READ MORE >>   Ramadhan 2011, diary ramadhan

Diary Ramadhan edisi 5 Ramadhan 1432H
Oleh : Adinda Tessa Sitorini

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa (shiyam), sebagaimana telah  diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu. Agar kamu bertakwa”(QS Al –Baqarah [2]:183)

Menjelang Ramadhan kita sering mendengar ayat di atas dikutip dalam setiap ceramah. Dan setiap kali kita mendengar dan mengamini doa sang ustadz sontak kita termanggut-manggut dan menjawab dengan lantang “Aamiin..!!” pada doa yang dipanjatkan “Semoga ramadhan ini membawa kita menjadi umatNya yang bertaqwa”. Kemudian kita kembali kepada rutinitas sehari-hari, sebagai pelajar, pekerja di kantor, ilmuwan, ibu rumah tangga, pedagang, profesional dll dengan membawa bekal dalam hati, semoga doa sang ustadz terwujud, saya harus jadi orang yang bertaqwa.

Namun, pernahkah Sahabat bertanya dan mencari tahu, apa itu makna taqwa? Apa kaitan shaum yang kita kerjakan dengan terbangunnya ketaqwaan dalam diri? Apa tandanya bahwa kita sudah mulai bertaqwa? Apa kaitannya ketaqwaan dengan momen yang senantiasa kita rayakan sebagai hari kembali kepada fitrah (Idul Fitri) ?

Jawaban dari semua pertanyaan dasar ini sangat penting sebagai koridor yang jelas dalam diri untuk mengevaluasi apakah ibadah dan kehidupan kita berada dalam jalan yang benar, yaitu sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala kehendaki. Salah satu ciri orang beriman yaitu melakukan introspeksi diri (muhasabah) sebagai bagian dari rutinitas hariannya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Q.S.Al-Hasyr (59):18]

Al Hasan mengatakan : orang-orang mumin selalu mengevaluasi dirinya karena Allah. Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia

Sahabat yang Allah sayangi, ayat ke-183 dalam surat Al Baqarah di atas memberikan tahapan yang sistematis, berkelindan dan mengagumkan berkaitan dengan iman, shaum, dan taqwa. Mari kita telaah satu persatu.

Shaum adalah perintah untuk kaum yang beriman

Seruan untuk shaum ternyata bukan ditujukan pada setiap manusia, tampak dari kata-kata seruan ‘Yaa ayyuhalladziina ‘aamanu’ “Hai orang-orang beriman” alih-alih “Yaa ayyuhannaas” “Hai manusia..” Jadi, yang terpanggil dengan sadar untuk melakukan ibadah shaum sesungguhnya hanya orang-orang beriman.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah iman itu? Apakah saya sudah termasuk hamba-Nya yang beriman? Apa ciri-ciri orang yang beriman?

Sesungguhnya keimanan seseorang itu bertingkat-tingkat sebagaimana yang diterangkan Imam Al Ghazali (semoga Allah memberkahinya). Yaitu sbb:

Iman Awami, yaitu iman orang awam yang letaknya sekedar di lisan.

Iman Mutakalimin, merupakan tingkatan iman yang lebih kuat karena sudah mulai didukung dengan hujjah, sang hamba mulai mencari ilmu dan berusaha mengamalkannya.

Iman ‘Arifin (Nur Iman). Yaitu iman yang berupa cahaya Allah yang memancar di qalb orang yang Allah kehendaki bersih dari segala sesuatu yang tidak disukai-Nya.

Jenis iman berupa ‘cahaya Allah’ inilah yang merupakan hakikat iman yang sebenarnya. Iman kategori ini yang dapat membawa kepada ketaqwaan sejati dan tentu menuntun kita untuk kembali ke fitrah diri.

Ternyata tidak mudah bagi seseorang untuk mengaku beriman atau telah menjadi mukmin dengan kategori iman yang sebenarnya, perhatikan ayat suci berikut:

“…katakanlah (kepada mereka), kamu belum beriman! Tapi katakanlah kamu baru berserah diri, sebab iman itu belum masuk ke dalam qalb-mu”

(QS Al Hujurat [49]:14)

Dengan demikian berdasarkan ayat di atas iman itu diawali dari Islam (berserah diri), dan tidaklah seseorang bisa berserah diri kecuali Allah Ta’ala bukakan hatinya.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan shadr (hati)nya oleh Allah untuk berserah diri lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu?)…” (QS Az Zumar [39]: 22)

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw perihal ayat ini:

Lalu bertanya seseorang kepada Nabi s.a.w., “Apakah pembukaan itu?” Nabi s.a.w. menjawab, “Sesungguhnya cahaya (nuur) itu apabila diletakkan dalam qalb, maka terbukalah dada (shudur) menerima cahaya tersebut dengan seluas-luasnya.”

Berkata lagi orang itu, “Adakah tanda-tandanya?” Nabi s.a.w. menjawab, “Ya, ada! Merenggangkan diri dari negeri tipu daya, kembali ke negeri kekal dan bersedia untuk mati sebelum datangnya mati.”

Inilah salah satu ciri orang beriman yang diisyaratkan Rasulullah saw, yaitu mereka yang hatinya mulai berpaling dari dunia dan bersedia melepaskan ego dan keinginan dirinya untuk ‘mati’ dari pengaturan diri sendiri dan menyerahkan kehidupannya seutuhnya kepada kehendak Allah Ta’ala.

Selain itu, patut kiranya kita bercermin kepada ciri orang-orang beriman yang Allah Ta’ala sebutkan dalam Al Qur’an diantaranya dalam Al Mu’minuun [23]: 1-9, sebagai bahan introspeksi diri, apakah kita sudah termasuk memiliki sifat-sifat orang beriman. (Ingat bahwa kata-kata iman yang dimaksud dalam Al Qur’an senantiasa merujuk pada iman tingkatan iman ‘arifin, yaitu iman yang berwujud cahaya di dalam hati):

  1. Orang yang khusyuk dalam shalatnya
  2. Menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna
  3. Menunaikan zakat
  4. Memelihara kemaluannya, kecuali terhadap pasangannya yang sah.
  5. Memelihara amanat dan janjinya
  6. Memelihara shalat

Dengan demikian, perintah shaum dalam QS Al Baqarah 183 tersebut juga merupakan seruan bagi kita untuk memperbaiki kualitas iman masing-masing, sebagai prasyarat untuk meraih ketaqwaan.

Puasa dan pembentukan ketaqwaan

Ibadah puasa sebenarnya sudah dilakukan selama berabad-abad dalam berbagai agama di dunia. Selain kaum Muslim, puasa juga ditemui pada kaum Nasrani, Yahudi, Konfusianis, Hindu, Taois dan agama lainnya. Bahkan suku pedalaman di Amerika Utara melakukan ritual puasa untuk menghindari bencana. Penduduk asli Mexico dan Inca di Peru melakukan puasa untuk “memuaskan para dewa”. Pada masa lampau, penduduk Asyiria dan Babilonia melakukan puasa sebagai bukti penebusan dosa.

Ibadah puasa dalam Islam menempati posisi yang spesial dibandingkan ibadah-ibadah lainnya, hal ini nampak pada sabda Rasulullah Saw menceritakan firman Tuhannya Azza wa Jalla:

“Setiap kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat hingga 700 kali, kecuali puasa, karena puasa itu bagiku dan Akulah yang membalasnya.”

“Sesungguhnya dia meninggalkan syahwat dan makanan serta minumannya demi Aku, maka puasa itu bagi-Ku dan Aku yang membalasnya.”

Tidak diragukan lagi puasa berkaitan erat dengan proses memperkuat iman yang salah satu tandanya adalah ‘merenggangkan diri dari dunia’. Karena salah satu hal dahsyat yang dapat diperoleh dari puasa adalah melemahkan syahwat manusia yang merupakan faktor penarik kuat pada cinta dunia, sebagaimana hadis Rasulullah saw berikut:

“Kalau saja setan-setan tidak berkeliaran di hati anak Adam, tentulah mereka melihat kepada kerajaan langit. Puasa itu membantu mematahkan syahwat.”

Sebagaimana keadaan iman yang bertingkat-tingkat pada manusia, maka kondisi puasa seseorang ditentukan oleh keadaan imannya masing-masing. Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddinmenjelaskan tiga tingkatan puasa:

Pertama, mereka yang dikelompokkan sebagai orang awam. Kelompok ini berpuasa tidak lebih dari sekadar menahan lapar, haus, dan hubungan seksual di siang hari Ramadhan

Kelompok kedua adalah mereka yang selain menahan lapar, haus dan hubungan suami isteri di siang hari, mereka juga menjaga lisan, mata, telinga, hidung, dan anggota tubuh lainnya dari segala perbuatan maksiat dan sia-sia. Mereka menjaga lisannya dari berkata bohong, kotor, kasar, dan segala perkataan yang bisa menyakiti hati orang. Mereka juga menjaga lisannya dari perbuatan tercela lainnya, seperti ghibah, mengadu domba, dan memfitnah. Mereka hanya berkata yang baik dan benar atau diam saja.

Kelompok ketiga, menurut Al-Ghazali adalah mereka yang berada dalam kategori khususul khusus atau al-Khawwas. Mereka tidak saja menjaga telinga, mata, lisan, tangan, dan kaki dari segala yang menjurus pada maksiyat kepada Allah, akan tetapi mereka juga menjaga hatinya dari selain mengingat Allah. Mereka mengisi rongga hatinya hanya untuk mengingat Allah semata-mata. Mereka tidak menyisakan ruang sedikitpun dalam hatinya untuk urusan duniawi. Mereka benar-benar mengontrol hatinya dari segala detakan niat yang menjurus pada urusan duniawi.

Maka semakin baik kualitas puasa seseorang semakin efektif menumbuhkan ketaqwaan. Karena orang yang sudah berada pada tingkat puasa khususul khusus akan semakin berhati-hati dalam hidupnya, yang merupakan salah satu ciri orang bertaqwa.

Seorang sahabat Rasul SAW, Ubay bin Ka’ab pernah memberikan gambaran yang jelas tentang hakikat taqwa. Pada waktu itu, Umar bin Khaththab bertanya kepada Ubay tentang apa itu taqwa. Ubay balik bertanya :

“Apakah Anda tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri?” Umar menjawab : “Ya.” Ubay bertanya lagi : “Lalu Anda berbuat apa?” Umar menjawab: “Saya sangat hati-hati dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.” Ubay menimpali : “Itulah taqwa.”

Di dalam Al Qur’an, makna taqwa terdiri dari tiga macam:

Perasaan takut

”Dan kepada-Ku lah kamu harus takut (tinggalkanlan maksiat karena takut kepada Allah Ta’ala)”

Bakti dan tunduk

”Wahai sekalian orang yang beriman berbaktilah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya bakti”

Membersihkan hati dari segala dosa (pensucian jiwa). Inilah hakikat taqwa

”Siapa-siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah serta taqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang beruntung”

Kaitan antara iman dan taqwa

Taqwa dalam Al Qur’an digambarkan sebagai pohon. Pohon taqwa ini merupakan pohon kehidupan diri masing-masing insan, yang merupakan kalimah thayyibah (kalimah yang baik).

“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah telah membuat perumpamaan bagi kalimah yang baik adalah bagaikan sebuah pohon yang baik, akarnya kokoh dan cabang-cabangnya (merentang) di langit. Pohon itu berbuah pada setiap musim dengan seizin Rabb-Nya. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia agar mereka selalu ingat.”(Q.S. Ibrahim : 24-25)

Akar pohon ini melambangkan aspek-aspek keimanan yang diteguhkan oleh Nur Iman, akarnya kokoh menghujam bumi diri dan bumi jagat secara. Batang pohon melambangkan ketaqwaan yang tumbuh diatas landasan akar keimanan yang kokoh; seperti yang Rasulullah SAW ungkapkan bahwa buah-buah keihsanan yang dihasilkan dari pohon taqwa ini, dari kalimah at-taqwa, adalah al-hasanah. Sari yang dihasilkan al-hasanah berupa minyak yang berkilau terang menampakkan wajah pengetahuan tersembunyi, pengetahuan tentang haqiqah kehidupan, pengetahuan tentang rahasia Al-Haqq.

“Iman itu telanjang, pakaiannya taqwa, buahnya ilmu dan hiasannya malu.” (Al-Hadits)

“Bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarimu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Baqarah : 282)

Peran taqwa dalam meraih fitrah

Ketahuilah bahwa fitrah Allah, sebagai kondisi dan keadaan yang dengannya Allah menciptakan sesuatu, merujuk kepada keadaan esensial kemaujudan manusia. Ia adalah sesuatu yang ada dalam esensi penciptaan manusia itu . Tujuan sejati dari suatu pensucian jiwa(tazkiyatu-nafs) adalah untuk menemukan fitrah, yang merupakan qudrah atau kuasa Allah Swt yang ada di dalam nafs, sebagai mandat atau misi hidup yang harus dimanifestasikan.

Dengan demikian hakikat taqwa yang merupakan penyucian jiwa, juga berarti menemukan fitrah atau misi hidup masing-masing insan.

Barangsiapa mengenal nafs-nya maka akan melihat qudrah dirinya sebagai bayangan terbatas dari qudrah-Nya, dan barangsiapa yang mengenal kuasa-Nya maka akan mengenal Rabb-Nya, sebagaimana dikatakan Rasulullah Saw, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” Dan kodrat diri ini tak lain merupakan fitrah Allah Swt yang disematkan kepada diri insan tertentu yang telah menegakkanad-diin dalam dirinya.

“ Maka tegakkanlah wajahmu kepada ad-diin secara hanif. Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah diin yang tegak, namun sebagian besar manusia tidak mengetahui.” (Q. S. Ar-Ruum [30] : 30).

Jika seseorang merealisasi fitrah dirinya, maka sebagaimana petala langit dan bumi ia hidup dalam energi minimalnya, dan akan mengalirkan suatu kekaryaan suci yang berguna untuk masyarakat. Apa yang ia lahirkan tak lain merupakan harta terpendam (kanzun makhfi)-Nya yang merahmati alam semestanya. Seorang insan yang telah berhasil merealisasi fitrah dirinya adalah seorang yang telah berhasil menegakkan ad-diin dalam dirinya, dan ini berarti ia telah berjalan dalam shirath al-mustaqim-nya.

Semakin seorang hamba bertaqwa, maka fitrahnya akan semakin teridentifikasi melalui mekanisme petunjuk yang senantiasa Allah berikan dalam hidupnya.

“Kitab (Al Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa

..yaitu mereka yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS Al Baqarah [2]: 2, 5)

Penutup

Demikianlah paparan singkat dan sederhana, sekedar ikhtiar menyambungkan khasanah yang terjalin indah dalam Al Qur’an, bahwaIman yang mempersyaratkan berserah diri( islam), merupakan modal untuk melakukan shaum dengan derajat khususul khusus. Dengan shaum berkualitas seperti ini ketaqwaan akan terbangun dalam diri seseorang, untuk suatu tujuan yaitu menemukan fitrah (kodrat diri) masing-masing.

Mari kita memperbaiki setiap aspek ibadah lahir dan batin dalam bulan Ramadhan ini, karena saat setan-setan dibelenggu realtif lebih mudah untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwat. Tiada lain agar iman dan taqwa kita menjadi lebih kuat tidak hanya pada saat Ramadhan, tapi juga pada bulan-bulan selanjutnya, insya Allah. Dengannya semoga Allah mudahkan jalan ketaqwaan kita dalam menemukan shiraathal mustaqiim yaitu kodrat diri masing-masing dan memperkuat pijakan kita di dalamnya.

Sebagai kata penutup, izinkan saya mengutip kata-kata indah Imam Khomeini, semoga bermanfaat menguatkan hati kita dalam jalan ini. Aamiin

Fitrah itu adalah fitrah untuk memalingkan wajah guna menatap Kekasih Mutlak; dan Ia tak berubah. Sesungguhnya tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Ia adalah kecenderungan untuk mencari ma’rifah (pengetahuan tentang) Allah. Sampai kapan engkau akan menyia-nyiakan cinta fitri yang dilimpahkan Allah dengan mencintai sembarang kekasih karena khayalanmu yang sesat? Jika obyek cintamu adalah keindahan-keindahan tak sempurna, dan kesempurnaan-kesempurnaan yang terbatas, maka mengapakah api cintamu tak mereda setelah mencapainya dan mengapakah api cintamu semakin berkobar untuk mencapainya? Kini bangunlah dari tidur nyenyak yang membuatmu lupa, sambutlah kabar gembira ini, bergembiralah karena engkau memiliki seorang kekasih yang tanpa ketaksempurnaan, tanpa cacat, tanpa batas. Cahaya yang kau cari adalah Cahaya yang sinarnya menerangi alam semesta.

Referensi

  1. Al Qur’an dan Terjemahnya. Penerbit Darus Sunah. 2002
  2. Soleh. A Khudori. Puasa, Antara Shaum dan Shiyam. http://www.scribd.com/doc/4857963/Puasa-Antara-Shaum-dan-Shiyam
  3. Dahlan. MD. Perjalanan Bangsa Kembali ke Fithrah Melalui Shaum Ramadhan.http://islamiccenter.upi.edu/wp-content/uploads/2011/03/PERJALANAN-BANGSA-KEMBALI-KE-FITHRAH-MELALUI-SHAUM-RAMADHAN.pdf
  4. Tanuwijaya, Zamzam AJ. Catatan Materi Serambi Suluk. Yayasan Islam Paramartha. 1998
  5. Imam Khomeini. 40 Hadis Nabi saw, telaah atas Hadis-Hadis Mistis dan Akhlak
  6. “Fasting,” Microsoft® Encarta® 98 Encyclopedia. © 1993-1997 Microsoft Corporation.
  7. Tanuwijaya, Zamzam AJ. Struktur Insan Dalam Al Qur’an dan Hadis: Misykat Cahaya-Cahaya. Yayasan Islam Paramartha. 1998
  8. Tanuwijaya, Zamzam AJ. Yahdin Kuswandani. Shalat dan Transformasi Fitrah Diri. Yayasan Islam Paramartha. 2004
  9. Soetomo, Herman. Kalimah Taqwa: Pohon Taqwa. Pengantar Mengenal Tashawwuf. Paramartha International Center for Tashawwuf Studies (PICTS). 2002
  10. Soetomo, Herman. Kalimah Taqwa: Cahaya Iman. Pengantar Mengenal Tashawwuf. Paramartha International Center for Tashawwuf Studies (PICTS). 2002
  11. Imam Al Ghazali. The Inner Dimension of Fasting. http://www.tasawwuf.org/basics/ghazali_fasting.htm
  12. Imam Al Ghazali. Minhajul ‘Abidin. Terjemahan KH Abdullah bin Nuh. Penerbit Yayasan Islamic Center Al-Ghazaly. Januari 1994. Hal 120-121.

  READ MORE >>   Ramadhan 2011, diary ramadhan