READ MORE >>   Intriguing Idea

Ibu saya dan PKS

Pagi pagi telpon nyokap di palembang… cerita sana sana, eh nyangkut ke masalah pilpres….usut punya usut,

ternyata doi juga pilih PKS.. nah lohhhh.. kirain dia pilih PAN,gubrak dehhh….cuma, katanya, sambil berkeluh kesah, kok kayaknya PKS susah banget dalam menentukan sikap untuk mendukung capres, menurut dia (setelah baca-baca republika tentunya) ternyata ada tarik menarik kepentingan di tingkat atas pimpinan PKS untuk mengambil keputusan antara mendukung amin rais dan wiranto…. kata ibu saya lagi, bukankah, karena ketegasan anak-anak muda pengusung PKS inilah beliau nyoblos PKS april lalu, namun, begitu melihat kenyataan yang ada sekarang, ibu saya, menarik kesimpulan….

Yaaaah nak, ternyata segitu gitu aja kualitas mereka…ternyata, contoh dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak lah cukup kuat manakala dihadapkan dalam dilema politik.

wahh.. mak, nggak bisa gitu, kata saya, mungkin aja para pimpinan atas PKS harus ekstra hati hati dalam menentukan pilihan, sebab, apapun keputusan yang mereka ambil nanti, pasti berimbas pada pilihan massa nya….saya bilang gitu ke emak sayaa….

wahh.. kata emak saya, yang dia baca di republika itu lain.. katanya bener bahwa PKS belum menentukan pilihan… wahh wahh.. ngotot juga emak sayaa…saya pikir, ahh mungkin ini media blow up… apa mungkin…..

akhirnya, ngomong ngolor ngidul… terhentilah diskusi kilat saya via telpon…

mak.. emak.. adaada ajaa.. seriusss bangettttt……dalam hati saya berujar…

but, nggak cuma sampe di situ, hari ini, di kampus, saya baca baca koran, termasuk republika, trus, saya klik rubrik resonansi, ehh pas kebetulan, tajuk tulisan zaim uchrowi, yang judulnya, PKS memenangkan hari nurani…saya trus baca, dan sampai pada penggalan paragraf :

“===== Zaim uchrowi, resonansi Republika

Persoalan baru muncul menjelang pemilihan presiden 5 Juli ini. PKS tak segera menentukan sikap hendak mendukung siapa. Sebagian besar konstituennya menginginkan partai ini mendukung Amien Rais. Ia calon presiden paling religius, paling ”bersih”, serta paling intelektual. Hal yang memang menjadi landasan PKS selama ini. Namun, sebagian lain memilih Wiranto. Bahkan, peran Amien sebagai pembuka gerbang reformasi tak cukup menarik buat mereka. Mereka ingin presiden yang ”kuat” serta paling berpeluang mengakhiri rezim Mega. Mereka menggambarkan Wiranto seperti Khalifah Umar bin Khattab.

Penggambaran yang membuat banyak orang tercengang. Tarik-menarik jelas tak terhindarkan. Hal itu tentu mengecewakan sebagian pendukung PKS sendiri. Sosok seperti Ratih Sang bahkan tak menutupi sikapnya. Konon ia tak ragu pergi bila partai tak lagi sesuai dengan visi yang ia yakini. Yang lebih bermasalah lagi, keputusan tak kunjung keluar. Di saat pusat mempertarungkan Amien-Wiranto, sebagian pendukung pinggiran PKS menengok SBY yang justru tak direkomendasikan. Bagi masyarakat tradisional, sosok besar SBY memang figur pemimpin ideal karena ”berwibawa”.

Sebagian kalangan PKS membela ketidakjelasan itu. ”Langkah partai sudah benar, kita perlu hati-hati,” katanya. Bisa jadi ia benar. Sayangnya batas antara hati-hati dan tidak mampu mengambil keputusan sangat tipis. Partai berbeda dengan gerakan dakwah dan sosial. Sekadar kebaikan hati dan ideologi tak mencukupi. Partai adalah juga kumpulan kepentingan. Perlu sistem efektif yang mampu menjembatani atau menetralisasi kepentingan pribadi. Sistem itulah yang hingga kini belum cukup dipunyai PKS yang ternyata masih berkultur paguyuban ketimbang patembayan.

===bla..bla..bla….

akhirnya, saya pun paham, dakwah amar ma’ruf dan nahi mungkar yang dipraktekkan oleh individu-individu PKS tidak lah cukup kuat manakala dihadapkan pada kepentingan politik…

ternyata…seperti halnya emak saya, saya pun kecut..sebab, walopun salah salah coblos, saya sempet nusuk PKS… (setelah nusuk logo PAN )

kalo gitu, hidup mbak puri… hidup golput…

prettige avond allemal

ican

  READ MORE >>   Intriguing Idea