READ MORE >>   Renungan & Hikmah

Karena promosi yang gencar dan pengaruh teman-teman di sekolah, href="http://coretmoret.web.id/fs/">kedua anak begitu
mengidam-idamkan BeyBlade.
Setelah dibelikan, keduanya antusias beradu gasing (yah, demikian
disebut oleh Oom Wangsa).

Sampai pada hari Minggu pagi, salah satu ujung Beyblade, berupa
sepucuk kecil logam, lepas dan hilang. Bisa dibayangkan betapa panik
pemiliknya. Dicari di lokasi pertandingan gasing di seluruh penjuru
rumah, tetap tidak ditemukan. Sampai zak penghisap debu terpaksa
dibongkar untuk memastikan barang sangat kecil tersebut tidak
tersedot di dalam. Tidak ditemukan juga!

Sampailah mereka pada “cara alamiah” yang sering dilakukan menjelang
tidur, Ya Allah, mudah-mudahan lancip-lancipan itu
ketemu.
Keduanya berdoa sambil bertanya, Pak, boleh kan
berdoa minta agar lancipan ketemu?
Tentu saja boleh.

Namun sampai sore berdoa kok barang kecil itu belum ketemu juga?

+ Allah tahu di mana lancipan itu?
- Tentu tahu, dong.
+ Kalau begitu, di mana, Pak?
- Lho, bapak kan bukan Allah.
He… he… semua tertawa. Tapi masih berharap cemas,
+ Apakah Allah mendengar Rayhan?

Karena sampai sore belum ditemukan juga, saya harus memberikan
penjelasan yang lebih mendalam dan dapat diterima (tentu saja juga
harus siap-siap menerima pertanyaan balik yang dapat
“mencemaskan”…).
+ Kenapa Allah belum menunjukkan lancipan itu?
- Nanti kalau sudah waktunya, kalian akan dapat menemukannya
juga.
+ Tapi mengapa Allah tidak ngomong sekarang dan aku dengar?
Sambil dipikir…
+ Tapi bagaimana Allah ngomongnya?
(Soalnya sebelumnya mereka memperoleh penjelasan bahwa cara Allah
itu kalau mau “ngomong” kepada Nabi lewat malaikat dan malaikat itu
“tidak kelihatan”. Kesimpulannya: Dedek takut kalau ada suara
“ngomong” tapi tidak kelihatan orangnya…)

Keluarlah penjelasan itu…
Kalau memang lancipan itu tidak ditemukan, ya sudah… besok beli
lancipannya saja di toko mainan. Jadi begini, kalau orang bisa
melakukan sendiri, misalnya dengan membeli atau membuat, maka
lakukan saja sendiri.

+ Tapi, wens (berdoa) boleh kan, Pak?
- Boleh. Berdoanya terus saja, nanti kan bapak juga bisa bantu
dengan membelikan di toko. Tidak apa-apa berdoa dan membeli.

Persoalan itu sudah selesai. Entah apa yang ada di pikiran
anak-anak, yang jelas acara besok siang setelah pulang dari sekolah
adalah beli lancipan Beyblade. Sempat terpikir untuk dibelikan
sendiri pada saat mereka sedang sekolah, namun karena sibuk mengurus
keperluan lain paginya, sudahlah nanti siang beli bersama sepulang
mereka sekolah. Pikiran “rasional” saya mengakhiri kasus ini dengan
“membeli di toko” dan biarlah mereka tidak kehilangan sense
untuk tetap berdoa.

Benarlah sepulang dari sekolah saya langsung ditagih untuk segera
berangkat. Oke, siap-siap dulu. Ambil kunci sepeda, memasukkan
dompet, dan… sesaat sebelum membuka pintu mengambil remah-remah di
dekat bangku kecil: ujung lancip Beyblade ada di situ!

Kijk allemal, ik heb gevonden!
Oohhhhhh! Semua menjerit histeris.
Si bungsu langsung berkata, tanpa dipikir lagi, Pak, Allah kok
cepat dengernya… Cepat ya, Pak?

Seperti setengah percaya, setengah takjub.

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah