READ MORE >>   Catatan Pribadi

satu pintu lagi kubuka. pintu melihat hal-hal baru yang lama. pintu melihat yang tersembunyi di depan mata. dan ternyata masih banyak sekali keindahan yang terlewatkan meski sebelumnya aku sudah merasa membuka mata lebar-lebar.

ok, yang aku bicarakan adalah tentang hobi ‘baru’-ku. fotografi. dikatakan hobi karena mungkin nggak akan lebih dari itu. dikatakan ‘baru’ (i mean with apostrophes) karena udah lama tertarik, dan jepret-jepret. tapi berhubung biaya operasional yang mahal (waktu masih menggunakan kamera film), sedikit sekali kesempatan bergumul dengan hobi ini. tapi semenjak punya kamera digital, kegiatan memotret menjadi lebih intensif. nah, apa hubungan fotografi dengan ‘pintu’ yang kuomongkan di atas? pertama, mari aku ceritakan tentang hobi ‘baru’-ku ini.

ok, mulai dari mana ya? biar ku mulai dari sebuah pengakuan aja deh: aku tidak punya dasar fotografi sama sekali. yang kumiliki hanyalah keinginan dan semangat mengabadikan sesuatu (dalam bentuk gambar/foto) hal-hal yang menurutku menarik dengan mengandalkan momen dan sudut pandang. maka jadilah jepret sana-sini, yang kalo kemudian menurutku ternyata tidak menarik, langsung kuhapus lagi (hei…, inilah keunggulan kamera digital). nah dalam mencari objek fotografi tsb, aku ‘terpaksa’ harus melihat lebih jeli setiap sudut dan pojok dimana aku berada.

Moon2003.jpg

suatu ketika, seorang teman memperkenalkan pada sebuah situs tempat para penghobi (bener begitu istilahnya?) fotografi. and for that, big thanks to cak amal.
di sini, mereka yang bergabung mulai dari level ‘point and shot‘ sampe yang master. dengan semangat berbagi dan belajar, anggota komunitas ini rajin meng-upload (aku masih males menggunakan istilah ‘mengunggah’…!) foto hasil hunting. kemudian membicarakannya. memberi komentar. memberi saran. meminta saran. dan lain-lain. diharapkan anggota komunitas bisa menambah wawasan dan skill dalam bidang fotografi ( nggak hanya ‘point and shot‘ mulu :)
kalo kamu tertarik ingin tahu komunitas apa yang kubicarakan di atas, ianya adalah fotografer.net (fn), http://www.fotografer.net/.

nah, semenjak bergabung dengan fn, kerjaan berburu menjadi lebih intens. mata menjadi selalu jelalatan mencari objek fotografi. perlahan namun pasti, sesuatu yang dari awal sudah menggelitik, mulai menyeruak keluar. sesuatu yang akhirnya kusadari keberadaannya. sesuatu yang mendorong aku membuat tulisan ini dan ingin berbagi pada kalian.

sesuatu yang kubicarakan itu adalah sebuah ‘kaca mata’. sesuatu yang kubicarakan itu adalah mirip alat bantu penglihatan. sesuatu yang kubicarakan itu membantu aku melihat ‘lebih’ dibanding biasanya. dan keindahan tiba-tiba menyeruak di depan mata. ada keindahan pada tetes-tetes air kran saat mencuci piring. ada keindahan pada butir-butir air shower saat mandi pagi ( karena sore biasanya jarang mandi :P ). ada keindahan pada gemulai tarian serpih salju saat turun ke bumi. ada keindahan pada tekstur kulit buah leci. ada keindahan pada kepak camar dan merpati di taman. ada keindahan pada tuts-tuts keyboard komputer. ada keindahan pada setumpuk uang receh kembalian belanja di vismarkt. ada keindahan pada rona merah senja saat mentari mulai lelah dan menuju peraduan (ah, yang ini bener-bener kebangetan kalo sampe terlewatkan…!!!). ada keindahan pada kelopak merah mawar. ada keindahan pada goyangan ranting di musim gugur. ada keindahan pada riak-riak air di pantai. ada keindahan pada bunga kecil di rerumputan yang biasa kita injak saat melintas lapangan. ada keindahan pada gumpalan awan yang menawarkan hujan lebat. ada keindahan pada lampu-lampu taman. dan ada sejuta keindahan lain yang tiba-tiba menyeruak di depan mataku. bahkan keindahan itu tetap ada pada nyamuk yang hinggap dan mengisap darah di lenganku (dan kemudian secara reflek tanganku terayun mengakhirnya kegiatan sang nyamuk…).

inilah yang kumaksud ‘pintu yang kubuka’. pintu yang mengantarkanku melihat lebih banyak lagi keindahan dalam lingkungan dan aktivitas sehari-hari, yang sebagian besar ternyata terlewatkan olehku. dengan hobi baruku, aku merasa dilatih lebih peka dalam melihat dan merasa keadaan sekeliling. aku jadi teringat cerita cak mangil dalam tulisan bung ismail (indahnya nol). mungkin saat ini aku agak mirip seperti dia, sedikit terbuka kesadaran pada keadaan sekitar, merasakan dan meresapi pijitan kerikil di telapak kaki dan segarnya udara pagi, dan kemudian tersenyum sendiri.
perlahan kudengar dari walkmanku sebuah lagu disenandungkan oleh ebiet. dan akupun mulai bersiul mengiringi liriknya yang puitis:

berjalan diam-diam
ternyata banyak makna
setiap sudut dapat aku lihat
semua yang tersembunyi
serta merta kubuka
kotor berdebu
kumuh dan kusam
seperti apa adanya
….

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan ‘berjalan diam-diam‘.

  READ MORE >>   Catatan Pribadi