READ MORE >>   Intriguing Idea

Coretan ini terinspirasi dari fenomena di tanah air yang disampaikan Unchu Dije beberapa waktu yang lalu, juga teringat email mas Taufik Budiarjo, sudah agak lama memang. Mas Taufik mengungkapkan “kebingungannya” terhadap seorang pengusaha yang mengeluh bahwa pajak yang dibayarkan di korupsi setengahnya oleh oknum petugas pajak. Kemudian “pengusaha” ini disarankan untuk melaporkan kejadiannya ke polisi, namun sipungasaha enggan melakukan itu karena pajak yang dibayarkan juga sudah “disimpan” setengahnya dari jumlah total yang harus di bayar. Ha..ha…, jadi tambah bingung. Pesan yang dapat ditangkap dari ungkapan tersebut bahwa betapa korupsi sudah “menggurita” dalam kehidupan bangsa Indonesia, mulai dari tingkatan yang kecil sampai ke level yang sangat besar, sehingga setiap tahun survey yang dilakukan terhadap Negara-negara terkorupsi selalu menempatkan tanah air kita pada posisi atas

Tentunya coretan ini tak bermaksud menambah bingung, ya…sebut saja sebagai “gugatan ringan” atau apalah namanya. Dan bukan juga ditujukan untuk menambah panjang deretan tulisan-tulisan yang sebenarnya banyak orang sudah memaklumi kandungannya. Namun sebuah asa (harapan), sekecil apapun dia terhadap perubahan signifikan dengan keterlibatan secara personal atau yang lebih besar secara bersama, dimanapun personal itu berada.
Beberapa waktu yang lalu saya dapat kiriman email dari beberapa milist berbeda
(walaupun saya sendiri belum tahu kepastian berita tersebut. Dan juga tidak tahu bagaimana realisasinya setelah lembaga ini dibubarkan) bahwa pesangon karyawan BPPN menyebut angka yang sangat wah, hampir 200 milyar. Oow, kalau nilai sebanyak
itu ditukar dengan uang kertas lima ribu rupiah dan disambung satu dengan lainnya, maka panjangnya bisa jadi menghubungkan ujung pulau Jawa bagian barat sampai ke timur. Tidak percaya? Coba saja hitung secara sederhana, uang kertas lima ribu rupiah yang berukuran lebih kurang 10 cm. Dengan jumlah 40 juta lembar, apabila dikalikan dengan ukuran 10 cm tersebut, berarti 400 juta centimeter, sama dengan 4 juta meter (4000 kilometer). Adakah panjang pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai ujung Banyuwangi sejauh 4000 km? …saya tidak tahu….Angka yang lebih fantastis lagi kalau dihitung dana-dana salah urus lainnya (baca: korupsi). Sebut saja Kasus Buloggate I dan II, Kasus BNI, BRI, Rekening 502, penjualan indosat, penebangan hutan liar dan sebagainya. Bagi yang pernah membaca buku kecil tentang korupsi di Indonesia yang ditulis oleh ketua BAPPENAS Kwik Kian Gie, maka akan geleng-geleng kepala, walaupun sebenarnya sudah mendengar berita-berita tentang korupsi pada banyak kesempatan. Saya sendiri masih ingat uang yang dilarikan Eddi Tansil senilai 1,3 trilyun beberapa tahun yang lalu, pelakunya tidak pernah tertangkap. Kalau disambung lagi uang kertas dari total yang dicuri itu maka akan tertutuplah semua jalan besar yang ada di seluruh pelosok tanah air ini. Bisa jadi bukan uang kertas lima ribu yang digunakan, tetapi senilai seratus ribu rupiah. Kalau dilakukan penelitian jumlah uang melayang itu, dan panjang total jalan-jalan besar di Indonesia, maka lagi-lagi akan tercatat dalam buku rekor dunia, bukan lagi rekor nasional (MURI), dengan judul “Jalan Uang Terpanjang di Dunia”. Menarik juga kalau saja uang-uang tersebut dipajang ditengah jalan. Namun saya yakin dengan hitungan detik sebahagian besar akan melayang lagi dengan berbagai sebab. Banyak sekali masyarakat miskin yang butuh makan terhampar di sisi-sisi jalan besar itu, tentu mereka sangat butuh uang tersebut.Lembar seratus ribu cukup mampu membuat mereka makan sekeluarga dalam seminggu.Sepersekian persen saja dari para koruptor itu insyaf, sadar dan bertaubat, serta mengembalikan uangnya kepada negara, akan mampu mengatasi kemiskinan yang sudah tambah parah di tanah air yang kaya raya ini. Tentu juga masaalah demam berdarah yang sekarang sedang mewabah di tanah air dan telah merenggut banyak nyawa anak-anak bisa diatasi, bahkan bisa dilakukan upaya preventif dengan cara menciptakan lingkungan bersih, sehingga nyamuk demam berdarah tidak bisa tumbuh. Dari sepersekian persen juga, banyak permasalahan lain bangsa yang akan dapat diatasi. Namun sayang karena tidak ada dari para penyamun itu yang insyaf, malah sebaliknya semakin banyak penyamun baru, mulai dari pusat sampai ke daerah, maka jadilah Indonesia tetap menjadi negara ironi. Ya, ironis, kaya namun punya hutang yang sangat banyak. Padahal hutang tersebut juga bisa ditutupi dengan sepersekian lagi dari dana hilang.
Sebuah nurani sudah hilang dihati, sehingga sensitivitas untuk merasakan penderitaan sesama sudah menipis, biarkan kaum dhuafa tetap dengan perjuangannya mempertahankan sesuap nasi dipagi dan petang, sementara diriku “bergelimang” dengan kemewahan, bahkan mungkin diperoleh dari cara “mengambil” bagian kaum dhu’afa itu.
Mungkinkah yang begini sudah mendarah daging bagi banyak orang di tanah air ?…bisa jadi lebih parah lagi. Seorang yang mencuri ayam dikarenakan tidak punya uang untuk makan, dikenakan hukuman beberapa bulan, atau bahkan sudah duluan dibikin babak belur oleh massa, sementara seorang yang mencuri dengan jumlah yang sangat besar dan dampaknya bisa saja membuat mati banyak orang, tetap saja lolos dari lubang jeratan hukum dan masih saja tetap eksis dengan kepala tegak….tapi tentu tidak dimata Allah SWT, tidak ada lubang sekecil apapun untuk lolos dari hisab (perhitungan) Allah SWT.

Seringkali terlintas dalam pikiran saya isi ceramah yang disampaikan oleh berbagai ustadz pada banyak kesempatan, bahwa takutlah kepada Allah SWT, karena dengan demikian akan menyelamatkan diri kita dunia dan akhirat, akan membuat hidup ini damai dan tentram. Karena tidak ada rasa takut pada Allah SWT, membuat orang bisa melakukan apa saja yang dikehendaki, karena mereka bisa menghindar dari pengamatan manusia. Tetapi sesungguhnya Allah SWT akan selalu melihat kita di manapun berada, apapun posisi kita dan sekecil apapun perbuatan kita.
Mungkin hanya hati nurani yang takut pada Allah SWT lah yang bisa membuat fenomena yang terjadi tanah air menjadi lebih baik, bukan hanya masaalah korupsi yang dikupas dalam coretan ini, namun juga permasaalahan moral yang sudah jauh dari nilai-nilai.

  READ MORE >>   Intriguing Idea