READ MORE >>   Bedah Buku

Berikut ini adalah bagian ke-dua dari saduran The Making of a Scientist. Mudah2an ada memberi guna dan manfaat.

Sedikit komentar: Saya baru ‘ngeh’ setelah baca komentar Bang Ferry kenapa Feynman gak pernah mau membahas tentang cosmology. Make sense sih sekarang hehe. Tapi mengenai jurnal, beliau ini banyak lho publikasinya (dibidang teoritis). Saya ada yang “The Theory of Postrons”, “Space-Time Approcah to QED”, “Matematical Formulation of the QED Interaction”. Dan yang gak saya punya pasti lebih banyak. (Jurnalnya banyak tentang partikel, interaksi partikel, dan QED itu sendiri).

Adiknya, Joan Feynman adalah Ph.D. dibidang astronomi dan menjadi salah satu staff ahli NASA.

Wassalam

….

Senin berikutnya, ketika para ayah kembali bekerja, kita para anak-anak bermain di lapangan. Seorang anak berkata pada saya “Lihat burung itu? Jenis burung apa itu?”.

Saya jawab “Saya tidak punya ide sedikitpun apa jenis burung itu”.

Dia berkata “Itu adalah murai berparuh coklat. Ayahmu tak mengajarkanmu apa-apa!”.

Tapi sebaliknya, ayah saya sudah pernah mengajarkan saya: “Lihat burung itu”, katanya. “tu adalah Spencer si pengicau” (saya tahu dia tidak tahu nama aslinya). “Dalam bahasa Itali dia disebut Chutto Lapittida, dalam Portugis disebut Bom Peida, dalam Cina disebut Chun-long-tah, dalam Jepang Katano Tekeda. Kamu bisa tahu nama dari burung itu dalam semua bahasa di dunia ini, tapi kamu tidak tahu apa-apa tentang burung itu. Kamu akan hanya tahu tentang manusia di tempat berbeda, dan nama apa yang mereka berikan pada burung itu. Ayo kita perhatikan burung itu dan lihat apa yang dia sedang lakukan – itulah cara yang benar”. (saya belajar sangat diri perbedaan antara mengetahui nama sesuatu dan mengetahui sesuatu).

Dia berkata, “Sebagai contoh, lihat: burung itu mematuk bulunya setiap waku. Lihat dia berjalan, mematuki bulunya?”.

“Ya”

Dia berkata, “Kamu pikir kenapa burung-burung mematuk bulu-bulunya?”.

Saya berkata, “Mungkin bulu-bulunya kusut saat terbang, jadi mereka mematukinya untuk meluruskannya kembali”.

“Baiklah,” katanya. “Jika itu kasusnya, lalu mereka akan sering mematuki selagi mereka terbang. Lalu setelah di tanah mereka tidak akan mematukinya terlalu banyak – kamu tahu apa yang saya maksudkan?”.

“Ya”

Dia berkata, “Mari kita perhatikan dan lihat jika mereka mematuki banyak setelah sampai di tanah”.

Ini tidak susah untuk dikatakan: tidak begitu banyak perbedaan antara burung yang baru saja mendarat dan yang sudah berjalan-jalan di tanah. Jadi saya berkata “Saya menyerah. Kenapa burung mematuki bulunya?”.

“Sebab ada kutu menganggunya”, katanya. “Kutu-kutu itu memakan lapisan protein yang keluar dari bulu burung”.

Dia lanjutkan, “Setiap kutu memiliki cairan minyak dikaki-kakinya, dan tungau memakan cairan itu. Tungau itu tidak mencernanya dengan sempurna, jadi mereka mengeluarkan dari anusnya sesuatu seperti gula, di mana bakteria berkembang”.

Akhirnya dia berkata, “Jadi kamu lihat, di mana saja ada sumber makanan, ada beberapa bentuk kehidupan yang bisa ditemui”.

Sekarang, saya tahu bahwa itu bisa saja bukan kutu, itu bisa jadi tidak tepat benar bahwa kaki kutu dihinggapi tungau. Cerita itu mungkin saja tidak benar secara detil, tapi apa yang diceritakannya adalah benar secara prinsip.

Lain waktu, ketika saya sedikit besar, dia ambil selembar daun yang gugur dari pohon. Daun ini memiliki cacat, sesuatu yang tidak kita lihat terlalu sering. Daun tersebut bisa dikatakan buruk; ada garis coklat kecil di potongan berbentuk C, mulai dari pertengahan daun dan mengkriting sampai ke ujung.

“Lihat pada garis coklat ini”, dia berkata. “Sempit pada pangkalnya dan melebar pada ujungnya. Apa ini? Ini adalah lalat, lalat biru dengan mata kuning dan sayap hijau datang dan bertelur di atas daun ini. Lalu, ketika telurnya menetaskan belatung, belatung ini menghabiskan seluruh waktunya memakan daun ini – tempat yang bagus baginya mendapatkan makanan. Selama dia makan, belatung itu meninggalkan bekas pada daun yang sudah dimakan di belakangnya. Sementara belatung membesar, jejak itu bertambah besar sampai dia sudah menjadi besar saat dia ada di ujung daun, dimana dia sudah berubah menjadi lalat - lalat biru dengan mata kuning dan sayap hijau – yang terbang jauh dan lalu betelur di daun lain”.

Lagi, saya tahu bahwa detilnya tidaklah terlalu benar – itu bisa saja adalah kumbang – tapi ide bahwa dia mencoba menjelaskan kepada saya sebuah lelucon dari bagian kehidupan: segala sesuatunya hanyalah pengulangan. Tidak peduli bagaimana rumitnya, intinya tetap melakukan lagi dan lagi!

Tidak punya pengalaman dengan ayah yang lain, saya tidak menyadari betapa luar biasa sekali dia. Bagaimana dia mempelajari prinsip dari sains dan mencintainya, ada apa di balik itu, dan kenapa sains bekerja sangat bermanfaat? Saya tida pernah benar-benar bertanya padanya,sebab saya hanya mengasumsikan bahwa semua itu hanya para ayah yang tahu.

Ayah saya mengajarkan saya untuk memperhatikan sesuatu dengan seksama. Satu hari, saya sedang bermain dengan “truk cepat”, sebuah mobil-mobian dengan lintasan khusus di sekelilingnya. Di atas truk tersebut ditaruh bola, dan ketika saya tarik truk itu, saya memperhatikan sesuatu tentang bagaimana bola itu bergerak. Saya datangi ayah saya dan berkata “Ayah, saya memperhatikan sesuatu. Kalau saya tarik truk ini, bola berguling ke belakang. Dan kalau saya tarik hati-hati lalu menghentikannya mendadak, bola ini berguling ke depan. Kenapa begitu?”.

“Itu, tidak seorang pun yang tahu”, dia berkata. “Prinsip umumnya adalah bahwa segala sesuatu yang sedang bergerak cendung mempertahankan geraknya, dan segala sesuatu yang diam cendrung mempertahankan diamnya, kecuali kamu paksa mereka dengan keras. Ini yang diseut ‘inersia’, tapi tk seorang pun tahu kenapa begitu”. Sekarang, barulah ini sebuah pemahaman yang dalam. Dia tidak hanya memberikan saya penamaan dari sebuah fenomena.

Dia melanjutkan, “Jika kamu melihat dari samping, kamu akan melihat bahwa ketika kamu mendorong maju truk, si bola tetap di tempat. Walau sebenarnya kalau truk digerakkan dengan hati, karena ada friksi antara truk dengan bola, bola bisa bergerak sesuai laju truk”.

Saya berlari ke truk mainan saya dan menyusun bola dan truk lalu kemudian mendorongnya. Pengamatan dari samping, saya melihat bahwa sesungguhnya ayah saya benar. Relatif terhadap arah gerak, bola bergerak sedikit ke depan.

Begitulah saya dididik oleh ayah saya, dengan contoh-contoh dan diskusi: tidak ada tekanan – hanya diskusi yang cantik dan menarik. Hal ini sudah memotivasi seluruh sisa hidup saya, dan membuat saya tertarik pada semua jenis sains. (Ini hanya kebetulan saya bisa lebih baik di Fisika).

Saya sudah menangkap sesuatu, seperti seseorang yang diberikan sesuatu yang indah saat dia kecil, dan dia selalu mencarinya lagi. Saya selalu mencari, seperti seorang anak, sesuatu yang menakjubkan yang saya tahu saya akan meneukannya – mungkin tidak setiap waktu, tapi setiap sekali saat.

(Sebagai tambahan, berikut foto Joan Feynman).

joan feynman.jpg

(Bersambung)

  READ MORE >>   Bedah Buku