Archives for “Adik Asuh”

Galiro

Azka adalah anak laki-laki berumur sekitar 13 tahun. Azka adalah anak kedua dari pasangan ibu Yoyoh dan bapak Ajat. Anak perempuan mereka (anak pertama) bernama Yuli. Yuli baru saja tamat menyelesaikan SMA ketika bapak Ajat meninggal. Bapak Ajat bekerja sebagai supir pribadi. Setelah ditinggal meninggal, Azka mendapat kesulitan biaya untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Azka ingin meneruskan sekolah ke MTS, sejajar dengan SMP. Kakak perempuannya, Yuli, yang nota bene hanya berijazah SMA, harus menjadi tulang punggung keluarganya. Ibu Yoyoh sempat berdagang di warung namun merugi dan sekarang tidak bekerja karena tidak punya keahlian lain. Yuli yang sempat mempunyai cita-cita untuk melanjutkan ke sekolah guru untuk menjadi guru pengajar, terpaksa mengandaskan cita-citanya melanjutkan sekolah dan memutuskan untuk bekerja di pabrik di kota lain. Gaji yang diterimanya tidak seberapa, namun dicukupkan saja untuk keperluan sehari-hari. Biaya sekolah Azka adalah beban berat bagi keluarga Ajat.

Selengkapnya…


Energi dari senandung keprihatinan

Filed under Adik Asuh

Diskusi kecil usai acara silaturrahmi bulanan deGromiest sekaligus perayaan Iedul Adha Sabtu 22 Januari 2005 berlangsung santai, tetapi tidak berlebihan kalau diklaim menghasilkan sebuah “komitmen” untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang bermanfaat untuk sebuah kegiatan sosial. Berbagai macam ide dan usulan muncul sebagai wujud kerinduan berkontribusi untuk sebuah aktivitas. Mulai dari ide sederhana, dengan kemungkinan implementasi yang bisa dilakukan dalam waktu dekat sampai sebuah ide besar dalam jangka panjang. Merujuk kepada apa yang telah dan sedang dilakukan oleh “anak-anak Indonesia” yang berdomisili di kota bagian Utara Belanda ini, rasanya bukanlah sebuah mimpi ataupun angan-angan belaka untuk merealisasikan ide-ide yang muncul. Apalagi salah seorang dari anggotanya sudah menyatakan komitmen untuk menyumbangkan (atau bahasa lain mewakafkan) “aset” nya untuk mewujudkan salah satu bahasan penting dari diskusi tersebut.

Untuk bahasan ini menyangkut bukan hanya jangka pendek namun juga sebuah rencana besar untuk jangka panjang. Apa dan bagaimana bentuk kegiatan ini mungkin tidak akan menjadi bahasan dalam tulisan ini, karena masih akan dilanjutkan dengan diskusi-diskusi dan pertemuan lanjutan. Walaupun pada pembicaraan awal sudah mengerucut kepada hal yang lebih konkrit.

Tulisan ini hanya mengusung sebuah pesan moral yang dari sebuah diskusi kecil itu. Kekhawatiran akan “tersendat” nya implementasi ide ini bukan tidak mengemuka, karena banyak permasaalahan-permasaalahan yang mungkin menjadi hambatan, mulai dari hambatan yang bersifat teknis semisal susahnya menghubungi bekas anggota deGromiset yang sudah tersebar di mana-mana sampai kepada permasaalahan non-teknis, semisal berkurangnya sebuah idealisme. Namun nada optimisme, Insya Allah mendominasi diskusi. Saya sendiri merasakan prediksi yang kuat untuk implementasi ide-ide tersebut. Sekali lagi bukan tidak berdasar, tetapi melihat apa yang telah, sedang dan akan dilakukan, salah satunya adalah berupaya berbuat seoptimal mungkin untuk membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah di Aceh dan sekitarnya. Ide-ide dalam diskusipun sebenarnya adalah salah satu perpanjangan dari kerja-kerja ini.

Salah satu faktor yang membuat ide-ide ini semakin menguat adalah karena keprihatinan yang mendalam tehadap permasaalahan riil yang dihadapai masyarakat Indonesia saat ini, masaalah anak-anak yatim piatu yang kehilangan orang tua akibat musibah tsumani, kemiskinan yang diakibatkan dan kalau ingin diperluas dalam ruang lingkup Indonesia (bukan hanya yang diakibatkan oleh musibah tsunami) maka permasaalahan tersebut tidak akan bisa diselesaikan oleh satu, dua atau tiga lembaga, atau pemerintah saja, namun melibatkan semua unsur yang terpanggil untuk berbuat sesuatu dalam meminimalisasi masaalah ini.

Keprihatinan yang timbul di tanah air bukan hanya yang diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa alam seperti musibah tsunami. Tapi juga diakibatkan oleh menipisnya nilai-nilai moral ditengah masyarakat dari berbagai level. Berkurangnya aktualisasi nilai-nilai agama, menipisnya “ketakutan” (khauf) kepada Allah SWT dalam konsep taqwa. Keengganan “bertaqarub” pada Allah SWT, menempatkan hati nurani tidak lagi sebagai rujukan untuk memutuskan sesuatu, tidak lagi menjaga hati dan lain-lain. Korupsi yang merajalela adalah salah satu produk dari “penyakit moral ini”.

Diberbagai kesempatan kita selalu dengan sangat mudah menemukan ungkapan-ungkapan keprihatinan terhadap bangsa Indonesia, di pertemuan-pertemuan resmi seperti seminar atau konferensi, dalam forum diskusi kecil, media masa, mailing lis dan media-media lain. Bahkan kalau kita merenung sendiri akan sangat mudah menemukan betapa prihatinnya kita melihat kondisi yang ada sekarang. Siapa yang tidak akan geleng-geleng kepala mendengar berita ada orang yang memanfaatkan dana bantuan bencana alam (seperti yang terjadi dalam gempa bumi di Liwa, Lampung) beberapa tahun yang lalu untuk kepentingan pribadi. Belajar dari kejadian itu maka banyak orang “berteriak” supaya jangan pula terjadi korupsi atas bantuan bencana alam itu dalam musibah Aceh kali ini. Kalaulah ada yang memanfaatkannya maka tidak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa “aneh” nya orang itu.

Kalau dipajang satu-satu ungkapan keprihatinan kita terhadap kondisi yang ada saat ini, sungguh tidaklah akan cukup dimuat dalam beberapa lembaran kertas putih. Tidak sedikit yang akhirnya punya kesimpulan bahwa, ya…sudahlah memang begitu keadaanya. Mengambil contoh masaalah korupsi, yang mulai dari tingkatan RT, dalam mengurus KTP, berbagai kasus “curang” penerimaan PNS yang baru-baru ini dilakukan, sampai yang jumlahnya luar biasa dan tak tersentuh hukum. Seolah-olah tidak ada celah lagi untuk mengatasinya bahkan menguranginya, karena sudah mendarah daging. Mendarah daging maksudnya adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa sulitnya menghapus korupsi ini. Kalau sudah menjadi darah dan daging, bukankah itu adalah syarat dari sebuah kehidupan bagi tubuh ?. Tatkala darah dan daging dihabisi tentu sudah tidak ada lagi kehidupan dalam tubuh itu.

Sebagai seorang yang percaya pada Allah SWT, tentu kita tidak akan berputus asa untuk melihat perbaikan-perbaikan dari segala aspek kehidupan, karena yang terbaik di mata Allah SWT adalah sesuatu yang lebih baik hari ini apabila dibandingkan dengan hari kemaren, dan hari selanjutnya adalah harus lebih baik dari hari ini. Hanya meratapi segala keprihatinan yang ada bukanlah sebuah solusi. Tentu tidak bijaksana juga kalau menjadikan keprihatinan tersebut hanya sebuah bahan obrolan. Adalah sebuah keniscayan merubah keprihatinan-keprihatinan dalam diri terhadap kondisi yang ada menjadi sebuah energi yang kuat untuk berbuat dan beramal kearah perbaikan-perbaikan. Energi itu diharapkan mampu memotivasi untuk melakukan sesuatu yang signifikan, sebesar apapun dia. Energi itu juga sudah seharusnya mampu menggerakkan diri untuk mengidentifikasi potensi-potensi yang ada dan menggunakannya dalam beraktivitas. Aktivitas individu dalam bentuk kecil, apabila digabung dalam sebuah komunitas akan mampu menghasilkan output besar.

Ide-ide yang muncul dari diskusi kecil sesudah acara silaturrahmi dan peringatan Iedul Adha Sabtu yang lalu, mudah-mudahan merupakan salah satu bentuk energi penggerak untuk berbuat sesuatu, ya…energi yang lahir atas keprihatinan musibah-musibah yang menimpa saudara-saudara di tanah air tercinta. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kekuatan, Amiin.