READ MORE >>   Bedah Buku

Assalamualaikum,

Halow halow…. rekan2 yang berbahagia. Alhamdulillah ujian sudah lewat, jadi saya ada waktu lagi hehe.

Siapa sih yang kenal Feynman? Mungkin banyak yang tahu hehe.. sukur dech. Kali ini saya mau mengutip artikel saduran saya dari www.febdian.com tentang beberapa petualangan beliau.

FYI, ini adalah salah satu eBook project saya, “Feynman, the adenture of curious character” - disamping “The Lord of the Rings: Beginner Point-Of-View”, yang dikerjakan dengan santai sebagai hobi. Jadi akan butuh waktu sampai benar2 selesai hehe. Mohon maaf kalau bahasa translasi saya tidak begitu bagus….

Di web asli (febdian.com), tulisan ini saya penggal menjadi 6 halaman. Di sini saya coba membuatnya 3 babak saja. Capek lho bacanya kalau kebanyakan. Mudah2an ada manfaatnya tulisan ini, terutama chapter The Making of Scientst, siapa tau memberi ilham pada rekan-rekan yang sudah punya buah hati :-)

Dan terakhir, ijinkan pula saya ngasih tau, bagi yang pingin denger kutipan suara Feynman ketika sedang memberikan kuliah, silakan download di: http://www.febdian.com/download.php?view.86

(di folder yang sama rekan-rekan bisa download juga ceramah Soekarno dalam Isra’ Miraj di Istiqal sekitar th 60-an).

Selamat menikmati….

Pengantar
(Oleh Febdian Rusydi)

Richard P. Feynman adalah salah satu makhluk super yang saya yakini sengaja diutus Allah ke dunia ini untuk memecahkan banyak misteri tentang kehidupan fisik kita.

Feynman sudah menjadi legenda semenjak awal 60-an (sebelum dia dapat nobel) karena publikasi2nya di bidang fisika teoritis - yang sedikit berbeda dari yang lain: gampang dimengerti. Diagram Feynman yang menjalaskan interaksi antar partikel adalah salah satu karya agungnya, mempersingkat perhitungan konvensional 3 sampai 4 lembar kertas A4 menjadi hanya 1/4 lembar.

Selain itu, kelegendaannya adalah dalam membuat fisika ‘gampang’ dimengerti. Kejadian yang tidak akan pernah dilupakan para kaum akademis di dunia adalah ketika dia menyanggupi memberikan kuliah fisika dasar selama 2 th untuk freshman di Califonia Institute of Technology. Dia tidak hanyak menyulap hampir semua mahasiswa yang hadir saat itu menjadi saintis handal, tapi juga materi kuliahnya yang betul2 berbeda dengan diktat fisika konvensional. Materi kuliahnya itu kemudian dibukukan dalam 3 seri “the Feynman Lecture On Physics” yang kemudian menjadi “holy book”nya para praktisi saintis sampai sekarang.

Kerja jeniusnya dalam Quantum Electrodynamics mengantarkannya pada Nobel Prize pada 1965 bersama Julian Schwinger dan Sin-itiro Tomonaga. Faktanya, QED adalah “matter and light theory” terbaik yang kita punyai sampai saat ini. (Lain kali kita akan coba bahas ini ya :-) )

Pengembaraan jeniusnya tidak hanya sampai di sana. Manusia yang digambarkan oleh Ralph Leighton (teman sesama drummer dan juga penulis buku “Surely You are joking Mr. Feynman”) sebagai “Karakter yang haus teka-teki” sudah mengalami banyak petualangan sosial yang mungkin tidak dimiliki oleh saintis lainnya. Mulai dari penakuklan penjudi kelas berat di Las Vegas, menjadi penabuh gendang pada festival rakyat di Brasil, sampai pada perjalanannya pada dunia mimpi. Dan tentu saja, semua itu dia lakukan bersama: Fisika.

Petualangan terakhirnya adalah ketika memecahkan teka-teki meledaknya pesawat Challenger tahun 1986. Dalam bukunya “What Do You Care What People Think” yang akan kita bicarakan di bawah ini, terlihat bagaimana dia harus berjuang melawan dua hal: misteri itu sendiri, dan birokrasi pemerintah.

Satu tahun setelah publikasi jawaban teka-teki tersebut, tepatnya 15 Feb 1988, Feynman meninggal akibat kanker usus.

Artikel saduran saya ini, adalah dalam rangka mengenang 16 tahun meninggalnya Richard P. Feynman.

———–

Bagaimana Orang Tua Saya Membuat Saya Menjadi Ilmuwan
*taken from Richard P. Feynman “What Do You Care What Other People Think?”

feynman04.jpg

Saya punya seorang teman, dia adalah seorang seniman, dan kadangkala memiliki pandangan yang saya tidak setuju. Dia pegang setangkai bunga dan berkata “Lihat, betapa indahnya bunga ini”, dan saya setuju. Tapi kemudian dia akan berkata “Saya, sebagai seorang seniman, dapat melihat betapa indahnya setangkai bunga. Tapi kamu, sebagai seorang ilmuwan, menjadikannya terpisah-pisah dan itu membuatnya garing”. Saya pikir dia ini gila.

Pertama dan utama sekali, keindahan yang dia lihat adalah bisa dilihat oleh semua orang – dan saya juga, saya percaya itu. Walaupun saya mungkin tidak bisa merasakan bagusnya secara estetika seperti yang dia rasakan, saya dapat menghargai keindahan setangkai bunga itu. Tapi, di sisi lain, saya melihat lebih banyak hal pada bunga daripada dia. Saya dapat membayangkan sel-sel di dalam bunga, dimana juga memiliki keindahan tersendiri. Ada keindahan yang tidak hanya pada dimensi sentimeter; tapi keindahan itu juga ada pada skala yang lebih kecil.

Terdapat banyak aksi-aksi yang komplit di dalam sel tersebut, dan proses-proses lainnya. Fakta bahwa warna-wana dalam bunga sudah berkembang dalam rangka menarik serangga untuk datang dan membantu penyerbukan adalah sangat menarik; yang artinya serangga juga melihat warna-warna pada bunga tersebut. Ini menambah pertanyaan: apakah rasa estetika yang kita punya juga ada pada kehidupan bentuk rendah (dimensi skala yang kecil)? Ada beberapa jenis pertanyaan menarik lainnya yang datang dari ilmu pengetahuan, yang hanya menambah keasikan dan misteri serta kekaguman pada setangkai bunga tadi. Itu hanya menambahkan keindahan. Saya tidak mengerti bagaimana menguranginya.

Saya selalu sangat satu-sisi tentang sains, dan ketika saya sangat muda saya berkonsentrasi hampir pada semua usaha saya untuk sains. Pada masa itu, saya tidak punya waktu yang cuku, dan tidak terlalu sabar untuk mempelajari apa yang disebut humaniti. Sekalipun ada kuliah humaniti di universitas yang kau harus ambil untuk graduate, saya mencoba sebisa mungkin menghindarinya. Hanya setelah itu, ketika saya bertambah usia dan lebih santai, saya sudah sedikit banyak mempelajari hal-hal lain. Saya belajar menggambar dan membaca sedikit, tapi saua benar-benar seorang yang sangat satu-sisi dan saya tidak tahu bagaimana sebaiknya. Saya memiliki keterbatasan kecerdasan dan saya gunakan itu pada satu hal yang khusus (sains).

Sebelum saya lahir, ayah saya berkata pada ibu saya “jika dia anak laki-laki, dia akan menjadi seorang ilmuwan” *. Ketika saya balita dan duduk di kursi khusus balita, ayah saya membawa ubin-ubin kecil (untuk lantai kamar mandi) dengan berbagai macam warna. Kita bermain dengan ubin-ubin tersebut, ayah saya menyusunnya berbarik ke atas di atas kursi saya seperti layaknya domino, dan saya akan mendorongnya satu sehingga yang lain akan jatuh.

Lalu setelah beberapa lama, saya tolong dia menyusun ubin-ubin tersebut. Dalam waktu yang sebentar kita sudah menyusunnya dalam beberapa cara yang rumit: 2 ubin putih dan satu ubin biru, dua ubin putih dan satu ubin biru, dan seterusnya. Kalau ibu saya berkata “biarkan saja si kecil sendiri. Jika dia ingin meletakkan yang biru, biarkan dia meletakkan yang biru”

*Adik perempuan Richard, Joan, adalah Doktor di bidang Fisika, meskipun prasangka ini hanya anak laki-laki ditakdirkan menjadi ilmuwan.

Tapi ayah saya akan berkata “Tidak, saya ingin menunjukkan padanya seperti apa pola (penyusunan ubin-ubin itu) dan betapa menariknya mereka. Ini adalah sejenis matematika dasar”. Jadi dia memulai sangat dini untuk mengatakan pada saya tentang dunia dan betapa menariknya dunia itu.

Kami memiliki sebuah Encyclopaedia Britannica di rumah. Ketika saya kecil ayah saya memangku saya dan membacakan ensiklopedi tersebut. Kita kemudian akan membaca, katakanlah tentang Tyrannosaurus rex, dan dia akan berkata seperti “Dinasourus ini tingginya 25 kaki kepalanya berdiagonal 6 kaki”.

Ayah saya kemudian akan berhenti membaca dan bekata, “Sekarang mari kita lihat apa maksudnya. Maksudnya adalah jika dia berdiri di halaman depan kita, dia akan cukup tinggi untuk meletakkan kepalanya melewati jendela kita di sini” (kita ada di lantai dua). “Tapi kepalanya terlalu besar untuk masuk ke jendela ini”. Setiap sesuatu yang dia bacakan untuk saya selalu dia coa untuk menterjemahkan sebaik mungkin ke dalam realitas.

Ini sangat mengasikan dan sangat sangat menarik berpikir bahwa ada Karena itu binatang yang begitu besar - dan mereka sudah punah, dan tidak ada yang tahu persis kenapa. saya tidak takut bahwa mereka benar-benar datang ke jendela saya. Tapi saya belajar dari ayah saya untuk menterjemahkan: semua yang saya baca saya coba untuk memikirkan apa yang dimaksudkan, apa yang benar-benar disebutkan bacaan tersebut.

Kita biasanya perki ke Catskill Mountains, sebuah tempat dimana orang-orang dari NYC akan pergi untuk musim panas. Bapak-bapak akan kembali ke NYC untuk bekerja selama seminggu, dan kembali hanya untuk akhir minggu. Pada akhir minggu, ayah saya akan membawa saya untuk jalan-jalan di hutan kecil dan dia akan menceritakan tentang hal-hal menarik apa saja yang terjadi di hutan. Ketika ibu-ibu yang lain melihat ini, mereka berpikir ini adalah yang indah dan bahwa ayah-ayah yang lain seharusnya membawa anak-anak mereka untuk jalan-jalan seperti yang kami lakukan. Mereka mencoba melakukan itu tapi mereka tidak berhasil pertamanya. Mereka menginginkan ayah saya untuk melakukan itu, tapi tentu saja dia tidak ingin karena dia hanya punya hubungan spesial dengan saya. Jadi ini berakhir dengan ayah-ayah yang lain harus membawa anak-anak mereka jalan-jalan minggu depannya.

Senin berikutnya, ketika para ayah kembali bekerja, kita para anak-anak bermain di lapangan. Seorang anak berkata pada saya “Lihat burung itu? Jenis burung apa itu?”.

Saya jawab “Saya tidak punya ide sedikitpun apa jenis burung itu”.

Dia berkata “Itu adalah murai berparuh coklat. Ayahmu tak mengajarkanmu apa-apa!”.

(BERSAMBUNG)

  READ MORE >>   Bedah Buku