READ MORE >>   Catatan Pribadi

Tulisan ini adalah prequel dari tulisan ‘satu pintu lagi kubuka‘. he he he…, bukan film-film aja yang punya prequel-sequel :)

berjalan diam-diam
ternyata banyak makna
setiap sudut dapat aku lihat
semua yang tersembunyi
serta merta kubuka
kotor berdebu
kumuh dan kusam
seperti apa adanya
….

aku punya kebiasaan jalan kaki. alasannya bukan karena aku senang olah raga, tapi kebetulan waktu sma, dengan berjalan kaki pulang dari sekolah, maka jatah uang transportasi bisa kugunakan untuk tambahan jajan atau untuk membeli majalah. jalan kaki tsb menjadi menyenangkan walau jaraknya jauh, karena ada banyak juga temenku yang berjalan kaki pulang sekolah. dan terlebih-lebih seorang kecengan senang ikutan bareng jalan, meski ujung-ujungnya saat semua udah sampe ke rumah masing-masing, beliau ini masih harus meneruskan perjalanan dengan angkutan kota (angkot). padahal dia bisa aja langsung pake angkot dari sekolah untuk pulang, tidak perlu jalan sama sekali. (hey, i miss you) :P

nah, dari sinilah aku punya kebiasaan jalan kaki. dan dengan didukung oleh kekurangan dana transportasi waktu kuliah, kebiasaan ini terus kubawa-bawa sampai tamat kuliah di itb. saat kuliah, biasanya aku berjalan sendiri. dan dari kebiasaan ini, aku jadi punya banyak waktu untuk berfikir dan melakukan observasi terhadap apa-apa yang kulihat sepanjang jalan. dan kegiatan jalan kaki + observasi + berfikir ini kunamakan sebagai berjalan diam-diam atau berjalan dalam diam (selanjutnya akan kusingkat bdd).

banyak hal yang kuamati dan menjadi perdebatan hangat dalam batin hasil dari bdd ini. berbagai ide, wacana, protes, dll saling silang dalam benak saat melihat sesuatu yang menarik ketika melakukan bdd. sebagai contoh: suatu hari dalam perjalanan ke kampus, aku melihat seekor kucing beberapa meter di depanku bergerak perlahan, hati-hati, dengan gaya seekor pemburu sejati. gaya khas yang sangat menarik perhatianku. ternyata beberapa meter di depannya, tiga ekor burung gereja sedang mencari makan di rerumputan. pemandangan seekor feline yang sedang mengintai mangsa dan siap menerkam adalah pemandangan yang jarang diamati di kota besar. biasanya pemandangan model seperti ini hanya kita saksikan di tv, kisah feline di padang afrika atau di hutan india. sedangkan kucing-kucing saat ini, kebanyakan hanyalah menjadi binatang malas yang menunggu tuannya menyediakan makanan kaleng dalam piring kaca, atau malah hanya mengais-ngais tong sampah, seolah melupakan kodratnya sebagai seekor predator. dan pemandangan yang terpampang dihadapanku saat itu menjadi tontonan menarik yang membuat aku menghentikan langkah demi mengamati keseluruhan proses perburuan, dan supaya burung-burung tsb tidak terbang gara-gara aku melewati lapangan rumput tsb. dan wacana tentang lingkungan buatan manusia yang mengubah perilaku kucing (dll) melenceng dari kodratnya, meramaikan diskusi dalam benakku untuk hari itu.
(just in case anda penasaran, perburuan itu gagal. mungkin karena sang kucing tidak punya banyak waktu untuk latihan. ah, seandainya paruh burung-burung tsb cukup lentur, mungkin dapat kuliah senyum sinis mereka pada kucing yang kurang pengalaman tsb :)

disaat lain, aku kehujanan dalam perjalanan pulang ke tempat kost. terpaksa berteduh di simpang dago menunggu hujan reda. saat benakku sedang ramai dalam diskusi hangat (aku lupa tentang apa), tiba-tiba sebuah pohon tua yang tumbuh di pinggir jalan, tumbang oleh renggutan angin kencang yang menyertai hujan lebat saat itu. pohon menutup jalan dan menghalangi lalu lintas kendaraan. tiba-tiba seseorang meloncat ditengah hujan yang mulai reda, menenteng parang dan dengan sigap mulai membersihkan pohon yang tumbang tsb. tanpa komando, beberapa orang lainnya segera turun membantu menyingkirkan batang pohon tua yang menghalangi geliat lalu lintas yang mulai ramai. semua terjadi begitu cepat dan tanpa banyak bicara / komando, seolah-olah tiap orang tahu apa yang harus dilakukan. ya, mungkin tiap orang tahu (!) apa yang harus dilakukan, termasuk seseorang yang dengan sigap menengadahkan topi yang dipakainya untuk menarik sumbangan dari kendaraan yang melewati jalan yang sudah mulai bersih itu. semuanya berjalan seolah sebuah pementasan dari skenario yang sudah berulang kali dimainkan sehingga tiap orang hapal peran masing-masing. suatu rutinitas kota besar. lalu benakkupun riuh oleh wacana tentang manusia-manusia kota yang mulai hilang sifat manusianya.

disaat lain lagi, aku melewati sebuah jalan yang sedang dibangun. dan anak-anak kecil sedang bermain bola di sana. otomatis lirik bang iwan terngiang di telingaku. lirik tentang anak-anak kota yang kehabisan tanah lapang untuk sekedar bermain bola. dan memang sebagian jalan baru tsb dulunya adalah lapangan kecil, yang mungkin memang tempat mereka selalu bermain bola. dan (as you guess) itu menjadi wacana diskusi dalam benakku untuk hari itu.

yah…, begitulah pergumulan benak yang selalu aku dapat dari berjalan diam-diam / berjalan dalam diam. banyak hal-hal terkuak, dan seperti kata ebiet: kotor berdebu; kumuh dan kusam; seperti apa adanya.
dan berjalan diam-diam / berjalan dalam diam masih terus kulakukan sampai sekarang, melanjutkan pengamatanku tentang realitas sehari-hari.

  READ MORE >>   Catatan Pribadi