READ MORE >>   Renungan & Hikmah

Coretan ini terinspirasi dari dialog yang dibangun oleh mas Amal dengan anak-anak dan tulisan John Don’t nya mbak Agnes, serta sebagian kandungan khotbah Jum’at yang disampaikan oleh khatib (Ustadz Mustafa) di Masjid Selwerd pekan ini. Lo..judulnya kok jadi seperti di atas ?.
Keseharian Safira dan Rehan di nukil dalam sebuah situs yang kadangkala berupa dialog kecil dipicu oleh pertanyaan keingintahuan sang anak terhadap berbagai hal. Fenomena alam dan perilaku yang baru saja dikenal mereka, membuat banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Sehingga sang Bapak seringkali memutar otak mencari jawaban yang “pas” serta tidak sekenanya. Karena tentu saja jawaban yang didengar mereka akan terpatri dalam ingatan sehingga kalau hal yang menyangkut konsep, bisa jadi lahir menjadi sebuah keyakinan. Tentu proses ini tidak akan timbul seketika dengan satu-dua pertanyaan saja namun berkesinambungan di saat-saat waktu tumbuh berkembangnya sang anak.

Mbak Agnes dalam tulisannya di koran PR dan disalin ulang di café degromiest mengungkapkan bahwa kata-kata “jangan” yang selalu dilontar kepada sang anak bisa berdampak kurang baik bagi perkembangan emoasi sang anak. Bisa jadi menghilangkan sikap kritis dan kreatif. Bukan berarti pula bahwa kita membiarkan begitu saja semua yang diungkapkan dan yang dikerjakan sang anak sehingga mereka akhirnya tidak bisa membedakan mana yang seharusnya dilakukan sehingga melahirkan kebaikan dan mana seharusnya yang mereka pahami sebagai sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan. Bangunan komunikasi yang pas bagi anak-anak pada saat umur-umur berkembangnya sangat menentukan “warna” (atau bisa disebut celupan = sibghah, Arab) sang anak kelak nanti diusia meraka dewasa.
Itu baru dua contoh saja dari “pernik-pernik” proses pembinaan anak yang kalau kita bisa memahami dengan baik akan berakibat baik juga kepada hasilnya. Sebagai orang tua yang punya anak “seumur itu” saya sangat ingin belajar dari berbagai cara pandang, terutama dari segi psikologi anak (Sepertinya bu Ike perlu ngasih training kepada kita-kita nih). Dan saya melihat sisi praktisnya juga tidak mudah karena berhadapan dengan berbagai aspek, termasuk juga emosi orang tua saat berkomunikasi dengan anak. Misalnya, di saat kondisi orang tua sedang baik-baik rasanya sangat mudah mencari kata-kata yang tepat dalam menjawab atau menyampaikan sesuatu, namun kadangkala disaat-saat sibuk dan tegang bisa jadi kata-kata “jangan” akan mudah keluar.
Siapapun orang tuanya tentu berharap anak-anaknya menjadi pintar, cerdas, shaleh dan shalehah. Orang tau akan menjadi bahagia tiada tara kalau anaknya berhasil dalam berbagai aspek. Setidaknya keberhasilan yang bisa diukur dengan kasat mata manusia, misalnya anak pintar bisa diukur dengan hasil proses pendidikan, perilakunya juga bisa diukur dengan bagaimana cara berinteraksi, dan keshalehannya yang bisa dilihat dengan cara memelihara ibadahnya serta yang lain-lain. Orang tua akan bahagia kalau anaknya menjadi juara dikelas, dekat dengan Allah dalam segala aktifitasnya. Bagi saya tentu masih cukup lama sampai Fathiya dan adiknya mencapai umur baligh sehingga parameter-parameter tersebut bisa terukur.
Ustadz Mustafa dalan khotbahnya Jum’at kemaren mengungkapkan bahwa, keluarga adalah amanah yang diberikan Allah kepada kita, isteri/suami adalah amanah, anak-anak juga amanah. Kita adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawabkannya kelak. Demikian sedikit dari beberapa ungkapan khotbah yang bisa saya tangkap. Karena dalam bahasa Arab maka tidak bisa mengerti sepenuhnya. Minimal sebagai pemimpin diri sendiri, kita akan diminta pertanggungjawabanya bagaimana me”manage” diri dalam menjalankan fungsi kita sebagai makhluk Allah SWT. Sebagai orang tua, punya amanah untuk mendidik anak-anak sehingga pada saatnya nanti juga sebagai pemimpin bagi dirinya dan itu akan dipertanggungjawabkan nanti.
Terkadang ada perasaan “khawatir” dalam diri. Sebagai orang tua dari Fathiya dan Nurul yang masih lucu-lucunya saat ini, setiap apa yang dilakukan mereka adalah sebuah pandangan yang enak diperhatikan, bahkan dalam kondisi menangis sekalipun. Bukan berati tidak ada yang membuat saya sebagai orang tua menjadi tidak sabar, jelas ada. Tapi saya lebih menilainya sebagai kekurangarifan saya dalam menyikapinya, karena memang mereka masih kanak-kanak. Akan seperti apa mereka kelak ketika dewasa ? Ini yang membuat saya terkadang “khawatir” kalau gambaran saat itu nanti tidak seperti yang saya harapkan sebagai orang tua. Namun bukan merupakan kekhawatiran terhadap ketentuan Allah SWT yang telah ditetapkan. Khawatir kalau peran saya sebagai orang tua yang secara SunatuLLah mempunyai andil besar dalam membinanya tidak sebaik yang seharusnya saya lakoni. Dan seperti ungkapan khatib Jum’at di atas bahwa itu akan dipertanggungjawabkan kelak di sisi Allah SWT. Konsekwensi “pertanggungjawaban” ini, sebenarnya lebih merupakan “warning” di awal, sehingga sebagai orang yang diberikan amanah, kita selalu mempersiapkan diri secara matang sehingga mampu menjalankan amanah itu dengan baik. Salah satu do’a yang diambil langsung dari ayat al-Qur’an yang berbunyi “Rabbana hablana min azwajina, wa zurriyatina qurrata a’yun, waj’alna lil muttaqina imama” mungkin akan mengurangi kekhawatiran saya tersebut. Semoga Allah menjadikan pasangan, dan keturunan enak dipandang mata (qurrata a’yun) dan menjadi orang-orang muttaqin.
Amanah dan pemimpin pada contoh keluarga seperti di atas adalah miniatur dari kehidupan bermasyarakat, generasi berikutnya yang akan menggantikan generasi sekarang sangat menentukan bagaimana “warna” masyarakat pada waktunya mereka mendapatkan amanah kepemimpinan. Keterpurukan Indonesia saat ini jamak diketahui sebagai olahan pemimpin yang tidak amanah dari semua level. Sudah sepantasnya semua masyarakat memahami dengan betul bagaimana menjadi amanah dari kepemimpinan yang diemban. Sekali lagi.. kepemiminan dari skala kecil sebagai pemimpin bagi diri sendiri, pemimpin keluarga, pemimimpin apa saja. Pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya, tatkala gagal dalam amanah ini maka dampaknya bukan hanya untuk diri sendiri. Sebaliknya kalau kepemimpinan berhasil maka akan dirasakan oleh semua orang. Dan Indonesia saat ini, dengan kondisi seperti ini, butuh pemimpin yang betul-betul amanah bukan hanya sekedar retorika…
Demikian coretan singkat ini, yang kalau diperlebar masing-masing bagiannya akan bisa dijadikan topik tulisan lagi, dan biarlah sebagai “uitnodiging” (undangan) coretan saya bagi yang lain agar membagi ilmunya kepada kita semua, bahkan mungkin sampai pada tahapan praktis.
Semoga bermanfaat bagi saya dan kita semua….

Wallahu ‘alam

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah