduk Mas Eko di kursi kecil yang agak keras, tak seempuk sofa yang menopang berat badanku. Teman-teman yang lain di kursi seberang, asyik dengan obrolan hangat yang ditemani berbagai jenis jajanan. Sementara para ibu dan mbak-mbak memilih lesehan di atas karpet, sambil menyanyikan lagu Sunda “Abdi Teh Ayeu Na” bagi Michelle. Kasihan sekali anak Teguh ini. “Didoktrin” paham Sunda oleh Uyung dan kawan-kawan.

Obrolanku sendiri bermula dari cerita Eko tentang semakin mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. Untuk biaya masuk SD di Bogor–contoh kasus anaknya Eko–sekolah mematok 10 juta. Itu pun sudah termasuk yang murah. Sedikit banyak kami membandingkan dengan kondisi di sini, sekolah yang gratis namun cukup berkualitas. Lalu diskusi mengalir ke arah penyebab mahalnya sekolah di Indonesia. Salah satunya karena kecilnya belanja sosial yang dikeluarkan pemerintah untuk kesehatan dan pendidikan. Karena anggaran yang sangat kecil untuk pendidikan, akhirnya masyarakat sendiri yang harus membayar mahal.

Nah, dari sini lah diskusi jadi makin hangat, ketika Pak Totok yang sudah kenyang dengan asam garam dunia pengambilan kebijakan, menyampaikan pandangan dan pengalamannya yang dilatarbelakangi oleh arena bermainnya di lingkaran pusat kebijakan. Tentu tak lupa diselingi dengan guyonan sana sini. Kadang-kadang komentarnya sangat tegas dan pedas. Kami membahas soal kemiskinan, data kemiskinan–di PPI baru saja ada diskusi hangat tentang data kemiskinan ini–dan soal kenaikan BBM. Terlalu panjang kalau diceritakan di sini.

Sebagai bocoran saja, inti atau moral dari pendapat pak Totok adalah bangsa Indonesia itu sudah sangat lelah tak berdaya menghadapi kronisnya penyakit yang diderita. Masalah KKN? Itu masalah klasik, tatapi itulah realitasnya. Masalah kenaikan harga BBM saja sebenarnya cukup kompleks, bukan sekedar masalah banyaknya orang miskin yang semakin miskin karena tak mampu membeli BBM. Kalau di runut dari sejarah awal subsidi BBM dan pembangunan di Indonesia, kita akan bisa melihat permasalahan yang tidak populer ini mulai berakar. Banyak perusahaan yang minta disubsidi melalui BBM. Dan hingga saat ini, perusahaan seperti itu yang paling boros meminum subsidi BBM, bukan rakyat kecil.

Sementara sebagian orang menganjurkan alternatif lain, selain dari mencabut subsidi, misalnya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, Pak Totok memperlihatkan secara sederhana betapa sulitnya borok itu diobati. Dari ujung ke ujung bisa dilihat borok tersebut di sana sini. Mau menyalahkan siapa? Pemerintah? Apa yang bisa pemerintah lalkukan untuk memberantas korupsi dalam waktu yang singkat, ketika dirinya juga termasuk dalam lingkaran penyakit?

Akhirnya beliau memberikan saran tentang apa yang bisa dan paling realistik kita lakukan. Sarannya mengingatkanku pada Gandhi yang mengajak rakyat India untuk bangkit dengan segala kemampuan yang ada, yang dimiliki masing-masing. Penting sekali bangsa Indonesia menyadari bahwa kita sedang tak berdaya melawan sang penyakit. Saling menyalahkan tidaklah banyak membantu. Yang dibutuhkan oleh tubuh bangsa ini adalah agar masing-masing anggota tubuh melakukan ’self-healing’. Melakukan yang paling baik dan paling bermanfaat yang bisa dia lakukan saat ini. Sarannya juga mengingatkanku pada konsep Aa Gym: 3M. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini juga. Beliau menekankan, itulah yang bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia, kalau bisa dari para warga, pak RT, hingga presiden. Sebagai pelajar ada yang bisa kita lakukan. Dalam lingkup keluarga juga demikian.

TIga puluh menit telah berlalu, namun diskusi rasanya masih hangat dan belum selesai. Pak Totok dan kawan-kawan dari Bappenas sebenarnya memiliki pengalaman segudang dan lebih dari itu, mereka telah mendapatkan ‘wisdom’ masing-masing yang tidak atau belum didapatkan oleh kaum muda yang sedang belajar di sini. Aku merasakan sebuah aliran “kesadaran” dari ‘pemahaman tentang kondisi global bangsa Indonesia’ yang kemudian membawa kepada ‘pilihan aksi lokal’ walaupun itu sekedar membantu kawan kita mendapatkan beasiswa. Ini sudah merupakan hal luar biasa untuk ’self-healing’.

Aku meminta kesediaan pak Totok, agar suatu saat kita bisa diskusi khusus tentang permasalahan bangsa dari sudut pandang makro dan riil ini. Dari penyebaran semangat dan pengetahuan ini, diharapkan akan mengalir sebuah semangat “Now Habit”, untuk melakukan sekecil apapun hal positif saat ini dengan sekecil apapun yang kita miliki, untuk diri, keluarga, dan bangsa. “Ada yang tertarik ndak?” tanya beliau.


212

Filed under Catatan Pribadi

Waktu saya kecil, saya paling suka baca bacaan Wiro Sableng, murid kesayangan eyang Sinto Gendeng di Gunung Gede. Dari bacaan itu saya mendapat pelajaran bahwa semua yang ada di dunia ini terbagi menjadi dua. Hitam putih. Atas bawah. Kiri kanan. Baik jahat. Muka belakang. Setan malaikat. Pahit manis. Gelap terang. Kering basah. Api air. Langit bumi. Udara tanah. Yin dan yang. Tetapi semua ini menuju ke satu titik. Yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Maka saya sering berkelakuan seperti Wiro Sableng. Saya bangga kalo teman2 menyebut saya dengan sebutan Teguh Sableng. Karena berarti saya saudaraan ama si Wiro dong yach? Hehehe… Memang saya ini orang sableng. Hihihihi….

Saya sempat mengikuti kuliah matematika di ITB. Waktu itu dosen saya bercerita bahwa alam semesta ini pernah dimodelkan oleh seseorang pake model matematika. Dan di alam semesta ini ada manusia, syetan, malaikat, binatang, pohon, batu, politik, ekonomi, art, history, ada gedung, ada sungai, ada matahari ada bulan, ada langit dan ada bumi, ada Tuhan dan ada makhluk2nya. Pokoknya di model matematika itu semuanya komplit deh. Nah, yang paling membuat saya terkesan adalah ketika dosen saya itu bilang, ketika variable syetan dihilangkan dari system, maka akan terjadi ketidakseimbangan. Berarti dalam model alam semesta ini, syetan memang diperlukan untuk memberikan keseimbangan. Tanpa syetan, kiamatlah dunia ini. Berarti kita memang butuh syetan untuk hidup di dunia ini. Tapi kita pun harus ingat, bahwa kita lebih butuh Tuhan supaya kita hidup selamanya, tidak hanya di dunia ini tapi di dunia akhirat juga. Tinggal terserah kita saja. Kita mau berpihak sama syetan? Ataukah kita mau berpihak sama Tuhan? Terserah pilihan manusia, Tuhan sudah memberikan semua petunjuk2Nya secara jelas dan gamblang di kitab suci. Tinggal manusia yang harus menentukan sendiri apakah mereka akan berfikir dan mau mengikuti apa kata Tuhan atau mereka mau dibujuk oleh bujuk rayu syetan yang memabukkan dan menipu? Sesungguhnya janji Tuhan-lah yang harus kita pegang dan harus kita yakini. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji. Kalo manusia berjanji kita sulit untuk percaya. Masa sama janji Tuhan kita tidak percaya?

Wallahualam.


Ikhlas

Filed under Catatan Pribadi

Ingatan saya menerawang jauh ke 11 tahun yang lalu ketika saya belajar islam untuk pertama kalinya. Waktu itu saya masih berumur 15 tahun, masih SMA kelas satu. SMA saya dulu adalah SMA 3 Bandung. Saya sempet jadi preman mesjid di sekolah saya itu. Pelajaran pertama yang saya ingat sangat susah untuk dipraktekkan adalah pelajaran ikhlas. Kenapa sulit? Karena bentuk ikhlas itu sendiri saya tidak tau presis. Bagaimana sih ikhlas itu? Katanya ikhlas adalah kalo kita berbuat sesuatu tanpa menginginkan imbalan apa pun. Mana mungkin? Pasti lah kita kalo berbuat sesuatu akan mengharap imbalan walaupun itu dari mana saja datangnya. Mau dari manusia lagi atau juga dari Tuhan. Pasti lah kita ini ingin menerima imbalan. Makanya saya sempet frustasi dan hampir putus asa sama pelajaran ikhlas ini. Saya pikir ini pelajaran bohong banget. Mana ada orang ikhlas di dunia ini???

Setelah 11 tahun terlewati, saya pun menjadi sedikit lebih mengerti tentang arti keikhlasan. Ikhlas yang dimaksud adalah menerima segala suratan Tuhan yang telah Beliau gariskan untuk kita. Ikhlas menerima kalo kita ini dilahirkan ya di keluarga yang seperti ini. Ikhlas menerima kalo kita ini dikasih otak yang pas2an seperti ini. Ikhlas kalo kita ini cuman dikasih rezeki yang seperak ini. Ikhlas kalo kita cuman dikasih istri yang seperti ini. Ikhlas kalo kita cuman dikasih teman2 yang seperti ini. Terima aja semua ini. Ini adalah latihan yang bagus untuk bisa menjadi ikhlas. Ikhlas artinya menerima, bukan memberi. Kalu belum bisa untuk mencapai ikhlas janganlah putus asa.

Ada hadits sahih yang menjelaskan fenomena ikhlas ini. Suatu kala, Allah menciptakan gunung di bumi ini. Gunung ini sangat kuat sehingga sanggup menggetarkan bumi ini. Malaikat bertanya, apakah ada yang lebih kuat dari gunung? Jawabnya ada. Yaitu besi. Besi sanggup memapas gunung sehingga rata dengan tanah. Kemudian malaikat bertanya lagi. Apakah ada yang lebih kuat dari besi? Jawabnya ada. Yaitu api. Besi meleleh oleh api. Apakah ada yang lebih kuat dari api? Jawabnya ada. Yaitu air. Api padam diguyur oleh air. Apakah ada yang lebih kuat lagi dari air? Jawabnya ada. Yaitu angin. Angin bisa mengangkat air dan menghempaskannya. Pertanyaan terakhir. Apakah ada yang lebih tangguh dari angin? Jawabnya ada. Yaitu orang yang memberi dengan tangan kanan tapi tangan kirinya tidak tahu. Masya Allah.


Hidup di Dunia

Filed under Catatan Pribadi

Hidup di Dunia ini gampang2 susah. Dibilang gampang ga, dibilang susah juga ga. Dunia ini tergantung dari sudut pandang dan asumsi kita saja sebenarnya. Kalo kita menganggap dunia ini mudah maka akan menjadi mudah. Kalo kita menganggap dunia ini sulit maka akan menjadi sulit. Ini teori saya. Teorinya emang mudah tapi prakteknya sulit. Tapi ketahuilah, bahwa sebenarnya hanya ada dua yang harus kita pegang dalam menjalani kehidupan dunia yang serba tidak real ini. Yaitu pertama: Luruskan niat. Kedua: Sempurnakan Ikhtiar. Itu saja. Luruskan niat kita hanya untuk mencari ridha Allah swt. Dan Sempurnakan Ikhtiar kita walaupun kita hanya sekadar melipat baju.

Yang juga perlu kita ingat adalah bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar saja. Cuma sementara. Jangan terpesona dan jangan terpedaya. Istri, anak, harta, tahta dan jabatan hanyalah hiasan dunia yang menipu mata kita. Ini semua tidaklah real. Yang real adalah hati kita dan Tuhan Yang Maha Esa. Badan kita ini nantinya tidak akan kita bawa ke alam akhirat. Yang kita bawa adalah hati kita. Maka dari itu, cobalah kita selalu membersihkan hati kita dari yang kotor2. Caranya? Jaga pandangan mata. Dari mata turun ke hati. Jaga telinga dari mendengar gosip2. Jaga mulut dari perkataan kotor dan perkataan yang tidak benar. Jaga tangan ini dari menjamah barang2 yang tidak bersih. Jaga kaki ini agar jangan melangkah ke tempat yang kotor2. Insya Allah kalo hati kita sudah bersih maka pikiran pun akan jernih dan prestasi akan mudah diraih. Insya Allah.


Malaikat Kecilku

Filed under Catatan Pribadi

Ketika aku pulang dari Indonesia dua minggu lalu menuju rumahku di Wilgenlaan 54, Groningen, pikiranku diliputi oleh berbagai macam hal. Bagaimana nanti aku memperoleh rezeki untuk menafkahi keluargaku, bagaimana nanti aku berusaha keras untuk membeli makan, baju dan menafkahi keluargaku. Banyak sekali kecamuk yang ada dalam hati dan pikiranku. Namun, ketika aku bertemu dengan Michelle, anakku yang baru berusia 10,5 bulan, hatiku merasakan bahagia yang tak terkira. Hatiku merasakan ketenangan yang tiada tara. Pikiran yang tadinya kalut dan sumpek menjadi cerah sedikit demi sedikit. Apalagi ketika kuperhatikan kehidupan Michelle setiap harinya. Sepertinya dia tidak punya keluhan apa2. Sepertinya dia tidak mempedulikan dunia sekitarnya. Yang dia tahu adalah makan, minum, berak, main dan main dan main. Kalo dia lapar dia nangis, dan ayah atau ibunya akan bergerak untuk memberikan makan pada dirinya. Kalo dia haus dia pun nangis, maka ayah atau ibunya akan bergerak secepat kilat untuk memberikan air minum kepadanya. Sungguh, Michelle tidak tau apa2 di dunia ini, tetapi dia selalu mendapat rezeki yang cukup. Segala yang dia butuhkan selalu tersedia tanpa dia minta. Baju, makan, minum, mainan, kasih sayang, perhatian, dan lain2. Semua kebutuhan dia selalu tercukupi padahal ayah dan ibunya hanyalah seorang yang masih muda dan belum banyak asam garam kehidupan pahit ini. Namun rezeki Michelle tetap saja mengalir lancar. Dari teman2 kiri kanan. Dari saudara2 kiri dan kanan.

Astagfirullah. Sungguh Tuhan Maha Besar. Sungguh Tuhan Maha Adil. Sungguh Tuhan Maha Segala2nya. Saya tidak tau apa2, tapi segala kebutuhan saya pun selalu dia cukupi. Saya punya istri. Saya punya anak. Saya punya teman2 yang baik. Saya punya keluarga yang baik. Alhamdulillah. Sungguh Maha Baik Tuhan itu. Padahal dosa saya setinggi gunung, tapi rahmat Tuhan setinggi langit. Saya merasakan kebahagiaan yang belum pernah saya rasakan selama hidup ini. Saya merasakan ketenangan yang luar biasa. Saya merasakan nikmat karunia Tuhan yang tidak terkira. Saya… cinta Tuhan. Saya rindu untuk bertemu Tuhan, pencipta saya. Sungguh, kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Badan kita tidak real, istri kita tidak real, anak kita tidak real. Namun yang real adalah hati kita dan Tuhan. Wallahualam.


Ustadz VS Entertainer

Filed under Catatan Pribadi

“Wah…lucu banget yah tuh ustadz, saya sampe sakit perut nih ketawa-ketawa terus” ujar seorang ibu yang baru saja keluar dari sebuah majelis ta’ lim. “Iya bagus banget tuh ceramahnya…lucu. Kapan2 kita undang lagi yah ke mesjid kita.” sahut ibu2 yang satunya.

Begitu kira-kira komentar sebagian besar jamaah yang pada malam itu hadir di majelis ta’ lim Mesjid Al-Muslih. Memang, malam itu warga setempat terlihat berbondong-bondong mendatangi mesjid Al-Muslih guna memperingati Isra Mi’ raj junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Setelah sebelumnya aparat pemerintah di lingkungan tersebut mengedarkan undangan bahwa pada malam itu akan hadir seorang ustadz yang cukup terkenal untuk memberikan sedikit siraman rohani dalam rangka memperingati hari besar umat Islam itu.

Saya pun tidak mau ketinggalan dalam peringatan hari itu, cari tempat strategis agar bisa melihat sang ustadz “beraksi”.
Hmmmm……setelah melihat langsung, harus saya akui bahwa ustadz tersebut (walaupun saya lebih cenderung menyebutnya penceramah) piawai dalam menarik perhatian jamaah yang hadir pada malam itu. Semua terpingkal-pingkal mendengarkan banyolan-banyolan yang disisipkan sang ustadz dalam ceramahnya.

Jujur saja, pada awalnya saya merasa jengah dengan keadaan ini. Karena saya selalu berfikir ritual agama atau segala sesuatu yang menyangkut peribadahan harus dilaksanan dengan sekhusyuk mungkin, dalam keadaan tenang. Bukannya dengan gelak tawa ataupun hingar bingar. Baik ibadah yang dilakukan sendiri ataupun yang melibatkan orang banyak. Bagi saya hal seperti ini akan mengurasi esensi dari sebuah ibadah tersebut.

Tapi tampaknya hal ini tidak berlaku lagi yah…..setidaknya dalam peringatan hari besar yang mengundang salah satu nara sumber. Sudah seperti seleksi alam, biasanya penceramah yang seperti itu semakin kurang diminati oleh para jamaah. Tentu saja hal ini mengakibatkan mereka semakin jarang diundang untuk mengisi acara siraman rohani. Sebaliknya hanya penceramah-penceramah yang piawai menghidupkan suasana dengan lelucon-lelucon segar lah yang semakin digandrungi.

Saya jadi berfikir, sebenernya seorang penceramah sekarang tidak ada bedanya dengan penghibur (entertainer) donk……Saya tidak tahu, apakah ini disebabkan oleh makin tingginya tingkat stress manusia dalam menjalani hidup, sehingga dalam hal penyegaran rohani pun mereka lebih cenderung memilih yang bisa membuat mereka terhibur dan melepaskan ketegangan syaraf, atau memang ini merupakan pergeseran esensi kita dalam menjalankan ritual agama yah??
Well, jawabannya tentu saja saya serahkan kembali pada masing-masing pribadi. Toh pada akhirnya saya beranggapan hal tersebut sah-sah saja, asalkan tidak menyimpang dari ajaran agama itu sendiri.


Sound of a mother

Filed under Catatan Pribadi

I go to the hills when my heart is lonely
I know I will hear what I’ve heard before
My heart will be blessed with the sound of music
And I’ll sing once more

Maria: “I can’t seem to stop singing whatever I am! And whats worse, I can’t seem to stop saying things-anything and everything I think and feel!

“Sound of music”, aku suka film ini. Mengingatkanku ketika kegelisahan itu muncul dalam benakku. Kegelisahan yang sama dengan Maria ketika dia merasa berbeda dari teman-temannya di biara, ketika dia selalu ingin bernyanyi, dan tak bisa berhenti berbicara. Suatu hal yang tabu dilakukan oleh seorang wanita calon biarawati.

Kegelisahan yang sama?…ya kegelisahan yang membuat aku merasa berbeda dari para ibu pada umumnya. Aku sangat-sangat bersyukur ketika Allah memberiku bayi mungil yang terlahir dari rahimku. Aku nikmati peran sebagai ibu dengan segala rasa syukur yang ada. Sempat terbersit dalam batin untuk tidak saja cuti kerja tapi juga berhenti. Namun, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan kulalui, semuanya menjadi berbeda. Kenapa aku merasa bosan, kenapa aku merasa jenuh, kenapa aku menjadi sensitif, kenapa aku jadi marah-marah melulu. Semua rutinitas ini seperti membuatku ‘mati’. Aku rindu bertemu pasienku, aku rindu mendengarkan seminar kedokteran, aku rindu kawan-kawanku. Aku rindu semua…kerinduan yang dalam untuk selalu berpikir dan bertemu dengan sesuatu yang baru.

Mengapa perasaan ini muncul dan terus menderaku ya Allah, salahkah aku? Bukan istri yang sholeh kah aku? Ibu yang jahat kah aku sehingga tidak bisa menikmati peran yang baru saja kujalani beberapa bulan? Wanita lain bisa menikmati peran ini kenapa aku tidak? Apakah aku wanita yang terlahir dengan abnormalitas tinggi sehingga aku merasakan semua ini? Lantas, kenapa pula Kau biarkan aku diterima di Fakultas Kedokteran? Kenapa Kau luluskan semua keinginanku untuk selalu mengikuti kegiatan ini dan itu. Ketika kawan-kawanku sibuk belajar di rumah, aku malah sibuk bolak-balik Jakarta-Bandung mencari dana, bersama teman-teman seperjuangan menculik mobil bapakku dan membawanya ke Jakarta tanpa ijin. Saat pihak Fakultas tak mengijinkan pergi liburan dengan bis Fakultas sewaktu semua peserta sudah kadung menunggu, aku dan teman-teman nekat pergi . Lagi-lagi ‘menculik’ beberapa mobil dan tak satupun mobil dikendarai pria, hanya untuk sekedar menikmati pangandaran bersama teman-teman. Banyak orang geleng-geleng kepala, tapi kami selalu bilang inilah yang namanya hidup, seru, penuh warna, penuh tantangan dan penuh kejutan.

Nyatanya lagi, semua itu sangat membantu ketika aku menjalani profesiku. Aku bertemu dengan banyak orang, banyak karakter, mengambil keputusan ketika bayi dihadapanku sudah membiru dan bernafas satu-satu, harus mengkhitan seorang anak yang penisnya terjepit resleting tanpa ada siapapun yang membantuku. Hm..semuanya kadang membuat adrenalin meningkat, but… I love it and enjoy it.

Aku tidak pernah meminta semua ini Tuhan. Salahkah aku ketika semua perasaan itu menghantuiku, abnormalkah aku Tuhan? Aku cinta keluargaku, aku cinta suami dan anak-anakku, aku syukuri semuanya. Bayi mungil ini amanahMu ya Allah, aku tidak mau menyia-nyiakannya. Tapi mengapa ??? Hmmh….jangan-jangan…aku memang betul-betul abnormal. Kalau begitu aku harus berubah, aku harus menghilangkan semua perasaan itu. Ya…aku harus berubah!.

Lalu, aku pergi ke toko buku, aku ikuti semua seminar tentang pengasuhan anak yang terbaru, dan aku coba untuk menerapkannya pada anakku. Semua berkata sama, bersyukurlah telah menjadi ibu yang bisa menemani masa golden periode anak. Bersyukurlah dan bersyukur itu lah yang aku coba lakukan. Namun mengapa perasaan rindu itu tak kunjung hilang Tuhan, perasaan itu datang dan pergi bersama warna-warninya kehidupan. Aku ingin melenyapkannya Tuhan! kenapa aku tak bisa???

Aku percaya, tidak ada sesuatupun yang terjadi karena kebetulan di dunia ini. Aku kembali mencari, dan Allah yang Maha Baik memberikan aku sebuah jawaban. Ternyata aku bukan wanita yang abnormal, ternyata bukan hanya aku yang gelisah, ternyata… aku tidak sendirian.. Aku bertemu dengan buku itu, buku ‘Ketika Ibu Harus Memilih’ milik Susan Chira. Dia berkata dalam bukunya “Selama bertahun-tahun saya mengira hanya bisa memilih salah satu : pekerjaan atau anak-anak. Dan saya membiarkan kekhawatiran yang muncul itu menekan hasrat saya untuk menjadi seorang ibu. Kemanapun saya menengok, dan apapun yang saya baca dan hampir semua orang yang saya ajak bicara mengatakan bahwa saya menginginkan sesuatu yang mustahil-yakni bekerja dengan baik sekaligus menjadi seorang ibu yang baik. Saya terus berusaha mengabaikan suara hati saya hampir sepanjang hidup…”

Backcover buku itu berbicara, ‘Anda tak perlu heran jika kegelisahan Susan Chira tersebut juga menjadi kegelisahan anda. Para ibu masa kini memang seolah serba salah. Masyarakat cenderung menyepelekan ibu yang tinggal di rumah, namun disisi lain juga menuduh para ibu bekerja telah menelantarkan anak-anak mereka. Dalam buku ini, wartawan senior New York Times, Susan Chira, menyajikan berbagai fakta dan hasil penelitian yang membuatnya mampu mengikis kegelisahan itu, membuat perspektif baru yang menjawab kebimbangan para ibu: bahwa bekerja atau tidak, seorang ibu tetap bisa menjadi ibu yang baik ketika kebahagiaan dan kepuasan batinnya sendiri tak terabaikan.’

Eureka! Begitu rasanya ketika membaca buku ini, seperti mendapatkan pembenaran untuk bisa melenggang kangkung pergi bekerja. Namun ternyata teman-teman yang kontra malah berkata sebaliknya, ‘Dia itu feminis Nes, bukan muslim, kenapa kamu begitu saja percaya dengan penelitiannya’. Hmh..lagi-lagi kepala ini dibuat pusing tujuh keliling. Hanya doa yang aku bisa panjatkan ya Allah semoga Engkau memberi jawaban. Beberapa buku aku cari lagi, entah mengapa semua buku yang aku temui bersuara sama, seorang ibu harus bahagia, tidak merasa bersalah atau menyesal, dan tidak mengabaikan kepuasan batinnya agar bisa mendidik serta membesarkan anak-anaknya dengan baik, itu kata kuncinya.

Perenungan yang dalam, tidak ingin kehilangan masa emas anakku yang tak kan terulang, membuat aku memutuskan untuk tidak PTT, tetapi tetap bekerja pagi-sore di klinik dekat rumah , dan sempat juga di sebuah rumah sakit. Semua membuatku puas, anak-anakku tidak terlantar, dan batinku terpuaskan. Sampai akhirnya suamiku membawa berita bahwa dia akan mengajakku ke negeri Belanda.

Wow senang dan bangga tentu saja, bisa melihat dunia lain yang diimpikan oleh banyak wanita di negeriku. Tetapi aku kembali dihadapkan pada sebuah kegelisahan, siapkah aku meninggalkan pekerjaanku dan semua milikku yang aku cintai di tanah airku? Beranikah aku mengambil sebuah keputusan untuk lebih memilih keluarga ketimbang karir, kepuasan batin, dan keinginan untuk melanjutkan sekolah yang selalu mengembara dalam kepalaku? Diskusi panjang dan perenungan yang dalam kembali aku lakukan, sambil berdoa kepada Tuhan semoga aku diberi jalan terang untuk memilih.

Sekian lama berpisah dengan suamiku akibat rumitnya urusan visa merupakan jawaban Tuhan. Ternyata apapun yang terjadi tidak ada yang dapat memisahkan kami. Janji hidup bersama didepanNya, dan pemberian amanah dua bocah mungil yang masih dalam periode emas ini menjadi alasan yang tak terbantah bagiku untuk tetap pergi kemanapun suamiku pergi. “Rumahku adalah dimana suamiku berada “. Itulah jawaban yang diberikan Tuhan dari segala penderitaan yang muncul ketika aku harus berpisah dengan suamiku. Inilah jalan yang telah diberikan Allah padaku.

Aku akan menjadi seorang ibu rumah tangga penuh di negeri orang, of course tanpa pembantu, dan aku akan meninggalkan pekerjaanku. Itu adalah keputusan yang telah aku ambil, aku harus ikhlas, aku harus bersyukur, dan aku harus siap menanggung semua akibat dari pilihanku. Kuncinya adalah aku harus bahagia, tidak merasa menyesal, dan tidak mengabaikan kepuasan bathinku. Tapi…mungkinkah itu terjadi bila aku sama sekali tidak melakukan pekerjaan lain selain mengurus rumah dan keluarga?. Kembali jalan terang itu datang. Tiba-tiba saja aku ingin belajar menulis, dan menulislah aku. Tiba-tiba lagi tulisan pertamaku langsung dimuat di koran PR, bahagia tentu. Aku seperti mendapatkan petunjuk inilah cara yang dapat membuatku tidak ‘mati’, dan tetap aktual.

Betulkah aku sudah siap? Oke, aku coba bertanya kepada sahabatku yang juga bernasib sama, yang satu di Jepang, satulagi di Inggris. Ternyata mereka menjawab sama..’tidak mudah Nes walaupun akhirnya bisa…’ Aku cuma bisa bertanya dan bergumam dalam hati ‘Masa sih, kan asik tinggal di negeri orang, apa susahnya, diikhlas-in aja dong, ini kan pekerjaan mulia, kenapa sih dibuat susah, dinikmati aja kenapa, mestinya bersyukur dong, oranglain pengen lho kaya kalian…’ dan mereka menjawab sama..’Ya coba aja deh Nes, nggak akan bisa ngerasain deh kalo nggak ngalamin sendiri…’

Oh God, kenapa mereka bilang begitu, pasti berat, apalagi dulu keduanya terkenal cerdas, yang di Inggris bahkan sudah mengeluarkan puluhan juta dan sempat ‘disiksa’ selama tahun pertama melanjutkan studi spesialis di bagian Anak. Kalau begitu aku musti siapkan mental, aku benar-benar harus bisa mengikhlaskan dan mensyukuri semuanya supaya tidak mengalami hal yang sama. ‘Aku pasti bisa, apalagi aku sudah membawa bekal menulis untuk tetap ‘hidup’, mereka pergi tanpa persiapan itu toh’, begitu pikirku.

Here I am now, in Groningen-Netherland-Europa, tempat yang membuat iri banyak orang. Seminggu, dua minggu, sebulan dan kini.. telah 3 bulan lamanya aku berada disini. Menyesalkah aku? Tidak bahagiakah aku, tidak bersyukurkah aku? Rasanya aku akan menjadi orang yang paling kufur nikmat bila aku melakukannya.

Berbelitnya urusan visa yang akhirnya tuntas, dan perpisahan mencekam yang tak lagi kami rasakan sungguh suatu anugrah buatku. Namun aku tidak bisa pungkiri bahwa yang dikatakan sahabat-sahabatku benar adanya. Berbicara syukur dan berbicara ikhlas menasehati sahabat-sahabatku dulu, untuk mau menerima dan menikmati perannya memang perkara mudah. Tetapi nyatanya, ketika merasakannya sendiri, aku baru benar-benar paham. Ternyata memang tidak mudah untuk menjalani proses ini walaupun aku sudah berusaha untuk menyiapkan diri. Tanpa bermaksud untuk berkeluh kesah atau meminta empati, dan bukan pula hendak menakut-nakuti, namun inilah kenyataan yang aku dan ‘sesamaku’ hadapi.

Tidak selamanya manusia berada diatas, warna-warni akan selalu muncul dalam kehidupan manusia, kadang gelap kadang terang. Mengapa semua menjadi tidak mudah? Karena dikala warna indah membangunkan hariku, aku betul-betul menikmati keberadaanku menjadi seorang ibu tanpa pembantu. Tetapi, dikala warna gelap menyelimuti diriku, semua kenangan manis tentang kepuasan batin itu menari-nari dikepalaku, menyesakkan dada dan memekikkan telinga.

‘Kenapa tidak kau usir saja mereka!’ begitu bisik hatiku, dan aku mencoba mengusirnya, mengeluarkan semua teori dari buku dan seminar yang pernah aku ikuti. Meneguhkan diri betapa mulianya tugas ini, betapa bersyukurnya aku, dan berbagai peneguhan positif lainnya. Berhasil kah aku? Hmm.. Aku hanya bisa berusaha. Semua rasa itu bukan milikku, aku tidak pernah meminta rasa itu datang, aku hanya wadah, yang cuma bisa mengembalikan semuanya kepada yang Maha Memiliki Rasa. Aku justru bersyukur ketika masih bisa menikmati rasa itu, karena begitulah hidup yang sebenarnya…hidup yang penuh warna. Apa jadinya bila hanya terang yang menyelimuti diriku, aku tak akan pernah jatuh dan tak akan pernah belajar. Toh memang hidup seperti inilah yang aku suka, penuh kejutan, tantangan dan selalu berwarna.

Belajar dan berproses memang tak kenal kata akhir. Kini, aku sedang belajar dan belajar lagi untuk menjadi ibu rumah tangga penuh yang tetap bisa menjaga kebahagiaan dan kepuasan batinku sendiri.‘Kenapa pula kau harus egois mementingkan kepuasan batinmu sendiri’ begitu bisik hatiku suatu hari. Suara hati lain menjawab, ‘Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku hanya manusia, yang terlahir dengan segala masa lalu yang membuatku merasa ‘mati’ dikala aku tidak dapat memuaskan batinku. Tapi wanita lain tak pernah bicara tentang kepuasan batin, toh mereka bisa dan mereka tetap baik-baik saja, kenapa aku tidak?’ begitu bisik batinku lagi. Apakah aku salah? Apakah wanita lain itu salah?.

Hmh semua membuatku pening. Aku tidak tahu, namun satu hal yang aku yakini dan aku ingat selalu, guru spiritualku* pernah berkata “Tidak ada yang salah di dunia ini, semua telah berjalan sesuai dengan skenario-Nya. Perbedaan adalah rahmat, dunia tak akan tampak indah bila tak berwarna. Itulah kehidupan, manusia diciptakan dengan berbagai sifat, kondisi dan latar belakang yang berbeda sesuai dengan tugasnya masing-masing. Tinggal hendak bagaimana manusia menyikapinya dan menjalankannya, apakah ingin membuat semua menjadi satu warna, menjadi hitam-putih, menjadi benar-salah, atau tetap indah sesuai dengan kehendakNya. Be wise Nes…” begitu kata guruku…

Dengan segala rasa cinta yang ada, kupersembahkan tulisan ini untuk seorang suami yang telah sangat-sangat mengerti aku dan sangat mendukungku.

Ps: Buat mbak Diana, semua orang tentunya punya idealisme masing-masing. Untukku, aku hanya ingin mengemban amanah ini dengan memberikan segala yang terbaik yang aku bisa buat anak-anakku. Bukan untuk menyuruh mereka bersaing dan menjadikan mereka nomor satu, tetapi semata-mata untuk membuat mereka mengenal diri mereka sendiri dan menjadi diri sendiri. Ibu bukanlah tempat untuk bergantung, tetapi tempat yang akan membuat anak-anaknya tidak lagi bergantung. Dan sebuah anugrah buatku bila aku bisa mengantarkan anak-anakku hanya bergantung kepada Allah dan kepada diri mereka sendiri….

*Guru spiritual = pak kyai


Venus lewat

Filed under Catatan Pribadi

Waktu bangun hari ini, ingat kalau ada momen besar yang akan terjadi: Venus transit di matahari. So, what? Ini kesempatan langka yang muncul belum tentu sekali dalam ratusan tahun, mungkin lebih. Momen yang sama seperti lewatnya komet dan teman-teman luar angkasa lain …..

Bangun pagi sekitar jam 06.00, untung udah subuh sebelum tidur jadi ngga buru-buru. kucek-kucek mata, nyalakan komputer dan lihat-lihat pencuci mata, melihat keluar: bagaimana mau melihat venus kalau cuaca mendung berawan seperti ini. Walhasil, malah pasang penutup mata buat nerusin tidur lagi, bebas cahaya ….

Lihat jam sudah hampir jam 09.00, langsung loncat ke kamar mandi (buat cuci muka dan sikat gigi, sudah beberapa hari malas mandi) dan siap-siap berangkat ke kantor. Sambil jalan ke arah Aa-kerk, clinguk ke atas, bertanya apa beneran venus bakal kelihatan, ya? Eh, jadi aja bus nomor 15 lewat depan mata, padahal kalau mau bergerak sedikit pasti dapat, cuma terpisah jarak 10 meter. Tapi …. ah, setiap 10 menit ada yang lewat toh, sambil senyum ngedipin supir bus yang kebetulan cakep, membiarkan dia ngeluyur ke arah Zernike (ternyata supir bus berikutnya sudah tua, hahahaha ….). Waktu duduk di bus terus terfikir, padahal kalau datang ke kantor sudah kadung terlambat dan merasa biasa aja (toh tadi malam sampai larut kerja di lab), kenapa ngga jalan aja ke Academie Gebouw nemuin mas Ferry, minta tunjukin Venus pake kacamata D-5 (yang disediain gratis) …. AH, biarin aja lah, kerjaan kan nomor satu ….

Sampe kantor tetap penasaran, ini kan momen yang ngga sekali dalam ratusan tahun, masa dilewatkan begitu saja. Jadilah, angkat telepon, kontak mas Ferry, tanya bagaimana cara melihatnya. Satu disket yang ngga kepakai jadi korban, buat gentinya kacamata D-5 …. intip-intip, eh keren juga …. kaya matahari punya tahi lalat di dagu kiri bawah, trend ala marilyn monroe kali, ya … tapi pas balik ke ruangan, hem, cuma sebegitukah? balik lagi ke luar, lihat lagi, bolak balik sampai 3 kali, tetap aja bertanya …. hanya sebegitukah?

Sekarang udah sore, hingar bingar Venus lewat juga udah sirna, malah mungkin buat beberapa orang, sudah dilupakan. Tapi kok teruus aja terfikir: Venus transit, momen besar, belum tentu terjadi lagi dalam beberapa ratus tahun ke depan (se-engga-nya ngga sejelas sekarang). Lama-lama kefikiran, kenapa menjadi momen besar? matahari kan lebih jauh, ngga ditunggu-tunggu tuh nongolnya. Bulan juga (kecuali memang diperluin buat nentuin kapan puasa dan lebaran). Bus nomor 15, apalagi …. bakal ketinggalan didepan mata juga dicuekin, udah apal ini jadualnya.

Ini masalah momen, karena hanya kali ini kesempatan buat lihat Venus seumur hidup, ngga bakalan dilewatkan. Kalo dari matahari sampai bus, itu sih udah jamak. Analog dengan hidup (sebagai suatu momen), dari nikah sampai pekerjaan juga udah jamak: hidup ngga boleh sampe salah jalan, cuma sekali, kalo nikah, skolah, kerja de ka ka, ngga cocok ya … bubar en cari lagi, hahahahaha …

Ini masalah respek, fenomena yang menurut kalangan astrolog sangat mengagumkan, kok rasanya plong gitu aja. Udah dicoba-coba merasakan keindahan waktu melihat bintik item kecil itu, hem, tetep aja ….. salah satu kegagalan mentadaburi alam? ngga tahu deh …

Ini masalah gengsi, bisa dijadikan kebanggaan kalau sempet terlibat. Se-engga-nya kalau ketemu temen: “sempet liat Venus transit, ngga? bagus en asik lho …”. Lho, teman-teman di kampus malah sudah melihat duluan. Ada teman seruangan yang ngga lihat, waktu ditanya jawabnya: lihat aja di internet, gampang en ngga bikin sakit mata. Waktu ditimpali bahwa melihat fenomenanya secara langsung beda dengan melihat foto hasil jepretan di muka komputer, cuman dicibirin aja …..

Ini masalah curiousity, kaya apa sih kalo Venus transit di matahari. Ooo, seperti itu, ya udah ….. langsung masuk recycle bin di otak ……

hehehe, koq inget sama es krim campina yang waktu jualan paddle-pop jinglenya terkenal karena tiap tukang es keliling stay tune sama kasetnya.

– I’m your Venus –
– I’m your fire —
– your desire, your desire —-


tepat setelah ustadz yaseen selesai membacakan terjemahan QS:Ibrahim-7:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih

bel pintupun berdering. karena kebetulan aku yang duduk paling dekat dengan pintu, maka aku segera berdiri untuk membuka pintu. dan di depanku, seorang lelaki berdiri disamping sepedanya. sambil berbicara bahasa belanda, beliau menunjuk-nunjuk tumpukan sepeda di depan tempat tinggal wangsa, dan memperlihatkan sesuatu di tangannya (yang kemudian ku kenali itu adalah rantai pengaman sepedaku). setelah berkomunikasi dengan bahasa inggris yang patah-patah, akupun mengerti maksudnya: seseorang telah mencuri salah satu sepeda diantara sepeda-sepeda yang diparkir itu dengan memotong rantai pengamannya. dan beliau melihat orang tsb, dan segera akan melaporkannya pada polisi. kemudian dengan cepat beliau berlalu.

akupun segera kembali ke dalam rumah, menceritakan semuanya pada temen-temen yang barusan habis ngaji bareng. (ini kegiatan tiap sabtu, lihat foto: Ngaji Sabtu.)
ku beritahu mereka, bahwa salah satu sepeda dicuri. dan sepeda yang dicuri itu adalah sepeda yang biasa ku kendarai. dalam hati, aku sempat tersenyum membayangkan kesulitan yang bakalan didapat oleh maling tsb. soalnya sepeda yang biasa kupakai tsb, rantainya dengan mudah bisa copot jika yang mengendarainya mengakselerasi kecepatan sepeda dengan tinggi. atau jika tidak hati-hati ketika membelok atau ketika ada sedikit goncangan. so…

aku sih nggak terlalu bermasalah dengan hal-hal begini. cuma mikirnya pulangnya gimana, karena aku perlu pulang malam itu. ketika semuanya sibuk membicarakan tentang hilangnya sepeda tsb, bel pintu sekali lagi. kali ini tiga orang berdiri di depan pintu, dan salah satunya bapak yang tadi. sambil tersenyum, beliau mengatakan bahwa malingnya udah tertangkap dan sepedanya bisa diambil di kantor polisi. kaget sih, kok cepet banget ketangkap. pasti rantainya lepas he he he…
dan aku segera bergegas ke kantor polisi membonceng bapak tadi.

imej polisi di sini memang kerasa agak beda dengan polisi di indo. saat melapor bahwa aku mau ngambil sepeda, polisi yang tugas jaga segera menelepon seseorang. setelah selesai menepon, aku diminta untuk menunggu, dan ditawarkan secangkir kopi. tawaran kopi ku tolak, karena aku agak canggung tidak terbiasa dengan polisi yang ramah :)
dan setelah menunggu sekitar 15-20 menit, dua orang polisi datang dan membawaku untuk mengidentifikasi sepeda dan membuat laporan pengaduan. dan ketika tawaran kopi datang lagi, kali ini dengan yakin ku jawab: cappucino please :P

dari informasi yang ku dapat, malingnya tertangkap di dekat bioskop pathe, yang hanya berjarak kurang dari 10 menit jalan kaki dari tempat wangsa. saat ditangkap, sang maling telah mengumpulkan 3 sepeda malam itu. malingnya sendiri sudah menjadi langganan polisi.

yah, begitulah. sepeda sempat hilang tidak sampai setengah jam. untung dapat ketemu lagi. dan kemudian, akupun mulai menganalisa peristiwa tsb lebih detail. pertama, benar kata salah satu temanku, bahwa untung yang diambil adalah sepeda yang kupakai. karena kalo sepeda temenku yang lain, maling bakalan lolos. karena sepeda yang ku pakai yang diambil oleh maling, membuat maling itu tertangkap (karena ada masalah dengan rantainya), dan sepeda bisa kembali. secara tidak langsung, sepeda yang kupakai itu bertindak sebagai tameng bagi sepeda-sepeda lainnya. dan kebetulan saat ngaji itu, aku datang paling belakangan sehingga terpaksa meletakkan sepeda paling luar dari deretan sepeda yang parkir. padahal biasanya aku datang lebih awal.

kedua, dari pengalaman berhubungan dengan polisi ketika membuat pengaduan dan mengklaim kembali sepeda, imej polisi sedikit membaik dimataku. soalnya ketika sering berhubungan dengan polisi di indo, tidak pernah bener. baik itu ketika membuat surat kelakuan baik, melapor kecopetan, dll, selalu polisinya ‘minta jatah’, walaupun saat melapor aku adalah korban. di sini, malah diajak ngopi.

ketiga, masalah dengan rantai sepedaku sebenarnya adalah berkah terselubung. andai saja rantainya bagus saat itu, sepeda itu bakalan udah hilang deh. jadi, meski belakangan sering dapat masalah dengan rantainya, justru masalah itu membantuku mendapatkan sepeda yang sempat hilang tsb. tapi mudah-mudahan bukan berarti rantainya jangan diperbaiki. ya nggak? :)

yup, begitulah kisah singkat kemalingan sepeda dan hikmahnya yang aku dapat. dengan peristiwa itu, aku mendapat pengalaman menarik. dan mengamati rangkaian peritiwa seperti ini, selalu membuatku tersenyum…


bertambah lagi ilmuku

Filed under Catatan Pribadi

dari banyak kejadian yang kuperhatikan dan kualami sendiri, aku mengambil kesimpulan bahwa kita tidak mendapat ilmu baru sebelum kita siap untuk menerimanya. saat kita telah siap, maka ilmu itu akan kita dapat dan terasa bagaikan sebuah pintu terbuka di depan mata kita. ya, terasa bagaikan sebuah pintu terbuka. hal-hal yang sebenarnya kalo kita inget-inget, telah kita ‘ketahui’ keberadaannya, tapi belum kita sadari.

misalnya, jika suatu saat aku mencari tahu tentang arti dan penjelasan dari suatu konsep. maka hari-hari berikutnya akan banyak kutemukan contoh penerapan konsep tsb. dan setiap kali aku berfikir ulang, sebenarnya contoh-contoh konsep yang kelihatan baru mulai muncul setelah aku mencari tahu tentang konsept tsb, telah ada sebelum aku mencari pengertiannya. hanya saja sebelumnya meski mungkin aku lihat, tapi tidak aku sadari.
dalam bahasaku, saat setelah aku mencari pengertian dan arti dari konsep tsb, inilah yang kusebut sebagai saat aku telah siap untuk


“Mbak..mbak..maaf, kalau mau duduk di sebelah sana saja..” tegur seorang satpam sebuah toko buku, sambil menunjuk 2 buah kursi di bagian tengah ruangan . Dengan sedikit kesal, si pengunjung yang sedang membaca sambil duduk di lantai itu terpaksa berdiri. Membaca sambil berdiri hampir 1 jam membuat kaki si pengunjung enggan untuk diajak kompromi. Apalagi kursi yang ditunjuk satpam nyatanya bukan kursi yang disediakan bagi pengunjung, melainkan kursi khusus bagi pencari informasi. Apa mau dikata, teguran tetap harus ditaati bila tak ingin menanggung malu.

Teguran satpam sebuah toko buku besar di bandung tadi memang cukup sopan, tetapi menegur pengunjung untuk duduk di kursi yang hanya 2 buah, apalagi kursi itu dikhususkan hanya bagi pencari informasi , sama saja artinya dengan pihak toko buku melarang pengunjung untuk membaca buku sambil duduk. Boleh-boleh saja membaca berlama-lama, tapi kaki capek dan pegal resikonya..

Ironis sekali? disaat negri ini membutuhkan manusia-manusia yang gemar membaca untuk menjadi manusia yang lebih berkualitas, disaat gemar membaca disebut-sebut sebagai salah satu cara untuk mencerdaskan bangsa, toko buku sebagai salah satu media pencerdas ini sama sekali tidak menyediakan fasilitas yang memadai bagi kenyamanan pengunjung untuk bisa berlama-lama membaca, atau menikmati buku bermutu yang mungkin tidak terbeli karena faktor ekonomi. Barangkali bagi pihak toko, menyediakan fasilitas itu sama artinya dengan merugi karena akan mengurangi tingkat penjualan akibat pengunjung yg tidak jadi membeli buku. Toko buku memang bukan perpustakaan, tapi menyediakan fasilitas ini dengan niat untuk turut mencerdaskan anak bangsa bukanlah hal yang sia-sia, karena pembeli akan tetap selalu ada. Tak ada salahnya bila kita berkaca pada salah satu toko buku di negri tetangga, yang menyadari fungsinya sebagai salah satu media pencerdas bangsa. .

Kinokuniya bookstore, terletak di Takasimaya Orchad road jantungnya negri Singapura. Kesan pertama yang muncul saat memasuki toko buku ini adalah..wow?betapa luas dan nyamannya tempat ini. Pengunjung yang tidak gemar membaca atau tidak suka membeli buku pun akan betah berlama-lama di toko ini.

Udara panas singapura akan langsung terasa sejuk dan nyaman begitu memasuki ruangan. Apalagi di pinggir ruangan disediakan kursi-kursi empuk memanjang yang memang disediakan bagi pengunjung . Lantai ruangan ditutupi karpet tebal dan bersih yang membuat pengunjung tak segan untuk duduk diatasnya. Buku-buku disusun dengan rapi dalam rak-rak tinggi, sesuai dengan jenisnya. Antara setiap rak diberi jarak cukup lebar, yang membuat pengunjung bisa leluasa mencari buku, tanpa perlu berdesak-desakan. .
Pemandangan yang menarik saat melewati bagian buku-buku ilmiah adalah ketika melihat beberapa anak muda sedang duduk diatas karpet sambil membaca dan mencatat buku yang sedang dibacanya. Adapula beberapa orang yang terlihat sedang serius membaca buku sambil duduk di atas kursi yang empuk. Petugas toko buku berseliweran memeriksa buku-buku atau melayani pengunjung yang membeli buku, tapi tak ada seorangpun petugas yang menegur anak-anak muda tadi. Mereka tetap dengan serius membaca dan mencatat isi buku, tanpa terganggu.

Saat masuk ke bagian buku anak-anak, rasa nya semakin kagum dengan toko buku ini., tak akan ada anak yang tidak senang berlama-lama di sini. Pemandangan yang terlihat tidak seperti di sebuah toko buku , tapi seperti sedang berada di sebuah taman bermain. Diatas karpet tebal yang berwarna indah disediakan beberapa buah bantal besar yang lucu, rak-rak buku yang disediakan pun tidak terlalu tinggi, disusun dengan menarik, sehingga bisa dijangkau oleh anak-anak. Buku buku yg disediakan dalam berbagai ragam dan bentuk pasti sangat disukai anak-anak. Di beberapa sudut tampak ibu-ibu muda sedang duduk diatas karpet sambil membacakan buku untuk balitanya. Ada pula seorang ibu yang sedang menidurkan bayinya diatas karpet , sementara anaknya yang lain begitu antusias berlari-lari memilih buku. Petugas berseliweran kesana kemari mengerjakan tugasnya, sekali lagi, tanpa ada seorangpun yang menegur.

Melihat ini semua membuat mulut berdecak kagum, andaikan ada toko buku seperti ini di Bandung. Tidak hanya mall dan mall yang menjadi tempat kunjungan, toko buku pun bisa menjadi tempat rekreasi yang nyaman. Akan semakin banyak orang-orang yang gemar pergi ke toko buku dan mendapatkan banyak ilmu. Akan semakin banyak manusia yang berkualitas karena tahu pentingnya buku.. Buku adalah jendela ilmu, dan toko buku bisa menjadi pembuka lebih banyak jendela. Semoga?(Agnes Tri H.)


Cinta

Filed under Catatan Pribadi

Ngomong cinta di hari kasih sayang….kayaknya jadi topik hangat beberapa hari ini…..hmmppfff…….di tipi, di radio, majalah….banyak orang ngomong cinta…..orang mendewakan cinta….semua bertindak mengatas namakan cinta…..ahhhh…gak tau deh…..kayaknya bosen banget denger kata yg satu ini, padahal…conscious or not, kadang cinta dikambing hitamkan untuk mengumbar hawa nafsu semata…..trus…apa emang ini yang kita cari??? well, I hope not…..karena kita yakin ada “cinta” yang lebih abadi yang bisa kita raih…


satu pintu lagi kubuka

Filed under Catatan Pribadi

satu pintu lagi kubuka. pintu melihat hal-hal baru yang lama. pintu melihat yang tersembunyi di depan mata. dan ternyata masih banyak sekali keindahan yang terlewatkan meski sebelumnya aku sudah merasa membuka mata lebar-lebar.

ok, yang aku bicarakan adalah tentang hobi ‘baru’-ku. fotografi. dikatakan hobi karena mungkin nggak akan lebih dari itu. dikatakan ‘baru’ (i mean with apostrophes) karena udah lama tertarik, dan jepret-jepret. tapi berhubung biaya operasional yang mahal (waktu masih menggunakan kamera film), sedikit sekali kesempatan bergumul dengan hobi ini. tapi semenjak punya kamera digital, kegiatan memotret menjadi lebih intensif. nah, apa hubungan fotografi dengan ‘pintu’ yang kuomongkan di atas? pertama, mari aku ceritakan tentang hobi ‘baru’-ku ini.

ok, mulai dari mana ya? biar ku mulai dari sebuah pengakuan aja deh: aku tidak punya dasar fotografi sama sekali. yang kumiliki hanyalah keinginan dan semangat mengabadikan sesuatu (dalam bentuk gambar/foto) hal-hal yang menurutku menarik dengan mengandalkan momen dan sudut pandang. maka jadilah jepret sana-sini, yang kalo kemudian menurutku ternyata tidak menarik, langsung kuhapus lagi (hei…, inilah keunggulan kamera digital). nah dalam mencari objek fotografi tsb, aku ‘terpaksa’ harus melihat lebih jeli setiap sudut dan pojok dimana aku berada.

Moon2003.jpg

suatu ketika, seorang teman memperkenalkan pada sebuah situs tempat para penghobi (bener begitu istilahnya?) fotografi. and for that, big thanks to cak amal.
di sini, mereka yang bergabung mulai dari level ‘point and shot‘ sampe yang master. dengan semangat berbagi dan belajar, anggota komunitas ini rajin meng-upload (aku masih males menggunakan istilah ‘mengunggah’…!) foto hasil hunting. kemudian membicarakannya. memberi komentar. memberi saran. meminta saran. dan lain-lain. diharapkan anggota komunitas bisa menambah wawasan dan skill dalam bidang fotografi ( nggak hanya ‘point and shot‘ mulu :)
kalo kamu tertarik ingin tahu komunitas apa yang kubicarakan di atas, ianya adalah fotografer.net (fn), http://www.fotografer.net/.

nah, semenjak bergabung dengan fn, kerjaan berburu menjadi lebih intens. mata menjadi selalu jelalatan mencari objek fotografi. perlahan namun pasti, sesuatu yang dari awal sudah menggelitik, mulai menyeruak keluar. sesuatu yang akhirnya kusadari keberadaannya. sesuatu yang mendorong aku membuat tulisan ini dan ingin berbagi pada kalian.

sesuatu yang kubicarakan itu adalah sebuah ‘kaca mata’. sesuatu yang kubicarakan itu adalah mirip alat bantu penglihatan. sesuatu yang kubicarakan itu membantu aku melihat ‘lebih’ dibanding biasanya. dan keindahan tiba-tiba menyeruak di depan mata. ada keindahan pada tetes-tetes air kran saat mencuci piring. ada keindahan pada butir-butir air shower saat mandi pagi ( karena sore biasanya jarang mandi :P ). ada keindahan pada gemulai tarian serpih salju saat turun ke bumi. ada keindahan pada tekstur kulit buah leci. ada keindahan pada kepak camar dan merpati di taman. ada keindahan pada tuts-tuts keyboard komputer. ada keindahan pada setumpuk uang receh kembalian belanja di vismarkt. ada keindahan pada rona merah senja saat mentari mulai lelah dan menuju peraduan (ah, yang ini bener-bener kebangetan kalo sampe terlewatkan…!!!). ada keindahan pada kelopak merah mawar. ada keindahan pada goyangan ranting di musim gugur. ada keindahan pada riak-riak air di pantai. ada keindahan pada bunga kecil di rerumputan yang biasa kita injak saat melintas lapangan. ada keindahan pada gumpalan awan yang menawarkan hujan lebat. ada keindahan pada lampu-lampu taman. dan ada sejuta keindahan lain yang tiba-tiba menyeruak di depan mataku. bahkan keindahan itu tetap ada pada nyamuk yang hinggap dan mengisap darah di lenganku (dan kemudian secara reflek tanganku terayun mengakhirnya kegiatan sang nyamuk…).

inilah yang kumaksud ‘pintu yang kubuka’. pintu yang mengantarkanku melihat lebih banyak lagi keindahan dalam lingkungan dan aktivitas sehari-hari, yang sebagian besar ternyata terlewatkan olehku. dengan hobi baruku, aku merasa dilatih lebih peka dalam melihat dan merasa keadaan sekeliling. aku jadi teringat cerita cak mangil dalam tulisan bung ismail (indahnya nol). mungkin saat ini aku agak mirip seperti dia, sedikit terbuka kesadaran pada keadaan sekitar, merasakan dan meresapi pijitan kerikil di telapak kaki dan segarnya udara pagi, dan kemudian tersenyum sendiri.
perlahan kudengar dari walkmanku sebuah lagu disenandungkan oleh ebiet. dan akupun mulai bersiul mengiringi liriknya yang puitis:

berjalan diam-diam
ternyata banyak makna
setiap sudut dapat aku lihat
semua yang tersembunyi
serta merta kubuka
kotor berdebu
kumuh dan kusam
seperti apa adanya
….

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan ‘berjalan diam-diam‘.


berjalan diam-diam

Filed under Catatan Pribadi

Tulisan ini adalah prequel dari tulisan ‘satu pintu lagi kubuka‘. he he he…, bukan film-film aja yang punya prequel-sequel :)

berjalan diam-diam
ternyata banyak makna
setiap sudut dapat aku lihat
semua yang tersembunyi
serta merta kubuka
kotor berdebu
kumuh dan kusam
seperti apa adanya
….

aku punya kebiasaan jalan kaki. alasannya bukan karena aku senang olah raga, tapi kebetulan waktu sma, dengan berjalan kaki pulang dari sekolah, maka jatah uang transportasi bisa kugunakan untuk tambahan jajan atau untuk membeli majalah. jalan kaki tsb menjadi menyenangkan walau jaraknya jauh, karena ada banyak juga temenku yang berjalan kaki pulang sekolah. dan terlebih-lebih seorang kecengan senang ikutan bareng jalan, meski ujung-ujungnya saat semua udah sampe ke rumah masing-masing, beliau ini masih harus meneruskan perjalanan dengan angkutan kota (angkot). padahal dia bisa aja langsung pake angkot dari sekolah untuk pulang, tidak perlu jalan sama sekali. (hey, i miss you) :P

nah, dari sinilah aku punya kebiasaan jalan kaki. dan dengan didukung oleh kekurangan dana transportasi waktu kuliah, kebiasaan ini terus kubawa-bawa sampai tamat kuliah di itb. saat kuliah, biasanya aku berjalan sendiri. dan dari kebiasaan ini, aku jadi punya banyak waktu untuk berfikir dan melakukan observasi terhadap apa-apa yang kulihat sepanjang jalan. dan kegiatan jalan kaki + observasi + berfikir ini kunamakan sebagai berjalan diam-diam atau berjalan dalam diam (selanjutnya akan kusingkat bdd).

banyak hal yang kuamati dan menjadi perdebatan hangat dalam batin hasil dari bdd ini. berbagai ide, wacana, protes, dll saling silang dalam benak saat melihat sesuatu yang menarik ketika melakukan bdd. sebagai contoh: suatu hari dalam perjalanan ke kampus, aku melihat seekor kucing beberapa meter di depanku bergerak perlahan, hati-hati, dengan gaya seekor pemburu sejati. gaya khas yang sangat menarik perhatianku. ternyata beberapa meter di depannya, tiga ekor burung gereja sedang mencari makan di rerumputan. pemandangan seekor feline yang sedang mengintai mangsa dan siap menerkam adalah pemandangan yang jarang diamati di kota besar. biasanya pemandangan model seperti ini hanya kita saksikan di tv, kisah feline di padang afrika atau di hutan india. sedangkan kucing-kucing saat ini, kebanyakan hanyalah menjadi binatang malas yang menunggu tuannya menyediakan makanan kaleng dalam piring kaca, atau malah hanya mengais-ngais tong sampah, seolah melupakan kodratnya sebagai seekor predator. dan pemandangan yang terpampang dihadapanku saat itu menjadi tontonan menarik yang membuat aku menghentikan langkah demi mengamati keseluruhan proses perburuan, dan supaya burung-burung tsb tidak terbang gara-gara aku melewati lapangan rumput tsb. dan wacana tentang lingkungan buatan manusia yang mengubah perilaku kucing (dll) melenceng dari kodratnya, meramaikan diskusi dalam benakku untuk hari itu.
(just in case anda penasaran, perburuan itu gagal. mungkin karena sang kucing tidak punya banyak waktu untuk latihan. ah, seandainya paruh burung-burung tsb cukup lentur, mungkin dapat kuliah senyum sinis mereka pada kucing yang kurang pengalaman tsb :)

disaat lain, aku kehujanan dalam perjalanan pulang ke tempat kost. terpaksa berteduh di simpang dago menunggu hujan reda. saat benakku sedang ramai dalam diskusi hangat (aku lupa tentang apa), tiba-tiba sebuah pohon tua yang tumbuh di pinggir jalan, tumbang oleh renggutan angin kencang yang menyertai hujan lebat saat itu. pohon menutup jalan dan menghalangi lalu lintas kendaraan. tiba-tiba seseorang meloncat ditengah hujan yang mulai reda, menenteng parang dan dengan sigap mulai membersihkan pohon yang tumbang tsb. tanpa komando, beberapa orang lainnya segera turun membantu menyingkirkan batang pohon tua yang menghalangi geliat lalu lintas yang mulai ramai. semua terjadi begitu cepat dan tanpa banyak bicara / komando, seolah-olah tiap orang tahu apa yang harus dilakukan. ya, mungkin tiap orang tahu (!) apa yang harus dilakukan, termasuk seseorang yang dengan sigap menengadahkan topi yang dipakainya untuk menarik sumbangan dari kendaraan yang melewati jalan yang sudah mulai bersih itu. semuanya berjalan seolah sebuah pementasan dari skenario yang sudah berulang kali dimainkan sehingga tiap orang hapal peran masing-masing. suatu rutinitas kota besar. lalu benakkupun riuh oleh wacana tentang manusia-manusia kota yang mulai hilang sifat manusianya.

disaat lain lagi, aku melewati sebuah jalan yang sedang dibangun. dan anak-anak kecil sedang bermain bola di sana. otomatis lirik bang iwan terngiang di telingaku. lirik tentang anak-anak kota yang kehabisan tanah lapang untuk sekedar bermain bola. dan memang sebagian jalan baru tsb dulunya adalah lapangan kecil, yang mungkin memang tempat mereka selalu bermain bola. dan (as you guess) itu menjadi wacana diskusi dalam benakku untuk hari itu.

yah…, begitulah pergumulan benak yang selalu aku dapat dari berjalan diam-diam / berjalan dalam diam. banyak hal-hal terkuak, dan seperti kata ebiet: kotor berdebu; kumuh dan kusam; seperti apa adanya.
dan berjalan diam-diam / berjalan dalam diam masih terus kulakukan sampai sekarang, melanjutkan pengamatanku tentang realitas sehari-hari.