READ MORE >>   Parenting

Aku terkejut sekali, ketika anakku yang berumur 2 tahun, si Malik, bertanya “Ayah nyoblos apa?” Biasanya kalau di telepon dia lebih sering bernyani lagu anak-anak seperti Semut Hitam, Kelinciku, dan Burung Unta. Kali ini dia mulai bicara politik.

“Nyoblos moncong putih ya yah.”

“Hah? Kok moncong putih? Kalau Aik nyoblos apa?”

“Aik sama Mbak Lala nyoblos moncong putih yah. Ayah nyoblos apa?”

“Ayah nyoblos P**. Nyoblos apa Ik?”

“P**.”

Kemudian terdengar suara bundanya di telepon. Aku bertanya:

“Ma, kok anak-anak pada tahu moncong putih?”

“Gimana ndak tahu, iklannya gedhe-gedhe di TV. Tiap hari moncong putih aja yang terdengar lucu di telinga mereka dan mudah diinget. Pastilah mereka inget terus.”

“Terus, gimana pas coblosan? Mereka ikut?”

“Iya, terjadi keributan di bilik suara.”

“Keributan gimana?”

“Ya itu. Aku bertiga sama anak-anak di bilik suara. Mereka mau ikut nyoblos. Terus, setelah lembar suara dibuka, anak-anak langsung nunjuk si moncong putih. Mereka ribut dan keukeuh bilang:

‘Bunda, nyoblos yang ini aja. Moncong putih, bunda.’

‘Jangan, yang ini saja ya?’

‘Ndak bunda, yang ini saja.’

‘Iya bunda, yang ini saja, si moncong putih, lucu.’

“Terjadilah demokrasi kecil di bilik suara. 1 lawan 2. Tapi, ya tahu sendiri lah, siapa yang menang he.he..

‘Oke, Aik dan Lala boleh nyoblos. Ini pegang berdua alat nyoblosnya. Tapi yang dicoblos yang ini saja ya?’

“Dasar anak-anak, maunya yang mana, yang dicoblos yang mana.. ndak peduli mereka. Yang penting udah mengajukan pendapat dan udah nyoblos. Beres. Puas mereka.”

“Terus, kalau ditanya nyoblos apa, apa mereka bisa bilang, ma?”

“Iya, abis itu ditanya sama orang-orang:

‘Aik nyoblos apa?’

‘Aik nyoblos Partai ********’

“He..he.. udah deh, ndak rahasia lagi.”

“Ha..ha.. iya ma. Tapi bagus juga mereka. Bisa membedakan mana yang disukai dan mana yang bener-bener dicoblos.”

Pikirku, hebat ya, pengaruh iklan. Coba kalau pemilihnya anak-anak kecil, umur 2-4 tahun seperti mereka, yang ndak tahu keadaan. Pastilah, yang paling kuat modal iklannya yang menang. Yang paling lucu dan paling mudah diinget yang dicoblos.

Sementara aku sendiri, baru tanggal 7 surat suara sampai di Mas Amal. Aku ambil malamnya, aku coblos, dan tgl 8 mau dikirim. Eh, kok yo ketinggalan di rumah, sementara aku sudah di kereta. Padahal besok musti sudah sampai di kedutaan.

Aku minta tolong tante, lewat telepon, untuk masukin ke pos.

“Tante, minta tolong ya. Surat putih di meja saya dimasukin ke pos. Kalau bisa yang cepet sampenya. Besok musti sudah sampe Den Haag.”

Malam harinya, tante cerita, kalau pak pos bilang:

“Wah, besok libur bu. Jadi paling bisa sampai minggu depan.”

“Gimana dong pak, musti sampai besok. Yang kilat ada ndak pak?”

“Ada, 23 euro sehari sampai.”

“Hah? Kok mahal amat?”

“Atau kalau mau yang Aangetekend. 5,75 euro.”

“Ini cepet ndak pak?”

“Ya, paling lambat minggu depan sampe.”

Yah… udah bayar mahal, belum tentu suara diitung. Syukur deh, tante ndak ngirim yang pake 23 euro itu. Jadi kalau ndak diitung ruginya ndak gedhe-gedhe amat. Tinggal nyoblos aja ternyata ndak gampang. Kebayang para pemilih yang eyel-eyelan sama petugas TPS, karena ndak bisa nyoblos, kertas suara abis.

Groningen, 9 April 2004

Daftar istilah:
- keukeuh (sunda): bersikukuh
- eyel-eyelan (jawa): berdebat

Lagu Semut Hitam

Kulihat-lihat sepotong roti
Aku geli roti jalan sendiri
Kuamati sekali lagi
Ada semut yang membawanya pergi

Semut hitam (klap-klap-klap) berbaris rapi
Setiap bertemu bersalam slalu
Semut hitam (klap-klap-klap) giat bekerja
Bersama-sama bergembira

Lagu Kelinciku

Melompat-lompat jalan kelinciku
Telinganya bergerak selalu
Kukejar-kejar sampai aku lelah
Tak tertangkap hap, karena cepat

Lagu Burung Unta

Ada sebangsa burung
Yang tidak bisa terbang
Tubuhnya sangat jangkung
Seperti naik egrang

Panjang lah kakinya, sruuuuttt
Panjang lah lehernya, sruuuuttt
Datang dari Afrika
Itulah burung unta

  READ MORE >>   Parenting