READ MORE >>   Ramadhan 2011, diary ramadhan

Diary Ramadhan edisi 3 Ramadhan 1432H
Oleh :
Puri Handayani

Pada saat saya kecil, ibu saya yang bekerja sebagai guru SD sering membawa saya ke sekolah karena tidak ada pengasuh yang betah lama mengasuh saya. Begitu juga saat lik Karep yang mengasuh adik juga menikah dan tidak ada gantinya, kami berdua selalu dibawa ibu ke sekolah. Nah tempat teraman untuk menaruh saya dan adik saat ibu mengajar atau rapat adalah perpustakaan. Kebetulah ibu memang diberi tugas mengelola perpustakaan itu. Sebenarnya sih saya dan adik lebih suka bermain di halaman sekolah. Tetapi nampaknya ibu jadi tidak tenang mengajar kalo saya dan adik bermain diluar, karena sering kali terjadi hal-hal yang tak terduga seperti kami menemukan silet, bermain-main dengan silet tersebut dan akhirnya adik harus dibawa kerumah sakit karena jarinya berdarah-darah.

Di perpustakaan selain kami bebas memilih buku untuk dibaca dan dilihat-lihat, saya dan adik juga diberdayakan oleh ibu untuk memberi stempel pada buku-buku itu dan juga menata buku-buku itu di rak yang disediakan. Saat itu sih rasanya biasa-biasa saja, saya senang berlomba dengan adik siapa yang lebih banyak memberi stempel dibuku dan siapa yang paling rapi menyusun buku. Hasilnya pun bisa ditebak, ibu sebagai juri tunggal akan selalu memenangkan adik karena kalo tidak adik akan menangis. Meskipun dibelakang adik, ibu akan memberi kompensasi atas kesediaan saya mengalah pada lomba tersebut. Setelah besar saya baru menyadari betapa beruntungnya kami saat itu punya akses ke perpustakaan sekolah dengan mudah dan dibiasakan oleh ibu untuk berteman dengan buku. Meskipun sederhana dan buku-bukunya terbatas, tetapi cukup banyak buku bagus yang bisa kami baca. Anggaran keuangan ibu pun bisa disalurkan untuk membeli buku-buku yang tidak ada diperpustakaan sehingga lebih banyak buku yang bisa kami baca.

Buku yang paling saya senangi adalah buku cerita anak. Meskipun ibu juga berusaha menyemangati untuk membaca buku yang berisi pengetahuan umum atau ilmiah, tetapi tetap yang paling saya nikmati adalah membaca cerita anak. Sampai sekarang masih ada buku cerita yang saya ingat isinya meskipun judul dan nama tokohnya sudah lupa.

Salah satu buku yang saya baca saat itu adalah cerita tentang orang bodoh yang pergi mencari ilmu. Alkisah orang bodoh ini tinggal di desa dan sangat miskin. Pada suatu malam dia bermimpi ditemui orang tua yang memberi nasehat agar dia belajar kepada orang besar di kota. Hanya dengan cara itu lah dia bisa mengubah hidupnya yang miskin sengsara menjadi kaya dan bahagia. Karena kehidupan didesanya memang tidak memberikan harapan apapun, maka si orang bodoh ini memutuskan nekat mengikuti mimpinya. Pergilah dia ke kota mencari orang besar di kota. Karena sangat bodoh, dia tidak tahu apa yang dimaksud dengan orang besar. Setelah keliling-keliling kota dia tidak menemukan orang yang besar seperti dalam angan-angannya. Sampai akhirnya dia melihat gajah di depan istana kerajaan. Saking bodohnya dan belum pernah melihat gajah dia berfikir inilah orang besar. Maka mulailah dia mengabdi pada gajah itu, membersihkannya, mengelus-elus kakinya dan menyediakan makanan untuknya, berharap akan ada ilmu yang bisa dia pelajari. Orang-orang mengejek dia dan menganggapnya orang gila karena mengabdi pada gajah. Penjaga gajah pun berusaha mengusirnya.Tetapi dia tidak peduli dan menganggap gajah itulah yang dimaksud sebagai orang besar dalam mimpinya, sampai akhirnya orang tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukannya.

Karena setiap hari dia membersihkan dan merawat gajah itu dengan sabar, lama-lama gajah itu pun menjadi jinak dan mudah dikendalikan olehnya. Hingga suatu hari pada saat gajah itu tiba-tiba ngamuk, si orang bodoh itu lah yang akhirnya berhasil menenangkannya. Karena keberhasilannya menenangkan gajah itu, sang raja kemudian memanggilnya. Dia ditanya ingin hadiah apa. Si orang bodoh ini bilang dia tidak minta apa-apa, dia hanya ingin belajar pada orang besar ini saja. Untungnya si raja cukup bijaksana memahami kebodohan orang tersebut. Raja pun mengijinkan dia untuk “belajar” pada gajah tersebut. Selain itu, raja juga mengirim guru-guru ke kandang gajah agar bisa mengajarkan ilmu kepada si orang bodoh tersebut. Pada awalnya si bodoh tidak tahu dan tidak suka dengan tidakan raja mengirim orang untuk mengajarinya ilmu. Tapi karena takut menolak perintah raja dan takut tidak diijinkan “belajar” pada gajah lagi dia pun menurut. Mulailah dia belajar pada guru-guru tersebut. Si bodoh pun lama-lama menjadi pintar dan menyadari kekeliruannya. Bukan gajahlah orang besar yang dimaksud dalam mimpinya, tetepi guru-guru yang bisa mengajarkan ilmu kepadanya.

Waktu saya kecil cerita itu hanya sebuah cerita anak saja, begitu selesai dibaca segera saya lupakan karena saya sudah berganti membaca cerita lain. Tetapi cerita sederhana tersebut malah bisa menghibur saya pada saat ini. Pada saat saya merasa susah payah mencari ilmu dan sering kali salah arah. Pada saat sudah capek mengerjakan sesuatu tetapi akhirnya saya sadar yang saya kerjakan itu tidak penting bahkan mungkin tidak perlu. Pada saat saya menyadari kesalahan yang saya lakukan dan kemudian menyesal mengapa saya memilih cara ini dan bukan cara lain yang benar dan efektif. Dalam keadaan susah payah meloloskan diri dari jeratan thesis yang tidak selesai-selesai ini, cerita si bodoh yang sederhana itu ternyata bisa mengingatkan saya untuk tetap sabar dan bisa menghibur diri. Mungkin memang saya harus salah dulu agar bisa belajar dari kesalahan tersebut dan akhirnya menemukan jalan yang benar. Meskipun kadang kala masih menggerutu dan berandai-andai jika saya diberi petunjuk yang benar dari sejak awal mungkin tidak akan banyak waktu dan tenaga yang terbuang. Tetapi cerita si bodoh yang berusaha belajar pada orang besar tersebut memberi satu keyakinan pada saya meskipun berputar-putar jalannya dan sering kali salah, saya yakin pada akhirnya akan bisa menemukan apa yang saya cari.

  READ MORE >>   Ramadhan 2011, diary ramadhan