READ MORE >>   Ramadhan 2011, diary ramadhan

Diary Ramadhan - Edisi 12 Ramadhan 1432H
Ditulis ulang oleh : Tessa Sitorini

Pengajian Serambi Suluk ::: Disampaikan oleh : Zamzam AJT

Dulu, saat di bangku SMA saya dibuat gelisah dan sangat bingung tentang beberapa istilah dalam Al Qur’an. Apakah perbedaan antara iman dan taqwa? Kalau orang sholatnya baik, iman atau taqwanya yang bertambah? Apa beda istighfar dan taubat? Kalau saya istighfar banyak-banyak apakah sudah dikategorikan bertaubat? Seperti apa taubat yang sebenarnya? Kapan kita mengetahui bahwa Allah menerima taubat kita? Tahapan taubat itu seperti apa? Apa beda taufiq dan rahmat Allah? Kita diperintahkan untuk “berjihadlah pada jalan-Nya”, jalan yang mana? Jihad yang mana?

Sadarilah sahabat bahwa semua istilah dalam agama itu harus mengerti betul, jangan dianggap tidak ada masalah manakala kita masih menerka-nerka apa maksud dari setiap kata yang Allah turunkan itu, justru sikap seperti itu akan menjadi masalah di kemudian hari. Karena semua istilah tersebut diturunkan dari Al Qur’an, semata-mata karena Allah menggunakan kalimat-kalimat ini untuk mendeskripsikan suatu persoalan penting.

Tentang Thariqah

Istilah thariqah berasal dari kata kerja tharaqa , artinya memukul sesuatu dengan palu. Atau menempa sesuatu menjadi tipis. Karena itu dalam sebuah thariqah, isinya penempaan. Dari besi yang tidak berbentuk, dibakar dan ditempa jadi pedang tipis yang tajam. Atau arti lainnya, mengetuk pintu. Semua mempunyai makna dalam yang sama, yaitu sesuatu yang dilakukan terus menerus dan mempunyai tujuan tertentu.

Kaitan thariqah dan suluk  diterangkan oleh Rasulullah saw dalam hadits berikut :
Barangsiapa yang menempuh (salaka) suatu thariqan (jalan) untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan ke surga.

Bila kita perhatikan lebih dalam redaksional hadis itu, maknanya adalah barangsiapa menempuh (salaka) suatu thariqan (jalan) yang dengan jalan itu tersentuh suatu ilmu, maka Allah akan mudahkan ke surga. Jadi ada ilmu yang terbuka. Kuncinya adalah memasuki sebuah jalan, dan ini yang kita harus cari, apa itu jalan yang dimaksud.

Istilah thariq tercantum juga dalam QS [46]: 30
Hai kaumku, sesungguhnya aku telah mendengar sebuah kitab yang telah diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab  yang sebelumnya. Kitab Al quran itu memberi petunjuk kepada Al Haqq dan thariqi mustaqiim (jalan yang lurus)

Al Haqq adalah kebenaran yang bersifat umum. Tentang Al Haqq, ada kalimat dari Ali ra:
“Janganlah engkau mencari kebenaran dari manusia, temukan dulu kebenaran (Al Haq) oleh engkau baru engkau akan mengetahui siapa-siapa yang mengikuti kebenaran.”

Artinya penting untuk mencari Allah dulu dalam hati setiap manusia. Memanjatkan doa “Ya Allah, tunjukkan hamba kepada Al Haqq” Nanti Allah akan menunjukkan dengan cara-Nya yang indah. Bisa jadi melalui kata-kata seseorang, perbuatan seseorang, kejadian tertentu dsb.

Karena kalau kita mencari kebenaran dari manusia kerap terhijab oleh keadaan fisiknya, penampilannya, kemampuannya, kemuliaannya, kefasihannya dsb.
Maka Rasulullah berkata, “Ambillah Al Haqq walau dari mulut orang munafik”.
Sebaliknya sesuatu yang walaupun itu diucapkan oleh ‘orang besar’, tapi isinya keburukan maka jangan diambil.

Istilah thariq identik dengan istilah “shirath”, Allah menggunakan nama lain di depan kata mustaqiim, hanya pada ayat ini saja, yaitu thariqi mustaqiim. Karena di banyak ayat lain disebut sebagai shiraathal mustaqiim. Jika kita berdoa dalam shalat “ihdinashiraathal mustaqiim” sebenarnya identik dengan “ihdina thariqa mustaqiim”

Shiraathal Mustaqiim

Kita berdoa setiap hari dalam shalat, memohon ditunjukkan pada jalan yang lurus ihdina shiraathal mustaqiim. Setidaknya 17 kali setiap hari, karena inti surat Al Fatihah terletak pada doa itu. Sebagai muslim kita harus mengerti apa yang kita minta, jangan meminta pada Allah sesuatu yang kita tidak pahami karena pada saat Allah mengabulkan atau tidak mengabulkan, kita tidak akan tahu . Padahal dalam Al Quran dikatakan, “Janganlah mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS Al Isra’ [17]: 36)

Maka wajib membaca dan memahami Al Quran, karena apa kata Allah ttg shiraathal mustaqiim, bagaimana ciri-ciri orang-orang yang berada di shiraathal mustaqiim semua diterangkan detail di dalamnya. Sehingga kita tidak berdoa atau shalat dengan hati lalai karena tidak mengerti apa yang sebenarnya kita mohonkan.

