Archives for “Agenda deGromiest”

Demokrasi dan de Gromiest

Filed under Agenda deGromiest

Tanggal 18 September Avond kemarin telah terjadi pemilihan ketua de Gromiest untuk periode 2004-2005. Pemilihan tersebut berlangsung cukup Demokratis dengan musyawarah mufakat. Demokratis pada kalimat sebelumnya dicetak miring, karena kemudian muncul sedikit pertanyaan menggelitik dalam benak, Demokratis itu, dus Demokrasi itu apa sih? apa iya, bahwa pemilihan ketua yang diserahkan pada tim formatur demokratis? bukankah sebagian besar anggota de Gromiest yang tidak termasuk tim formatur kehilangan hak suaranya? dalam pemilu di tanah air saja seorang Profesor Doktor dengan seorang yang tidak pernah sekolah saja memiliki hak suara yang sama!

Plato dalam republik utopianya memang pernah memberikan solusi, ditengah-tengah kekecewaannya mengenai keadaan negerinya pada saat itu, bahwa pengambilan keputusan dalam menentukan nasib negara, termasuk memilih pemimpin negara tersebut diberikan hanya kepada orang-orang yang memiliki kompetensi untuk itu. Pendek kata, politik oleh golongan elit. Sehingga orang-orang yang kurang berpendidikan, yang tidak punya cukup pengalaman kehilangan hak pilihnya dan kehilangan haknya dalam menentukan kebijakan negara. Kemudian, pertanyaan tadi malah lebih menggelitik : “apakah dengan demikian anggota tim formatur lebih memiliki kompetensi dalam mengatur dan merencanakan kegiatan de Gromiest daripada anggota yang lain?” Masa iya? pastinya ada orang yang memiliki kapabilitas lebih di luar tim formatur… toch?

Ternyata, langkah yang diambil de Gromiest dengan tim formaturnya adalah suatu hal yang sedikit berbeda dari apa yang dikatakan plato dalam republik utopianya diatas. Suara dari sekian banyak anggota de Gromiest diwakilkan kepada anggota tim formatur yang dianggap mewakili aspirasi anggota yang mengajukannya. Mirip dengan pelajaran tata negara atau PPKN /PMP di sekolah ? hehe.. tidak begitu.. karena tim formatur bukan DPR. Tugas tim ini hanya sekali selesai, tidak berjalan beriringan dengan ketua dan kabinetnya. Akan tetapi memang disini terlihat sekali ada Demokrasi Perwakilan. Tetapi, bukankah dengan keanggotaan yang tidak sampai satu kelurahan bisa diadakan demokrasi langsung? pemilihan presiden untuk suatu negara yang berpenduduk di atas 200 juta pun bisa dengan pemilihan langsung kan? makin menggelitik rupanya pertanyaan-pertanyaan yang mulai berdatangan ini.

Mungkin pada saat penentuan teknis pemilihan ketua hal ini belum terpikirkan oleh sebagian atau malah semua anggota degromiest. Dengan terbentuknya formatur, pertukaran pemikiran dapat dilaksanakan dengan lebih dalam, dan lebih cepat, karena tidak terlalu banyak yang didengarkan pendapatnya. Bandingkan dengan apabila diskusi dilakukan dengan seluruh anggota de Gromiest,.. pasti, selain yang benar-benar berdiskusi, ada grup-grup tertentu yang bergosip, mencicip makanan, atau sekedar nonton tivi .. sehingga kurang efisien. Dengan diskusi dan keterbukaan, kepemimpinan de Gromiest kali ini terlaksana dengan musyawarah mufakat dan bukan voting. para kandidat pun ditanya dulu kesediaannya untuk menjadi ketua, sehingga benar-benar dengan kelapangan hati, atas konsensus semua. Sehingga yang terjadi kemarin malam adalah suatu penggabungan yang cantik antara demokrasi perwakilan dan musyawarah mufakat.

Kemudian muncul pula pemikiran, bahwa apabila yang terjadi kemarin malam itu dipraktekkan dalam level negara, mungkin dapat memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi bangsa indonesia yang menurut sebagian orang sedang berada dalam ambang kehancuran. Apakah mungkin? perbandingan suatu organisasi skala de Gromiest dengan skala Republik Indonesia mungkin ibarat membandingkan manusia dengan quark-quark yang menyusun manusia itu sendiri.. apakah patut diperbandingkan? Tetapi, ada baiknya bila kita tilik ke belakang menyusuri waktu, tidak terlalu jauh sampai pada saat bumi dan langit masih menyatu, tetapi jauh setelah “Big Bang”, yaitu pada saat munculnya demokrasi.

Demokrasi, suatu kata yang seringkali kita dengar pada masa sekarang ini, terutama di CNN atau Fox news, kala seorang George W. Bush memberikan justifikasi penyerangan ke Irak. Tetapi apa sih Demokrasi? Ingat-ingat dari pelajaran SMA, asal katanya adalah Demos dan Kratos. Demos, artinya rakyat, sedangkan Kratos adalah kekuatan (morfologi ke dalam bahasa belanda menjadi “kracht” walaupun dalam konteksnya saat ini lebih pas kalau diartikan dengan “macht”). Mudah untuk menebak kelanjutannya ceritanya, bahwa dalam demos kratos di yunani ini, yang berangkat dari pemikiran filsuf-filsufnya, diangkat dan dipraktekkan dalam kehidupan bernegara dengan sistem one man one vote. Sehingga arah kebijakan negara benar-benar mengikuti keinginan mayoritas penduduk suatu negara. Keadaan ini kurang disukai Plato, karena dengan demikian, negara berada ditengah ombang-ambing kemauan penduduknya, sedangkan belum tentu kemauan penduduknya walaupun mayoritas adalah benar dan terbaik. Apabila suatu saat mayoritas rakyat menginginkan perang sedangkan tidak cukup sumberdaya untuk itu, maka pasti negara akan kalah, namun karena itu kemauan rakyat, maka harus dilaksanakan. Plato kemudian berpikir, bahwa diperlukan suatu standar tertentu, patokan tertentu, untuk membatasi keterombang-ambingan tersebut. Siapakah yang menentukan standar tersebut? tentu orang-orang pintar nan cerdas pada saat itu (padahal sih, mereka kan juga bisa terombang-ambing ya..). Merekalah yang kemudian oleh Plato diposisikan sebagai para pengambil keputusan yang paling kompeten, sehingga tidak ada hak pilih bagi kelompok di luar mereka.

Demokrasi model Plato memang hampir, atau malah tidak pernah terpakai. Karena, terutama pada zaman sekarang ini, hal itu pasti akan dilihat sebagai pemasungan HAM. Padahal, kalau kita mau kembali pada keadaan dimana semua konsep pemikiran di dunia ini belum ada, (mirip pada keadaan dimana materi itu belum ada… hehe), HAM itu apa sih? siapa yang mematok standarnya? demikian sering didengung-dengungkan.. tapi apa sih patokan HAM itu? siapa yang membuat patokannya? mudah sekali orang berteriak pelanggaran HAM sekarang ini.. tapi apakah yang berteriak itu tahu apa hakikat HAM itu sebenarnya? tetapi kembali kita ke Demokrasi. Demokrasi di Yunani kemudian berevolusi menjadi demokrasi yang kita kenal sekarang dengan segala variasinya. Sehingga, dengan hal-hal lain produk yunani, negara (atau lebih tepat wilayah) ini sering disebut sebagai “craddle of western civilisation”. Western? memangnya ada yang bukan western ya? Syura.. bukan western. Kesimpulan sampai saat ini, setelah membaca beberapa literatur, inti dari Syura itu sendiri sebenarnya mirip dengan Demokrasi, walaupun Syura bukanlah demokrasi! ada suatu perbedaan besar, selain dari awal munculnya, yaitu pada zaman Rasulullah, Syura selalu mengakar kepada Al Qur’an dan Hadits. Sehingga selalu ada patokan pelaksanaan, dan tidak terombang-ambing dibawa arus keinginan mayoritas, (tentunya apabila rakyatnya ikut patokan). Sehingga tidak diperlukan Utopianisme Plato.

Yang menjadi permasalahan pada masa kini adalah pengkultusan dan pencatutan nama dan semangat Demokrasi itu sendiri. Ada demokrasi sosialis, ada demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila, dan entah apalagi. Mungkin hal ini disebabkan, apabila ada yang menggunakan nama lain, seperti misalnya pemerintahan sosialis, pasti akan dimusuhi barat. kata-kata demokrasi adalah suatu kata yang keramat, yang kalau tidak disebut, akan mengakibatkan ke”sengsaraan”.. mirip dengan kata-kata pembangunan dan orde baru di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Sehingga, si negara yang katanya kuat itu, mencatut demokrasi sebagai alasan pembenar menyerang Irak.. to uphold democracy .. katanya..

Padahal, kalau memang mau jujur, melihat pemikiran plato dan perkembangan negara-negara di dunia, Demokrasi dengan pengertian yang berlaku umum pada masa kini (kekuatan dan kemauan mayoritas) itu bukan harga mati. Demokrasi, dengan semangat people powernya memang merupakan suatu sistem pengambilan keputusan dan pemerintahan yang baik. Tetapi apakah demikian pada semua situasi dan kondisi? Bagaimanapun demokrasi yang dikenal luas dan “sepertinya” dipraktekkan sekarang ini adalah produk barat. Dengan demikian, mengusung nilai-nilai dan diwarnai oleh kultur barat, craddlenya. Bukan berarti semua produk barat itu buruk, namun, dalam ilmu sosial, penerapan suatu sistem nilai yang sama sekali asing ke dalam suatu kebudayaan yang sama sekali berbeda seringkali menemui kegagalan. Nilai tersebut, harus diadaptasikan dahulu kedalam sistem nilai yang berlaku, baru kemudian bisa diintegrasikan. Ibarat rice cooker miyako yang dibawa ke Inggris, harus dicarikan adapter dengan 3 colokan dahulu, baru bisa digunakan. Sebagai tambahan saja, studi hukum pun juga mengenal legal culture, dimana tidak bisa hukum dari suatu negara ditransplantasikan begitu aja ke negara lain. Harus memperhatikan legal culturenya juga, atau sistem itu akan menemui kegagalan, atau permasalahan yang cukup pelik. Paling tidak dalam ilmu hukum, sudah terbukti secara empiris. Sehingga, Demokrasi, apabila memang mau diterapkan, perlu adaptasi terlebih dahulu.

Dalam suatu organisasi setingkat negara pada masa kini, memang sulit untuk mewujudkan terjadinya mufakat dari sekian ratus juta rakyatnya. Demokrasi perwakilan sudah pernah kita cicipi. Dan secara empiris, tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mengapa? mungkin dikarenakan paling tidak ada 2 hal yang melenceng pada saat pelaksanaan. Pertama, rakyat yang memilih wakilnya tidak mengetahui kapasitas si wakil. Dahulu kita memilih partai. Sekarang sudah lebih baik.. sedikit. Kita memilih orang. Apa kita kenal orang itu? apa mereka sudah berbuat untuk kesejahteraan rakyat? bagaimana profilnya? apakah mereka se-aspirasi dengan kita? apakah mereka pantas dipilih? sulit untuk menjawabnya, karena kurangnya input untuk diproses. Dahulu para pilihan kita itu memilih presiden bak tim formatur de Gromiest memilih ketua. Permasalahan kedua muncul pula disini. Tidak amanahnya para wakil kita tersebut, membuat musyawarah mufakat untuk kepemimpinan 32 tahun tidak berganti. Musyawarah ini dapat dikatakan semu.. karena begitu di”merdeka”kan dari tekanan, baru kelihatan aslinya, semua memiliki keinginan yang berbeda-beda. Sekali lagi sulit untuk mengatur hal-hal seperti ini dalam organsisi setingkat negara. Beruntung pada organsisasi setingkat quark seperti de Gromiest, si pemilih mengenal langsung sang wakil dalam formatur, dan sang formatur, Insya Allah bertindak amanah dalam menjalankan tugasnya. Tadi malam itu adalah contoh demokrasi perwakilan yang baik sistem dan pelaksananya berjalan sebagaimana rencana.

