READ MORE >>   Ramadhan 2011, diary ramadhan

Diary Ramadhan edisi 1 Ramadhan 1432H
Oleh: Wahono

Jama’ah?

Ye e….

Oo jama’ah?

Ye e….

Alhamdu..lillah…

(Ust. Nur Maulana)

Minimal kita baca 17 kali surat Al Fatihah dalam sehari. Di akhir ayat pertama, dan juga ayat ke-tiga tersurat Ar Rahman, Ar Rahim.

Ada kisah yang menarik (setidaknya untuk saya).

Seorang teman bertanya kepada temannya, sebutlah A dan B.

Kalau Allah memiliki sifat Ar Rahman (Maha Pengasih) dan Ar Rahim (Maha Penyayang), mengapa di dunia ini masih banyak penderitaan, penindasan, dan kemiskinan?

Tidakkah Allah Maha Kuasa atas segala itu dan dapat mengubahnya menjadi kebahagiaan, kecukupan, kesejahteraan? Di manakah letak adilnya Allah?

Kemudian mendengar pertanyaan rekannya ini, B cukup keras memacu kerja glutamate dalam otaknya. Awalnya B bercerita mengenai hakikat penciptaan manusia yang oleh Allah diabadikan dalam Al Qur’an

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat. (Q.S. Al Insan [76]:2)

Inilah sebenarnya hakikat penciptaan manusia. Allah Yang Maha Agung hendak menguji setiap manusia denagn keadaan yang ia alami, baik keadaan yang menyenangkan ataupun menyusahkan. Bukankah Allah membekali manusia sesuatu yang amat berharga yang untuk digunakan sebagai alat ‘survival’ dalam berbagai situasi hidup yang dialaminya? Allah telah memberinya akal. Ayat di atas menyebutkan karena itu Kami Jadikan ia mendengar dan melihat. Bukankah akal akan bekerja dengan input pendengaran dan penglihatan? Data yang masuk melalui pendengaran dan penglihatan akan dicerna melalui akal dan kemudian ia akan memutuskan langkah apa yang akan ia ambil untuk menghadapi apa yang sedang dialaminya. Jika yang ia lihat dan dengar dapat menjadikan dirinya sedih, maka ia berusaha untuk mengatasinya, pun ketika ia merasa kekurangan, demikian seterusnya.

Kalau kita lanjutkan lagi ayat tadi

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur (Q.S. Al Insan [76]:3)

Allah menciptakan hati nurani bagi manusia, sesuatu yang dipenuhi nilai Ilahiah. Sains saat ini mulai meraba dan menyebutnya sebagai God spot. Sesuatu yang dapat menuntun jalan yang Allah ridhai. Namun, mengapa banyak orang yang tersesat walaupun ada hati yang dipenuhi dengan nilai Ilahiah? Hal itu disebabkan karena ia tidak dapat menerjemahkan sinyal-sinyal ilahiah itu. Ia selalu menutup hatinya untuk memahami. Ego dirinya lebih kuat dari keinginan untuk menerima kebenaran. Merujuk kepada surat Allah kepada kita semua

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkan sesat dengan sepengetahuanNYA? Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang dapat memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (Q.S. Al Jatsiyah [45]:23)

Tentu kita ingat ayat yang mengisahkan saat Allah SWT menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ruhKU kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S. Al Hijr [15]:29)

Dalam tafsir Al Mishbah karya Prof. Quraish Shihab, Allah menyuruh malaikat untuk bersujud kepada ruhNYA yang ada pada manusia (Adam as), bukan kepada bentuk manusianya. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa manusia itu memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah karena ada ruh Allah SWT di dalam dirinya. Unsur ini tidak ditemukan pada iblis dan jin. Unsur ruh ini yang mengantarkan manusia lebih mampu mengenal Allah SWT, beriman, berakhlak baik, dan berperasaan halus. Dengan demikian, Allah tekah memilih manusia untuk menjadi khalifahnya di muka bumi ini. Hal yang pada mulanya bahkan dipertanyakan oleh para malaikatnya.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan mebuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Allah berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Q.S. Al Baqarah [2]:30)

Mungkin ada yang pernah mendengar nama Dr. Jeffrey Lang, mualaf asal Amerika yang menulis buku Even Angels Ask yang sudah dialihbahasakan menjadi Bahkan Malaikat pun Bertanya; menyimpulkan bahwa manusia diberi oleh Allah sesuatu yang tidak ada pada malaikat, yaitu hati dan akal.

Jadi kenapa Allah seolah-olah membiarkan kemiskinan, penderitaan, dan penindasan itu terjadi adalah karena semua itu tak lain merupakan bagian dari hakikat penciptaan manusia itu sendiri. Allah SWT ingin mengujinya dan Allah telah memberinya akal dan hati untuk bias survive dalam kehidupannya. Kemampuan ini tidak dimiliki makhluk lain.

Untuk pertanyaan yang ke-dua, di mana letak adilnya Allah?

Mungkin A lupa kalau hakikat dunia bukan tempat meraih hasil. Tersurat dalam Al Fatihah yang kita baca 17 kali itu, maaliki yaumiddin yang artinya (Allah) Yang Menguasai hari pembalasan. Bukankan pembalasan sejati itu di akhirat kelak? Kita baru dapat mengatakan seseorang telah berbuat adil kepada kita jika apa yang dilakukan telah mendapat balasannya. Bagi seorang pekerja, ia akan berkata majikannya adil jika majikan telah membayarkan upah sesuai dengan beban yang ia kerjakan. Dapatkah kita katakan Allah tidak adil saat di dunia ini, sementara hasil dari amal shalih kta belum mendapat balasan yang sempurna? Kalaupun ada, balasan itu baru sedikit sekali dan hanya kita sebut sebagai panjer atau DP, karena dunia ini bukan tempat menuai hasil yang sempurna.

Allah mengibaratkan hubungan dengan hambaNYA seperti hubungan jual beli atau tijarah yang termaktub dalam Q.S. Ash Shaff (61) ayat 10. Dala hal ini yang dimaksud bukanlah jual beli tunai karena jual beli tunai tidak memerlukan sikap saling percaya. Sebagai contoh, jika kita bertransaksi tunai, tidak perlu ada kepercayaan antara penjual dan pembeli. Asalkan tercapai kesepakatan atas kualitas barang dan harga. Tapi jika si pembeli ingin mencicilnya, si penjual membutuhkan DP atas kesungguhannya, karena itu diperlukan saling percaya dan saling menghormati. Kepercayaan inilah yang disebut dengan keimanan kepada Allah. Saat ini, di dunia, kita diperintahkah pada banyak hal dan dilarang dalam beberapa hal oleh Allah dengan sabar dan ikhlas. Jika tak ada keimanan di hati kita, bisakah kita melakukannya?

Coba kita bayangkan jika si miskin dengan do’anya tiba-tiba kaya,yang kaya karena dido’akan oleh si miskin langsung jatuh miskin. Yang sakit tiba-tiba sembuh, yang terbunuh tiba-tiba hidup kembali dan membunuh orang yang membunuhnya, yang bersedekah langsung dibalasi dengan berlipat ganda di dunia ini dengan sempurna, seorang pengendara motor yang menyalip mobil langsung terjatuh karena dido’akan celaka oleh pengendara mobil. Bukankah kacau jadinya. Coba kita tonton film Bruce Almighty.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah ini yang disebut dengan adil? Jika semua ganjaran dari segala usaha kita balasannya di dunia ini, justru hakikat dunia sebagai tempat ujian menjadi tidak berlaku lagi. Dan yang sangat tidak adil bahkan tdai mengenakkan yaitu balasan di dunia hanya bersifat sementara, karena umur manusia pun sementara. Hampir dapat dipastikan, keimanan kita secara perlahan akan memudar karena segala bentuk ibaah kita hanya mengharapkan balasannya di dunia ini saja. Keikhlasan untuk berikhtiar karena Allah semata luntur dan terasa manisnya lagi. Taqwa hanya tinggal nama. Kita menjadi manusia-manusia yang hanya mengukur segalanya dari balasan yang diperoleh di dunia ini dan bersifat materi.

  READ MORE >>   Ramadhan 2011, diary ramadhan