Serambi suluk bicara ttg berbagai jalan, dari jalan yg umum hingga ke jalan-jalan yang khusus. Al Haqq itu kebenaran yang sifatnya umum, yang semua manusia harus mengenalnya. Tapi thariq itu bersifat spesifik per individu. Ini terkait orbit diri dan misi suci masing-masing yang diamanahkan Allah Ta’ala saat di alam musyahadah (persaksian) dulu QS [7]:172.

Jadi berdoa ihdina shiraathal mustaqiim, sebetulnya sama dengan meminta agar Allah Ta’ala menunjukkan agar kita masing-masing ditunjuk pada misi hidupnya. Karena setiap orang mempunyai misi hidup yang tidak sama. Seorang waliyullah menggambarkan bahwa manusia membuat asbak, fungsinya ya untuk abu rokok; cangkir adalah untuk air minum; ember utk cuci mobil dsb. Apa yang dibuat oleh manusia saja ada fungsinya, apalagi manusia makhluk termulia di alam semesta, tidak mungkin diciptakan hanya sekedar sekolah, menikah, punya anak, kerja, pensiun dan mati. Tidak mengenal fungsi spesifiknya (misi hidup) di dunia. Kita harus mengenal apa misi hidup masing-masing, itu adalah thariq dan shiraathal mustaqqim kita.

QS An Nisaa [4]: 168
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni dosa mereka, dan Allah tidak akan menunjukkan mereka kepada sebuah jalan (thariqan)

Jadi istilah shiraathal mustaqiim itu bukan semata-mata jembatan yang ada di akhirat nanti, yang katanya seperti titian serambut dibelah tujuh dan tajam seperti pisau, ini menggambarkan betapa sulitnya menempuh jalan tersebut. Sadarilah bahwa shiraathal mustaqiim itu kita minta saat ini juga, ia adalah sebuah jalan yang membentang sejak hari ini hingga ke hari akhir nanti, ke sebuah zaman yang sangat jauh. Artinya kita harus bisa menemukan dalam kehidupan yang samar ini sebuah jalan yang lurus (thariqan) . Itulah kenapa dalam konteks suluk harus dibuka mata hati, agar kita bisa melihat jalan yang satu itu. Dalam keseharian seorang pejalan akan nampak sama saja beraktivitas seperti orang lain. Tapi bedanya yang satu berada dalam thariq, yang lain bukan.

Mulailah mendekatkan diri pada Allah Ta’ala dengan mengerjakan semua perintah-Nya dan mempelajari Al Qur’an secara sungguh-sungguh. Sambil senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala untuk menunjukkan, apakah benar langkahku telah berada dalam kodrat-Nya?

Jika kita tekun mempelajari Al Qur’an dan memperbaiki diri melalui tazkiyatun nafs. Insya Allah akan terbuka jalan masing-masing. Karena mustahil seseorang ingin menemukan jalan kodrat dirinya masing-masing tanpa mendirikan sholat dan mempelajari Al Qur’an. Al Quran adalah peta dalam kehidupan. Tidak hanya itu, ia adalah transformator jiwa kita, hingga mata hati terbuka, jiwa bercahaya, dan jalan itu makin jelas adanya.

QS Al Jin [72]: 16
Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus (istaqomu) di atas sebuah thariqah, maka benar-benar Kami akan memberi kepada mereka air yang segar

Jadi siapa yang istiqomah dalam sebuah thariqah maka akan diberi air yg segar.
Maka pertama kali harus menemukan apa itu thariqah, lalu berjihadlah di dalamnya, berjalan sungguh-sungguh dalam mandat Allah diantaranya dengan tazkiyatun nafs (penempaan jiwa), maka Allah akan menurunkan air yang segar, air pengetahuan (ilmu). Yaitu imu yang baru, bukan ilmu yang lama dan diulang-ulang. Karena Al Quran sangat luas seperti samudera, maka setiap orang akan menemukan ilmunya masing-masing.

Ketika pulang dari Perang Badar (pertempuran besar pertama umat Islam dengan perbandingan 300-an pasukan kaum Muslimin melawan sekitar 1000 pasukan lawan), Rasulullah saw bersabda

”Sesungguhnya kita baru pulang dari jihad yang kecil dan kita akan menuju kepada jihad yang akbar, yaitu berperang melawan hawa nafsu.”

Jadi menempa diri kita dalam sebuah thariq adalah suatu jihad yang besar (jihadul akbar).

Semoga Allah Ta’ala memberi kita hati yang berserah diri dan kekuatan dalam menempuh jalan-Nya. Amiin

  READ MORE >>   Ramadhan 2011, diary ramadhan