READ MORE >>   Renungan & Hikmah

“Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat kutatap wajahmu. Kan pasti mengalir air mataku, karna pancaran ketenanganmu. Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat kukucup tanganmu. Moga mengalir keberkatan dalam diriku, untuk mengikut jejak langkahmu.

Ya Rasulullah, ya Habiballah, tak pernah ku tatap wajahmu. Ya Rasulullah, ya Habiballah, kami rindu padamu…”

Alunan rindu sahabatku Raihan kepada kekasihnya sore itu, telah menyelinap masuk ke dalam jiwaku yang sedang menghadap Sumber Kedamaian. Tak terasa, jiwaku naik, demam rindu menyerang, dan air mataku pun menetes. Kulihat sang kekasih berdiri di depanku. Tersenyum menanti kehadiranku. Betapa telah lama dia menunggu dengan bimbang.. ‘ummati, ummati, …’

Debu yang menutupi mata, jurang yang mengancam, tebing yang harus ku daki, hampir-hampir membuatku putus asa bisa mencapai bukit ini. Terlintas ketakutan akan masa depan. Bertiup kekhawatiran akan kegagalan. Mengeluh karena beratnya penderitaan. Kemudian, aku pun memohon keringanan atas beban ujian. Kadang membandingkan diri dengan jiwa lain yang seolah berjalan tanpa beban. Semua rasa ini hanya membuatku merasa tersiksa saja.

Jalanku tidak seberapa dibandingkan dengan beratnya jalanmu, wahai kekasih. Engkau baru saja bertemu dengan Sumber Kedamaian. Sungguh, begitu dekat tempatmu di sisiNya. Dia begitu cinta kepadamu..

Pasti Dia telah tawarkan segalanya untukmu saat itu. Tetapi engkau pilih jalan orang-orang miskin. Bukan kemewahan yang kau bawa setelah kembali dari langit, tetapi engkau kenakan batu untuk mengganjal lapar perutmu. Paginya, kau pun pergi ke pedagang Yahudi yang tidak simpatik, untuk berhutang biji gandum agar laparmu sedikit teredam. Bukankah kau bisa meminta kepada Sang Kekasih, untuk memberimu kemudahan dan kemewahan? Tetapi engkau tidak lakukan itu. Bagaimana bisa setinggi itu jiwamu?

Sementara diriku, tidak pernah mendapati ketiadaan makanan sehingga harus mengganjal perutku dengan batu sepertimu. Tetapi mangapa masih sering merasa kalau Sumber Kedamaian tidak menolongku, tidak mempedulikanku, bahkan mencurigaiNya tidak adil kepadaku? Bukankah Dia berikan lebih banyak dari dunia ini kepadaku dari pada kepadamu? Bukankah sahabatmu pun tidak rela melihat kemiskinan di rumahmu, sementara para raja berada dalam kemewahan?

Engkau telah memilih akhirat, dan memilih selalu bersamaNya ketika di dunia. Hatimu damai, bukan karena menyendiri dan meninggalkan dunia. Hatimu damai, ketika dalam sendiri maupun perang. Engkau sudah mencapai keadaan yang tak terlukiskan ketika di langit, tetapi engkau memilih kembali ke dunia material ini. Engkau sucikan dunia dengan memasukinya, engkau damaikan alam material dengan menyatukannya kepada langit. Engkau lah rahmat bagi seluruh alam.

Engkau lah rembulan, yang memantulkan sinar Sang Mentari kepadaku yang berada dalam kegelapan malam. Karenamu, malam ku pun menjadi terang dan indah sambil menatap wajahmu. Engkau lah rembulan dalam hatiku, yang memancarkan sinar dari Sumber Cahaya di atas Cahaya. Sungguh besar cintamu kepada ummatmu.

Sungguh dekat engkau dengan diriku. Cahayamu menyatu dengan diriku. Tetapi debu nafsuku telah menghalangiku menerima cahayamu.

Semoga Sumber Kedamaian merobahkan rasa dalam hatiku, agar bisa ikhlas menerima segala yang baik dan buruk, dengan penuh cinta dan syukur. Agar aku bisa bersyukur, atas kebodohan diriku. Aku bersyukur atas ketidaktahuanku. Aku bersyukur atas kekeringan jiwaku. Aku bersyukur atas dosa-dosaku. Aku bersyukur atas segala yang Kekasihmu berikan kepadaku, segala yang ada di sisi kiri dan kanan, di atas dan di bawah, di depan dan di belakang. Semoga tidak ada satu pun yang tidak aku syukuri. Dan semoga kelak, Sang Syukur membawaku kepadamu, untuk mengucup tanganmu..

Amin..

… sebuah penghargaan kepada Annemarie Schimmel.

Puji dan syukurku kepadaNya Yang Maha Akbar, yang menciptakan manusia berbeda-beda dalam meyakiniNya …

Entah aku orang kafir atau beriman-
Hanya Allah sajalah yang tahu, siapa aku!
Tetapi aku yakin, aku adalah hamba Nabi,
Yang menjadi penguasa Madinah

Sir Kishan Prasad Shad
Perdana Meteri Hindu dari Negara Bagian Hyderabad

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah