READ MORE >>   Bedah Buku

Maaf euy… peng-copy-paste-an bagian terakhir tertunda begitu lama, baik karena alasan teknis maupun non-teknis.

Mudah2an masih sabar menanti bacaan terakhir ini. Bagi yang sudah lupa bagian awalnya, silakan ditengok2 lagi di bagian “Bedah Buku”.

Kali ini adalah bagian terakhir dari chapter pertama buku “What Do You Care What People Think”, di mana Feynman di’ttraining’ menjadi saintis. Ada hal yang menarik untuk disimak, adalah ide Ayah Feynman tentang “bagaimana menghargai sesuatu”. Apakah pandangan Feynman Senior ini dipengaruhi pandangan kaum yahudi yang saat itu memang sedang menjadi kekuatan baru dunia? Ataukah benar sekedar pandangan human being yang humanis?

Selamat menikmati…

ada waktu itu sepupu saya, yang tiga tahun lebih tua, adalah murid SMU. Dia sedang mengalami kesulitan dengan aljabar, jadi seorang guru akan datang. Saya diijinkan untuk duduk di sudur ruangan sementara guru akan mencoba mengajari sepupusaya aljabar. Saya dengar dia sedang berbicara tentang x.

Saya berkata pada sepupu saya, “Apa yang sedang kamu coba lakukan?”.

“Saya sedang mencoba memikirkan apa x itu, seperti pada 2x + 7 = 15”.

Saya berkata, “Maksudmu 4”.

“Ya, tapi kamu melakukannya dengan aritmatika. Kamu harus lakukan dengan aljabar”.

Saya belajar aljabar, untugnya, tidak di sekolah, tapi menemukannya di catatan sekolah yang sudah tua milik tante saya di loteng, dan saya mengerti kesemua ide untuk mencari apa itu x – tidak masalah bagaimana kamu melakukannya. Bagi saya, tidak ada itu namanya melakukan “dengan aritmatika”, atau “dengan aljabar”. “Melakukan dengan aljabar” adalah seperangkat aturan di mana jika kamu ikuti dengan buta, dapat menghasilkan jawaban: “kurangi 7 dari kedua sisi; jika kamu punya faktor pengalu, bagila kedua sisi dengan faktor pengali itu”, dan selanutnya – langkah-langkah berurutan yang mana kamu dapat menjawab pertanyaan jika kamu tidak mengerti apa yang sedang kamu coba lakukan. Aturan sudah dibuat sedemikian rupa sehingga anak-anak yang harus mempelajari aljabar bisa lulus. Dan itu sebabny sepupu saya tidak pernah bisa melakukan aljabar.

Ada beberapa seri matematika di perpustakaan lokal kami di mana dimulai dengan Arithmetic for the Principle Man. Lalu keluar Algebra for the Practical Man, dan lalu Trigonometry for the Practical Man. (Saya belajar trigonometri dari sana, tapi saya segera lupa, karena saya tidak begitu mengerti). Ketika saya sekitar 13 tahun, perpustakaan akan segera mendapatkan Calculus for the Practica Man. Pada saat itu yang saya tahu, dari membaca ensiklopedia saya, kalkulus adalah sebuah subjek yang penting dan menarik, dan saya harus mempelajarinya.

Ketika pada akhirnya saya melihat buku itu ada di perpusataan, saya sangat gembira. Saya pergi ke perpustakaan untuk meminjamnya, tapi penjaga perpustakaan melihat memperhatikan saya dan berkata, “Kamu masih kecil. Untuk apa kamu pinjam buku ini?”.

Ini adalah satu dari beberapa kali dalam hidup saya, saya merasa tidak nyaman dan saya berbohong. Saya katakan buku ini untuk ayah saya.

Saya bawa buku itu ke rumah dan mulai belajar kalkulus. Saya pikir buku itu cukup sederhana dan langsung pada tujuan. Ayah saya mulai membacanya juga, tapi dia merasa buku itu membingungkan dan dia tidak mengerti. Jadi saya coba untuk menjelaskan padanya. Saya tidak tahu dia sangat terbatas, dan itu sangat mengganggu saya sedikit. Itu adalah saat pertama kali saya menyadari bahwa saya sudah mempelajadi lebih banyak pada beberapa hal daripada dia.

Satu dari banyak hal yang ayah saya ajarkan di samping fisika – apakah itu benar atau tidak – adalah ketiadaan respek pada hal-hal tertentu. Sebagai contoh, ketika saya masih kecil, dan dia memangku saya di atas lututnya, dia memperlihatkan saya New York Times – sebuah foto yang baru keluar di surat kabar.

Suatu waktu, kita sedang melihat foto Paus dan orang-orang membungkuk di depannya. Ayah saya berkata, “Sekarang coba perhatikan manusia-manusia itu. Ini ada satu manusia berdiri di sini, dan sisanya membungkuk di depan dia. Kenapa ada perbedaan? Yang ini adalah Paus” – ngomong-ngomong dia benci Paus. Dia berkata “Perbedaannya adalah topi yang dia pakai”. (Secara umum, itu karena pangkat. Itu selalu berhubungan dengan pakaian, seragam, posisi). “Tapi”, lanjutnya, “Orang ini memiliki masalah yang sama dengan yang lain: kalau dia makan, dia harus ke kamar mandi. Dia adalah manusia biasa”. (Ngomong-ngomong, ayah saya bekerja untuk perusahaan yang menganut sistem “seragam” itu tadi, jadi dia tahu betul apa perbedaan seseorang yang sedang berseragam dan tidak berseragam – mereka adalah manusia yang sama baginya).

Saya percaya dia begitu gembira dengan saya. Sekali, ketika saya baru datang dari MIT (saya sudah di sana untuk beberapa tahu), dia berkata pada saya, “Sekarang kamu sudah menjadi terpelajar tentang hal-hal itu (sains), saya punya ada satu pertanyaan yang tidak pernah saya mengerti dengan baik”.

Saya tanya dia, apa itu.

Dia berkata, “Saya mengerti bahwa ketika sebuah atom membuat transisi dari satu state ke state yang lain, dia akan memancarkan partikel cahaya yang disebut photon”.

“Itu benar”, kata saya.

Dia berkata, “Apakah photon dan atom itu ada pada saat yang bersamaan?”.

“Tidak, tidak ada photon sebelum itu”.

“Hmm, jadi…” katanya, “Dari mana photon itu datang? Bagaimana dia keluar?”.

Saya mencoba menjelaskannya – bahwa jumlah photon tidaklah kekal (seperti energi yang kekal; mereka cuma diciptakan oleh pergerakan elektron – tapi saya tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Saya berkata, “Ini seperti suara yang saya buat sekarang; suara itu tidak ada sebelumnya”. (Tidak seperti anak laki-laki saya, yang tiba-tiba mengumumkan bahwa dia tidak bisa lagi mengeluarkan beberapa kata – kata itu akhirnya diketahui adalah “kucing” – sebab ‘kantong kata’nya sudah kehabisan kata itu. Tidak ada ‘kantong kata’ yang membuat kamu memakai kata-kata yang keluar dari sana; dalam hal yang sama, tidak ada ‘kantong photon’ pada atom).

Dia tidak begitu puas dengan saya pada masalah itu. Saya tidak pernah dapat menjelaskan sesuatu yang dia tidak mengerti dengan baik. Jadi dia tidak sukses: dia mengirim saya ke beberapa universitas dalam rangka untuk menemukan jawaban hal-hal sains, dan dia tidak pernah mendapatkan jawaban itu.

Walaupun ibu saya tidak tahu apa-apa tentang sains, dia memberi pengaruh yang luar biasa pada saya. Secara khusus, dia memiliki rasa humor yang bagus, dan saya belajar dari dia bahwa bentuk tertinggi dari pengertian yang bisa kita raih adalah tertawa dan saling mengasihi sesama manusia.

  READ MORE >>   Bedah Buku