Archives for “Bedah Buku”

Saya ingat pemutaran film Harry Potter pertama kali, sekitar akhir tahun 2001. Saat itu saya masih di Maryland, Amerika Serikat. Tidak beberapa lama kemudian diputar The Lord of the Ring: The Fellowship of the Rings. Saya mengenal fantasi Rowling lebih dulu daripada fantasi Tolkien, jadi ketika The Fellowship of the Rings diputar, saya hanya mencibir sambil berujar, “Ah, satu lagi karya film mendompleng ketenaran karya lain.” (Ini merujuk pada pengalaman yang sudah-sudah, satu film laris akan diikuti oleh film-film sejenisnya.)

Desember 2003, beberapa hari menjelang ujian akhir Subatomic Physics. Seorang sahabat pribumi mengajak saya ke peluncuran perdana The Lord of the Rings: The Return of the King. Malam itu saya harus menjilat kembali cibiran 2 tahun yang lalu. Tidak beberapa lama 4 kitab fantasi Tolkien, The Silmarillion, The Hobbits, The Lords of the Rings, dan Unfinished Tales saya khatami - hanya bagian indeks yang tidak saya baca. *This is the greatest and the only one favorite fantasy for me*. (Eventhough I quite agree that Mahabarata is better, but for some reason I choose Tolkien.)

Bagaimana dengan Harry Potter?

Fantasi Rowling bagus, buktinya menarik balik minat baca anak-anak seluruh dunia dari ketergantungan menonton tivi. Itu berarti ceritanya menarik, dan pada kenyataannya memang menarik. Pembaca Harry Potter bisa disebut segala umur, walau saya belum pernah tahu kalau ada generasi 50-an membaca Harry Potter (berbeda dengan fantasi Tolkien yang jadi cerita sebelum bobo sampai kakek-kakek).

Popularitas Harry Potter makin melangit setelah suksesnya versi layar lebar, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone. Layar lebar kedua, Harry Potter and The Chamber of Secret, menurutku sangat mengesankan. Dan terakhir, Harry Potter and The Prizoner of Azkaban, sedikit menurun kualitasnya. Yang paling mengecewakan adalah alurnya yang tidak benar. Kalau tidak salah saya sampai marah-marah dengan seorang teman dekat gara-gara dia saya tuduh tidak menceritakan alur dengan benar - setelah dicek ternyata alur di film yang salah. *Itu lho*, adegan Harry mengeluarkan mantera mengusir Dementhor yang mengerubungi Sirius Black - saya sendiri juga sudah lupa bagian mana yang tidak benar.

Nah, kenapa saya marah-marah? Ternyata, selama ini saya adalah penikmat Harry Potter palsu. Saya gemar mendengar diskusi para penggemar Harry Potter, tanya ini-itu, kemudian menceritakan kembali ke orang lain dengan lagak yang seakan-akan sudah baca. Hehehe…

Tapi tentu saja saya tidak tergantung pada ajian menguping itu. Sebelum menguping, saya baca dulu bukunya. Bedanya, kalau penggemar Harry Potter asli membaca kata demi kata, halaman demi halaman, seakan-akan tidak mau kehilangan momen-momen penting, saya membaca buku itu hanya dalam hitungan menit.

Caranya? Cukup baca 3 bab pertama + 10 halaman terakhir. Tiga bab pertama dibaca dari kiri ke kanan, selayaknya membaca buku teks, dan sepuluh halaman terakhir dibaca dari kiri ke kanan selayaknya mebaca Al Quran. Saya jamin, inti dari cerita satu buku sudah ada di kepala anda. Kata orang padang, “Kalau bisa melakukan dengan lebih cepat dengan hasil yang sama, kenapa cari jalan yang berbelit-belit?” He he he… Sayangnya ajian itu tidak berlaku dengan untuk The Lord of the Rings dan karya Tolkien lainnya.

Nah dengan ajian itu, hari Minggu 17 Juli saya sudah menyelesaikan Harry Potter and the Half-blood Prince (yang saya terjemahkan: Harry Potter dan Pangeran Setengah-berdarah, hihihi). Hari Senin, dengan polosnya saya email beberapa teman penggemar Harry Potter untuk mendiskusikan beberapa hal, dan yang paling penting adalah teori konspirasiku terhadap pembunuhan Dumdumdum (ini cara saya mengeja nama kepala sekolah sihir Hogwart, tempat sekolah Harry Potter) yang dilakukan Snape. (Btw, Snape sejak dulu sudah menjadi idolaku. Di film juga dia cool, aduuh, ganteng dech!)

Ini dia: the Conspiration Theory

Saya berteori bahwa pembunuhan ini adalah rekayasa Dumdumdum untuk meyakinkan Voldemort (the guy who doesn’t know his name) bahwa Snape ada di pihak mereka. Peran agen ganda memang diperlukan di mana-mana, kalau tidak Sekutu tidak akan pernah menang lawan Jerman dan Jepang, atau Amerika Serikat tidak akan berhasil meruntuhkan Soviet. Teori itu berlandaskan bahwa tingginya kepercayaan yang diberikan Dumdumdum pada Snape pada buku ke-5: Order of The Phoenix (yang kalau diperhatikan alurnya mirip-mirip dengan The Fellowship of the Rings).

Namun ternyata saya mendapat amuk marah dari mereka-mereka penggemar Harry Potter. Katanya saya spoiler. Setelah saya cek di kamus, spoiler ini artinya kandidat yang tidak punya kesempatan untuk menang tapi bisa membuat kandidat yang lain tidak menang. Bisa juga artinya sesuatu atau seseorang yang membuat makanan basi. Hehe, mungkin arti ke dua lebih tepat dalam kasus ini. Saya diprotes: jangan ganggu kesenangan orang lain. Lha, kalau begitu, sama artinya saya disuruh berhenti bersenang-senang? Hihihi.

Ternyata memang ada semacam kesepakatan etika yang dibangun di antara para penggemar sejati Harry Potter: tidak boleh berdiskusi atau mendiskusikan buku terbaru di depan seseorang yang belum baca. Dan aturan ini benar-benar dipegang teguh oleh mereka.

Seseorang diantaranya memarahi saya karena tidak pernah serius kalau bercerita tentang Harry Potter. Mulai dari banyaknya kesalahejaan nama tokoh, sampai ke alur cerita yang sudah dipelintir kesana-kemari oleh saya.

Sementara bagi saya, si penggemar palsu ini, Harry Potter adalah buku untuk bersenang-senang: saya beli, saya bebas interpretasikan semena-mena saya, dan saya bebas mengemukakan pendapat. Itulah cara saya menikmat Harry Potter.

Saya jadi tergelitik untuk bertanya, saat fantasi Tolkien diterbitkan satu per satu, apakah juga seperti itu? Saya dulu penggemar dan langganan Doraemon, Dragon Ball, Kungfu Boy, Cityhunter, Tapak Sakti, dan majalah Ananda. Saya juga punya klub pecinta komik yang sama, dan kami tidak punya etika seperti itu. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang membuat perbedaan sehingga kami dulu tidak punya etika itu dan sementara generasi sekarang memilikinya?

Banyak kemungkinan terpikir: zaman yang berbeda, faktor media massa, jenis bacaan… dan salah satunya: faktor pribadi. Dari sekian banyak yang protes ke saya, tidak satupun yang datang dari fisikawan seperti saya. Teman sekantor saya malah asik-asik saja dengan ulah tersebut, walau tetap mengolok-ngolok saya yang diprotes banyak orang. (Dia juga pembaca Harry Potter dan The Lords of the Rings, saya ceritakan kejadian tersebut ke dia.)

Menarik sekali dengan etika “no spoiler” ini. Kalau untuk yang beginian kawan-kawan muda kita sudah bisa membangun dan melaksanakannya, apakah bisa dikembangkan ke etika-etika yang lain? Misalnya etika tidak menjadi plagiat di sekolah, etika tidak menyuap dan berkolusi tidak sehat, dan etika-etika yang bermanfaat untuk lebih banyak orang. Entahlah…

Yang jelas, dengan segala ketulusan hati saya minta maaf kepada semua penggemar asli Harry Potter atas ulah saya di atas. Percayalah, buku ketujuh akan jauh lebih hebat daripada buku keenam, jadi jangan membenci Harry Potter cuma gara-gara ulah spoiler ini.


The Da Vinci Code

Filed under Bedah Buku

Beberapa saat setelah peluncurannya, buku karangan Dan Brown ini menjadi best seller dan laris di mana-mana. Apakah yang menjadi “rahasia” kesuksesan buku ini?

Ada dua “menu” yang dihadirkan buku ini :

1. Ketegangan (suspens) dan alur
Jika diperhatikan, cerita yang dihadirkan oleh Dan Brown adalah “petualangan” seorang Robert Langdon. Brown menghadirkan permasalahan ke depan Langdon, yang pemecahannya harus menggunakan ilmu simbologi yang dimiliki Landon terhadap beberapa karya Leonardo Da Vinci. Sementara itu, dalam menganalisa dan memecahkan teka-teki yang dihadapinya, unsur ketegangan dihadirkan dengan “berlari”nya Langdon dari kejaran polisi dan pihak-pihak yang juga menginginkan apa yang tersembunyi dalam beberapa karya Da Vinci tersebut.

Alur utama yang disajikan Dan Brown adalah kronologis. Teka-teki sedikit demi sedikit terbuka. Selain itu, ada pula beberapa kejutan yang cukup membuat pembaca berfikir. Kemudian, ada beberapa alur kilas balik, yang kesemuanya berfungsi untuk membantu pembaca memahami secara penuh rangkaian peristiwa yang berujung kepada petualangan Brown tersebut.

2. Fakta/fiksi di sekitar karya Leonardo da Vinci yang berhubungan dengan Jesus
Hampir seluruh bagian dari novel ini, diwarnai oleh fakta/fiksi di sekitar karya Leonardo da Vinci yang berhubungan dengan Jesus. Adapun fakta/fiksi tersebut, mungkin sekitar 10%nya saja yang diciptakan oleh Brown. Sementara sisanya memang sudah diketahui oleh komunitas yang memang punya perhatian terhadap masalah-masalah itu. Dengan kata lain, untuk komunitas-komunitas tersebut, fakta/fiksi ini bukan lagi barang baru. Namun demikian, jumlah “anggota” komunitas-komunitas ini memang tidak banyak dibandingkan dengan pembaca lainnya dari novel ini.

——

Memang tidak dapat dielakkan, kepiawaian Brown dalam meracik fakta/fiksi tersebut ke dalam alur yang ia buat, telah membuat novelnya menjadi best seller, dan tentu menambah tabungan Brown. Selain itu, fakta/fiksi yang dihadirkan Brown memang cukup “mengguncang” pemikiran orang-orang yang bukan “anggota” dari komunitas-komunitas di atas, karena dirasa mendobrak mainstream yang dipercaya dan dianut di hampir seluruh dunia.

Akan tetapi, dari segi cerita, sajian Dan Brown tidak dapat dikatakan terlalu istimewa. Para pembaca buku-buku thriller tentu sudah terbiasa dengan penyajian seperti diatas. Bahkan mungkin ada dari beberapa pembaca yang sudah dapat kurang lebih menebak akhir ceritanya. Pembaca “The Da Vinci Code” setelah membaca novel tersebut akan hampir selalu terpancing untuk mendiskusikan fakta/fiksi tersebut. Sedangkan di lain pihak, sedikit yang akan tertarik untuk mendiskusikan alur , ketegangan, serta jalan ceritanya itu sendiri.

Dari analisa singkat di atas, sepertinya, jawaban dari pertanyaan di awal artikel ini :”apakah yang menjadi rahasia kesuksesan buku ini?” sudah dapat terjawab.
Pertama, Brown cukup berhasil mengawinkan fakta/fiksi dengan alur dan ketegangan yang ia sajikan. Kedua, Brown mengangkat perihal yang kontroversial, yang mengguncang kemapanan mainstream yang telah ada. Tidak tanggung-tanggung, Brown mengguncang kemapanan salah satu agama yang penganutnya cukup besar di muka bumi ini.

Namun, perlu ditekankan, bahwa ada catatan kecil dibalik dua rahasia sukses di atas. Yang dilakukan Brown selain alur cerita dan ketegangannya, ia hanya mengangkat perihal yang sudah bukan barang baru, dari publik terbatas ke publik yang lebih luas. Dan dalam topik ini, Brown bukanlah yang pertama. Walaupun begitu, boleh jadi dia adalah yang pertama yang menjadi kaya karenanya.


Pengalaman di Jenewa, Swiss

Filed under Bedah Buku

Berbagai macam cara dan rahasia, resep dan metoda orang untuk bahagia, menikmati hidup, atau hanya sekedar “melewati kejemuan karena hidup”. Dari sekian banyak orang-orang itu, mungkin segelintir saja yang sudah mendefenisikan kebahagiaan seperti apa yang menjadi sasaran mereka, atau hidup bagaimana yang nikmat. Saya tidak tahu memang, apakah sudah ada riset statistik untuk hal demikian. Namun, gampang sekali untuk menemukan jawabannya untuk kasus lokal: bertanyalah pada diri sendiri, apakah saya menikmati pilihan-pilihan hidupku selama ini?

Ada sebuah cerita, tentang “kesederhanaan” seorang petualang yang menikmati kesimpelan hidupnya sebagai sebuah kebahagiaan. Kesederhanaan yang tidak hanya dinikmati sendiri, tapi juga melibatkan orang banyak.

Semoga bermanfaat…

Hotel CITY

Suatu kali, ketika saya di Jenewa, Swiss, untuk menghadiri sebuah pertemuan Masyarakat Fisika, saya berjalan-jalan dan kebetulan melewati gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Wah! Saya mau masuk dan lihat-lihat ah!” pikirku. Dandanan saya kurang pantas sebenarnya untuk jalan-jalan di dalam gedung penting itu – saya memakai celana kumal dan jaket tua. Ternyata ada semacam tur yang bisa kita ikuti untuk masuk ke dalam gedung dengan didampingi seorang pemandu.

Tur itu sendiri cukup menarik, tapi bagian yang paling mengagumkan adalah ruangan auditoriumnya yang besar dan hebat. Tahu lah, bagaimana seriusnya mereka membuat segala sesuatu untuk simbol internasional ini. Apa yang biasanya menjadi panggung sekarang terbagi beberapa lapis: anda harus menaiki seluruh anak tangga menuju panggung kayu raksasa, dan sebuah layar raksasa ada di belakang anda. Di depan anda adalah tempat duduk para tamu. Karpetnya begitu anggun, dan pintunya besar-besar dengan gagang dari kuningan yang indah. Setiap sisi auditorium, agak ke atas sedikit, ada tempat para penterjemah melakukan pekerjaannya. Tempat itu benar-benar fantastis, dan saya terus-terusan berpikir, “Wow! Saya mau sekali untuk memberi ceramah di tempat seperti ini!”

Segera sesudah itu, kami berjalan sepanjang koridor di sebelah auditorium itu. Si pemandu menunjuk lewat jendela dan berkata, “Anda lihat bangunan-bangunan di sana yang sedang dalam perbaikan? Mereka akan dipakai pertama kali nantinya untuk Konferensi Atom untuk Perdamaian, sekitar enam minggu lagi.”

Saya tiba-tiba teringat bahwa Murray Gell-Mann dan saya akan berbicara pada sebuah konferensi tentang kondisi terkini fisika energi-tinggi. Bagianku adalah di sesi pleno, jadi saya tanya si pemandu, “Pak, di mana kira-kira ceramah untuk sesi pleno pada konferensi itu?”

“Itu, di ruangan yang baru saja kita lewati tadi.”

“Oh!” kataku dengan senang. “Jadi saya akan memberi ceramah di ruangan auditorium hebat itu!” kataku dalam hati.

Pemandu itu melihat ke celana kumal dan kaos kusut saya. Saya sadar betapa buruk kesan si pemandu terhadap saya, tapi saya benar-benar senang dan bangga setelah mengetahui di mana sidang pleno akan diadakan.

Kami lanjutkan tur, dan pemandu berkata, “itu adalah ruang tunggu untuk para delegasi, di mana biasanya mereka melakukan diskusi informal.” Ada sebuah jendela berbentuk bujur sangkar kecil di pintu menuju ruang tunggu itu yang bisa dipakai untuk melihat keadaan di dalam, jadi orang-orang dalam tur melihatnya. Ada beberapa orang sedang duduk dan berbicara di ruang tunggu itu.

Saya ikutan melihat, dan saya elihat Igor Tamm, kenalasan saya seorang fisikawan Rusia. “Oh!” seruku, “saya kenal dia!” dan saya buka pintu itu.
Pemandu itu berteriak, “Jangan, jangan! Jangan masuk ke sana!” Saat itu dia sudah yakin bahwa salah seorang peserta turnya adalah maniak, tapi dia tidak bisa mengejar saya sebab dia tidak diizinkan melewati pintu sendirian!
Tamm senang saat tahu ada saya di sana, dan kita bicara sebentar. Pemandu itu merasa lega dan melanjutkan tur tanpa saya, dan saya harus berlari untuk mengejarnya.

* * *

Pada pertemuan Masyarakat Fisika, seorang teman baik saya, Bob Bacher, berkata, “Dengar: nanti bakalan susah untuk mendapatkan penginapan saat Konferensi Atom untuk Perdamaian. Kenapa kamu tidak minta tolong Departemen Kota mendapatkan satu ruangan untuk mu, jika kamu belum membuat reservasi?”

“Ah, tak usah!” jawabku. “Saya tidak akan minta tolong Departemen Kota untuk melakukan hal-hal remeh seperti itu untuk saya! Saya akan lakukan sendiri.”
Ketika saya balik ke hotel yang saya tinggali sekarang, saya katakan pada mereka bahwa saya akan pulang seminggu lagi, tapi saya akan kembali lagi di penghujung musim panas nanti: “Bisakah saya membuat reservasi sekarang untuk nanti?”

“Tentu saja! Kapan anda akan kembali?”

“Minggu kedua September…”

“Oh, kami benar-benar minta maaf, Profesor Feynman; saat itu semua ruangan sudah dipesan.”

Jadi saya berkelana dari hotel satu ke hotel lainnya, dan memang mereka semua sudah dipesan enam minggu sebelum konferensi itu!
Lalu saya teringat sebuah trik yang saya pakai sekali saat seorang teman sesama fisikawan datang ke tempat saya, dia orang Inggris yang sopan dan santun.

Kita pergi melintasi Amerika Serikat dengan mobil, dan saat melewati Tulsa, Oklahoma, ada banjir di depan. Kita singgah ke kota kecil ini dan melihat banyak mobil parkir di mana-mana, dengan orang-orang serta familinya di dalam mobil berusaha untuk tidur. Temanku itu berkata, “Sebaiknya kita berhenti di sini. Jelas bagi saya, kita tidak bisa jalan lebih jauh.”

“Ah, ayolah!” kataku. “Bagaimana kamu tahu? Mari kita lihat, apakah bisa kita teruskan perjalanan: saat kita sampai di sana, mungkin saja airnya sudah surut.”

“Kita seharusnya tidak membuang-buang waktu seperit itu,” jawabnya. “Mungkin kita bisa menyewa satu kamar hotel di sini kalau kita cari.”

“Ah, jangan khawatir soal itu! Ayo berangkat!” kataku.

Kami lanjutkan perjalanan sampai sepuluh atau dua belas mil dan sampai ke sebuah sungai dengan arus yang besar. Ya, bahkan untuk saya, airnya terlalu banyak. Tidak ada keraguan: kita tidak perlu mencoba melewati air itu.
Kami kembali, temanku menggerutu sepanjang jalan kalau-kalau kami tidak bisa mendapatkan kamar lagi. Saya katakan kalau tidak usah khawatir mengenai itu.

Kembali ke kota kecil itu. Kota itu benar-benar ditutupi oleh orang-orang yang tidur di mobil, jelas karena tidak ada lagi kamar yang bisa disewa. Semua hotel pasti sudah disewa. Saya lihat ada tanda di sebuah pintu: HOTEL. Hotel ini adalah jenis hotel yang saya kenal baik di Albuquerque, saat saya di sana berkeliling kota mencari berbagai keperluan untuk istriku yang sedang di rumah sakit. Hanya ada satu pintu, begitu masuk anda akan jumpai tangga ke atas dan kantornya tepat saat anda sampai di atas sana.

Kami naik ke atas menuju kantornya dan saya katakan pada manajer hotel itu, “Kami butuh satu kamar.”

“Baik pak. Kami punya satu dengan dua tempat tidur di lantai tiga.”

Teman saya kagum: satu kota penuh dengan orang-orang yang tidur di dalam mobil, kami di sini dapat satu kamar!

Kami pergi menuju kamar itu, secara perlahan-lahan menjadi jelas bagi dia jenis hotel apa itu: tidak ada pintu di kamar itu, hanyalah kain yang digantung sebagai pengganti pintu. Kamarnya cukup bersih, ada wastafel kecil untuk cuci muka dan tangan; tidak terlalu jelek. Kami bersiap untuk tidur.

“Saya mau pipis,” kata temanku.

“Ada kamar mandi di aula bawah.”

Kami dengar ada suara gadis-gadis tertawa genit dan berjalan mondar-mandir menuju aula itu. Dia cemas, dan tidak mau ke luar.

“Baiklah, pipis saja di wastafel itu,” kataku.

“Ha? Itukan tidak sehat.”

“Ah, tidak apa-apa; pastikan airnya mengalir, itu saja.”

“Saya tidak bisa pipis di wastafel,” katanya.

Kami letih, jadi kami berbaring saja. Cukup panas di sana, jadi kami tidak memakai selimut, dan temanku tidak bisa tidur sebab sedikit bising. Saya sih masih bisa tidur.

Tidak beberapa lama kemudian saya dengar bunyi orang berjalan di lantai, dan saya buka sedikit mataku. Saya lihat dia di sana, di dalam gelap, diam-diam naik ke wastafel.

* * *

Baiklah, kembali ke masalah hotel di Jenewa. Saya tahu ada hotel di sana bernama Hotel City, jenis hotel seperti yang saya ceritakan tadi: satu pintu masuk yang langsung disambut tangga menuju kantor di lantai pertamanya. Di sana biasanya ada kamar yang bisa disewa, dan tidak ada yang membuat reservasi.

Saya naik ke atas menuju kantor itu dan mengatakan pada petugas jaga bahwa saya akan kembali ke Jenewa dalam enam minggu, dan saya ingin menginap di hotel mereka: “Bisakah saya membuat reservasi untuk itu?”

“Tentu saja, pak. Tentu saja bisa!”

Petugas itu menulis namaku di selembar kertas – mereka tidak punya buku reservasi – dan saya ingat petugas itu mencoba mencari gantungan untuk meletakkan kertas itu, semacam pengingatnya biar tidak lupa nanti. Jadi saya sekarang punya “reservasi”, dan semuanya berjalan lancar.

Saya kembali ke Jenewa enam minggu kemudian, langsung menuju Hotel City, dan mereka sudah menyiapkan satu kamar untuk saya; kamar itu di tingkat paling atas. Meskipun murah, tapi bersih. (Ini Swiss, semuanya bersih!) Alas kasurnya sedikit berlubang, tapi bersih. Pagi hari mereka menyediakan sarapan ala Eropa ke kamarku; mereka senang sekali punya tamu yang membuat reservasi enam minggu di depan.

Lalu saya pergi ke gedung PBB itu untuk menghadiri Konferensi Atom untuk Perdamaian. Ada sedikit antrian di meja respsionis, tempat di mana orang-orang melaporkan kedatangannya. Seorang perempuan mencatat semua alamat dan nomor telelpon orang-orang itu, jadi pihak penyelenggara bisa menghubungi mereka kalau ada hal-hal yang dibutuhkan.

“Di mana anda menginap, Profesor Feynman?” tanyanya.

“Di Hotel City.”

“Oh, maksud anda Hotel Cité.”

“Bukan, bukan, tapi ‘City’: C-I-T-Y,” saya eja pelan-pelan. (Kenapa tidak? Kita memang menyebut “Cité” di Amerika, tapi mereka menyebut “City” di Jenewa, sebab kedengarannya aneh.)

“Tapi hotel itu tidak dalam daftar kami. Apakah anda yakin namanya ‘City’?”

“Coba lihat di buku telepon untuk mengetahui nomor teleponnya. Anda akan menemukannya.”

“Oh!” serunya, setelah mengecek buku telepon. “Daftar saya tidak lengkap! Beberapa orang masih mencari kamar, jadi mungkin saya bisa menyarankan mereka ke Hotel City.”

Dia pasti kemudian mendapatkan informasi lain tentang Hotel City dari orang lain, sebab tidak ada orang lain dari konferensi menginap di sana selain saya. Sekali waktu petugas hotel menerima telepon untuk saya dari PBB, dan mereka berlari menempuh dua lantai untuk memberi tahu saya, dengan terpesona dan gembira, untuk turun ke bawah menjawab telepon.

Ada sebuah kejadian lucu yang saya ingat di Hotel City itu. Satu malam saya sedang melihat lewat jendela kamarku ke arah halaman. Sesuatu, dari gedung di seberang halaman, tertangkap oleh sudut mataku: sepertinya mangkuk terbalik di atas bibir jendela. Saya pikir benda itu bergerak, jadi saya amati beberapa saat, tapi tidak bergerak lagi. Lalu, setelah beberapa lama, benda itu bergerak sedikit ke arah lain. Saya tidak bisa menemukan jawaban apakah benda itu.

Setelah beberapa lama saya temukan jawabannya: itu adalah seorang pria dengan sepasang teropong yang dipasangnya di atas bibir jendela, mengamati gedung di depannya ke arah kamar tepat di bawah kamarku!
Ada juga kejadian lain di Hotel City yang akan selalu saya ingat. Saat itu larut malam, saya baru kembali dari konferensi dan membuka pintu menuju tangga. Ada pemilik hotel itu di sana, berusaha telihat acuh-tak acuh dengan cerutu dan satu tangannya mendorong sesuatu di tangga. Sedikit ke atas, perempuan yang biasa menyediakan sarapan pagiku memakai dua tangannya untuk menarik benda berat itu. Dan di ujung atas tangga, menunggu seorang perempuan, dengan selendang bulu binatang palsu, dada tersembul ke luar, tangannya di paha, menunggu dengan angkuh.

“Pelanggan”nya sedikit mabuk, dan tidak mampu menaiki tangga. Saya tidak tahu apakah pemilik hotel itu tahu bahwa saya tahu apa yang terjadi; saya lewati saja mereka. Dia malu dengan kondisi hotelnya, tapi, tentu saja, bagi saya hari-hari di hotel ini sangat menyenangkan.

* * *

Cerita ini dikutip dari naskah (masih nafkah!!!) alih bahasa sebuah buku biografi seseorang. Dianjurkan untuk membaca kisahnya dari awal, biar utuh informasinya :-)

Penempelan foto tidak berhubungan langsung dengan tokoh yang diceritakan, harap maklum!

* * *

michelle_feynma.JPG


It’s as Simple as One, Two, Three…

Filed under Bedah Buku

Ayo…. kita ikuti salah satu petualangan seorang Penegak Hukum yang terkenal dengan Quantum Electrodynamicnya.

Kali ini kita akan melihat bagaimana keingintahuan sang maestro pada cara berhitung mengantarkannya pada sebuah karya (yang menurut saya) ilmiah dan bisa jadi tesis buat rekan-rekan master malah, namun bagi dia adalah cuman sebuah permainan sik-asik…

Mudah-mudahan translate ini memberikan secuil inspirasi pada kita-kita semua, berpikir ilmiah tidaklah sulit, pada akhirnya fisika memang bukan sesuatu yang musti ditakuti :-)

It’s as Simple as One, Two, Three…

*taken from Richard P. Feynman “What Do You Care What Other People Think?”
Dialihbahasakan oleh Febdian Rusydi (www.febdian.com), Mei 2004

feynman06.jpg

Ketika saya dibesarkan di Far Rockaway, saya punya seorang teman bernama Bernie Walker. Kami berdua punya “labor” di rumah, dan kami melakukan berbagai macam “eksperiment”. Suatu waktu, kami sedang terlibat diskusi – saat itu kami sekitar sebelas atau duabelas tahun - dan saya berkata “Tapi berpikir itu tiada lain tiada bukan selain berbicara pada dirimu sendiri”.

“Oh ya?” jawab Bernie. “Apakah kamu tahu bentuk dari poros dalam sebuah mobil?”

“Ya, kenapa rupanya?”

“Bagus. Sekarang, katakan pada saya: bagaimana kamu mendeskripsikannya ketika kamu sedang bicara pada dirimu sendiri?”.

Jadi saya belajar dari Bernie bahwa berpikir juga bisa visual sebagaimana bicara.

Selanjutnya, ketika kuliah, saya tertarik pada mimpi. Saya bertanya-tanya bagaimana sesuatu dapat terlihat begitu nyata, seperti halnya cahaya jatuh ke retina mata, sementara mata sedang tertutup: apakah sel-sel syaraf pada retina benar2 terangsang oleh suatu cara – mungkin oleh otak itu sendiri – atau apakah otak memiliki sebuah “departemen kehakiman” yang berkeliaran selama mimpi berlangsung? Saya tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan seperti itu dari psikologi, sekalipun saya menjadi sangat tertarik pada “bagaimana otak bekerja”. Namun, banyak sekali bisnis tentang penafsiran mimpi, dan seterusnya. (1)


(1) Saya pikir, maksud Feynman adalah: dia tidak pernah mendapatkan jawaban memuaskan walau dia sendiri sudah melakukan pencarian lewat mempelajari kerja otak. Dia juga tertarik pada bagaimana para cenayang penafsir mimpi bekerja, tapi kemudian dia tahu semua adalah bohong. Cerita tentang Feynman dan mimpi dibahas juga pada “Surely You’re Joking, Mr. Feynman”, spesifik dibahas malah pada bab “Altered State” (dunia yang lain).
—-

Ketika saya lulus dari Princenton University, sebuah paper (yang saya pikir bodoh) diterbitkan dan memicu banyak diskusi. Penulisnya memutuskan bahwa sesuatu yang mengontrok time sense (2) dalam otak adalah reaksi kimia yang melibatkan besi. Pikir saya, “Sekarang, bagaimana orang ini dapat berpikir demikian?”

—-
(2) Time sense bisa diartikan perasaan kita menyangkut hitungan waktu.
—-

Baiklah, cara yang dia lakukan adalah, istrinya terserang panas kronik dimana suhu badannya sering naik-turun. Entah bagaimana dia dapat ide untuk menguji time sense istrinya. Dia meminta istrinya untuk menghitung per detik (tanpa melihat jam), dan dia cek berapa lama istrinya menghitung sampai 60. dia meminta wanita yang malang itu untuk berhitung sepanjang hari: ketika panas turun, dia menghitung lebih lambat. Oleh karena itu, dia berpikir sesuatu yang mengatur time sense dalam otak pastilah berjalan cepat ketika panas istrinya sedang naik, dan sebaliknya melambat ketika panasnya turun.

Sedang menjadi seorang yang sangat saintifik, psikologis ini tahu bahwa laju reaksi kima bervariasi terhadap temperature sekitarnya oleh sebuah formula tertentu yang tergantung pada energi reaksi. Dia ukur perbedaan dalam kecepatan istrinya berhitung, dan menentukan berapa banyak temperature mengubah kecepatan itu. Lalu dia mencoba untuk mencari sebuah reaksi kimia yang lajunya bervariasi terhadap temperatur ang sama saat istrinya berhitung. Dia menemukan bahwa reaksi besi adalah yang paling cocok dengan pola ini. Jadi dia menarik kesimpulan bahwa time sense istrinya diaturh oleh reaksi kimia dalam badan yang melibatkan besi.

Hmm… ini semua terlihat omong kosong bagi saya – ada begitu banyak hal yang bisa salah dalam rantai alasan yang dia buat. Tapi, ada sebuah pertanyaan yang sangat menarik: apakah yang menentukan time sense? Ketika kamu sedang mencoba berhitung pada laju rata-rata, terhadap apa laju ini bervariasi (dengan kata klain: laju ini tergantung besaran fisis apa) ? Dan apa yang bisa kamu lakukan untuk merubah ini?

Saya memutuskan untuk menyeledikinya. Saya mulai dengan berhitung per detik – tanpa melihat jam tentunya – sampai 60 dalam ritme yang lambat tapi stabil: 1, 2, 3 ,4 ,5 … Ketika mencapai 60, saya cek waktu ternyata 48 detik, tapi itu tidak menganggu saya: masalahnya bukan menghitung tepat 1 menit, tapi menghitung laju standard. Selanjutnya saya berhitung sampai 60, 49 detik berlalu. Selanjutnya 48, lalu 47, 48, 49, 48, 48, …. Jadi saya temukan saya dapat berhtiung dengan standar yang cukup bagus.

Sekarang, jika saya cuma duduk saja tanpa menghitung, dan menunggu sampai saya pikir sudah 1 menit berlalu, hasilnya sangat tidak pasti – variasi sangat komplet. Jadi saya temukan perkiraan dugaan menentukan 1 menit sangat payah. Tapi dengan berhitung, saya dapat lakukan sangat akurat.

Sekarang bahwa saya tahu saya dapat berhitung dengan lanju standard, pertanyaan selanjutnya adalah – apakah yang mempengaruhi laju tersebut?

Mungkin ini ada kaitannya dengan laju jantung berdetak. Jadi saya mulai berlari naik-turun tangga untuk membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Lalu saya masuk ke ruangan saya, membuang diri ke tempat tidur, dan mulai berhitung sampai 60.

Saya juga mencoba berlari naik-turun tangga dan menghitung ketika sedang berlari.

Orang-orang melihat saya berlari naik-turun, dan mereka tertawa. “Kamu lagi ngapain sih?

Saya tidak bisa jawab mereka – yang membuat saya sadar bahwa saya tidak bisa berbicara ketika saya berhitung dalam hati - dan tetap berlari naik-turun tangga, pokoknya terlihat seperti seorang idiot.

(Para mahasiwa graduate sudah terbiasa dengan saya yang terlihat idiot. Pernah, contohnya, seorang rekan datang ke ruangan saya – saya lupa mengunci pintu selama melakukan “eksperimen” – dan menemukan saya duduk dikursi memakai jaket domba tebal, mencondongkan badan keluar jendela yang terbuka ditengah musim dingin, memegang pot dan tangan lainnya mengaduk pot tersebut. “Jangan ganggu saya, jangan ganggu saya”, kata saya. Saya sedang mengaduk Jell-O dan mengamatinya secara cermat: saya lagi penasaran apakah Jell-O akan membeku dalam dingin jika kamu tetap menggerakkannya setiap waktu.)

Baiklah, setelah mencoba setiap kombinasi berlari naik-turun tangga dan berbaring di tempat tidur, hasilnya mengejutkan! Laju detak jantung tidak berpengaruh. Dan karena saya kepanasan setelah berlari naik-turun tungga, saya berpikir temperatur juga tidak ada hubungan dengan laju standar berhitung (walaupun saya harus sudah tahu bahwa temperatur tidak akan terlalu naik tinggi saat berolahraga). Kenyataannya, saya tidak mendapatkan apapun yang mempengaruhi laju berhitung saya.

Lari naik-turun tangga cukup membosankan, jadi saya mulai berhitung sementara saya mengeluarkan cucian, saya harus mengisi formulir menyebutkan berapa banyak baju yang saya punya, celana, dan selanjutnya. Saya dapati saya menjawab “3” di depan “celana”, atau “4” di depan “baju”, tapi saya tidak dapat menghitung kaos kaki. Mereka terlalu banyak: saya sudah dan sedang menggunakan mesin berhitung saya! – 36, 37, 38, - dan ini semua adalah kaos kaki di depan saya – 39, 40, 41,… Bagaimana saya menghitung mereka?

Saya dapati saya dapat mengatur mereka dalam pola geometric – seperti bujur sangkar, contohnya: sepasang kaos kaki di sudut ini, sepasang di sudut sana, sepasang di sini, dan sepasang di sana, 8 kaos kaki.

Saya lanjutkan permainan menghitung dengan pola ini, dan saya temukan saya dapat menghitung jumlah baris artikel dalam surat kabar dengan mengelompokkan baris-baris itu ke dalam pola 3, 3, 3, dan 1 untuk mendapatkan jumlah 10; lalu 3 dari pola itu, 3 dari pola satu lagi, 3 dari pola satu laginya lagi, dan 1 pola terakhir untuk membuat 100. Saya baca koran seperti itu. Setelah selesai menghitung sampai 60, saya tahu di mana saya berada berdasarkan pola yang saya buat dan dapat berkata, “Saya ada pada hitungan 60, dan ada 113 baris yang sudah saya lewati”. Saya temukan saya malah dapat membaca artikel sementara saya berhitung sampai 60, dan ini tidak mempengaruhi laju berhitung saya! Kenyataannya, saya dapat lakukan apa saja sementara berhitung dalam hati – kecuali selagi berbicara keras tentunya.

Bagaimana dengan menulis – menyalin kata-kata dari buku? Saya dapati bahwa saya dapat melakukannya juga, tapi disini waktu saa terpengaruh. Saya sangat gembira: akhirnya, saya sudah temukan sesuatu yang terlihat mempengaruhi laju hitungan saya! Saya menyelediki lebih lanjut.

Saya lanjutkan terus, mengetik kata-kata sederhana lebih cepat, berhitung dalam hati 19, 20, 21, terus mengetik, berhitung 27, 28, 29, terus mengetik, sampai –apaan nich kata yang saya ketik? – oh ya – dan lalu lanjut berhitung 30, 31, 32, dan seterusnya. Ketika saya sampai pada 60, saya telat (dari laju standar saya).

Setelah beberapa instropeksi dan pengamatan lebih jauh, saya menyadari apa yang sudah (musti) terjadi: saya menginterupsi hitungan saya ketika saya mengetik kata-kata susah yang “butuh sedikit otak” untuk mengatakannya. Laju berhitung saya tidak melambat; namun proses berhitung sendiri tertahan sementara dari waktu ke waktu. Berhitung sampai 60 pada akhirnya menjadi otomatis yang saya bahkan tidak menyadari interupsi yang terjadi pada pertama kalinya.

Pagi berikutnya, setelah sarapan pagi, saya laporkan hasil tersebut pada beberapa teman di meja makan. Saya katakan pada mereka semua hal yang bisa saya lakukan sementara berhitung dalam hati, dan satu-satunya yang saya gak bisa lakukan selagi berhitung dalam hati adalah berbicara.

Salah seorang dari mereka, bernama John Tukey, berkata, “Saya tidak percaya kamu bisa membaca, dan saya tidak melihat kenapa kamu tidak dapat bicara. Saya bertaruh kamu bisa bicara ketika berhitung dalam hati, dan saya bertaruh kamu tidak bisa membaca”.

Jadi saya berikan demonstrasi: mereka memberi saya buku dan saya membaca dan jua berhitung dalam hati. Ketika sudah mencapai 60, saya berkata, “Sekarang!” – 48 detik, waktu regular saya - waktu yang biasa saya butuhkan untuk mencapai hitungan ke-60. lalu saya katakana pada mereka apa yang sudah saya baca.

Tukey terpesona. Berikutnya giliran Tukey. Setelah mengecek beberapa kali laju standar berhitungnya, dia mulai bicara, “Mary had a little lamb; I can say anything I want to, it doesn’t make any difference; I don’t know what’s bothering you” – bla blab la bla, and finally, “Oke!” Dia mencapai waktu regularnya! Saya tidak bisa percaya!

Kami bicarakan mengenai hal tersebut, dan kami menemukan sesuatu menarik. Ternyata Tukey berhitung dengan cara yang lain: dia membayangkan sebuah tape (3) dengan angka-angka pada tape tersebut berjalan. Dia mengatakan, “Mary had a little lamb” dan dia melihat tape tersebut! Sekarang jelas, dia “melihat” pada tapenya yang terus berjalan, jadi dia tidak bisa membaca, dan saya “berbicara” dalam hati ketika berhitung, jadi saya tidak bisa bicara.

—-
(3) Saya rasa tape di sini adalah seperti gulungan pita film yang berputar pada rolnya dan kita bisa “berhitung” dengan melihat pita itu berputar dengan ritme tertentu.
—-

Setelah penemuan itu, saya mencoba memikirkan sebua cara untuk membaca keras sementara juga berhitung – sesuatu yang tidak bisa kami lakukan. Saya pikir saya harus memakai bagian dari otak saya yang tidak akan menganggu dengan department melihat atau berbicara, jadi saya putuskan memakai jari-jemari saya, karena hanya melibatkan sense of touch.

Saya sukses dengan cepat dalam berhitung dengan jari dan membaca dengan keras. Tapi saya inginkan semua proses berlangsung dalam batin saya, tidak melibatkan aktifitas secara fisik. Jadi saya coba membayangkan jari-jemari saya bergerak sementara saya membaca keras.

Saya tidak pernah berhasil. Saya pikir bahwa ini disebabkan bukan karena saya kurang berlatih, tapi ini mungkin sesuatu yang tidak mungkin: saya tidak akan pernah menemui orang yang dapat melakukannya.

Dari pengalaman Tukey dan saya menemukan bahwa: apa yang berlangsung pada kepala berlainan orang ketika mereka berpikir mereka sedang melakukan hal yang sama – sesuatu yang sesederhana berhitung – adalah berbeda pada setiap orang (4). Dan kami temukan bahwa kamu, secara eksternal dan objektif, dapat mengetes bagaimana otak bekerja: kamu tidak perlu bertanya pada orang bagaimana dia menghitung dan mempercayai pengamatannya sendiri; sebaliknya, kamu mengamati apa yang dia bisa dan tidak bisa lakukan ketika dia berhitung. Tes ini absolute. Tidak ada cara lain yang mengalahkannya, tidak ada cara untuk memalsukannya.

—-
(4) Dengan kata lain: si A dan si B sedang memikirkan hal yang sama, – misal: berhitung dalam hati – namun kenyataannya dalam pikiran A dan B terjadi proses yang bisa jadi bertolak belakang.
—-

Ini alamiah untuk menjelaskan sebuah ide dalam kerangka apa yang kamu sudah punya dalam pikiranmu. Konsep-konsep bertumpuk di atas konsep yang lain: ide ini diajarkan dalam keranga ide itu, dan ide itu diajarkan dalam kerangka ide yang lain, yang datang dari berhitung, dapat dapat begitu berbeda untuk setiap orang.

Saya sering berpikir tentang hal tersebut, terutama ketika saya sedang mengajarkan beberapa teknik esoterik (5) seperti Integral Fungsi Bessel (6). Ketika saya lihat persamaan itu, saya melihat tulisannya bewarna – saya gak tahu kenapa. Selagi berbicara, saya melihat samar-samar gambar dari Fungsi Bessel itu dari buku Jahnke dan Emde, dengan j coklat terang, n violet kebiru-biruan, dan x coklat gelap terbang sekeliling saya. Dan saya bertanya-tanya cem mana rupanya mahasiswa saya melihat hal yang sama?

—-
(5) Saya gak tau apakah ini bahasa Indonesia atau bukan. Kata aslinya esoteric yang artinya hal-hal yang Cuma diketahui beberapa orang saja.
(6) Fungsi Bessel adalah sebuah fungsi matematika yang sering dipakai fisikawan untuk memecahkan solusi fungsi gelombang dari persamaan Schrodinger untuk spherical coordinate, dimana j(x) dan n(x) adalah parameter untuk gelombang sinusoidal tersebut.


Feynman The Sexist Pig

Filed under Bedah Buku

(Artikel yang sama sudah dimuat di www.febdian.com)

“Feynman si penjahat gender” ini adalah terjemahan dari salah satu bab buku “What Do You Care What People Think” - RP Feynman.

Ceritanya singkat, padat, tapi kocak. Tentang bagaimana Feynman dituding oleh sekolompok organisasi wanita atas tuduhan rasialis gender.

Mudah2an ada manfaatnya.

Beberapa tahun setelah saya memberi kuliah untuk mahasiswa baru di Caltech (yang dipublikasikan sebagai the Feynman Lectures on Physics“), saya menerima sebuah surat yang panjang dari sebuah grup feminis. Saya dituduh anti-perempuan kadare dua hal: pertama adalah diskusi yang saya bawakan saat mengajar kecepatan, dan melibatkan seorang pengemudi wanita yang distop polisi. Diskusinya tentang sebepara cepat si wanita mengemudi, dan saya juga menceritakan keberatan wanita yang ditangkap tersebut tentang defenisi kecepatan yang diberikan polisi. Surat itu mengatakan saya membuat kaum perempuan terlihat bodoh.

Hal kedua mereka tujukan adalah ketika saya sedang menceritakan astronom terkenal Arthur Eddington, yang baru saja menghasilkan sebuah teori bahwa bintang-bintang mendapatkan tenaga dari pembakaran hidrogen dalam reaksi nuklir yang menghasilkan helium. Dia menceritakan bagaimana, pada malam setelah penemuan itu, dia sedang duduk di bangku bersama pacarnya. Pacarnya berujar, “Hey lihat betapa indahnya bintang-bintang itu bersinar!” yang lalu dijawab oleh Eddington “Ya, dan sekarang, saya adalah satu-satunya orang di dunia yang tau bagaimana mereka bersinar”. Dia sedang mendeskripsikan semacam kesepian yang menakjubkan ketika kamu baru saja menemukan sesuatu (dalam kata lain: itu adalah hal yang sering terjadi di kalangan saintis di saat-saat mereka berhasil menemukan sebuah jawaban atas misteri fisika).

Surat itu mengklain bahwa saya sedang mengatakan bahwa pacar Eddington itu tidak sanggup untuk mengerti reaksi nuklir.

Saya berpikir tidak ada satupun hal penting dalam menjawab tuduhan mereka secara detil, jadi saya menulis sebuah surat singkat kepada mereka: “Jangan ganggu saya!” (inggrisnya: Don’t bug me, man!”).

Tidak butuh untuk mengatakan, bahwa surat saya tidak begitu memperbaiki suasana. Surat berikutnya datang: “Respons anda terhadap surat kami Sep 29th tidaklah memuaskan…” - bla bla bla. Surat ini menperingatkan bahwa jita saya tidak mengontak pihak pencetak buku untuk memperbaiki hal-hal yang menjadi objek mereka, maka akan ada masalah.

Saya abaikan saja surat itu dan lalu lupa. (Feynman memang suka lupa hal-hal tertentu yang bagi dia tidak begitu penting).

Setahun kemudian, American Association of Physics Teachers memberikan penghargaan pada saya atas buku the Feynman Lectures on Physics, dan meminta saya untuk berbicara pada pertemuan mereka di San Fransisco. Adik saya, Joan, tinggal di Palo Alto - satu jam-an dari SF - jadi saya tinggal bersama dia semalam sebelumnya dan lalu kita ke pertemuan bersama-sama.

Ketika kita mendekati lecture hall, kita jumpai beberapa orang berdiri dan membagi-bagikan semacam selebaran pada orang yang lalu lalang. Kita lalu ambil satu dan melihatnya sekilas. Pada bagian atas tertulis “SEBUAH PROTES”. Lalu selebaran itu memperlihatkan beberapa kutipan dari surat yang mereka kirimkan ke saya dan respons saya secara lengkap (yang cuma 1 kalimat). Selebaran itu juga mencakup sebuah kalimat dengan tulisan besar: “FEYNMAN THE SEXIEST PIG”.

Joan tiba-tiba berhenti dan berbalik ke arah demonstaran seraya berujar: “Ini sangat menarik”, dia berkata pada para demonstran. “Saya ingin beberapa lagi”.

Ketika dia kembali dan kami berjalan lagi, dia berkata. “Oh Tuhan, Richard; apa yang sudah kamu lakukan?”.

Saya ceritakan padanya apa yang sudah terjadi selagi kita berjalan ke balai pertemuan.

Di depan balai, di dekat panggung, ada 2 tokoh wanita dari American Association of Physcs Teachers. Salah satunya bertanggung jawab pada urusan wanita untuk organisasi, dan yang satu lagi adalah Fay Ajzenberg, seorang profesor fisika yang saya tahu, dari Pennsylvania. Mereka melihat saya datang lalu turun menghampiri saya didampingi kami. Fay berjalan menghampiri Joan yang tangannya penuh dengan selebaran (yang Fay pikir adalah salah satu demonstran) dan berkata, “Apakah kamu sadar bahwa Profesor Feynman punya saudara perempuan yang dia dorong untuk mempelajari fisika, dan bahwa dia memiliki Ph.D. di fisika?”.

“Tentu saja saya tahu”, ujar Joan. “Saya adalah saudaranya itu!”.

Fay dan temannya menjelaskan kepada saya bahwa para demonstran adalah sebuah grup - yang ironisnya dipimpin oleh seorang laki-laki, dan selalu suka menganggu pertemuan-pertemuan di Barkeley. “Kita akan duduk disampingmu untuk memperlihatkan solidaritas kita, dan sebelum kamu bicara, saya akan berdiri dan mengucapkan sesuatu untuk mendiamkan para demonstran”, ujar Fay.

Sebab ada pembicara sebelum saya, saya ada waktu untuk berpikir sesuatu yang ingin saya ucapkan nanti. Saya berterimakasih pada Fay, tapi saya tolak tawarannya.

Segera giliran saya bicara datang, hampir setengah lusin demonstran berbaris dan berjalan ke arah panggung, menggenggam papan-papan protes tinggi-tinggi dan bernyanyi, “Feynman si penjahat gender! Feynman si penjahat gender!” beulang-ulang.

Saya memulai pidato saya dengan mengatakan kepada para demonstran, “Saya meminta maaf bahwa jawaban pendek saya untuk suat anda membawa anda semua kesini secara tidak efektif. Ada beberapa tempat serius yang bisa dipakai untuk menarik perhatian orang untuk memperbaiki status wanita dalam fisika daripada (yang anda lakukan sekarang) secara relatif adalah kesalahan sepele - jika anda ingin menyebutnya demikian - dalam buku teks. Tapi mungkin, secara keseluruhan, ini adalah hal yang bagus bahwa anda datang. Untuk kaum wanita sesungguhnya menderita dari prasangka dan diskriminasi dalam fisika, kehadiran anda hari ini di sini untuk mengingatkan kami pada permasalahan-permasalahan ini dan kebutuhan untuk mengobati mereka”.

Para demonstran saling pandang satu sama lain. Papan protes mulai turun secara berlahan, seperti pelannya perahu layar yang berlayar dalam angin tidak berhembus terlalu kuat.

Saya lanjutkan: “Walaupun American Association Physics Teachers sudah memberikan saya penghargaan untuk mengajar, saya harus akui saya tidak begitu tahu bagaimana mengajar. Oleh karena itu, saya tidak punya hal untuk dikatakan tentang mengajar. Tetapi sebaliknya, saya akan berbicara tentang sesuatu yang sangat diminati kaum wanita yang hadir di sini: saya akan membicarakan tentang struktur proton”.

Para demonstran meletakkan papan protesnya dan berjalan keluar. Tuan rumah mengatakan pada saya kemudian bahwa grup itu dan laki-laki yang memimpinnya tidaklah pernah dikalahkan sedemikian gampang.

(Akhirnya saya temukan draft pidato saya, dan apa yang saya ucapkan di awal tidaklah terlihat sedramatik yang saya ingat. Apa yang saya ingat ketika berpidato jauh lebih menakjubkan daripada apa yang barusan saya ceritakan!).

Setelah pidato saya, beberapa demonstran datang untuk menekan saya tentang cerita pengemudi wanita itu. “Kenapa itu harus wanita?” tanya mereka. “Kamu sedang mengatakan bahwa wanita adalah bukan pengemudi yang bagus”.

“Tapi wanita membuat polisi terlihat jelek”, ujar saya. “Kenapa kamu tidak peduli tentang polisi?”.

“Itu yang kamu harapkan dari polisi (bahwa mereka harus terlihat jelek)!” kata seorang demonstran. “Mereka semua adalah babi (maksudnya: suka membedakan gender)!”.

“Tapi kamu seharusnyalah peduli”, kata saya. “Saya lupa mengatakan dalam cerita itu, bahwa polisi tersebut adalah seorang wanita!”.


The Making of a Scientist (Part 3/3)

Filed under Bedah Buku

Maaf euy… peng-copy-paste-an bagian terakhir tertunda begitu lama, baik karena alasan teknis maupun non-teknis.

Mudah2an masih sabar menanti bacaan terakhir ini. Bagi yang sudah lupa bagian awalnya, silakan ditengok2 lagi di bagian “Bedah Buku”.

Kali ini adalah bagian terakhir dari chapter pertama buku “What Do You Care What People Think”, di mana Feynman di’ttraining’ menjadi saintis. Ada hal yang menarik untuk disimak, adalah ide Ayah Feynman tentang “bagaimana menghargai sesuatu”. Apakah pandangan Feynman Senior ini dipengaruhi pandangan kaum yahudi yang saat itu memang sedang menjadi kekuatan baru dunia? Ataukah benar sekedar pandangan human being yang humanis?

Selamat menikmati…

ada waktu itu sepupu saya, yang tiga tahun lebih tua, adalah murid SMU. Dia sedang mengalami kesulitan dengan aljabar, jadi seorang guru akan datang. Saya diijinkan untuk duduk di sudur ruangan sementara guru akan mencoba mengajari sepupusaya aljabar. Saya dengar dia sedang berbicara tentang x.

Saya berkata pada sepupu saya, “Apa yang sedang kamu coba lakukan?”.

“Saya sedang mencoba memikirkan apa x itu, seperti pada 2x + 7 = 15”.

Saya berkata, “Maksudmu 4”.

“Ya, tapi kamu melakukannya dengan aritmatika. Kamu harus lakukan dengan aljabar”.

Saya belajar aljabar, untugnya, tidak di sekolah, tapi menemukannya di catatan sekolah yang sudah tua milik tante saya di loteng, dan saya mengerti kesemua ide untuk mencari apa itu x – tidak masalah bagaimana kamu melakukannya. Bagi saya, tidak ada itu namanya melakukan “dengan aritmatika”, atau “dengan aljabar”. “Melakukan dengan aljabar” adalah seperangkat aturan di mana jika kamu ikuti dengan buta, dapat menghasilkan jawaban: “kurangi 7 dari kedua sisi; jika kamu punya faktor pengalu, bagila kedua sisi dengan faktor pengali itu”, dan selanutnya – langkah-langkah berurutan yang mana kamu dapat menjawab pertanyaan jika kamu tidak mengerti apa yang sedang kamu coba lakukan. Aturan sudah dibuat sedemikian rupa sehingga anak-anak yang harus mempelajari aljabar bisa lulus. Dan itu sebabny sepupu saya tidak pernah bisa melakukan aljabar.

Ada beberapa seri matematika di perpustakaan lokal kami di mana dimulai dengan Arithmetic for the Principle Man. Lalu keluar Algebra for the Practical Man, dan lalu Trigonometry for the Practical Man. (Saya belajar trigonometri dari sana, tapi saya segera lupa, karena saya tidak begitu mengerti). Ketika saya sekitar 13 tahun, perpustakaan akan segera mendapatkan Calculus for the Practica Man. Pada saat itu yang saya tahu, dari membaca ensiklopedia saya, kalkulus adalah sebuah subjek yang penting dan menarik, dan saya harus mempelajarinya.

Ketika pada akhirnya saya melihat buku itu ada di perpusataan, saya sangat gembira. Saya pergi ke perpustakaan untuk meminjamnya, tapi penjaga perpustakaan melihat memperhatikan saya dan berkata, “Kamu masih kecil. Untuk apa kamu pinjam buku ini?”.

Ini adalah satu dari beberapa kali dalam hidup saya, saya merasa tidak nyaman dan saya berbohong. Saya katakan buku ini untuk ayah saya.

Saya bawa buku itu ke rumah dan mulai belajar kalkulus. Saya pikir buku itu cukup sederhana dan langsung pada tujuan. Ayah saya mulai membacanya juga, tapi dia merasa buku itu membingungkan dan dia tidak mengerti. Jadi saya coba untuk menjelaskan padanya. Saya tidak tahu dia sangat terbatas, dan itu sangat mengganggu saya sedikit. Itu adalah saat pertama kali saya menyadari bahwa saya sudah mempelajadi lebih banyak pada beberapa hal daripada dia.

Satu dari banyak hal yang ayah saya ajarkan di samping fisika – apakah itu benar atau tidak – adalah ketiadaan respek pada hal-hal tertentu. Sebagai contoh, ketika saya masih kecil, dan dia memangku saya di atas lututnya, dia memperlihatkan saya New York Times – sebuah foto yang baru keluar di surat kabar.

Suatu waktu, kita sedang melihat foto Paus dan orang-orang membungkuk di depannya. Ayah saya berkata, “Sekarang coba perhatikan manusia-manusia itu. Ini ada satu manusia berdiri di sini, dan sisanya membungkuk di depan dia. Kenapa ada perbedaan? Yang ini adalah Paus” – ngomong-ngomong dia benci Paus. Dia berkata “Perbedaannya adalah topi yang dia pakai”. (Secara umum, itu karena pangkat. Itu selalu berhubungan dengan pakaian, seragam, posisi). “Tapi”, lanjutnya, “Orang ini memiliki masalah yang sama dengan yang lain: kalau dia makan, dia harus ke kamar mandi. Dia adalah manusia biasa”. (Ngomong-ngomong, ayah saya bekerja untuk perusahaan yang menganut sistem “seragam” itu tadi, jadi dia tahu betul apa perbedaan seseorang yang sedang berseragam dan tidak berseragam – mereka adalah manusia yang sama baginya).

Saya percaya dia begitu gembira dengan saya. Sekali, ketika saya baru datang dari MIT (saya sudah di sana untuk beberapa tahu), dia berkata pada saya, “Sekarang kamu sudah menjadi terpelajar tentang hal-hal itu (sains), saya punya ada satu pertanyaan yang tidak pernah saya mengerti dengan baik”.

Saya tanya dia, apa itu.

Dia berkata, “Saya mengerti bahwa ketika sebuah atom membuat transisi dari satu state ke state yang lain, dia akan memancarkan partikel cahaya yang disebut photon”.

“Itu benar”, kata saya.

Dia berkata, “Apakah photon dan atom itu ada pada saat yang bersamaan?”.

“Tidak, tidak ada photon sebelum itu”.

“Hmm, jadi…” katanya, “Dari mana photon itu datang? Bagaimana dia keluar?”.

Saya mencoba menjelaskannya – bahwa jumlah photon tidaklah kekal (seperti energi yang kekal; mereka cuma diciptakan oleh pergerakan elektron – tapi saya tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Saya berkata, “Ini seperti suara yang saya buat sekarang; suara itu tidak ada sebelumnya”. (Tidak seperti anak laki-laki saya, yang tiba-tiba mengumumkan bahwa dia tidak bisa lagi mengeluarkan beberapa kata – kata itu akhirnya diketahui adalah “kucing” – sebab ‘kantong kata’nya sudah kehabisan kata itu. Tidak ada ‘kantong kata’ yang membuat kamu memakai kata-kata yang keluar dari sana; dalam hal yang sama, tidak ada ‘kantong photon’ pada atom).

Dia tidak begitu puas dengan saya pada masalah itu. Saya tidak pernah dapat menjelaskan sesuatu yang dia tidak mengerti dengan baik. Jadi dia tidak sukses: dia mengirim saya ke beberapa universitas dalam rangka untuk menemukan jawaban hal-hal sains, dan dia tidak pernah mendapatkan jawaban itu.

Walaupun ibu saya tidak tahu apa-apa tentang sains, dia memberi pengaruh yang luar biasa pada saya. Secara khusus, dia memiliki rasa humor yang bagus, dan saya belajar dari dia bahwa bentuk tertinggi dari pengertian yang bisa kita raih adalah tertawa dan saling mengasihi sesama manusia.


Sam Po Kong

Filed under Bedah Buku

Posting lagi ah… kebetulan sedang banyak cerita menarik.

Saya ingat pernah ngobrol dengan Iman Santoso sambil naik
sepeda di belakang Paddepoel Winkelcentrum. Pembicaraan kami tentang
spekulasi bahwa sebenarnya orang pertama yang mendarat di Amerika
Serikat bukan Colombus. Saya sendiri pernah membaca buku sejarah
Amerika dari VOA bahwa orang
pertama yang mendarat di benua Amerika (daerah Selatan) adalah
Amerigo Vesspuci.

Iman menjelaskan bahwa pada saat Columbus mendarat di Amerika diduga sudah ada kaum muslimin di sana karena salah satu fakta yang ditemukan di sana adalah
dikenakannya busana muslim oleh sebagian penduduk pribumi di situ.
Sayang rujukan resmi tentang hal tersebut lupa disebutkan.

Entah terkait dengan penjelasan Iman di atas, pada bulan Februari
lalu diluncurkan href="http://koebiz.crimsonblog.com/archives20040201.html#68937">buku
Sam Po Kong oleh penerbit Gramedia yang berisi sejarah armada Ceng Ho
mendatangi Nusantara, menemui Raja Majapahit Wikramawardhana. Pada
penjelasan lain tentang Ceng Ho, mantan komandan kapal selam
Angkatan Laut Kerajaan Bersatu (UK), Gavin Menzies, menyebut dengan
yakin bahwa Ceng Ho yang sesungguhnya tiba lebih dulu di Amerika, terpaut 70
tahun. Armada Cina sendiri waktu itu jauh lebih megah dibanding
kapal-kapal kecil yang dibawa Columbus.

Hebatnya lagi, berbeda dengan tipikal pelaut Barat yang digambarkan
berangasan di tengah laut, Ceng Ho adalah pelaut muslim yang taat,
saleh, dan teguh. Misi Ceng Ho sendiri datang ke Nusantara salah
satunya adalah untuk mendekati penduduk pribumi yang sudah mulai
memeluk agama Islam.


The Making of a Scientist (Part 2/3)

Filed under Bedah Buku

Berikut ini adalah bagian ke-dua dari saduran The Making of a Scientist. Mudah2an ada memberi guna dan manfaat.

Sedikit komentar: Saya baru ‘ngeh’ setelah baca komentar Bang Ferry kenapa Feynman gak pernah mau membahas tentang cosmology. Make sense sih sekarang hehe. Tapi mengenai jurnal, beliau ini banyak lho publikasinya (dibidang teoritis). Saya ada yang “The Theory of Postrons”, “Space-Time Approcah to QED”, “Matematical Formulation of the QED Interaction”. Dan yang gak saya punya pasti lebih banyak. (Jurnalnya banyak tentang partikel, interaksi partikel, dan QED itu sendiri).

Adiknya, Joan Feynman adalah Ph.D. dibidang astronomi dan menjadi salah satu staff ahli NASA.

Wassalam

….

Senin berikutnya, ketika para ayah kembali bekerja, kita para anak-anak bermain di lapangan. Seorang anak berkata pada saya “Lihat burung itu? Jenis burung apa itu?”.

Saya jawab “Saya tidak punya ide sedikitpun apa jenis burung itu”.

Dia berkata “Itu adalah murai berparuh coklat. Ayahmu tak mengajarkanmu apa-apa!”.

Tapi sebaliknya, ayah saya sudah pernah mengajarkan saya: “Lihat burung itu”, katanya. “tu adalah Spencer si pengicau” (saya tahu dia tidak tahu nama aslinya). “Dalam bahasa Itali dia disebut Chutto Lapittida, dalam Portugis disebut Bom Peida, dalam Cina disebut Chun-long-tah, dalam Jepang Katano Tekeda. Kamu bisa tahu nama dari burung itu dalam semua bahasa di dunia ini, tapi kamu tidak tahu apa-apa tentang burung itu. Kamu akan hanya tahu tentang manusia di tempat berbeda, dan nama apa yang mereka berikan pada burung itu. Ayo kita perhatikan burung itu dan lihat apa yang dia sedang lakukan – itulah cara yang benar”. (saya belajar sangat diri perbedaan antara mengetahui nama sesuatu dan mengetahui sesuatu).

Dia berkata, “Sebagai contoh, lihat: burung itu mematuk bulunya setiap waku. Lihat dia berjalan, mematuki bulunya?”.

“Ya”

Dia berkata, “Kamu pikir kenapa burung-burung mematuk bulu-bulunya?”.

Saya berkata, “Mungkin bulu-bulunya kusut saat terbang, jadi mereka mematukinya untuk meluruskannya kembali”.

“Baiklah,” katanya. “Jika itu kasusnya, lalu mereka akan sering mematuki selagi mereka terbang. Lalu setelah di tanah mereka tidak akan mematukinya terlalu banyak – kamu tahu apa yang saya maksudkan?”.

“Ya”

Dia berkata, “Mari kita perhatikan dan lihat jika mereka mematuki banyak setelah sampai di tanah”.

Ini tidak susah untuk dikatakan: tidak begitu banyak perbedaan antara burung yang baru saja mendarat dan yang sudah berjalan-jalan di tanah. Jadi saya berkata “Saya menyerah. Kenapa burung mematuki bulunya?”.

“Sebab ada kutu menganggunya”, katanya. “Kutu-kutu itu memakan lapisan protein yang keluar dari bulu burung”.

Dia lanjutkan, “Setiap kutu memiliki cairan minyak dikaki-kakinya, dan tungau memakan cairan itu. Tungau itu tidak mencernanya dengan sempurna, jadi mereka mengeluarkan dari anusnya sesuatu seperti gula, di mana bakteria berkembang”.

Akhirnya dia berkata, “Jadi kamu lihat, di mana saja ada sumber makanan, ada beberapa bentuk kehidupan yang bisa ditemui”.

Sekarang, saya tahu bahwa itu bisa saja bukan kutu, itu bisa jadi tidak tepat benar bahwa kaki kutu dihinggapi tungau. Cerita itu mungkin saja tidak benar secara detil, tapi apa yang diceritakannya adalah benar secara prinsip.

Lain waktu, ketika saya sedikit besar, dia ambil selembar daun yang gugur dari pohon. Daun ini memiliki cacat, sesuatu yang tidak kita lihat terlalu sering. Daun tersebut bisa dikatakan buruk; ada garis coklat kecil di potongan berbentuk C, mulai dari pertengahan daun dan mengkriting sampai ke ujung.

“Lihat pada garis coklat ini”, dia berkata. “Sempit pada pangkalnya dan melebar pada ujungnya. Apa ini? Ini adalah lalat, lalat biru dengan mata kuning dan sayap hijau datang dan bertelur di atas daun ini. Lalu, ketika telurnya menetaskan belatung, belatung ini menghabiskan seluruh waktunya memakan daun ini – tempat yang bagus baginya mendapatkan makanan. Selama dia makan, belatung itu meninggalkan bekas pada daun yang sudah dimakan di belakangnya. Sementara belatung membesar, jejak itu bertambah besar sampai dia sudah menjadi besar saat dia ada di ujung daun, dimana dia sudah berubah menjadi lalat - lalat biru dengan mata kuning dan sayap hijau – yang terbang jauh dan lalu betelur di daun lain”.

Lagi, saya tahu bahwa detilnya tidaklah terlalu benar – itu bisa saja adalah kumbang – tapi ide bahwa dia mencoba menjelaskan kepada saya sebuah lelucon dari bagian kehidupan: segala sesuatunya hanyalah pengulangan. Tidak peduli bagaimana rumitnya, intinya tetap melakukan lagi dan lagi!

Tidak punya pengalaman dengan ayah yang lain, saya tidak menyadari betapa luar biasa sekali dia. Bagaimana dia mempelajari prinsip dari sains dan mencintainya, ada apa di balik itu, dan kenapa sains bekerja sangat bermanfaat? Saya tida pernah benar-benar bertanya padanya,sebab saya hanya mengasumsikan bahwa semua itu hanya para ayah yang tahu.

Ayah saya mengajarkan saya untuk memperhatikan sesuatu dengan seksama. Satu hari, saya sedang bermain dengan “truk cepat”, sebuah mobil-mobian dengan lintasan khusus di sekelilingnya. Di atas truk tersebut ditaruh bola, dan ketika saya tarik truk itu, saya memperhatikan sesuatu tentang bagaimana bola itu bergerak. Saya datangi ayah saya dan berkata “Ayah, saya memperhatikan sesuatu. Kalau saya tarik truk ini, bola berguling ke belakang. Dan kalau saya tarik hati-hati lalu menghentikannya mendadak, bola ini berguling ke depan. Kenapa begitu?”.

“Itu, tidak seorang pun yang tahu”, dia berkata. “Prinsip umumnya adalah bahwa segala sesuatu yang sedang bergerak cendung mempertahankan geraknya, dan segala sesuatu yang diam cendrung mempertahankan diamnya, kecuali kamu paksa mereka dengan keras. Ini yang diseut ‘inersia’, tapi tk seorang pun tahu kenapa begitu”. Sekarang, barulah ini sebuah pemahaman yang dalam. Dia tidak hanya memberikan saya penamaan dari sebuah fenomena.

Dia melanjutkan, “Jika kamu melihat dari samping, kamu akan melihat bahwa ketika kamu mendorong maju truk, si bola tetap di tempat. Walau sebenarnya kalau truk digerakkan dengan hati, karena ada friksi antara truk dengan bola, bola bisa bergerak sesuai laju truk”.

Saya berlari ke truk mainan saya dan menyusun bola dan truk lalu kemudian mendorongnya. Pengamatan dari samping, saya melihat bahwa sesungguhnya ayah saya benar. Relatif terhadap arah gerak, bola bergerak sedikit ke depan.

Begitulah saya dididik oleh ayah saya, dengan contoh-contoh dan diskusi: tidak ada tekanan – hanya diskusi yang cantik dan menarik. Hal ini sudah memotivasi seluruh sisa hidup saya, dan membuat saya tertarik pada semua jenis sains. (Ini hanya kebetulan saya bisa lebih baik di Fisika).

Saya sudah menangkap sesuatu, seperti seseorang yang diberikan sesuatu yang indah saat dia kecil, dan dia selalu mencarinya lagi. Saya selalu mencari, seperti seorang anak, sesuatu yang menakjubkan yang saya tahu saya akan meneukannya – mungkin tidak setiap waktu, tapi setiap sekali saat.

(Sebagai tambahan, berikut foto Joan Feynman).

joan feynman.jpg

(Bersambung)


The Making of a Scientist (part 1/3)

Filed under Bedah Buku

Assalamualaikum,

Halow halow…. rekan2 yang berbahagia. Alhamdulillah ujian sudah lewat, jadi saya ada waktu lagi hehe.

Siapa sih yang kenal Feynman? Mungkin banyak yang tahu hehe.. sukur dech. Kali ini saya mau mengutip artikel saduran saya dari www.febdian.com tentang beberapa petualangan beliau.

FYI, ini adalah salah satu eBook project saya, “Feynman, the adenture of curious character” - disamping “The Lord of the Rings: Beginner Point-Of-View”, yang dikerjakan dengan santai sebagai hobi. Jadi akan butuh waktu sampai benar2 selesai hehe. Mohon maaf kalau bahasa translasi saya tidak begitu bagus….

Di web asli (febdian.com), tulisan ini saya penggal menjadi 6 halaman. Di sini saya coba membuatnya 3 babak saja. Capek lho bacanya kalau kebanyakan. Mudah2an ada manfaatnya tulisan ini, terutama chapter The Making of Scientst, siapa tau memberi ilham pada rekan-rekan yang sudah punya buah hati :-)

Dan terakhir, ijinkan pula saya ngasih tau, bagi yang pingin denger kutipan suara Feynman ketika sedang memberikan kuliah, silakan download di: http://www.febdian.com/download.php?view.86

(di folder yang sama rekan-rekan bisa download juga ceramah Soekarno dalam Isra’ Miraj di Istiqal sekitar th 60-an).

Selamat menikmati….

Pengantar
(Oleh Febdian Rusydi)

Richard P. Feynman adalah salah satu makhluk super yang saya yakini sengaja diutus Allah ke dunia ini untuk memecahkan banyak misteri tentang kehidupan fisik kita.

Feynman sudah menjadi legenda semenjak awal 60-an (sebelum dia dapat nobel) karena publikasi2nya di bidang fisika teoritis - yang sedikit berbeda dari yang lain: gampang dimengerti. Diagram Feynman yang menjalaskan interaksi antar partikel adalah salah satu karya agungnya, mempersingkat perhitungan konvensional 3 sampai 4 lembar kertas A4 menjadi hanya 1/4 lembar.

Selain itu, kelegendaannya adalah dalam membuat fisika ‘gampang’ dimengerti. Kejadian yang tidak akan pernah dilupakan para kaum akademis di dunia adalah ketika dia menyanggupi memberikan kuliah fisika dasar selama 2 th untuk freshman di Califonia Institute of Technology. Dia tidak hanyak menyulap hampir semua mahasiswa yang hadir saat itu menjadi saintis handal, tapi juga materi kuliahnya yang betul2 berbeda dengan diktat fisika konvensional. Materi kuliahnya itu kemudian dibukukan dalam 3 seri “the Feynman Lecture On Physics” yang kemudian menjadi “holy book”nya para praktisi saintis sampai sekarang.

Kerja jeniusnya dalam Quantum Electrodynamics mengantarkannya pada Nobel Prize pada 1965 bersama Julian Schwinger dan Sin-itiro Tomonaga. Faktanya, QED adalah “matter and light theory” terbaik yang kita punyai sampai saat ini. (Lain kali kita akan coba bahas ini ya :-) )

Pengembaraan jeniusnya tidak hanya sampai di sana. Manusia yang digambarkan oleh Ralph Leighton (teman sesama drummer dan juga penulis buku “Surely You are joking Mr. Feynman”) sebagai “Karakter yang haus teka-teki” sudah mengalami banyak petualangan sosial yang mungkin tidak dimiliki oleh saintis lainnya. Mulai dari penakuklan penjudi kelas berat di Las Vegas, menjadi penabuh gendang pada festival rakyat di Brasil, sampai pada perjalanannya pada dunia mimpi. Dan tentu saja, semua itu dia lakukan bersama: Fisika.

Petualangan terakhirnya adalah ketika memecahkan teka-teki meledaknya pesawat Challenger tahun 1986. Dalam bukunya “What Do You Care What People Think” yang akan kita bicarakan di bawah ini, terlihat bagaimana dia harus berjuang melawan dua hal: misteri itu sendiri, dan birokrasi pemerintah.

Satu tahun setelah publikasi jawaban teka-teki tersebut, tepatnya 15 Feb 1988, Feynman meninggal akibat kanker usus.

Artikel saduran saya ini, adalah dalam rangka mengenang 16 tahun meninggalnya Richard P. Feynman.

———–

Bagaimana Orang Tua Saya Membuat Saya Menjadi Ilmuwan
*taken from Richard P. Feynman “What Do You Care What Other People Think?”

feynman04.jpg

Saya punya seorang teman, dia adalah seorang seniman, dan kadangkala memiliki pandangan yang saya tidak setuju. Dia pegang setangkai bunga dan berkata “Lihat, betapa indahnya bunga ini”, dan saya setuju. Tapi kemudian dia akan berkata “Saya, sebagai seorang seniman, dapat melihat betapa indahnya setangkai bunga. Tapi kamu, sebagai seorang ilmuwan, menjadikannya terpisah-pisah dan itu membuatnya garing”. Saya pikir dia ini gila.

Pertama dan utama sekali, keindahan yang dia lihat adalah bisa dilihat oleh semua orang – dan saya juga, saya percaya itu. Walaupun saya mungkin tidak bisa merasakan bagusnya secara estetika seperti yang dia rasakan, saya dapat menghargai keindahan setangkai bunga itu. Tapi, di sisi lain, saya melihat lebih banyak hal pada bunga daripada dia. Saya dapat membayangkan sel-sel di dalam bunga, dimana juga memiliki keindahan tersendiri. Ada keindahan yang tidak hanya pada dimensi sentimeter; tapi keindahan itu juga ada pada skala yang lebih kecil.

Terdapat banyak aksi-aksi yang komplit di dalam sel tersebut, dan proses-proses lainnya. Fakta bahwa warna-wana dalam bunga sudah berkembang dalam rangka menarik serangga untuk datang dan membantu penyerbukan adalah sangat menarik; yang artinya serangga juga melihat warna-warna pada bunga tersebut. Ini menambah pertanyaan: apakah rasa estetika yang kita punya juga ada pada kehidupan bentuk rendah (dimensi skala yang kecil)? Ada beberapa jenis pertanyaan menarik lainnya yang datang dari ilmu pengetahuan, yang hanya menambah keasikan dan misteri serta kekaguman pada setangkai bunga tadi. Itu hanya menambahkan keindahan. Saya tidak mengerti bagaimana menguranginya.

Saya selalu sangat satu-sisi tentang sains, dan ketika saya sangat muda saya berkonsentrasi hampir pada semua usaha saya untuk sains. Pada masa itu, saya tidak punya waktu yang cuku, dan tidak terlalu sabar untuk mempelajari apa yang disebut humaniti. Sekalipun ada kuliah humaniti di universitas yang kau harus ambil untuk graduate, saya mencoba sebisa mungkin menghindarinya. Hanya setelah itu, ketika saya bertambah usia dan lebih santai, saya sudah sedikit banyak mempelajari hal-hal lain. Saya belajar menggambar dan membaca sedikit, tapi saua benar-benar seorang yang sangat satu-sisi dan saya tidak tahu bagaimana sebaiknya. Saya memiliki keterbatasan kecerdasan dan saya gunakan itu pada satu hal yang khusus (sains).

Sebelum saya lahir, ayah saya berkata pada ibu saya “jika dia anak laki-laki, dia akan menjadi seorang ilmuwan” *. Ketika saya balita dan duduk di kursi khusus balita, ayah saya membawa ubin-ubin kecil (untuk lantai kamar mandi) dengan berbagai macam warna. Kita bermain dengan ubin-ubin tersebut, ayah saya menyusunnya berbarik ke atas di atas kursi saya seperti layaknya domino, dan saya akan mendorongnya satu sehingga yang lain akan jatuh.

Lalu setelah beberapa lama, saya tolong dia menyusun ubin-ubin tersebut. Dalam waktu yang sebentar kita sudah menyusunnya dalam beberapa cara yang rumit: 2 ubin putih dan satu ubin biru, dua ubin putih dan satu ubin biru, dan seterusnya. Kalau ibu saya berkata “biarkan saja si kecil sendiri. Jika dia ingin meletakkan yang biru, biarkan dia meletakkan yang biru”

*Adik perempuan Richard, Joan, adalah Doktor di bidang Fisika, meskipun prasangka ini hanya anak laki-laki ditakdirkan menjadi ilmuwan.

Tapi ayah saya akan berkata “Tidak, saya ingin menunjukkan padanya seperti apa pola (penyusunan ubin-ubin itu) dan betapa menariknya mereka. Ini adalah sejenis matematika dasar”. Jadi dia memulai sangat dini untuk mengatakan pada saya tentang dunia dan betapa menariknya dunia itu.

Kami memiliki sebuah Encyclopaedia Britannica di rumah. Ketika saya kecil ayah saya memangku saya dan membacakan ensiklopedi tersebut. Kita kemudian akan membaca, katakanlah tentang Tyrannosaurus rex, dan dia akan berkata seperti “Dinasourus ini tingginya 25 kaki kepalanya berdiagonal 6 kaki”.

Ayah saya kemudian akan berhenti membaca dan bekata, “Sekarang mari kita lihat apa maksudnya. Maksudnya adalah jika dia berdiri di halaman depan kita, dia akan cukup tinggi untuk meletakkan kepalanya melewati jendela kita di sini” (kita ada di lantai dua). “Tapi kepalanya terlalu besar untuk masuk ke jendela ini”. Setiap sesuatu yang dia bacakan untuk saya selalu dia coa untuk menterjemahkan sebaik mungkin ke dalam realitas.

Ini sangat mengasikan dan sangat sangat menarik berpikir bahwa ada Karena itu binatang yang begitu besar - dan mereka sudah punah, dan tidak ada yang tahu persis kenapa. saya tidak takut bahwa mereka benar-benar datang ke jendela saya. Tapi saya belajar dari ayah saya untuk menterjemahkan: semua yang saya baca saya coba untuk memikirkan apa yang dimaksudkan, apa yang benar-benar disebutkan bacaan tersebut.

Kita biasanya perki ke Catskill Mountains, sebuah tempat dimana orang-orang dari NYC akan pergi untuk musim panas. Bapak-bapak akan kembali ke NYC untuk bekerja selama seminggu, dan kembali hanya untuk akhir minggu. Pada akhir minggu, ayah saya akan membawa saya untuk jalan-jalan di hutan kecil dan dia akan menceritakan tentang hal-hal menarik apa saja yang terjadi di hutan. Ketika ibu-ibu yang lain melihat ini, mereka berpikir ini adalah yang indah dan bahwa ayah-ayah yang lain seharusnya membawa anak-anak mereka untuk jalan-jalan seperti yang kami lakukan. Mereka mencoba melakukan itu tapi mereka tidak berhasil pertamanya. Mereka menginginkan ayah saya untuk melakukan itu, tapi tentu saja dia tidak ingin karena dia hanya punya hubungan spesial dengan saya. Jadi ini berakhir dengan ayah-ayah yang lain harus membawa anak-anak mereka jalan-jalan minggu depannya.

Senin berikutnya, ketika para ayah kembali bekerja, kita para anak-anak bermain di lapangan. Seorang anak berkata pada saya “Lihat burung itu? Jenis burung apa itu?”.

Saya jawab “Saya tidak punya ide sedikitpun apa jenis burung itu”.

Dia berkata “Itu adalah murai berparuh coklat. Ayahmu tak mengajarkanmu apa-apa!”.

(BERSAMBUNG)