Sekarang ini kita memilih langsung presidennya, tidak melalui wakil lagi. Tetapi, apakah pilihan itu tepat? bebas ? merdeka? objektif? sepertinya kita belum bisa mewujudkan kebebasan memilih itu. Dahulu kita terkungkung tekanan. Sekarang, kita terkungkung money politics, penampilan kandidat, ikut-ikutan orang karena tidak mengerti, sehingga akhirnya pemilihan presiden tak ubahnya Akademi Fantasi atau Indonesian Idol, minus nyanyi. Semua ditentukan popularitas, kita terkungkung popularitas sehingga penentuan bukan didasarkan kompetensi. Bedanya pemilihan presiden di TPS, kalau AFI atau Indonesia Idol bisa lewat SMS. Mungkin sebagian dari kita ada yang merasa tidak terkungkung. Benar. Terutama kita yang beruntung telah mengecap pendidikan yang jika dibandingkan dengan seluruh rakyat Indonesia, cukup tinggi. Tetapi bayangkan rekan-rekan ditanah airkita yang hingga kini, setelah beberapa kali pergantian presiden masih belum juga bisa baca tulis, (apalagi baca email dan mendiskusikan spam), yang tidak tahu menahu berita di pusat kekuasaan Jakarta, tiba-tiba harus memilih presidennya. Bagaimanapun salah satu sendi dasar demokrasi adalah pemberitaan yang memadai mengenai situasi dan kondisi kepemimpinan dan kenegaraan, dan pemberitaan ini mencapai dan dimengerti oleh rakyat. (Para pencinta game Civilization III pasti mahfum, kalau mau mengganti sistem pemerintahan dengan demokrasi, harus memiliki dahulu teknologi berita cetak!) ..Berapa banyak dari yang bisa membaca, tetapi kemudian tidak mengerti? Dalam kebingungan dan akhirnya ketidakpeduliannya, 5 atau 10 Euro mungkin sudah lebih dari cukup untuk menentukan pilihan.

Demokrasi, ataupun Syura, mungkin merupakan suatu sistem yang dirasakan “teradil” yang dapat dihasilkan manusia,.. saat ini. Namun, bukan berarti, sistem teradil ini tanpa kekurangan. Banyak sekali kekurangannnya, sehingga perlu diadakan perbaikan disana-sini, ibarat microsoft berulang kali mempublikasikan “patch” untuk internet explorer. Dan bukan tidak mungkin, pada suatu ketika, saat makin banyak “patch” yang dibutuhkan, mungkin lebih baik untuk membangun internet explorer dari awal. Mungkin Demokrasi juga perlu kita bangun dari awal agar lebih memenuhi kebutuhan kita. de Gromiest, paling tidak tadi malam telah menyumbang kepada khazanah demokrasi, bahwa pakem umum yang berlaku dapat diubah dan dapat menghasilkan keputusan yang diterima semua orang. Mungkin masih lama evolusi untuk dapat menghasilkan Demokrasi gaya baru. Tetapi paling tidak, Quark menyusun atom, atom menyusun molekul, molekul menyusun protein, protein menyusun sel, dan sel menyusun manusia. Mungkin berhasil, mungkin tidak, tetapi de Gromiest telah memulai.


Tulisan ini sumbangan dari Sdr. Andreas Ismar.

17 Agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka Nusa dan Bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia?..

Jika anda mengingat kembali masa2 sekolah anda di Indonesia, maka lagu di atas tentunya tidak menjadi asing lagi di telinga. Lagu tersebut hampir selalu dikumandangkan di setiap upacara bendera, hari-hari besar nasional dari mulai Istana Merdeka hingga gang-gang kecil di pelosok. Bahkan lagu tersebut makin sering terdengar menjelang Peringatan Proklamasi kemerdekaan kita yang lebih popular dikenal dengan tujuhbelasan.

Tidak berbeda dengan kampung halaman, gegap gempita yang sama juga dirasakan oleh masyarakat Indonesia di segala penjuru dunia. Setiap kedutaan NKRI mengadakan berbagai acara pada hari ?sakral? tersebut di berbagai negara, tak jarang berlangsung marathon selama beberapa minggu; dan tak terhitung berapa banyak lagi yang diadakan oleh berbagai penyelenggara. Di Groningen, utara Belanda, beberapa pelajar merasa kegerahan menjelang tujuhbelasan. Kerinduan akan suasana kampung halaman dan berkumpul bersama menjadi pendorong untuk mengadakan acara. Bak gayung bersambut, hal serupa juga dirasakan oleh berbagai individu dalam komunitas ini. Gerah menjadi gairah.

Kegairahan yang nyata terlihat dalam setiap lomba, dan dari wajah-wajah partisipan. Acara tersebut sendiri diadakan pada hari Minggu, 15 Agustus di kawasan Zernike Complex, lokasi kampus RuG dan Hanze, dengan jumlah partisipan mendekati 70 orang. Rangkaian acaranya meliputi lomba-lomba: makan kerupuk, balap kelereng, tarik tambang, sepakbola sarung dan memasukkan pensil ke botol, nyanyi-nyanyi dan pembagian hadiah. Sementara para peserta terbagi atas kaum pelajar, keluarga yang telah menetap lama, dan warga Belanda yang afektif terhadap Indonesia. Yang paling mengagumkan adalah mungkin usia mereka. Dari yang berusia 4 tahun hingga 50-an, semua aktif ikut lomba. Suasana akrab dan lepas, walaupun banyak dari mereka yang baru kenal, mendorong partisipan menjadi aktif, atau beberapa orang mungkin mengatakan: tidak tahu malu! Pernahkan anda membayangkan ibu-ibu berusia 50 tahun ikut balap kelereng di RT anda? Atau bapak-bapak yang melahap kerupuk dengan rakusnya?

Yah, memang acara ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang ada di Indonesia. Bahkan tambang untuk lomba sendiri dibuat dari lipatan-lipatan gorden rumah! Acara yang dimotori oleh de Gromiest (Groningen Moslem Society) ini dapat dibilang merupakan proyek nekat, mengingat belum pernah diadakannya acara serupa, keterbatasan dana, lokasi serta mepetnya waktu persiapan. Namun, di balik segala keterbatasan dan hambatan, acara tersebut berhasil menyatukan berbagai insan dalam sebuah kegairahan massal. Kegairahan tanpa batas-batas usia, suku, agama bahkan kewarganegaraan. Kami direkatkan menjadi satu keluarga. Kesatuan dalam kegairahan terhadap Indonesia, kerinduan dan harapan akan negeri kita. Terdengar seperti sebuah istilah PMP? Nasionalisme, kalau tidak salah?

Bukan di tengah gemerlapnya panggung, atau kemegahan lapangan upacara; namun justru pada acara kecil ini hatiku berteriak: ?Hidup Indonesia!?. Selamat ulang tahun Indonesia, selamat ulang tahun negeriku tercinta. (ism)

?.Kita tetap setia, tetap sedia?


(Tulisan ini awalnya dikirim ke PR, tapi…)

“Satu..dua..tiga..mulai!” teriakan seorang panitia lomba menggema di lapangan berumput hijau Hanzeborg Zernike complex, ketika mengawali pertandingan tarik tambang pria. Tarik-menarik tali dengan jumlah peserta lima lawan lima orang ini berlangsung cukup alot selama beberapa detik. Namun tiba-tiba…’tass….!’ tali itu putus dan tubuh-tubuh kekar berjumpalitan jatuh ke tanah. Salah seorang peserta meringis kesakitan akibat terkena lecutan tali yang putus. Peserta lain tesenyum-senyum sambil menahan nyeri akibat jatuh. Walaupun demikian baik peserta, panitia dan pengunjung yang hadir malah merasa terhibur dan tertawa-tawa menyaksikan adegan yang cukup seru dan lucu ini. Tali putus? kok bisa? Tentu saja, karena tali yang dipergunakan untuk perlombaan tarik tambang itu ternyata adalah… kain gorden!

Tak ada rotan akar pun jadi, demikian kata pepatah. Pepatah ini betul-betul digunakan oleh panitia penyelenggara perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-59 di kota Groningen. Mengingat sempitnya persiapan waktu, pencarian lokasi, serta dana yang terbatas, pihak panitia harus menggunakan dana seefektif dan seefisien mungkin. Karena harga tambang cukup mahal di kota ini, akhirnya panitia memutuskan untuk menggunakan kain gorden rumah yang sudah tidak terpakai untuk dijadikan tali tambang. Kain gorden dipotong memanjang, kemudian dijalin dan diikat sedemikian rupa sehingga dianggap cukup kuat untuk dijadikan tali yang menyerupai tambang.

Sehari sebelum acara, 4 orang mahasiswa yang sedang mengambil program PhD di Universitas Groningen, 1 orang mahasiswa Master fisika teoretis, 1 orang mahasiswa S1 ekonomi bisnis, dan 1 orang profesional pengeboran lepas pantai, mendesain dan “menyulap” kain gorden menjadi tali tambang. Saat dilakukan uji coba, tali dianggap dapat berfungsi dengan baik sehingga panitia optimis perlombaan tarik tambang tetap dapat dilaksanakan. “Tak ada tambang, gorden pun jadi” ujar panitia dengan penuh keyakinan.

Sebelum perlombaan tarik tambang pria, tali ini sempat digunakan oleh peserta wanita dan berjalan lancar walaupun satu dari tiga kain yang dijalin sempat putus. Setelah panitia memperbaikinya, perlombaan dilanjutkan dengan kaum pria yang notabene memang jauh lebih kuat. Ternyata sang tali tak sanggup bertahan melawan tarikan para pria dan benar-benar putus. Namun, saran jitu dari seorang panitia yang di kota ini sedang mengambil program Phd bidang biokimia, telah membuat pertandingan tetap berjalan. Tambang yang putus pun menyatu kembali dan pertandingan tetap berlangsung dengan seru walaupun harus mengurangi jumlah peserta.

Itulah gambaran sekilas tentang perlombaan tarik tambang di kota Groningen Belanda oleh masyarakat Indonesia dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI ke-59. Peringatan dilaksanakan pada hari minggu tanggal 15 Agustus 2004. Tanggal tersebut dipilih semata-mata karena acara tidak mungkin dilaksanakan pada hari kerja. Perayaan hari kemerdekaan RI di kota ini baru pertama kali dilaksanakan. Mengorganisir suatu acara memang bukan perkara mudah. Terlebih lagi dengan kesibukan dan jadwal kegiatan yang padat dari tiap warga Indonesia. Barangkali itulah yang menjadi alasan mengapa kegiatan seperti ini tidak pernah diselenggarakan di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya warga Indonesia di Groningen yang berminat merayakan hari kemerdekaan akan bergabung ke kota lain. Delft maupun Den Haag yang berpenduduk Indonesia lebih banyak dan telah rutin mengadakan acara perayaan hari kemerdekaan setiap tahunnya, sering menjadi pillihan bagi warga Indonesia di Groningen. Namun, kendala jarak dan biaya menyebabkan tidak semua warga Indonesia dapat menyempatkan diri pergi ke kota tersebut. Karena itulah panitia berusaha merealisasikan perayaan hari kemerdekaan di kota ini.

Walaupun acara dilaksanakan dengan segala keterbatasan, perayaan berlangsung cukup meriah dan dihadiri oleh sekira 70 orang masyarakat Indonesia yang tinggal di propinsi paling Utara Belanda ini. Ismail Fahmi, selaku ketua panitia acara sekaligus ketua deGromiest (perkumpulan warga muslim asal Indonesia di kota Groningen), yang sedang mengambil program Phd bidang Computational Linguistic mengatakan, â??Perayaan ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan di antara warga Indonesia serta yang berjiwa Indonesia di Groningen. Acara ini juga diharapkan dapat mengobati kerinduan masyarakat Indonesia yang sudah lama berada disini, agar tidak lupa akan Indonesia dan tetap cinta pada negerinya.â?? Ujar Ismail.
â??Ide awal acara sebetulnya dimulai dari diskusi anggota deGromiest. Jauh lebih baik mengadakan acara perayaan sendiri ketimbang harus pergi ke kota lain. Mengingat cukup banyak warga Indonesia yang tinggal di Groningen, dan sama sekali belum pernah diadakan acara peringatan hari kemerdekaan setiap tahunnya, maka deGromiest merasa perlu mengadakan acara semacam ini. DeGromiest memutuskan untuk menjadi pioneer, dan mengkoordinasi serta mendanai acara kali ini. Sebetulnya ini termasuk proyek nekat, mengingat waktu untuk mempersiapkan hanya seminggu, pencarian lokasi yang cukup merepotkan dan dana yang terbatas. Tetapi alhamdulillah acara dapat berjalan lancar disertai cuaca yang juga sangat mendukung. Padahal biasanya cuaca sering diwarnai hujan karena musim panas tahun ini memang agak berbeda dari sebelumnya.â?? Demikian keterangan Ismail.
Dalam peringatan kali ini, deGromiest mengajak berbagai kalangan yang bersedia untuk menjadi panitia. Sebagian besar panitia terdiri dari mahasiswa, baik muslim maupun non muslim, serta beberapa warga Indonesia yang sudah lama menetap dan bekerja di Groningen. Peserta yang datang adalah masyarakat Indonesia maupun yang berjiwa Indonesia. Terbukti ketika acara berlangsung tampak hadir beberapa warga belanda yang beristrikan atau bersuamikan warga Indonesia, bahkan juga warga Belanda yang merasa memiliki keterikatan dengan Indonesia, dan sangat peduli terhadap warga Indonesia.

Salah satunya adalah Pak Bein (Profesor Beintema), yang merupakan pakar dalam bidang biokimia. Pak Bein cukup fasih berbahasa Indonesia dan mempunyai keterikatan batin yang kuat dengan Indonesia. Pada tahun 1966-1967 beliau pernah tinggal di Indonesia dan menjadi dosen di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Sejak saat itu hingga kini, beliau sering pulang-pergi Groningen-Indonesia untuk mengadakan kerjasama dalam proyek-proyek di Indonesia, dan membantu pengiriman mahasiswa serta staf-staf peneliti Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Universitas Groningen. Beliau juga merupakan salah satu pendiri jurusan kimia di Fakultas MIPA Unpad Bandung. Saat ini beliau sudah pensiun tetapi tetap aktif menjadi pembimbing bagi peneliti-peneliti di bidang biokimia.

Selain pak Bein, hadir pula seorang nenek warga Belanda bernama Ans, yang tetap semangat dan energik mengikuti lomba balap kelereng serta tarik tambang. Perlombaan yang diselenggarakan memang terbuka bagi segala usia, mulai dari 2,5 tahun sampai 64 tahun seperti Ans. Bukan saja tarik tambang serta balap kelereng, acara ini juga diwarnai perlombaan lain seperti lomba makan kerupuk, lomba memasukan pensil ke dalam botol, lomba sepak bola dengan kostum sarung dan mata ditutup kain hitam ala bajak laut.

Acara puncak yang sekiranya diisi dengan lomba sepak bola ala bajak laut ternyata tidak menjadi puncak. Pengunjung merasa lebih puas dengan acara lomba tarik tambang yang putus. Selain itu karena siang telah menjelang, beberapa pengunjung sudah tampak gelisah tak bisa â??kompromiâ?? dengan perut mereka. Akhirnya, panitia segera menghidangkan makan siang dengan menu ala Indonesia seperti bakmie goreng dan kerupuk. Panasnya mentari musim panas pun segera hilang begitu melihat panitia menyediakan semangka merah menggiurkan yang membuat air liur menetes. Beberapa warga juga ada yang berbaik hati membawakan kolak, wajit serta kue lumpur khas Indonesia yang langsung laris-manis â??diserbuâ?? pengunjung.

Setelah perut tak lagi â??bernyanyiâ??, acara dilanjutkan dengan pembagian hadiah bagi pemenang lomba. Pemenang diminta naik ke atas podium sederhana yang disusun dari kayu dan kursi bekas pungutan berwarna merah. Kontainer sampah yang kebetulan berwarna merah putih menjadi latar belakang podium dan cukup mengesankan bahwa podium tersebut memang sengaja dibuat dengan latar belakang merah putih. Setelah pembagian hadiah selesai, semua warga berkumpul mengelilingi podium dan bernyanyi bersama menyanyikan lagu-lagu kebangsaan Indonesia serta lagu-lagu kenangan. Diiringi petikan gitar, lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan cukup syahdu dan memunculkan getar-getar kerinduan akan tanah kelahiran. Rasanya masih ingin bernyanyi dan mengingat kembali kenangan indah tentang Indonesia. Namun, waktu jua lah yang memisahkan. Acara diakhiri dengan foto bersama dan teriakan merdeka !.

Walaupun di negeri orang dengan acara yang sederhana, bahkan tali tambang pun terbuat dari kain gorden, namun peringatan kali ini menyimpan banyak kenangan dan makna. Tambang gorden telah menyatukan segenap insan, tanpa mengenal batas usia, perbedaan warna kulit, kewarganegaraan dan agama. Semua bersatu dalam gelak tawa dan kesyahduan, mengobati kerinduan akan kampung halaman, serta menambah kecintaan pada Indonesia. Selamat ulang tahun Indonesia. Meskipun jauh di negeri orang â??engkauâ?? tak akan kami lupakan dan tetap kami banggakan.

Tanah airku, tidak kulupakan.
Kan terkenang selama hidupku.
Biarpun saya pergi jauh.
Tidak kan hilang dari kalbu.
Tanah ku yang kucintai,….engkau kuhargai.

Walaupun banyak negri kujalani,
yang mashyur permai dikata orang.
Tetapi kampung dan rumahku,
disanalah ku rasa senang.
Tanah, ku tak kulupakan….
engkau kubanggakan…

(Agnes Tri H)

Foto-foto 17-Agustusan:

http://ferry.degromiest.nl/Gallery/17an-20040815/index.html (Koleksi Bung Ferry)
http://atijembar.degromiest.nl/album/thumbnails.php?album=22 (Koleksi Indra M)
http://ario-perdana.fotopic.net/c267258.html (Koleksi Ario, Tukang Bola)


Tambang Gorden pun Putus!

Filed under Agenda deGromiest

tariktambang.jpg Tambang yang dibuat dari bahan gorden, didesain oleh 4 orang PhD, 1 orang Master fisika teoretis, dan 1 orang profesional pengeboran lepas pantai itu, ternyata langsung putus. Hanya dalam sekali tarik, group tarik tambang wanita telah memutuskan satu dari tiga tali yang dipintal jadi tambang. Akhirnya tambang pun benar-benar putus setelah group laki-laki berikutnya menarik dengan lebih kuat. Badan-badan kekar itu pun langsung berjempalitan, bergulung-gulung, jatuh ke tanah. Namun, saran jitu dari pakar biokimia telah membuat pertandingan tetap berlangsung. Tambang yang putus itu pun menyatu kembali.

Alhamdulillah, acara 17-Agustusan yang dipersiapkan dalam waktu yang sangat singkat, satu minggu, berjalan dengan sukses. Diikuti oleh lebih dari 50 orang, terdiri dari mahasiswa, warga Indonesia, dan warga belanda yang memiliki hubungan kuat dengan Indonesia. Dari anak-anak hingga kakek dan nenek menikmati acara yang baru pertama kali dilaksanakan di kota Groningen ini.

Cuaca juga sangat mendukung. Dimulai dengan pagi yang sangat cerah, dan ketika terik, mendung datang memayungi pertandingan di lapangan. Setelah selesai pertandingan bola, mendung gelap pun pergi, hingga sinar mentari menyinari arena lagi. Membuat hawa sedikit panas, tapi juga membuat selera makan meningkat begitu melihat potongan-potongan semangka merah yang sangat manis disajikan.

Semua pertandingan akhirnya berhasil dilaksanakan dengan baik. Meski demikian, ada banyak kekurangan sekaligus juga kelebihan dari acara ini. Seperti, acara yang baru bisa dimulai pada pukul 11. Semula diharapkan mulai 30 menit lebih awal. Karena jumlah peserta hanya 50, tidak memungkinkan dibuat pertandingan secara paralel. Semua berjalan beriringan, sehingga waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama. Dan banyak hal lain yang perlu dievaluasi dan didokumentasikan. Ini penting sekali untuk pelaksanaan acara serupa di tahun mendatang.

Oleh karena itu, melalui forum meja Cafe ini, kami mengundang teman-teman yang melihat pelaksanaan acara 17-an kemaren, untuk memberikan evaluasi berdasarkan pandangan masing-masing. Dengan memposting melalui komentar di bawah, diharapkan evaluasi akan lebih demokratis, komprehensif, dan terdokumentasi.

Silahkan.. berikan evaluasi dan komentar anda di bawah ini. Dan, terimakasih banyak atas partisipasinya dalam acara 17-Agustusan kemaren.

Merdeka!


Salam perjoeangan!!
17 Agustus hari kemerdekaan kita bung!!

Kepada para mahasiswa dan warga Indonesia dan yang berjiwa Indonesia di Groningen, bersama ini dioemoemkan, bahwa perayaan 17-Agustus di Groningen akan diselenggarakan pada:

Hari : Minggu
Tanggal : 15 Agustus 2004
Jam : 09.00 s/d selesai
Tempat : Di Gedung dan Lapangan Gedung Biru Hanzeborg
(let op: lokasi berubah dari yg diumumkan
sebelumnya)

Alamat : Zernikeplein 23 (depan), Grouwelerie 6 (belakang)

Rute ke lokasi
————–

- Sepeda :

Lewat fietspad crematorium: lurus, lewat
samping/belakang Natuurkunde/Scheidunde lab, Jl. Nijenborg,
gedung tentament masih terus sedikit.

atau

Lewat Zernikelaan: lurus sampai pemberhentian bis terakhir,
sebelah kanan ada gedung biru (Hanzeborg).Samping gedung tsb
ada jalan sepeda, belok kiri untuk kelokasi.

- Mobil:

Masuk Zernikecomplex, lewat Zernikelaan lurus, sebelum
pemberhentian bis, ada tembok merah sebelah kanan jalan,
belok kanan, masuk Nijenborg, terus belok kiri
Grouwelerie.

Rancangan Acara:
—————-

+ Lomba-lomba:
- Tarik Tambang (dewasa)
- Balap Kelereng (anak2 & dewasa)
- Makan Krupuk (anak2 & dewasa)
- Masukin pensil ke botol (anak2 & dewasa)

(pendaftaran dilakukan di lokasi)

+ Pertandingan Hiburan:
- Sepak Bola Sarung

+ Pemberian hadiah bagi pemenang lomba
dan partisipan

+ Menyanyi bersama, lagu-lagu perjuangan dan kenangan.
(teks lagu akan disiapkan panitia)

+ Foto2 bersama.

+ Makan bersama.

RAPAT PANITIA

Bagi temen2 yang berkenan membantu menjadi panitia, bersama ini kami
mengundang untuk rapat koordinasi terakhir menjelang acara, pada:

Hari : Jum’at
Tanggal : 13 Agustus 2004
Jam : 18.00 s/d selesai
Lokasi : Rumah Mbak Heni
Concordiastraat 67a (Paddepoel)

Mari kita sukseskan acara peringatan 17-Agustus, hari kemerdekaan
negara kita tercinta.

Wassalam.


Rencana 17-Agustusan 2004

Filed under Agenda deGromiest

Salam Merdeka!

Ada sebuah tanggal, yang jika kita mendengarnya, akan kita rasakan aliran semangat orang2 terdahulu…hingga kini. Yang menjadi titik pertemuan sekaligus perpisaan status, antara negara kita dengan negeri yang kita diami saat ini. Antara Indonesia dan Belanda.

Tanggal itu adalah 17-Agustus.

Dan kita sebentar lagi akan melewatinya.

Konon, seorang teman baru bisa merasakan bahwa ada ‘cinta’ dalam dirinya kepada sang ibu pertiwi, ketika berada jauh di perantauan, di negeri orang. Ketika berada di sini. Air matanya menetes, setelah lama tidak mendengar lagu kebangsaan dinyanyikan. Itulah cinta. Sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Sebuah Anugerah yang mendorongnya untuk berbuat ’sesuatu’ bagi negerinya.

Mari, kita datangi ‘cinta’ itu. Mari.. mari kita bersama-sama, merasakan dan menemukan ‘dia’ di dalam hati kita. Mari kita lihat ‘dia’ di hati saudara-saudara kita yang sudah lama meninggalkan negeri kelahirannya. Mereka sudah tidak bisa membayangkan seperti apa sekarang Indonesia, tetapi masih cinta dengan ‘Garuda Pantjasila’.

—————————————————

15 Agustus 2004
Di Taman Depan Masjid Selwerd
Mulai jam 09.00 s/d 14.00

PERAYAAN 17-AGUSTUSAN
WARGA INDONESIA DAN YG BERJIWA INDONESIA
DI GRONINGEN

Berbagai lomba akan digelar:
- Tarik Tambang
- Makan Krupuk
- Balap Kelereng
- Masukin Pensil ke Botol

Dan sebuah grand permainan:
“Pertandingan Sepak Bola Sarung”

Nikmati juga sajian sate dan masakan
khas kontribusi peserta keluarga.
—————————————————

Kepada Teman-teman mahasiswa Indonesia di Groningen, dipersilahkan partisipasinya, baik menjadi peserta maupun panitia di lokasi acara. Berikut ini adalah susunan penanggung jawab dan acaranya. Semua acara masih membutuhkan bantuan panitia pelaksana.

Untuk temen2 PPI, partisipasi sbg panitia akan dikoordinir oleh “Bung Andre”.

Tugas panitia di masing2 acara adalah:
- menyiapkan aturan main
- menyiapkan perlengkapan
- membuka pendaftaran di lokasi acara
- menyelenggarakan lomba
- menentukan pemenang

———————————————-
RAPAT PANITIA TERAKHIR, AKAN DILAKSANAKAN

13 Agustus 2004
Jum’at, jam 18.00
Di Concordiastraat 67a
Rumah Mbak Heni Rachmawati
———————————————-

Berikut ini detail rencana, berisi susunan lomba, info, dan penanggung jawabnya. Tanda ‘??’ artinya masih perlu keikutsertaan temen2 sebagai panitia.

Koord Acara: Wangsa Tirta Ismaya

1. Lomba Tarik Tambang (dewasa)

Panitia:
- Koord: ??
- membuat aturan main
- pendaftaran dan perlombaan
- Logistik: Indra Muliawan
- menyiapkan tambang dari gordyn yang di potong dan di
anyam.
- bahan gordyn ada di Ismail
- Anggota: ??

2. Lomba Makan Krupuk (dewasa & anak2)

Panitia:
- Koord: Ikhlasul Amal
- membuat aturan main
- pendaftaran (anak dan dewasa)
- logistik: krupuk dan tali2
- perlombaan
- Anggota: ??

3. Lomba Balap Kelereng (dewasa & anak2)

Panitia:
- Koord: Alia K.
- menyiapkan kelereng dan sendok
- aturan main
- pendaftaran
- perlombaan
- Anggota: ??

4. Lomba Masukin Pensil ke Botol (dewasa & anak2)

Panitia:
- Koord: ??
- aturan main
- pendaftaran
- perlombaan
- Logistik:
- Pensil dan tali (Indra M)
- Botol (Alia K)
- Anggota: ??

5. Pertandingan Sepak Bola Sarung

Panitia:
- Koord: Buyung
- Aturan main
pake sarung, mata sebelah ditutup, dll
- pembentukan 2 tim
- pertandingan

- Anggota: ??
- Logistik:
- Bola (Khairul)
- Sarung (Wangsa, Khairul, Ismail)

Pendukung Acara:

1. Konsumsi:
Koord: Mbak Heni Rachmawati
Anggota: Mbak Yulia, Senaz, Agnes, Dian, ???

2. Pembawa Acara:
- Wangsa
- Bude Nanie
- ??

3. Tatib: ??

4. Dokumentasi:
- Bang Ferry ‘Forever’
- ??

5. Hiburan Guitar: Teguh & Indra Muliawan
- Menyiapkan lirik lagu2 perjuangan (diprint di kertas dan dibagi
ke peserta waktu nyanyi bersama):
- 17 Agustus
- … silahkan usul…
-
- Kemesraan

6. EHBO:
- Itob
- Agnes

7. Transportasi:
- Hariyadi

8. Hadiah Lomba:
- Alia
- Agnes

9. Kontak personen warga Indonesia:
- Ibu Asyah
- Bapak Suganda
- Om Anton Branratu
- Bapak Achmad

10. Lain2 (Logistik):
- Pengeras suara (toa): Bang Fahmi
- Tape: Ismail F (tapenya udah tua, ada yg punya lg?)
- Kaset lagu2 perjuangan: ??
- Alas & kantong sampah: Indra M
- Tenda makanan: Mbak Heni

Penasehat:
- Bude Nanie
- Bang Fahmi
- Mbak Heni Rachmawati

Dana:
- DeGromiest
- Iuran sukarela waktu acara

Penanggung Jawab Acara:
- Ismail Fahmi (deGromiest)

Demikian pengumuman, sekaligus detail rencana acara 17-an ini. Perlu diketahui, bahwa acara ini dirancang semudah mungkin, sehingga dalam seminggu kepanitiaan dibentuk, diharapkan acara tetep bisa berhasil.

Terimakasih, dan Merdeka!!!


“Hidup penuh dengan teka-teki…”

Psikiater yang dikunjungi Sakti mencoba menenangkan kliennya. Seorang eksekutif muda yang sedang didera oleh pertanyaan, “mengapa aku tidak bisa normal seperti orang-orang, dokter?” Sebuah pencarian yang sulit. Haruskah aku membiarkan orang-orang tahu kondisiku sebenarnya? Akankah mereka lari jika tahu aku seperti apa? Mustikah aku mengikuti aliran jiwa aneh dalam diriku? Apakah aku salah?

“Itulah gunanya teman, kawan,” dikala jiwa rapuh dan orang-orang paling dicintai tidak bisa membantu, teman datang dengan membawa empati. Dalam konflik kehidupan, persahabatan dipertaruhkan. Prinsip-prinsip diuji. Kepahitan dan kegetiran lah yang kemudian mengasah kebencian, kemarahan dan kekecewaan menjadi kilauan permata.

Sangat kreatif. Lucu. Berani. Melawan arus. Konflik. Nyata.

Aku pribadi acung jempol dengan filem karya Nia Di Nata ini (http://www.imdb.com/title/tt0374506/). Berangkat dari acara sehari-hari para istri eksekutif ibu kota, ‘Arisan’, sang sutradara berhasil mengangkat konflik, permasalahan dan kemunafikan yang selama ini masih tabu dibicarakan di masyarakat Indonesia. Disajikan dengan gaya humor dan lucu yang tampak alamiah tidak dibuat-buat. Aku menikmati filem ini, sekaligus mendapat pesannya. Terlepas dari keyakinan kita tentang ini:

‘Sakti bisa menjadi teman sejati bagi kita.’

Sekali lagi, menikmati filem, merasakan perjalanan pikiran sang sutradara, mengagumi akting. Setuju dengan pesan yang disampaikan? Itu lain cerita. Aku kira ini debatable. Tapi aku percaya, itulah realitas yang ada sekarang. Dihadirkan Tuhan untuk pelajaran. Untuk aku renungkan.

Jam 00:15. Pulang.

Namun, sejam sebelum acara nonton ‘Arisan’ dimulai, kita punya acara penting. Tepat setelah ngaji dan menyantap soto ayam yang aduhai rasanya — racikan Mbak Vira yang disiapkan dari Westerbadstraat — sebuah diskusi yang produktif, singkat, padat dan ‘to the point’ digelar. Ada apa dengan deGromiest? AADD? Apakah kita harus mempermasalahkan gay?

Bukan itu.

Kita sedang mengevaluasi kegiatan deGromiest, khususnya sejak kepengurusan yang baru (since December 2003). Ada yang bilang deGromiest sudah berubah 180 derajat. Ups.. yang berubah bukan deGromiestnya, tapi ketuanya (kata siapa Alia?). Menjadi agak-agak funky dan ndak karu-karuan. Yang lain masih baik-baik saja. (Jadi tahun depan diganti aja ya he.he..)

SATU

“200 euro kas kita berkurang sejak Desember tahun lalu,” kata Jeng Puri bendahara deGromiest yang kecil tapi paling energik. Isu soal keuangan ini membuka diskusi. Kenapa?

Tuhan telah me-”wujud”-kan salah satu SifatNya melalui ‘uang’. Sifat ‘Maha Pengasih dan Penyayang’. Melalui realitas Tuhan ini, manusia bisa menyayangi sesama, berbuat kebaikan, membangun kebudayaan dan masyarakat. Misalnya kita membantu adik asuh agar bisa terus sekolah, infaq ke mesjid Selwerd yang masih sering ‘tekort’, dan menjalankan berbagai kegiatan yang membangun ukhuwah dan silaturahmi.

Jadi, mengelola keuangan menjadi sangat penting.

Ada beberapa analisa mengapa ada penurunan kas deGromiest. Sebelum kepengurusan yang baru, pengumpulan dana dilakukan melalui iuran bulanan dengan jumlah tertentu. Namun cara ini dirasakan kurang enak. Rasanya anggota dipaksa. Padahal yang diinginkan adalah keihlasan beramal. Pemikiran ini membawa ke keputusan penting: menghapus iuran bulanan.

Sebagai gantinya apa?

Kita buat program “50-cents”. Idenya, setiap silaturahmi bulanan bendahara memberi amplop kosong kepada anggota. Setiap ada koin sisa belanja, dipersilahkan untuk ditabung ke amplop tersebut. Pada pertemuan bulan selanjutnya, amplop dalam kondisi tertutup dikumpulkan ke bendahara. Berapapun jumlahnya, tidak masalah. Ini bertujuan membiasakan hati untuk ingat kepada infaq.

Ide praktis ini ternyata “tidak praktis”. Terlalu banyak kerjaan harus mengelola amplop koin. Giliran pas mau silaturahmi, lupa ndak dibawa. Yang terjadi akhirnya, anggota begitu menerima amplop, langsung diisi secara spontan dan diberikan lagi ke bendahara. Amplop tidak dibawa pulang. Repot dan capek.

Program ini berjalan dengan baik, setidaknya sebelum dua bulan terakhir. Pada dua pertemuan terakhir tersebut, hampir tidak jalan. Ini diakui, memang kelalaian ketua untuk mengingatkan adanya sesi pengumpulan dana infaq pada dua pertemuan terakhir. Terlalu asyik diskusi dan ngobrol, dan baru ingat pas mau pulang. Selain itu program ini tidak disosialisasikan dengan baik. Setidaknya perlu selalu ada yang mengingatkan di setiap acara.

Apakah pada bulan-bulan sebelumnya cukup sukses? Iya. Bendahara bisa mengumpulkan setidaknya 50 euro per bulan dari infaq spontan ini.

Akhirnya diputuskan, program “50-cents” diganti dengan program “Amplop Infaq Spontan” pada waktu silaturahmi bulanan. Bendahara memberikan amplop kosong ke anggota pada awal acara, dan dipersilahkan memasukkan ke kontak sebelum mereka pulang.

Rumit ya ngurus pengumpulan dana. Kok susah-susah musti pake amplop segala? Kenapa ndak pake iuran saja yang pasti dan praktis? Ya, alasannya sudah jelas. Bukan terkumpulnya dana saja yang jadi tujuan, tetapi penumbuhan rasa sayang dan keihlasan berinfaq ini yang jauuuuuuuh lebih penting. 50 cents yang ikhlas lebih berat timbangannya dari pada 5 euro yang merasa terpaksa dan karena kewajiban organisasi.

So, Anda sudah mengerti kan alasannya?

“Plok..plok..plok?”

Semua applaus.. buat Mbak Heni. Karena amplop? Bukan. Tapi karena tak disengaja, acara jalan-jalan — istilah pesantren Krapyak-nya tadabbur alam — ke Efteling (www.efteling.nl) beberapa bulan lalu, telah berhasil menyisakan dana cukup banyak. Dan dana itu dimasukkan ke kas deGromiest. A new invention of a fund rising?

Ya. Tepat sekali.

Nulisnya diselingi lari pagi dulu. Jalur depan rumah, menyusuri tepian sungai, StadPark — di bawah pohon2 yang rindang, melihat2 kebun binatang mini — lalu keluar lewat Piezerweg dan terakhir Westerbadstraat (rumah Itob). Makan rujak nanas and mangga.

Oke, udah lumayan seger meski belum mandi. Aku lanjutkan reportasenya.

Seksi fund rising atau pengumpulan dana, adalah seksi yang ndak enak. Biasanya begitu, karena musti berurusan dengan perasaan orang. Perjalanan ke Efteling yang lalu semoga bisa menjawab tantangan ini. Biasanya untuk jalan-jalan, ndak masalah ngeluarin duwit. Jadi, sambil mengajak jalan-jalan, sekaligus juga mengajak berinfaq. Semoga perjalannnya lebih barokah. Lebih bermanfaat. Dilindungi Allah.

Jadi, nantinya setiap acara jalan-jalan yang dikoordinir deGromiest, bisa menjadi salah satu sumber pemasukan. Tentunya tidak perlu ditarget, cukup jika ada sisa dana. Ndak perlu banyak-banyak. Secukupnya saja. Cukup untuk beli server. Cukup untuk bantu bayar akses internet bulanan. Cukup untuk segalanya. “Ieu mah kemaruk, Jang!” komentar si Asep. Asep siapa? Ngawur.

“Kalau untuk acara ngaji Sabtu, dana dari mana untuk nyediain konsumsi?” tanya orang yang duduk di depanku (siapa ya, aku lupa, ndak dicatet semua sih). “Biasanya Wangsa nyiapin sebagian besar konsumsi. Temen2 yang datang kadang juga ikut bawain minuman, bahan-bahan masakan, atau buah2an,” kata Puri. Setuju. Kita gotong royong saja untuk acara sabtu ini, jadi tidak pernah menggunakan dana kas. Cuma perlu ada yang jadi kompor. Nanyain and kofirmasi. Jangan sampe tiba-tiba semua bawa barang yang sama: Ijs Thee semua.

DUA

“Ngomong-ngomong, gimana nih dengan trend terakhir acara ngaji sabtu? Kok seperti hesitate alias sungkan?” topik diskusi pindah ke isu yang lain. Sebuah isu yang aku sendiri sudah berpikir keras mencari solusi yang paling enak. Jalan tengah. Aku belum bisa memutuskan hingga saat itu. Udah diskusi dengan Puri, mbak Ike, Diana, Wangsa, Itob, Mas Amal, Bang Fahmi… Aku memilih mengendapkan dulu beberapa alternatif solusinya. Jangan sampe salah mengambil keputusan.

Isu apa sih? Sepertinya heboh banget. Pengen tahu ya..

Biasa aja sebenarnya. Sengaja dibuat agak heboh. Begini. “Awalnya bersama Pak Agus, acara ngaji sabtu ini bertujuan simple. Agar kita ada kegiatan bermanfaat di malam minggu. Ngaji Al Quran. Setelah itu mau ada acara yang lain silahkan. Jadi, mulai dari yang belum bisa ngaji, belum ngerti huruf Arab (apa lagi yang gundul), hingga yang moderate dan yang mahir baca, sama-sama ngaji. Yang ndak bisa ya cukup datang ndengerin aja.

“Abis itu kita diskusikan beberapa topik yang menarik dari surat yang dibaca. Dari kita dan untuk kita. Kita semua sama-sama belajar. Tidak ada guru atau murid. Semua pasti punya perasaan dan pemikirannya masing-masing terhadap topik yang diangkat. Itu yang kita saling tukarkan,” kira-kira demikian kata Wangsa. Sang tuan rumah dan yang dulu ikut membidani acara ngaji ini.

Perkembangan selanjutnya, kita mendapat anugerah, kehadiran Ustad Yasin dari Siria. Beliau ilmunya luas. Bacaannya bagus. Pernah tinggal di Malaysia, bisa “sikik-sikik ucap Melayu.” Senang sekali beliau membimbing kita membaca Al-Quran dan membahas segala pertanyaan kita. Alhamdulillah, banyak sekali masukan yang kita dapet. Rasanya sejak ada beliau, acara ngaji menjadi lebih berbobot. Tidak sedikit temen-temen yang menjadi bersemangat karena bisa memperdalam ilmu agama. Pertanyaan-pertanyaan ilmiah juga bisa dijawab. Seperti tetesan embun di gurun pasir.

Bukankah itu bagus? Emang. So what? What is the problem?

“Masalah” — kalau mau dibilang masalah — muncul ketika Ustad Yasin mulai memperbaiki bacaan. Awalnya, beliau mengikuti saja bacaan peserta ngaji. Benar atau salah dibiarkan saja. Setelah itu diskusi. Nah, setelah beberapa pertemuan, dirasakan perlu ada peningkatan. Bacaan yang salah mulai dibenarkan. Sebagian besar — khususnya yang memang sudah lancar dan ingin memperbaiki bacaan — merasa senang dan tidak masalah. Tapi yang sama sekali belum bisa baca, atau masih banyak sekali salahnya, rasanya kok gimana gitu. Ndak enak. Terlalu banyak salahnya. Jadinya muncul rasa sungkan.

Diakui memang, kalau tujuannya untuk meningkatkan bacaan, forum spt ini kurang bagus. Menyatukan yang belum bisa, baru bisa, dan sudah mahir jadi satu dengan seorang guru, adalah model yang kurang pas. Beberapa temen yang dulu mau hadir, tapi karena sungkan belum lancar, jadinya tidak hadir. Inilah masalahnya. So, you got the point? Bagaimana pun, kita ingin merangkul sebanyak mungkin temen2 untuk bisa ngumpul ngaji, diskusi, masak-masak dan akhirnya movie clubbing..

Apa penyebab utama sungkan itu?

Ketemu jawabnya. Bukan karena adanya Ustad, tetapi karena perbaikan bacaan yang nota bene kemampuan bacaan peserta sangat beragam. So, solusinya bagaimana? Harusnya lebih mudah sekarang. Setidaknya mulai terbayang celah tengah, jalan tengah. Antara kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman serta tujuan untuk mengajak sebanyak mungkin peserta.

Solusinya begini.

“Dari empat minggu sebulan, satu sudah dipakai untuk silaturahmi bulanan. Jadi kita punya 3 pertemuan lagi seminggu untuk ngaji sabtu. Kita akan undang Ustad Yasin di salah satu pertemuan itu. Dengan metode seperti biasa. Dua pertemuan lagi dilakukan bener-bener dari kita, oleh kita, untuk kita,” demikian usulan Jarir ‘Masya Allah’ Atthobari. Diharapkan bener-bener cair. Seperti tadi malam.

Istirahat lagi ya. Jam 14.30. Musti ke Wangsa bantu benerin sepeda. Risky juga, Wangsa naik sepeda kemaren ke ACLO. Di tengah jalan sampe kecapekan. Tapi semangat 45 nya mengalahkan rasa sakit. Lucu juga lihat Wangsa cengar-cengir sepanjang jalan menahan sakit.

TIGA

Oke, kita lanjut lagi. Sekarang tentang 17 Agustus 2004 dan acara silaturahmi bulan Juni. Untuk tempatnya, sudah dua bulan yang lalu aku booking dan minta ijin ke tuan rumah. Farhad. Di rumahnya kita akan ngumpul-ngumpul lagi. Topik utama yang akan dibahas di pertemuan mendatang adalah tentang acara 17 Agustus-an yang telah diamanahkan oleh sidang paripurna deGromiest pada malam tahun baru 2004 yang lalu di Concordiastraat 67A.

Tidak ada pembicara yang akan kita undang seperti biasanya. Tapi akan bagus juga jika acara dimulai dengan “ular-ular” 10 menitan. Aku tertarik dengan diskusi di depan cafe ACLO dua bulan lalu dengan Farhad. Tentang sejarah Islam. Minatnya tentang sejarah tak tertandingi. Bukunya cukup banyak dibanding punyaku, tentang sejarah Islam. Jadi, kalau beliau — Farhad — berkenan, aku ingin memberikan “corong” kepadanya. 10 menit tentang sejarah Islam, dan bagaimana kita menapakinya. Sekali lagi, ini kalau beliau berkenan memberikan ular-ular.

Bagaimana Farhad? Setuju?

Setelah itu, kita akan membahas rencana penyelenggaraan peringatan 17 Agustusan di Groningen. Mengapa kita perlu menggelarnya? Berapa besar komunitas Indonesia dan yang berjiwa Indonesia di Groningen? Suriname, Indo-blesteran, Indonesia aseli, Indonesia berpassport belanda, dan juga para mahasiswa Indonesia. Bagaimana kalau kita kumpulkan mereka? Asyik ndak? Apa acara yang menarik dalam peringatan tersebut? Bagaimana kalau tarik tambang, balap karung, lomba makan krupuk, lari kelereng, keroncongan, dangdutan, qosidahan, lomba masak a la Indonesia? Siapa yang nanti bertanggung jawab jadi ketua panitia? Siapa saja panitianya? Bagaimana kalau gabungan dari deGromiest, PPI, juga dari warga Indonesia/berjiwa Indonesia di Groningen? Ah.. endless questions… kita bahas saja nanti. Oke?

Pak Dubes menyambut positif ide ini. Beliau langsung menyambungkan saya ke Pak Bambang, ketua panitia 17 Agustusan KBRI. “Tolong diinformasikan ke saya, rencana acara 17 Agustusan yang akan kalian adakan di Groningen,” pinta pak Bambang. Beliau ingin mendapat masukan, agar acara di Den Haag juga oke. Sempat juga nyentil-nyentil dikit masalah dana dengan bendahara KBRI. Belum sampai serius, tapi setidaknya introduksi ide dan rencana kita ini kepada beliau-beliau disela-sela Groens-CUP yang lalu cukup penting. Mbak Sari juga menyampaikan hal yang sama, jadi semoga gelombang ini kedengaran cukup nyaring sampai KBRI. Kita perlu dukungan.

Kapan kita bicarakan ini?

Sebenarnya aku tetap ingin diadakan di pertengahan Juni, meski aku masih di Indonesia. Tapi Buyung yang aku kedip-kedipin biar menggantikan aku menjelaskan ide acara ini di pertemuan mendatang keberatan. “Nanti saja nunggu balik ke sini,” usulnya. Oke, kalau begitu:

26 Juni 2004. 16:00 - selesai. Di rumah Farhad cs.

Sekalian, kalau ada ide apa saja yang musti aku bawa dari Indo untuk acara 17-an, di list saja. Filem Naga Bonar, lagu-2 perjuangan, bendera merah putih yang banyak?.. Asal ndak berat2 amat biar masuk bagasi.

EMPAT

“Kita akan kedatangan tamu dari Delft. Saudara-sudara kita dari PKS — tahu kan kepanjangannya? — ingin bersilaturahmi ke Groningen. Nanti kita adakan pertandingan olah raga persahabatan,” demikian info dari Khairul “Superman” Saleh. Kapan pak cik waktunya? Setelah dilihat-lihat lagi kalendar kegiatan deGromiest, insyaAllah kita bisa siap menerima kedatangan mereka di awal Juli. Oke pak cik. Setuju.

“Kayaknya kita perlu juga silaturahmi ke kota lain. Gimana kalau ke Enschede?” tanya Bung Superman. Ya, bagus sekali. Kita ntar ketemu The Fenomenal Supporter — Ime. Tapi rasanya sampai Agustus kita sudah full. Jadi setelah Agustus saja kita rencanain lagi.

“Oh iya, itu Ibu Aisyah tadi nelpon saya. Nanyain kapan mau main ke Delfzail?” tambah Mbak Heni. Perlu sodara-sodara ketahui, Bu Aisyah ini ibunya Bakhtiar yang cakep itu. Mereka hadir di pertemuan bulanan di rumah Mbak Sari. Bu Aisyah asli Indonesia, menikah dengan orang Belanda. Sekarang sudah menjadi warga sini. Setelah pertemuan yang lalu bubar, kami ngobrol-ngobrol tentang 17-Agustusan. Wah, semangat sekali beliau. Banyak ide keluar tentang bagaimana nanti model acaranya. Seperti kerinduan pada kampung halaman yang sangat mendalam. Seolah akan terobati. Aku ingin meminta kalau berkenan agar bu Aisyah ikut di dalam kepanitiaan 17-an nanti.

Delftzail. Kita akan ke sana. Setuju kan? Tinggal soal waktunya kita cari yang pas.

“Bowling..bowling dong..” usul Itob dan Wangsa. Iya, perlu ada variasi oleh raga nih. Selain olah raga mingguan, nantinya deGromiest juga akan mengadakan variasi olah raga seperti Bowling. Ini tentu di luar anggaran kas deGromiest. Dipersilahkan bagi anggota yang berminat untuk mengkoordinir sendiri. Waktu yang bagus adalah setelah acara ngaji sabtu. Jadi kalau tidak ada movie klub, bisa langsung ke bowling arena. Itob dan Wangsa yang akan mengkoordinir.

Awas, jangan sampe jadi bolanya…

Hampir lupa. Ada perubahan dikit tentang acara olah raga mingguan di ACLO. Biasanya hanya 2 jam, sekarang ditambah jadi 3 jam. Biar puas mainnya. Terus, kalau biasanya masing-masing yang datang ikut iuran sewa ruangan seharga 2 sms — alias 50 cents –, sekarang dibuat seharga sebungkus patat asin — 1 euro. Masih cukup murah kan?

LIMA

Oke, kita pindah ke topik selanjutnya. Tentang Buletin deGromiest. Bagaimana Wangsa? Bisa dilaporin? “Buletin sudah terbit sekali. Rasanya kita punya kendala di masalah administratif saja. Seperti mendata siapa yang perlu dikirimi, alamatnya, dan pengirimannya,” jelas Wangsa. Oke, rasanya agak susah ya ini dipecahkan. Kerjaan yang cukup berat, karena harus maintain data muslim di Groningen, khususnya yang tidak bisa ikut kegiatan deGromiest. Seperti bu Aisyah, dll. Diragukan kalau ada orang yang mau memegang tanggung jawab ini. Berat, tetapi tantangannya kurang.

Bagaimana kalau modelnya diubah? Dari buletin cetak, menjadi buletin elektronik saja? Bukankah sekarang udah jamannya internet? Toh, orang2 spt bu Aisyah juga punya akses internet. “Internet adalah salah satu bentuk kesederhanaan hidup di Belanda,” kata mas Amal. Mengapa tidak kita manfaatkan? Kita nanti tidak perlu pusing-pusing soal distribusi. Dengan demikian, kita bisa fokus pada content alias isi.

Ide adanya buletin ini penting sekali dan harus ada. Tinggal sasaran dan strateginya saja yang perlu direvisi. Nantinya kita buat sebuah tim redaksi. Kerjaannya aku kira cukup menantang. Setidaknya tiap minggu, berdiskusi, tukar pikiran tentang topik apa yang musti diangkat di buletin elektronik. Lalu menuliskannya.

Jiwa jurnalistik akan muncul. Pikiran yang kritis, curious, dan terus bertanya akan terasah. Menantang, karena kita dituntut untuk mengetahui hal-hal terbaru, penting, dan menarik untuk diangkat. Tidak hanya berpikir tentang bidang yang lagi digeluti di lab saja. Tetapi isu sosial, global, lokal, pasar Vismark, perubahan kebijakan imigrasi Belanda, dll bisa diangkat. Sangat-sangat bermanfaat.

Dimana bisa beli ikan yang paling murah di Vismark? E-471 itu apa? Halal ndak sih? Bagaimana kebijakan Belanda sekarang tentang pendatang baru? Bagaimana prosedur mendapatkan verblijf dokumen dengan policy yang baru sekarang? Bagaimana tanggapan masyarakat Belanda di Groningen tentang muslim, khususnya setelah mereka sering melihat berita tentang teroris dari muslim? Mengapa Fatamorgana di Efteling seolah menggambarkan kehidupan Arab yang sangat buruk? Apa ide dibalik itu? Apa dampaknya bagi orang Belanda yang melihatnya? Ah.. banyak pertanyaan kan yang bisa diangkat. Rasanya tiap minggu akan selalu ada topik menarik untuk dibahas dan ditulis.

“Oke, Buyung dan wangsa ntar diskusi juga dengan Mas Amal ya. Membahas strategi dan teknis dari tim redaksi buletin deGromiest,” segera aku ambil keputusan.

“Oke bang,” sanggup Buyung.

ENAM

Topik terahir, Internet… Ah lega. Udah mau selesai nulis reportasenya. Udah ndak sabar mau lihat rumah barunya Pak Tri dan Pak Ketut. Just 200 meters away from mine.

“Bulan depan kita musti bayar domain lagi. 19 euro.” kata Mas Amal yang mbahurekso server deGromiest. Domain ini dibayar hanya sekali setahun. Dengan membayar ini, kita punya alamat di internet yang keren itu: degromiest.nl.

Selain itu, mengingat besarnya pemanfaatan server oleh deGromiest, sudah menjadi kewajiban kita untuk ikut membantu membayar akses internet bulanan. Selama ini atas budi baik keluarga Mas Amal dan Mbak Heni. Jadi kita punya server, bisa diakses dengan kenceng, selama ini numpang di rumah beliau.

“Bagaimana Jeng Puri? Bisa kita alokasikan tiap bulan untuk ikut iuran bayar internet?”

Ada ide bagus untuk fund rising. Mengingat banyak sekali dokumentasi foto, kalau didownload satu per satu juga berat. Terutama kalau sudah di Indonesia, pake dial-up lagi. So, “bagaimana kalau dibuat jasa burning CD berisi koleksi foto2 kegiatan deGromiest?” usul Mas Amal. Bang Ferry bisa menyiapkan file-filenya. Dana yang terkumpul bisa dimasukkan ke kas deGromiest.

So, jika Anda ingin pesen CD foto2 Anda di kegiatan deGromiest, silahkan kontak Mas Amal dan Bang Ferry. Lumayan kan untuk bahan sejarah bagi anak-cucu Anda.

YOUR 5 MINUTES, FOR A BETTER DEGROMIEST

Anda punya usulan, saran, kritik bagi deGromiest setelah membaca reprotase evaluasi di atas? Please, duduk 5 menit saja dan tuliskan komentar Anda di form di bawah ini.

Wassalam.

31 Mei 2004. A day before home sweet home…


Kalender Februari 2004

Filed under Agenda deGromiest

Jadwal kegiatan deGromiest selama bulan Februari 2004

Hari / Tanggal Nama Kegiatan Tempat Kontak Person
Minggu, 1 Feb 2004
Jam 7.00 s/d 9.00
Sholat Iedul Adha [menunggu informasi dari Masjid Selwerd] Ikhlasul
Amal
Minggu, 1 Feb 2004
Jam 9.00 s/d 12.00
Silaturahmi Opor dan Balado Westerbadstraat 48 (Rumah Itob) Itob,
Buyung
(oke?)
Minggu, 1 Feb 2004
Jam 15.00-17.00
Olahraga ACLO Khairul,
Puri
..      
Sabtu, 14 Feb 2004 Silaturahmi bulanan, peringatan Iedul Adha, dan 1
Muharram
[menunggu kesepakatan dengan Hastin (PPI)]  
Minggu, 22 Feb 2004 Tahun Baru Hijriah (1 Muharram 1423 H) [call for suggestion]  


Kalender Januari 2004

Filed under Agenda deGromiest

Segala yang ingin Anda ketahui tentang KALENDER kegiatan deGromiest selama bulan Januari 2004. Terakhir Update: 20 Januari 2004.

Hari / Tanggal Nama Kegiatan Tempat Kontak Person
Sabtu, 17 Jan 2004
Jam 15.30 s/d 20.00
Silaturahim dan Pengajian Bulanan Westerbadstraat 48 (Rumah Itob) Itob
Sabtu, 24 Jan 2004
Jam 18.00 s/d 20.00
Ngaji Al-Quran Mingguan
Dilanjut dg MovieClub: Beth & Finding Nemo
Haddingestraat 28B (Rumah Wangsa) Pak
Agus
, Wangsa
Minggu, 25 Jan 2004
Jam 13.00 s/d 14.30
Kajian Islam Intensive (Liqo) Dierenriemstraat 171 (Rumah Bang Fahmi) Bang
Fahmi
Minggu, 25 Jan 2004
Jam 15.00 s/d 17.00
Olah Raga ACLO Khairul,
Puri
Sabtu, 31 Jan 2004
Jam 19.00 s/d 20.30
Ngaji Al-Quran Mingguan Haddingestraat 28B (Rumah Wang Pak
Agus
, Wangsa


Keluarga besar dan terbuka seperti deGromiest ini, hanya akan semakin bermakna dan semakin erat tali silaturahimnya, jika kita rajin berkomunikasi. Untuk itu, kepengurusan deGromiest sekarang, mencoba untuk tidak bosan-bosannya mengajak anggota berkomunikasi, melalui media Internet.

Karena banyaknya aktifitas kita yang menarik, maka perlu ada pembagian tugas untuk menuliskan jejak-jejaknya. Who doing What…? Berikut ini adalah tabel kegiatan, job description, pelaksana, progres, serta link ke dokumen-dokumen yang telah diupload. Tujuannya bukan untuk melihat siapa yang aktif, tetapi semata-mata untuk memudahkan pembagian tugas saja. Lain tidak.

