READ MORE >>   Sport Club

Kemaren, ya kemaren, tanggal 22 Februari 2003, deGromiest mengadakan kunjungan silaturahim ke saudara-saudara kita yang berada di Delft. Ini merupakan kunjungan balasan. Perjalanan, pertandingan, perbincangan, diskusi, obrolan, dan aktifitas2 lain yang dilakukan terasa sangat menarik.

Kunjungan ini diikuti oleh ismail, wangsa, khairul, itob, mbak heni, mas amal,bang fahmi, aryo, pak feri, mbak diana,bu marlin, puri, serta mantan ketua deGromiest Iman, dan juga tim anak2: rayhan, safira, dan fathiya. Berangkat pagi jam 8 dari Groningen, sampai di sana jam 11.30. Udara dingin yang sejuk langsung menyambut kami ketika keluar dari CS Delft. Agar darah tidak membeku, kami pun langsung menuju hall olah raga, yang jaraknya sepeminuman teh dari CS Delft.

Jam 12 siang, hall sudah siap buat acara ini. Temen2 muslim Delft, yang dikomandoi oleh Bung Hatami, satu per satu datang ke hall. Acara dibuka dengan perkenalan. Dari asal kota temen2 Delft yang hadir, kebanyakan dari Bandung. Mungkin Delft ini sangat favorit bagi temen2 Bandung (ups.. sara). Sementara temen2 dari Groningen, lebih beragam. Ada yang dari Riau, Padang, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Bojonegoro, Jember. Tapi, lagi2 mereka afiliasinya juga dari Bandung (ups.. sara lagi). Untung masih ada Diana yang tetep cinta sama Yogya, ndak ikut2an Puri hijrah ke Bandung. Kalau ndak…

Pertandingan dimulai. Ganda Khairul & Ario melawan ganda dari Delft membuka pertandingan ini. Permainan cukup alot. Hampir 1 jam untuk dua seri. Setelah itu, ganda berikutnya, berjalan lebih cepat. Bahkan ada ganda, yang pemain pembukanya saja sudah bisa membubuhkan 9 point. Pertandingan cukup keras dan alot, hingga kaki pun ada yang keseleo, linu, lecet, dan tentu.. bau.

Untuk menyenangkan tuan rumah, tim dari Groningen mengalah. Beberapa set kita beri nilai seri, dan banyak yang kita beri kemengangan buat Delft. Kita cukup mengambil yang sedikit kemenangan saja. Ya, sedikit kemenangan sudah cukup buat kita bawa pulang, karena ada kemenangan lain yang menunggu, yaitu bebek peking.

Jam 4 sore, pertandingan selesai. Nah, acara selanjutnya adalah ramah tamah di rumah salah seorang sahabat kita di Delft. Para ibu dan anak dijemput dengan oto, sementara yang lain berjalan kaki. Jarak dari hall olah raga ke rumah ini kira-kira empat cangkir minum teh. Cukup jauh? ya.. dan asyiknya, kami disapa oleh para malaikat dan bidadari berwarna putih, yang turun melayang2 dari langit. Terasa celekit-celekit kalau mengenai kulit, hingga kami pun harus berjalan cepet-cepat jika tidak ingin kedinginan.

Selama perjalanan ke rumah tujuan, kami melihat bangunan2 kampus Delft yang modern. Di sebelah kanan kami, ada bangunan yang rasa-rasanya waktu mendesain, cukup arsitekturnya membuat satu desain bangunan, lalu dengan program AutoCad, ditekan lah tombol Ctrl-C, Ctrl-V, Ctrl-V, Ctrl-V. Empat bangunan moderen pun tanpak sangat mirip, berjejeran.

Akhirnya sampai juga. Saatnya untuk menyantap hidangan telah tiba. Di rumah sahabat kita ini, telah disiapkan soup daging kambing yang panas, mie goreng yang nikmat, ayam goreng, dan minuman2 menyegarkan lainnya. Kebaikan dan kerahaman tuan rumah sangat terasa, ketika tuan rumah tidak sabar untuk mempersilahkan kami menyantap hidangan. Untung, tuan rumah menyajikan hidangan di akhir pertandingan. Jika di awal, bisa dipastikan tim Groningen yang akan banyak memenangkan pertandingan.

SMP.. ? Ah.. jangan. Kita ngobrol dulu, berbalas pantun, guyon. Ada yang serius, ada yang guyon, ada yang tertidur capek, ada yang main-main dengan anak-anak. Pokoknya rame, ndak teratur di ruangan itu. Tapi semua gembira. Sebelum pulang, kami sholat maghrib dan isya, dijamak. Kalau ndak dijamak, sampe Groningen pasti udah tidak konsentrasi shalatnya. Pada kecapekan.

Kembali ke CS Delft, kali ini kami tidak berjalan kaki, karena sebuah mobil van dan sedan dengan sigap telah mengantarkan kami. Aku naik sedan bersama Mas Amal dan Bung Ferry, dianter oleh Bung Ikhwan. Tenteram sekali rasanya di mobil itu, mendengarkan nasyid yang meningatkanku untuk sholat selalu. Iya, sholat sepanjang waktu.

Aha.. hampir lupa, ada yang ketinggalan, yaitu tasnya Ario. Syukur, masih ada rombongan terakhir yang belum berangkat. Kayaknya Ario perlu banyak minum ginko biloba.

Tidak lama menunggu di stasiun, kereta yang akan membawa ke Rotterdam pun siap berangkat. Kursi banyak yang kosong, sehingga seorang bisa duduk di empat kursi. Rotterdam.. Rotterdam.. sebuah kota yang kami nantikan. Tidak sabar ingin sampai di sana. Ada apa?

Ya, benar, ada bebek peking.

Ah, betapa adilnya Tuhan. Selalu adil, seimbang, sempurna. Disatu sisi diberi bebek peking, di sisi lain tas berisi raket ketinggalan di kereta. Bung Ferry lupa membawa turun, karena memang sejak awal tidak jelas siapa yang bertugas membawa tas itu. Bung Ferry belum pernah bawa, jadi pas turun ya ndak inget kl pas naik bawa tas itu. Its oke.. itu lah indahnya keseimbangan.

Mas Amal dan Bang Fahmi musti langsugn pulang ke Groningen, ganti kereta, karena anak2 besok harus bangun pagi dan sekolah. Yang lain boleh melanjutkan perjalanan ke peking. Di sana, aku hanya bisa berdoa “Ya Allah, halalkan olehMu, apa yang Engkau hadirkan ke dalam diriku. Bismillah Arrohman Arrohim.. ”

Abis dari peking, jam 9 malam, perjalanan pulang dilanjutkan dengan kereta berikutnya. Perjalanan yang akan lama, 3 jam. Ada yang capek tertidur pulas, ada yang ngobrol, ada yang ngantuk-ngantuk ndak bisa bobok.

Selamat tinggal Delft, sampai jumpa lagi di Groningen/Enschede.. insyaAllah…

  READ MORE >>   Sport Club