READ MORE >>   Ramadhan 2005

(a.k.a. Asap 234 lewat, yang lain bukan apa-apa)

6 Ramadhan

Oleh: Indra Muliawan

Ramadhan, kata pak Sis, salah satu guru saya di madrasah dulu, adalah semacam oase, satu bulan dalam satu tahun untuk berbenah diri. Dalam bulan ini kita diberikan kesempatan untuk berperang, perang yang lebih hebat dari perang Badar, dimana kita harus memerangi hawa nafsu kita yang selama setahun kita biarkan menjalankan kehendaknya. Dua tahun yang lalu, dalam tulisan saya di serambi degromiest (versi sebelum cafe), saya menyadari bahwa selama ini puasa saya praktis hanya pada siang hari. Menjelang berbuka, saya sudah ikut duduk di sebuah bangku panjang, ngantri beli Martabak telor. Padahal di rumah pun lauk-pauk lengkap, dari kudapan untuk berbuka sampai hidangan penutup pun sudah siap. Belum lagi kudapan untuk dikonsumsi setelah shalat tarawih. Mungkin kalau kalorinya dihitung, bisa mengalahkan kalori yang dikonsumsi pada bulan-bulan di luar Ramadhan. Seusai Ramadhan, puasa saya berbekas, sebatas satu minggu setelah Ramadhan. Setelah itu, saya pun kembali lagi kedalam kejahiliyahan sebagaimana hari-hari sebelum Ramadhan.

Kembali ke alam jahiliyah selalu terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga begitu masuk kembali ke Ramadhan, praktis saya kembali pada titik awal waktu memulai Ramadhan tahun sebelumnya. Demikian siklus itu terus berulang. Ramadhan kali ini? dengan agak berat hati saya mengakui, bahwa kejadian tersebut kembali berulang. Saya mengawali Ramadhan pada titik yang hampir sama dengan awal Ramadhan pada tahun sebelumnya, atau malah mungkin mengalami kemunduran. Sewaktu berusaha mencari alasan pembenar kenapa siklus ini seakan tidak mau putus, pikiran saya melayang ke tanah air. Sepertinya, “penyakit” saya diatas bukanlah penyakit saya pribadi. Paling mudah adalah melihat ke media massa. Para artis* yang sebelum Ramadhan berpakaian terbuka (mungkin karena harga bahan baju naik seiring dengan naiknya BBM), begitu masuk Ramadhan langsung berpakaian yang lebih tertutup. Tidak terlihat lagi alasan-alasan seperti “seni diatas agama” yang selalu dikemukakan untuk membela tingkah laku mereka. Tayangan di televisi cenderung lebih banyak mengedapankan unsur keagamaan, dan lain sebagainya. Bagaimana setelah memasuki Syawal? seperti saya, dunia kembali kepada kehedonannya semula. Syahdunya Ramadhan tinggal kenangan diganti dengan musik hingar-bingar dari tempat-tempat hiburan malam. Jamaah Tarawih mulai hilang batang hidungnya dari masjid-masjid, dan kembali bertafakur di tempat-tempat hiburan malam tadi. Acara tivi kembali ke tayangan mistik dan kekerasannya. Pakaian-pakaian yang islami kembali ditanggalkan, diganti dengan pakaian-pakaian minim, dan kembali menyerahkan diri untuk dieksploitasi. Apabila diperingatkan (baik secara halus maupun keras) seni dan HAM selalu dimajukan sebagai alas hak yang sah untuk tidak mengikuti ajaran Islam. Korupsi? ini lebih parah, karena dalam Ramadhanpun bisa dilakukan tanpa dirasa mengganggu amalan Ramadhan. Di lain pihak, yang mengiris hati ialah kalau ditanya, apa agamamu? Mayoritas akan menjawab dengan mantap : Islam!

Merasa seperti sudah menemukan alasan pembenar mengenai siklus yang selalu saya hadapi tersebut, hati ini agak tenang. Namun tidak lama, muncul kata hati yang mengatakan : itu bukan alasan! Tanpa terasa saya sendiri kalau menyaksikan dan membaca berita mengenai kejahiliyahan masyarakat Indonesia, otomatis muncul umpatan-umpatan dan makian kecil di dalam hati. Kenapa bangsaku begini? Namun demikian, dalam konteks pribadi sendiri, tentu itu bukan alasan. Islam tidak pernah mengajarkan hal-hal buruk yang saya lihat sedang terjadi di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia. Indonesia penuh dengan muslim, namun masih jauh dari Islam. Islam, bukan timur tengah. Sampai kepada kesimpulan tersebut, muncul rasa malu dalam diri saya, karena saya adalah salah satu dari muslim di Indonesia. Apakah saya juga jauh dari Islam? Agar masyarakat menjadi lebih Islami, cara yang terbaik adalah memulai dari individu-individu penyusun masyarakat tersebut. Terdengar klise memang, tetapi bukan berarti salah. Untuk memecah siklus di atas, memang saya tidak boleh mencari alasan-alasan pembenar dan mencari kambing hitam. Perubahan harus dimulai, dan ibarat memulai untuk berhenti menghisap asap nikmat 234, diperlukan kemauan yang keras. Sepertinya itu yang selama ini saya belum punya. Insya Allah, mudah-mudahan kemauan ini akan tetap bersama saya setelah Ramadhan selesai, dan seterusnya.

  READ MORE >>   Ramadhan 2005