Entries by Indra

AD & ART deGromiest

Filed under Headlines, Meja Informasi,

Setelah berhasil mendapatkan celah yang kosong dalam jadwal yang cukup padat, rezim Wangsa Tirta Ismaya akhirnya dapat merampungkan rancangan akhir AD/ART deGromiest yang perancangannya sudah dimulai dari zaman rezim Iman Santoso. Draft ini sengaja diumumkan di cafe deGromiest dan milis deGromiest worldwide untuk disetujui oleh para anggota dan alumni deGromiest. Mengingat selain memang terdapat kekurangan yang tidak disengaja, terdapat pula kekurangan yang memang disengaja (contoh: IT dan permilisan), masukan dari para anggota dan alumni deGromiest amat diharapkan.

Tentunya pemberian masukan ini tenggang waktunya harus dibatasi agar AD/ART deGromiest ini dapat segera disahkan. Sehingga masukan/persetujuan ditunggu sampai dengan 10 hari setelah diumumkannya rancangan AD/ART ini. Anggota dan alumni yang tidak memberikan masukan dan atau suaranya akan dianggap setuju. Cara ini dipilih untuk menghemat waktu. adapun teks rancangan tersebut adalah sebagaimana dibawah ini:

Selengkapnya…


Silaturrahim September 2005

Filed under Agenda deGromiest

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Insya Allah, pada tanggal 24 September 2005, kembali akan diadakan acara bulanan silaturahim deGromiest. Pada acara ini juga, kita akan menyambut rekan-rekan yang baru datang ke Groningen ini.
Acara tersebut akan diadakan di :

Tempat tinggal keluarga Ismail Fahmi
Bezettingslaan 30, 9728EH Groningen
Pukul 17.00 waktu Groningen Selatan

Acara utama kita kali ini adalah perkenalan, ramah tamah dan bertukar informasi (tips dan trik) dengan rekan-rekan yang baru datang. Kalau ada waktu, bagi yang berminat, bisa melanjutkan dengan pembahasan rancangan AD/ART serta suksesi kepengurusan deGromiest.

Untuk keterangan lebih lanjut, sila hubungi:
Indra Muliawan
0642111769
indramuliawan @ yahoo.com


Terhitung pada tanggal 13 Agustus 2005, Rincian total dana deGromiest adalah :

1. Kartu ATM beserta kelengkapan rekening deGromiest = 1188,8 Euro*
2. Kotak ajaib Wangsa (hasil sumbangan sukarela pada beberapa acara kumpul-kumpul) = 59 Euro
3. Uang tunai = 670,9 Euro

Total = 1918,70 Euro

keterangan : * Oleh karena satu dan lain hal, pengurusan penggantian “holder” rekening deGromiest sampai saat ini belum dapat dilakukan. Sehingga, agar terdapat kepastian mengenai keberadaan serta akses kepada kas deGromiest, akan dibuat rekening baru untuk menyimpan kas deGromiest. Sedangkan rekening deGromiest yang lama akan dikosongkan dan dinon-aktifkan.

Pada tanggal 13 Agustus 2005, antara pukul 22.00 dan pukul 23.45 waktu Groningen, atau setidak-tidaknya antara setelah terbenamnya matahari dan terbitnya matahari, Bendahara deGromiest, Diana Jirjis, telah mengalihkan sementara sebagian dari kas deGromiest kepada Indra Muliawan, dengan dihadiri saksi-saksi:

1. Senaz
2. Ponky
3. Yunia
4. Mas Widy
5. Itobh

Dana yang dialihkan adalah yang disebutkan pada angka 1 (satu) dan 2 (dua) dari rincian total kas deGromiest di atas. Sedangkan uang tunai sejumlah 670,9 Euro pada angka 3 (tiga) akan ditransfer oleh Diana ke rekening baru segera setelah rekening baru tersebut dapat dipergunakan.

Pengalihan sementara tersebut dilakukan karena Diana akan segera meninggalkan Groningen menuju Yogyakarta pada tanggal 14 Agustus 2005. Demi tertib organisasi, maka, segera setelah bendahara baru terpilih pada pemilihan pengurus deGromiest periode 2005/2006, penguasaan kas deGromiest akan dialihkan ke bendahara yang baru terpilih tersebut.

Hal-hal yang belum dilaksanakan dalam peralihan sementara kas deGromiest ini, akan dilakukan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Demikian untuk diketahui.

—-
update 14 Agustus 2005 : Dari jumlah 670,9 Euro yang pada awalnya akan ditransfer ke rekening baru, telah diserahkan secara tunai sebesar 500 Euro. Sisanya akan ditransfer kemudian.


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Insya Allah, pada tanggal 13 Agustus 2005, akan diadakan dua acara. Acara utamanya adalah perpisahan dengan Bendahara kita yang telah menyelesaikan studinya di Groningen, Diana Jirjis. Oleh karena mau tak mau dalam acara tersebut pasti akan terjadi silaturrahim, maka, dengan persetujuan pemilik acara utama, acara tersebut juga ditunggangi sebagai Silaturrahim bulanan deGromiest untuk Agustus 2005. Acara tersebut akan diadakan di :

Kediaman Itobh, Ponky, Diana, dan Mas Widy*
Westerbadstraat 48, Groningen
Pukul 17.00 18.30** waktu Stasiun Groningen CS

Untuk keterangan lebih lanjut, sila hubungi:
Diana Jirjis di :
[email protected] yahoo. com
0619046578

*tidak terdaftar di Gemeente Groningen
** sudah dikonfirmasi


Kita, Kami, dan Revans

Filed under Catatan Pribadi

Pada hari rabu tanggal 27 Juli 2005, setelah sempat beberapa hari tidak bersentuhan dengan internet, saya menyempatkan diri membaca beberapa blog dan situs berita mengenai tanah air. Pendek kata, setelah membuka-buka beberapa halaman situs, mata saya mulai terasa gatal. Ternyata setelah diperhatikan, ada beberapa penggunaan bahasa Indonesia yang sedikit membuat saya “tersinggung”.

Masalah penggunaan “kami” dan “kita” memang sudah mengusik saya sejak lama. Hanya saja, “serangan” yang bertubi-tubi pada hari Rabu kemarin itu, membuat saya ingin menumpahkan kerisauan saya di tempat yang dapat dibaca oleh publik luas. Media mana lagi yang lebih cocok dari café degromiest yang ratingnya di google sudah amat tinggi ini?

Kami dan Kita

Perhatikan contoh dibawah ini :

A ingin mengungkapkan kepada B, bahwa ia dan X kemarin beli ikan Tongkol di Vismarkt.

A: “Eh, B, kemarin aku dan X ke Vismarkt lho.. kita beli ikan Tongkol masing-masing 3 ekor!
B: “Wah.. berarti aku bisa ke rumah mu ya malam ini, numpang makan.. maklum, di Gedung Kuning udah enggak ada makanan lagi”

Sebelum dibahas lebih lanjut, ada baiknya kita (!) mengulangi sedikit pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 3 SD. Dalam suatu percakapan, “Kita” digunakan untuk mengacu kepada si pembicara (orang pertama), dan si lawan bicara (orang kedua). Sedangkan “kami” digunakan untuk mengacu kepada si pembicara (orang pertama), dan orang lain (orang ketiga), selain si lawan bicara (orang kedua).

Sehingga, menurut kaidah bahasa Indonesia, A pada contoh diatas, seakan-akan mengatakan bahwa A dan B lah yang beli ikan tongkol di Vismarkt, dan bukan A dan X. Seharusnya, A menggunakan “kami”, bukan “kita”.

Dalam percakapan sehari-hari, sering sekali kesalahan macam ini terjadi. Mungkin, karena sudah terlalu sering, otak kita (!) cenderung untuk mengabaikannya. Atau bahkan, penggunaan “kita” untuk contoh diatas sudah dirasa benar, dan penggunaan “kami” malah dirasa janggal. Tetapi, bagi yang memperhatikan, tentu telinganya akan menderita gatal-gatal yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter THT.

Selama ini, sering terdengar keluhan, bahwa Bahasa Indonesia banyak menyerap kata-kata dari bahasa lain, karena Bahasa Indonesia itu tidak memiliki kosa kata yang cukup, sehingga harus dilengkapi oleh bahasa lain. Contoh diatas, telah membuktikan, bahwa keluhan tersebut tidak sepenuhnya benar. Bandingkan dengan bahasa Inggris dan bahasa Belanda yang hanya punya “we” dan “wij”, sementara bahasa Indonesia punya “kami” dan “kita”. Bukankah dalam hal ini bahasa kita lebih kaya?

Revans

Penggunaan kata serapan, dalam hal memang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, memang dapat diterima, atau malah dianjurkan. Akan tetapi, apabila diperhatikan, banyak juga kata serapan yang seharusnya tidak perlu diserap, karena padanan katanya sudah terdapat dalam Bahasa Indonesia.

Pada hari yang sama, hari Rabu kemarin, di salah satu rubrik olahraga situs berita dari tanah air, saya menjumpai kata “revans”. Ini juga bukan yang pertama kali kata ini saya jumpai. Namun, kali ini karena dijumpai di salah satu situs berita yang menurut beberapa informan diakses sekian ratus ribu kali perharinya, saya menjadi amat prihatin. Penggunaan “revans” pada situs itu adalah kira-kira sebagai berikut:
“Dalam olahraga X, A ingin revans terhadap B”.

Setelah beritanya dibaca, ternyata yang dimaksud oleh si penulis berita dengan “revans” adalah “balas dendam”. Apakah begitu nistanya bahasa Indonesia sehingga si penulis harus menggunakan “revans”? atau apakah tujuannya agar pembaca situs itu tahu, bahwa si penulis berita sudah mengerti bagaimana cara menggunakan kata “revenge” dalam bahasa Inggris?


Kemalasan berbahasa Indonesia yang baik dan benar (bukan propaganda orba ya..) akhir-akhir ini sema(ng)kin memprihatinkan. Makin banyak kosa kata bahasa kita hilang ditelan bumi, karena sudah tidak digunakan lagi, diganti dengan kata lain, dan dari bahasa lain. Di lain pihak, kekayaan bahasa kita makin dipermiskin, bahwa walaupun sedianya ada “kita” dan “kami”, saat ini secara perlahan-lahan “kami” sedang dalam proses pengikisan dari kosa kata bahasa Indonesia.

Dengan tetap chusnudzan, saya ingin berkata bahwa mungkin, program pengajaran bahasa Inggris di tanah air sudah sedemikian hebatnya, sehingga para pemakai bahasa Indonesia sudah mulai lupa dengan bahasa ibunya (English disease – mulai mewabah di Belanda), , dan siap “Go International”. Tetapi sepertinya, saya belum bisa berkata demikian. Pejabat negara bagian pariwisata saja, bahasa inggrisnya masih “belepotan”. Masa sudah lupa bahasa Indonesia?

Repot amat sih sama bahasa Indonesia? So What Gitu Lho!!?


Silaturrahim Juli 2005

Filed under Agenda deGromiest

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Insya Allah, Silaturrahim Juli 2005 akan diadakan di :

Kediaman Hari, Dian & Dafin
M.L.Kingstraat 12, Groningen
tanggal 23 Juli 2005
Pukul 17.00 waktu Hoornsemeer

Yang tidak membawa kendaraan pribadi, dapat menumpang bus Lijn 6. Selain dari halte-halte yang dilalui trayeknya, bus lijn 6 dapat juga dinaiki dari Groningen Centraal Station. Pastikan naik ke jurusan “Hoornsemeer”, dan turun di b s f von suttnerstraat/s o j. Sebagai pelengkap, disebelah kiri (di seberang halte) ada supermarket “Albert Heijn”. Jalan kaki sedikit ke arah datangnya bus, M.L.Kingstraat ada di sebelah kiri.

Pembicara adalah juga warga baru di Groningen, jadi sekaligus perkenalan, Mas Mochammad Chalid.

Sesuai dengan aspirasi beberapa warga degromiest, kali ini bapak-bapak yang akan menyiapkan konsumsi. Walaupun demikian, sebagaimana biasa, seluruh bantuan akan diterima dengan senang hati. Terutama “cadangan” apabila masaknya gagal.

Rekan-rekan, om, tante yang akan pulang diharapkan datang, terutama dari rombongan Bappenas, yang akan meninggalkan Groningen pada tanggal 30 Juli. Jadi sekalian, selain perkenalan, juga ada perpisahan.

Untuk keterangan lebih lanjut, sila hubungi:
Indra Muliawan di :
[email protected] yahoo. com
0642111769


The Da Vinci Code

Filed under Bedah Buku

Beberapa saat setelah peluncurannya, buku karangan Dan Brown ini menjadi best seller dan laris di mana-mana. Apakah yang menjadi “rahasia” kesuksesan buku ini?

Ada dua “menu” yang dihadirkan buku ini :

1. Ketegangan (suspens) dan alur
Jika diperhatikan, cerita yang dihadirkan oleh Dan Brown adalah “petualangan” seorang Robert Langdon. Brown menghadirkan permasalahan ke depan Langdon, yang pemecahannya harus menggunakan ilmu simbologi yang dimiliki Landon terhadap beberapa karya Leonardo Da Vinci. Sementara itu, dalam menganalisa dan memecahkan teka-teki yang dihadapinya, unsur ketegangan dihadirkan dengan “berlari”nya Langdon dari kejaran polisi dan pihak-pihak yang juga menginginkan apa yang tersembunyi dalam beberapa karya Da Vinci tersebut.

Alur utama yang disajikan Dan Brown adalah kronologis. Teka-teki sedikit demi sedikit terbuka. Selain itu, ada pula beberapa kejutan yang cukup membuat pembaca berfikir. Kemudian, ada beberapa alur kilas balik, yang kesemuanya berfungsi untuk membantu pembaca memahami secara penuh rangkaian peristiwa yang berujung kepada petualangan Brown tersebut.

2. Fakta/fiksi di sekitar karya Leonardo da Vinci yang berhubungan dengan Jesus
Hampir seluruh bagian dari novel ini, diwarnai oleh fakta/fiksi di sekitar karya Leonardo da Vinci yang berhubungan dengan Jesus. Adapun fakta/fiksi tersebut, mungkin sekitar 10%nya saja yang diciptakan oleh Brown. Sementara sisanya memang sudah diketahui oleh komunitas yang memang punya perhatian terhadap masalah-masalah itu. Dengan kata lain, untuk komunitas-komunitas tersebut, fakta/fiksi ini bukan lagi barang baru. Namun demikian, jumlah “anggota” komunitas-komunitas ini memang tidak banyak dibandingkan dengan pembaca lainnya dari novel ini.

——

Memang tidak dapat dielakkan, kepiawaian Brown dalam meracik fakta/fiksi tersebut ke dalam alur yang ia buat, telah membuat novelnya menjadi best seller, dan tentu menambah tabungan Brown. Selain itu, fakta/fiksi yang dihadirkan Brown memang cukup “mengguncang” pemikiran orang-orang yang bukan “anggota” dari komunitas-komunitas di atas, karena dirasa mendobrak mainstream yang dipercaya dan dianut di hampir seluruh dunia.

Akan tetapi, dari segi cerita, sajian Dan Brown tidak dapat dikatakan terlalu istimewa. Para pembaca buku-buku thriller tentu sudah terbiasa dengan penyajian seperti diatas. Bahkan mungkin ada dari beberapa pembaca yang sudah dapat kurang lebih menebak akhir ceritanya. Pembaca “The Da Vinci Code” setelah membaca novel tersebut akan hampir selalu terpancing untuk mendiskusikan fakta/fiksi tersebut. Sedangkan di lain pihak, sedikit yang akan tertarik untuk mendiskusikan alur , ketegangan, serta jalan ceritanya itu sendiri.

Dari analisa singkat di atas, sepertinya, jawaban dari pertanyaan di awal artikel ini :”apakah yang menjadi rahasia kesuksesan buku ini?” sudah dapat terjawab.
Pertama, Brown cukup berhasil mengawinkan fakta/fiksi dengan alur dan ketegangan yang ia sajikan. Kedua, Brown mengangkat perihal yang kontroversial, yang mengguncang kemapanan mainstream yang telah ada. Tidak tanggung-tanggung, Brown mengguncang kemapanan salah satu agama yang penganutnya cukup besar di muka bumi ini.

Namun, perlu ditekankan, bahwa ada catatan kecil dibalik dua rahasia sukses di atas. Yang dilakukan Brown selain alur cerita dan ketegangannya, ia hanya mengangkat perihal yang sudah bukan barang baru, dari publik terbatas ke publik yang lebih luas. Dan dalam topik ini, Brown bukanlah yang pertama. Walaupun begitu, boleh jadi dia adalah yang pertama yang menjadi kaya karenanya.


Silaturrahim Mei 2005

Filed under Agenda deGromiest

Setelah silaturrahim April 2005 ditiadakan, Mei ini mudah-mudahan tidak ada lagi halangan dan rintangan.

Insya Allah, Silaturrahmi Mei 2005 akan diadakan pada :

Sabtu, 28 Mei 2005 pukul 18.00
di Concordiastraat 67 A
dengan pembicara seorang saudara muallaf dari Den Haag yang akan berbagi visi dan pengalamannya

Kehadiran saudara-saudari semua amat diharapkan, mengingat kemungkinan bahwa Silaturrahim kali ini adalah yang terakhir yang dapat kita laksanakan di rumah Mas Amal, Mba Heni, Rayhan, Safira, dan tidak ketinggalan, Khairul


Wardi

Filed under Catatan Pribadi

Setelah update berita mengenai perkembangan milis yang akhir-akhir ini makin seru, ada satu conversation antara Wangsa dan Mia yang mengingatkan saya pada seseorang. Alkisah, ada seorang jejaka bernama Wardi. Wardi ini lahir dan besar di Pemalang. Pendidikannya cuma sampai kelas 4 SD. Sampai dengan umur 24 tahun, dia bekerja di sawah, mengkomando kerbau narik bajak, menemani sang kerbau merumput (tentunya si Wardi tetap makan nasi dan nggak ikut merumput), dan bantu-bantu hal lainnya. tidak jelas apakah si Wardi ini termasuk pengangguran terselubung atau bukan. Suatu hari, kakak ipar wardi yang bekerja di Jakarta pulang kampung dan menawarkan pekerjaan di Jakarta, karena menurut sang kakak, value si Wardi ini bisa ditingkatkan. Kalau di Pemalang, pendapatan Wardi tidak bisa dinilai dengan uang. Di Jakarta bisa. Paling tidak, tiap dua bulan sekali bisa beli satu kambing, dan masih bersisa untuk keperluan sehari-hari dan ditabung.

Wardi yang selalu membawa kartu anggota NU di dompetnya itu, awalnya agak bimbang. Maklumlah, embel-embel di depan nama Wardi itu “mas”. Kalau “uda”, tanpa berfikir dua kali pasti sudah dikemas pakaiannya yang tidak seberapa banyak itu dalam kurang dari sepuluh menit.

Sesampainya di Jakarta, Wardi bekerja sebagai “office boy“. Memang, job description agak berbeda dengan yang biasa dia kerjakan di sawah dengan kerbaunya. Tetapi pada hakikatnya, tetap kerja sedikit ini, sedikit itu (tapi kalau digabung jadi banyak juga), namun dengan beban relatif lebih ringan. Wardi diberikan sebuah kamar di kantornya tempat dia tinggal. Tidak bisa dibilang bagus, tetapi masih lebih bagus dari kamarnya di Pemalang. Paling tidak, sekarang kamarnya dikelilingi tembok, dan kaca yang tergantung di tembok itu ukurannya 5 kali lipat dari kaca spion yang dahulu selalu dia gunakan waktu menyisir rambutnya. Di meja di dekat kaca tersebut, ada sebuah radio tape lengkap dengan pemutar CDnya. Dan, yang paling membuat Wardi senang adalah, itu kamarnya sendiri. nggak usah bagi-bagi dengan orang lain.

Setiap hari Wardi dapat makanan dari kantornya. Walaupun selera makan Wardi cukup besar, namun jatah dari kantornya itu masih mencukupi. Sehabis main course, Wardi selalu menyiapkan dua hal untuk pencuci mulut. Secangkir kopi tubruk, dan dua batang rokok kretek. Sehari-hari, Wardi jarang meninggalkan kantor itu. Bukan karena tidak boleh atau tidak ada waktu karena mengejar deadline, tetapi karena memang dia tidak melihat kepentingannya untuk jalan-jalan. Saat malam-malam banyak anak muda nongkrong di belakang kantor di sekitar warung rokok, lantunan suara Wardi yang melagukan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu sayup-sayup terdengar dari arah kamarnya.

Suatu ketika, salah seorang “boss” Wardi bertanya :”Di, kamu tuh punya pacar enggak sih?” Wardi menjawab :”Enggak Mas”, sambil tersipu-sipu dengan cengkok Pemalangnya yang masih kental. “Biar dicariin di kampung aja”, lanjutnya lagi. Pada hari lainnya, ada penggantian perabot di wilayah “kekuasaan” Wardi di kantor itu. Tivi yang biasa ia tonton, dipindahkan, dan diganti dengan tivi yang lebih besar dan lebih bagus. Akses ke saluran tivi kabel yang dahulu hanya ada di ruang rapat dan kamar kerja para boss juga diberikan. Keesokan paginya, saat “boss besar” datang, Wardi menghampirinya, seraya berkata “Pak, mohon maaf, tapi, apa saya boleh minta tivi yang dulu saja? saya bingung mau nonton yang mana, dan tivinya besar sekali, pusing Pak”. Sang bos besar cuma bisa melongo saja mendengar curhat si Wardi. Akhirnya tivi si Wardi yang kecilpun dipasang kembali. Namun, walau sekarang menggunakan antena biasa, akses tivi kabelnya dibiarkan menggantung di sebelah tivi tersebut, kalau-kalau saja suatu waktu nanti Wardi tiba-tiba berhasrat ingin menonton MTV.

Wardi itu cuma salah satu contoh orang yang kehidupannya sederhana, dan tidak banyak maunya. Saat musim naik gaji, Wardi sempat bertanya, mengapa ia terima uang banyak sekali, sementara pendapat kebanyakan orang adalah :”gak bisa tambah lagi ya?”. Memang disatu sisi, sepertinya kehidupannya monoton, datar, tidak berkembang. . Tetapi, dilain pihak, Wardi merasa kesejahteraannya terjamin, dan ia merasa senang sentosa. nggak pingin motor, mobil, gak pingin komputer dengan prosesor 4GHz dan Windows 64 bit, gak pingin mikir negara kesatuan atau federal, gak pingin punya saham Philip Morris. Relatif jarang ya orang kayak gini?

Ada yang berminat dengan Wardi? masih belum punya pacar lho… ^_^


Susunan Kepengurusan DeGromiest

Filed under Meja Informasi

Struktur Kepengurusan DeGromiest Periode 2004/2005

SUSUNAN PENGURUS DEGROMIEST 2004-2005

Ketua Tertinggi dan koordinator tadarrus mingguan Wangsa Tirta Ismaya (w.t.ismaya @ rug.nl)
Ketua Saja dan koordinator silaturahmi bulanan Indra
Muliawan
(i.muliawan @ gmail.com)
Juga Ketua Saja (Demisioner) Shri
Mulyanto
(totski03 @ yahoo.com)
Pemegang Buku Besar Keuangan dan (tentu saja) Uangnya (Demisioner) Diana Jirjis (dheeyana @ yahoo.com)



IT dan permilisan

Disepakati bahwa IT dan permilist-an de Gromiest dijadikan lembaga independent dengan harapan
kelangsungannya tidak bergantung pada kepengurusan. Pengurus de Gromiest akan memberikan dukungan
yang bersifat menjaga keberadaan dan kelancaran fasilitas yang digunakan dan memberikan input berupa
informasi kegiatan dan kepengurusan. Koordinator permilist-an dipegang oleh Teguh dan Ismail, untuk
bidang IT dikoordinir oleh Ikhlasul Amal dan Febdian Rusydi (buyung)

Lain-lain

Kegiatan-kegiatan lain akan ditentukan kemudian sesuai aspirasi warga DeGromiest.
Sementara ini, telah ditunjuk seorang pengurus untuk bidang :

- Juragan Loak yaitu Mbak Agnes Triharjaningrum. Klik disini untuk keterangan lebih lanjut

————-

Powered by X-DickTait-OrTemplate(tm)