READ MORE >>   Renungan & Hikmah

Ini lanjutan dari cerita perjalanan ke Delft. Aku ingin segera menuliskannya, jika tidak akan lupa dan malas. Ini tentang diskusi selama di kereta, dalam perjalanan pulang dari Delft ke Groningen. Semoga upaya memaknai perjalanan ini bermanfaat.

————————-

Siapa sih yang tidak ingin merasa dekat dengan Sang Kekasih?

Seorang pemabok pun, jika ditanya apakah ingin bisa merasakan ‘kebahagiaan’, pasti jawabnya adalah “Ingin”. Terus, kenapa sulit sekali, dan rasanya kebanyakan manusia dan diri kita berjalan tidak lebih dekat kepada ‘kebahagiaan’? Kenapa rasanya selalu ada masalah setiap hari?

Jangan tanyakan kepadaku, aku pun tak tahu.

Yang ku tahu, Sang Kekasih itu ada dekaaat sekali dengan diriku. Namun diriku yang tidak melihatNya. Dia berdiri jelas di depanku, tetapi aku tidak mengenalNya. Ingin rasanya diri ini bisa merasakan kesejukan dalam setiap menghadapNya, merasakan getaran setiap mendengar namaNya. Tetapi keinginan ini semakin membuat diriku frustasi, ketika mendapati semakin kering saja sumur hati ini dari hari ke hari.

Hingga suatu hari, aku bertemu dengan Kyai ‘nyentrik’ Subrun. “Pak Kyai, apa yang terjadi dengan diriku ini, tolong pak,” aku memulai pembicaraan.

“Aku ingin sekali bisa merasakan kesejukan dalam sholatku, pak Kyai. Aku ingin bisa merasakan indahnya sholat itu, seperti yang dibilang orang-orang. Aku sudah hapalkan bacaannya, aku sudah hapalkan arti setiap kata-kata dalam sholat, dan sudah mencoba merenunginya. Tetapi belum juga sumur hati ini terisi dengan air kesejukan, pak Kyai. ”

“Sholatku masih kering, masih sebatas memenuhi kewajiban. Rasanya kok sulit sekali menjadi dekat dengan Sang Kekasih. Katanya Dia sangat dekat, tetapi kenapa aku tidak merasakanNya. Tolong aku pak Kyai..”

“Cak Mangil, maaf ya. Bersyukurlah sampeyan bisa seperti itu. Bersyukurlah masih bisa merasakan kekeringan dan kehampaan ketika sholat. Kalau sudah tidak merasa apa-apa, kan jadi lebih menyedihkan. Bersyukur juga masih ada keinginan untuk lebih deket. Syukuri itu dulu Cak Mangil,” kata pak Kyai.

“Coba dulu ya, sampean syukuri itu. Nanti setelah sebulan, setelah sampeyan ada bahan, silahkan datang lagi ke rumah saya. Nanti kita lanjutkan.”

“Begitu saja pak Kyai? Saya hanya disuruh bersyukur?”

“Iya”

“Ndak ngerti saya pak. Masak saya harus mensyukuri kekeringan hati ini. Tapi baik lah pak, saya akan coba jalankan nasehat bapak.”

Begitulah, pertemuanku pertama kali dengan Kyai Subrun. Aku pun pulang, dengan satu pelajaran, “Syukur”. Selama satu bulan, aku belajar “alhamdulillah”. Menerima segala yang ada dengan mengucap “alhamdulillah”. Mencoba hati ini untuk menerima. Cobaan permasalahan datang terus. Mulai dari urusan anak, soal belanja, mobil mogok, penelitian yang gagal. Macem-macem, yang membuat pikiran semakin sulit untuk bisa bersyukur.

Setiap sholat, aku coba perhatikan hati ini, sambil berharap-harap ada perubahan, sumur hatiku terisi. Namun, hingga satu bulan, sumur itu masih kering, sholat masih hampa. Latihan syukur pun serasa belum memberi hasil.

Duh Gusti, betapa sulitnya mendekatiMu…

“Pak Kyai, saya sudah coba untuk bersyukur. Tapi rasanya sulit sekali pak. Saya rasanya sulit bisa bersyukur. Bagaimana pak Kyai?”

“Alhamdulillah, sampeyan musti bersyukur kalau sampeyan tidak bisa bersyukur,” jawab pak Kyai yang membuatku semakin bingung.

“Lho gimana maksud pak Kyai? Saya harus bersyukur kalau saya tidak bisa bersyukur? Maksudnya gimana pak?”

“Lha iya. Sampean itu sudah diselametin sama Gusti Allah. Coba kalau sampean bisa bersyukur, pasti saat itu “ke-aku-an” sampean akan muncul. Sampeyan akan merasa “sudah bisa bersyukur”. Nah, salah ini. Memangnya siapa di dalam diri sampean “yang bisa bersyukur” itu? Jadi, syukuri saja Cak Mangil. Sampeyan sebenarnya sedang ditolong, diselametkan. Tapi sampeyan ndak ngerasa. Syukuri itu, ada banyak hal yang belum sampeyan ketahui, apa maksud dibalik yagn sampeyan hadapi. Jadi, syukuri dulu.”

“Begitu pak Kyai. Terus apa maksud sebenarnya dari syukur itu pak?”

“Syukur itu menerima dengan ikhlas. Baik dan buruk, diterima. Dimasukkan ke dalam hati. Diterima bulat-bulat, tanpa syarat. Syukur itu berbuat sesuai dengan keinginan Sang Pemberi. Sang Pemberi ingin kita menerima dengan ikhlas segala pemberianNya. Dia ingin kita menerima, menSyukuri, tidak protes, tidak malah banyak harapan dan keinginan.”

“Susah dijelaskan ini Cak. Seperti kalau sampeyan belum pernah merasakan ‘asin’, lalu tanya ke saya. Saya jelasin rasa ‘asin’ itu seperti apa, ya sampeyan ndak akan mudeng2. Hanya bisa meraba-raba. Jadi, kuncinya, ya sampeyan harus merasakan sendiri. Baru sampeyan tahu, apa itu yang dimaksud dengan bersyukur, apa itu ikhlas. Sampeyan tahu sendiri, dan hakekatnya, sampeyan akan dibuat tahu.”

“Banyak-banyak latihan bersyukur dulu Cak Mangil. InsyaAllah, akan ada yang tumbuh atau ditumbuhkan di dalam diri sampeyan. Kalau mau tinju kelas berat, ya latihannya musti keras, gizinya oke. Kalau mau merasakan nikmat tingkat tinggi, juga sama. Latihannya juga musti oke. Dan bahan untuk latihan ndak usah dicari-cari. Ndak usah menyendiri, pergi ke hutan, atau ke gunung. Bahan itu sebenarnya sudah ada setiap hari, datang sendiri menemui kita. Tinggal kita bisa melihatnya atau tidak.”

“Silahkan Cak Mangil, bulan depan datang lagi ke saya, jika sampeyan sudah ada bahan lagi.”

“Terimakasih Pak Kyai… Mohon dibantu doa ya pak..”

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah