Archives for “Diskusi”

Teman-teman,

Telah terkumpul uang sejumlah 500 euro di rekening Galiro (atas nama Fean). Terima kasih sebelumnya atas bantuan, perhatian dan kepercayaan yang diberikan oleh teman-teman sekalian.

Uang tersebut telah dikirimkan ke Yayasan Groningen-Jabalaya [1] pada hari ini, hari minggu sekitar pukul 19.45 . Adapun uang ini nantinya akan disalurkan melalui yayasan Palestinian Medical Relief Society [2]. Yayasan PMRS ini mempunyai kantor pusat di Ramalah yang nantinya akan menyalurkan bantuan dalam bentuk obat-obatan kepada para korban (anak-anak, wanita, orang tua dan lainnya). Point penting yang patut menjadi perhatian kita adalah bahwa saat ini tidak mudah untuk selalu menyalurkan obat-obatan kepada para korban karena para tentara Israel tidak selalu memberikan izin dalam hal ini. Ini yang diberitahukan kepada saya oleh bendahara yayasan Groningen-Jabalaya.

Mari kita berharap bahwa uang yang kita kumpulkan ini bisa tersalurkan dengan baik dan juga dapat membantu meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina yang menjadi korban peperangan. Sekadar info saja, bahkan sebelum serangan ke Gaza ini terjadi, masyarakat Gaza telah hidup secara sangat menyedihkan di kampung-kampung pengungsian akibat peng-isolasian dan dinding dan blokade yang dibangun oleh Israel. Mereka tidak bisa keluar dari dinding tersebut karena pintu-pintu keluar-masuk dijaga ketat oleh tentara Israel. Masukan supply makanan, minuman, air, listrik dan fasilitas-fasilitas lainnya sangat tidak memadai. Jika diibaratkan, kondisi di Gaza sama dengan satu penjara besar yang penuh sesak dengan 1,5 juta orang penduduk. Di artikel-artikel belanda selalu dibandingkan luas wilayah Gaza dengan pulau Texel di bagian utara Belanda. Sebelum serangan ini dimulai hidup di penjara tersebut saja sudah seperti hidup di neraka. Kota Jabalaya ini
termasuk kota yang terkena impact paling parah di Gaza akibat serangan yang dilakukan oleh Israel.

Di pertemuan yang saya hadiri hari minggu ini pada pukul 14.30 sampai dengan 19.00 terjadi penyampaian informasi kepada masyarakat Groningen mengenai apa yang terjadi di Gaza, background informasi mengapa ini terjadi dan diskusi juga mengulas pertanyaan bagaimana selanjutnya setelah penghancuran ini? Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu rakyat Palestina (selain penyebaran informasi dan penyaluran dana)? Saya akan membuat rangkuman singkat mengenai apa saja yang dibicarakan di pertemuan tersebut. Yang saya bisa simpulkan secara singkat adalah saya senang melihat banyaknya perhatian dari orang-orang Belanda asli mengenai konflik yang terjadi di Palestina ini. Malah orang-orang dari luar Belanda hanya sedikit (saya tidak tahu ini positif atau negatif). Mungkin ini karena keterbatasan bahasa, saya bisa maklumi. Yang hadir di pertemuan ini kebanyakan orang-orang tua dan dewasa. Orang-orang muda ada tapi tidak banyak. Ada bermacam-macam kelompok di
pertemuan itu:
-perwakilan dari perkumpulan orang-orang Palestina di Groningen, -perwakilan dari Yayasan Groningen-Jabalaya,
-perwakilan dari Een Ander Joods Geluid (suara lain orang Yahudi)
-perwakilan dari beberapa partai politik kiri (SP, GroenLinks, PvDA)
-orang-orang dari Rotterdam
-orang-orang dari Utrecht
-orang Islam, Kristen, Yahudi, Atheis dll.
-wanita, laki-laki, orang tua, muda, anak-anak

Semua orang dipersilahkan untuk berbicara. Banyak emosi yang terlibat dalam diskusi ini namun diskusi tetap berjalan dengan lancar. Pembacaan puisi. Penunjukan gambar di Gaza. Pengecaman akan serangan yang dilakukan di Israel. Solidaritas akan penderitaan rakyat Palestina. Pelanggaran- pelanggaran akan hukum internasional dan konvensi Geneva oleh Israel. Import senjata dari amerika ke Israel dan posisi yang diambil oleh Belanda dalam hal ini. Ada banyak macam bantuan terhadap rakyat Palestina dari International Community, NGO’s dan badan PBB.

Rankuman pertemuan tersebut akan menyusul.

Berikut saya jabarkan secara singkat informasi mengenai dua yayasan yang saya sebut di atas:

Yayasan Groningen-Jabalaya
Yayasan Groningen-Jabalaya ini mempunyai tujuan untuk memperluas dukungan akan tercapainya multicultural society di Groningen. Mereka melakukan ini dengan cara membangun hubungan kerjasama dan pertemanan antara kota Groningen dengan Jabalaya (kota kecil di bagian utara Gaza). Selain itu yayasan ini juga mempunyai tujuan memperjuangkan adanya pemahaman antara masyarakat Groningen dengan masyarakat Jabalaya.

Beberapa aktivitas yang dilakukan oleh yayasan Groningen-Jabalaya ini adalah melalui penyebaran informasi (melalui diskusi seperti siang hari ini), meminta perhatian politik dan juga publik melalui media lokal akan kesulitan-kesulitan yang diderita oleh rakyat Palestina di kota Jabalaya. Telah dipublish di Newsblad van Het Noorden di tahun 2001 serial artikel-artikel dimana para pemuda Gaza menceritakan apa arti intifada di kehidupan sehari-hari mereka di Gaza. Selain itu beberapa simposium dan seminar juga diorganisasikan oleh yayasan ini dengan mendatangkan para ahli di bidang middle-east, seperti Anja Meulenbelt (telah saya terangkan di email saya sebelumnya) dan atau Greta Duisenberg dll. Selain itu yayasan ini juga mendirikan semacam center of young people di Jabalya sehingga para pemuda disana bisa beraktifitas secara positif seperti belajar, berdiskusi, berkegiatan dan berolahraga.

Setelah diskusi hari minggu ini selesai pada pukul 17.00, saya melanjutkan diskusi dengan beberapa pengurus yayasan Groningen-Jabalya ini di cafe kecil sambil minum coca-cola. Saya mengundang mereka untuk memberikan presentasi di pertemuan bulanan deGromiest tentang apa itu yayasan Groningen-Jabalya ini, apa yang mereka lakukan selama ini dan bagaimana perkembangan organisasi ini di masyarakat Groningen. Mereka menyambut baik inisiatif ini dan mereka bersedia datang. Insya Allah pertemuan tersebut (setelah didiskusikan dengan ketua deGromiest) akan dilaksanakan di kediaman saya akhir bulan februari. Saya sudah wanti-wanti bahwa presentasinya dilaksanakan dalam bahasa inggris. Bagi yang tertarik silakan masukan dalam agendanya masing-masing pertemuan ini di akhir bulan februari hari sabtu, tanggalnya kira-kira tanggal 21 atau 28 februari.

[1] http://www.groninge n-jabalya. com
[2] http://www.pmrs. ps/last/index. php

Salam hangat,
Teguh


Nabi Musa a.s. dan Bani Israel

Nabi Musa a.s. dan Bani Israel

Pengantar

Tak jarang kita khawatir dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Seperti apakah bulan depan bakal diterima sekolah, apakah akan dapat kerja, apakah jodoh tidak akan lari, apakah bisa menyelesaikan riset dan tesis? Dan banyak lagi pertanyaan serupa, sehingga kadang kita bertanya, “Apakah Allah mendengar dan melihatku yang lagi nestapa ini?”

Ini ada artikel yang menarik untuk direnungkan dan diambil hikmahnya.

[IF]

Kegaiban Hari Esok

Oleh Zamzam A. J. Tanuwijaya

KETIKA Nabi Musa as diperintahkan Allah swt untuk membawa bani Israil ke tepi laut apakah ia sudah mengetahui bahwa Allah swt akan membukakan laut bagi mereka ? Tidak sama sekali. Ia hanya meyakini bahwa di tempat itu Allah swt akan menurunkan pertolongannya, tanpa diketahui apa bentuknya.

Selengkapnya…


Google Flu Trends di US

Google Flu Trends di US

Ismail Fahmi

Tahun ini ada riset yang menarik seputar pengamatan aktifitas dan penyebaran virus influenza. Laporan itu datang dari Google.org, dimana tim teknologi informasinya, setelah berkonsultasi dengan para pakar kesehatan, memutuskan untuk mengolah data “search query” dari US untuk melihat trend penyebaran influenza (11/11/2008). Jumlah atau frekuensi kata kunci seputar flu dan influenza dihitung setiap minggu. Hasilnya dibandingkan dengan hasil survey CDC (Centers for Disease Control and Prevention). Ternyata ada korelasi yang kuat antara frekuensi kata kunci tersebut dengan jumlah orang yang mengalami gejala seperti flu. Di dalam blognya, tim dari Google.org melaporkan:

“Our team found that certain aggregated search queries tend to be very common during flu season each year. We compared these aggregated queries against data provided by the U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), and we found that there’s a very close relationship between the frequency of these search queries and the number of people who are experiencing flu-like symptoms each week. As a result, if we tally each day’s flu-related search queries, we can estimate how many people have a flu-like illness.”

Selengkapnya…


A rose in a mawaddah wa rohmah state

A rose in a mawaddah wa rohmah state

Ketika kita hendak menyatakan janji setia itu, sebuah pesan dari Sang Kekasih berkumandang:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Dan kini, sepuluh tahun telah berlalu.

Sebuah perntanyaan melintas, “Apa yang telah kamu pupuk selama ini? Dan apa yang tumbuh?”

Di antara kita, Sang Kekasih telah berjanji akan menumbuhkan mawaddah (love, affection, cinta) dan rahmah (compassion, pity, sayang). Namun, itu hanya akan tumbuh jika kita telah melakukan tugas kita: memupuk dan menyiraminya.

Selengkapnya…


Ismail Fahmi [dari blog pribadi]

Seorang bijak berkata kepadaku, “Anakku, mari kita bicara tentang cinta. Cinta apa yang kau miliki?” Merasa diri ini memang belum paham apa makna cinta yang sebenarnya, maka aku dengarkan baik-baik setiap wisdom yang menyemburat seperti cahaya.

Anakku, kamu harus membuka hatimu lebar-lebar agar bisa menangkap esensi cinta yang akan aku sampaikan. Simpan pertanyaanmu nanti, karena setiap pertanyaan itu terlahir dari akal. Seperti langit, akal melayang tinggi di atas bumi tempatmu berpijak. Dan kau pun akan jauh dari hati pijakanmu, satu-satunya titik yang mampu menangkap esensi cinta.

Selengkapnya…


Miming Mihardja

Menggenjot dana Galiro? kita pahami dulu sifat kelompok sasaran sumber dana:

1. Komunitas dG, dengan karakter: mhs Indonesia (sebagian besar dengan beasiswa) dengan tingkat propensity to share uang antara 5 EUR/bln (ini misalnya yang bawa keluarga) sampai kira2 25 EUR/bln (misalnya S3, single)
2. Mahasiswa Indonesia non-muslim, yang potensi-nya relatif rendah
3. Masyarakat muslim-non muslim lain di Groningen, misalnya warga Indonesia yang bermukim di Groningen dengan potensi yang mungkin lumayan besar.
4. Komunitas di luar 1, 2, 3, misalnya pelajar Indonesia atau orang Indonesia yang bermukim di kota lain di Belanda.

What can be done to optimize?

Selengkapnya…


Eko Hardjanto

Tulisan dari blog pribadi untuk meramaikan cafe deG.

***

Sering saya temui dalam blog, milist, juga di beberapa situs jejaring sosial semacam Facebook dan Multiply, orang ramai membahas hingar bingar pemilu Amerika. Daya tariknya apalagi kalau bukan karena sosok Barrack Obama. Terutama setelah ia memenangi pemilu Amerika.

Dalam situs jejaring sosial Facebook, banyak politisi yang membuat page dan menuliskan profil diri mereka. Melalui page pula orang bisa menyatakan diri sebagai fans seseorang. Yang mencengangkan adalah banyak sekali orang Indonesia tertarik menjadi fans Barrack Obama.

Selengkapnya…


Groningen, Miming Mihardja

Kawans, saya ingin cerita sedikit fenomena tragedy of the common dalam perikehidupan berbangsa. Ini adalah suatu fenomena dimana kepentingan komunitas sering terabaikan karena umumnya tidak ada individu anggota komunitas yang merasa harus berkorban. Jika individu berkorban, maka benefit akan dinikmati secara kolektif oleh seluruh anggota komunitas, namun tiada keuntungan spesifik yang dinikmati oleh individu yang berkorban sebagai kompensasi atas pengorbanannya.

Ini menimbulkan pertanyaan manusiawi pada setiap individu: why should I? why not somebody else? Dari sudut masing-masing individu, tidak ada yang bisa dipersalahkan kalau tidak mau berkorban, namun faktanya tetap seseorang harus berkorban untuk mencegah agar kerugian komunitas tidak terjadi.

Selengkapnya…


Ismail Fahmi

Dalam setiap perdebatan di milis-milis yang saya ikuti, ada sebuah pertanyaan populer yang tidak pernah absen ketika UU Pornografi dijadikan topik pembahasan. Pertanyaan itu adalah:

Apakah kita benar-benar perlu UU khusus untuk pornografi?

Pertanyaan lanjutannya yang memperjelas pertanyaan utama di atas antara lain: Bukankah sudah ada KUHP dan juga mungkin undang-undang atau peraturan lain yang bisa dipakai untuk mengatasi masalah pornografi? Bukahkan masalah kita saat ini ada di penegakan hukum yang lemah? Polisi, hakim, dan jaksa yang bisa disogok?

Selengkapnya…


Salah satu tradisi deGromiest setiap bulan Ramadhan datang, yang dimulai pada Ramadhan tahun 2004, adalah membuat tulisan berhikmah di Cafe, satu tulisan setiap hari. Khusus untuk Ramadhan tahun 2005, kita mengumpulkan semua artikel beserta komentar yang diposting pembaca, ke dalam sebuah buku elektronik (e-book).

Ebook “Diary Ramadhan 1426H” ini bisa didownload di link berikut:

>>Diary-ramadhan-2005 (500 KB)


MENULIS DI ATAS PASIR

Filed under Renungan & Hikmah

Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati,tapi dengan tanpa berkata- kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang,dia menulis di sebuah batu : HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?”

Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Belajarlah menulis diatas pasir.

Menuliskan hal yg tidak baik diatas “pasir” , agar masih ada kesempatan hembusan angin maaf akan menghapusnya kelak.

Belajarlah menulis kebaikan di atas batu

Selalu lah ingat kebaikan yg pernah kita terima dari orang lain


Siapa yang mencuri itu?

Filed under Renungan & Hikmah

Wahai pencuri, siapakah dirimu? Telah sekian lama malamku hilang bersama lelah. Pagiku menguap seperti embun tertimpa sinar mentari. Siangku berlalu mengikutimu. Kau curi semua itu. Siapakah gerangan dirimu?

Kidung dan pujian yang semestinya buat tuanku, telah kau curi kehidmatannya. Yang kau sisakan hanyalah mantera tanpa jiwa. Siapakah gerangan dirimu?

Duhai tuanku, jadikanlah kidung ini sebagai rantai yang mengikat jiwa bersama kursimu. Melindungi diriku dari keinginan dan suara besarnya sendiri. Agar tak terbawa oleh sang pencuri.

Jika kidung ini hanya menarik hadirnya lebih banyak pencuri, jangan lagi kau mampukan aku untuk meniup seruling. Agar tidak ada lagi yang bisa diambilnya dariku. Diriku pun hanya bisa duduk di depanmu.

Terimakasih tuanku. Pagi ini telah kau pertemukan aku dengan salah seorang dari kawanan itu. Dia mengaku bernama waktu. Bersikeras meminta perhatianku, berargumen menentukan detik-detikku. Memaksaku pergi dari ruang tamumu. Tadi aku telah berbicara dengannya. Ternyata dia hanya ingin diakui saja, tuanku. Dan untuk sementara dia mengambil jarak. Aku sejenak bisa berhidmat kepadamu.


Ziarah

Filed under Renungan & Hikmah

Setelah tidak bertemu muka hampir empat tahun, saya menjumpai adik
kandung di kota kecamatan tempat kami dilahirkan. Lebih tepat lagi
di rumah yang masih saya ingat persis ada pohon rambutan di bagian
dalam, pagar kawat di bagian depan, sebuah sumur pompa tangan, dan
lorong kecil di sisi kiri tempat ari-ari jabang bayi kami berdua –
saya dan adik — ditanam. Bangku kayu di beranda juga masih seperti
puluhan tahun lalu, termasuk warna abu-abu, yang hingga kini tidak
berubah. Salah satu momen nostalgia di bangku itu adalah pada saat
kami — ibu, adik, dan saya — bercakap-cakap santai beberapa bulan
setelah bapak berpulang ke rahmatullah dan saya bersiap-siap
beberapa hari berikutnya akan ikut UMPTN di kota kabupaten.

Sebuah keping sejarah yang selanjutnya mengantarkan saya pada keadaan
sekarang ini.

Adik saya tidak berubah; di antara sekian preferensinya dalam
menikmati hari-hari sibuknya di kota kecamatan, dia menyambut saya
dengan sebuah hadiah: buku tulisan Sindhunata, salah satu kolumnis
Kompas yang aktif, tentang kesenian Jawa Timur, Ludruk. Dengan judul
Prabu Minohek — Ilmu Ngglethek, buku ini disebut oleh penulisnya
tidak akan sanggup bercerita secara utuh tentang seorang Kartolo,
melainkan lebih merupakan sebuah “feature” tentang Kartolo “and his
gang”.

Saya yang membaca buku tersebut sepanjang perjalanan kembali dari
Jember ke Bandung, mau tidak mau tersenyum simpul sendiri — untuk
menghindari tergelak seorang diri — menelusuri bab demi bab yang
kira-kira separuh lebih ditulis dalam Bahasa Jawa dialek Suroboyoan
dan Malang. Di sana-sini diumbar ungkapan urakan khas Kartolo dan
grupnya jika sudah seperti “in trance” di panggung. Ironi,
kekonyolan, kesombongan-setengah-ndablek gaya Basman, sampai dengan
ejek-ejekan khas Surabaya, “Guuuuoooblokkkk!”, hahahaha… (gaya
Basman kalau sehabis memuji dirinya sendiri yang digambarkan penuh
kekonyolan).

Di Surabaya, saya hanya menghirup udara sekitar stasiun Gubeng dan
warung nasi rawon di pojokannya. Tidak sempat saya kitari kota
“mlaku-mlaku nang Tunjungan” ini seperti saya kagumi Paris yang
glamor dan saya puji kota Eiffel ini cocok untuk kaum bohemian.
Benar, Paris agak angkuh karena yang disodorkan adalah aroma “seni
untuk seni” dengan titik pusat pada nama-nama besar dan cita rasa.
Jika kita merumput di tempat-tempat publik di Paris dan terdengar
alunan musik klasik, seperti itulah kita membayangkan sebuah
adikarya yang kompleks.

Dan saya telah kembali di kampung sendiri dengan penjelasan bahwa
kesenian yang diusung Kartolo dan teman-temannya adalah sebuah seni
yang sebenarnya “tidak berisi apa-apa”. Jika kita sedikit kecewa
karena ternyata Kartolo hanya menceritakan kehidupannya sehari-hari,
mengulang guyonan yang dibawa teman-temannya, dan mengolok-olok
kepahitan hidup di negeri ini, itulah yang kemudian disebut “ilmu
ngglethek”. (Ngglethek: ungkapan “oh ternyata…”)

Itulah kehidupan kesenian yang menjadi semacam bohemianisme para
pekerja seni Ludruk dan diterima secara massal. Kaset rekaman
Kartolo meledak terjual dan dinikmati semua lapisan masyarakat.
Jula-juli (semacam pantun, parikan) yang dilantunkan dapat menyentuh
salah satu pendengarnya menjadi bertobat dari kecanduan judi dan
salah satu hasil “industrialisasi” kaset rekaman itu adalah Kartolo
menikmati tempat tinggal yang memadai, menyekolahkan kedua putrinya
sampai jenjang perguruan tinggi, dan mengantarkan dia dan isterinya
berhaji. Dia sendiri kemudian mulai aktif mengasuh majelis Yasinan.

Banyu urip akeh tandurane,
mliwis netes manuk dara
urip ning donya ibarate wong mampir ngombe
wis pantese wong urip ora golek pekara

Dan cukup sekian,

Yu Painten kleleken andha
cekap semanten kidungan kula


Kita, Kami, dan Revans

Filed under Catatan Pribadi

Pada hari rabu tanggal 27 Juli 2005, setelah sempat beberapa hari tidak bersentuhan dengan internet, saya menyempatkan diri membaca beberapa blog dan situs berita mengenai tanah air. Pendek kata, setelah membuka-buka beberapa halaman situs, mata saya mulai terasa gatal. Ternyata setelah diperhatikan, ada beberapa penggunaan bahasa Indonesia yang sedikit membuat saya “tersinggung”.

Masalah penggunaan “kami” dan “kita” memang sudah mengusik saya sejak lama. Hanya saja, “serangan” yang bertubi-tubi pada hari Rabu kemarin itu, membuat saya ingin menumpahkan kerisauan saya di tempat yang dapat dibaca oleh publik luas. Media mana lagi yang lebih cocok dari café degromiest yang ratingnya di google sudah amat tinggi ini?

Kami dan Kita

Perhatikan contoh dibawah ini :

A ingin mengungkapkan kepada B, bahwa ia dan X kemarin beli ikan Tongkol di Vismarkt.

A: “Eh, B, kemarin aku dan X ke Vismarkt lho.. kita beli ikan Tongkol masing-masing 3 ekor!
B: “Wah.. berarti aku bisa ke rumah mu ya malam ini, numpang makan.. maklum, di Gedung Kuning udah enggak ada makanan lagi”

Sebelum dibahas lebih lanjut, ada baiknya kita (!) mengulangi sedikit pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 3 SD. Dalam suatu percakapan, “Kita” digunakan untuk mengacu kepada si pembicara (orang pertama), dan si lawan bicara (orang kedua). Sedangkan “kami” digunakan untuk mengacu kepada si pembicara (orang pertama), dan orang lain (orang ketiga), selain si lawan bicara (orang kedua).

Sehingga, menurut kaidah bahasa Indonesia, A pada contoh diatas, seakan-akan mengatakan bahwa A dan B lah yang beli ikan tongkol di Vismarkt, dan bukan A dan X. Seharusnya, A menggunakan “kami”, bukan “kita”.

Dalam percakapan sehari-hari, sering sekali kesalahan macam ini terjadi. Mungkin, karena sudah terlalu sering, otak kita (!) cenderung untuk mengabaikannya. Atau bahkan, penggunaan “kita” untuk contoh diatas sudah dirasa benar, dan penggunaan “kami” malah dirasa janggal. Tetapi, bagi yang memperhatikan, tentu telinganya akan menderita gatal-gatal yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter THT.

Selama ini, sering terdengar keluhan, bahwa Bahasa Indonesia banyak menyerap kata-kata dari bahasa lain, karena Bahasa Indonesia itu tidak memiliki kosa kata yang cukup, sehingga harus dilengkapi oleh bahasa lain. Contoh diatas, telah membuktikan, bahwa keluhan tersebut tidak sepenuhnya benar. Bandingkan dengan bahasa Inggris dan bahasa Belanda yang hanya punya “we” dan “wij”, sementara bahasa Indonesia punya “kami” dan “kita”. Bukankah dalam hal ini bahasa kita lebih kaya?

Revans

Penggunaan kata serapan, dalam hal memang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, memang dapat diterima, atau malah dianjurkan. Akan tetapi, apabila diperhatikan, banyak juga kata serapan yang seharusnya tidak perlu diserap, karena padanan katanya sudah terdapat dalam Bahasa Indonesia.

Pada hari yang sama, hari Rabu kemarin, di salah satu rubrik olahraga situs berita dari tanah air, saya menjumpai kata “revans”. Ini juga bukan yang pertama kali kata ini saya jumpai. Namun, kali ini karena dijumpai di salah satu situs berita yang menurut beberapa informan diakses sekian ratus ribu kali perharinya, saya menjadi amat prihatin. Penggunaan “revans” pada situs itu adalah kira-kira sebagai berikut:
“Dalam olahraga X, A ingin revans terhadap B”.

Setelah beritanya dibaca, ternyata yang dimaksud oleh si penulis berita dengan “revans” adalah “balas dendam”. Apakah begitu nistanya bahasa Indonesia sehingga si penulis harus menggunakan “revans”? atau apakah tujuannya agar pembaca situs itu tahu, bahwa si penulis berita sudah mengerti bagaimana cara menggunakan kata “revenge” dalam bahasa Inggris?


Kemalasan berbahasa Indonesia yang baik dan benar (bukan propaganda orba ya..) akhir-akhir ini sema(ng)kin memprihatinkan. Makin banyak kosa kata bahasa kita hilang ditelan bumi, karena sudah tidak digunakan lagi, diganti dengan kata lain, dan dari bahasa lain. Di lain pihak, kekayaan bahasa kita makin dipermiskin, bahwa walaupun sedianya ada “kita” dan “kami”, saat ini secara perlahan-lahan “kami” sedang dalam proses pengikisan dari kosa kata bahasa Indonesia.

Dengan tetap chusnudzan, saya ingin berkata bahwa mungkin, program pengajaran bahasa Inggris di tanah air sudah sedemikian hebatnya, sehingga para pemakai bahasa Indonesia sudah mulai lupa dengan bahasa ibunya (English disease – mulai mewabah di Belanda), , dan siap “Go International”. Tetapi sepertinya, saya belum bisa berkata demikian. Pejabat negara bagian pariwisata saja, bahasa inggrisnya masih “belepotan”. Masa sudah lupa bahasa Indonesia?

Repot amat sih sama bahasa Indonesia? So What Gitu Lho!!?


Saya ingat pemutaran film Harry Potter pertama kali, sekitar akhir tahun 2001. Saat itu saya masih di Maryland, Amerika Serikat. Tidak beberapa lama kemudian diputar The Lord of the Ring: The Fellowship of the Rings. Saya mengenal fantasi Rowling lebih dulu daripada fantasi Tolkien, jadi ketika The Fellowship of the Rings diputar, saya hanya mencibir sambil berujar, “Ah, satu lagi karya film mendompleng ketenaran karya lain.” (Ini merujuk pada pengalaman yang sudah-sudah, satu film laris akan diikuti oleh film-film sejenisnya.)

Desember 2003, beberapa hari menjelang ujian akhir Subatomic Physics. Seorang sahabat pribumi mengajak saya ke peluncuran perdana The Lord of the Rings: The Return of the King. Malam itu saya harus menjilat kembali cibiran 2 tahun yang lalu. Tidak beberapa lama 4 kitab fantasi Tolkien, The Silmarillion, The Hobbits, The Lords of the Rings, dan Unfinished Tales saya khatami - hanya bagian indeks yang tidak saya baca. *This is the greatest and the only one favorite fantasy for me*. (Eventhough I quite agree that Mahabarata is better, but for some reason I choose Tolkien.)

Bagaimana dengan Harry Potter?

Fantasi Rowling bagus, buktinya menarik balik minat baca anak-anak seluruh dunia dari ketergantungan menonton tivi. Itu berarti ceritanya menarik, dan pada kenyataannya memang menarik. Pembaca Harry Potter bisa disebut segala umur, walau saya belum pernah tahu kalau ada generasi 50-an membaca Harry Potter (berbeda dengan fantasi Tolkien yang jadi cerita sebelum bobo sampai kakek-kakek).

Popularitas Harry Potter makin melangit setelah suksesnya versi layar lebar, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone. Layar lebar kedua, Harry Potter and The Chamber of Secret, menurutku sangat mengesankan. Dan terakhir, Harry Potter and The Prizoner of Azkaban, sedikit menurun kualitasnya. Yang paling mengecewakan adalah alurnya yang tidak benar. Kalau tidak salah saya sampai marah-marah dengan seorang teman dekat gara-gara dia saya tuduh tidak menceritakan alur dengan benar - setelah dicek ternyata alur di film yang salah. *Itu lho*, adegan Harry mengeluarkan mantera mengusir Dementhor yang mengerubungi Sirius Black - saya sendiri juga sudah lupa bagian mana yang tidak benar.

Nah, kenapa saya marah-marah? Ternyata, selama ini saya adalah penikmat Harry Potter palsu. Saya gemar mendengar diskusi para penggemar Harry Potter, tanya ini-itu, kemudian menceritakan kembali ke orang lain dengan lagak yang seakan-akan sudah baca. Hehehe…

Tapi tentu saja saya tidak tergantung pada ajian menguping itu. Sebelum menguping, saya baca dulu bukunya. Bedanya, kalau penggemar Harry Potter asli membaca kata demi kata, halaman demi halaman, seakan-akan tidak mau kehilangan momen-momen penting, saya membaca buku itu hanya dalam hitungan menit.

Caranya? Cukup baca 3 bab pertama + 10 halaman terakhir. Tiga bab pertama dibaca dari kiri ke kanan, selayaknya membaca buku teks, dan sepuluh halaman terakhir dibaca dari kiri ke kanan selayaknya mebaca Al Quran. Saya jamin, inti dari cerita satu buku sudah ada di kepala anda. Kata orang padang, “Kalau bisa melakukan dengan lebih cepat dengan hasil yang sama, kenapa cari jalan yang berbelit-belit?” He he he… Sayangnya ajian itu tidak berlaku dengan untuk The Lord of the Rings dan karya Tolkien lainnya.

Nah dengan ajian itu, hari Minggu 17 Juli saya sudah menyelesaikan Harry Potter and the Half-blood Prince (yang saya terjemahkan: Harry Potter dan Pangeran Setengah-berdarah, hihihi). Hari Senin, dengan polosnya saya email beberapa teman penggemar Harry Potter untuk mendiskusikan beberapa hal, dan yang paling penting adalah teori konspirasiku terhadap pembunuhan Dumdumdum (ini cara saya mengeja nama kepala sekolah sihir Hogwart, tempat sekolah Harry Potter) yang dilakukan Snape. (Btw, Snape sejak dulu sudah menjadi idolaku. Di film juga dia cool, aduuh, ganteng dech!)

Ini dia: the Conspiration Theory

Saya berteori bahwa pembunuhan ini adalah rekayasa Dumdumdum untuk meyakinkan Voldemort (the guy who doesn’t know his name) bahwa Snape ada di pihak mereka. Peran agen ganda memang diperlukan di mana-mana, kalau tidak Sekutu tidak akan pernah menang lawan Jerman dan Jepang, atau Amerika Serikat tidak akan berhasil meruntuhkan Soviet. Teori itu berlandaskan bahwa tingginya kepercayaan yang diberikan Dumdumdum pada Snape pada buku ke-5: Order of The Phoenix (yang kalau diperhatikan alurnya mirip-mirip dengan The Fellowship of the Rings).

Namun ternyata saya mendapat amuk marah dari mereka-mereka penggemar Harry Potter. Katanya saya spoiler. Setelah saya cek di kamus, spoiler ini artinya kandidat yang tidak punya kesempatan untuk menang tapi bisa membuat kandidat yang lain tidak menang. Bisa juga artinya sesuatu atau seseorang yang membuat makanan basi. Hehe, mungkin arti ke dua lebih tepat dalam kasus ini. Saya diprotes: jangan ganggu kesenangan orang lain. Lha, kalau begitu, sama artinya saya disuruh berhenti bersenang-senang? Hihihi.

Ternyata memang ada semacam kesepakatan etika yang dibangun di antara para penggemar sejati Harry Potter: tidak boleh berdiskusi atau mendiskusikan buku terbaru di depan seseorang yang belum baca. Dan aturan ini benar-benar dipegang teguh oleh mereka.

Seseorang diantaranya memarahi saya karena tidak pernah serius kalau bercerita tentang Harry Potter. Mulai dari banyaknya kesalahejaan nama tokoh, sampai ke alur cerita yang sudah dipelintir kesana-kemari oleh saya.

Sementara bagi saya, si penggemar palsu ini, Harry Potter adalah buku untuk bersenang-senang: saya beli, saya bebas interpretasikan semena-mena saya, dan saya bebas mengemukakan pendapat. Itulah cara saya menikmat Harry Potter.

Saya jadi tergelitik untuk bertanya, saat fantasi Tolkien diterbitkan satu per satu, apakah juga seperti itu? Saya dulu penggemar dan langganan Doraemon, Dragon Ball, Kungfu Boy, Cityhunter, Tapak Sakti, dan majalah Ananda. Saya juga punya klub pecinta komik yang sama, dan kami tidak punya etika seperti itu. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang membuat perbedaan sehingga kami dulu tidak punya etika itu dan sementara generasi sekarang memilikinya?

Banyak kemungkinan terpikir: zaman yang berbeda, faktor media massa, jenis bacaan… dan salah satunya: faktor pribadi. Dari sekian banyak yang protes ke saya, tidak satupun yang datang dari fisikawan seperti saya. Teman sekantor saya malah asik-asik saja dengan ulah tersebut, walau tetap mengolok-ngolok saya yang diprotes banyak orang. (Dia juga pembaca Harry Potter dan The Lords of the Rings, saya ceritakan kejadian tersebut ke dia.)

Menarik sekali dengan etika “no spoiler” ini. Kalau untuk yang beginian kawan-kawan muda kita sudah bisa membangun dan melaksanakannya, apakah bisa dikembangkan ke etika-etika yang lain? Misalnya etika tidak menjadi plagiat di sekolah, etika tidak menyuap dan berkolusi tidak sehat, dan etika-etika yang bermanfaat untuk lebih banyak orang. Entahlah…

Yang jelas, dengan segala ketulusan hati saya minta maaf kepada semua penggemar asli Harry Potter atas ulah saya di atas. Percayalah, buku ketujuh akan jauh lebih hebat daripada buku keenam, jadi jangan membenci Harry Potter cuma gara-gara ulah spoiler ini.


The Da Vinci Code

Filed under Bedah Buku

Beberapa saat setelah peluncurannya, buku karangan Dan Brown ini menjadi best seller dan laris di mana-mana. Apakah yang menjadi “rahasia” kesuksesan buku ini?

Ada dua “menu” yang dihadirkan buku ini :

1. Ketegangan (suspens) dan alur
Jika diperhatikan, cerita yang dihadirkan oleh Dan Brown adalah “petualangan” seorang Robert Langdon. Brown menghadirkan permasalahan ke depan Langdon, yang pemecahannya harus menggunakan ilmu simbologi yang dimiliki Landon terhadap beberapa karya Leonardo Da Vinci. Sementara itu, dalam menganalisa dan memecahkan teka-teki yang dihadapinya, unsur ketegangan dihadirkan dengan “berlari”nya Langdon dari kejaran polisi dan pihak-pihak yang juga menginginkan apa yang tersembunyi dalam beberapa karya Da Vinci tersebut.

Alur utama yang disajikan Dan Brown adalah kronologis. Teka-teki sedikit demi sedikit terbuka. Selain itu, ada pula beberapa kejutan yang cukup membuat pembaca berfikir. Kemudian, ada beberapa alur kilas balik, yang kesemuanya berfungsi untuk membantu pembaca memahami secara penuh rangkaian peristiwa yang berujung kepada petualangan Brown tersebut.

2. Fakta/fiksi di sekitar karya Leonardo da Vinci yang berhubungan dengan Jesus
Hampir seluruh bagian dari novel ini, diwarnai oleh fakta/fiksi di sekitar karya Leonardo da Vinci yang berhubungan dengan Jesus. Adapun fakta/fiksi tersebut, mungkin sekitar 10%nya saja yang diciptakan oleh Brown. Sementara sisanya memang sudah diketahui oleh komunitas yang memang punya perhatian terhadap masalah-masalah itu. Dengan kata lain, untuk komunitas-komunitas tersebut, fakta/fiksi ini bukan lagi barang baru. Namun demikian, jumlah “anggota” komunitas-komunitas ini memang tidak banyak dibandingkan dengan pembaca lainnya dari novel ini.

——

Memang tidak dapat dielakkan, kepiawaian Brown dalam meracik fakta/fiksi tersebut ke dalam alur yang ia buat, telah membuat novelnya menjadi best seller, dan tentu menambah tabungan Brown. Selain itu, fakta/fiksi yang dihadirkan Brown memang cukup “mengguncang” pemikiran orang-orang yang bukan “anggota” dari komunitas-komunitas di atas, karena dirasa mendobrak mainstream yang dipercaya dan dianut di hampir seluruh dunia.

Akan tetapi, dari segi cerita, sajian Dan Brown tidak dapat dikatakan terlalu istimewa. Para pembaca buku-buku thriller tentu sudah terbiasa dengan penyajian seperti diatas. Bahkan mungkin ada dari beberapa pembaca yang sudah dapat kurang lebih menebak akhir ceritanya. Pembaca “The Da Vinci Code” setelah membaca novel tersebut akan hampir selalu terpancing untuk mendiskusikan fakta/fiksi tersebut. Sedangkan di lain pihak, sedikit yang akan tertarik untuk mendiskusikan alur , ketegangan, serta jalan ceritanya itu sendiri.

Dari analisa singkat di atas, sepertinya, jawaban dari pertanyaan di awal artikel ini :”apakah yang menjadi rahasia kesuksesan buku ini?” sudah dapat terjawab.
Pertama, Brown cukup berhasil mengawinkan fakta/fiksi dengan alur dan ketegangan yang ia sajikan. Kedua, Brown mengangkat perihal yang kontroversial, yang mengguncang kemapanan mainstream yang telah ada. Tidak tanggung-tanggung, Brown mengguncang kemapanan salah satu agama yang penganutnya cukup besar di muka bumi ini.

Namun, perlu ditekankan, bahwa ada catatan kecil dibalik dua rahasia sukses di atas. Yang dilakukan Brown selain alur cerita dan ketegangannya, ia hanya mengangkat perihal yang sudah bukan barang baru, dari publik terbatas ke publik yang lebih luas. Dan dalam topik ini, Brown bukanlah yang pertama. Walaupun begitu, boleh jadi dia adalah yang pertama yang menjadi kaya karenanya.


DeGromiest, Origination

Filed under Catatan Pribadi

Berikut adalah tulisan Mba Heni Rachmawati, lulusan PhD RuG bidang Farmasi, yang menceritakan asal-muasal organisasi DeGromiest dan kesan-kesan indahnya pada saat pertama kali menginjakkan kaki di kota Groningen.

Assalamu�laikum wr.wb,

Sahabat semua di groningen….

Kalau saya boleh bercerita mundur, bahwa kurang lebih
4 tahun silam tepatnya tanggal 31 januari 2001, saya
pertama kalinya melihat belahan bumi lain, EROPA.
Bulan januari di Eropa sini berarti musim dingin.
Sesaat keluar dari KLM, saat itu pula pertama kalinya
saya mengenakan jaket winter, yang seumur2 sebelumnya
nggak pernah. Dengan sedikit bergumam: wah gue jadi
bule neh!!!!

Selengkapnya…


Do’a, Dzikir dan Ikhtiar

Filed under Renungan & Hikmah

Apa rahasia kekuatan do’a? Apakah do’a betul-betul dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik? Pada prinsipnya, setiap do’a yang kita panjatkan pasti akan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun cara terkabulkannya do’a ada empat macam. Pertama, kontan. Yaitu langsung dikabulkan saat itu juga. Kedua, ditangguhkan. Yaitu diberikan nanti pada saat yang tepat dan pada saat orang yang berdo’a tersebut masih hidup di dunia. Yang ketiga diberikan separuh di dunia dan separuh di akhirat. Yang dimaksud separuh itu bisa fifty-fifty dan bisa juga forty-sixty, terserah yang mengabulkan. Yang keempat diberikan semuanya setelah orang yang berdo’a tersebut meninggal alias diberikan di akhirat.

Kenapa do’a tidak diberikan kontan saja? Ada alasannya. Coba bayangkan kalo semua orang di kota Bandung berdo’a untuk diberikan mobil. Maka sesuai dengan jumlah penduduk kota Bandung yang berjumlah kira-kira sekitar 2 juta orang, maka akan turun sekaligus mobil sebanyak 2 juta buah. Jalanan di kota Bandung akan macet dan padat. Maka satu-satunya jalan adalah tidak semua do’a akan dikabulkan dengan sifat kontan karena hanya akan merusak keseimbangan dan keharmonisan di dunia saja. Ingat bahwa Tuhan adalah pemelihara alam ini yang selalu senantiasa menjaga keseimbangan dan keharmonisannya. Tidak akan ada daun jatuh sehelai pun tanpa seizin-Nya. Semua yang terjadi di alam ini sudah terjadi sesuai dengan kehendak-Nya dan seizin-Nya.

Memang kadang-kadang kita mengeluh karena do’a yang kita panjatkan tidak pernah Beliau berikan. Namun Tuhan Maha Tahu. Mungkin di mata kita, bisa jadi sesuatu itu baik sedangkan di mata Tuhan hal tersebut tidak baik. Dan begitu pun sebaliknya. Siapa yang bisa lebih tau daripada Tuhan? Kita sebagai manusia yang punya sangat banyak keterbatasan tentu tidak tahu apa rencana yang sedang Tuhan rencanakan untuk kita. Dan yang lebih baik pandangan dan juga rencananya adalah tentu pandangan Tuhan dan rencana Tuhan. Karena apa yang selalu kita rencanakan belum tentu semua itu dapat terjadi, tapi rencana Tuhan pasti terjadi.

Do’a bisa juga menjadi pengubah takdir kita. Mungkin yang tadinya kita ditakdirkan miskin maka setelah berdo’a, JREG!!!, datanglah surat kontrak terbaru untuk kita karena do’a kita. Maka mintalah do’a untuk supaya mati dalam keadaan khusnul khotimah. Karena ada contoh yang memperlihatkan ada orang yang selalu berbuat baik semasa hidupnya namun meninggal dalam keadaan suul khatimah. Dan jangan pula merasa tidak enak karena banyak sekali permintaan kepada Tuhan. Memang kalo manusia diminta terus-terusan oleh temannya maka akan marah. Tapi Tuhan tidak. Semakin banyak do’a manusia kepadaNya maka semakin senang Beliau kepada kita.

Apakah ada yang lebih utama daripada kekuatan do’a? Ada, yaitu kekuatan dzikir. Sesungguhnya dzikir adalah lebih utama daripada do’a. Dzikir astagfirullah sesungguhnya bisa menghapus do’a dan meningkatkan derajat kita, memberikan kemudahan di saat kesempitan dan datangnya rizqi di saat yang tidak terduga-duga. Rasulullah pun setiap harinya tidak pernah ketinggalan membaca astagfirullah padahal beliau adalah manusia yang dimaksum oleh Tuhan sehingga tidak akan melakukan dosa/kesalahan. Dan yang terakhir adalah kekuatan ikhtiar. Dengan ikhtiar maka kehidupan kita akan berubah. Ini sudah pasti akan mudah diterima oleh akal pikiran kita karena banyak orang yang hanya ahli ikhtiar saja, kehidupannya sangat baik. Ini sangat banyak terjadi dimana-mana di belahan dunia ini.

Dengan menggabungkan tiga kekuatan yang telah saya sebutkan di atas, yaitu kekuatan do’a, kekuatan dzikir dan kekuatan ikhtiar, maka sudah komplitlah senjata yang kita miliki. Mudah-mudahan kita bisa mengamalkan teori mudah di atas ini menjadi aplikasi sehari-hari sehingga kita bisa menjadi ahli di tiga bidang tersebut.


Kota Bandung

Filed under Catatan Pribadi

Hari ini adalah hari rabu tanggal 20 April 2005. Ini adalah hari pertamaku di kota Bandung semenjak aku menginjakkan kakiku di negara Indonesia tercinta ini. Aku berangkat dari Jakarta jam setengah sembilan pagi dengan memakai kijang inova baru milik ibuku. Kakakku yang pertama-tama menyetir karena dia pun ingin mencoba mobil baru ini. Dia bilang kijang naik kelas karena sekarang segala accesorinya dari mulai mesin hingga dashboard dibuat dengan kualitas yang sangat bagus. Kakakku mengantarku hanya sampai perbatasan, dia masih ada urusan di Jakarta. Kemudian perjalanan selanjutnya dilanjutkan oleh supir pribadiku, Ajat. Kami tiba di kota Bandung pukul 11.30 siang. Kami langsung menuju kantor imigrasi Bandung untuk memperpanjang pasporku yang harus diperpanjang 5 tahun lagi. Disana sudah menunggu seseorang yang memang bekerja untuk mengurus dan memudahkan segala keperluan orang yang ingin memperpanjang paspor. Karena aku memang tidak punya banyak waktu untuk mengurus sendiri dan memang kalau aku mengurus sendiri akan memakan waktu yang sangat lama, maka aku putuskan untuk memakai jasa seseorang, mumpung sekalian bagi-bagi rezeki kepada orang yang membutuhkan, mudah-mudahan Tuhan menerima niat baikku ini.

Urusan paspor berjalan dengan sangat lancar. Ternyata sudah tiba waktu makan siang. Aku telepon teman lamaku yang sudah pulang bekerja dari negeri Norwegia di salah satu perusahaan swasta terbesar di dunia di bidang perminyakan. Dia sudah keluar dari perusahaan tersebut karena pada umurnya yang juga seumuranku dia sudah divonis oleh dokter menderita sakit hypertensi kronis akibat kelelahan bekerja di perusahaan swasta tersebut. Namun departemen sumber daya manusia perusahaan tersebut bermain sinetron dengan departemen tenaga kerja untuk tidak memberikan pesangon yang selayaknya kepada temanku tersebut. Malang nian nasibnya. Oleh karena itu kuniatkan untuk bertemu dengannya sekalian melepaskan rindu setelah sekian tahun tidak bertemu dengannya. Sekarang dia bisnis sendiri di rumahnya dengan melalui internet. Yaitu bisnis forex alias foreign exchange. Beli dengan harga rendah dan jual dengan harga tinggi. Atau beli dengan harga tinggi dan jual dengan harga yang lebih tinggi lagi. Simpel dan sederhana. Cukup main satu bulan sekali saja, yaitu pada saat sentimen pasar yang sangat tinggi untuk menjamin profit yang cukup besar. Dia menceritakan kepadaku kapan saja waktu yang tepat untuk bermain. Sekali main bisa profit sampai 2000 US dollar. Jumlah yang fantastis untuk satu jam permainan. Tentu saja risiko ruginya pun ada, yaitu ketika salah menterjemahkan sentimen pasar. Uang yang ada bisa ludes sekaligus.

Dia bercerita kalau kondisi pasar Amerika memang mirip dengan kondisi pasar di Indonesia. Banyak peluang potensi pasar dan yang sukses bisa sukses banget dan yang bangkrut bisa bangkrut banget. Memang benar. Namun di Eropa, sistem sudah sangat mapan sehingga tidak ada orang miskin dan tidak ada orang kaya, semua sama rata. Menurutku dia terlalu mengeneralisir. Kondisi seperti ini hanya ada di negara-negara scandinavia saja, seperti Norwey, Denmark dan Finlandia. Belanda memang menganut sistem sosial namun karena krismon yang dashyat seperti saat ini, negeri ini pun dilanda kemiskinan. Tentunya kemiskinan yang disesuaikan dengan kondisi dan standar negara belanda dan tidak bisa dibandingkan dengan kemiskinan absolut yang diderita oleh masyarakat di negara Indonesia. Di Eropa yang paling dijunjung tinggi adalah hukum dan hak asasi manusia serta kode etik. Memang sebagian benar tapi tetap tidak bisa digeneralisir begitu saja. Tentunya seperti di semua negara dan di dunia rusak ini, dimana-mana outlier akan selalu ada. Ini pasti. Seperti telah diajarkan oleh hukum statistik.

Makan siang terjadi di Bandung Indah Plaza. Aku memesan nasi timbel komplit dengan dua ayam goreng ditambah sayur asam ditambah dengan minuman es kelapa muda dan teh botol dingin. Rasanya nikmat tidak terkira karena memang menu ini adalah menu favoritku setiap aku pulang ke Indonesia. Sambil makan kami mengobrol banyak tentang ini dan itu selayaknya waktu jaman dahulu ketika kami kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan matematika. Bedanya sekarang kami sudah pernah mengalami apa yang dinamakan dengan dunia kerja yang keras. Sekarang sudah bukan waktunya untuk main-main lagi seperti jaman di universitas, namun sekarang hutan rimba yang ada di depan mata kami. Kalau tidak cerdik, akan diterkam oleh harimau. Kalau tidak pintar, akan lenyap ditelan gelapnya malam di tengah-tengah hutan belantara. Selayaknya teori evolusi Darwin, survival of the fittest tetap berlaku pada manusia karena sebenernya menurut Darwin, manusia adalah termasuk salah satu jenis binatang yang mempunyai akal pikiran. Jadi binatang pintar maksudnya dia begitu. Namun saya punya argumentasi lain yang berbeda dengan Darwin, manusia tetap berbeda dengan binatang, manusia mempunyai hati. Seburuk atau sejelek apa pun manusia, tetap ada sisi kebaikannya, aku yakin akan hal ini. Inilah yang membuatku bisa tetap exist di dunia manusia ini. Kalau aku sudah tidak percaya terhadap kaum manusia, aku tidak akan bisa hidup di dunia yang penuh dengan kerusakan dan kebusukan dan lengkap dengan tipu dayanya ini.

Setelah selesai makan siang aku pun pergi lagi ke kantor imigrasi Bandung untuk foto dan mengambil paspor baruku. Kemudian setelah itu aku pergi ke Geger Kalong Bandung untuk menginap di MQ Guest House. Ternyata nona Shirley yang cantik dan manis itu masih mengenaliku disana dan dia tersenyum sangat lebar menyambutku. “Kapan datang dari belanda pak?”, tanyanya. “Ooh, ini hari ketiga saya berada di Indonesia”, jawabku. “Mau menginap disini pak?”, tanyanya. Aku sedikit mengerutkan kening karena bukankah sudah jelas bahwa aku akan menginap disini karena aku membawa koper dan ransel serta keresek penuh dengan makanan. Namun aku segera ingat bahwa memang budaya di Indonesia untuk selalu berbasa-basi. Lalu aku pun mengangguk dan menyambut basa-basi tersebut dengan basa-basi lagi. Bersambutlah percakapan tersebut dengan sangat enak dan ramah. Sesuatu yang tidak mungkin aku bisa dapatkan di negeri Eropa. Di Eropa, segala sesuatu ada harganya, walaupun itu senyum atau pun sekadar basa-basi saja. Di Indonesia, masih ada dan mungkin tidak banyak aku pun tidak tahu karena belum pernah mengadakan riset tentang hal ini, orang yang tulus dan ikhlas untuk saling membantu dan memberi. Sayangnya di dunia rusak ini sudah semakin sedikit saja orang seperti ini.

Karena aku dianggap tamu langganan, aku pun mendapat diskon. Memang mungkin sudah menjadi rejekiku untuk mendapatkan diskon hari ini di MQ Guest House. Sudah tempatnya enak ditambah servicenya juga memuaskan. Setelah mandi dan membersihkan diri dari keringat busuk selama di perjalanan 3 jam Jakarta Bandung, aku pun pergi ke MQ Travel untuk memberikan paspor baruku ke seseorang yang bernama kang Sukarta. Beliau bekerja sebagai customer service dan bertugas untuk mengurus dan membantu serta melayani customer dalam setiap acara. Yang membuat saya terkesan adalah walaupun kaki kanan beliau lumpuh namun beliau sangat mandiri dan tidak membutuhkan bantuan orang lain. Bahkan dari segi finansial beliau adalah orang yang sudah sangat mandiri. Kekaguman saya akan beliau sangat tinggi sehingga mengingatkan saya pada seseorang di negeri Belanda yang juga sangat saya kagumi kepribadiannya, yaitu Cak Fu. Malam itu pula saya ajak kang Sukarta ke Warnet untuk mengunjungi web site Cak Fu dan kami mengirimkan email kepada beliau agar kang Sukarta dan Cak Fu bisa saling berkenalan dan saling berbagi cerita, ide dan gagasan. Tidak terkira senang dan bahagianya kang Sukarta ketika saya ceritakan segalanya mengenai Cak Fu dan DeGromiest. Dia tidak pernah mengira bahwa hari ini akan ada seseorang yang memberi tahu informasi ini. Ini adalah pertama kalinya dia mengetahui akan keberadaan seorang Cak Fu. Dan hal ini merupakan intan berlian penuh emas permata bagi seorang seperti Kang Sukarta.

Setelah selesai mengirim email saya pun mencoba berbaur dengan masyarakat sekitar untuk mengetahui lebih jauh kondisi setempat di Geger Kalong. Seperti apa komposisi masyarakatnya dan apa saja kegiatan disana. Sangat impresif menurut pandangan saya. Semua ini dimulai dari 3M, yaitu mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil dan mulai saat ini juga. Akhirnya lingkaran kecil ini bertambah besar dan bertambah besar lagi, bahkan bukan tidak mungkin bahwa akhirnya lingkaran besar ini menjadi lingkaran cosmic yang menutupi seluruh jagat raya. Siapa tau? Yang terpenting adalah setiap orang menyadari posisinya masing-masing dan kalau setiap orang sudah menerapkan 3M ini, maka bukan tidak mungkin, peradaban manusia yang kita damba-dambakan akan terwujud. Yaitu peradaban civil society yang diliputi oleh perasaan tentram, damai, tenang, penuh dengan kepercayaan satu sama lain, saling tolong-menolong dan saling membantu baik itu dalam kesulitan ataupun saling membantu dalam kesenangan. Saling mengingatkan dan sangat didambakan bahwa seorang manusia menjadi saudara bagi manusia lainnya dan bukan menjadi mangsa dan pemangsa. Bukan pula survival of the fittest karena kita tidaklah sama dengan bangsa binatang.


Wardi

Filed under Catatan Pribadi

Setelah update berita mengenai perkembangan milis yang akhir-akhir ini makin seru, ada satu conversation antara Wangsa dan Mia yang mengingatkan saya pada seseorang. Alkisah, ada seorang jejaka bernama Wardi. Wardi ini lahir dan besar di Pemalang. Pendidikannya cuma sampai kelas 4 SD. Sampai dengan umur 24 tahun, dia bekerja di sawah, mengkomando kerbau narik bajak, menemani sang kerbau merumput (tentunya si Wardi tetap makan nasi dan nggak ikut merumput), dan bantu-bantu hal lainnya. tidak jelas apakah si Wardi ini termasuk pengangguran terselubung atau bukan. Suatu hari, kakak ipar wardi yang bekerja di Jakarta pulang kampung dan menawarkan pekerjaan di Jakarta, karena menurut sang kakak, value si Wardi ini bisa ditingkatkan. Kalau di Pemalang, pendapatan Wardi tidak bisa dinilai dengan uang. Di Jakarta bisa. Paling tidak, tiap dua bulan sekali bisa beli satu kambing, dan masih bersisa untuk keperluan sehari-hari dan ditabung.

Wardi yang selalu membawa kartu anggota NU di dompetnya itu, awalnya agak bimbang. Maklumlah, embel-embel di depan nama Wardi itu “mas”. Kalau “uda”, tanpa berfikir dua kali pasti sudah dikemas pakaiannya yang tidak seberapa banyak itu dalam kurang dari sepuluh menit.

Sesampainya di Jakarta, Wardi bekerja sebagai “office boy“. Memang, job description agak berbeda dengan yang biasa dia kerjakan di sawah dengan kerbaunya. Tetapi pada hakikatnya, tetap kerja sedikit ini, sedikit itu (tapi kalau digabung jadi banyak juga), namun dengan beban relatif lebih ringan. Wardi diberikan sebuah kamar di kantornya tempat dia tinggal. Tidak bisa dibilang bagus, tetapi masih lebih bagus dari kamarnya di Pemalang. Paling tidak, sekarang kamarnya dikelilingi tembok, dan kaca yang tergantung di tembok itu ukurannya 5 kali lipat dari kaca spion yang dahulu selalu dia gunakan waktu menyisir rambutnya. Di meja di dekat kaca tersebut, ada sebuah radio tape lengkap dengan pemutar CDnya. Dan, yang paling membuat Wardi senang adalah, itu kamarnya sendiri. nggak usah bagi-bagi dengan orang lain.

Setiap hari Wardi dapat makanan dari kantornya. Walaupun selera makan Wardi cukup besar, namun jatah dari kantornya itu masih mencukupi. Sehabis main course, Wardi selalu menyiapkan dua hal untuk pencuci mulut. Secangkir kopi tubruk, dan dua batang rokok kretek. Sehari-hari, Wardi jarang meninggalkan kantor itu. Bukan karena tidak boleh atau tidak ada waktu karena mengejar deadline, tetapi karena memang dia tidak melihat kepentingannya untuk jalan-jalan. Saat malam-malam banyak anak muda nongkrong di belakang kantor di sekitar warung rokok, lantunan suara Wardi yang melagukan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu sayup-sayup terdengar dari arah kamarnya.

Suatu ketika, salah seorang “boss” Wardi bertanya :”Di, kamu tuh punya pacar enggak sih?” Wardi menjawab :”Enggak Mas”, sambil tersipu-sipu dengan cengkok Pemalangnya yang masih kental. “Biar dicariin di kampung aja”, lanjutnya lagi. Pada hari lainnya, ada penggantian perabot di wilayah “kekuasaan” Wardi di kantor itu. Tivi yang biasa ia tonton, dipindahkan, dan diganti dengan tivi yang lebih besar dan lebih bagus. Akses ke saluran tivi kabel yang dahulu hanya ada di ruang rapat dan kamar kerja para boss juga diberikan. Keesokan paginya, saat “boss besar” datang, Wardi menghampirinya, seraya berkata “Pak, mohon maaf, tapi, apa saya boleh minta tivi yang dulu saja? saya bingung mau nonton yang mana, dan tivinya besar sekali, pusing Pak”. Sang bos besar cuma bisa melongo saja mendengar curhat si Wardi. Akhirnya tivi si Wardi yang kecilpun dipasang kembali. Namun, walau sekarang menggunakan antena biasa, akses tivi kabelnya dibiarkan menggantung di sebelah tivi tersebut, kalau-kalau saja suatu waktu nanti Wardi tiba-tiba berhasrat ingin menonton MTV.

Wardi itu cuma salah satu contoh orang yang kehidupannya sederhana, dan tidak banyak maunya. Saat musim naik gaji, Wardi sempat bertanya, mengapa ia terima uang banyak sekali, sementara pendapat kebanyakan orang adalah :”gak bisa tambah lagi ya?”. Memang disatu sisi, sepertinya kehidupannya monoton, datar, tidak berkembang. . Tetapi, dilain pihak, Wardi merasa kesejahteraannya terjamin, dan ia merasa senang sentosa. nggak pingin motor, mobil, gak pingin komputer dengan prosesor 4GHz dan Windows 64 bit, gak pingin mikir negara kesatuan atau federal, gak pingin punya saham Philip Morris. Relatif jarang ya orang kayak gini?

Ada yang berminat dengan Wardi? masih belum punya pacar lho… ^_^


Yang Mau Nolong Tuhan, Gendeng Dhewe!

Filed under Diskusi Milis

Diskusi ini berasal dari ceramah umum yang diberikan Gus Dur di desa Sukadadi pada hari Rabu, 6-April-2005. Pada intinya Gus Dur berpendapat bahwa Tuhan tidak perlu ditolong, karena Dia berkuasa atas segalanya �Innahu �ala kulli syai�in qadir”. Karenanya, menurut Gus Dur, Tuhan cukup kita ingat kebesaran-Nya. �Itu sudah cukup.� Ulasan selengkapnya bisa dibaca di Gusdur.net.

