READ MORE >>   Intriguing Idea

Beberapa waktu ke belakang, di eropa pernah diramaikan dengan rencana membuat bahasa artifisial yang digunakan untuk sebagai bahasa komunikasi antar negara di eropa. Entah sama atau tidak, rasanya ide ini mirip dengan pengembangan bahasa Indonesia dulu. Rencana ini pada akhirnya memang tidak berhasil dilaksanakan, chauvinism masing-masing pemilik bahasa, spanyol, italia, inggris, jerman dan, tentu saja perancis.

Bukan tentang bahasa artifisial ini yang akan berlanjut sebenarnya, tapi jika dilihat dari kesempurnaan bahasa yang digunakan. Mungkin karena bahasa Indonesia begitu sederhana sehingga mudah digunakan. Ketiadaan artikel salah satunya. Dalam bahasa Indonesia, tidak ada pembedaan antara jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Entah ini simbol awal dari emansipasi atau pembolehan kebinanan, hahahaha …

Dalam bahasa Indonesia, kita terbiasa menggunakan akhiran “-nya” sebagai kata ganti perseorangan, regardless bagi laki-laki atau perempuan. Pernah seorang teman mengatakan kalau dengan demikian, akan membingungkan karena tidak akan jelas apa yang dimaksudkan dalam suatu perkara atau kalimat tanpa terlebih dahulu dijelaskan terlebih dahulu pada awalnya, kepada siapa dialamatkan “-nya” itu. Well, banyak kata-kata ambigous lainnya seperti suffix “-nya” ini, jadi tidak heran kalau di Indonesia banyak hal-hal yang tidak jelas, what so ever …

Anyway, sebenarnya justru ada satu kelebihan suffix “-nya” yang tidak jelas ini. Apa? Misalnya pada saat kata ganti ini dialamatkan kepada Tuhan, kita bisa dengan mudah mengganti awal suffix ini dengan huruf kapital, “-Nya”. Ini yang tidak bisa dilakukan oleh bahasa-bahasa dunia yang mengenal gender. Dimanakah tergelitiknya? Sebenarnya dalam sebuah diskusi dalam bahasa Inggris, seringkali kata Tuhan dikata gantikan oleh istilah ‘he”, bukan she, they, atau lainnya. Tergelitik bahwa dalam Islam, Tuhan tidak bergender. Karena ngga ngerti bahasa arab, entah apa dalam bahasa arab (yang mengenal gender), TUhan juga dikategorikan lagi-laki.

Dalam pandangan agama lain, seseorang rasul yang diagungkan sebagai Tuhan dan kebetulan berjenis kelamin laki-laki, mm.. belum ditemukan dalam katalog seorang perempuan menjadi rasul, kalau nabi, entahlah, jumlahnya banyak sekali. Tetapi, tidak masalah. Agama ini memang didominasi oleh penganut yang menggunakan bahasa yang mengenal bergender, bahkan salah satu kesatuan terkuat di bumi ini pun menggunakan agama ini sebagai salah satu kesatuan dasarnya. He, his, him, er, sein, zijn, hij, sama toch. That’s fine, for them, maksudnya. Memang Tuhannya laki-laki, toch.

Well, dalam Islam Tuhan tidak bergender, Ia (memang nikmat memakai bahasa Indonesia) bukan laki-laki atau perempuan. Lalu kenapa dalam bahasa bergender, Ia dikategorikan sebagai “He”, bukan “She”. Padahal kalau menggunakan “SHE”, kan sudah mengandung kedua unsur laki-laki dan perempuan. Coba dipisahkan saja S+HE mengandung dua unsur HE dan SHE sekaligus. hahahaha, permainan kata-kata, menarik. Influence dari bahasa bergender? Atau influence dari agama lain, mm, menarik.

Okelah, dengan pengetahuan bahasa yang minim, sulit buat disimpulkan oleh saya. Biarkan jadi pertanyaan terbuka, biarkan saja masing-masing membuat jawaban masing-masing.

  READ MORE >>   Intriguing Idea