Tanggal Mulai What Job Description Who Progres
1-Jan-04 Halal-haram produk olahan - mendaftar link dan referensi ke sumber luar
- menyusun artikel atau dokumen untuk kalangan keluarga deGromiest
(khususnya)
- Heni
- Wangsa
- Diana
Jirjis
- posting referensi di Cafe. Links: 1,
2,
3,..
1-Jan-04 Sport Club: Olah raga di ACLO - reservasi hall untuk jam 3-5 sore. - Khairul
(koord)
- Puri
- Itob 
18/jan: done
25/jan: reserved
1-Jan-04 Kajian al-Quran - baca Quran
- pembahasan topik dalam Al-Quran
- bahasa Arab
- Pak
Agus
(koord)
- Ustadz Yasin (bhs Arab)
Jadwal: setiap sabtu jam 6-8 di R. Wangsa.
1-Jan-04 Database anggota: Wong.Degromiest.nl - programming
- server (MT engine)
- foto2
- Ismail
(programming)
- Amal
(MT, server)
- Ferry
(foto)
Siap: Wong
1-Jan-04 Upgrading Serambi - desain
- transmigrasi sebagian content ke Cafe
- installation
- publish 
- Amal The master, sedang ada tamu, Sang Sakit.
Istirahat dulu ya.
8-Jan-04 Movie club: The Last Samurai - nonton di  Pathe - Ican
(koord tiket)
- Ferry
(foto): 
resensi
& diskusi
10-Jan-04 Movie club: Ca Bau Kan Resensi - ??  
16-Jan-04 Bulletin deGromiest - menyusun topik
- mengumpulkan bahan
- layout
- cetak
- penyebaran
- versi PDF (serambi)
- Wangsa 
- Amal
(serambi)
No1: 17/jan terbit
17-Jan-04 Silaturahim Bulanan: Topik Qurban - Artikel rangkuman materi pengajian
- Artikel hikmah Qurban
- Elfahmi (rangkuman materi dan hikmah dari
pengajian)
- Ismail (renungan Qurban)
 
17-Jan-04 Movie club: Biola Tak Berdawai - Resensi
- Artikel opini lepas
- siapa ya?  
17-Jan-04 AD/ART deGromiest - menyiapkan publikasi AD/ART
- unggah ke Serambi deGromiest
- Wangsa(dokumen)
- Amal
(serambi)
 
17-Jan-04 Susunan pengurus dan koordinator deGromiest - menyiapkan dokumen susunan pengurus dan
koordinator
- unggah ke Serambi & Cafe
- Ismail
(dokumen & cafe)
- Amal
(serambi)
Online
di Cafe
17-Jan-04 Program Adik Asuh - pengiriman dana
- laporan
- Puri
(dana)
- Zanbar (laporan)
 
17-Jan-04 Dokumentasi Foto - dokumentasi foto kegiatan
- upload ke album degromiest
- data foto untuk Wong
- Ferry album
17-Jan-04 Program Infaq "50 Cents" - penyiapan wallet
- laporan bulanan
- Puri wallet (amplop): 17/jan
20-Jan-04 Informasi lengkap Beasiswa ke Belanda - mendaftar link dan deskripsi singkat ttg
beasiswa di Belanda 
- Ican  


Silaturahmi Januari 2004

Filed under Agenda deGromiest

rumah_itob.jpgPengajian atau silaturahmi bulanan deGromiest untuk bulan Januari 2004 insyaAllah akan diadakan pada:

Hari: Sabtu
Tanggal: 17 Januari 2004
Jam: 15.30 s/d 18.00
Tempat: Rumah Ibu Marline, Mbak Puri, Kang Itob
Jalan: Westerbadstraat 48
Telepon: 3116444 (kalau tersesat, telpon nomor ini)

[Foto: Tampak depan rumah Itob]

Taut ke Aktifitas di deGromiest.nl.

Agenda (belum resmi) pada silaturahmi kali ini adalah:

Agenda Utama: Kajian Islam
- Topik: Qurban
- Pembicara: Bapak Salman
- Ringkasan topik kajian:

Agenda Utama Sekali
- Makan bersama

Agenda deGromiest
- Peresmian pengurus deGromiest periode 2004 - 2005
- Peresmian AD/ART

Agenda Keluarga
- Peresmian Cafe deGromiest
- Memulai program data anggota online

Demikian draft agenda, yang masih akan disempurnakan hingga minggu depan. Jika ada masukan dari sahabat2, silahkan disampaikan lewat email atau komentar.

Wassalam


deGromiest 2004

Filed under Agenda deGromiest

mercon Pengurus deGromiest dan beberapa anggota mengadakan acara ngumpul-ngumpul malam tahun baru. Tanggalnya, ya tanggal 31 Desember 2003, kapan lagi. Bertempat di Rumah Cak Amal, Concordiastraat 67A. Sebelum acara utama dimulai, yaitu “Makan Bakso” bikinan Engkoh Wangsa dan Pak Agus, terlebih dahulu diadakan rapat membahas kegiatan deGromiest untuk tahun 2004. Ini adalah rapat yang kedua menjelang akhir tahun, yang sebelumnya diadakan tanggal 27 Desember 2003 di rumah Wangsa.

Foto: semarak mercon tahun baru di Vismark yang dijepret oleh penulis.

Rapat dihadiri oleh: Wangsa, Ismail, Cak Amal, Bang Fahmi, Mbak Heni, Mbak Puri, Ibu Marlin, Pak Agus, Bung Ferry, Mita, Hari (dan istrinya, Dian).

Berikut ini adalah point-point penting hasil rapat:
- Pengajian atau Silaturahmi Bulanan
- Buletin
- Web dan Dokumentasi Aktifitas
- Database deGromers
- Infaq
- Jalan-jalan
- Social Events
- Sport Club
- Ngaji Al-Quran
- Movie Club
- Aanbiedingen
- Fotografi

Pengajian atau Silaturahmi Bulanan
fahmi Ini adalah tradisi deGromiest yang paling tua umurnya. Sangat bermanfaat, dan sangat dinantikan oleh setiap hati yang terkadang kesepian dan rindu kampung halaman. Untuk meningkatkan nilai dan manfaat yang bisa diambil oleh deGromer setelah mengikuti silaturahmi ini, topik, materi dan pembicara yang mengawali acara akan selalu dihubungkan dengan permasalahan aktual, khususnya yang dihadapi atau menjadi perhatian deGromer.

Penanggung jawab materi acara ini, Bang Fahmi, mengatakan bahwa akan dibuat kisi-kisi materi selama 1 tahun, tetapi setiap 3 bulan akan dievaluasi kemungkinan perubahan, sesuai dengan kondisi. Jadi, materi akan dibuat fleksibel. Waktu pelaksanaan adalah setiap pertengahan bulan. Dan untuk bulan Januari, insyaAllah akan diadakan di rumah Mbak Puri, hari Sabtu, tanggal 17 Januari 2004.

Buletin
wangsa.jpg deGromiest akan menerbitkan Buletin kembali, setelah beberapa saat tidak terbit. Buletin ini akan berisi informasi deGromiest, intisari kajian/pengajian selama satu bulan sebelumnya, agenda, dan informasi penting lainnya. Akan dibuat simple, mudah pembuatan, tetapi berisi. Nantinya, bahan bakar buletin ini akan diambil dari Web deGromiest dan Cafe deGromiest. Jadi, para deGromers dapat menyumbangkan karyanya melalui Cafe ini, dan akan di-unggah-kan oleh redaksi ke buletin.

Target utama buletin ini adalah deGromers yang tidak sempat mengikuti acara silaturahmi bulanan. Sebagai ketua redaksi, Wangsa akan menyiapkan edisi perdana Buletin deGromiest untuk dibagikan pada acara silaturahmi bulan Januari ini.

Web dan Dokumentasi Aktifitas
amal.jpg Hadirnya Cafe deGromiest telah membawa angin perubahan baru, yang semoga bermanfaat, dan lebih menggairahkan aktifitas deGromers. Untuk itu, telah dibuat pembagian tugas yang jelas antara Web deGromiest dengan Cafe deGromiest.

Menurut Tukang Web-nya, Cak Amal, Web deGromiest akan berisi informasi-informasi resmi deGromiest, yang sudah difilter dan dijamin keabsahannya oleh redaksi. Sedangkan Cafe deGromiest, lebih ditujukan sebagai ajang bertemu secara virtual, tempat menyalurkan karya intelektual, hati, maupun perasaan, yang lebih interaktif dan mengalir khususnya bagi para deGromers. Hasil diskusi di Cafe, jika menghasilkan dokumen resmi, akan diangkat ke Web deGromiest, untuk lebih diresmikan dan bisa jadi rujukan. Contoh, diskusi soal halal-haram emulsifier di produk olahan. Proses diskusi dilakukan di Cafe, dan hasil akhirnya disimpan di Web deGromiest.

Database deGromers
Tak kenal, maka tak sayang. Tak tahu, maka tak kenal. Jadi, agar bisa lebih sayang dengan sesama saudara, deGromiest menggalakkan lagi program Database deGromers. Dengan database yang mudah diakses melaui web oleh siapapun secara terbuka ini, diharapkan setiap orang akan lebih mudah untuk mengetahui kemudian mengenal saudaranya khususnya yang ada di deGromiest.

branratu.jpg Karena cakupan deGromiest bukan hanya mahasiswa, tetapi juga orang asal Indonesia yang bekerja atau menetap di Groningen, maka database ini akan lebih luas juga jangkauannya. Misalnya, ada Om Branratu yang sejak tahun 60-an sudah dibawa ke kamp-kamp Indonesia di sini, dan menetap jadi warga Belanda, tetapi hati dan jiwanya masih Indonesia. Beliau senang sekali jika dikunjungi oleh anak-anak muda dari Indonesia. Banyak lagi orang-2 seperti beliau yang berasal dari Suriname, dll, yang masih berjiwa Indonesia. Meski lama di sini, namun gantungan kuncinya masih “Garuda Indonesia”. deGromiest merasa terpanggil untuk menyatukan tali silaturahmi antara mahasiswa-2 dengan beliau-beliau itu.

Untuk data mahasiswa, tentunya ini bermanfaat bagi teman-2 mahasiswa kita di Indonesia yang akan datang ke Belanda, mencari informasi, dan kenalan. Atau untuk mengajak kerjasama karena kesamaan bidang studinya.

Infaq
Sejak beberapa bulan lalu, metode pengumpulan dana melalui iuran anggota sudah dihilangkan, dengan pertimbangan tidak ingin membebani anggota dengan kewajiban keuangan. Dikhawatirkan, anggota menyerahkan dananya dikarenakan kewajiban organisasi, bukan karena keikhlasan atau niat berinfaq.

puri.jpg Sebagai gantinya, deGromiest membuka layanan infaq melalui program “50 Cents”. Program ini, menurut Mbak Puri sebagai bendahara, bermaksud lebih mulia, yaitu mengajak deGromers untuk berlatih menyisihkan sebagian harta yang biasanya dibelanjakan di Konmar, Albert Heijn, Aldi, dll, ke jalan Allah.

Idenya, setiap ada sisa cents-cents hasil belanja, oleh deGromer akan dimasukkan ke dalam Amplop Infaq yang telah dibawa pulang dari silaturahmi bulanan, yang disediakan oleh bendahara deGromiest. Amplop tersebut tertutup, dan hanya berlubang seukuran koin 2 Euro di ujungnya. Meski program ini bernama “50 Cents”, bukan berarti hanya koin 50 sen yang boleh dimasukkan. Koin 1,2,5,10,20,50 cents atau 1,2 euro boleh dimasukkan. Amplop tersebut setiap bulan diserahkan ke bendahara deGromiest dalam bentuk tertutup. Sehingga, kemurnian keikhlasan deGromer insyaAllah terjaga.

Kemudian ada pertanyaa, gimana jika setiap belanja selalu di-gesek? Kan tidak ada kembalian? “Kita juga terima uang kertas kok, juga visa, master card, dan lain-lain,” kilah Mbak Puri. Program ini akan dimulai sejak Januari ini.

Jalan-jalan
itob.jpg “Bayangkan… angin musim semi menjelang musim panas menerpa rambut Anda. Kaki menjejak sebuah bidang yang naik turun seirama dengan air danau Hornsemeer yang biru. Dan layar ditiup angin membawa Anda sampai ke tengah,” begitu permulaan cerita Bung Hari, yang mengusulkan kegiatan Berlayar di Horsemeer. Juga acara jalan-jalan di sepanjang pantai, atau bersepeda ke pulau kecil Amelan. InsyaAllah, acara-acara ini akan diadakan selama tahun 2004 oleh deGromiest. Acara yang murah meriah, bisa diikuti oleh deGromers dan keluarganya.

Disamping itu, informasi tentang Reizen atau jalan-jalan ke negeri lain, akan disediakan di Cafe deGromiest. Pramusajinya sudah kondang, yaitu Kang Itob dan Mbak Heni.

Social Events
heni.jpg Rindu rujak cingur, lumpia semarang, atau es cendol? Atau mungkin lomba tarik tambang, balap karung, dan balap kelereng? Ya, saya juga.. rasanya di negeri ini semua serba biasa. Istilah Belandanya “garink”. Jadi deGromiest akan membuatnya menjadi tidak biasa, pada 17 Agustus nanti, dikompori oleh Mbak Heni yang mengusulkan social event ini.

Setidaknya sekali dalam tahun 2004, kita akan mengadakan acara di lapangan, di bawah pohon2, di tepian danau. Kita berkumpul: anak-anak, bayi, ibu-ibu, istri-istri, bapak-bapak, om, tante, kakek, nenek, dan mahasiswa Indonesia yang di Groningen ini. Kita berkumpul bersama, berkenalan, membawa makanan masing-masing, saling bertukar bekal, sambil menyemangati anak-anak yang berlomba dan bermain. Kita buat tali silaturahmi semakin erat, hubungan semakin hangat, hidup di perantauan semakin ceria.

Kegiatan yang dibahas di rapat pendahuluan

Itu adalah sebagian kegiatan yang dibahas menjelang tahun baru. Ada beberapa kegiatan lain yang sudah dibahas di rapat-rapat sebelumnya, seperti diuraikan berikut ini.

Sport Club
khoirul.jpg Penat dan jenuh dengan kegiatan kampus selama seminggu? Datang saja ke Aclo (sport center di Zernike), setiap jam 3-5 sore pada hari Minggu. deGromiest telah menyewa sebuah hall untuk deGromer yang ingin main bulu tangkis atau tenis meja. Kegiatan ini dikoordinir oleh Bung Khoirul yang jago bulu tangkis. Tidak punya raket? Datang saja, sudah tersedia di sana. Informasi tepatnya mengenai waktu dan ruangan selalu disebarkan melalui milis deGromiest.

Ngaji Al-Quran
agus.jpg Setiap Sabtu jam 5, di rumah Wangsa, deGromiest mengadakan acara Ngaji Al-Quran. Secara bergantian, deGromer membaca ayat-ayat Al-Quran sementara yang lain menyimak dan membenarkan bacaan yang kurang tepat. Biasanya total 100 ayat dibaca dalam setiap pertemuan, yang dipimpin oleh Pak Agus asal Palembang ini.

Setelah itu, acara bebas seperti diskusi tentang beberapa ayat yang menarik atau mengena di antara deGromer, atau membahas soal-soal yang lain seperti kegiatan deGromiest.

Acara ini bebas, bagi siapapun yang ingin ikut ngaji bareng. Tidak perlu malu jika belum bisa lancar membaca Al Quran, karena kita sama-sama belajar. Tidak ada guru di sana, semua jadi guru, dan semua jadi murid.

Movie Club
Hikmah tidak selalu datang dari satu arah. Ada banyak arah, sebanyak jumlah derajat sudut dalam sebuah lingkaran. Tidak hanya dari pengajian atau kitab, tetapi bagi sebagian orang hikmah bisa datang dari musik, puisi, atau film. Teman saya bilang, dia mudah tersentuh hatinya bahkan bisa menangis ketika mendengarkan alunan musik klasik Bethoven. So, selama itu membawa seseorang menjadi lebih dekat kepada dirinya dan kepada Tuhannya, deGromiest akan mendukung.

Oleh karena itu, mulai tahun ini, deGromiest memfasilitasi nggota yang memiliki minat yang sama terhadap film, dalam sebuah Movie Club. “Tahukah Anda jika The Lord of The Ring itu inspirasinya berasal dari Bible?” kata Ican yang menggagas club ini. Diharapkan melalui club ini, deGromers tidak hanya menonton film sebagai hiburan, tetapi bisa mendapatkan hikmah yang bermanfaat dari cerita-cerita yang disampaikan.

Kegiatan Movie Club ini tidak hanya nonton film di Pathe, tatapi juga nonton CD/DVD bersama, diskusi, dan resensi.

Aanbiedingen
bike.jpg Setiap tahun, selalu ada yang datang, dan selalu ada yang pergi. Untuk itu, deGromiest memfasilitasi yang datang dan yang pergi dengan jasa penampungan dan obral (aanbieding) barang-barang bekas layak pakai seperti sepeda, kulkas, freezer, kursi, komputer, dan lain-lain. Daftar barang yang dititipkan di deGromiest, tempatnya di gudang rumah Bang Fahmi, nanti bisa dilihat di show room Cafe ini. Dana hasil penjualan akan dimasukkan ke dalam kas deGromiest.

Selain itu, jika ada informasi aanbieding di Groningen atau kota-kota lain, misal bazar buku murah, komputer murah, dan lain-lain akan diinformasikan melalui beranda Cafe deGromiest. Jadi, sering-sering ke Cafe, siapa tahu ada informasi dari Mbak Heni yang paling jago soal info aanbieding ini.

Fotografi
Konon, sebuah foto mampu berbicara lebih banyak dari pada serangkaian kata-kata. Dan sudah jamak, setiap mahasiswa yang berkesempatan belajar di negeri lain, terutama di Eropa, selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke tempat-tempat terkenal. Misalnya ke Paris, London, Austria, dan lain sebagainya. Tak lupa, setiap pulang selalu membawa foto-foto di setiap tempat menarik.

ferry.jpg Apalagi dengan makin murahnya kamera digital, seseorang bisa mengambil gambar sesuka hati, sebanyak mungkin. Namun bukan itu masalahnya. Masalah muncul, ketika sudah jauh-jauh pergi, ternyata foto yagn dihasilkan kurang bagus, tidak memuaskan, hanya karena kurang paham teknik-teknik dasar fotografi.

Oleh karena itu, deGromiest juga menyediakan wadah bagi para fotografer amatir ini untuk saling belajar dan bertukar tips. Dikomandoi oleh Bung Ferry, yang setiap sore selalu menunggu indahnya semburat sinar sang Mentari di balik awan.

Akhir kata…

ismail.jpg Demikian hasil obrolan alias rapat menjelang tahun baru. Jika Anda ada usulan atau komentar, silahkan langsung kirim melalui form komentar di bawah ini. Mumpung masih hangat!!

Wallahu’alam

Ismail Fahmi
deGromiest


deGromiest Go Clubs

Filed under Agenda deGromiest

Pada tanggal 6 Desember 2003, hari Sabtu malam, seperti biasa diadakan acara Ngaji Al Quran. Setelah itu, diadakan obrolan tentang deGromiest, yang menghasilkan draft rencana deGromiest selanjutnya.

Berikut ini adalah resume singkat, bisa dibilang draft rencana, yang dihasilkan dari rafat serius selepas Ngaji Bareng di Rumah Wangsa Bersama Pak Agus (disingkat NBRWBPA). Goal dari diskusi yang dihadiri oleh para hadirin (10 orang: Ican, Wangsa, Ibu Marlin, Dj, Puri, Itob, Ferry, IAmal, Agus, dan Ismail), adlaah:

- mengidentifikasi minat dan kebutuhan penting para mahasiswa umumnya di Groningen (khususnya deGromiester)
- mengidentifikasi dan mengelompokkan kegiatan yang bisa diakomodasi oleh deGromiest, dalam bentuk DIC (deGromiest Interest Clubs)
- mengidentifikasi added value yang bisa diusahakan dalam DIC tersebut, sehingga DIC bermanfaat dunia akhirat

Tujuan besarnya adalah agar misi deGromiest dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari2 anggotanya, membumi, diminati, dan bermanfaat secara nyata.

Setelah melalui diskusi dan perdebatan panjang, hingga jam 10 malam, bahkan saking pentingya beberapa hadirin melanjutkan pembahasan hingga pagi hari (baik diskusi langsung atau melalui mimpi di rumah yang sama), diputuskan sebuah draft untuk diajukan kepada anggota deGromiest. Draft dIC ini akan diputuskan dan diresmikan pada pertemuan silaturahmi bulan depan (januari 2004).

Menimbang:
- pentingnya menerjemahkan misi deGromiest seperti tertulis di web http://www.degromiest.nl, dalam aktifitas yang langsung menyentuh minat dan kebutuhan anggota
- perlunya mengakomodasi aspirasi dari anggota secara langsung

Mengingat:
- beragamnya minat, pemikiran, dan kebutuhan anggota
- saat ini terdapat beberapa kegiatan yang diminati oleh banyak anggota, tetapi belum diakomodasi oleh deGromiest

Memutuskan:
- deGromiest akan membentuk kegiatan informal, dalam wadah dIC atau yang bisa disebut dengan panjang: deGromiest Interest Clubs
- dIC ini harus berprinsip 3M: menarik, murah, manfaat
- dIC ini harus bisa membawa anggotanya untuk saling mengenal sesamanya, mengenal dirinya, dan mengenal Tuhannya.
- berikut ini adalah daftar dIC yang direncanakan akan dibentuk Januari 2004 (kecuali dRF dan dLF sudah dibentuk):

1. dMC (deGromiest MovieClub)
Desc:
- apresiasi film dan sinema
- mengambil hikmah dan pelajaran dari film yang bermutu
- saluran refreshing yang positif

Koord:
- Ican

2. dDC(deGromiest DjDj club)
*DjDj = Djalan Djalan / Rihlah
Desc:
- mengambil hikmah dan pelajaran dari yang ada di muka bumi
- informasi tempat dan event penting di Eropa untuk diikuti/dikunjungi

Koord:
- Wangsa & Itob

3. dAWC (deGromiest AanbiedingWae Club)
Desc:
- informasi aanbieding barang kebutuhan penting mahasiswa
- gateway BaBe (barang bekas) anggota/non-anggota
- Koop-Zondah besama-sama, mempererat silaturahmi

Koord (poros):
- Itob (Westerbadstraat)
- Mbak Heni (Concordiastraat)
- Ican

4. dSC (deGromiest Sport Club)
Desc:
- biar anggota sehat2 dan kuat-kuat
- refreshing melalui olah raga setiap minggu

Koord:
- Khoirul

5. dRF (deGromiest Recitation Forum)
* Sudah dibentuk
Desc:
- zikir, untuk melembutkan hati
- baca Quran
- mengambil hikmah dan hakekat dari beberapa
ayat yang dibaca

Koord:
- Pak Agus

6. dLF (deGromiest Liqo’ Forum)
* Sudah dibentuk
Desc:
- pendalaman pemahaman keagamaan
- cerita hikmah,pengalaman
- syariah, hikmah, fiqh

Koord:
- Bang ElFahmi

7. dPC (deGromiest Photography Club)
Desc:
- agar foto2 yang dihasilkan dari anggota menjadi lebih
bermutu (sayang, udah jauh2 ke paris, anglenya kurang bagus)

Koord:
- Bung Ferry