Adapun rangkuman diskusi yang terjadi di mailing list adalah sebagai berikut:
Saudara Farhat M. Mahfud berpendapat sebagai berikut di bawah ini:
Assalamu alikum Wr Wb.,
Hahaha….Betul sekali pendapat beliau. Artikel yg menarik Cak Fu.
Seperti apa yang saya pelajari, apa bila tidak ada perbedaan, semua
(alam semesta) akan stagnan.
1. Tidak ada beda Temperatur: maka tidak akan ada panas dan dingin,
2. Tidak ada beda konsentrasi: maka tidak ada banyak dan sedikit,
3. Tidak ada beda Tekanan: maka tidak ada air/udara mengalir,
4. Tidak ada beda jenis kelamin: tidak ada regenerasi manusia/hewan,
5. dst…
Hehe…Mungkin bukan ini yang dimaksud tapi kok saya melihat ada
kemiripan ya…
Subhanallah….Allahu Akbar!!
Wassalam wr. wb.,

Selengkapnya…


Muslim di Belanda

Filed under Catatan Pribadi

Tadi siang, sehabis shalat jum’at, ada ajakan dari pengurus masjid Groningen untuk duduk dan mendengarkan selama 30 menit diskusi dengan para pemimpin partai politik di pemerintahan kota Groningen. Adapun inisiatif diskusi tersebut datang dari para pemimpin partai politik di pemerintahan kota Groningen. Mereka ingin mengetahui apa pendapat dan pengalaman orang-orang muslim di kota Groningen khususnya, dan negara belanda pada umumnya. Hal ini dilandasi oleh keadaan panas yang terjadi beberapa bulan terakhir ini di negeri belanda setelah terjadinya kasus penembakan Theo van Gogh oleh Muhammad B., immigrant Maroko yang sudah berwarga negara Belanda. Kasus ini begitu merebak apalagi setelah media membuat kasus ini malah kian memanaskan keadaan. Mesjid2 dibakar, ketegangan antar orang muslim dan orang non-muslim lebih menjadi2. Malah ketegangan ini merebak menjadi ketegangan antara orang yang beragama dan orang yang tidak beragama. Contoh dari hal ini adalah gereja2 dibakar.

Dari diskusi yang saya dengar, dari pengakuan orang2 muslim di Groningen ini, kehidupan mereka tidaklah menyenangkan. Mereka hidup dalam ketakutan. Mereka tidak bisa secara bebas berjalan di luar tanpa orang lain melihat mereka secara rendah. Mereka tidak bisa hidup secara tenang di negeri belanda ini tanpa orang lain mencibir terhadap diri mereka. Salah seorang diantara mereka bilang malah kondisi seperti ini dimulai dari tragedi 11 September 2001. Dan semakin kemari semakin sulit. Contoh lain lagi adalah ketika wanita muslim keturunan afro yang memakai jilbab keluar rumah, ada orang yang menjaili mereka. Dan banyak contoh2 lainnya lagi. Sebelum saya mendengar lebih banyak lagi saya keluar dari masjid karena saya tidak tahan untuk mendengarkan lebih lanjut lagi. Saya tidak tahan mendengar bahwa ada orang lain yang berkeyakinan sama dengan saya menderita sedangkan saya merasakan nikmat dan rahmat. Dan yang paling saya tidak tahan adalah bahwa saya tidak bisa melakukan apa2!

Kemudian keajaiban terjadi, saya bertemu dengan Cak Fu di C1000, Padepoel. Saya ceritakan apa yang telah terjadi di masjid Selwerd. Dan Beliau berkata, “Mas Teguh, jika semua orang diam, tidak akan ada perubahan.” Saya pun berkata balik, “Cak Fu, diam pun adalah suatu sikap, dan dengan diam bukan berarti saya tidak melakukan apa2. Saya merasa belum menjadi orang yang baik, maka saya akan perbaiki diri saya sendiri dulu baru saya akan berkata atau bertindak untuk memperbaiki yang salah.” Kemudian Cak Fu berkata kembali, “Kalau semua individu baik memang gampang, tetapi dunia ini tidak seperti ini. Nabi Muhammad pun datang untuk melakukan perubahan. Seperti pemimpin revolusi lah beliau itu.” Saya setuju untuk melakukan perubahan. Tetapi kemudian saya bilang kembali, “Perjuangan yang paling sulit adalah melawan hawa nafsu sendiri. Diri sendiri adalah musuh yang paling sulit untuk ditaklukan. Maka dari itu memang 3M lah yang paling baik yang bisa kita lakukan. Yaitu Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal2 yang kecil dan Mulai dari sekarang.”

Kemudian diskusi kita terus berlanjut ke hal2 yang lain. Namun ada satu hal yang menggelitik hati saya. Memang kalo kita diam terus, tidak akan ada perubahan yang terjadi di sekitar kita. Kita harus mulai, walaupun dari hal2 yang sekecil mungkin. Mungkin dengan tulisan ini saya memulai untuk melakukan perubahan2. Mungkin dengan tulisan ini ada yang tergelitik dengan keadaan muslim2 di kota Groningen. Mungkin dengan tulisan ini ada yang memiliki ide cemerlang untuk mengatasi dan memberikan solusi yang nyata agar masalah ini bisa terselesaikan. Kalau saya sendirian memang tidak akan mampu untuk memecahkan masalah serumit dan sekompleks ini. Tapi dengan bantuan teman2 semua, insya Allah, masalah serumit dan sekompleks apa pun akan bisa ditemukan jalan solusinya. Insya Allah. Terima kasih Cak Fu atas diskusinya.


Bagi siapa saja yang kelak ingin punya anak, atau yang sudah punya anak dan nantinya akan menyekolahkan anaknya di TK/SD di Indonesia, ada baiknya menyimak uraian berikut. Semoga bermanfaat.

“Ha ha ha, huehehe…” Si kecil Lala tertawa terbahak-bahak, tapi setelah itu dia diam dan malah bertanya “Bunda, kenapa sih orang-orang pada ngomongin
setan?” begitu pertanyaan Lala. Entah mengerti atau tidak dengan pembicaraan kami waktu itu, tapi dia ikut juga tertawa ketika kami sedang menyimak cerita
tentang setan. Ya maklumlah, namanya juga anak-anak, kadang suka ikut-ikutan nggak jelas :-) Lalu apa hubungannya pertanyaan Lala dengan masalah menyekolahkan anak?

Malam itu, di sebuah rumah yang nyaman di dekat Hornsmeer, Tuan dan nyonya rumah sedang mengadakan acara syukuran bagi kelahiran bayi mungil mereka, Dhafin. Tentu saja DeGromiest and the gang menyempatkan hadir di acara tersebut. Setelah menyantap makan malam yang lezat, dan sholat maghrib bergantian, sekelompok ibu-ibu dan juga yang belum berstatus ibu, asyik bercanda ria dan berbagi cerita. Mulai dari cerita tentang penculikan anak yang kian marak di Indonesia, kisah serunya pengalaman mbak Heni waktu dihipnotis, sampai kepada cerita tentang setannya mbak Ponky–yang membuat Yunia panik :-) dan si kecil Lala bingung.

Tak hanya sampai disitu, ada kisah menarik yang disampaikan mbak Diana dan membuat curiousity saya meningkat. “Di Jerman, ada sebuah kasus menarik, seorang anak 5 tahun dari Indonesia yang sudah bisa membaca, ternyata oleh
gurunya malah dikatakan bahwa orangtuanya telah melakukan child abuse” begitu kira-kira kisahnya.

Hal ini bagi saya menarik, karena Lala pun mengalami kasus yang sama di Belanda, tapi oleh gurunya sebaliknya malah didukung dan sedang diupayakan agar bisa naik kelas lebih cepat. Ada apa sebenarnya? Padahal Jerman dan Belanda sama-sama memberlakukan aturan, anak baru ‘diajarkan’ membaca saat usianya 7 tahun. Kalau begitu apa jadinya dengan sebagian besar
anak Indonesia ya, umumnya di usia 5 tahun mereka sudah mampu membaca bukan?

Selain itu, hal ini mengingatkan saya pada diskusi menarik–tentang masalah kemampuan membaca anak Indonesia beserta kurikulum pendidikannya–dengan mbak Ike dulu. Akhirnya, permasalahan ini saya lempar ke salah satu milis yang saya ikuti. Dari hasil diskusi itu telah dibuat resumenya, dan kebetulan ada 2 orang ibu dari Jerman yang ikut memberikan komentar.

Resumenya, silahkan dilihat disini :
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=302

Tapi bagi yang ‘malas’ membaca karena rangkumannya pun cukup panjang, saya coba untuk memberikan kesimpulan dari diskusi tersebut.

***

Kata kunci dari permasalahan di atas adalah ‘keterpaksaan’. Bisa jadi kasus di Jerman itu memang kerap terjadi. Di Jerman, perlindungan terhadap anak
memang sangat ketat. Karena disana anak baru ‘diajarkan’ membaca saat anak berusia 7 tahun, tak heran bila ketidaklaziman ini membuat mereka berhati-hati terhadap kasus yang tidak biasa. Selain itu, pendefinisian terhadap pengajaran membaca itu sendiri belum jelas. Bisa saja materi yang diberikan pada anak dibawah 7 tahun di Jerman oleh beberapa orang dikatakan bukan mengajarkan membaca. Tapi oleh sebagian yang lain hal itu sudah bisa dikatakan pengajaran membaca (proses menuju membaca).

Dari diskusi tersebut, hampir semua ibu sepakat bahwa yang disebut child abuse sebenarnya bukanlah pengajaran membacanya melainkan pemaksaannya. Ketika seorang anak enjoy-enjoy saja dan have fun dengan
pengajaran membaca, why not? Guru-guru di Jerman pun akan mengerti dan tidak akan menganggap tindakan ini sebagai child abuse bila alasan yang dikemukan jelas, bahkan mungkin akan didukung seperti yang terjadi pada
Lala di Belanda.

Apalagi bagi anak yang memang punya kemampuan otak di atas rata-rata atau memang sejak kecil sudah biasa dibacakan buku oleh orangtuanya. Mereka begitu familiar dengan huruf dan cepat sekali menyerap apa-apa yang mereka lihat. Sehingga sangat wajar bila akhirnya minat mereka untuk bisa membaca begitu besar. Pada anak-anak seperti ini, kebanyakan orangtua akhirnya ‘mengajarkan’ anak-anaknya membaca. Tetapi metodanya pun diupayakan agar sesuai dengan dunia anak–dunia bermain– dan tentu saja menyenangkan.
Karena hal-hal itulah maka tak heran bila di Indonesia, terdapat cukup banyak kasus anak-anak kecil–yang tanpa dipaksa–sudah bisa membaca.

Tapi, tentu saja yang juga patut diperhatikan adalah motivasi dibalik pengajaran orangtua pada anak-anak dengan minat besar tersebut. Betulkah memang karena minat besar si anak? ataukah lantaran keinginan pribadi yang terkait dengan proud as parents–yang bangga jika melihat anak-anaknya kecil-kecil sudah bisa membaca? Hal ini terpulang kepada hati nurani masing-masing orangtua.

Kalau tanpa dipaksa oke, bagaimana dengan yang dipaksa? Ini lah yang patut dikuatirkan dan layak disebut child abuse tampaknya. Apalagi, di Indonesia
sekolah TK yang melakukan metoda pengajaran membaca dengan paksaan ini pun cukup marak. Bahkan dibeberapa sekolah ada pula yang konsepnya ‘bermain sambil belajar’ tapi ujung-ujungnya tetap saja ‘belajar sambil bermain’ Sebagai informasi dari saya, ternyata ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa pemaksaan pengajaran membaca di usia dini, malah bisa menurunkan
tingkat IQ saat di SD kelak! Hmm pantas saja bila akhirnya dikatakan child abuse bukan?

Indonesia memang sedang ‘terkapar’ di segala bidang, termasuk pendidikan. Orangtua di Indonesia yang memiliki anak usia TK kerap bingung memilih sekolah dan bagaimana seharusnya bertindak. Di satu sisi kurikulum anak SD kelas 1 mengharuskan anak untuk sudah bisa membaca. Di sisi lain, orangtua yang sadar dan tidak ingin memaksa anaknya, tetap dihadapkan pada tuntutan tersebut. Sehingga mau tak mau tetap saja mereka harus mengajarkan anaknya membaca. Dari kondisi tersebut, akhirnya banyak orangtua yang malah meminta guru-guru TK untuk mengajarkan anaknya membaca lewat
les. Guru-guru TK pun ‘asik-asik’ saja karena malah mendapat penghasilan tambahan barangkali.

Masalah ini memang menjadi dilema bagi banyak orangtua di Indonesia. Jadi, bagi anak-anak balita yang akan bersekolah di Indonesia, tampaknya orangtuanya harus berpikir masak-masak sebelum memutuskan untuk memilih
sekolah. Keliru pilih sekolah atau main paksa sama anak , jangan heran kalau akhirnya orang-orang di negara lain malah menuduh kita telah melakukan child
abusing.


30 Menit yang Berharga

Filed under Catatan Pribadi

Minggu sore (3/4/05), bersama teman-teman deGromiest aku ke rumah Hari dan Dian di Hornsemeer. Tuan rumah mengadakan syukuran atas kelahiran Dhafin, sang calon pemimpin, yang meskipun prematur tetapi selamat dan semakin baik keadaannya. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Sang Pengasih kepada setiap hambaNya.

hehehee..

Seperti biasa kalau lagi ngumpul, selalu diwarnai dengan ngobrol ngalor ngidul, guyon sana sini, dan ngrumpi ini itu. Di atas sebuah sofa yang empuk, aku duduk bersama Pak Totok dan Mas Nandang. Di pinggirku duduk Mas Eko di kursi kecil yang agak keras, tak seempuk sofa yang menopang berat badanku. Teman-teman yang lain di kursi seberang, asyik dengan obrolan hangat yang ditemani berbagai jenis jajanan. Sementara para ibu dan mbak-mbak memilih lesehan di atas karpet, sambil menyanyikan lagu Sunda “Abdi Teh Ayeu Na” bagi Michelle. Kasihan sekali anak Teguh ini. “Didoktrin” paham Sunda oleh Uyung dan kawan-kawan.

Obrolanku sendiri bermula dari cerita Eko tentang semakin mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. Untuk biaya masuk SD di Bogor–contoh kasus anaknya Eko–sekolah mematok 10 juta. Itu pun sudah termasuk yang murah. Sedikit banyak kami membandingkan dengan kondisi di sini, sekolah yang gratis namun cukup berkualitas. Lalu diskusi mengalir ke arah penyebab mahalnya sekolah di Indonesia. Salah satunya karena kecilnya belanja sosial yang dikeluarkan pemerintah untuk kesehatan dan pendidikan. Karena anggaran yang sangat kecil untuk pendidikan, akhirnya masyarakat sendiri yang harus membayar mahal.

Nah, dari sini lah diskusi jadi makin hangat, ketika Pak Totok yang sudah kenyang dengan asam garam dunia pengambilan kebijakan, menyampaikan pandangan dan pengalamannya yang dilatarbelakangi oleh arena bermainnya di lingkaran pusat kebijakan. Tentu tak lupa diselingi dengan guyonan sana sini. Kadang-kadang komentarnya sangat tegas dan pedas. Kami membahas soal kemiskinan, data kemiskinan–di PPI baru saja ada diskusi hangat tentang data kemiskinan ini–dan soal kenaikan BBM. Terlalu panjang kalau diceritakan di sini.

Sebagai bocoran saja, inti atau moral dari pendapat pak Totok adalah bangsa Indonesia itu sudah sangat lelah tak berdaya menghadapi kronisnya penyakit yang diderita. Masalah KKN? Itu masalah klasik, tatapi itulah realitasnya. Masalah kenaikan harga BBM saja sebenarnya cukup kompleks, bukan sekedar masalah banyaknya orang miskin yang semakin miskin karena tak mampu membeli BBM. Kalau di runut dari sejarah awal subsidi BBM dan pembangunan di Indonesia, kita akan bisa melihat permasalahan yang tidak populer ini mulai berakar. Banyak perusahaan yang minta disubsidi melalui BBM. Dan hingga saat ini, perusahaan seperti itu yang paling boros meminum subsidi BBM, bukan rakyat kecil.

Sementara sebagian orang menganjurkan alternatif lain, selain dari mencabut subsidi, misalnya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, Pak Totok memperlihatkan secara sederhana betapa sulitnya borok itu diobati. Dari ujung ke ujung bisa dilihat borok tersebut di sana sini. Mau menyalahkan siapa? Pemerintah? Apa yang bisa pemerintah lalkukan untuk memberantas korupsi dalam waktu yang singkat, ketika dirinya juga termasuk dalam lingkaran penyakit?

Akhirnya beliau memberikan saran tentang apa yang bisa dan paling realistik kita lakukan. Sarannya mengingatkanku pada Gandhi yang mengajak rakyat India untuk bangkit dengan segala kemampuan yang ada, yang dimiliki masing-masing. Penting sekali bangsa Indonesia menyadari bahwa kita sedang tak berdaya melawan sang penyakit. Saling menyalahkan tidaklah banyak membantu. Yang dibutuhkan oleh tubuh bangsa ini adalah agar masing-masing anggota tubuh melakukan ’self-healing’. Melakukan yang paling baik dan paling bermanfaat yang bisa dia lakukan saat ini. Sarannya juga mengingatkanku pada konsep Aa Gym: 3M. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini juga. Beliau menekankan, itulah yang bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia, kalau bisa dari para warga, pak RT, hingga presiden. Sebagai pelajar ada yang bisa kita lakukan. Dalam lingkup keluarga juga demikian.

TIga puluh menit telah berlalu, namun diskusi rasanya masih hangat dan belum selesai. Pak Totok dan kawan-kawan dari Bappenas sebenarnya memiliki pengalaman segudang dan lebih dari itu, mereka telah mendapatkan ‘wisdom’ masing-masing yang tidak atau belum didapatkan oleh kaum muda yang sedang belajar di sini. Aku merasakan sebuah aliran “kesadaran” dari ‘pemahaman tentang kondisi global bangsa Indonesia’ yang kemudian membawa kepada ‘pilihan aksi lokal’ walaupun itu sekedar membantu kawan kita mendapatkan beasiswa. Ini sudah merupakan hal luar biasa untuk ’self-healing’.

Aku meminta kesediaan pak Totok, agar suatu saat kita bisa diskusi khusus tentang permasalahan bangsa dari sudut pandang makro dan riil ini. Dari penyebaran semangat dan pengetahuan ini, diharapkan akan mengalir sebuah semangat “Now Habit”, untuk melakukan sekecil apapun hal positif saat ini dengan sekecil apapun yang kita miliki, untuk diri, keluarga, dan bangsa. “Ada yang tertarik ndak?” tanya beliau.


Di bawah ini penjelasan tugas dan wewenang moderator mailing list De Gromiest, baik degromiest ataupun degromiest-intern.

Tugas Utama:
1. Membantu administrasi keanggotaan (membership) anggota De Gromiest di mailing list. Termasuk pekerjaan ini: pendaftaran, perubahan setting keanggotaan, berhenti sebagai anggota mailing list, dan membantu mengatasi persoalan mailing list yang dihadapi anggota.

2. Membantu kegiatan De Gromiest, seperti pemberitahuan informasi tentang Groningen, undangan kegiatan, pengingat (reminder). Berdasarkan pertemuan dengan pengurus disepakati bahwa ada “koordinator” yang menyediakan pengumuman dan undangan. Walaupun demikian, jika tidak merepotkan sangat baik sekali membantu hal ini; sila dikoordinasikan dengan pengurus/koordinator.

3. Mengakomodasi kemauan anggota dalam berdiskusi, seperti mengatur lalu-lintas diskusi (administratif), mendiskusikan usulan dari anggota tentang mailing list, dan menjadi penghubung dengan pihak luar (misalnya: ada keperluan dari pengunjung mailing list yang bukan anggota De Gromiest dan ingin kontak ke forum). Tidak berarti semua diskusi harus diikuti. Biar saja pembicaraan mengalir mengikuti kemauan anggota mailing list.

Tugas Tambahan:
1. Mengupayakan agar mailing list aktif dan menarik anggota untuk berpartisipasi.

2. Mengelola kebijakan yang lebih baik tentang mailing list; misalnya dikaitkan dengan perubahan yang terjadi di Yahoogroups, kebijakan tentang sumber daya mailing list (arsip, kalender, file-upload).

Wewenang:
Wewenang yang diberikan adalah moderator dengan otoritas penuh dalam mengatur administrasi mailing list kecuali hak menghapus mailing list dari Yahoogroups.

Salam hangat dari kami bertiga,
Moderator Oeloeng (Teguh), Wakil Moderator (Ismail Fahmi), dan Guru (Ikhlasul Amal).