Entries by Buyung

Saya ingat pemutaran film Harry Potter pertama kali, sekitar akhir tahun 2001. Saat itu saya masih di Maryland, Amerika Serikat. Tidak beberapa lama kemudian diputar The Lord of the Ring: The Fellowship of the Rings. Saya mengenal fantasi Rowling lebih dulu daripada fantasi Tolkien, jadi ketika The Fellowship of the Rings diputar, saya hanya mencibir sambil berujar, “Ah, satu lagi karya film mendompleng ketenaran karya lain.” (Ini merujuk pada pengalaman yang sudah-sudah, satu film laris akan diikuti oleh film-film sejenisnya.)

Desember 2003, beberapa hari menjelang ujian akhir Subatomic Physics. Seorang sahabat pribumi mengajak saya ke peluncuran perdana The Lord of the Rings: The Return of the King. Malam itu saya harus menjilat kembali cibiran 2 tahun yang lalu. Tidak beberapa lama 4 kitab fantasi Tolkien, The Silmarillion, The Hobbits, The Lords of the Rings, dan Unfinished Tales saya khatami - hanya bagian indeks yang tidak saya baca. *This is the greatest and the only one favorite fantasy for me*. (Eventhough I quite agree that Mahabarata is better, but for some reason I choose Tolkien.)

Bagaimana dengan Harry Potter?

Fantasi Rowling bagus, buktinya menarik balik minat baca anak-anak seluruh dunia dari ketergantungan menonton tivi. Itu berarti ceritanya menarik, dan pada kenyataannya memang menarik. Pembaca Harry Potter bisa disebut segala umur, walau saya belum pernah tahu kalau ada generasi 50-an membaca Harry Potter (berbeda dengan fantasi Tolkien yang jadi cerita sebelum bobo sampai kakek-kakek).

Popularitas Harry Potter makin melangit setelah suksesnya versi layar lebar, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone. Layar lebar kedua, Harry Potter and The Chamber of Secret, menurutku sangat mengesankan. Dan terakhir, Harry Potter and The Prizoner of Azkaban, sedikit menurun kualitasnya. Yang paling mengecewakan adalah alurnya yang tidak benar. Kalau tidak salah saya sampai marah-marah dengan seorang teman dekat gara-gara dia saya tuduh tidak menceritakan alur dengan benar - setelah dicek ternyata alur di film yang salah. *Itu lho*, adegan Harry mengeluarkan mantera mengusir Dementhor yang mengerubungi Sirius Black - saya sendiri juga sudah lupa bagian mana yang tidak benar.

Nah, kenapa saya marah-marah? Ternyata, selama ini saya adalah penikmat Harry Potter palsu. Saya gemar mendengar diskusi para penggemar Harry Potter, tanya ini-itu, kemudian menceritakan kembali ke orang lain dengan lagak yang seakan-akan sudah baca. Hehehe…

Tapi tentu saja saya tidak tergantung pada ajian menguping itu. Sebelum menguping, saya baca dulu bukunya. Bedanya, kalau penggemar Harry Potter asli membaca kata demi kata, halaman demi halaman, seakan-akan tidak mau kehilangan momen-momen penting, saya membaca buku itu hanya dalam hitungan menit.

Caranya? Cukup baca 3 bab pertama + 10 halaman terakhir. Tiga bab pertama dibaca dari kiri ke kanan, selayaknya membaca buku teks, dan sepuluh halaman terakhir dibaca dari kiri ke kanan selayaknya mebaca Al Quran. Saya jamin, inti dari cerita satu buku sudah ada di kepala anda. Kata orang padang, “Kalau bisa melakukan dengan lebih cepat dengan hasil yang sama, kenapa cari jalan yang berbelit-belit?” He he he… Sayangnya ajian itu tidak berlaku dengan untuk The Lord of the Rings dan karya Tolkien lainnya.

Nah dengan ajian itu, hari Minggu 17 Juli saya sudah menyelesaikan Harry Potter and the Half-blood Prince (yang saya terjemahkan: Harry Potter dan Pangeran Setengah-berdarah, hihihi). Hari Senin, dengan polosnya saya email beberapa teman penggemar Harry Potter untuk mendiskusikan beberapa hal, dan yang paling penting adalah teori konspirasiku terhadap pembunuhan Dumdumdum (ini cara saya mengeja nama kepala sekolah sihir Hogwart, tempat sekolah Harry Potter) yang dilakukan Snape. (Btw, Snape sejak dulu sudah menjadi idolaku. Di film juga dia cool, aduuh, ganteng dech!)

Ini dia: the Conspiration Theory

Saya berteori bahwa pembunuhan ini adalah rekayasa Dumdumdum untuk meyakinkan Voldemort (the guy who doesn’t know his name) bahwa Snape ada di pihak mereka. Peran agen ganda memang diperlukan di mana-mana, kalau tidak Sekutu tidak akan pernah menang lawan Jerman dan Jepang, atau Amerika Serikat tidak akan berhasil meruntuhkan Soviet. Teori itu berlandaskan bahwa tingginya kepercayaan yang diberikan Dumdumdum pada Snape pada buku ke-5: Order of The Phoenix (yang kalau diperhatikan alurnya mirip-mirip dengan The Fellowship of the Rings).

Namun ternyata saya mendapat amuk marah dari mereka-mereka penggemar Harry Potter. Katanya saya spoiler. Setelah saya cek di kamus, spoiler ini artinya kandidat yang tidak punya kesempatan untuk menang tapi bisa membuat kandidat yang lain tidak menang. Bisa juga artinya sesuatu atau seseorang yang membuat makanan basi. Hehe, mungkin arti ke dua lebih tepat dalam kasus ini. Saya diprotes: jangan ganggu kesenangan orang lain. Lha, kalau begitu, sama artinya saya disuruh berhenti bersenang-senang? Hihihi.

Ternyata memang ada semacam kesepakatan etika yang dibangun di antara para penggemar sejati Harry Potter: tidak boleh berdiskusi atau mendiskusikan buku terbaru di depan seseorang yang belum baca. Dan aturan ini benar-benar dipegang teguh oleh mereka.

Seseorang diantaranya memarahi saya karena tidak pernah serius kalau bercerita tentang Harry Potter. Mulai dari banyaknya kesalahejaan nama tokoh, sampai ke alur cerita yang sudah dipelintir kesana-kemari oleh saya.

Sementara bagi saya, si penggemar palsu ini, Harry Potter adalah buku untuk bersenang-senang: saya beli, saya bebas interpretasikan semena-mena saya, dan saya bebas mengemukakan pendapat. Itulah cara saya menikmat Harry Potter.

Saya jadi tergelitik untuk bertanya, saat fantasi Tolkien diterbitkan satu per satu, apakah juga seperti itu? Saya dulu penggemar dan langganan Doraemon, Dragon Ball, Kungfu Boy, Cityhunter, Tapak Sakti, dan majalah Ananda. Saya juga punya klub pecinta komik yang sama, dan kami tidak punya etika seperti itu. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang membuat perbedaan sehingga kami dulu tidak punya etika itu dan sementara generasi sekarang memilikinya?

Banyak kemungkinan terpikir: zaman yang berbeda, faktor media massa, jenis bacaan… dan salah satunya: faktor pribadi. Dari sekian banyak yang protes ke saya, tidak satupun yang datang dari fisikawan seperti saya. Teman sekantor saya malah asik-asik saja dengan ulah tersebut, walau tetap mengolok-ngolok saya yang diprotes banyak orang. (Dia juga pembaca Harry Potter dan The Lords of the Rings, saya ceritakan kejadian tersebut ke dia.)

Menarik sekali dengan etika “no spoiler” ini. Kalau untuk yang beginian kawan-kawan muda kita sudah bisa membangun dan melaksanakannya, apakah bisa dikembangkan ke etika-etika yang lain? Misalnya etika tidak menjadi plagiat di sekolah, etika tidak menyuap dan berkolusi tidak sehat, dan etika-etika yang bermanfaat untuk lebih banyak orang. Entahlah…

Yang jelas, dengan segala ketulusan hati saya minta maaf kepada semua penggemar asli Harry Potter atas ulah saya di atas. Percayalah, buku ketujuh akan jauh lebih hebat daripada buku keenam, jadi jangan membenci Harry Potter cuma gara-gara ulah spoiler ini.


Bawang dan Tangisan

Filed under Dokumentasi

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di suplemen iptek Pikiran Rakyat, Cakrawala, lewat artikel “Tak “Cengeng” Saat Kupas Bawang.

Beberapa hari yang lalu saya minjem bawang ke tetangga… bawangnya bukan bawang bombai yang biasanya saya pakai di Belanda ini, melainkan bawang yang biasa kita pakai di Indonesia: kecil, bulet, dan kulitnya tebal (haha, di mana-mana bawang itu kulit semua.) Entah darimana bawang itu dia dapat, yang jelas saya senang sekali.

Akhirnya saya kupaslah bawang itu, tentu saja tidak lupa sambil berurai air mata dan ditambah ingus. Benar-benar nangis dech…

Kemudian pertanyaan lama itu muncul. Kenapa kita menangis saat mengiris bawang? Apakah benar air mata dari tangisan itu bagus buat mata? Dan bisakah memotong bawang tanpa menangis?

Semua pertanyaan itu, seperti biasa, terjawab kalau kita mengerti bagaimana bawang bisa membuat kita menangis saat mengirisnya.

Mengiris Bawang Tanpa Menangis

Sebenarnya menangis karena memotong bawang bisa menyehatkan mata. Beberapa pakar percaya bahwa air mata yang keluar karena rangsangan hawa bawang membersihkan mata dan kelopaknya dari debu dan kuman. Ini membuat mata bening dan berbinar. Menangis karena mengiris bawang juga mengurangi efek “merah-merah” pada mata, yang biasanya diakibatkan oleh polusi udara, keseringan begadang, terlalu lama kena radiasi dari monitor tv/komputer, atau juga karena faktor usia.

Namun sebenarnya, tangisan oleh bawang itu adalah akibat iritasi. Jadi kalau terlalu banyak justru tidak sehat. Mari kita lihat, bagaimana mengiris bawang memancing kita menangis.

Bagaimana hawa bawang membuat kita menangis?

Sel-sel kulit bawang terdiri dari dua bagian, satu mengandung enzim alinase (allinases), dan yang lainnya enzim sulfida (sulfides). Sat bawang diiris, sel tersebut pecah dan dua enzim tersebut lepas ke udara. Di udara enzim alinase menguraikan enzim sulfida menjadi asam sulfonat (SHSO3)

Asam sulfida termasuk senyawa yang tidak stabil, dia segera berubah menjadi gas asam sulfoksida amino. Gas inilah yang mengenai mata kita dan bereaksi dengan cairan di retina mata, menghasilkan asam sulfur lunak. Asam sulfur lunak ini mengakibatkan iritasi pada syaraf retina mata. Iritasi ini membuat mata kita terasa pedih, dan air matapun keluar sebagai respons untuk mengurangi iritasi tersebut.

Yang menarik, enzim yang sama itulah yang memberi rasa khas pada bawang.

Bagaimana tidak menangis saat mengiris bawang?

Seperti yang sudah diuraikan di atas, tangisan akibat bawang adalah karena iritasi. Air mata yang keluar memang bagus untuk membersihkan mata, tapi iritasi terlalu lama justru tidak sehat lagi untuk mata. Jadi yang harus dicegah adalah iritasi yang berlebihan, bukan air mata yang keluar.

Inilah beberapa tip untuk mengurangi iritasi mata dari bawang.

  1. Tindakan yang paling gampang adalah menjaga jarak mata dengan bawang saat dikupas. Semakin jauh jaraknya, semakin berkurang gas asam sulfoksida amino sampai ke mata.
  2. Basahi tangan dan bawang sebelum mengiris bawang. Ini membuat sebagian gas asam sulfoksida amino tersebut bereaksi dengan air yang membasahi bawang dan tangan kita. Membahasi wajah juga membantu mengurangi iritasi tersebut.
  3. Bernapaslah berlahan-lahan, sekali-kali dengan mulut. Bernapas cepat dan dari hidung mempercepat gas asam sulfoksida amino sampai di mata. Beberapa orang mengigit roti saat mengiris bawang, sehingga aliran udara ke hidung tidak mempercepat asam sulfoksida amino sampai ke mata, disamping itu roti menyerap gas tersebut.
  4. Kupaslah lapisan kulit terluar bawang, dan dinginkan beberapa menit dalam kulkas. Temperatur yang rendah mengurangi reaktif enzim alinase dan sulfida.
  5. Hindari mengucek mata saat terasa pedih, karena hanya akan menambah iritasi. Kalau terpaksa harus mengucek, bersihkan tangan dan sirami mata dengan air. Kalau dirasa tidak cukup, bersihkan pakai sabun dengan hati-hati.

Demikianlah beberapa tip untuk mengurangi iritasi mata saat mengiris bawang. Anda bisa memilih tip mana yang dirasa cocok.

Semoga bermanfaat, dan selamat mencoba.


Gempa: Bagaimana, Mengapa, dan Apa

Filed under Dokumentasi

Tulisan ini lahir dari kegelisahan pikiran saya atas bencana alam yang menimpa Sumatera, tanah kelahiran saya, dan kegundahan hati saya pada kondisi orang tua saya di Padang. Harapan saya, ini bisa menjawab pertanyaan rekan-rekan “how your family is doing, Febdian?”

Mama, Papa, maafkan kalau hanya doa yang bisa kukirimkan engkau dari sini untuk saat ini.

Science is about learning how Nature works, not addressing why She works like the way She does!

Ungkapan senada terlontar dari fisikawan terkenal seperti Richard Feynman (Nobelis 1965) dan Stephen Weinberg (Nobelis 1979). Entah apa yang ada di benak kita mendengar ungkapan itu, tapi yang pasti ungkapan itu lahir dari pergulatan panjang orang-orang dalam membuka tabir alam semesta ini.

Bagi saya, ungkapan itu adalah kenyataan: kenyataan bahwa karunia ilmu Allah pada kita hanya sebatas “mengerti bagaimana alam bekerja” namun tidak untuk “kenapa alam bekerja seperti itu”. Saya resapi ungkapan itu sebagai sebuah filosofi dasar dari sains.

Mau contoh? Misalnya foton, si partikel cahaya. Dalam keseharian foton diyakini sebagai gelombang. Dengan demikian sebagian sifat-sifat cahaya seperti dipantulkan, dibiaskan, dan terpolarisasi. Namun, ada juga yang tidak terjelaskan dengan menganggap foton itu adalah gelombang. Misalnya: efek fotolistrik yang dipakai pada sumber energi sel surya.

Ketika permukaan logam Na dalam vakum disinari cahaya1 maka logam Na itu akan melepaskan beberapa elektronnya. Ini membuat Logam Na terionisasi, dalam hal ini menjadi ion positif. Sehingga dengan demikian logam Na menghasilkan arus listrik. Inilah prinsip kerja sel surya yang sering dipakai di rumah-rumah atau gedung-gedung sebagai salah satu sumber energi alternatif.

Nah, fenomena di atas tidak bisa dijelaskan kalau kita masih keukeuh cahaya itu adalah gelombang. Cahaya bisa bersifat sebagai partikel. Dan fakta ini disebut sebagai dualisme partikel-gelombang. Dan sifat ini tidak berlaku hanya pada foton saja, tapi juga pada elektron dan partikel lainnya.

Pertanyaannya: kapan foton menjadi dirinya sebagai partikel, kapan dia menjadi gelombang? Apakah seperti praktik dokter, menjadi gelombang setiap Selasa-Kamis dan partikel untuk Senin-Rabu, jumat dan akhir pekan libur?

Nobody knows! Yang kita tahu hanyalah: cahaya bisa bersifat sebagai partikel dan ini menjelaskan fenomena fotolistrik, dan menjadi gelombang untuk melakukan fenomena pembiasan ataupun pemantulan. Subhanallah

Seperti biasa, saya selalu larut dan lupa diri kalau sudah berbicara tentang fisika. Padahal, saya mau bercerita sedikit tentang bencana alam yang terjadi di Sumatera akhir-akhir ini.

* * *

Saya bukan geologis ataupun fisikawan bumi, jadi pemahaman saya pada fenomena gempa bumi dan gunung meletus hanya sebatas rule of thumb. Dalam tulisan di bawah ini, saya banyak memakai aturan ini dalam menjabarkan fenomena yang ada. Ulasan teknis dan pembahasan detil sangat terbuka terutama bagi mereka yang menguasai fisika bumi dan/atau geologi.

Gempa Tektonik

Gempa 26 Desember 04 di Aceh yang mengakibatkan tsunami di Samudra Pasifik, Gempa 8.2 SR yang terjadi di Nias satu hari setelah Hari Raya Paskah 05 dan 6.7 SR di Mentawai 11 April 05, semuanya masih berasal dari satu wilayah lempeng yang sama. Di bawah lempengan bumi ada magma yang bergerak. Gerakan ini menghasilkan gaya yang dirasakan oleh lempengan terutama pada daerah sambungan antar lempeng. Secara garis besar ada tiga macam gaya yang diderita oleh sambungan ini: membuat lempengan saling dorong, saling menjauh, atau saling gesek. Pada satu saat, gaya ini benar-benar membuat lempengan bergerak. Gerakan ini membuat tanah di atasnya dan juga magma di bawahnya bergetar (vibrasi). Getaran ini akan diteruskan sampai ke permukaan tanah, dan inilah yang disebut gempa (lebih tepatnya: gempa tektonik). (Cerita yang sama pernah saya ulas saat menjawab pertanyaan Lala.)

Selain mengakibatkan gempa, pergeseran lempengan tadi juga bisa mengalirkan magma dari perut bumi ke permukaan bumi. Magma yang sudah keluar dari perut bumi ini disebut lava. Lava ini bisa keluar “baik-baik”, atau “tidak baik-baik” seperti disemburkan dari gunung berapi. Saya tidak tahu persisnya, tapi bisa jadi Gunung Talang di Solok yang mulai menyemburkan debu dan belerangnya semenjak 11 April 05 ini masih berasal dari “sungai” magma yang sama dengan lempengan di Mentawai, Nias, dan Aceh…

Kekuatan gempa diukur oleh alat yang disebut seismografi, dan satuan gempa dinyatakan dalam Skala Richter (SR). Dalam skala mikro, seismografi menunjukkan gempa selalu terjadi yang artinya lempengan bumi selalu bergerak. Tapi kita tidka merasakannya. Beberapa binatang bisa mendeteksi gempa pada 2 SR, sementara rata-rata manusia adalah pada 4 sampai 4,5 SR. Gempa dengan 5 SR sudah cukup merusak, terutama wilayah yang dekat dengan episentrum. Saya tidak tahu bagaimana hubungan antara kekuatan gempa pada episentrum dengan efeknya pada radius tertentu. Seharusnya ada.

Memprediksi kapan gempa terjadi

Dalam sains, untuk mempelajari sebuah fenomena kita menyelidiki mekanismenya. Begitu mekanismenya dimengerti, akan diuji dengan eksperimen. Hasil eksperimen akan menjadi judgment buat teori mekanisme tadi. (Karena alasan eksperimen inilah Stephen Hawking belum bisa mendapatkan hadiah nobel atas teori gemilangnya tentang Lubang Hitam di jagad raya.) Setelah mekanisme itu valid, maka selanjutnya tugas para insinyur berkarya membuat berbagai macam aplikasi untuk kemaslahatan umat.

Begitu juga dengan gempa. Mekanisme terjadinya gempa harus dipelajari untuk memprediksi gempa-gempa selanjutnya. Beberapa parameter yang jelas kita harus tahu adalah posisi sambungan antar lempengan yang ada di kulit bumi. Pengkategorian yang mana berbahaya dan yang mana kurang berbahaya kemudian akan menjadi topik tersendiri. Selain itu kondisi tanah yang melapisi sambungan lempengan itu juga sangat penting, termasuk keberadaan gunung berapi. Dan tak kalah penting adalah pola aliran magma yang menjadi sebab utama gempa tektonik.

Pengetahuan kita pada how the earthquake happens hanya sanggup memprediksi gempa dengan orde presisi ratusan atau bahkan ribuan tahun. Ini menandakan minim sekali pengetahuan kita pada parameter-parameter gempa. Apakah ini limitasi ilmu kita? Saya rasa bukan, ini hanyalah masalah waktu. Saya yakin (dan juga penasaran) rekan-rekan fisika bumi dan geologi sudah memikirkan sebuah model mekanisme utuh gempa tektonik. Sayang selama ini saya tidak tertarik dengan masalah ini sehingga minim sekali informasi yang bisa saya tuangkan di sini.

Rule of thumb yang lain

Ada juga rule of thumb yang lain tentang bencana alam. Bencana alam seperti gempa biasanya terjadi berulang pada perioda waktu tertentu. Daerah yang paling berbahaya terjadi bencana alam biasanya justru paling lama perioda perulangannya.

Sebutlah Gunung Kratau yang ledakannya pada Agustus 1883 membunuh 2/3 penduduk Sumatera dan Jawa, mengakibatkan tsunami yang bekas-bekasnya masih terlihat di Lampung, Banten, pantai timur Jawa, Kalimantan Barat, juga Afrika dan Asia Selatan. Jangan tanya semburannya, debunya sampai menutupi daratan Eropa!2. Itulah bencana alam terdahsyat yang tercatat dalam dokumentasi peradaban manusia. Tahun 1927, anak Krakatau lahir, bersama gugusan pulau-pulau kecil lainnya yang tanahnya masyaallah subur dan kaya tanam-tanaman!

Sekarang, 100 tahun berlalu tidak ada aktivitas apa-apa pada anak Krakatau. Masuk akal karena 100 tahun itu terbilang sebentar dalam evolusi Bumi. Tsunami di Aceh menurut hikayat pernah terjadi ratusan tahun silam, dan dari beberapa tetua di beberapa kampung yang masing teringat cerita turun-temurun itu memberi peringatan pada warganya untuk lari ke atas bukit.

Aturan gigit ibu jari itu dengan kata lain mengatakan: semakin sering gempa terjadi maka semakin tidak berbahaya ia, karena gempa dahsyat hanya terjadi sekali-sekali tapi mematikan.

… dan apa yang bisa kita perbuat?

Kasarnya: tidak ada. Itulah resiko hidup di Bumi. Teringat ujar-ujar seorang sahabat dekat, Beda orang rajin berolahraga dengan yang tidak adalah, olahragawan mati dalam keadaan sehat. Moralnya adalah: pada akhirnya semua mati, dan itulah salah satu jalan yang dilalui semua makhluk. Kita harus ikhlas, suka atau tidak suka, that’s how life works.

Namun, “tidak ada” bukan berarti kita berpangku tangan. Menyelematkan nyawa, menurut saya, adalah kewajiban kita.

Orang akhir-akhir ini sudah ribut dengan early warning system. Saya pikir ini memang ide bagus dan harus serius untuk diwujudkan. Dalam seminar Indonesia Setengah Tiang, Professor Loehner menceritakan kolaborasi beberapa universitas di Jerman dalam mewujudkan teknologi pendeteksian tsunami. Konsep yang sama juga dilakukan Inggris, Jepang, dan Amerika yang berkolaborasi dengan beberapa universitas di Asia seperti di Thailand dan Cina.

Usaha ini adalah salah satu bentuk “tindakan untuk menyelamatkan diri” dari bencana alam, tapi sama sekali bukan untuk membatalkan bencana alam itu terjadi. Prediksi yang dilakukan mesin-mesin itu adalah prediksi yang bersifat alarm, bukan prediksi pola perioda waktu bencana alam terjadi (misalnya orang sudah bisa memprediksi perioda gerhana matahari ataupun kapan Komet Halley melintasi Bumi lagi.)

Di level pemilik kebijakan (pemerintah) sudah ramai-ramai membicarakan management disasater: tentang bagaimana mengatur bala bantuan, penanganan pengungsi, rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur kota, dan lain sebagainya. Tentu ini sangat bagus, terutama di negara yang rawan bencana alam seperti Indonesia.

Menurut saya, Departemen Sosial kita harusnya sudah melakukan hal ini jauh-jauh hari karena terlalu bodoh bagi mereka tidak tahu Indonesia dilewati cincin api. Jepang tahu ini, dan mereka sudah melakukan ini jauh-jauh hari. Mulai dari pengembangan infrastruktur gedung yang dibangun sedemikian rupa sehingga tidak retak dan rubuh dilanda gempa sampai pada SR tertentu, sampai dengan pelatihan penyelamatan diri untuk rakyat mereka.

Sementara kita? Entahlah, saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Yang jelas, sampai sekarang saya melihat penanganan bencana alam di Indonesia semuanya sporadis. Malah mengolah bantuan dari orang saja kacau balau. Saya cerita papa saya saat Gunung Merapi di Batusangkar meledak sekitar akhir tahun 70-an (peristiwa ini disebut galodo oleh penduduk sekitar, yang artinya: batu-batu besar.) Batu-batu sebesar gajah meluluhlantakkan kampung-kampung sekitar termasuk kampung kelahiran papa saya, Pasialaweh. Sampai sekarang batu-batu itu masih di sana, kalau ada kesempatan rekan-rekan bisa datang dan menengok. Saat itu Pemerintah Pusat mengirim doa dan belangsungkawa, Pemerintah Daerah mengerahkan bantuan seadanya mencari mayat dan hal-hal ringan lainnya. Soeharto masih berkuasa, sehingga manipulasi duka pun tersusun rapi dan sekarang musibah itu hanya menjadi cerita guru-guru surau pada anak-anak pengajiannya menunggu Isa datang.

Memang sebaiknya Departemen Sosial (atau mungkin yang lain, saya tidak tahu persis harus di bawah naungan siapa) menyeriusi ide management disaster itu daripada sibuk membagi-bagi makanan gratis lewat warteg seperti yang dilakukan Hardianti Rukmana pada tahun 1997-1998. Ide konyol dan gila!

Riset fisika Bumi di institut pendidikan Indonesia saya harapkan juga mengarah pada penelitian lempengan Bumi ini. Tentu saja dampaknya bukan pada early warning system, tapi inovasi-inovasi lainnya akan banyak lahir dari sana, dan sangat cirikhas yang hanya bisa dilakukan oleh negara yang dilintasi cincin api. Ingat, keberadaan cincin api dan beberapa garis lempengan yang melintasi ranah Indonesia membuat negri kita menjadi satu-satunya tanah tersubur dan terkaya seantero jagad raya!

Selain itu, peningkatan pengetahuan-dasar umum masyarakat kita juga harus ditingkatkan. Para staf BMG harusnya sudah mulai mengasuh rubrik khusus pada media massa setempat, baik lewat koran, radio, ataupun televisi. Kalau mau keren, bisa buat weblog sendiri!

Membangun jembatan memang penting, masjid, gereja, sekolah, jalan, dll., memang penting. Tapi pencerahan intelektual pada sains untuk masyarakat umum juga tak kalah pentingnya, dan ini jangan hanya mengandalkan sekolah saja. Dan masyarakat umum juga harus mulai sadar bahwa fisika dan ilmu sains lainnya bukan untuk ditakuti atau dijauhi. Kita butuh mereka untuk mengerti prilaku alam ini, karena dengan mengerti dia lah kita bisa hidup lebih baik!

Being cool is not to conquer the Nature, but to be friend with Her!

Penutup

Tidak ada sebenarnya yang mesti saya ketikkan dalam subjudul Penutup ini. Tapi kebiasaan menulis menuntun saya untuk membuat sebuah uraian untuk menutup kajian yang saya buat.

Tapi kali ini, biarlah bab Penutup ini menjadi syarat terpenuhinya artikel yang baik dan benar.

Saya harap, artikel ini membawa kemasylahatan buat kita semua.

* * *

1Saya harus hati-hati dengan mengatakan “cahaya”, karena cahaya itu bermacam-macam. Interpretasi umum kita cahaya adalah sinar tampak, Cahaya tampak ini hanyalah bagian kecil dari skala cahaya yang panjang, sama seperti skala musik yang panjang namun ada batas not tertinggi dan terendah yang bisa kita dengar. Skala cahaya dapat dideskripsikan oleh angka - disebut frekuensi - dan jika angka ini bertambah, cahaya terlihat dari merah menjadi biru padahal sinar tampak adalah bagian kecil dari jenis cahaya. Semakin tinggi frekuensinya, semakin tinggi energi yang dibawa foton itu.

2Saya ketik paragraf ini pada jam 11.48pm dengan tangan menggigil ketakutan, who dares against the Nature, in the end She is the one whom we have to be friend of, not we are the one who claim to conquere her!.


Relatif…(v)itas!

Filed under Dokumentasi

“Menurut kau cemana, cantik ngga dia?”

“Hm, kaya sih iya. Tapi kalau cantik… hmm, relatif sih!”

Dialog itu sering kali kita temui, terutama kalau lagi curhat. Ukuran-ukuran yang susah dikuantitaskan (atau lebih bersifat kualitas, seperti ganteng, baik, cemburu) biasa sering disebut “relatif” terhadap lain. “Aturannya”: harus ada pembanding untuk menilai atau mengukur sesuatu

Suatu kali, saya bertanya pada seorang teman yang hobi berdiskusi, dia rajin membaca ini-itu.

“Lho, kenapa harus ada pembanding sih?”

“Ya iya dong, kan begitu sesuai dengan “prinsip pengukuran”. Kau gimana, katanya alumni FT!”

(Di Fisika Teknik, kuliah Prinsip Pengukuran adalah salah satu kuliah inti – ibarat kuliah Elektromagnetik di Elektro, atau Kesetimbangan Benda Tegar di Sipil – nyawa dari inti jurusan itu.)

“Masak sih?”

“IYE!, cerewet!”

Ga ada yang tahu persis dari mana itu aturan datang. Rene Descartes (1596 – 1650, Prancis), disebut juga pendiri filosofi modern dan bapak matematika modern (karyanya yang abadi dipakai adalah “koordinat kartesius”,) pernah memakai logika yang mirip ketika mencoba membuktikan bahwa Tuhan itu ada.

“Cogito, ergo sum – saya berpikir, oleh karena itu ini saya”, begitu Descartes memulainya. “Ada sesuatu yang tidak diragukan. Saya hanya bisa membayangkan sebuah pemikiran yang cacat, karena kecacatan itu dapat dimengerti dengan merujuk pada pemikiran yang sempurna. Jadi, sesuatu yang tidak diragukan tadi benar-benar ada”.

Dengan memakai “aturan” itu Descartes mengantarkan kita, secara filosofi, pada kesimpulan: sesuatu yang sempurna itu benar-benar ada, karena dengan itulah kita tahu mana benar dan mana salah.

Prinsip Pengkuran yang di FT itu juga mirip-mirip. Kalau mau mengukur sebuah besaran, maka butuh sebuah satuan. Atau bisa juga dibalik, sebuah satuan bisa di”kalibrasi” atau di”normalisasi” mengikuti besaran. Geen problemo, inversito iso-iso sajo (maksudnya: tidak masalah, inversi atau pembalikan itu sah dilakukan.) Besaran dan satuan saling menjadi pembanding satu sama lain.

Memilih pembanding harus pas, ketika ngukur berat Apel, kurang bagus kalau panjang jari Aik sebagai satuannya. Begitu juga saat ingin mengetahui berat badan bang Spiderman, terlalu rumit untuk memakai kecepatan download internet dari rumahnya sebagai satuannya. (Walau sebenarnya, percaya atau tidak, apapun satuan yang dipilih masih bisa bekerja di seluruh hukum Fisika! Berterima kasih pada “Hukum Kekekalan Energi-momentum”.)

Tapi sebenarnya, kita bisa mengerti sesuatu, memahami atau menilai sesuatu tanpa perlu si pembanding itu. Kenyataannya, inilah prinsip pertama kerja sains!

“HA?? Pigimane bise,” kata temanku tadi itu.

Sains ada untuk memahami fenomena alam (apapun defenisi yang anda berikan, esensinya tidak akan jauh-jauh dari itu). Tak terhingga banyaknya fenomena baik kasat mata maupun tidak di semesta ini. Tapi kita cukup cerdik, kita tidak perlu harus memperhatikan semua fenomena itu, trus dipelajar. Ga perlu. (Bayangkan dengan cara demikian, maka semua saintis di Bumi akan habis karena memperhatikan fenomena yang jumlahnya lebih banyak dari umamt manusia di Bumi, ditambah makhluk lainnya berupa jin, hantu genduruwo, dan Martian dari Mars.) Kita cukup memprediksi!

Prediksi. Ya, prediksi. Dengan kata lain, kita bangun sebuah teori, dan kita prediksi fenomena itu dari teori tersebut.

Untuk itu, kita butuh tahu mekanisme bagaimana fenomena itu tercipta.

Semua kita mengetahui, bahwa dari dapur Itob bisa keluar berbagai macam masakan enak. Dari opor ayam, tiramitsu, gulai kepala ikan, rendang, (wah, enak sekali – saya jadi lapar seketika), bahkan kadang bisa menghasilkan obrolan-obrolan menarik. Opor ayam, kepala ikan dan kawan-kawannya ini adalah fenomena, dan dapur Itob adalah mekanisme.

Kita tidak perlu menyelidiki kepala ikan, atau opor ayam untuk melengkapi daftar ilmu di perpustakaan, karena tidak akan pernah tuntas. Tapi pergilah ke dapur Itob, selidiki apa yang terjadi di sana, pahami bagaimana pisau bekerja, api memanggang, racikan bumbu-bumbu, serta segala tetek-bengeknya, maka niscaya kita sudah mengerti semua masakan yang dihasilkan dapur Itob tanpa perlu menyelidiki satu persatu fenomena itu. Malah, kita bisa memprediksi makanan-makanan apa saja yang bisa dilahirkan dari dapur Itob.

Namun, dalam sains, “dapur Itob” ini tidak gampang untuk ditemukan. Misalnya, Einstein butuh 20 tahun untuk menguak “dapur” fenomena grafitasi (dan ketahuilah, inilah proses pencarian dapur fundamental tercepat yang pernah dilakukan kalangan jin dan manusia). Banyak kesulitan dan kendala, sebutlah misalnya: kita tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya mekanisme itu terjadi.

Seperti yang saya sebut tadi, kita ini memang cerdik. Untuk mengatasi masalah ini, kita melakukan sebuah trik: approximation, atau sebuah pendekatan. Kita membangun asumsi, kita anggap “kalau begini-begini-begini, maka begitu-begitu-begitu”. Dan lihatlah hasilnya: sudah berpuluh-puluh kali pesawat ruang angkasa bolak-balik Bumi-Bulan dan sekarang Mars, atau kita asik berkomunikasi cepat lewat internet, atau Amerika asik ngebom Irak dan Afganistan. Fisika kita, yang berdampak pada semua teknologi yang kita kembangkan, semuanya dibangun berdasarkan asumsi. Mengerikan!

Jadi, prinsip pertama kerja sains dalam menguak mekanisme alam bekerja adalah: pendekatan dengan asumsi. Kalau ditengah-tengah proses adanya adjustment dengan hasil eksperimen, itu kemudian menjadi bagian dari penyempurnaan teori, bukan hal pertama yang dilakukan orang.

Descartes tidak akan bisa menemukan Tuhan dalam Sains dengan cara seperti itu (selain itu sains itu sendiri adalah bagian dari manifesto Tuhan). Dan anda, ya anda, jangan “sok-sok insinyur” lagi kalau dimintai pendapat soal kecantikan atau kebaikan seseorang. (Jangan salahkan para insinyur, mereka “terbelengu” dengan Prinsip Pengukuran itu. Sementara kita kan orang merdeka.) Besaran kualitatif ini tetap bisa bernilai tanpa perlu ada pembanding!

“Jadi, cem mana, cantik ga dia?”

“Ya, cantik, buktinya kau suka!

Info
Bacaan yang menarik lainnya tentang Relativitas:


Pengalaman di Jenewa, Swiss

Filed under Bedah Buku

Berbagai macam cara dan rahasia, resep dan metoda orang untuk bahagia, menikmati hidup, atau hanya sekedar “melewati kejemuan karena hidup”. Dari sekian banyak orang-orang itu, mungkin segelintir saja yang sudah mendefenisikan kebahagiaan seperti apa yang menjadi sasaran mereka, atau hidup bagaimana yang nikmat. Saya tidak tahu memang, apakah sudah ada riset statistik untuk hal demikian. Namun, gampang sekali untuk menemukan jawabannya untuk kasus lokal: bertanyalah pada diri sendiri, apakah saya menikmati pilihan-pilihan hidupku selama ini?

Ada sebuah cerita, tentang “kesederhanaan” seorang petualang yang menikmati kesimpelan hidupnya sebagai sebuah kebahagiaan. Kesederhanaan yang tidak hanya dinikmati sendiri, tapi juga melibatkan orang banyak.

Semoga bermanfaat…

Hotel CITY

Suatu kali, ketika saya di Jenewa, Swiss, untuk menghadiri sebuah pertemuan Masyarakat Fisika, saya berjalan-jalan dan kebetulan melewati gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Wah! Saya mau masuk dan lihat-lihat ah!” pikirku. Dandanan saya kurang pantas sebenarnya untuk jalan-jalan di dalam gedung penting itu – saya memakai celana kumal dan jaket tua. Ternyata ada semacam tur yang bisa kita ikuti untuk masuk ke dalam gedung dengan didampingi seorang pemandu.

Tur itu sendiri cukup menarik, tapi bagian yang paling mengagumkan adalah ruangan auditoriumnya yang besar dan hebat. Tahu lah, bagaimana seriusnya mereka membuat segala sesuatu untuk simbol internasional ini. Apa yang biasanya menjadi panggung sekarang terbagi beberapa lapis: anda harus menaiki seluruh anak tangga menuju panggung kayu raksasa, dan sebuah layar raksasa ada di belakang anda. Di depan anda adalah tempat duduk para tamu. Karpetnya begitu anggun, dan pintunya besar-besar dengan gagang dari kuningan yang indah. Setiap sisi auditorium, agak ke atas sedikit, ada tempat para penterjemah melakukan pekerjaannya. Tempat itu benar-benar fantastis, dan saya terus-terusan berpikir, “Wow! Saya mau sekali untuk memberi ceramah di tempat seperti ini!”

Segera sesudah itu, kami berjalan sepanjang koridor di sebelah auditorium itu. Si pemandu menunjuk lewat jendela dan berkata, “Anda lihat bangunan-bangunan di sana yang sedang dalam perbaikan? Mereka akan dipakai pertama kali nantinya untuk Konferensi Atom untuk Perdamaian, sekitar enam minggu lagi.”

Saya tiba-tiba teringat bahwa Murray Gell-Mann dan saya akan berbicara pada sebuah konferensi tentang kondisi terkini fisika energi-tinggi. Bagianku adalah di sesi pleno, jadi saya tanya si pemandu, “Pak, di mana kira-kira ceramah untuk sesi pleno pada konferensi itu?”

“Itu, di ruangan yang baru saja kita lewati tadi.”

“Oh!” kataku dengan senang. “Jadi saya akan memberi ceramah di ruangan auditorium hebat itu!” kataku dalam hati.

Pemandu itu melihat ke celana kumal dan kaos kusut saya. Saya sadar betapa buruk kesan si pemandu terhadap saya, tapi saya benar-benar senang dan bangga setelah mengetahui di mana sidang pleno akan diadakan.

Kami lanjutkan tur, dan pemandu berkata, “itu adalah ruang tunggu untuk para delegasi, di mana biasanya mereka melakukan diskusi informal.” Ada sebuah jendela berbentuk bujur sangkar kecil di pintu menuju ruang tunggu itu yang bisa dipakai untuk melihat keadaan di dalam, jadi orang-orang dalam tur melihatnya. Ada beberapa orang sedang duduk dan berbicara di ruang tunggu itu.

Saya ikutan melihat, dan saya elihat Igor Tamm, kenalasan saya seorang fisikawan Rusia. “Oh!” seruku, “saya kenal dia!” dan saya buka pintu itu.
Pemandu itu berteriak, “Jangan, jangan! Jangan masuk ke sana!” Saat itu dia sudah yakin bahwa salah seorang peserta turnya adalah maniak, tapi dia tidak bisa mengejar saya sebab dia tidak diizinkan melewati pintu sendirian!
Tamm senang saat tahu ada saya di sana, dan kita bicara sebentar. Pemandu itu merasa lega dan melanjutkan tur tanpa saya, dan saya harus berlari untuk mengejarnya.

* * *

Pada pertemuan Masyarakat Fisika, seorang teman baik saya, Bob Bacher, berkata, “Dengar: nanti bakalan susah untuk mendapatkan penginapan saat Konferensi Atom untuk Perdamaian. Kenapa kamu tidak minta tolong Departemen Kota mendapatkan satu ruangan untuk mu, jika kamu belum membuat reservasi?”

“Ah, tak usah!” jawabku. “Saya tidak akan minta tolong Departemen Kota untuk melakukan hal-hal remeh seperti itu untuk saya! Saya akan lakukan sendiri.”
Ketika saya balik ke hotel yang saya tinggali sekarang, saya katakan pada mereka bahwa saya akan pulang seminggu lagi, tapi saya akan kembali lagi di penghujung musim panas nanti: “Bisakah saya membuat reservasi sekarang untuk nanti?”

“Tentu saja! Kapan anda akan kembali?”

“Minggu kedua September…”

“Oh, kami benar-benar minta maaf, Profesor Feynman; saat itu semua ruangan sudah dipesan.”

Jadi saya berkelana dari hotel satu ke hotel lainnya, dan memang mereka semua sudah dipesan enam minggu sebelum konferensi itu!
Lalu saya teringat sebuah trik yang saya pakai sekali saat seorang teman sesama fisikawan datang ke tempat saya, dia orang Inggris yang sopan dan santun.

Kita pergi melintasi Amerika Serikat dengan mobil, dan saat melewati Tulsa, Oklahoma, ada banjir di depan. Kita singgah ke kota kecil ini dan melihat banyak mobil parkir di mana-mana, dengan orang-orang serta familinya di dalam mobil berusaha untuk tidur. Temanku itu berkata, “Sebaiknya kita berhenti di sini. Jelas bagi saya, kita tidak bisa jalan lebih jauh.”

“Ah, ayolah!” kataku. “Bagaimana kamu tahu? Mari kita lihat, apakah bisa kita teruskan perjalanan: saat kita sampai di sana, mungkin saja airnya sudah surut.”

“Kita seharusnya tidak membuang-buang waktu seperit itu,” jawabnya. “Mungkin kita bisa menyewa satu kamar hotel di sini kalau kita cari.”

“Ah, jangan khawatir soal itu! Ayo berangkat!” kataku.

Kami lanjutkan perjalanan sampai sepuluh atau dua belas mil dan sampai ke sebuah sungai dengan arus yang besar. Ya, bahkan untuk saya, airnya terlalu banyak. Tidak ada keraguan: kita tidak perlu mencoba melewati air itu.
Kami kembali, temanku menggerutu sepanjang jalan kalau-kalau kami tidak bisa mendapatkan kamar lagi. Saya katakan kalau tidak usah khawatir mengenai itu.

Kembali ke kota kecil itu. Kota itu benar-benar ditutupi oleh orang-orang yang tidur di mobil, jelas karena tidak ada lagi kamar yang bisa disewa. Semua hotel pasti sudah disewa. Saya lihat ada tanda di sebuah pintu: HOTEL. Hotel ini adalah jenis hotel yang saya kenal baik di Albuquerque, saat saya di sana berkeliling kota mencari berbagai keperluan untuk istriku yang sedang di rumah sakit. Hanya ada satu pintu, begitu masuk anda akan jumpai tangga ke atas dan kantornya tepat saat anda sampai di atas sana.

Kami naik ke atas menuju kantornya dan saya katakan pada manajer hotel itu, “Kami butuh satu kamar.”

“Baik pak. Kami punya satu dengan dua tempat tidur di lantai tiga.”

Teman saya kagum: satu kota penuh dengan orang-orang yang tidur di dalam mobil, kami di sini dapat satu kamar!

Kami pergi menuju kamar itu, secara perlahan-lahan menjadi jelas bagi dia jenis hotel apa itu: tidak ada pintu di kamar itu, hanyalah kain yang digantung sebagai pengganti pintu. Kamarnya cukup bersih, ada wastafel kecil untuk cuci muka dan tangan; tidak terlalu jelek. Kami bersiap untuk tidur.

“Saya mau pipis,” kata temanku.

“Ada kamar mandi di aula bawah.”

Kami dengar ada suara gadis-gadis tertawa genit dan berjalan mondar-mandir menuju aula itu. Dia cemas, dan tidak mau ke luar.

“Baiklah, pipis saja di wastafel itu,” kataku.

“Ha? Itukan tidak sehat.”

“Ah, tidak apa-apa; pastikan airnya mengalir, itu saja.”

“Saya tidak bisa pipis di wastafel,” katanya.

Kami letih, jadi kami berbaring saja. Cukup panas di sana, jadi kami tidak memakai selimut, dan temanku tidak bisa tidur sebab sedikit bising. Saya sih masih bisa tidur.

Tidak beberapa lama kemudian saya dengar bunyi orang berjalan di lantai, dan saya buka sedikit mataku. Saya lihat dia di sana, di dalam gelap, diam-diam naik ke wastafel.

* * *

Baiklah, kembali ke masalah hotel di Jenewa. Saya tahu ada hotel di sana bernama Hotel City, jenis hotel seperti yang saya ceritakan tadi: satu pintu masuk yang langsung disambut tangga menuju kantor di lantai pertamanya. Di sana biasanya ada kamar yang bisa disewa, dan tidak ada yang membuat reservasi.

Saya naik ke atas menuju kantor itu dan mengatakan pada petugas jaga bahwa saya akan kembali ke Jenewa dalam enam minggu, dan saya ingin menginap di hotel mereka: “Bisakah saya membuat reservasi untuk itu?”

“Tentu saja, pak. Tentu saja bisa!”

Petugas itu menulis namaku di selembar kertas – mereka tidak punya buku reservasi – dan saya ingat petugas itu mencoba mencari gantungan untuk meletakkan kertas itu, semacam pengingatnya biar tidak lupa nanti. Jadi saya sekarang punya “reservasi”, dan semuanya berjalan lancar.

Saya kembali ke Jenewa enam minggu kemudian, langsung menuju Hotel City, dan mereka sudah menyiapkan satu kamar untuk saya; kamar itu di tingkat paling atas. Meskipun murah, tapi bersih. (Ini Swiss, semuanya bersih!) Alas kasurnya sedikit berlubang, tapi bersih. Pagi hari mereka menyediakan sarapan ala Eropa ke kamarku; mereka senang sekali punya tamu yang membuat reservasi enam minggu di depan.

Lalu saya pergi ke gedung PBB itu untuk menghadiri Konferensi Atom untuk Perdamaian. Ada sedikit antrian di meja respsionis, tempat di mana orang-orang melaporkan kedatangannya. Seorang perempuan mencatat semua alamat dan nomor telelpon orang-orang itu, jadi pihak penyelenggara bisa menghubungi mereka kalau ada hal-hal yang dibutuhkan.

“Di mana anda menginap, Profesor Feynman?” tanyanya.

“Di Hotel City.”

“Oh, maksud anda Hotel Cité.”

“Bukan, bukan, tapi ‘City’: C-I-T-Y,” saya eja pelan-pelan. (Kenapa tidak? Kita memang menyebut “Cité” di Amerika, tapi mereka menyebut “City” di Jenewa, sebab kedengarannya aneh.)

“Tapi hotel itu tidak dalam daftar kami. Apakah anda yakin namanya ‘City’?”

“Coba lihat di buku telepon untuk mengetahui nomor teleponnya. Anda akan menemukannya.”

“Oh!” serunya, setelah mengecek buku telepon. “Daftar saya tidak lengkap! Beberapa orang masih mencari kamar, jadi mungkin saya bisa menyarankan mereka ke Hotel City.”

Dia pasti kemudian mendapatkan informasi lain tentang Hotel City dari orang lain, sebab tidak ada orang lain dari konferensi menginap di sana selain saya. Sekali waktu petugas hotel menerima telepon untuk saya dari PBB, dan mereka berlari menempuh dua lantai untuk memberi tahu saya, dengan terpesona dan gembira, untuk turun ke bawah menjawab telepon.

Ada sebuah kejadian lucu yang saya ingat di Hotel City itu. Satu malam saya sedang melihat lewat jendela kamarku ke arah halaman. Sesuatu, dari gedung di seberang halaman, tertangkap oleh sudut mataku: sepertinya mangkuk terbalik di atas bibir jendela. Saya pikir benda itu bergerak, jadi saya amati beberapa saat, tapi tidak bergerak lagi. Lalu, setelah beberapa lama, benda itu bergerak sedikit ke arah lain. Saya tidak bisa menemukan jawaban apakah benda itu.

Setelah beberapa lama saya temukan jawabannya: itu adalah seorang pria dengan sepasang teropong yang dipasangnya di atas bibir jendela, mengamati gedung di depannya ke arah kamar tepat di bawah kamarku!
Ada juga kejadian lain di Hotel City yang akan selalu saya ingat. Saat itu larut malam, saya baru kembali dari konferensi dan membuka pintu menuju tangga. Ada pemilik hotel itu di sana, berusaha telihat acuh-tak acuh dengan cerutu dan satu tangannya mendorong sesuatu di tangga. Sedikit ke atas, perempuan yang biasa menyediakan sarapan pagiku memakai dua tangannya untuk menarik benda berat itu. Dan di ujung atas tangga, menunggu seorang perempuan, dengan selendang bulu binatang palsu, dada tersembul ke luar, tangannya di paha, menunggu dengan angkuh.

“Pelanggan”nya sedikit mabuk, dan tidak mampu menaiki tangga. Saya tidak tahu apakah pemilik hotel itu tahu bahwa saya tahu apa yang terjadi; saya lewati saja mereka. Dia malu dengan kondisi hotelnya, tapi, tentu saja, bagi saya hari-hari di hotel ini sangat menyenangkan.

* * *

Cerita ini dikutip dari naskah (masih nafkah!!!) alih bahasa sebuah buku biografi seseorang. Dianjurkan untuk membaca kisahnya dari awal, biar utuh informasinya :-)

Penempelan foto tidak berhubungan langsung dengan tokoh yang diceritakan, harap maklum!

* * *

michelle_feynma.JPG


Catatan pribadi yang dibagi-bagi dari sebuah perjalanan 2 hari ke Hertogensbosch. Karena kesibukan dan kehilangan ingatan, maka tulisan ini dbagi menjadi 2 bagian. Selamat menikmati “gaya tulisan lain si Buyung” ini.

Tidak seperti biasanya, akhir pekan kemarin (5-6 Feb) saya pakai untuk jalan ke luar kota. Ini dalam rangka memenuhi undangan seorang kerabat lama yang sudah sering mengajak saya berkeliling-keliling negrinya ini. Karena saya “sok sibuk”, tidak banyak tawarannya yang bisa saya penuhi, dan lebih banyak menghabiskan waktu kosong di tempat tidur atau di meja makan. Tapi kali ini menarik, sebuah sandiwara tiga babak yang dimainkan oleh sekitar 85 ribu penduduk kota ini!

Cerita dibuka oleh perjalanan saya ke Central Station Groningen, Sabtu 5 Februari. Menjadi istimewa, karena biasanya saya pakai sepeda namun kali ini memilih memakai bis. Bukan karena akan pergi cukup lama, sepeda saya butut jadi cukup berani ditinggal di stasiun dalam waktu lama. Tentu saja di taruh di tempat yang semestinya, dikunci, dan tidak lupa tawakal. Kali ini saya naik bis, karena takut jaket yang baru berumur 2 hari kotor karena cipratan lumpur dari ban sepeda belakang yang vleknya memang tidak berfungsi baik. Jaket kulit sapi lho!*

* Maaf, ini lelucon bagi kalangan terbatas. Dengan alasan keetisan, tidak diceritakan secara resmi, namun gosip silakan terus berlangsung.

Begitulah. Hilje, teman yang mengundang ini, mengatur perjalanan saya dari Groningen ke Hertogensbosch. Naik kereta jam 11.17am menuju Zwole, lalu ganti menuju Denveter. Nanti dia yang dari Enschede akan naik kereta menuju Hertogensbosch di Denveter. Bagi saya yang bukan petualang sejati, janjian di atas kereta ini cukup menegangkan. Bermodal percaya dengan jadwal kereta api hasil contekan ns.nl, ternyata sukses juga. Kami bertemu dan menghabiskan satu setengah jam dengan diskusi buku “da Vinci Code” karya Dan Brown.

da Vinci Code

Dalam kalangan sains, da Vinci memang dikenal sebagai seorang insinyur jenius. Salah satu karyanya yang kita nikmati sekarang adalah sepeda. Selain itu, da Vinci juga seorang religius dan seniman wahid. Beberapa karya masterpiecenya dipinjam Dan Brown untuk berfantasi ria dalam novel “da Vinci Code” tersebut. Saya melihat buku ini setipe dengan film “Ocean Twelve”, film yang mengumpulkan banyak bintang terkenal hanya untuk memainkan sekuel dari “Ocean Eleven”. Apa kesamaannya? Yaitu sama-sama mencoba mencampurbaurkan antara fantasi dan realita, mencoba mengaburkan batas dunia imajinasi dengan kehidupan sehari-hari. Entah kenapa, saya kurang cocok dengan konsep seperti ini; ada perasaan menolak dalam diri saya untuk tidak mau mencampurbaurkan fantasi dan realita. Ini seperti penolakan saya terhadap sains-fiksi: karena kebanyakan fantasi sains-fiksi ini tidak benar-benar berdasarkan sains. Contohnya: Hollow-man itu harusnya buta, atau wolfman harusnya juga berubah jadi srigala kalau kena sinar matahari, atau konsep wraptime dalam star-trek yang justru melanggar Relativitas Umum Einstein.

Tapi, terlepas dari fantasi Dan Brown yang meminjam karya-karya agung da Vinci, karya-karya tersebut memang indah dan menyimpan misteri. Misalnya, dalam “Madonna of the Rock”, Dan Brown menginterpretasikan Bunda Marya (atau Maryam) mengelus kepala tak terlihat. Dan Urel (saya tidak tahu siapa ini dalam sejarah Islam) menyentuh leher makhluk tak berwujud ini dengan telunjuknya. Yang paling mengagetkan, Jesus (nabi Isa putra Maryam) malah dibabtis oleh John (nabi Yahya) – bukan sebaliknya.

Dan tentu, yang paling sadis lagi adalah interpretasi dari “the Last Supper”, jamuan terakhir yang legendaris itu. Disebutkan bahwa sehari sebelum Jesus dibunuh, Kamis malam beliau diundang untuk makan malam bersama. Dari awal beliau sudah tahu akan dikhianati oleh salah seorang dari 13 sahabatnya, yang dipercaya adalah seorang yahudi. Pengkhianatan “the jewish’s kiss” sendiri ada beberapa versi, yang paling popluer mungkin yang difilmkan oleh Mel Gibson lewat “The Passion of Christ”. Dalam sejarah yang kita kenal, ketiga belas sahabat ini adalah laki-laki, yang oleh Jesus dibagikan anggurnya dalam sebuah “Cawan Suci”. Namun, da Vinci menggambarkan ada 1 perempuan dari 13 orang yang harusnya laki-laki itu, dan satu tangan tak berbadan yang menggemgam pisau! Oleh Dan Brown, perempuan ini disebut-sebut sebagai Mary Magdalena!

Di OeteldongCentral Station

Kereta sampai di Hertegonsbosch jam 2pm. Saya baru ingat kalau pernah ke stasiun ini, setahun yang lalu ketika jalan-jalan ke Eftelling bersama [link=www.degromiest]de gromiest[/link]. Keluar dari kereta, kita menyewa sepeda. Saya baru tahu kalau harus jadi anggota dulu untuk bisa meminjam. Keren juga, teratur. Keluar stasiun, langsung disambut oleh dominasi warna merah-putih-kuning, mirip warna fast foodMcDonal. Warna-warna itu ada di baju, celana, topi, mobil, spanduk, bendera, di setiap sudut mata memandang. Dan lebih hebat lagi, label besar ‘s-Hertogebosch Central Station dicoret dan diganti “Oeteldonk Central Station”. Wow, apa pula ini?

Saya hendak bertanya pada Hilje, tapi dia keburu ngajak saya makan dulu ke sebuah kafe dekat stasiun. Tentu saja saya tidak menolak ajakan ini. Ternyata intuisi makan saya lagi-lagi benar, hidangannya memang spesial: Bosch Ball. Katanya sih, ini kayak Sate Padang-nya Belanda lah, yaitu makanan yang sangat khas di Belanda dari kota ini. Bentuknya setengah bola, isinya whipcream yang dilapisi coklas setebal 5 milimeter. Sama sekali tidak sehat, tapi lezatnya maak… nyam nyam nyam. Perut lapar pun tetap lapar, karena minta tambah. Jadilah saya nambah, plus kopi panas menjadi EUR 6.

Perjalanan di lanjutkan ke rumah Charlotte, teman Hilje yang tinggal di Hertogenbosch. Selama perjalanan, terlihat persiapan kota yang sedang menyambut sesuatu yang besar. Saya bertanya sepanjang jalan pada Hilje, apa yang sedang terjadi. Tapi jawabannya kurang memuaskan, karena Hilje sendiri juga outsider.

Persiapan diri untuk Festival

Tanda tanya itu kemudian baru terjawab setelah sampai di rumah Charlotte. Sambil menyeruput teh panas dan menikmati pancake, Charlottepun bercerita. Daerah selatan Belanda memang dulu mayoritas Katolik. Empat puluh hari menjelang peringatan kebangkitan Jesus (hari raya Paskah), mereka berpuasa. Dan tiga hari sebelum puasa dimulai, kota-kota mayoritas Katolik mengadakan pesta penyambutan. Dan di Hertogenbosch pesta penyambutan itu tiga hari lamanya, dan untuk tahun ini dimulai hari Sabtu kemarin. Itulah yang kami lihat sepanjang perjalanan.

Pengorganisasian pesta itu tak tanggung-tanggung, menjadi bagian dari agenda pemerintah lokal. Tiga hari pesta itu dijadikan hari libur. Semua kalangan dilibatkan, semua sumber daya dioptimalkan, sukarelawan bekerja beberapa bulan sebelumnya untuk persiapan acara. Saya baca, sejak November tahun lalu mereka sudah memulai pengkondisian. Gila!

Sehabis makan siang, Charlotte mengajak kami jalan-jalan ke Centrum. Pertama mengunjungi perpustakaan dulu. Di Hertogensbosch tidak ada universitas, hanya beberapa collage. Jadi perpustaan publik mereka benar-benar menjadi jendela dunia bagi penduduk kota. Ramai sekali di sana. Saya sempat melihat ada rombongan anak-anak usia 8-10 tahun dipimpin seorang dewasa sedang asik diskusi. Kata Charlotte, itu adalah grup anak SD yang sedang belajar kelompok. Saya jadi cemburu, dulu waktu SD tidak pernah diajak ke perpustakaan oleh guru. Sampai SMA juga begitu. Sehingga saat kuliah budaya ke perpustakaan itu tidak ada. Kalau butuh buku, pinjam atau foto kopi. Makanya tidak heran, begitu kuliah di RuG, air liur menetes-netes saat masuk perpustakaan yang benar-benar merangsang otot mata dan otak untuk mengencani semua buku-buku di sana.

Di depan perpustakaan, ada katedral: St. John Cathedral, yang dibangun tahun 1475. Saya diajak masuk dan tur singkat. Menarik sekali. Ada banyak lukisan-lukisan, ornamen, dan patung-patung. Charlotte seorang guide yang baik, selain banyak tahu tentang sejarah agama (Islam, Kristen, dan Yahudi), dia juga pandai bercerita. Dia menjelaskan tentang air suci, sistem trinitas dalam Katolik, sembahyang dan berdoa, dan juga tentang saints dengan halonya. Diskusi the Last Supper-nya da Vinci dengan Hilje tadi terangsang untuk dibuka, tapi tentu tidak akan saya ceritakan di sini.

Sehabis dari sana, saya diajak ke pusat pembelajaan untuk membeli kostum pesta. Banyak sekali pilihannya, beraneka-ragam corak dan rupa. Saya tertarik untuk beli kostum monk. Saya jadi ingat game[link=http://aow2.heavengames.com/]Age of Wonder[/link]. Baju monk ini sederhana, merakyat, dan hangat. Cool. Tapi berhubung harganya sampai ratusan euro, akhirnya saya memutuskan membeli sweater lengkap dengan boneka kodok buat ditempelkan di belakang sweater. Apapun kostum anda, harus memiliki dua identitas: warna merah-putih-kuning, dan kodok!

Kok kodok?

Dulu, kota Hertogenbosch penuh rawa-rawa, dan banyak sekali kodok. Kodok ini menjadi simbol kota saat itu, sehingga terleknal dengan sebutan Kota kodok, atau Oeteldonk. Oetel adalah kodok, dan donk adalah kota kecil – dua kata ini dari dialek setempat.

. . . bersambung . . .


Menyambut 2005: Tahun Fisika Dunia

Filed under GPMPS

Ada yang istimewa di tahun 2005, tahun ini adalah ulang tahun revolusi di dunia fisika. Seratus tahun yang lalu, pada tahun 1905, Albert Einstein (yang kala itu berusia 26 tahun) mempublikasikan tulisannya pada majalah ilmiah berkala Jerman “Annalen der Physik”. Tulisan itu berjudul “On the Electromagnetic of Moving Body”, di dalamnya terdapat sebuah ide revolusioner: teori Relativitas Khusus.

Begitu besarnya arti revolusi tersebut, Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi Internasional (International Union of Pure and Applied Physics, IUPAP) atas permintaan Masyarakat Fisika Eropa (Europian Physical Sociaty, EPS) mendeklarasikan tahun 2005 sebagai Tahun Fisika Dunia. Artikel ini membahas secara popular arti besarnya revolusi yang dilakukan Einstein muda dan dampaknya pada pemahaman kita terhadap alam semesta.

Perkembangan Fisika Sebelum 1900

Perkembangan fisika selalu menjurus pada penyatuan (atau unifikasi) teori-teori. Semakin banyak sebuah teori menjelaskan fenomena, semakin fundamentallah teori itu. Sebelum 1900, sejarah mencatat dua unifikasi teori yang merevolusi pemahaman kita terhadap alam semesta. Pertama adalah unifikasi teori Gravitasi oleh Isaac Newton (Inggris, 1642 – 1727) pada tahun 1687. Kedua adalah unifikasi teori listrik-magnet-cahaya oleh James Clerk Maxwell (Skotlandia, 1831 – 1879) pada tahun 1855.

Teori Gravitasi Newton (atau sering disebut Hukum Gravitasi Newton) adalah teori unifikasi pertama yang dibuat manusia, yang sukses menyatukan hukum pergerakan planet Kepler (Johannes Kepler, Jerman, 1571 – 1630) dan hukum fenomena dinamika dan inersia Galileo (Galileo Galilei, Itali, 1564 – 1642). Newton menjelaskan idenya dalam “Principia Mathematica”, publikasi pertama yang menjelaskan fisika memakai bahasa metematika.

Karya Newton benar-benar merubah wajah dunia. Hukum pergerakan benda kemudian menjadi dasar dari Mekanika Klasik dan Fluida. Sementara hukum pegerakan planet dipakai menjadi acuan oleh para astronom untuk mempelajari tata surya.

Teori listik-magnet (atau sering disebut teori elektromagnetik) sukses menyatukan fenomena listrik dan magnet – yang sebelumnya ditemukan oleh Michael Faraday (Inggris, 1797 – 1867) pada tahun 1831 – dengan fenomena cahaya. Salah satu prediksi penting dari teori ini menyatakan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik dengan kecepatan konstan ~ 3×10E8 m/s.

Teori Elektromagnetik ini adalah teori unifikasi kedua yang dibuat manusia, dan menjadi teori fundamental fisika kedua setelah Hukum Gravitasi Newton. Kalau Newton berlaku untuk benda berukuran massif (makro), maka Maxwell untuk benda berukuran ringan (mikro).

Kontradiksi Newton - Maxwell

Suksesnya dua teori unifikasi tersebut bukan tanpa masalah. Ada sebuah kontradiksi yang tidak terpecahkan pada akhir abad 18 dan awal abad 19. Kontradiksi ini lahir dari persamaan gerak benda Newton dan persamaan Maxwell. Persamaan Maxwell mengatakan bahwa tidak perduli kita berlari mengejar atau menjauhi berkas cahaya, kecepatan cahaya tetap konstan, tidak peduli betapa cepat kita berlari. Berbeda dengan hukum gerak benda Newton, yang mengizinkan kita bisa mengejar kecepatan cahaya asal memiliki percepatan yang cukup.

Bagaimana mungkin kecepatan cahaya tidak terlihat bertambah cepat atau lambat relatif terhadap kita yang bergerak menjauh atau mendekatnya?

Disinilah Einstein merubah segala-galanya. Kecepatan adalah sebuah ukuran jarak tempuh dibagi oleh lama waktu tempuh, dan ini jelas tergantung oleh ruang (space) dan waktu (time). Semua konsep fisika yang dibangun dari dua teori unifikasi ini memandang ruang dan waktu adalah dua hal yang tetap dan tak-berubah oleh apapun fenomena di alam semesta. Ruang dan waktu menjadi dua referensi utama dalam pengamatan dan pengukuran fenomena alam.

Dan sangat kontras dengan persepsi ini, Einstein menyatakan ruang dan waktu tidak tetap dan tidak tak-berubah. Sebaliknya, ruang dan waktu ini seperti karet yang bisa memanjang dan memendek. Ruang dan waktu mengatur diri mereka sendiri untuk menjaga sesuatu yang lain – kecepatan cahaya – konstan, tidak peduli pergerakan benda itu mendekati atau menjauhi berkas cahaya. Dengan kata lain, benda yang bergerak menuju atau menjauhi berkas cahaya merasakan ruang dan waktu memuai atau memendek, sehingga kecepatan cahaya pada akhirnya tetap konstan.

Praktisnya, ini berarti jika kita mengukur panjang sebuah mobil yang sedang bergerak, hasilnya akan berkurang dibandingkan ketika kita mengukur panjang mobil ini sedang diam (penyempitan ruang). Dan jika kita pasang jam pada mobil yang bergerak ini, kita akan menemukan bahwa kecepatan jam ini berputar lebih lambat daripada jam yang sama yang tidak bergerak (dilatasi waktu). Kesimpulannya, benda bergerak akan melihat ruang memendek dan waktu melambat. Perubahan ruang-waktu ini semakin besar ketika benda bergerak mendekati kecepatan cahaya.

Inilah revolusi terbesar fisika yang merubah cara pandang kita terhadap alam semesta. Ruang dan waktu bukan lagi sesuatu yang konstan, melainkan kecepatan cahaya lah yang konstan dan dan nilainya absolut. Tidak ada yang lebih cepat daripada kecepatan cahaya.

Teori Relativitas Khusus menyatukan konsep ruang dan waktu yang diperlakukan berbeda pada fisika sebelumnya menjadi satu: konsep ruang-waktu (spacetime). Dan inilah cikal bakal revolusi kedua oleh Einstein, lewat Teori Relativitas Umumnya pada tahun 1915.

Usaha Einstein dalam merubah cara pandang kita terhadap alam semesta tidak dilakukan dengan mudah. Butuh kejeniusan khusus memang, dan orang-orang seperti Einstein tidak dilahirkan setiap saat di dunia ini. Tapi ada satu hal yang dicontohkan Einstein yang pantas kita tiru: berani berpikir keluar dari pola yang ada. Inilah salah satu kunci dari kesuksesan Einstein selain kerja kerasnya yang menakjubkan.

2005: Tahun Fisika Dunia

IUPAP lewat PBB mencanangkan tahun 2005 ini sebagai Tahun Fisika Dunia. Di Indonesia, kesadaran umum masyarakat berkurang tentang fisika dan pentingnya fisika dalam keseharian. Jumlah mahasiswa yang belajar fisika berkurang secara dramatis. Banyak penelitian yang tidak jalan, lab kosong dan diskusi-diskusi teori berkurang. Dalam seleksi masuk perguruan tinggi pun, jurusan Fisika biasanya menjadi jurusan alternatif.

Padahal fisika bukan saja berperan penting dalam pembangunan sains dan teknologi, tapi juga membawa dampak pada masyarakat kita. Fisika mengajarkan kita berpikir ilmiah, bertindak seirama dengan prilaku alam. Semakin banyak sarjana fisika yang konseptual dan membahasakannya pada masyarakat, semakin tinggilah pengetahuan-dasar umum masyarakat itu. Hingga pada suatu titik kreativitas masyarakat yang sudah ada bisa dikembangkan lewat pola-pola ilmiah sehingga hasilnya lebih efektif, efesien, dan bisa lebih bermanfaat bagi orang banyak.

Indonesia memiliki banyak bibit-bibit unggul. Yang muncul di permukaan lewat lomba internasional fisika, matematika, biologi, astronomi dan sains lainnya hanyalah baru secuil. Di pelosok desa dan kampung yang tersebar di seluruh Indonesia pastilah berlimpah mutiara-mutiara yang mampu menerangi dan memajukan bangsa kita lewat fisika ataupun sains lainnya.

Mudah-mudahan memanfaatkan moment Tahun Fisika Dunia, perhatian pemerintah pada pendidikan Fisika dan sains umumnya – baik itu teori maupun eksperimental – meningkat dari tahun sebelumnya. Mudah-mudahan juga semangat ini mengilhami para generasi muda kita untuk mulai berkenalan dengan fisika.


Reportase Nuzulul Quran

Filed under Ramadhan 2004

(Reportase Nuzulul Quran dari seorang Buyung)

Alhamdulillah, semua puji syukur pada Allah Semesta Alam. Sudah kita lewati lagi satu dari sekian rangkaian acara Gerakan Perindu Ramadhan dengan selamat dan insyaallah penuh hikmah. Acara ini adalah Nuzulul Quran, bisa dikatakan acara puncak Gerakan Perindu Ramadhan kita.

Sekali lagi, saya dengan segala kerendahan dan ketulusan hati mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada rakyat deGromiest yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu. Acara ini adalah acara kita bersama; tidak ada yang berhak mengklaim secara pribadi maupun kelompok, tapi ini adalah milik ummat Islam yang kebetulan diamanahkan kepada kita untuk diselenggarakan di bumi Groningen.

Namun, Gerakan Perindu Ramadhan belum selesai. Perjalanan masih panjang, Ramadhan masih tersisa 13 atau 14 hari lagi. Mari saling membahu dan saling mengingatkan untuk membakar semangat menjadi energi. Energi ini yang kita pakai untuk mengisi detik demi detik Ramadhan dengan penuh hikmah, zikir, fikir, dan ibadah. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang benar-benar bertaqwa, amien ya Rabbal Alamin.

Kisah Di Bawah Meja (makan)

Nama GPR (Gerakan Perindu Ramadhan) sebenarnya lahir dari celoteh Bang Is yang saat itu masih terpengaruh dengan lahirnya Gerombolan Pencicip Makanan Pencinta Sains (gpmps). Nama itu langsung saya resmikan sebagai nama kepanitian yang diamanahkan kepada saya untuk menjadi event organizer deGromiest selama bulan suci Ramadhan.

Dari sekian banyak acara, Nuzulul Quran justru luput dari perhatian saya. Syukurlah beberapa rekan mengingatkan saya dengan peristiwa paling penting dalam sejarah Islam tersebut. Itulah untungnya mensosialisasikan ide-ide kepada massa.

Format acara prematur segera disusun berdasarkan hasil obrolan dengan rekan-rekan. Ketika dilemparkan ke publik, mendapatkan tanggapan positif. Langsung saja, pada tanggal 16 Oktober 2004, saat buka puasa pertama di Websterbadstraat 48, pembagian peran di mulai. Cara pembagian peran yang terlihat ganjil, tapi ternyata dirasakan tepat seperti yang rekan-rekan nikmati malam tadi. Mudah2an memang Allah lah yang sudah memilihkannya untuk kita.

Tim materi mengadakan rapat maraton lewat email, membahas apa tema utama dan bagaimana menyampaikan pesan-pesannya. Minggu 24 Oktober 2004 menjadi hari bersejarah dalam persiapan Nuzulul Quran ini. Para aktor berkumpul di Bezettingslaan 30 untuk mematangkan materi dan berlatih. Format acara pasti disusun, seperti yang rekan-rekan nikmati tadi malam.

Terungkap bahwa, lagu “Doa Khatam Quran” yang kita bawakan tadi bukanlah lagu gampangan. Indra, Bang Budi, dan Pak Toto, pemusik yang bisa dibilang handal di bidang masing-masing butuh waktu setengah hari untuk menemukan chordnya. Teguh, salah satu musisi handal kita terus terang pada saya menyerah untuk mempelajari chord lagu ini dalam satu hari. Itulah alasannya kenapa kita tidak melihat Teguh tampil tadi malam.

Pak Toto menguraikan bahwa lagu ini tidak mengikuti pakem biasanya. Kuncinya tidak berulang, melainkan berubah-rubah terus dari awal sampai akhir. Sebagai musisi Pak Toto tidak suka dengan alur demikian, karena ini mengurangi harmonisnya sebuah lagu.

Namun, ada sesuatu yang lain. Lagu ini bukan lah lagu pop yang biasa kita dengar. Ini adalah doa, doa kepada Allah, sebuah harapan. Dan doa ini dibawakan dan dinikmati oleh hati. Sehingga ketidakpakeman tidak menghalangi pendengar untuk menikmatinya. Karena yang menikmatinya bukan telinga, tapi hati. Subhanallah.

Ada lagi cerita lain. Beberapa rekan merasa keberatan dengan plot yang saya buat berkenaan waktu dan sajian makanan. Saya bersikeukeuh untuk mengadakannya selepas Maghrib dan menghindari makanan serius demi tercapainya kesyahduan acara. Sementara dari sisi lain, ini bisa mengurangi minat orang yang datang. Alasannya, makanan adalah daya tarik utama dan jam 7pm dirasa terlalu larut untuk orang beraktivitas. Namun, Alhamdulillah huznusan saya tidaklah melenceng terlalu jauh; acara tetap syahdu (walau ini tentu relatif) dan rekan-rekan yang datang tidak harus kelaparan. Alhamdulillah.

Selain itu, kedatangan para wakil dari KBRI memberi warna tersendiri. Kita bisa meluaskan manfaat dari acara GPR: kesempatan bagi warga Indonesia di Groningen bertemu para wakil KBRI dan melakukan “Lapor Diri”. Diskusi intens juga terjadi antara para tokoh deGromiest dengan wakil KBRI. Lagi-lagi, Alhamdulillah.

Merdunya alunan surah Al Baqarah 1-10 dari Indra, indahnya terjemahaan dari Ratih, disambung oleh Loedroek Cap Martini Tower yang dimotori trio Cak Tri, Cak Fu, dan Cak Toto benar-benar membuka Nuzulul Quran begitu bewarna. Warnanya kental, dan mempesona, terasa sampai ke belakang di mana rekan-rekan non-muslim yang sedang menunggu selesainya proses “Lapor Diri”. Mudah-mudahan ini menjadi dakwah, amin.

Tidak hanya sampai di sana, nyanyi “Doa Khatam Quran” yang di pandu oleh Uda Khairul, Kak Agnes, dan Yunia dan diiringi oleh flute Pak Toto, gitar Indra dan Bang Budi membuat penonton larut. Larut bersama harapan untuk mendapatkan berkah dengan membaca Al Quran. Saya berharap, pesan untuk membudayakan membaca Al Quran sampai hendaknya pada penonton.

Acara disambung oleh puisi Kematian oleh Bang Ismail. Saya merasa terhanyut oleh ekspresi beliau yang begitu menjiwai pesan-pesan maut dari Taufiq Ismail. Kemudian, dengan cantiknya, kontras dengan puisi pertama, puisi Kehidupan pun dikumandangkan oleh saya sendiri. Sebuah puisi yang lahir dari refleksi pemahaman saya pada fisika partikel dan kosmologi yang saya dalami, mencoba mengajak kita senantiasa berfikir dan berzikir setiap saat dalam kehidupan ini. Saya tidak tahu apakah pesan tersebut tersampaikan, kalau tidak mudah-mudahan resume singkat ini membantu.

Akhirul kalam…

Dan, akhirnya kepengerusan deGromiest resmi beralih dari zaman Ismail Fahmi ke zaman trio Wangsa, Toto, dan Indra. Sebuah suksesi yang begitu cantik, di hari baik di tanggal baik di bulan baik. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, langkah kanan insyaallah sudah kita mulai untuk de Gromiest ke depan.

Masih banyak agenda kita, masih banyak yang harus dibenahi. Perjuangan masih panjang, revolusi belum berhenti. Riak-riak mungkin terjadi, tapi mari selalu saling mengingatkan supaya perbedaan itu menjadi sesuatu yang indah. Ayo kita bahu-membahu menuntaskan revolusi yang sudah kita mulai, lewat deGromiest untuk Islam!

…
Biar apa pun luka yang terbina
Takkan gentar merela kehendakNya
Terdengarlah bicara tersembunyi
Yang tertebar di langit dan bumi

Siapakah yang mampu menundukkan bayu?
Siapakah yang tahu hanya ada Satu.

…

4.17am, 30 Oktober 2004
Duindoornstraat 121

Febdian Rusydi
Pesuruh 1 Gerakan Perindu Ramadhan


Daftar Kiyai Online deGromiest

Filed under Ramadhan 2004

Berikut adalah panduan daftar dan jadwal KoG (Kiyai online deGromiest) untuk GPR kita tahun ini. Ingat, ini adalah sekedar panduan, artinya bukan hukum yang wajib diikuti. Jikalau rekan-rekan ada bahan lain yang dikira pantas dan cocok, dipersilakan memuatnya.

Sekedar tip untuk menulis bagi para penulis:
1. Berniatlah menulis bukan untuk menggurui, melainkan berbagi pengalaman dan ilmu, serta belajar.
2. Galilah ide dari keseharian kita, boleh berupa refleksi dari pribadi atau juga hikmah sebuah kejadian yang pernah dialami. Bisa juga, kalau memang sudah jago dan berilmu tinggi, berbagi ilmu kayak ceramah Aa’ Agym.
3. Usahakan ide tersebut terpaut dengan tema utama yang sudah ditetapkan.
4. Jangan takut salah dalil atau salah pemahaman, disini kita saling berbagi dan saling belajar. Kalau ada yang salah, insyaallah akan ada yang membetulkan (mungkin lewat komentar).

Kalaulah ada para KoG yang merasa ga cocok jadwal atau topik, jangan sungkan2 untuk bersabar dan mencoba menerima takdir ini… (artinya: panitia ga terima protes hihi… Becanda ding). Segera kasih tau yaa… Dan kompromikan.

Kita juga masih mengundang rekan2 yang lain untuk berpartisipasi; pak Rico misalnya…, Uni Yulia, Mbak Ike, Tabib Itob, juga suhu ngebor kita Hari…. Dan lain-lain yang ga mungkin disebutkan satu persatu, ayo ayo kita saling berbagi…

Teknis
* Isi materi diluar tanggung jawab Mas Amal, beliau hanya merapikan tulisan sebelum dipasang
* Tulisan diketik dalam format “Plain Text”. Kalau menggunakan MS Words, save-lah dengan extension: .txt
* Artikel maksimal 7 sampai 10 paragraf.

Generalisasi Topik
* H-7: a Perihal penyambutan Ramadhan, b) persiapan puasa
* 10-1: a) Rahmah, b) Hidayah,
* 10-2: a) Pengampunan, b) tobat, c) zakat fitr
* 10-3: a) Lailatur Qadr, b) i’tikaf, c) zakat fitr, d) kembali ke fitr & penyambutan Idul Fitr

Sistem waktu
T1 = H-7 dimulai dari tanggal 7 Oktober 04 (perkara 1 Ramadhan jatuhnya bukan tanggal 15, tidak masalah)
T2 = 10-1 dimulai dari tanggal 1 Ramadhan
T3 = 10-2 dimulai dari tanggal 11 Ramadhan
T4 = 10-3 dimulai dari tanggal 21 Ramadhan

Misal:
Buyung: 7okt:T1a; 3rmd:T2b
Artinya: si Buyung kebagian menulis untuk 7 Oktober dengan topik “Perilah Penyambutan Ramadhan”, dan tanggal 3 Ramadhan dengan topik “Hidayah”.

Daftar kiai Online deGromiest untuk GPR 04
=============================
Nama - Tanggal:Topik
=============================

1. Bang Ismail - 7okt:T1a; 10rmd:T2b; 28rmd:T4a

2. Uda Henry Aspan - 8okt:T1b; 11rmd:T3a; 29rmd:T4b

3. Bang Abdul Gafur - 9okt:T1a; 12rmd:T3b; 30rmd:T4c

4. Cak Fuad - 10okt:T1b; 13rmd:T3c

5. Bang Amirul - 11okt:T1a; 14rmd:T3a

6. Bang Indra - 12okt:T1b; 15rmd:T3b

7. Uda Fahmi - 13okt:T1a; 16rmd:T3c

8. Mas Amal - 14okt:T1b; 17rmd:T3a

9. Mas Adit - 15okt:T1a; 18rmd:T3b

10. Aa’ Teguh - 1rmd:T2a; 19rmd:T3c

11. Kak Senaz - 2rmd:T2b; 20rmd:T3a

12. Kak Agnes - 3rmd:T2a; 21rmd:T4a

13. Kak Ican - 4rmd:T2b ; 22rmd:T4b

14. Koko’ Wangsa - 5rmd:T2a; 23rmd:T4c

15. Bang Farhad - 6rmd:T2b; 24rmd:T4d

16. Pak Toto - 7rmd:T2a; 25rmd:T4a

17. Teteh Yunia - 8rmd:T2b; 26rmd:T4b

18. Uda Buyung - 9rmd:T2a; 27rmd:T4c


Acara Gerakan Perindu Ramadhan

Filed under Ramadhan 2004

Berikut adalah rencana aktivitas deGromiest untuk memeriahkan Ramadhan tahun ini. Rencana aktivitas ini masih terus dimatangkan, namun insyaallah kita tidak bergantung pada seberapa jauh keidealan acara ini.

Semua kritikan dan masukan sila lempar dalam bentuk komentar (di Cafe), mailing list, maupun email pribadi ke febdian [at] febdian.net atau febdian [at] jtan.com.

Daftar isi:
1. Buka Puasa Bersama
2. Artikel Ramadhan Online
3. Zakat Fitrah
4. Tadarus
5. Nuzul Quran
6. Perayaan Idul Fitri

=====================
1. Buka Puasa Bersama
=====================

Tempat:
* Bang Ismail/Mbak Agnes dengan pembicara: Ustad Yasin
* Uda Fahmi/Uni Yulia dengan pembicara: Badr
* Teguh/Margareth dengan pembicara: William Abd Nasse

Cadangan tempat:
* Mas Amal/Mbak Heni,
* Itob/Diana/Mbak Ike,

Acara:
* Secara default dimulai 4.30pm
* dibuka dengan Kuliah Umum dari pembicara,
* diskusi/tanya jawab/berbagi opini
* berbuka dan Maghrib
* Bersantap malam.
* Isya dan taraweh berjamaan

Logistik & biaya:
* Tuan rumah diharapkan kesabarannya menanggung biaya dulu untuk kemudian di-reimburst ke bendahara
* Setiap tamu diharapkan kesadarannya membawa makanan/minuman untuk membantu tuan rumah
* Pembawaan makanan/minuman oleh sukarelawan akan diumumkan setiap hari Rabu setiap minggunya
* Setelah acara berbuka bersama selesai, mari bergotong royong membersihkan ruangan

Yang belum dipastikan:
() Urutan lokasi tempat berbuka - masih menunggu konfirmasi dari Willian Abd Nasse dan Badr

==========================
2. Artikel Ramadhan Online
==========================

Tema:
* H-7: Perihal penyambutan Ramadhan & persiapan puasa
* 10 pertama: Rahmah, Hidayah,
* 10 kedua: Pengampunan, Tobat, zakat fitr
* 10 ketiga: Kemerdekaan (dari dosa & neraka?), i’tikaf, zakat fitr, penyambutan Idul Fitr

Teknis (disarikan dari email Mas Amal):
* Isi materi diluar tanggung jawab Mas Amal, beliau hanya merapikan tulisan sebelum dipasang
* Tulisan diketik dalam format “Plain Text”. Kalau menggunakan MS Words, save-lah dengan extension: .txt
* Artikel maksimal 7 sampai 10 paragraf.

Penulis & Jadwal:
* Lihat posting “Daftar Kiyai Online deGromiest”

===============
3. Zakat Fitrah
===============

* Kerjasama dengan Kzis - Insyaallah Diana akan membantu menjadi tempat pembayaran sebelum disalukan ke Kasis.
* Sadakah ramadhan bisa disalurkan setiap acara buka bersama langsung pada Bendahara deGromiest

==============================
4. Tadarusan di Masjid Selwerd
==============================

Bagi yang mau tadarusan usah taraweh, sila datang ke masjid Selwerd. Untuk iftikaf, deGromiest akan mencoba membantu untuk membicarakan dengan pihak masjid.

==============
5 Nuzul Quran
==============

Waktu & tempat:
* Kemungkinan besar 29/30 Oktober atau 5/6 November (kalau Sabtu ruangan tidak bisa dipinjam, maka acara akan diadakan hari Jumat)
* di Academic gebouw, jam 7pm ~ 9pm

Acara:
* Pembukaan dengan bacaan Al Quran dan tilawah
* Ceramah Nuzul Quran dengan metoda “drama dialog”
* Pembacaan puisi
* Nyanyi, kandidat utama: Doa Khatam Quran (Bimbo)
* Serah terima kepengurusan deGromiest dari yang lama ke yang baru
* Doa bersama

Teknis persiapan:
* Mengingat ini adalah acara puncak dan kudu serius, akan dibentuk tim materi khusus untuk mematangkan acara ini. Tim materi ini yang sudah pasti adalah: Buyung, Bang Is, Mas Amal, Indra, Fuad, dan Goffur, Yunia. Juga diharapkan Uda Fahmi, Henri Aspan, Uda Khairul bergabung bersama. Selanjutnya akan diadakan rapat maraton untuk membicarakan detil acara. Rapat bersifat terbuka, setiap anggota deGromiest dipersilakan datang (Cuma tolong bawa goreng2an dikit lah hehe).

======================
6. Perayaan Idul Fitri
======================

Waktu & Tempat
* Kemungkinan besar di akhir pekan pada minggu 1 Syawal: 19/20 Nov 04
* Bertempat di Academic Gebouw selama 2 jam

Acara:
* Silaturahim,
* Makan-makan
* Acara kesenian(?): baca puisi, nyanyi, dll
* dll?

Teknis:
* deGromiest akan mencoba menggandeng PPI untuk mengadakan acara ini

=============
Perlengkapan
=============

() reporter
* Tugas: menjilid Artikel Ramadhan setiap sekali seminggu dalam bentuk buletin (softcopy, juga bisa menulis reportase kegiatan GPR
* Pelaku: Buyung & Kak Agnes

() Dokumentasi
* tugas: foto2 & film, publikasikan via website
* pelaku resmi: Indra - semua warga deGromiest yang punya kamera dipersilakan menyumbangkan hasil jepretannya.

() Bendahara acara
* Tugas: kalkulasi/taksiran dana, mengumpulkan kuitansi belanjaan tuan rumah buka bersama
* Pelaku: Yunia


Mencumbu Dunia dengan Fisika Partikel

Filed under GPMPS

Hadiah Nobel untuk tahun 2004 baru saja diumumkan Selasa lalu tanggal 5 Oktober 2004 di Stockholm ibukota Swedia. Pemenangnya adalah 3 orang fisikawan dari Amerika berbagi hadiah uang satu juta Swedia kronor (sekitar 1,3 juta dolar AS). Mereka adalah: David Gross (63 tahun, Kavli Institute for Theoretical Physics, University of California, Santa Barbara, CA, USA); David Politzer (53 tahun, California Institute of Technology Pasadena, CA, USA); dan Frank Wilczek (53 tahun, Massachusetts Institute of Technology Cambridge, MA, USA). Mereka berhasil menerangkan bagaimana interaksi dasar antar partikel penyusun materi (quark) berinteraksi satu sama lain dalam strong interaction.

Ntah kebetulan atau memang kami sudah mendapatkan feeling, pada Minggu 26 September 04 yang lalu saya memilih topik Fisika Partikel dalam Kuliah Umum gpmps (gerombolan pencicip makanan pencinta sains) – sebuah perkumpulan yang mengaku sebagai gerakan bawah tanah dan underbow-nya deGromiest, organisasi muslim Indonesia di kota Groningen Belanda. Topik ini membahas cukup detil perihal partikel penyusun materi dan interaksinya, yang menjadi topik pemenang Nobel Fisika tahun ini. Materi kuliah umum gpmps itu sendiri terpaksa telat dirilis tergeser oleh prioritas kesibukan yang lain.

Baiklah, mari saya ajak bertemu dengan Fisika Partikel, yang juga baru saya kenal Ramadhan tahun lalu. Perkenalan yang menggetarkan dawai asmara dan melahirkan cinta pertama saya pada dunia kuantum.

SILAKAN MENIKMATI, tidak lupa dengan secangkir kopi hanget! (Yang dinikmati kopi angetnya aja? hahaha)

PS:
(1) Yang saya sajikan di sini adalah sari pati dari artikel aslinya yang bisa rekan-rekan baca di febdian.net (http://febdian.net/content.php?article.29). Di sana yang pasti informasinya lebih lengkap juga disertai gambar-gambar yang membantu pemahaman.
(2) Terimakasih khusus pada Begawan kita, Pak Zeily yang sudi dan tulus menurunkan secuil ilmu menulisnya.

—————————————————————-
MENCUMBU DUNIA DENGAN FISIKA PARTIKEL

Apa itu Fisika Partikel

Fisika Partikel adalah fenomena alam yang terjadi pada level subatomik. Objektif dari Fisika Partikel adalah mencari jawaban atas dua pertanyaan kunci: (1) Apa elemen fundamental dari material, dan (2) bagaimana mereka berinteraksi. Ilmu dan pemahamanan ini kemudian disimpulkan dalam sebuah Model Standar (Standard Model).

Elemen Fundamental

Elemen fundamental didefenisikan seabgai elemen dasar penyusun alam semesta, disebut juga elementary particle atau building block particle karena kombinasi partikel inilah materi tersusun. Ini ibarat batu bata yang menyusun rumah.

Sejak jaman dahulu orang-orang sudah memikirkan perihal elemen fundamental ini. Orang sempat berpikir bahwa air, api, tanah, dan udara adalah element fundamental yang membangun alam semesta. Beberapa aliran malah menambahkan dengan elemen kematian dan kehidupan.

Namun tentu saja hal diatas adalah mitos belaka. Api jelas adalah bentuk energi, sementara air, tanah, dan udara adalah materi itu sendiri. Kematian dan kehidupan adalah diluar konteks fisika sebagai salah satu disiplin ilmu sains. Walau demikian, ide dari pencarian elemen fundamental itu adalah sebuah hal yang jenius yang patut dicermati dan diseriusi.

[i]Jadi, apa dong element fundamental alam semesta ini?[/i]

Feymnan, seorang pemain drum tradisional yang diganjar hadiah Nobel 1965 karena kecintaannya bermain-main dengan Fisika, pernah berseloroh dihadapan para mahasiswa tingkat 1 Caltech:

“Jika seandainya kehancuran dahsyat pada peradapan & pengetahuan manusia, dan cuma hanya 1 kalimat pendek yang bisa diwariskan ke generasi selanjutnya… Apakah kalimat pendek yang paling informatif itu? Jawaban: Teori atom, bahwa materi terbentuk oleh atom-atom!”.

Feyman sama sekali tidak salah. Pengetahuan bahwa materi tersusun oleh atom-atom akan memudahan generasi berikutnya yang kehilangan semua arsip-arsip ilmu kita untuk segera tanggap: bahwa untuk memahami sifat-sifat materi tersebut secara lengkap maka harus dipelajari interaksi antar atom yang menyusunnya. Dengan demikian, teknologi yang hancur bisa dipulihkan dalam waktu relatif lebih singkat ketimbang 100 tahun lebih evolusi komputer menjadi sebuah mesin handal seperti yang kita punya sekarang.

Namun sayangnya, Atom itu bukanlah elemen fundamental. Seratus enam puluh satu tahun setelah John Dalton mengeluarkan 3 postulat teori atomnya pada 1803, Murray Gell-mann mengklasifikasi prilaku ratusan partikel sebagai kombinasi dari elemen fundamental yang bernama: QUARK. Quark bersama elekron kemudian menjadi 2 partikel pembentuk materi pertama yang ditemukan.

Eksistensi Anti Partikel

Anti partikel pertama kali muncul dalam solusi Persamaan Dirac, persamaan yang mengawinkan teori relativitas khusus dengan mekanika kuantum. Dipostulatkan bahwa setiap partikel memiliki anti partikel, memiliki sifat yang sama kecuali muatannya berbeda. Misalnya positron adalah anti partikel dari elektron, memiliki massa, ukuran, mematuhi semua hukum konservasi yang juga dipatuhi elektron, namun muatannya adalah positif.

Apa yang terjadi apa bila partikel bertemu dengan anti partikelnya? Inilah yang disebut proses annihiliation: partikel + Anti partikel –> Energi. Energi ini biasanya dibawa oleh partikel khusus (partikel ini adalah exchange particle untuk masing-masing interaksi), misalnya dalam conton elektron + positron –> photon (disebut juga pair annihilation). Sesuai hukum kekekalan energi, maka photon ini juga akan bisa menghasilkan elektron + postiron (disebut pair production).

Keberadaan anti partikel itu pertama kali dibuktikan oleh Carl Anderson pada tahun 1932 di Fermilab, Chicago Amerika Serikat. Anderson menembakkan partikel bermuatan ke dalam bubble chamber yang berisi superheated liqud dan diberi medan magnet, sehingga partikel tersebut akan meninggalkan jejak. Partikel dan Antinya akan bergerak pada arah belawanan seperti terlihat pada gambar 6, yang merupakan hasil pekerjaan Anderson. Carl Anderson meraih penghargaan Nobel pada tahun 1935 atas sumbangannya itu.

Pada awal penciptaan alam semesta, jumlah partikel dengan anti partikelnya adalah sama, mereka berada dalam keadaan setimbang. Sekarang, jumlah anti partikel jauh lebih sedikit daripada partikelnya. Inilah yang disebut dengan “matter – anti matter problem”. Kenapa? Ya, kenapa ya? Ini adalah salah satu misteri serius yang membuat fisikawan (terutama astrofisis) ga bisa hidup tenang, tapi di sisi lain menjadi lahan buat cari nasi.

Konsep Partikel Pembangun Materi

Melanjutkan cerita pencarian elemen fundamental, sekarang kita sudah bisa meletakkan konsep partikel pembangun materi. Quark sampai saat ini dipercaya sebagai satu dari dua partikel elementer ini. Quark ini memiliki 6 tipe atau flavors (dikategorikan dalam 3 famili atau generasi): up/down, charm/strange, dan top/down. Semua materi di alam semesta kita dibentuk oleh kombinasi quarks ini: kombinasi quark-anti quark membentuk meson, dan tiga kombinasi quark membentuk baryon. Baru-baru ini ditemukan bukti keberadaan lima kombinasi quark membentuk partikel, disebut jenis pentaquark. Proton dan Neutron, dua partikel subatom yang kita kenal, adalah contoh jenis baryon.

Selain quark, partikel dasar yang lainnya adalah lepton. Sebagaimana quark, lepton juga memiliki 6 tipe (juga dikelompokkan dalam 3 famili atau generasi): elektron/elektron-neutrino, muon/muon-neutrino, dan tau/tau-neutrino. Kombinasi proton-neutron-elektron membentuk atom, kombinasi atom membentuk molekul, kumpulan molekul membentuk senyawa atau campuran ataupun larutan yang secara kasat mata bisa kita lihat.

Konsep Interaksi Fundamental Alam Semesta

Fenomena interaksi antar partikel dijelaskan dengan keberadaan partikel pembawa interaksi yang saling dipertukarkan oleh partikel-partikel terlibat.

Untuk menjelaskan bagaimana interaksi terjadi, bayangkan dua orang berada dalam perahu A dan B yang sedang mengapung di atas air. Apa yang terjadi ketika dua orang ini saling melempar dan menerima bola? mereka saling menjauh. Fenomena ini dijelaskan sederhana oleh Hukum III Newton Aksi-Reaksi. Interaksi antar partikel bisa dijelaskan dari fenomena yang sama: partikel A dan B berinteraksi dengan saling mempertukarkan sebuah partikel; partikel ini disebut sebagai exchange particle.

Ada empat interaksi fundemental: interaksi gravitasi (gravitational interaction), interaksi elektromagnetik (electromagnetic interaction), interaksi lemah (weak interaction), dan interaksi kuat (strong interaction). Setiap interaksi memiliki partikel pembawa interaksi khusus, yang cuma bisa bekerja spesifik pada interaksi tertentu. Kita akan bahas secara singkat satu per persatu masing-masing interaksi tersebut.

Interaksi gravitasi membuat benda jatuh ke tanah dan juga pegerakan planet dan galaksi. Makin masif benda maka makin besar dia merasakan interaksi gravitasi; sebaliknya makin jauh jarak dua benda maka makin berkurang interaksi gravitasi bekerja. Karena itulah, pada skala mikrokosmik (level partikel) maka interaksi ini bisa diabaikan. Interaksi gravitasi dijelaskan oleh Teori Relativitas Umum Einstein. Partikel pembawa interaksi ini adalah graviton, eksis secara teori namun belum ditemukan sejauh ini dalam eksperimen.

Interaksi elektromagnetik menyebabkan semua fenomena menyangkut listrik dan magnetik; nyaris seluruh teknologi yang ada sekarang berdasarkan interaksi ini. Interaksi elektromagnetik dijelaskan oleh Quantum Electrodynamics (QED), dimana Richard Feynman, Julian Schwinger, dan Sin-itiro Tomonaga berbagi hadiah Nobel untuk hal ini di tahun 1965. Sejauh ini, QED adalah teori kuantum yang paling sukses yang pernah ada; kecocokannya dengan eksperimen ibarat mengukur jarak Bandung-Surabaya dengan ketelitian helaian rambut. Partikel pembawa interaksi adalah foton, atau partikel cahaya, yang dipostulatkan oleh Max Planck pada awal 1900 dan ditemukan oleh Einstein pada 1905 lewat percobaan efek fotoelektriknya. Einstein meraih Nobel pada 1922 untuk percobaannya ini.

Interaksi lemah terjadi pada skala subatomik, bertanggung jawab pada peluruhan radioaktif seperti peluruhan beta. Sheldon Glashow, Abdus Salam, dan Steven Weinberg (hadiah nobel 1979) membuat teori umum untuk interaksi lemah dan secara menakjubkan berhasil membuat teori unifikasi interaksi elektromagnetik dan weak: Electroweak Unification Theory. Trio ini juga memprediksi partike W dan Z sebagai exchange particle dalam interaksi lemah, yang kemudian ditemukan 3 tahun kemudian oleh Carlo Rubbia dan Simon van der Meer (hadiah Nobel 1984).

Interaksi kuat juga terjadi pada skala subatomik namun cuma dirasakan oleh quark. Nobel Fisika 2004 jatuh pada tema ini; Trio nobel 2004 mempublikasikan temuan mereka pada tahun 1973 perihal gluon (dari kata glue atau lem) sebagai exchange particle dalam interaksi kuat. Temuan ini memulai sebuah teori baru dalam teori medan kuantum: Quantum Chromodynamic (QCD), teori khusus untuk mempelajari fenomena dalam interaksi kuat.

Gluon ini memiliki sifat yang berbeda dengan partikel pembawa interaksi lainnya, mereka bisa berinteraksi sesama mereka. Interaksi antar gluon ini berkurang ketika jarak antar quark berkurang, akibatnya interaksi antar quark berkurang. (Ini tentu berbanding terbalik dengan interaksi elektromagnetik yang berbanding terbalik dengan jarak antar partikel). Sebaliknya, jika jarak jarak antar quark bertambah maka interaksi antar gluon meningkat, sehingga interaksi antar quark bertambah. Ini membuat quark tidak bisa dipindahkan dari inti atom; hal ini pula-lah yang membuat proton-proton tidak saling tolak-menolak dalam inti atom walau sama-sama bermuatan positif. Sifat ini disebut “kebebasan asimptotik”.

Sifat lain dari quark ini dalam teori QCD adalah nomor kuantum “warna” – sebagaimana pelabelan spdf pada nomor kuantum elektron. Warna itu sendiri adalah identitas quark (ibarat muatan pada elektromagnetik), yang membuat quark mematuhi Larangan Pauli: tidak ada partikel yang identik berada pada level energi yang sama. Proton misalnya, terbuat dari 2 quark up dan 1 quark down, namun 2 quark up ini dipastikan memiliki warna yang berbeda. Jika tidak, maka Larangan Pauli dilanggar.

Sifat-sifat ini menjelaskan kenapa quark tidak pernah diamati sebagai partikel bebas (free particle). Keterjebakannya bersama quark yang lain disebut confinement of quark. Salah satu cara melihat confinement of quark ini disebut “bag model”. Bayangkan para quark ini berada dalam satu tas plastik yang elastis, dimana para quarks bergerak bebas di dalamnya, selama kita tidak mencoba memisahkan mereka. Tapi ketika kita mencoba menarik satu quark keluar, tas plastik itu merenggang dan bertahan (agar tidak sobek). Ketika pemberian energi untuk memisahkan mereka makin besar, yang terjadi justru terbentuknya partikel jenis meson! Gimana, keren kan?

Beberapa eksperimen sudah menunjukkan banyak kesepakatan dengan ramalan QCD, dan yang paling penting adalah ramalan teori QCD terhadap konstanta kopling (simbol: alfa).

Model Standar dan Unifikasi Semua Teori

Semua ilmu dan pemahaman Fisika Partikel ini dirangkum dalam sebuah model yang menggambarkan partikel dasar dan interaksinya: Model Standar. Sampai saat ini sudah banyak fenomena partikel yang sudah dimengerti lewat model ini. Ratusan partikel sudah diprediksi berserta sifat-sifatnya, dan banyak sekali yang cocok dengan hasil eksperimen.

Temuan Gross dan kawan-kawan semakin mendekatkan impian para ahli fisika teoritis seluruh dunia: membuat satu teori untuk menjelaskan 3 interaksi dasar partikel (elektromagnetik, lemah, dan kuat) yaitu Teori Unifikasi Agung (atau Grand Unified Theory, GUT).

Teori QCD, bersama-sama teori QED dan teori unifikasi Electroweak, semakin menyempurnakan Model Standar ini. Ketiga teori ini menunjukkan sebuah kemungkinan adanya satu teori bersama (GUT) pada partikel dengan energi 10E15 GeV (10 pangkat 15 GeV, 1 GeV = 10E9 eV). Angka ini adalah sangat ekstrim tinggi bahkan dilingkungan Fisika Energi Tinggi (High Energy Physics) sekalipun! Pemercerpat partikel terbaik buatan manusia hanya sanggup menghasilkan partikel dengan energi orde MeV (10E6 eV).

Namun kalkulasi ini memerlukan satu asumsi lagi: supersimetri partikel. Jika asumsi ini terbukti, maka Teori unifikasi agung ini adalah langkah terakhir untuk menyatukan interaksi terakhir, interaksi graviatasi, dalam satu teori: Theory of Everything (ToE), atau Teori Segalanya, impian Einstein semenjak 1920 yang tidak pernah dia capai sampai akhir hayatnya.

Penutup

Awan tergulung, O Tuan, di hari senja,
Nampak berbalam biru warnanya,
Jumpa pertama, O Tuan, begitu menggoda
Takkan kulupa sepanjang Masa

Ku sulam kasih berbenang emas
Biar ga ngerti yang penting ikhlas!

—————————————————————-
Dianjurkan dengan sangat keras bagi rekan-rekan untuk menengok artikel asli, setidak-tidaknya untuk melihat ilustrasi yang tersedia. Ilustrasi-ilustrasi itu insyaallah sangat membantu pemahaman artikel ini, terutama mengenai skenario unifikasi fundemantal interaksi.

Artikel asli di: http://febdian.net/content.php?article.29


Demokrasi dan de Gromiest

Filed under Agenda deGromiest

Tanggal 18 September Avond kemarin telah terjadi pemilihan ketua de Gromiest untuk periode 2004-2005. Pemilihan tersebut berlangsung cukup Demokratis dengan musyawarah mufakat. Demokratis pada kalimat sebelumnya dicetak miring, karena kemudian muncul sedikit pertanyaan menggelitik dalam benak, Demokratis itu, dus Demokrasi itu apa sih? apa iya, bahwa pemilihan ketua yang diserahkan pada tim formatur demokratis? bukankah sebagian besar anggota de Gromiest yang tidak termasuk tim formatur kehilangan hak suaranya? dalam pemilu di tanah air saja seorang Profesor Doktor dengan seorang yang tidak pernah sekolah saja memiliki hak suara yang sama!

Plato dalam republik utopianya memang pernah memberikan solusi, ditengah-tengah kekecewaannya mengenai keadaan negerinya pada saat itu, bahwa pengambilan keputusan dalam menentukan nasib negara, termasuk memilih pemimpin negara tersebut diberikan hanya kepada orang-orang yang memiliki kompetensi untuk itu. Pendek kata, politik oleh golongan elit. Sehingga orang-orang yang kurang berpendidikan, yang tidak punya cukup pengalaman kehilangan hak pilihnya dan kehilangan haknya dalam menentukan kebijakan negara. Kemudian, pertanyaan tadi malah lebih menggelitik : “apakah dengan demikian anggota tim formatur lebih memiliki kompetensi dalam mengatur dan merencanakan kegiatan de Gromiest daripada anggota yang lain?” Masa iya? pastinya ada orang yang memiliki kapabilitas lebih di luar tim formatur… toch?

Ternyata, langkah yang diambil de Gromiest dengan tim formaturnya adalah suatu hal yang sedikit berbeda dari apa yang dikatakan plato dalam republik utopianya diatas. Suara dari sekian banyak anggota de Gromiest diwakilkan kepada anggota tim formatur yang dianggap mewakili aspirasi anggota yang mengajukannya. Mirip dengan pelajaran tata negara atau PPKN /PMP di sekolah ? hehe.. tidak begitu.. karena tim formatur bukan DPR. Tugas tim ini hanya sekali selesai, tidak berjalan beriringan dengan ketua dan kabinetnya. Akan tetapi memang disini terlihat sekali ada Demokrasi Perwakilan. Tetapi, bukankah dengan keanggotaan yang tidak sampai satu kelurahan bisa diadakan demokrasi langsung? pemilihan presiden untuk suatu negara yang berpenduduk di atas 200 juta pun bisa dengan pemilihan langsung kan? makin menggelitik rupanya pertanyaan-pertanyaan yang mulai berdatangan ini.

Mungkin pada saat penentuan teknis pemilihan ketua hal ini belum terpikirkan oleh sebagian atau malah semua anggota degromiest. Dengan terbentuknya formatur, pertukaran pemikiran dapat dilaksanakan dengan lebih dalam, dan lebih cepat, karena tidak terlalu banyak yang didengarkan pendapatnya. Bandingkan dengan apabila diskusi dilakukan dengan seluruh anggota de Gromiest,.. pasti, selain yang benar-benar berdiskusi, ada grup-grup tertentu yang bergosip, mencicip makanan, atau sekedar nonton tivi .. sehingga kurang efisien. Dengan diskusi dan keterbukaan, kepemimpinan de Gromiest kali ini terlaksana dengan musyawarah mufakat dan bukan voting. para kandidat pun ditanya dulu kesediaannya untuk menjadi ketua, sehingga benar-benar dengan kelapangan hati, atas konsensus semua. Sehingga yang terjadi kemarin malam adalah suatu penggabungan yang cantik antara demokrasi perwakilan dan musyawarah mufakat.

Kemudian muncul pula pemikiran, bahwa apabila yang terjadi kemarin malam itu dipraktekkan dalam level negara, mungkin dapat memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi bangsa indonesia yang menurut sebagian orang sedang berada dalam ambang kehancuran. Apakah mungkin? perbandingan suatu organisasi skala de Gromiest dengan skala Republik Indonesia mungkin ibarat membandingkan manusia dengan quark-quark yang menyusun manusia itu sendiri.. apakah patut diperbandingkan? Tetapi, ada baiknya bila kita tilik ke belakang menyusuri waktu, tidak terlalu jauh sampai pada saat bumi dan langit masih menyatu, tetapi jauh setelah “Big Bang”, yaitu pada saat munculnya demokrasi.

Demokrasi, suatu kata yang seringkali kita dengar pada masa sekarang ini, terutama di CNN atau Fox news, kala seorang George W. Bush memberikan justifikasi penyerangan ke Irak. Tetapi apa sih Demokrasi? Ingat-ingat dari pelajaran SMA, asal katanya adalah Demos dan Kratos. Demos, artinya rakyat, sedangkan Kratos adalah kekuatan (morfologi ke dalam bahasa belanda menjadi “kracht” walaupun dalam konteksnya saat ini lebih pas kalau diartikan dengan “macht”). Mudah untuk menebak kelanjutannya ceritanya, bahwa dalam demos kratos di yunani ini, yang berangkat dari pemikiran filsuf-filsufnya, diangkat dan dipraktekkan dalam kehidupan bernegara dengan sistem one man one vote. Sehingga arah kebijakan negara benar-benar mengikuti keinginan mayoritas penduduk suatu negara. Keadaan ini kurang disukai Plato, karena dengan demikian, negara berada ditengah ombang-ambing kemauan penduduknya, sedangkan belum tentu kemauan penduduknya walaupun mayoritas adalah benar dan terbaik. Apabila suatu saat mayoritas rakyat menginginkan perang sedangkan tidak cukup sumberdaya untuk itu, maka pasti negara akan kalah, namun karena itu kemauan rakyat, maka harus dilaksanakan. Plato kemudian berpikir, bahwa diperlukan suatu standar tertentu, patokan tertentu, untuk membatasi keterombang-ambingan tersebut. Siapakah yang menentukan standar tersebut? tentu orang-orang pintar nan cerdas pada saat itu (padahal sih, mereka kan juga bisa terombang-ambing ya..). Merekalah yang kemudian oleh Plato diposisikan sebagai para pengambil keputusan yang paling kompeten, sehingga tidak ada hak pilih bagi kelompok di luar mereka.

Demokrasi model Plato memang hampir, atau malah tidak pernah terpakai. Karena, terutama pada zaman sekarang ini, hal itu pasti akan dilihat sebagai pemasungan HAM. Padahal, kalau kita mau kembali pada keadaan dimana semua konsep pemikiran di dunia ini belum ada, (mirip pada keadaan dimana materi itu belum ada… hehe), HAM itu apa sih? siapa yang mematok standarnya? demikian sering didengung-dengungkan.. tapi apa sih patokan HAM itu? siapa yang membuat patokannya? mudah sekali orang berteriak pelanggaran HAM sekarang ini.. tapi apakah yang berteriak itu tahu apa hakikat HAM itu sebenarnya? tetapi kembali kita ke Demokrasi. Demokrasi di Yunani kemudian berevolusi menjadi demokrasi yang kita kenal sekarang dengan segala variasinya. Sehingga, dengan hal-hal lain produk yunani, negara (atau lebih tepat wilayah) ini sering disebut sebagai “craddle of western civilisation”. Western? memangnya ada yang bukan western ya? Syura.. bukan western. Kesimpulan sampai saat ini, setelah membaca beberapa literatur, inti dari Syura itu sendiri sebenarnya mirip dengan Demokrasi, walaupun Syura bukanlah demokrasi! ada suatu perbedaan besar, selain dari awal munculnya, yaitu pada zaman Rasulullah, Syura selalu mengakar kepada Al Qur’an dan Hadits. Sehingga selalu ada patokan pelaksanaan, dan tidak terombang-ambing dibawa arus keinginan mayoritas, (tentunya apabila rakyatnya ikut patokan). Sehingga tidak diperlukan Utopianisme Plato.

Yang menjadi permasalahan pada masa kini adalah pengkultusan dan pencatutan nama dan semangat Demokrasi itu sendiri. Ada demokrasi sosialis, ada demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila, dan entah apalagi. Mungkin hal ini disebabkan, apabila ada yang menggunakan nama lain, seperti misalnya pemerintahan sosialis, pasti akan dimusuhi barat. kata-kata demokrasi adalah suatu kata yang keramat, yang kalau tidak disebut, akan mengakibatkan ke”sengsaraan”.. mirip dengan kata-kata pembangunan dan orde baru di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Sehingga, si negara yang katanya kuat itu, mencatut demokrasi sebagai alasan pembenar menyerang Irak.. to uphold democracy .. katanya..

Padahal, kalau memang mau jujur, melihat pemikiran plato dan perkembangan negara-negara di dunia, Demokrasi dengan pengertian yang berlaku umum pada masa kini (kekuatan dan kemauan mayoritas) itu bukan harga mati. Demokrasi, dengan semangat people powernya memang merupakan suatu sistem pengambilan keputusan dan pemerintahan yang baik. Tetapi apakah demikian pada semua situasi dan kondisi? Bagaimanapun demokrasi yang dikenal luas dan “sepertinya” dipraktekkan sekarang ini adalah produk barat. Dengan demikian, mengusung nilai-nilai dan diwarnai oleh kultur barat, craddlenya. Bukan berarti semua produk barat itu buruk, namun, dalam ilmu sosial, penerapan suatu sistem nilai yang sama sekali asing ke dalam suatu kebudayaan yang sama sekali berbeda seringkali menemui kegagalan. Nilai tersebut, harus diadaptasikan dahulu kedalam sistem nilai yang berlaku, baru kemudian bisa diintegrasikan. Ibarat rice cooker miyako yang dibawa ke Inggris, harus dicarikan adapter dengan 3 colokan dahulu, baru bisa digunakan. Sebagai tambahan saja, studi hukum pun juga mengenal legal culture, dimana tidak bisa hukum dari suatu negara ditransplantasikan begitu aja ke negara lain. Harus memperhatikan legal culturenya juga, atau sistem itu akan menemui kegagalan, atau permasalahan yang cukup pelik. Paling tidak dalam ilmu hukum, sudah terbukti secara empiris. Sehingga, Demokrasi, apabila memang mau diterapkan, perlu adaptasi terlebih dahulu.

Dalam suatu organisasi setingkat negara pada masa kini, memang sulit untuk mewujudkan terjadinya mufakat dari sekian ratus juta rakyatnya. Demokrasi perwakilan sudah pernah kita cicipi. Dan secara empiris, tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mengapa? mungkin dikarenakan paling tidak ada 2 hal yang melenceng pada saat pelaksanaan. Pertama, rakyat yang memilih wakilnya tidak mengetahui kapasitas si wakil. Dahulu kita memilih partai. Sekarang sudah lebih baik.. sedikit. Kita memilih orang. Apa kita kenal orang itu? apa mereka sudah berbuat untuk kesejahteraan rakyat? bagaimana profilnya? apakah mereka se-aspirasi dengan kita? apakah mereka pantas dipilih? sulit untuk menjawabnya, karena kurangnya input untuk diproses. Dahulu para pilihan kita itu memilih presiden bak tim formatur de Gromiest memilih ketua. Permasalahan kedua muncul pula disini. Tidak amanahnya para wakil kita tersebut, membuat musyawarah mufakat untuk kepemimpinan 32 tahun tidak berganti. Musyawarah ini dapat dikatakan semu.. karena begitu di”merdeka”kan dari tekanan, baru kelihatan aslinya, semua memiliki keinginan yang berbeda-beda. Sekali lagi sulit untuk mengatur hal-hal seperti ini dalam organsisi setingkat negara. Beruntung pada organsisasi setingkat quark seperti de Gromiest, si pemilih mengenal langsung sang wakil dalam formatur, dan sang formatur, Insya Allah bertindak amanah dalam menjalankan tugasnya. Tadi malam itu adalah contoh demokrasi perwakilan yang baik sistem dan pelaksananya berjalan sebagaimana rencana.

Sekarang ini kita memilih langsung presidennya, tidak melalui wakil lagi. Tetapi, apakah pilihan itu tepat? bebas ? merdeka? objektif? sepertinya kita belum bisa mewujudkan kebebasan memilih itu. Dahulu kita terkungkung tekanan. Sekarang, kita terkungkung money politics, penampilan kandidat, ikut-ikutan orang karena tidak mengerti, sehingga akhirnya pemilihan presiden tak ubahnya Akademi Fantasi atau Indonesian Idol, minus nyanyi. Semua ditentukan popularitas, kita terkungkung popularitas sehingga penentuan bukan didasarkan kompetensi. Bedanya pemilihan presiden di TPS, kalau AFI atau Indonesia Idol bisa lewat SMS. Mungkin sebagian dari kita ada yang merasa tidak terkungkung. Benar. Terutama kita yang beruntung telah mengecap pendidikan yang jika dibandingkan dengan seluruh rakyat Indonesia, cukup tinggi. Tetapi bayangkan rekan-rekan ditanah airkita yang hingga kini, setelah beberapa kali pergantian presiden masih belum juga bisa baca tulis, (apalagi baca email dan mendiskusikan spam), yang tidak tahu menahu berita di pusat kekuasaan Jakarta, tiba-tiba harus memilih presidennya. Bagaimanapun salah satu sendi dasar demokrasi adalah pemberitaan yang memadai mengenai situasi dan kondisi kepemimpinan dan kenegaraan, dan pemberitaan ini mencapai dan dimengerti oleh rakyat. (Para pencinta game Civilization III pasti mahfum, kalau mau mengganti sistem pemerintahan dengan demokrasi, harus memiliki dahulu teknologi berita cetak!) ..Berapa banyak dari yang bisa membaca, tetapi kemudian tidak mengerti? Dalam kebingungan dan akhirnya ketidakpeduliannya, 5 atau 10 Euro mungkin sudah lebih dari cukup untuk menentukan pilihan.

Demokrasi, ataupun Syura, mungkin merupakan suatu sistem yang dirasakan “teradil” yang dapat dihasilkan manusia,.. saat ini. Namun, bukan berarti, sistem teradil ini tanpa kekurangan. Banyak sekali kekurangannnya, sehingga perlu diadakan perbaikan disana-sini, ibarat microsoft berulang kali mempublikasikan “patch” untuk internet explorer. Dan bukan tidak mungkin, pada suatu ketika, saat makin banyak “patch” yang dibutuhkan, mungkin lebih baik untuk membangun internet explorer dari awal. Mungkin Demokrasi juga perlu kita bangun dari awal agar lebih memenuhi kebutuhan kita. de Gromiest, paling tidak tadi malam telah menyumbang kepada khazanah demokrasi, bahwa pakem umum yang berlaku dapat diubah dan dapat menghasilkan keputusan yang diterima semua orang. Mungkin masih lama evolusi untuk dapat menghasilkan Demokrasi gaya baru. Tetapi paling tidak, Quark menyusun atom, atom menyusun molekul, molekul menyusun protein, protein menyusun sel, dan sel menyusun manusia. Mungkin berhasil, mungkin tidak, tetapi de Gromiest telah memulai.


Tulisan ini adalah tulisan Populer Sains yang menyertai presentasi “Kuliah Umum” yang berlangsung hari Minggu tanggal 12 September 2004 di Concordiastraat 67.

Hampir rata-rata kita tertarik untuk mengamati alam semesta. Kalau malam hari kepala lagi mumet, coba lah keluar. Kalau beruntung langit bersih, maka akan terlihat gemerlab bintang-bintang di angkasa. Berbaring dan nikmatilah… Pikiran jadi tenang, lupa dengan mumetnya dan berganti pada pengembarangan imajinasi… Apakah kita sendiri di sini? Di mana bintang-bintang itu? Adalah kehidupan di sana? Dari mana mereka berasal? Kalau mereka begitu banyak, seberapa besar alam ini?

Selengkapnya…


[Lanjutan dari e-project tak berujung si Buyung: Lord of the RIngs: Begineer Point-of-View]

Artikel kali ini akan mengulas singkat tentang pembagian waktu ‘the history of the middle-earth’, cara penanggalan yang dilakukan oleh Tolkien, sumber2 ‘sejarah’ dan bahasa yang dipakai dalam fantasi ini.

Selamat menikmati!!!

lotr.jpg

SUMBER SEJARAH

Biar terkesan kayak realita, Tolkien membuat hal yang unik. Dia bilang bahwa kejadian di LOTR, The Hobbit, dan The Silmarillion berdasarkan kopian “Red Book of Westmarch”.

Apa itu Red Book of Westmarch? Red Book of Westmarch adalah kumpulan diari Bilbo Baggins dan diteruskan oleh Frodo Baggins, dan lalu diceritakan ditambahin lagi oleh Sam Gamgee.

Disebutkan, The Hobbit diambil dari chapter “There and Back again, the Hobbit Tale (by Bilbo Baggins)”; lalu LotR dari chapter “Lord of the Rings (by Frodo Baggins)”.

BAHASA DAN ALFABET

Bahasa tertua adalah diciptakan pertama kali oleh elf. Begitu juga dengan alfabet. (Katanya Tolkien sendiri khusus menciptakan alfabet dan bahasa elvish ini lhoo).

Bahasa persatuan Middle-earth adalah disebut ‘common speech’ (alias bahasa inggris). Masing2 ras memiliki bahasa sendiri2, bahkan dalam satu ras bisa memiliki lebih dari 1 bahasa. Ibarat masing2 negara punya bahasa sendiri2, satu negara punya lagi bahasa daerahnya. Ini kadang yang membingungkan kalau baca buku LOTR, satu benda bisa sepuluh nama :-(

Rohan misalnya, memiliki alfabet yang sama dengan Gondor, tapi mereka punya bahasa sendiri. Begitu juga dwarves di Moria dengan dwarves di Blue Montain.

Skripsi2 kuno dan mantra kebanyakan ditulis dalam elvish, walau bisa jadi bahasanya bukan elvish. Misalnya, mantera yang tertulis di One Ring adalah tulisan elvish, tapi bahasanya adalah Black Speech (atau bahasa orang2 Mordor).

Ash nasg durbatuluk, ash nazg gimbatul, ash nasg thrakatuluk agh burzum-ishi krimpatul

One Ring to rule them all, One Ring to find them, One Ring to bring them all and in the Darkness bind them

Ada beberapa situs diinternet yang memberikan layanan belajar bahasa dan alfabet tulisan elvish karya Tolkien ini. Sayang saya belum sempat mempelajari lebih jauh.

Atau penasaran banget? Silakan buka apendiks LOTR yang biasanya terdapat dibuku ke tiga.

SISTEM KALENDER

Gila kan, sampai2 Tolkien menciptakan juga sistem penanggalannya sendiri, masing2 untuk Hobbit (yg memang kliatannya apik dalam pengarsipan sejarah), Dwarves, Men, dan Elves.

Saya juga ga begitu tahu sistem pengkalenderan ini. Yang jelas kalau di buku ke 3 LOTR ada disebutin gimana cara mengkalibrasi tahun2 itu.

PEMBAGIAN WAKTU

Tolkien membagi-bagi waktu atau jaman fantasinya, yaitu 1st age, 2nd age, dan seterusnya. Namun, sebelun 1st age, ada masa yang disebut dark age. Berikut ringkasan singkat peristiwa masing2 waktu.

Dark Age

Dimulai setelah terciptanya Arda. Aratar (9 avatar yang memiliki super power) diberi wujud oleh Iluvatar untuk turun ke Arda menatanya.

Sesuai namanya, saat itu Arda memang benar2 gelap gulita. Belum ada cahaya sama sekali. Disaat itulah, salah satu dari 9 aratar itu (ingatkan siapa? Yup.. Morgoth aka Menkor yang memiliki knowledge terlengkap) membelot dari harusnya menata Arda menjadi ingin menguasai Arda.

Cahaya baru muncul pertama kali setelah salah satu aratar, Yavanna (Queen of Earth), menciptakan 2 pohon cahaya di Aman (atau Undying land). Cuman cahayanya ini cuman untuk Aman aja, Middle-earth tetap gelap.

Setelah 2 pohon cahaya dibuat, elves dibangun, bersama ents, lalu dragon juga udah. Karena dibangunkan di Middle-earth yang serba gelap, Menkor berkesempatan mengkorupsi elves menjadi orcs dan ents menjadi troll.

Wah.. ini aku malah udah mulai cerita the Silmarillion.. dah ah, jangan diterusin dulu, ntar bahan buat Silmarillion ga ada.

Ga diceritain berapa lama dark age ini, tapi setidak2nya ada sekitar 10.500 tahun. Nah, Dark age berakhir ditandai dengan lahirnya Matahari dan bulan, serta kelahiran manusia pertama.

First Age

Dimulai saat ahirnya Matahari dan bulan, serta kelahiran manusia pertama. Elves saat itu menjadi ‘ruler’ di middle-earth. Men masih pemeran pembantu. Musuh utama masih Menkor.

Banyak legenda2 terjadi di first age ini, yang paling hebat adalah kisah cinta antara Luthien (elf, ce) dengan Beren (Man, co)…. Cerita2 itu dirangkum dalam buku The Silmarillion. Jadi nanti dech, pas di resume Silmarillion aku ceritain.

First age terjadi selama hampir 600 tahun, ditandai dengan dikalahkannya Menkor dengan bergabungnya elves, aratar, dan men. Perang dahsyat ini dikenal dalam sejarah dengan The War of Wrath. Gara2 perang itu bentuk middle-earth berubah (ada beberapa daratan yang hilang gara2 perang).

Second Age

Dimulai setelah kekalahan Menkor dalam the War of Wrath. Second age adalah masa terpanjang dalam sejarah middle-earth (dark age ga diitung lho), hampir 3500 tahun.

Sauron, pembantu Menkor yang paling serem, menggantikan seniornya menjadi Dark Lord. Dia menjadikan Mordor menjadi benteng pertahanan, setelah benteng pertahanan Menkor tenggelam usai the War of Wrath.

Masih ingatkan, pada tulisan sebelumnya saya menjelaskan tentang Numenor? Nah, pulau numenor itu muncul di jaman ini, sebagai hadiah dari Aratar untuk Men yang berjasa. Peradapan yang hebat, dengan armada perang yang dahsyat. Saking dahsyatnya bikin Saruon takut.

Namun dijaman ini pula pulau itu ditenggelamkan karena jatuh sombong… saking kuatnya mereka terhasut rayuan sauron untuk menyerang Aman (tempat para Aratar bersemayam haha).

Namun tidak semua orang2 numenor yang jatuh sombong, beberapa diantaranya ada yang tetap ingin jadi orang baik dan tak terpengaruh hasutan Sauron. Mereka lolos dari hukuman aratar. Mereka berlayar ke Middle-earth… dan disana mereka membangun dua kerajaan besar: Gondor dan Arnor.

Pada jaman kedua ini juga, Sauron membuat the One Ring, yang membuat dia berhasil mendominasi middle-earth. Semua??? Tidak… masih ada (kayak Asterix euy) beberapa wilayah yang terus2an membangkang, mereka menamakannya The Free People. Ada 3 komponen utama the free people: Kerajaan Gondor (men), Kerajaan Arnor (men), dan Kerajaan Nordor (elf – masih ingat apa itu Nordor kan?).

(Perihal cincin ini sangat menarik, bagaimana kejadian membuatnya, cincin2 apa saja yang dibuat dan kepada siapa saja didistribusikan, efeknya apa, siapa itu Nazgul… dan selanjutnya, nanti akan saya ceritakan khusus di bagian Silmarillion yaa… Seru banget lho).

The Free People ini, Men dibawah pimpinan Elendil (founder or Arnor dan Gondor) dan elf dibawah pimpinan Gil-Galad membentuk ‘The Last Alliance of Men and Elves’, merapatkan barisan dan menyerang langsung benteng pertahanan Sauron di Mordor, dan bertempur habis2an… sampai akhirnya Isildur, son of Elendil, memotong jari Sauron yang mengenakan the One Ring.

Nah… kekalahan (sementara) Sauron di “war of Last Allience” ini mengakhiri jaman ke-2.

Third Age

Dimulai setelah Sauron kalah dalam pertempuran The Last Allience. Elves secara periodik migrasi ke Aman. Pertama kali Hobbit muncul dipermukaan. Kehancuran kerajaan Arnor oleh Nazgul, Nazgul sempat menjadi momok, sebelum akhirnya pasukan gagah perkasa Gondor memukul mundur dan menghancurkan benteng mereka di Carn Dum (di ujung utara Misty Mountain… nanti saya kasih petanya). Namun setelah itu mata rantai raja Gondor terputus setelah raja Gondor terakhir ditantang duel satu lawan satu oleh Witchking.

Peristiwa penting lainnya adalah diturunkan 5 wizard ke middle-earth, dibawah pimpinan Saruman the White. Lalu kisah petualangan Bilbo dan 13 dwarves dipimpim Gandalf menaklukkan Smaug, naga jahat yang mengacaukan kedamaian di Erebor, the Lonely Mountain. Ada perang yang seru saat itu disebut dengan “The Battle of Five Armies”, perang aliansi mendadak Men dengan Dwarves, melawan Orcs dan wolf.

Pada pertengahan jaman ke-3 ini ditandai dengan kebangkitan Sauron, yang sempat menyamar sebagai Necromancer, the Dark Wizard. Dia membuat benteng pertahanan di Dol Guldur, di bagiah selatan hutan Mirkwood (kampung Legolas). Kekuatan ini terus berkembang, walau the council (Saruman cs) berhasil mengembalikan Sauron ke Mordor (heran ya, padahal Saruman bisa menghantam Sauron saat itu… jawabannya: nanti.. di the Hobbit).

Peristiwa paling dahsyat dan paling terkenal tentu saja Quest of the Mount Doom…. Dimana the Rulling Ring ditemukan ga sengaja oleh hobbit, dan menjadi rebutan banyak orang. Kisah ini dirangkum dalam 3 buku Lord of The Rings.

Jaman ke-3 ini lamanya 3000-an tahun. Ditutup dengan “The War of the Ring”, pulangnya the ring-bariers (Gandalf, Elrond, Galadriel, Biblo, dan Frodo) ke Aman, dan kembalinya sang raja ke tahta: Aragorn son of Arathorn, King of the reunited Kingdom (Arnor dan Gondor).

Forth Age

Dimulai dengan penghidupan kembali kerajaan Arnor dan disatukan dengan Gondor oleh Aragorn. Ga begitu banyak Tolkien bercerita disini, kayaknya sih sengaja dibuka begitu aja.

Yang paling penting disini adalah, selesainya kopian buku “red Book of Westmarch” di Gondor oleh spesial penulis raja. Buku inilah yang menjadi referensi utama fantasi Tolkien.

Nah… inilah akhir dari artikel ini. Berikutnya, yang paling ditunggu2.. resume dari LOTR. Insyaallah akan dimulai dari Fellowship of the Rings (2 buku), dilanjutkan oleh Two Tower (2 buku), dan Return of the King (2 buku). Kemudian petualangan kita akan mundur terhadap waktu, The Hobbit. Lalu lebih mundur lagi The Silmarillion…..

Sampai jumpa!


[Bahasa yang dipake dalam artikel ini jauh dari eyd, ini dimaksudkan untuk membuat alur menarik dan tidak garing2 amat ^^]

Lanjutan dari e-poject “The Lord of the Rings: Beginner’s point-of-view”

Masih ingat kan, salah satu e-project tak berujung saya “The Lord of the Ring: Beginner’s point-of-view”? Kalau lupa sila baca lagi dengan klik di sini. Nah, kali ini saya akan tuliskan lanjutan dari proyek tersebut (akhirnya hehe).

Rencananya akan saya resumekan ketiga buku the Lord of the Rings (disingkat LotR), lalu akan lanjut ke The Hobbit, dan kemudian The Silmarillion, dan terakhir the Unfinished Tales. Wah.. banyak lho itu, tapi karena melihat antusias yang datang pada pengajian tadi sore (sabtu, 17 Juli 04), sekalian melampiaskan hobi menulis yang sudah lama gak tersalurkan… akan saya bela2in, walau satu demi satu lho… Soalnya nge-resume ini kerjaan ga gampang ^^.

Namun, sebelum itu masuk ke bagian resume, ada beberapa hal yang harus diuraikan dulu dalam rangka mengerti dunia fantasi si Tolkien, yang akan dilingkup dalam tulisan ini.

lotr.jpg

KOSMOLOGI & GEOGRAFI

Tolkien agaknya yang memulai membuat sebuah cerita fantasi benar2 dari nol. Bagi saya, kehebatan terdahsyat dari fantasi Tolkien adalah adanya cerita bagaimana alam semesta tercipta (Tolkien’s Cosmology).

Planet tempat terjadinya semua perstiwa dalam fantasi Tolkien disebut Arda (saya pikir ini diambil dari bahasa arab “ardhi”). Seperti layaknya bumi kita, Arda memiliki komponen benua dan samudra. Berikut, komponen utamanya (penamaan dalam ‘common speech’ – soalnya masing2 ras punya sebutan tersendiri untuk benda yang sama)

>> Hitther Land - lebih populer dengan Middle-earth, benua dengan kekayaan alam yang berlimpah, untuk para mortal,
>> Aman – benua indah khusus untuk para immortal terpilih (disebut juga Undying land),
>> Dark-land – tanah penuh misteri, yang oleh Tolkien sendiri tidak dibahas lebih jauh,
>> The Great Sea (of the West) – Samudra luas yang memisahkan Middle-earth dengan Aman,
>> The East Sea – samudra yang memisahkan Middle-earth dengan Dark-land,
>> Encircling Sea – samudra yang menghubungkan Aman dengan Dark-land,

Pusing membayangkannya? Silakan liat gambar berikut. Cuman ingat, potongan gambar ini adalah bentuk Arda ketika permulaan. Seperti halnya bumi kita, potongannya berubah dari masa ke masa. Ada yang tanah yang hilang, ada pulau baru yang muncul, dan seterusnya. Perubahan signifikan biasanya terjadi karena perang dahsyat.

arda-0thage.JPG

Tolkien juga menjelaskan bagaimana matahari, bulan, dan bintang tercipta. Bagaimana? Sabar dong… nanti kita sampai pada tahap itu. Ini kan judulnya cuma “introduction” aja ^^.

Bagi yang sudah pernah denger cerita dongeng bangsa Viking tentang permulaan alam semesta, nah mirip banget. Tolkien emang agaknya ngambil dari sana.

Karen Wynn Fonstad, seorang master dibidang Geografi di Univ Oklahoma, membuat riset khusus tentang geografi Tolkien. Bukunya “Atlas of Middle-earth” menjadi acuan penting para penggemar Tolkien.

RAS & DIVISI

Seperti yang banyak menduga, pembagian ras oleh Tolkien juga diambil dari dongeng negara2 skandinavia. Oleh Tolkien diperdetil lagi, selayaknya para ahli botani mengklasifikasi tumbuhan: ada kingdom, orde, famili, dan seterusnya. Tolkien memakai Ras (paling umum), lalu divisi, dan terspesifik adalah orde.

Iluvatar – ayah dari segala makhluk (mungkin bisa dianalogikan dengan Tuhan dalam kehidupan kita).

Ainur – ras pertama yang dibuat Iluvatar, ‘primordial spirit’. Bersama Iluvatar membuat Arda. Bisa dianologikan dengan Dewa dalam dongeng Mahabarata.

– Valar: divisi ainur yang diberi wujud untuk masuk ke Arda dalam rangka menatanya. Ada 15 valar yang diturunkan; 8 co, 7 ce. Dipimpin oleh Manwe, Lord of Breath, yang paling kuat diantara yang lainnya.

– Aratar: divisi ainur, yaitu para valar yang diberi kesaktian mandraguna lebih daripada yang lain. Ada 9 Aratar awalnya, namun kemudian satu dipecat karena menyeleweng dari tugasnya. Yang satu ini adalah Menkor, yang menurut legenda memiliki semua ilmu yang dimiliki 8 lainnya (setelah mempelajarinya sekian lama tentunya). Menkor menyeleweng karena ingin menguasai Middle-earth sendirian. Menkor atau disebut juga Morgoth, adalah Dark Lord pertama sebelum Sauron

– Maiar: divisi ainur, kekuatannya dibawah aratar maupun valar. Setiap maiar mengabdi pada spesifik valar, misalnya ada maiar yang bekerja untuk dewa laut, dan seterusnya. Sauron adalah termasuk divisi maiar ini. Contoh subdivisinya adalah:

– — Balrog: Orde Maiar, berwujud monster api. Balrog adalah tipe maiar yang bekerja untuk valar Menkor.

– — Istari – atau disebut juga Wizards, order dari maiar yang berwujud manusia (biasanya kakek-kakek). Kelebihannya bukan pada kekuatan fisik (walau mereka lebih kuat dari manusia tapi jauh kurang dari jenis maiar lainnya), tapi pada ilmu pengetahuan mereka yang luas. Saya cendrung mengatakan mereka ini kayak scientist-nya tolkien. Wizards dalam tolkien ga kayak dalam JK Rowling, dimana dengan sekali ayunan tongkat sihir sambil melafazkan mantera ‘avanya kanava’ maka matilah lawannya.. bukan… bukan. Magic dalam tolkien sangat unik, nanti ada kok tulisan tentang itu. Wizard ini dibagi beberapa suborder, ada white (yang paling tinggi, kayak Saruman), ada Grey (kayak Gandalf), ada Blue.

Elves – creature pertama yang di’tiup’kan rohnya oleh Iluvatar. Mereka ada jauh sebelum matahari dan bulan tercipta. Elves tidak ditakdirkan untuk sakit atau mati (kecuali di bunuh). Mereka senang bernyanyi, suaranya merdu, rupanya juga cakep-cakep. Semakin tua umurnya, semakin bijaksana dan semakin banyak ilmunya. Semakin banyak pengalaman perangnya maka semakin bertambah pula kesaktiannya. Namun iluvatar tidak mentakdirkan elves untuk hidup di middle-earth selama2nya, mereka harus ke Aman.

– Eldar: divisi elves yang tunduk pada Iluvatar, mereka mau berlayar ke Aman. Divisi ini dibagi 3 Orde lagi, Vanyar (berlayar dan sampai ke Aman dan tinggal disana), Noldor (berlayar dan sampai, namun balik lagi ke Middle-earth untuk berperang dengan Morgoth karena ada kasus), dan Teleri (berlayar tapi setengah hati karena dah kadong cinta ama middle-earth, akhirnya mereka terpecah belah, ada sampai ke Aman, ada yang ragu2 akhirnya netap di pulau dekat Aman, dan ada yang masih tinggal di Middle-earth).

– Awari: divisi elves yang ga mau tunduk dan memilih menetap di middle-earth. Karena saat itu middle-earth masih gelap gulita, mereka ga sempat menyaksikan 2 pohon cahaya di Aman. Nah, subdivisi Dark-elves muncul dari sini. Sebagian Awari ada yang berhasil dikorup pikirannya oleh Menkor dan jadilah mereka Orc.

Orcs – elves yang berhasil dikorup oleh Menkor, dan dijadikan infantry prajurit perang. Mereka kuat, tahan racun, walau keloyalannya sangat diragukan. Mereka patuh karena takut. Mereka lemah ketika bertempur pada siang hari.

– goblin: divisi orcs, postur lebih kecil dari rata2 orcs, dan tinggal digoa-goa

– snaga: divisi orcs yang paling lemah. Biasanya dipakai buat jadi mata-mata karena mereka memiliki pandangan mata yang tajam (warisan dari elf).

– Uruk-hai: versi terbaru dari orcs, diciptakan oleh Sauron. Jenis ini adalah jenis petarung sejati, ga peduli siang ataupun malam.

Dragon – reptil yang raksasa yang kuat. Awalnya menjadi prajurit Menkor. Dragon ada yang bisa terbang, ada yang tidak. Ada yang bisa menyemburkan api, ada yang tidak. Father of dragon dalam cerita Tolkien adalah Glaurung, berwujud ular raksasa tapi ga bisa terbang. Dalam cerita The Hobbit, salah satu misinya adalah membunuh dragon berjenis terbang dan mengeluarkan api, namanya smaug.

Ents – ras raksasa, guede banget, tapi penyabar dan santai. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga hutan. Mereka mortal, tapi berumur nauzubillah panjangnya (40000 sampai 50000 tahun). Salah satu jenis ents adalah kayak pohon beneren, tapi bisa gerak. Mereka sudah ada setelah elves dibangkitkan. Salah satu jenis ents yang berhasil dikorup oleh Menkor adalah Troll.

Men – anak termuda dari Iluvatar. Proses kelahiran sama dengan elves, Cuma ditandai oleh kelahiran matahari dan bulan. Jadi mereka tidak berada dalam dark age. Saat kelahiran manusia inilah, perhitungan jaman dimulai (1st age). Dan seperti yang sudah diduga, mereka ditakdirkan menjadi populasi terbanyak untuk mengkhalifahi middle-earth (Cuma ya harus usaha dulu!).

Men digambarkan anak iluvatar yang paling lemah diantara yang lain, gampang dihasut, suka menyeleweng, penipu, dan rakus. Namun, Men juga memiliki dua hal yang ga dimiliki ras lain: keberanian membela hal yang mereka anggap benar, dan mereka selalu diberi pilihan oleh iluvatar: menjadi baik atau jahat.

Ada banyak divisi manusia, banyak banget sampai saya aja ga hapal semua. Namun, yang penting diingat adalah:

– Dunedain: (atau numenorian), orang2 dari pulau numenor. Pulau numenor ini adalah pulau baru pada 2nd age hadiah dari valar kepada Men yang berjasa suangat besar pada akhir 1st age dalam mengalahkan Menkor. Kerajaan Numenor menjadi kerajaan Men terkuat sepanjang sejarah. Revolusi industri juga dimulai oleh mereka, di mana mereka sudah membuat mesin2 perang, dan kapal2 tempur. Ketika mereka memutuskan untuk balik ke Middle-earth untuk memerangi Sauron, Sauron ketakutan setengah mati. Aragorn adalah salah satu contoh jenis Dunedain. Mereka diberkahi umur yang panjang untuk ukuran manusia. (200th-an)

– Half-elves: divisi Men yang memilih menjadi mortal ketimbang immortal (elves). Half-elves dihasilkan dari perkawinan silang antara elf dan Man. Elrond (master of Rivendall) adalah contoh half-elf yang memilih menjadi elf. Sementara adiknya, Elros, memilih menjadi Men dan menjadi raja pertama Numenor.

– Haradrim: jenis manusia purbakala (haha) yang dipakai Tolkien dalam fantasinya. Mereka besar2, piarannya gajah2 yang juga gede2 banget (bagi yang nonton pelem The Return of the King, ada liat pasukan bergajah, nah itu adalah Haradrim).

– Rohirim – jenis manusia yang suka berkuda, jagoan bertani, dan sangat loyal.

Hobbits – disebutkan dulunya bagian dari ras manusia (little folk), tapi kemudian menjadi ras tersendiri. Mereka mortal, tapi perhitungan usia lebih lambat dari manusia. ABG-nya Hobbit itu sekitar 30 sampai 40 tahun.

Ga ada yang tau persis asal usul hobbit. Gandalf menghabiskan banyak waktunya mempelajari hobbits. Mereka tinggal dilobang2 tanah kayak kelinci, suka pesta dan ceria, hidup bertani dan nelayan. Mereka ga suka berkelahi palagi berkelana. Mereka juga memiliki daya tahan sendiri dalam menerima serangan ‘magic’. Ada 3 divisi utama, aku ga ingat nama2nya, tapi dibedakan berdasarkan tempat tinggal: hutan, sungai, dan tanah biasa.

Dwarves – nah, jenis yang unik. Berbeda dari jenis yang lain yang langsung diciptakan oleh Iluvatar, Dwaves diciptakan oleh Aule, salah satu Aratar yang jagoan membuat perkakas dari logam. Aule membuat mereka dari batu, dengan harapan akan kebal terhadap magic Menkor, dan bisa meneruskan cita2 Iluvatar menjadikan mortal memerintah Middle-earth. Tapi Aule ga bisa ngidupinnya, karena harus minta ijin dari Iluvatar. Karena Iluvatar tau niat baik Aule, maka dwarves diberi nyawa, tapi tidak diijinkan hidup sebelum manusia dibangkitkan. Divisi dwarves terbagi berdasarkan tempat tinggalnya.

Nah… tulisan mendatang akan bercerita tentang Bahasa yang dipakai orang-orang Middle-earth, dan kalender, dan pembagian jaman.

Sampai jumpaa…….


It’s as Simple as One, Two, Three…

Filed under Bedah Buku

Ayo…. kita ikuti salah satu petualangan seorang Penegak Hukum yang terkenal dengan Quantum Electrodynamicnya.

Kali ini kita akan melihat bagaimana keingintahuan sang maestro pada cara berhitung mengantarkannya pada sebuah karya (yang menurut saya) ilmiah dan bisa jadi tesis buat rekan-rekan master malah, namun bagi dia adalah cuman sebuah permainan sik-asik…

Mudah-mudahan translate ini memberikan secuil inspirasi pada kita-kita semua, berpikir ilmiah tidaklah sulit, pada akhirnya fisika memang bukan sesuatu yang musti ditakuti :-)

It’s as Simple as One, Two, Three…

*taken from Richard P. Feynman “What Do You Care What Other People Think?”
Dialihbahasakan oleh Febdian Rusydi (www.febdian.com), Mei 2004

feynman06.jpg

Ketika saya dibesarkan di Far Rockaway, saya punya seorang teman bernama Bernie Walker. Kami berdua punya “labor” di rumah, dan kami melakukan berbagai macam “eksperiment”. Suatu waktu, kami sedang terlibat diskusi – saat itu kami sekitar sebelas atau duabelas tahun - dan saya berkata “Tapi berpikir itu tiada lain tiada bukan selain berbicara pada dirimu sendiri”.

“Oh ya?” jawab Bernie. “Apakah kamu tahu bentuk dari poros dalam sebuah mobil?”

“Ya, kenapa rupanya?”

“Bagus. Sekarang, katakan pada saya: bagaimana kamu mendeskripsikannya ketika kamu sedang bicara pada dirimu sendiri?”.

Jadi saya belajar dari Bernie bahwa berpikir juga bisa visual sebagaimana bicara.

Selanjutnya, ketika kuliah, saya tertarik pada mimpi. Saya bertanya-tanya bagaimana sesuatu dapat terlihat begitu nyata, seperti halnya cahaya jatuh ke retina mata, sementara mata sedang tertutup: apakah sel-sel syaraf pada retina benar2 terangsang oleh suatu cara – mungkin oleh otak itu sendiri – atau apakah otak memiliki sebuah “departemen kehakiman” yang berkeliaran selama mimpi berlangsung? Saya tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan seperti itu dari psikologi, sekalipun saya menjadi sangat tertarik pada “bagaimana otak bekerja”. Namun, banyak sekali bisnis tentang penafsiran mimpi, dan seterusnya. (1)


(1) Saya pikir, maksud Feynman adalah: dia tidak pernah mendapatkan jawaban memuaskan walau dia sendiri sudah melakukan pencarian lewat mempelajari kerja otak. Dia juga tertarik pada bagaimana para cenayang penafsir mimpi bekerja, tapi kemudian dia tahu semua adalah bohong. Cerita tentang Feynman dan mimpi dibahas juga pada “Surely You’re Joking, Mr. Feynman”, spesifik dibahas malah pada bab “Altered State” (dunia yang lain).
—-

Ketika saya lulus dari Princenton University, sebuah paper (yang saya pikir bodoh) diterbitkan dan memicu banyak diskusi. Penulisnya memutuskan bahwa sesuatu yang mengontrok time sense (2) dalam otak adalah reaksi kimia yang melibatkan besi. Pikir saya, “Sekarang, bagaimana orang ini dapat berpikir demikian?”

—-
(2) Time sense bisa diartikan perasaan kita menyangkut hitungan waktu.
—-

Baiklah, cara yang dia lakukan adalah, istrinya terserang panas kronik dimana suhu badannya sering naik-turun. Entah bagaimana dia dapat ide untuk menguji time sense istrinya. Dia meminta istrinya untuk menghitung per detik (tanpa melihat jam), dan dia cek berapa lama istrinya menghitung sampai 60. dia meminta wanita yang malang itu untuk berhitung sepanjang hari: ketika panas turun, dia menghitung lebih lambat. Oleh karena itu, dia berpikir sesuatu yang mengatur time sense dalam otak pastilah berjalan cepat ketika panas istrinya sedang naik, dan sebaliknya melambat ketika panasnya turun.

Sedang menjadi seorang yang sangat saintifik, psikologis ini tahu bahwa laju reaksi kima bervariasi terhadap temperature sekitarnya oleh sebuah formula tertentu yang tergantung pada energi reaksi. Dia ukur perbedaan dalam kecepatan istrinya berhitung, dan menentukan berapa banyak temperature mengubah kecepatan itu. Lalu dia mencoba untuk mencari sebuah reaksi kimia yang lajunya bervariasi terhadap temperatur ang sama saat istrinya berhitung. Dia menemukan bahwa reaksi besi adalah yang paling cocok dengan pola ini. Jadi dia menarik kesimpulan bahwa time sense istrinya diaturh oleh reaksi kimia dalam badan yang melibatkan besi.

Hmm… ini semua terlihat omong kosong bagi saya – ada begitu banyak hal yang bisa salah dalam rantai alasan yang dia buat. Tapi, ada sebuah pertanyaan yang sangat menarik: apakah yang menentukan time sense? Ketika kamu sedang mencoba berhitung pada laju rata-rata, terhadap apa laju ini bervariasi (dengan kata klain: laju ini tergantung besaran fisis apa) ? Dan apa yang bisa kamu lakukan untuk merubah ini?

Saya memutuskan untuk menyeledikinya. Saya mulai dengan berhitung per detik – tanpa melihat jam tentunya – sampai 60 dalam ritme yang lambat tapi stabil: 1, 2, 3 ,4 ,5 … Ketika mencapai 60, saya cek waktu ternyata 48 detik, tapi itu tidak menganggu saya: masalahnya bukan menghitung tepat 1 menit, tapi menghitung laju standard. Selanjutnya saya berhitung sampai 60, 49 detik berlalu. Selanjutnya 48, lalu 47, 48, 49, 48, 48, …. Jadi saya temukan saya dapat berhtiung dengan standar yang cukup bagus.

Sekarang, jika saya cuma duduk saja tanpa menghitung, dan menunggu sampai saya pikir sudah 1 menit berlalu, hasilnya sangat tidak pasti – variasi sangat komplet. Jadi saya temukan perkiraan dugaan menentukan 1 menit sangat payah. Tapi dengan berhitung, saya dapat lakukan sangat akurat.

Sekarang bahwa saya tahu saya dapat berhitung dengan lanju standard, pertanyaan selanjutnya adalah – apakah yang mempengaruhi laju tersebut?

Mungkin ini ada kaitannya dengan laju jantung berdetak. Jadi saya mulai berlari naik-turun tangga untuk membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Lalu saya masuk ke ruangan saya, membuang diri ke tempat tidur, dan mulai berhitung sampai 60.

Saya juga mencoba berlari naik-turun tangga dan menghitung ketika sedang berlari.

Orang-orang melihat saya berlari naik-turun, dan mereka tertawa. “Kamu lagi ngapain sih?

Saya tidak bisa jawab mereka – yang membuat saya sadar bahwa saya tidak bisa berbicara ketika saya berhitung dalam hati - dan tetap berlari naik-turun tangga, pokoknya terlihat seperti seorang idiot.

(Para mahasiwa graduate sudah terbiasa dengan saya yang terlihat idiot. Pernah, contohnya, seorang rekan datang ke ruangan saya – saya lupa mengunci pintu selama melakukan “eksperimen” – dan menemukan saya duduk dikursi memakai jaket domba tebal, mencondongkan badan keluar jendela yang terbuka ditengah musim dingin, memegang pot dan tangan lainnya mengaduk pot tersebut. “Jangan ganggu saya, jangan ganggu saya”, kata saya. Saya sedang mengaduk Jell-O dan mengamatinya secara cermat: saya lagi penasaran apakah Jell-O akan membeku dalam dingin jika kamu tetap menggerakkannya setiap waktu.)

Baiklah, setelah mencoba setiap kombinasi berlari naik-turun tangga dan berbaring di tempat tidur, hasilnya mengejutkan! Laju detak jantung tidak berpengaruh. Dan karena saya kepanasan setelah berlari naik-turun tungga, saya berpikir temperatur juga tidak ada hubungan dengan laju standar berhitung (walaupun saya harus sudah tahu bahwa temperatur tidak akan terlalu naik tinggi saat berolahraga). Kenyataannya, saya tidak mendapatkan apapun yang mempengaruhi laju berhitung saya.

Lari naik-turun tangga cukup membosankan, jadi saya mulai berhitung sementara saya mengeluarkan cucian, saya harus mengisi formulir menyebutkan berapa banyak baju yang saya punya, celana, dan selanjutnya. Saya dapati saya menjawab “3” di depan “celana”, atau “4” di depan “baju”, tapi saya tidak dapat menghitung kaos kaki. Mereka terlalu banyak: saya sudah dan sedang menggunakan mesin berhitung saya! – 36, 37, 38, - dan ini semua adalah kaos kaki di depan saya – 39, 40, 41,… Bagaimana saya menghitung mereka?

Saya dapati saya dapat mengatur mereka dalam pola geometric – seperti bujur sangkar, contohnya: sepasang kaos kaki di sudut ini, sepasang di sudut sana, sepasang di sini, dan sepasang di sana, 8 kaos kaki.

Saya lanjutkan permainan menghitung dengan pola ini, dan saya temukan saya dapat menghitung jumlah baris artikel dalam surat kabar dengan mengelompokkan baris-baris itu ke dalam pola 3, 3, 3, dan 1 untuk mendapatkan jumlah 10; lalu 3 dari pola itu, 3 dari pola satu lagi, 3 dari pola satu laginya lagi, dan 1 pola terakhir untuk membuat 100. Saya baca koran seperti itu. Setelah selesai menghitung sampai 60, saya tahu di mana saya berada berdasarkan pola yang saya buat dan dapat berkata, “Saya ada pada hitungan 60, dan ada 113 baris yang sudah saya lewati”. Saya temukan saya malah dapat membaca artikel sementara saya berhitung sampai 60, dan ini tidak mempengaruhi laju berhitung saya! Kenyataannya, saya dapat lakukan apa saja sementara berhitung dalam hati – kecuali selagi berbicara keras tentunya.

Bagaimana dengan menulis – menyalin kata-kata dari buku? Saya dapati bahwa saya dapat melakukannya juga, tapi disini waktu saa terpengaruh. Saya sangat gembira: akhirnya, saya sudah temukan sesuatu yang terlihat mempengaruhi laju hitungan saya! Saya menyelediki lebih lanjut.

Saya lanjutkan terus, mengetik kata-kata sederhana lebih cepat, berhitung dalam hati 19, 20, 21, terus mengetik, berhitung 27, 28, 29, terus mengetik, sampai –apaan nich kata yang saya ketik? – oh ya – dan lalu lanjut berhitung 30, 31, 32, dan seterusnya. Ketika saya sampai pada 60, saya telat (dari laju standar saya).

Setelah beberapa instropeksi dan pengamatan lebih jauh, saya menyadari apa yang sudah (musti) terjadi: saya menginterupsi hitungan saya ketika saya mengetik kata-kata susah yang “butuh sedikit otak” untuk mengatakannya. Laju berhitung saya tidak melambat; namun proses berhitung sendiri tertahan sementara dari waktu ke waktu. Berhitung sampai 60 pada akhirnya menjadi otomatis yang saya bahkan tidak menyadari interupsi yang terjadi pada pertama kalinya.

Pagi berikutnya, setelah sarapan pagi, saya laporkan hasil tersebut pada beberapa teman di meja makan. Saya katakan pada mereka semua hal yang bisa saya lakukan sementara berhitung dalam hati, dan satu-satunya yang saya gak bisa lakukan selagi berhitung dalam hati adalah berbicara.

Salah seorang dari mereka, bernama John Tukey, berkata, “Saya tidak percaya kamu bisa membaca, dan saya tidak melihat kenapa kamu tidak dapat bicara. Saya bertaruh kamu bisa bicara ketika berhitung dalam hati, dan saya bertaruh kamu tidak bisa membaca”.

Jadi saya berikan demonstrasi: mereka memberi saya buku dan saya membaca dan jua berhitung dalam hati. Ketika sudah mencapai 60, saya berkata, “Sekarang!” – 48 detik, waktu regular saya - waktu yang biasa saya butuhkan untuk mencapai hitungan ke-60. lalu saya katakana pada mereka apa yang sudah saya baca.

Tukey terpesona. Berikutnya giliran Tukey. Setelah mengecek beberapa kali laju standar berhitungnya, dia mulai bicara, “Mary had a little lamb; I can say anything I want to, it doesn’t make any difference; I don’t know what’s bothering you” – bla blab la bla, and finally, “Oke!” Dia mencapai waktu regularnya! Saya tidak bisa percaya!

Kami bicarakan mengenai hal tersebut, dan kami menemukan sesuatu menarik. Ternyata Tukey berhitung dengan cara yang lain: dia membayangkan sebuah tape (3) dengan angka-angka pada tape tersebut berjalan. Dia mengatakan, “Mary had a little lamb” dan dia melihat tape tersebut! Sekarang jelas, dia “melihat” pada tapenya yang terus berjalan, jadi dia tidak bisa membaca, dan saya “berbicara” dalam hati ketika berhitung, jadi saya tidak bisa bicara.

—-
(3) Saya rasa tape di sini adalah seperti gulungan pita film yang berputar pada rolnya dan kita bisa “berhitung” dengan melihat pita itu berputar dengan ritme tertentu.
—-

Setelah penemuan itu, saya mencoba memikirkan sebua cara untuk membaca keras sementara juga berhitung – sesuatu yang tidak bisa kami lakukan. Saya pikir saya harus memakai bagian dari otak saya yang tidak akan menganggu dengan department melihat atau berbicara, jadi saya putuskan memakai jari-jemari saya, karena hanya melibatkan sense of touch.

Saya sukses dengan cepat dalam berhitung dengan jari dan membaca dengan keras. Tapi saya inginkan semua proses berlangsung dalam batin saya, tidak melibatkan aktifitas secara fisik. Jadi saya coba membayangkan jari-jemari saya bergerak sementara saya membaca keras.

Saya tidak pernah berhasil. Saya pikir bahwa ini disebabkan bukan karena saya kurang berlatih, tapi ini mungkin sesuatu yang tidak mungkin: saya tidak akan pernah menemui orang yang dapat melakukannya.

Dari pengalaman Tukey dan saya menemukan bahwa: apa yang berlangsung pada kepala berlainan orang ketika mereka berpikir mereka sedang melakukan hal yang sama – sesuatu yang sesederhana berhitung – adalah berbeda pada setiap orang (4). Dan kami temukan bahwa kamu, secara eksternal dan objektif, dapat mengetes bagaimana otak bekerja: kamu tidak perlu bertanya pada orang bagaimana dia menghitung dan mempercayai pengamatannya sendiri; sebaliknya, kamu mengamati apa yang dia bisa dan tidak bisa lakukan ketika dia berhitung. Tes ini absolute. Tidak ada cara lain yang mengalahkannya, tidak ada cara untuk memalsukannya.

—-
(4) Dengan kata lain: si A dan si B sedang memikirkan hal yang sama, – misal: berhitung dalam hati – namun kenyataannya dalam pikiran A dan B terjadi proses yang bisa jadi bertolak belakang.
—-

Ini alamiah untuk menjelaskan sebuah ide dalam kerangka apa yang kamu sudah punya dalam pikiranmu. Konsep-konsep bertumpuk di atas konsep yang lain: ide ini diajarkan dalam keranga ide itu, dan ide itu diajarkan dalam kerangka ide yang lain, yang datang dari berhitung, dapat dapat begitu berbeda untuk setiap orang.

Saya sering berpikir tentang hal tersebut, terutama ketika saya sedang mengajarkan beberapa teknik esoterik (5) seperti Integral Fungsi Bessel (6). Ketika saya lihat persamaan itu, saya melihat tulisannya bewarna – saya gak tahu kenapa. Selagi berbicara, saya melihat samar-samar gambar dari Fungsi Bessel itu dari buku Jahnke dan Emde, dengan j coklat terang, n violet kebiru-biruan, dan x coklat gelap terbang sekeliling saya. Dan saya bertanya-tanya cem mana rupanya mahasiswa saya melihat hal yang sama?

—-
(5) Saya gak tau apakah ini bahasa Indonesia atau bukan. Kata aslinya esoteric yang artinya hal-hal yang Cuma diketahui beberapa orang saja.
(6) Fungsi Bessel adalah sebuah fungsi matematika yang sering dipakai fisikawan untuk memecahkan solusi fungsi gelombang dari persamaan Schrodinger untuk spherical coordinate, dimana j(x) dan n(x) adalah parameter untuk gelombang sinusoidal tersebut.


Feynman The Sexist Pig

Filed under Bedah Buku

(Artikel yang sama sudah dimuat di www.febdian.com)

“Feynman si penjahat gender” ini adalah terjemahan dari salah satu bab buku “What Do You Care What People Think” - RP Feynman.

Ceritanya singkat, padat, tapi kocak. Tentang bagaimana Feynman dituding oleh sekolompok organisasi wanita atas tuduhan rasialis gender.

Mudah2an ada manfaatnya.

Beberapa tahun setelah saya memberi kuliah untuk mahasiswa baru di Caltech (yang dipublikasikan sebagai the Feynman Lectures on Physics“), saya menerima sebuah surat yang panjang dari sebuah grup feminis. Saya dituduh anti-perempuan kadare dua hal: pertama adalah diskusi yang saya bawakan saat mengajar kecepatan, dan melibatkan seorang pengemudi wanita yang distop polisi. Diskusinya tentang sebepara cepat si wanita mengemudi, dan saya juga menceritakan keberatan wanita yang ditangkap tersebut tentang defenisi kecepatan yang diberikan polisi. Surat itu mengatakan saya membuat kaum perempuan terlihat bodoh.

Hal kedua mereka tujukan adalah ketika saya sedang menceritakan astronom terkenal Arthur Eddington, yang baru saja menghasilkan sebuah teori bahwa bintang-bintang mendapatkan tenaga dari pembakaran hidrogen dalam reaksi nuklir yang menghasilkan helium. Dia menceritakan bagaimana, pada malam setelah penemuan itu, dia sedang duduk di bangku bersama pacarnya. Pacarnya berujar, “Hey lihat betapa indahnya bintang-bintang itu bersinar!” yang lalu dijawab oleh Eddington “Ya, dan sekarang, saya adalah satu-satunya orang di dunia yang tau bagaimana mereka bersinar”. Dia sedang mendeskripsikan semacam kesepian yang menakjubkan ketika kamu baru saja menemukan sesuatu (dalam kata lain: itu adalah hal yang sering terjadi di kalangan saintis di saat-saat mereka berhasil menemukan sebuah jawaban atas misteri fisika).

Surat itu mengklain bahwa saya sedang mengatakan bahwa pacar Eddington itu tidak sanggup untuk mengerti reaksi nuklir.

Saya berpikir tidak ada satupun hal penting dalam menjawab tuduhan mereka secara detil, jadi saya menulis sebuah surat singkat kepada mereka: “Jangan ganggu saya!” (inggrisnya: Don’t bug me, man!”).

Tidak butuh untuk mengatakan, bahwa surat saya tidak begitu memperbaiki suasana. Surat berikutnya datang: “Respons anda terhadap surat kami Sep 29th tidaklah memuaskan…” - bla bla bla. Surat ini menperingatkan bahwa jita saya tidak mengontak pihak pencetak buku untuk memperbaiki hal-hal yang menjadi objek mereka, maka akan ada masalah.

Saya abaikan saja surat itu dan lalu lupa. (Feynman memang suka lupa hal-hal tertentu yang bagi dia tidak begitu penting).

Setahun kemudian, American Association of Physics Teachers memberikan penghargaan pada saya atas buku the Feynman Lectures on Physics, dan meminta saya untuk berbicara pada pertemuan mereka di San Fransisco. Adik saya, Joan, tinggal di Palo Alto - satu jam-an dari SF - jadi saya tinggal bersama dia semalam sebelumnya dan lalu kita ke pertemuan bersama-sama.

Ketika kita mendekati lecture hall, kita jumpai beberapa orang berdiri dan membagi-bagikan semacam selebaran pada orang yang lalu lalang. Kita lalu ambil satu dan melihatnya sekilas. Pada bagian atas tertulis “SEBUAH PROTES”. Lalu selebaran itu memperlihatkan beberapa kutipan dari surat yang mereka kirimkan ke saya dan respons saya secara lengkap (yang cuma 1 kalimat). Selebaran itu juga mencakup sebuah kalimat dengan tulisan besar: “FEYNMAN THE SEXIEST PIG”.

Joan tiba-tiba berhenti dan berbalik ke arah demonstaran seraya berujar: “Ini sangat menarik”, dia berkata pada para demonstran. “Saya ingin beberapa lagi”.

Ketika dia kembali dan kami berjalan lagi, dia berkata. “Oh Tuhan, Richard; apa yang sudah kamu lakukan?”.

Saya ceritakan padanya apa yang sudah terjadi selagi kita berjalan ke balai pertemuan.

Di depan balai, di dekat panggung, ada 2 tokoh wanita dari American Association of Physcs Teachers. Salah satunya bertanggung jawab pada urusan wanita untuk organisasi, dan yang satu lagi adalah Fay Ajzenberg, seorang profesor fisika yang saya tahu, dari Pennsylvania. Mereka melihat saya datang lalu turun menghampiri saya didampingi kami. Fay berjalan menghampiri Joan yang tangannya penuh dengan selebaran (yang Fay pikir adalah salah satu demonstran) dan berkata, “Apakah kamu sadar bahwa Profesor Feynman punya saudara perempuan yang dia dorong untuk mempelajari fisika, dan bahwa dia memiliki Ph.D. di fisika?”.

“Tentu saja saya tahu”, ujar Joan. “Saya adalah saudaranya itu!”.

Fay dan temannya menjelaskan kepada saya bahwa para demonstran adalah sebuah grup - yang ironisnya dipimpin oleh seorang laki-laki, dan selalu suka menganggu pertemuan-pertemuan di Barkeley. “Kita akan duduk disampingmu untuk memperlihatkan solidaritas kita, dan sebelum kamu bicara, saya akan berdiri dan mengucapkan sesuatu untuk mendiamkan para demonstran”, ujar Fay.

Sebab ada pembicara sebelum saya, saya ada waktu untuk berpikir sesuatu yang ingin saya ucapkan nanti. Saya berterimakasih pada Fay, tapi saya tolak tawarannya.

Segera giliran saya bicara datang, hampir setengah lusin demonstran berbaris dan berjalan ke arah panggung, menggenggam papan-papan protes tinggi-tinggi dan bernyanyi, “Feynman si penjahat gender! Feynman si penjahat gender!” beulang-ulang.

Saya memulai pidato saya dengan mengatakan kepada para demonstran, “Saya meminta maaf bahwa jawaban pendek saya untuk suat anda membawa anda semua kesini secara tidak efektif. Ada beberapa tempat serius yang bisa dipakai untuk menarik perhatian orang untuk memperbaiki status wanita dalam fisika daripada (yang anda lakukan sekarang) secara relatif adalah kesalahan sepele - jika anda ingin menyebutnya demikian - dalam buku teks. Tapi mungkin, secara keseluruhan, ini adalah hal yang bagus bahwa anda datang. Untuk kaum wanita sesungguhnya menderita dari prasangka dan diskriminasi dalam fisika, kehadiran anda hari ini di sini untuk mengingatkan kami pada permasalahan-permasalahan ini dan kebutuhan untuk mengobati mereka”.

Para demonstran saling pandang satu sama lain. Papan protes mulai turun secara berlahan, seperti pelannya perahu layar yang berlayar dalam angin tidak berhembus terlalu kuat.

Saya lanjutkan: “Walaupun American Association Physics Teachers sudah memberikan saya penghargaan untuk mengajar, saya harus akui saya tidak begitu tahu bagaimana mengajar. Oleh karena itu, saya tidak punya hal untuk dikatakan tentang mengajar. Tetapi sebaliknya, saya akan berbicara tentang sesuatu yang sangat diminati kaum wanita yang hadir di sini: saya akan membicarakan tentang struktur proton”.

Para demonstran meletakkan papan protesnya dan berjalan keluar. Tuan rumah mengatakan pada saya kemudian bahwa grup itu dan laki-laki yang memimpinnya tidaklah pernah dikalahkan sedemikian gampang.

(Akhirnya saya temukan draft pidato saya, dan apa yang saya ucapkan di awal tidaklah terlihat sedramatik yang saya ingat. Apa yang saya ingat ketika berpidato jauh lebih menakjubkan daripada apa yang barusan saya ceritakan!).

Setelah pidato saya, beberapa demonstran datang untuk menekan saya tentang cerita pengemudi wanita itu. “Kenapa itu harus wanita?” tanya mereka. “Kamu sedang mengatakan bahwa wanita adalah bukan pengemudi yang bagus”.

“Tapi wanita membuat polisi terlihat jelek”, ujar saya. “Kenapa kamu tidak peduli tentang polisi?”.

“Itu yang kamu harapkan dari polisi (bahwa mereka harus terlihat jelek)!” kata seorang demonstran. “Mereka semua adalah babi (maksudnya: suka membedakan gender)!”.

“Tapi kamu seharusnyalah peduli”, kata saya. “Saya lupa mengatakan dalam cerita itu, bahwa polisi tersebut adalah seorang wanita!”.


Kenapa Gelas dan Kaca Tembus Pandang?

Filed under GPMPS

[seri populer science article - artikel dengan materi yang sama sudah di'publish' di www.febdian.net]

EDISI REVISI SILA TENGOK KE: diary.febdian.net

Gelas dan kaca termasuk benda yang sangat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari. Gak usah diterangin dech, manfaat dan kegunaannya. Dan juga gak usah ditanya dech, kenapa kita butuh gelas dan kaca.

Namun pernahkah kita berpikir kenapa gelas dan kaca bisa tembus pandang? Bagi kita-kita yang gak pedulian amat gak akan ambil pusing. Tapi bagi mereka yang tahu gelas dan kaca itu terbuat dari Silicon Dioxide (SiO2) yang notabene juga ada dalam pasir dan batu, mungkin ada yang bakalan pusing… kenapa pasir dan batu gak tembus pandang ya?

Kenapa ya? Sebelum kita bahas kenapa, ada baiknya kita pahami dulu apa itu transparan (transparan) dalam pandangan fisika.

Apa itu Transparan?

Transparan dikaji secara khusus dalam optik. Sebuah material dikatakan bersifat transparant ketika dia melewatkan cahaya (light). Misalnya udara bersih, air jernih, gelas, kaca, dan plastik.

Bagaimana proses transparansi itu?

Kita bisa melihat pada jarak pandang sampai berkilometer melewati udara bersih. Ini dimungkinkan karena elektron yang ada dalam material udara, yang menyerap photon kalau ditembakkan cahaya, tidak memiliki level energi yang dibutuhkan untuk menyerap phonon tersebut. Sehingga photon tersebut diteruskan saja.

Tunggu tunggu.. apa itu photon? Apa pula itu level energi?

Photon adalah quantisasi dari cahaya. Secara sederhana bisa disebut “partikel cahaya”. Haa??? Cahaya itu partikel? Bagaimana bisa? Ya, pada dasarnya karena phonon inilah cahaya (light) dan benda (matter) memiliki apa yang disebut sifat “dualisme partikel-gelombang”. Baik cahaya maupun benda bisa bersifat sebagai partikel (punya massa), disaat yang lain bisa sebagai gelombang (punya frekuensi).

Level energi adalah tingkatan energi pada orbit atom yang didefenesikan oleh Bohr dalam model atom Hidgrogennya:

E = - (13.6 / n^2) [eV]

(Tanda minus menyatakan besarnya energi yang dibutuhkan sistem, atau disebut juga Binding Energy).

Dimana eV adalah electron Volt, satuan energi yang biasa dipakai dalam skala atomik, dan n adalah nomor orbit. n = 1 adalah orbit pertama atau terdekat dengan inti atom. Bayangkan peredaran tata surya kita adalah atom, matahari adalah inti atom dan planet2 adalah elektron yang beredar memutari inti atom. Bumi berada pada n = 3.

Arti fisis dari persamaan itu adalah, electron yang berada di n=1 butuh energi sebanyak 13.6 [eV] untuk pergi dari orbitnya. Dari mana dia dapat energi itu? Dari photon, yang menyumbangkan energi sebanyak hv. Jadi, untuk berpindah ke n=2, elektron itu butuh suntikan energi sebesar:

E (yg dibutuhkan) = E(n=1) + hv

Dimana h = konstanta planck, dan v = frekuensi photon.

Selanjutnya kita masuk pada bagian penting dari postulat Bohr tentang Quantum Atom. Kalau elektron itu melompat ke n yang lebih rendah (spontan emition), maka elektron itu akan MENGHASILKAN photon. Sebaliknya, untuk melompat ke n yang lebih tinggi, elektron MEMBUTUHKAN photon. Kalau ternyata tidak ada lagi n yang tersedia untuk dilompati, maka photon tadi cuma numpang lewat saja, tidak diapa2in. Digoda aja kagak…

INILAH yang terjadi pada gelas dan kaca. Struktu kristal SiO2 dalam gelas dan kaca tidak memungkinkan elektron melompat ke kulit yang lebih tinggi walau sudah mendapat suntikan tenaga dari photon, sehingga photon tadi dilewatkan begitu saja.

Apa akibatnya kalau photon itu dilewatkan saja?

Maka mata kita akan menerima cahaya yang berasal dari balik gelas atau kaca itu, dan bayangan2 benda akan jatuh di retina mata kita memungkinkan kita MELIHAT benda di balik gelas atau kaca tadi.

Itulah mengapa gelas dan kaca tembus pandang, sementara batu tidak.

Sebagai tambahan, pewarnaan gelas dan kaca mungkin dilakukan dengan sedikit merubah struktur kristal SiO2, sehingga ada photon yang terserap, dan yang tidak terserap akan memberikan efek warna. Kalau photon yang tidak terserap adalah warna kuning, maka gelas atau kaca akan berwarna kuning.

Mudah2an setelah membaca artikel ini semakin bisa kita menikmati keindahan kaca dan gelas… globalnya takjub kita pada keajaiban alam ini, kebesaran Sang Penciptanya.

Sebagai penutup, kalaulah ada pemahaman yang keliru tentang materi ini sudilah kiranya dikoreksi. Dalam artikel ini saya mencoba melakukan pendekatan pemahaman Solid State dari sisi Quantum Theory.

Referensi:
* H. Haken & H. C. Wolf, “The Physics of Atoms and Quanta”, Chapter 8, 6th edition, Springer
* C. Kittel, “Introduction to Solid State Physucs”, mostly Chapter 11, 7th edition, John Wiley & Sons


The Making of a Scientist (Part 3/3)

Filed under Bedah Buku

Maaf euy… peng-copy-paste-an bagian terakhir tertunda begitu lama, baik karena alasan teknis maupun non-teknis.

Mudah2an masih sabar menanti bacaan terakhir ini. Bagi yang sudah lupa bagian awalnya, silakan ditengok2 lagi di bagian “Bedah Buku”.

Kali ini adalah bagian terakhir dari chapter pertama buku “What Do You Care What People Think”, di mana Feynman di’ttraining’ menjadi saintis. Ada hal yang menarik untuk disimak, adalah ide Ayah Feynman tentang “bagaimana menghargai sesuatu”. Apakah pandangan Feynman Senior ini dipengaruhi pandangan kaum yahudi yang saat itu memang sedang menjadi kekuatan baru dunia? Ataukah benar sekedar pandangan human being yang humanis?

Selamat menikmati…

ada waktu itu sepupu saya, yang tiga tahun lebih tua, adalah murid SMU. Dia sedang mengalami kesulitan dengan aljabar, jadi seorang guru akan datang. Saya diijinkan untuk duduk di sudur ruangan sementara guru akan mencoba mengajari sepupusaya aljabar. Saya dengar dia sedang berbicara tentang x.

Saya berkata pada sepupu saya, “Apa yang sedang kamu coba lakukan?”.

“Saya sedang mencoba memikirkan apa x itu, seperti pada 2x + 7 = 15”.

Saya berkata, “Maksudmu 4”.

“Ya, tapi kamu melakukannya dengan aritmatika. Kamu harus lakukan dengan aljabar”.

Saya belajar aljabar, untugnya, tidak di sekolah, tapi menemukannya di catatan sekolah yang sudah tua milik tante saya di loteng, dan saya mengerti kesemua ide untuk mencari apa itu x – tidak masalah bagaimana kamu melakukannya. Bagi saya, tidak ada itu namanya melakukan “dengan aritmatika”, atau “dengan aljabar”. “Melakukan dengan aljabar” adalah seperangkat aturan di mana jika kamu ikuti dengan buta, dapat menghasilkan jawaban: “kurangi 7 dari kedua sisi; jika kamu punya faktor pengalu, bagila kedua sisi dengan faktor pengali itu”, dan selanutnya – langkah-langkah berurutan yang mana kamu dapat menjawab pertanyaan jika kamu tidak mengerti apa yang sedang kamu coba lakukan. Aturan sudah dibuat sedemikian rupa sehingga anak-anak yang harus mempelajari aljabar bisa lulus. Dan itu sebabny sepupu saya tidak pernah bisa melakukan aljabar.

Ada beberapa seri matematika di perpustakaan lokal kami di mana dimulai dengan Arithmetic for the Principle Man. Lalu keluar Algebra for the Practical Man, dan lalu Trigonometry for the Practical Man. (Saya belajar trigonometri dari sana, tapi saya segera lupa, karena saya tidak begitu mengerti). Ketika saya sekitar 13 tahun, perpustakaan akan segera mendapatkan Calculus for the Practica Man. Pada saat itu yang saya tahu, dari membaca ensiklopedia saya, kalkulus adalah sebuah subjek yang penting dan menarik, dan saya harus mempelajarinya.

Ketika pada akhirnya saya melihat buku itu ada di perpusataan, saya sangat gembira. Saya pergi ke perpustakaan untuk meminjamnya, tapi penjaga perpustakaan melihat memperhatikan saya dan berkata, “Kamu masih kecil. Untuk apa kamu pinjam buku ini?”.

Ini adalah satu dari beberapa kali dalam hidup saya, saya merasa tidak nyaman dan saya berbohong. Saya katakan buku ini untuk ayah saya.

Saya bawa buku itu ke rumah dan mulai belajar kalkulus. Saya pikir buku itu cukup sederhana dan langsung pada tujuan. Ayah saya mulai membacanya juga, tapi dia merasa buku itu membingungkan dan dia tidak mengerti. Jadi saya coba untuk menjelaskan padanya. Saya tidak tahu dia sangat terbatas, dan itu sangat mengganggu saya sedikit. Itu adalah saat pertama kali saya menyadari bahwa saya sudah mempelajadi lebih banyak pada beberapa hal daripada dia.

Satu dari banyak hal yang ayah saya ajarkan di samping fisika – apakah itu benar atau tidak – adalah ketiadaan respek pada hal-hal tertentu. Sebagai contoh, ketika saya masih kecil, dan dia memangku saya di atas lututnya, dia memperlihatkan saya New York Times – sebuah foto yang baru keluar di surat kabar.

Suatu waktu, kita sedang melihat foto Paus dan orang-orang membungkuk di depannya. Ayah saya berkata, “Sekarang coba perhatikan manusia-manusia itu. Ini ada satu manusia berdiri di sini, dan sisanya membungkuk di depan dia. Kenapa ada perbedaan? Yang ini adalah Paus” – ngomong-ngomong dia benci Paus. Dia berkata “Perbedaannya adalah topi yang dia pakai”. (Secara umum, itu karena pangkat. Itu selalu berhubungan dengan pakaian, seragam, posisi). “Tapi”, lanjutnya, “Orang ini memiliki masalah yang sama dengan yang lain: kalau dia makan, dia harus ke kamar mandi. Dia adalah manusia biasa”. (Ngomong-ngomong, ayah saya bekerja untuk perusahaan yang menganut sistem “seragam” itu tadi, jadi dia tahu betul apa perbedaan seseorang yang sedang berseragam dan tidak berseragam – mereka adalah manusia yang sama baginya).

Saya percaya dia begitu gembira dengan saya. Sekali, ketika saya baru datang dari MIT (saya sudah di sana untuk beberapa tahu), dia berkata pada saya, “Sekarang kamu sudah menjadi terpelajar tentang hal-hal itu (sains), saya punya ada satu pertanyaan yang tidak pernah saya mengerti dengan baik”.

Saya tanya dia, apa itu.

Dia berkata, “Saya mengerti bahwa ketika sebuah atom membuat transisi dari satu state ke state yang lain, dia akan memancarkan partikel cahaya yang disebut photon”.

“Itu benar”, kata saya.

Dia berkata, “Apakah photon dan atom itu ada pada saat yang bersamaan?”.

“Tidak, tidak ada photon sebelum itu”.

“Hmm, jadi…” katanya, “Dari mana photon itu datang? Bagaimana dia keluar?”.

Saya mencoba menjelaskannya – bahwa jumlah photon tidaklah kekal (seperti energi yang kekal; mereka cuma diciptakan oleh pergerakan elektron – tapi saya tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Saya berkata, “Ini seperti suara yang saya buat sekarang; suara itu tidak ada sebelumnya”. (Tidak seperti anak laki-laki saya, yang tiba-tiba mengumumkan bahwa dia tidak bisa lagi mengeluarkan beberapa kata – kata itu akhirnya diketahui adalah “kucing” – sebab ‘kantong kata’nya sudah kehabisan kata itu. Tidak ada ‘kantong kata’ yang membuat kamu memakai kata-kata yang keluar dari sana; dalam hal yang sama, tidak ada ‘kantong photon’ pada atom).

Dia tidak begitu puas dengan saya pada masalah itu. Saya tidak pernah dapat menjelaskan sesuatu yang dia tidak mengerti dengan baik. Jadi dia tidak sukses: dia mengirim saya ke beberapa universitas dalam rangka untuk menemukan jawaban hal-hal sains, dan dia tidak pernah mendapatkan jawaban itu.

Walaupun ibu saya tidak tahu apa-apa tentang sains, dia memberi pengaruh yang luar biasa pada saya. Secara khusus, dia memiliki rasa humor yang bagus, dan saya belajar dari dia bahwa bentuk tertinggi dari pengertian yang bisa kita raih adalah tertawa dan saling mengasihi sesama manusia.


Gamang

Filed under Renungan & Hikmah

perubahan…
haruskah itu yang jadi hambatan dalam hidup
ketika dia hadir
gamang hati, resah jiwa tak lagi berdiam diri
menuntut kenyamanan yang dulu singgah
tapi…

hati berubah
manusia berubah
keadaan berubah
bahkan dunia pun ikut berubah
menuntut suatu kedewasaan sikap
ahhhh…..mampukah bertahan???
masih seperti kemarin
tidak ada jawaban
bingung
sekedar tanda-pun tak terlihat
atau
apakah memang hati ini yang sudah terlanjur mengeras
membatu
sehingga tak lagi nampak
hal pasti didepan mata?
Kecamuk hati
gejolak jiwa
kapan berakhir
bermuara di kedamaian??


The Making of a Scientist (Part 2/3)

Filed under Bedah Buku

Berikut ini adalah bagian ke-dua dari saduran The Making of a Scientist. Mudah2an ada memberi guna dan manfaat.

Sedikit komentar: Saya baru ‘ngeh’ setelah baca komentar Bang Ferry kenapa Feynman gak pernah mau membahas tentang cosmology. Make sense sih sekarang hehe. Tapi mengenai jurnal, beliau ini banyak lho publikasinya (dibidang teoritis). Saya ada yang “The Theory of Postrons”, “Space-Time Approcah to QED”, “Matematical Formulation of the QED Interaction”. Dan yang gak saya punya pasti lebih banyak. (Jurnalnya banyak tentang partikel, interaksi partikel, dan QED itu sendiri).

Adiknya, Joan Feynman adalah Ph.D. dibidang astronomi dan menjadi salah satu staff ahli NASA.

Wassalam

….

Senin berikutnya, ketika para ayah kembali bekerja, kita para anak-anak bermain di lapangan. Seorang anak berkata pada saya “Lihat burung itu? Jenis burung apa itu?”.

Saya jawab “Saya tidak punya ide sedikitpun apa jenis burung itu”.

Dia berkata “Itu adalah murai berparuh coklat. Ayahmu tak mengajarkanmu apa-apa!”.

Tapi sebaliknya, ayah saya sudah pernah mengajarkan saya: “Lihat burung itu”, katanya. “tu adalah Spencer si pengicau” (saya tahu dia tidak tahu nama aslinya). “Dalam bahasa Itali dia disebut Chutto Lapittida, dalam Portugis disebut Bom Peida, dalam Cina disebut Chun-long-tah, dalam Jepang Katano Tekeda. Kamu bisa tahu nama dari burung itu dalam semua bahasa di dunia ini, tapi kamu tidak tahu apa-apa tentang burung itu. Kamu akan hanya tahu tentang manusia di tempat berbeda, dan nama apa yang mereka berikan pada burung itu. Ayo kita perhatikan burung itu dan lihat apa yang dia sedang lakukan – itulah cara yang benar”. (saya belajar sangat diri perbedaan antara mengetahui nama sesuatu dan mengetahui sesuatu).

Dia berkata, “Sebagai contoh, lihat: burung itu mematuk bulunya setiap waku. Lihat dia berjalan, mematuki bulunya?”.

“Ya”

Dia berkata, “Kamu pikir kenapa burung-burung mematuk bulu-bulunya?”.

Saya berkata, “Mungkin bulu-bulunya kusut saat terbang, jadi mereka mematukinya untuk meluruskannya kembali”.

“Baiklah,” katanya. “Jika itu kasusnya, lalu mereka akan sering mematuki selagi mereka terbang. Lalu setelah di tanah mereka tidak akan mematukinya terlalu banyak – kamu tahu apa yang saya maksudkan?”.

“Ya”

Dia berkata, “Mari kita perhatikan dan lihat jika mereka mematuki banyak setelah sampai di tanah”.

Ini tidak susah untuk dikatakan: tidak begitu banyak perbedaan antara burung yang baru saja mendarat dan yang sudah berjalan-jalan di tanah. Jadi saya berkata “Saya menyerah. Kenapa burung mematuki bulunya?”.

“Sebab ada kutu menganggunya”, katanya. “Kutu-kutu itu memakan lapisan protein yang keluar dari bulu burung”.

Dia lanjutkan, “Setiap kutu memiliki cairan minyak dikaki-kakinya, dan tungau memakan cairan itu. Tungau itu tidak mencernanya dengan sempurna, jadi mereka mengeluarkan dari anusnya sesuatu seperti gula, di mana bakteria berkembang”.

Akhirnya dia berkata, “Jadi kamu lihat, di mana saja ada sumber makanan, ada beberapa bentuk kehidupan yang bisa ditemui”.

Sekarang, saya tahu bahwa itu bisa saja bukan kutu, itu bisa jadi tidak tepat benar bahwa kaki kutu dihinggapi tungau. Cerita itu mungkin saja tidak benar secara detil, tapi apa yang diceritakannya adalah benar secara prinsip.

Lain waktu, ketika saya sedikit besar, dia ambil selembar daun yang gugur dari pohon. Daun ini memiliki cacat, sesuatu yang tidak kita lihat terlalu sering. Daun tersebut bisa dikatakan buruk; ada garis coklat kecil di potongan berbentuk C, mulai dari pertengahan daun dan mengkriting sampai ke ujung.

“Lihat pada garis coklat ini”, dia berkata. “Sempit pada pangkalnya dan melebar pada ujungnya. Apa ini? Ini adalah lalat, lalat biru dengan mata kuning dan sayap hijau datang dan bertelur di atas daun ini. Lalu, ketika telurnya menetaskan belatung, belatung ini menghabiskan seluruh waktunya memakan daun ini – tempat yang bagus baginya mendapatkan makanan. Selama dia makan, belatung itu meninggalkan bekas pada daun yang sudah dimakan di belakangnya. Sementara belatung membesar, jejak itu bertambah besar sampai dia sudah menjadi besar saat dia ada di ujung daun, dimana dia sudah berubah menjadi lalat - lalat biru dengan mata kuning dan sayap hijau – yang terbang jauh dan lalu betelur di daun lain”.

Lagi, saya tahu bahwa detilnya tidaklah terlalu benar – itu bisa saja adalah kumbang – tapi ide bahwa dia mencoba menjelaskan kepada saya sebuah lelucon dari bagian kehidupan: segala sesuatunya hanyalah pengulangan. Tidak peduli bagaimana rumitnya, intinya tetap melakukan lagi dan lagi!

Tidak punya pengalaman dengan ayah yang lain, saya tidak menyadari betapa luar biasa sekali dia. Bagaimana dia mempelajari prinsip dari sains dan mencintainya, ada apa di balik itu, dan kenapa sains bekerja sangat bermanfaat? Saya tida pernah benar-benar bertanya padanya,sebab saya hanya mengasumsikan bahwa semua itu hanya para ayah yang tahu.

Ayah saya mengajarkan saya untuk memperhatikan sesuatu dengan seksama. Satu hari, saya sedang bermain dengan “truk cepat”, sebuah mobil-mobian dengan lintasan khusus di sekelilingnya. Di atas truk tersebut ditaruh bola, dan ketika saya tarik truk itu, saya memperhatikan sesuatu tentang bagaimana bola itu bergerak. Saya datangi ayah saya dan berkata “Ayah, saya memperhatikan sesuatu. Kalau saya tarik truk ini, bola berguling ke belakang. Dan kalau saya tarik hati-hati lalu menghentikannya mendadak, bola ini berguling ke depan. Kenapa begitu?”.

“Itu, tidak seorang pun yang tahu”, dia berkata. “Prinsip umumnya adalah bahwa segala sesuatu yang sedang bergerak cendung mempertahankan geraknya, dan segala sesuatu yang diam cendrung mempertahankan diamnya, kecuali kamu paksa mereka dengan keras. Ini yang diseut ‘inersia’, tapi tk seorang pun tahu kenapa begitu”. Sekarang, barulah ini sebuah pemahaman yang dalam. Dia tidak hanya memberikan saya penamaan dari sebuah fenomena.

Dia melanjutkan, “Jika kamu melihat dari samping, kamu akan melihat bahwa ketika kamu mendorong maju truk, si bola tetap di tempat. Walau sebenarnya kalau truk digerakkan dengan hati, karena ada friksi antara truk dengan bola, bola bisa bergerak sesuai laju truk”.

Saya berlari ke truk mainan saya dan menyusun bola dan truk lalu kemudian mendorongnya. Pengamatan dari samping, saya melihat bahwa sesungguhnya ayah saya benar. Relatif terhadap arah gerak, bola bergerak sedikit ke depan.

Begitulah saya dididik oleh ayah saya, dengan contoh-contoh dan diskusi: tidak ada tekanan – hanya diskusi yang cantik dan menarik. Hal ini sudah memotivasi seluruh sisa hidup saya, dan membuat saya tertarik pada semua jenis sains. (Ini hanya kebetulan saya bisa lebih baik di Fisika).

Saya sudah menangkap sesuatu, seperti seseorang yang diberikan sesuatu yang indah saat dia kecil, dan dia selalu mencarinya lagi. Saya selalu mencari, seperti seorang anak, sesuatu yang menakjubkan yang saya tahu saya akan meneukannya – mungkin tidak setiap waktu, tapi setiap sekali saat.

(Sebagai tambahan, berikut foto Joan Feynman).

joan feynman.jpg

(Bersambung)


The Making of a Scientist (part 1/3)

Filed under Bedah Buku

Assalamualaikum,

Halow halow…. rekan2 yang berbahagia. Alhamdulillah ujian sudah lewat, jadi saya ada waktu lagi hehe.

Siapa sih yang kenal Feynman? Mungkin banyak yang tahu hehe.. sukur dech. Kali ini saya mau mengutip artikel saduran saya dari www.febdian.com tentang beberapa petualangan beliau.

FYI, ini adalah salah satu eBook project saya, “Feynman, the adenture of curious character” - disamping “The Lord of the Rings: Beginner Point-Of-View”, yang dikerjakan dengan santai sebagai hobi. Jadi akan butuh waktu sampai benar2 selesai hehe. Mohon maaf kalau bahasa translasi saya tidak begitu bagus….

Di web asli (febdian.com), tulisan ini saya penggal menjadi 6 halaman. Di sini saya coba membuatnya 3 babak saja. Capek lho bacanya kalau kebanyakan. Mudah2an ada manfaatnya tulisan ini, terutama chapter The Making of Scientst, siapa tau memberi ilham pada rekan-rekan yang sudah punya buah hati :-)

Dan terakhir, ijinkan pula saya ngasih tau, bagi yang pingin denger kutipan suara Feynman ketika sedang memberikan kuliah, silakan download di: http://www.febdian.com/download.php?view.86

(di folder yang sama rekan-rekan bisa download juga ceramah Soekarno dalam Isra’ Miraj di Istiqal sekitar th 60-an).

Selamat menikmati….

Pengantar
(Oleh Febdian Rusydi)

Richard P. Feynman adalah salah satu makhluk super yang saya yakini sengaja diutus Allah ke dunia ini untuk memecahkan banyak misteri tentang kehidupan fisik kita.

Feynman sudah menjadi legenda semenjak awal 60-an (sebelum dia dapat nobel) karena publikasi2nya di bidang fisika teoritis - yang sedikit berbeda dari yang lain: gampang dimengerti. Diagram Feynman yang menjalaskan interaksi antar partikel adalah salah satu karya agungnya, mempersingkat perhitungan konvensional 3 sampai 4 lembar kertas A4 menjadi hanya 1/4 lembar.

Selain itu, kelegendaannya adalah dalam membuat fisika ‘gampang’ dimengerti. Kejadian yang tidak akan pernah dilupakan para kaum akademis di dunia adalah ketika dia menyanggupi memberikan kuliah fisika dasar selama 2 th untuk freshman di Califonia Institute of Technology. Dia tidak hanyak menyulap hampir semua mahasiswa yang hadir saat itu menjadi saintis handal, tapi juga materi kuliahnya yang betul2 berbeda dengan diktat fisika konvensional. Materi kuliahnya itu kemudian dibukukan dalam 3 seri “the Feynman Lecture On Physics” yang kemudian menjadi “holy book”nya para praktisi saintis sampai sekarang.

Kerja jeniusnya dalam Quantum Electrodynamics mengantarkannya pada Nobel Prize pada 1965 bersama Julian Schwinger dan Sin-itiro Tomonaga. Faktanya, QED adalah “matter and light theory” terbaik yang kita punyai sampai saat ini. (Lain kali kita akan coba bahas ini ya :-) )

Pengembaraan jeniusnya tidak hanya sampai di sana. Manusia yang digambarkan oleh Ralph Leighton (teman sesama drummer dan juga penulis buku “Surely You are joking Mr. Feynman”) sebagai “Karakter yang haus teka-teki” sudah mengalami banyak petualangan sosial yang mungkin tidak dimiliki oleh saintis lainnya. Mulai dari penakuklan penjudi kelas berat di Las Vegas, menjadi penabuh gendang pada festival rakyat di Brasil, sampai pada perjalanannya pada dunia mimpi. Dan tentu saja, semua itu dia lakukan bersama: Fisika.

Petualangan terakhirnya adalah ketika memecahkan teka-teki meledaknya pesawat Challenger tahun 1986. Dalam bukunya “What Do You Care What People Think” yang akan kita bicarakan di bawah ini, terlihat bagaimana dia harus berjuang melawan dua hal: misteri itu sendiri, dan birokrasi pemerintah.

Satu tahun setelah publikasi jawaban teka-teki tersebut, tepatnya 15 Feb 1988, Feynman meninggal akibat kanker usus.

Artikel saduran saya ini, adalah dalam rangka mengenang 16 tahun meninggalnya Richard P. Feynman.

———–

Bagaimana Orang Tua Saya Membuat Saya Menjadi Ilmuwan
*taken from Richard P. Feynman “What Do You Care What Other People Think?”

feynman04.jpg

Saya punya seorang teman, dia adalah seorang seniman, dan kadangkala memiliki pandangan yang saya tidak setuju. Dia pegang setangkai bunga dan berkata “Lihat, betapa indahnya bunga ini”, dan saya setuju. Tapi kemudian dia akan berkata “Saya, sebagai seorang seniman, dapat melihat betapa indahnya setangkai bunga. Tapi kamu, sebagai seorang ilmuwan, menjadikannya terpisah-pisah dan itu membuatnya garing”. Saya pikir dia ini gila.

Pertama dan utama sekali, keindahan yang dia lihat adalah bisa dilihat oleh semua orang – dan saya juga, saya percaya itu. Walaupun saya mungkin tidak bisa merasakan bagusnya secara estetika seperti yang dia rasakan, saya dapat menghargai keindahan setangkai bunga itu. Tapi, di sisi lain, saya melihat lebih banyak hal pada bunga daripada dia. Saya dapat membayangkan sel-sel di dalam bunga, dimana juga memiliki keindahan tersendiri. Ada keindahan yang tidak hanya pada dimensi sentimeter; tapi keindahan itu juga ada pada skala yang lebih kecil.

Terdapat banyak aksi-aksi yang komplit di dalam sel tersebut, dan proses-proses lainnya. Fakta bahwa warna-wana dalam bunga sudah berkembang dalam rangka menarik serangga untuk datang dan membantu penyerbukan adalah sangat menarik; yang artinya serangga juga melihat warna-warna pada bunga tersebut. Ini menambah pertanyaan: apakah rasa estetika yang kita punya juga ada pada kehidupan bentuk rendah (dimensi skala yang kecil)? Ada beberapa jenis pertanyaan menarik lainnya yang datang dari ilmu pengetahuan, yang hanya menambah keasikan dan misteri serta kekaguman pada setangkai bunga tadi. Itu hanya menambahkan keindahan. Saya tidak mengerti bagaimana menguranginya.

Saya selalu sangat satu-sisi tentang sains, dan ketika saya sangat muda saya berkonsentrasi hampir pada semua usaha saya untuk sains. Pada masa itu, saya tidak punya waktu yang cuku, dan tidak terlalu sabar untuk mempelajari apa yang disebut humaniti. Sekalipun ada kuliah humaniti di universitas yang kau harus ambil untuk graduate, saya mencoba sebisa mungkin menghindarinya. Hanya setelah itu, ketika saya bertambah usia dan lebih santai, saya sudah sedikit banyak mempelajari hal-hal lain. Saya belajar menggambar dan membaca sedikit, tapi saua benar-benar seorang yang sangat satu-sisi dan saya tidak tahu bagaimana sebaiknya. Saya memiliki keterbatasan kecerdasan dan saya gunakan itu pada satu hal yang khusus (sains).

Sebelum saya lahir, ayah saya berkata pada ibu saya “jika dia anak laki-laki, dia akan menjadi seorang ilmuwan” *. Ketika saya balita dan duduk di kursi khusus balita, ayah saya membawa ubin-ubin kecil (untuk lantai kamar mandi) dengan berbagai macam warna. Kita bermain dengan ubin-ubin tersebut, ayah saya menyusunnya berbarik ke atas di atas kursi saya seperti layaknya domino, dan saya akan mendorongnya satu sehingga yang lain akan jatuh.

Lalu setelah beberapa lama, saya tolong dia menyusun ubin-ubin tersebut. Dalam waktu yang sebentar kita sudah menyusunnya dalam beberapa cara yang rumit: 2 ubin putih dan satu ubin biru, dua ubin putih dan satu ubin biru, dan seterusnya. Kalau ibu saya berkata “biarkan saja si kecil sendiri. Jika dia ingin meletakkan yang biru, biarkan dia meletakkan yang biru”

*Adik perempuan Richard, Joan, adalah Doktor di bidang Fisika, meskipun prasangka ini hanya anak laki-laki ditakdirkan menjadi ilmuwan.

Tapi ayah saya akan berkata “Tidak, saya ingin menunjukkan padanya seperti apa pola (penyusunan ubin-ubin itu) dan betapa menariknya mereka. Ini adalah sejenis matematika dasar”. Jadi dia memulai sangat dini untuk mengatakan pada saya tentang dunia dan betapa menariknya dunia itu.

Kami memiliki sebuah Encyclopaedia Britannica di rumah. Ketika saya kecil ayah saya memangku saya dan membacakan ensiklopedi tersebut. Kita kemudian akan membaca, katakanlah tentang Tyrannosaurus rex, dan dia akan berkata seperti “Dinasourus ini tingginya 25 kaki kepalanya berdiagonal 6 kaki”.

Ayah saya kemudian akan berhenti membaca dan bekata, “Sekarang mari kita lihat apa maksudnya. Maksudnya adalah jika dia berdiri di halaman depan kita, dia akan cukup tinggi untuk meletakkan kepalanya melewati jendela kita di sini” (kita ada di lantai dua). “Tapi kepalanya terlalu besar untuk masuk ke jendela ini”. Setiap sesuatu yang dia bacakan untuk saya selalu dia coa untuk menterjemahkan sebaik mungkin ke dalam realitas.

Ini sangat mengasikan dan sangat sangat menarik berpikir bahwa ada Karena itu binatang yang begitu besar - dan mereka sudah punah, dan tidak ada yang tahu persis kenapa. saya tidak takut bahwa mereka benar-benar datang ke jendela saya. Tapi saya belajar dari ayah saya untuk menterjemahkan: semua yang saya baca saya coba untuk memikirkan apa yang dimaksudkan, apa yang benar-benar disebutkan bacaan tersebut.

Kita biasanya perki ke Catskill Mountains, sebuah tempat dimana orang-orang dari NYC akan pergi untuk musim panas. Bapak-bapak akan kembali ke NYC untuk bekerja selama seminggu, dan kembali hanya untuk akhir minggu. Pada akhir minggu, ayah saya akan membawa saya untuk jalan-jalan di hutan kecil dan dia akan menceritakan tentang hal-hal menarik apa saja yang terjadi di hutan. Ketika ibu-ibu yang lain melihat ini, mereka berpikir ini adalah yang indah dan bahwa ayah-ayah yang lain seharusnya membawa anak-anak mereka untuk jalan-jalan seperti yang kami lakukan. Mereka mencoba melakukan itu tapi mereka tidak berhasil pertamanya. Mereka menginginkan ayah saya untuk melakukan itu, tapi tentu saja dia tidak ingin karena dia hanya punya hubungan spesial dengan saya. Jadi ini berakhir dengan ayah-ayah yang lain harus membawa anak-anak mereka jalan-jalan minggu depannya.

Senin berikutnya, ketika para ayah kembali bekerja, kita para anak-anak bermain di lapangan. Seorang anak berkata pada saya “Lihat burung itu? Jenis burung apa itu?”.

Saya jawab “Saya tidak punya ide sedikitpun apa jenis burung itu”.

Dia berkata “Itu adalah murai berparuh coklat. Ayahmu tak mengajarkanmu apa-apa!”.

(BERSAMBUNG)


Pengantar

Jumat kemarin saya nonton The Lord of the Rings “The return of the king”. Memang telat, teman-teman yang lain mungkin malah sudah bosan. Sehabis nonton saya gak bisa tidur, saya baru saja membuktikan tesis orang selama ini: The Lord of the Rings adalah ‘kitab suci’nya dunia fantasi modern!

Bagi yang suka dunia fantasi, kalau sebelumnya belum tau The Lord of the Rings lalu nonton, pasti akan terkaget2 karena karakternya begitu akrab. Boleh percaya atau tidak, saya cuman butuh nonton seri ke-3 aja sudah mendapatkan gambaran menyeluruh tentang ceritanya, karena beberapa bagian ceritanya sudah saya dapatkan dari game2 yang sering saya mainkan dulu waktu kuliah.

Memang benar… karakter yang dibangun di The Lord of the Rings bwuuaanyak sekali dipakai di dunia game komputer dan board (Age of Wonder, Dungen & Dragon - game board paling digemari dunia barat, Heroes, Empires, Dune, etc), dan buku/filem fantasi lainnya (Harry Potter, Fantasia, Final Fantasy, Dungeon & Dragon, Flash Gordon, etc). Hampir semua karakter fantasi disadur, diambil, dikembangkan dari karakter The Lord of the Rings.

Yang paling saya kagumi adalah, ternyata ada orang yang memiliki imajinasi sedemikian rupa dan mempengaruhi dunia!

Karena tidak bisa tidur, saya mencoba menulis sesuatu, yang awalnya tidak ada visi. Namun setelah tulisanya jadi, baru saya temukan visi tulisannya: inilah proyek eBook saya ke-dua, yang insyaallah saya beri judul “The Lord of the Rings: Beginner’s point-of-view”.

Tulisan berikut akan menjadi salah satu bagian dari eBook tersebut. Kapan selesainya? Jangan tanya, proyek ini adalah proyek hobi, jadi saya kerjakan sambil menikmatinya. Artinya bakalan lama… tapi insyaallah setiap ada chapter baru akan saya posting di sini. Mudah2an ada komentar2 dan kritik2 yang membangun untuk saya.

PS: Artikel ini saya kopi dan dibuat semirip mungkin dari aslinya (dual languange) di febdian.com, silakan klik: di sini untuk tengok2 siked :-)

——————–

lotr.jpg

3 Hal Penting Dari “The Lord of the Rings”

1. Creator: J.R.R Tolkien, a Proffesor Anglo-Saxon in Oxford University, England

tolkien.jpg
John Ronald Reuel Tolkien lahir pada 3 Januari 1892 di Bloemfoontein Negara Bagian Orange Free (South Africa), tapi pada umur 4 tahun dia dan saudaranya dibawa pulang ke Inggris oleh ibu mereka. Setelah kematian ayanya, keluarganya pindah ke Sarehole, bagian tenggara Birminghan. Tolkien menghabiskan masa kecil bahagianya di sana dan perasaannya kepada tanah pedesaan dapat dilihat jelas pada tulisan-tulisan dan gambar-gambarnya.

Ibunya meninggal ketika dia masih 12 tahun, dan bersama saudaranya dijadikan anak asuh oleh pendeta setempat dan dikirim ke King Edward School, Birminghan, dimana Tolkien bersinar dalam karya-karya klasiknya. Setelah menyelesaikan First in English Language dan Literature di Oxford, Tolkien menikah dengan Edith Bratt. Dia menjabat dalam sebuah komisi di Lancashire Fusilier dan bertempur dalam perang Somme. Setelah perang, dia bertugas pada New English Dictionary dan mulai menulis mitologi dan siklus legenda di mana dia menamakan “The Book of Lost Tales” tapi kemudian dikenal sebagai The Simlarillion.

(Informasi: setelah sangat sukses berkarir di Exeter College, Oxford, Tolkien menjadi seorang petugas di militer Inggris. Dia berpengalaman langsung pada kesejahteraan prajurit perang setelah Perang Dunia I. Dia adalah anggota dari 11th Lancashire Fusilires, salah satu resimen yang sangat berjasa dalam perang tersebut, dan juga sebuah unit yang selamat pada beberapa sasaran musuh.)

Pada 1920 Tolkien ditunjuk Reader di English Language pada University of Leeds di mana menjadi awal dari karir akademiknya, terpilih menjadi Proffesor of Anglo-Saxon di Oxford. Tolkien menulis untuk anak-anaknya dan menceritakan kepada mereka tentang kisah The Hobbit. Adalah publishernya, Stanley Unwin, yang memintanya untuk menulis sekuel The Hobbit dan perlahan Toklien menulis The Lord of the Rings, sebuah cerita besar yang butuh 12 tahun untuk menyelesaikannya dan tidak dipublikasikan sampai Tolkien mendekati pensiun. Setelah pensiun Tolkien dan istrinya tinggak dekat Oxford, tapi kemudian pindah ke Bournemouth. Tolkien kembali ke Oxford setelah kematian istrinya pada 1971. Dia kemudian meninggal pada 2 Septermber 1971, meninggalkan pekerjaanya terakhir The Silmarillion yang kemudian di edit untuk publikasi oleh anaknya, Christopher.

2. Lord of the Rings is one of the triology mith:

lotr-thehobbit.jpglotr-thelordotherings.jpglotr-theSilmarillion.jpg

The Hobbit
Petualangan klasik “there and back again”. Pertama kali dipublikasikan pada 1973, ini adalah kisah yang memperkenalkan dunia pada Hobbits, Middle-earth, dan akan adanya cerita lanjutan, “The Lord of the Rings”.

The Lord of the Rings
Pertama kali dipublikasikan tahun 1953 dan 1955, mahakarya tiada tanding dari Tolkien menceritakan tentang kehancuran Penguasa Cincin dan kembalinya Sang Raja (disusun dalam tiga babak). Di antara pujian yang tak terhitung jumlahnya, cerita tiga babak ini dideklarasikan sebagai “the greatest works of imaginative fiction of the twentieth century”.

The Silmarillion
Ini adalah tentang cerita kepahlawanan “History of the Elves”. Tolkien meninggal sebelum menyelesaikannya, dan anak tertuanya, Christopher, melanjutkan pekerjaan ayahnya tersebut. Pertama kali dipublikasikan pada 1977, koleksi dari hikayat, legenda, dan mitologi, menjelang penciptaan awal dan masa pertama dari Middle-earth.

3. The last epic closing the huge trilogy: The Story of Middle-earth (12 Volumes)

Ini adalah proyek besar yang dikerjakan Christopher Tolkien dalam upaya merangkai semua epic ayahnya dan menyempurnakan dalam 12 seri “The
Story of Middle-earth”. Proyek ini dimulai pada tahun 1984, dan selesai tahun 1995.

—————–
Referensi:
www.lordoftherings.net - Official website of The Lord of the Rings (for movie)
www.tolkien.co.uk - Website of J.R.R. Tolkien

Next:
Prologue of The Trilogy of Middle-earth

Abstract:
Tentang cerita singkat masing-masing trilogi.