READ MORE >>   Renungan & Hikmah

Menjelang natal 2003 merenung sendiri, menunggu kerja yang ngga ada habis. Dalam kesendirian dan kesunyian, hanya tersisa komputer yang alhamdulillah ada media player dan perangkatnya. Diiringi lagu Till I find you again dari Richard marx, oalah koq romantis dan sendu begini, ya. Tiba-tiba saja ingin menulis, judulnya pun entah hendak dicantum apa. Isinya juga entah apa hendak mengarah.

Menengok ke belakang, saat yang sama pada tahun lalu. Di tempat yang sama, waktu yang sama, mengerjakan pekerjaan yang kurang lebih sama. Hmmmh, begitu waktu cepat berlalu tanpa bermakna, mungkin setidaknya tidak bermakna saat ini.

Lagu berganti, sekarang Veldhuis Kemper berputar. Tiba-tiba teringat sobat-sobat terkasih yang sudah dan mulai menghilang, sedih. Ini hanya episode kecil dalam hidup kiranya, mungkin sekedar miniatur dari apa yang terjadi pada saat tua nanti. Hanya bisa berharap Tuhan memberikan kekuatan untuk menghadapinya, tidak dibiarkan diri terlepas dari entah apa sebutannya, kebenaran semu?

Tidak mau ada di sini, tidak mau ada di mana-mana, tidak mau sendiri. Koq tiba-tiba lagu if you’re not the one, mengingatkan pada seseorang. Tersenyum, penuh kenangan dalam suka dan duka. Ingat seorang teman yang menelepon untuk mempercepat janji nikah kepepet, dari 35 jadi 30, hahahahaha, seperti percepatan pembayaran hutang IMF saja, yang tidak terealisasi juga … hidup koq seperti mainan saja, atau jangan-jangan memang sekedar mainan. Kalau menilik lagu indonesia jaman baheula, hidup hanya sandiwara dan kita sebagai pelakonnya. Ada yang berlakon jadi orang lucu, jadi yang jahat. Gambaran sikap setiap orang di dunia fana ini yang berbeda-beda atau mungkinkah kemunafikan seorang pelakon untuk memerankan apa yang tidak disukainya, sekedar bertahan hidup?

Terjebak, ya, rasanya itu kata yang tepat. Terjebak, tapi dari apa? siapa? Dari hidup ini? Kalau disajikan pada mas Ismail, pasti digayung sambuti dengan kalimat indah bahwa hidup dan dalam khidup ini kita harus senantiasa mensyukuri. Betul itu, betul itu ……

Menyebut nama mas Ismail, koq jadi teringat satu kata. Tidak ingat kapan kata ini tersebut dalam salah satu diskusi kami. PELACUR. Konotasi buruk yang memiliki banyak makna, sebenarnya. Hidup dalam keterjebakan ini, sama halnya seperti pelacur. Apa, ya, misalnya. Mungkin jaga image salah satunya, hahahahaha …… bisa banyak yang tersentuh, gawat. Terjebak dalam hal apa, di mana, oleh siapa, itu hanya frame toch …… Menjalani hidup karena maunya hidup ya begitu. Menentang Qodo en Qodar? Entahlah …

Sudahlah, biarkanlah. Menjadi pelacur dalam ilmu, dalam pekerjaan, dalam bersosialisasi, tidak masalah. Rasanya setuju dengan ide dasar bahwa semuanya bukan sekedar patut, tapi harus disyukuri. Termasuk rasa sepi yang sekarang sedang menyelimuti, menyediakan waktu untuk merenung yang bisa menimbulkan banyak kenangan manis dan pahit. Ambil pelajaran darinya, sementara ini nomor dua dulu. Kalau boleh meminta dalam do’a, biarkan saja itu terjadi. Kalau pun hati kecil ini menjerit karena tidak selaras dengan apa yang terjadi, apa yang dilakoni. Anggap saja uji atas kesabaran, yang jika semakin pedih maka semakin tinggi tingkat ujiannya. Apalah artinya dihadapan semua orang. Hanya satu yang ingin rasanya kalau boleh untuk dipinta, janganlah aku menjadi pelacur bagi Tuhanku.

Wangsa Tirta Ismaya adalah mahasiswa program doktoral pada grup Kristalografi Protein di Rijksuniversiteit Groningen. Selain menekuni untai DNA, Wangsa menikmati musik klasik dan pop ringan.

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah