READ MORE >>   Renungan & Hikmah

Wahai pencuri, siapakah dirimu? Telah sekian lama malamku hilang bersama lelah. Pagiku menguap seperti embun tertimpa sinar mentari. Siangku berlalu mengikutimu. Kau curi semua itu. Siapakah gerangan dirimu?

Kidung dan pujian yang semestinya buat tuanku, telah kau curi kehidmatannya. Yang kau sisakan hanyalah mantera tanpa jiwa. Siapakah gerangan dirimu?

Duhai tuanku, jadikanlah kidung ini sebagai rantai yang mengikat jiwa bersama kursimu. Melindungi diriku dari keinginan dan suara besarnya sendiri. Agar tak terbawa oleh sang pencuri.

Jika kidung ini hanya menarik hadirnya lebih banyak pencuri, jangan lagi kau mampukan aku untuk meniup seruling. Agar tidak ada lagi yang bisa diambilnya dariku. Diriku pun hanya bisa duduk di depanmu.

Terimakasih tuanku. Pagi ini telah kau pertemukan aku dengan salah seorang dari kawanan itu. Dia mengaku bernama waktu. Bersikeras meminta perhatianku, berargumen menentukan detik-detikku. Memaksaku pergi dari ruang tamumu. Tadi aku telah berbicara dengannya. Ternyata dia hanya ingin diakui saja, tuanku. Dan untuk sementara dia mengambil jarak. Aku sejenak bisa berhidmat kepadamu.

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah