READ MORE >>   Renungan & Hikmah

Ziarah

Setelah tidak bertemu muka hampir empat tahun, saya menjumpai adik
kandung di kota kecamatan tempat kami dilahirkan. Lebih tepat lagi
di rumah yang masih saya ingat persis ada pohon rambutan di bagian
dalam, pagar kawat di bagian depan, sebuah sumur pompa tangan, dan
lorong kecil di sisi kiri tempat ari-ari jabang bayi kami berdua –
saya dan adik — ditanam. Bangku kayu di beranda juga masih seperti
puluhan tahun lalu, termasuk warna abu-abu, yang hingga kini tidak
berubah. Salah satu momen nostalgia di bangku itu adalah pada saat
kami — ibu, adik, dan saya — bercakap-cakap santai beberapa bulan
setelah bapak berpulang ke rahmatullah dan saya bersiap-siap
beberapa hari berikutnya akan ikut UMPTN di kota kabupaten.

Sebuah keping sejarah yang selanjutnya mengantarkan saya pada keadaan
sekarang ini.

Adik saya tidak berubah; di antara sekian preferensinya dalam
menikmati hari-hari sibuknya di kota kecamatan, dia menyambut saya
dengan sebuah hadiah: buku tulisan Sindhunata, salah satu kolumnis
Kompas yang aktif, tentang kesenian Jawa Timur, Ludruk. Dengan judul
Prabu Minohek — Ilmu Ngglethek, buku ini disebut oleh penulisnya
tidak akan sanggup bercerita secara utuh tentang seorang Kartolo,
melainkan lebih merupakan sebuah “feature” tentang Kartolo “and his
gang”.

Saya yang membaca buku tersebut sepanjang perjalanan kembali dari
Jember ke Bandung, mau tidak mau tersenyum simpul sendiri — untuk
menghindari tergelak seorang diri — menelusuri bab demi bab yang
kira-kira separuh lebih ditulis dalam Bahasa Jawa dialek Suroboyoan
dan Malang. Di sana-sini diumbar ungkapan urakan khas Kartolo dan
grupnya jika sudah seperti “in trance” di panggung. Ironi,
kekonyolan, kesombongan-setengah-ndablek gaya Basman, sampai dengan
ejek-ejekan khas Surabaya, “Guuuuoooblokkkk!”, hahahaha… (gaya
Basman kalau sehabis memuji dirinya sendiri yang digambarkan penuh
kekonyolan).

Di Surabaya, saya hanya menghirup udara sekitar stasiun Gubeng dan
warung nasi rawon di pojokannya. Tidak sempat saya kitari kota
“mlaku-mlaku nang Tunjungan” ini seperti saya kagumi Paris yang
glamor dan saya puji kota Eiffel ini cocok untuk kaum bohemian.
Benar, Paris agak angkuh karena yang disodorkan adalah aroma “seni
untuk seni” dengan titik pusat pada nama-nama besar dan cita rasa.
Jika kita merumput di tempat-tempat publik di Paris dan terdengar
alunan musik klasik, seperti itulah kita membayangkan sebuah
adikarya yang kompleks.

Dan saya telah kembali di kampung sendiri dengan penjelasan bahwa
kesenian yang diusung Kartolo dan teman-temannya adalah sebuah seni
yang sebenarnya “tidak berisi apa-apa”. Jika kita sedikit kecewa
karena ternyata Kartolo hanya menceritakan kehidupannya sehari-hari,
mengulang guyonan yang dibawa teman-temannya, dan mengolok-olok
kepahitan hidup di negeri ini, itulah yang kemudian disebut “ilmu
ngglethek”. (Ngglethek: ungkapan “oh ternyata…”)

Itulah kehidupan kesenian yang menjadi semacam bohemianisme para
pekerja seni Ludruk dan diterima secara massal. Kaset rekaman
Kartolo meledak terjual dan dinikmati semua lapisan masyarakat.
Jula-juli (semacam pantun, parikan) yang dilantunkan dapat menyentuh
salah satu pendengarnya menjadi bertobat dari kecanduan judi dan
salah satu hasil “industrialisasi” kaset rekaman itu adalah Kartolo
menikmati tempat tinggal yang memadai, menyekolahkan kedua putrinya
sampai jenjang perguruan tinggi, dan mengantarkan dia dan isterinya
berhaji. Dia sendiri kemudian mulai aktif mengasuh majelis Yasinan.

Banyu urip akeh tandurane,
mliwis netes manuk dara
urip ning donya ibarate wong mampir ngombe
wis pantese wong urip ora golek pekara

Dan cukup sekian,

Yu Painten kleleken andha
cekap semanten kidungan kula

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah