READ MORE >>   Islam Aktual

Di milis deGromiest saat ini sedang rame diskusi tentang Fatwa MUI. Saya melihat diskusi ini sebagai sebuah upaya yang positif untuk memahami persoalan umat. Fatwa yang dikeluarkan MUI tentu tidak sembarangan fatwa, dan tentu melalui proses pemikiran yang menyeluruh dari para ulama. Tulisan ini agak panjang untuk di milis, jadinya saya posting juga di Cafe. Mohon maaf.

DARI 7 fatwa haram MUI, tampaknya nomor 1 s/d 5 (euthanasia, perkawinan, perdukunan, kewarisan, dan wanita imam) tidak menimbulkan keresahan.

FATWA nomor 6, tentang Ahmadiyah, menimbulkan berbagai tuntutan dan dampak, seperti munculnya rasa was-was penganut Ahmadiyah di Bandung. Artinya, fatwa ini berdampak pada hidup mati penganut Ahmadiyah atas kemungkinan munculnya kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat kepada mereka. Ditambah lagi dengan kondisi saat ini, dimana negera belum bisa memberi jaminan keamanan, kekhawatiran itu semakin bertambah. Mereka juga punya anak, bayi, istri seperi halnya manusia yang lain. Berita di kompas spt yang jadi awal thread diskusi ini (baca ini) melaporkan tuntutan tersebut.

FATWA nomor 7, tentang hampir diharamkannya pluralisme dan liberalisme, juga dilaporkan oleh Republika diminta dicabut oleh Ketua PBNU, temennya Cak Fu, Masdar Farid Masoedi. Menurt Masdar, fatwa ini terlalu gegabah, karena tidak didasari oleh “pendefinisian masalah”. Masa sampai begitu? Kalau kita riset, pertama yang musti didefinisikan adalah masalahnya dulu, tapi dalam hal fatwa ini, tahapan ini dilewati.

Penasaran, kulihat webnya MUI, ternyata hanya sedikit informasi di sana tentang fatwa pluralisme ini. Hanya diberikan arsip koran Tempo. Ada yg tahu link ke daftar fatwa dan latar belakangnya? Bagi dong…

SOAL hampir haramnya liberalisme dan pluralisme bukankah belum jadi fatwa namun baru jadi rekomendasi untuk munas mendatang? (lihat di web tsb) Namun, melihat reaksi tokoh masyarakat dan cendikiawan (lihat pula konferensi pers Ulil, Azyumardi, dll) tentang pandangan MUI soal liberalisme dan plurisme, poin ini tampaknya cukup meresahkan.

TENTANG definisi keduanya: “Liberalisme itu memandang agama dengan alam pikiran, sedangkan pluralisme berarti membenarkan semua agama,”kata Maruf. Aku sendiri baru tahu kalau definisinya begitu.

Selama ini aku mengikuti definisi pluralisme kira-kira begini: “pluralisme adalah pengakuan akan keberagaman dan menerima keberagaman itu dalam kehidupan bersama. Ada peacefull co-existence dalam pluralisme. Seorang yang tidak pluralis adalah yang (sejak dalam gagasan) tidak mengakui adanya keberagaman dan (sebagai konsekuensinya) tidak bisa hidup damai dalam keberagaman tersebut” (dari milis sebelah).

Dan dari Dictionary.com:

“pluralism”

1. The condition of being multiple or plural.

  • A condition in which numerous distinct ethnic, religious, or cultural groups are present and tolerated within a society.

  • The belief that such a condition is desirable or socially beneficial.

3. Ecclesiastical. The holding by one person of two or more positions or offices, especially two or more ecclesiastical benefices, at the same time.
4. Philosophy.

  • The doctrine that reality is composed of many ultimate substances.

  • The belief that no single explanatory system or view of reality can account for all the phenomena of life.

Rasanya nothing wrong dengan pluralisme, bahkan ini adalah sebuah kondisi harmoni yang diharapkan oleh para pendiri bangsa kita melalui Bhinneka Tunggal Ika.

MOTO bangsa kita ini, menurut saya, merupakan pencapaian pemikiran dan perenungan yang luar biasa. Para pendiri itu lahir dari pahit getirnya perjoangan negeri ini. “Pancasila” dan seloka “bhinneka tunggal Ika” adalah ungkapan yang menurut Dr Soewito dalam tulisannya Sutasoma, A Study in Javanese Wajrayana (1975)- “is a magic one of great significance and it embraces the sincere hope the whole nation in its struggle to become great, unites in frame works of an Indonesian Pancasilaist community”.

PANCASILA dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar dan seloka negara kita, tentu bukan sembarangan ciptaan manusia. Jika tidak ada dualisme dalam Ketauhidan, tentu kita yakin keduanya juga dari Tuhan yang dilahirkan melalui para pendiri negara kita.

Rasanya begitu dalam maknanya, begitu dekat dengan rasa Keakbaran Allah, Kasih Sayang Allah. Bagaimana bisa, itu semua direduksi hingga tinggal bermakna “membenarkan semua agama”? Semoga saya salah memahami maksud fatwa ini. Semoga para ulama yang ikut munas, sudah benar-benar melihat bangsa Indonesia (bukan hanya umat Islam) secara menyeluruh. Tugas ulama, menurut saya, bukan sekedar menjaga akidah umat Islam saja, ‘rohmatan lil muslimin’. Tetapi menjadi ‘rohmatan lil alamin’, untuk semua alam (termasuk manusia, binatang, alam, planet, dll).

SORE tadi sempat merenung, bertanya-tanya sendiri, bagaimana seharusnya hubungan antara para ulama (mereka yang berilmu dan diformalkan dalam sebuah institusi) dengan umatnya? Apakah seperti seorang ayah yang memberitahu anaknya mana yang benar mana yang salah? Tentu, tidak ada ayah yang ingin mencelakakan anaknya. Apa yang disampaikan pun untuk kebaikan anaknya. Namun, bagaimana dengan anaknya yang membangkang, menurut dia? (belum tentu sebenarnya membangkang, mungkin sang ayah yang belum paham pemikiran anaknya. ini yang sering terjadi, khususnya saya ke Lala dan Malik).

SAYA (weleh.. kadang pake aku, kadang saya.. gimana Ndra, pakar Kita, Kami, dan Revans?) rasa bangsa kita ini membutuhkan jiwa yang luas dan dalam untuk bisa merangkul berjuta perbedaan yang ada. Kita adalah negara maritim, yang luas lautnya. Jika rumput yang bergoyangnya Ebiet G. Ade pun bisa bicara, tentu lautan pun akan bertutur kepada kita. Pernahkan kita mendengarkan tuturannya? “Lihatlah diriku, yang menerima segala keragaman yang dilempar ke dalam dasarku. Tak satupun yang kutolak. Semua kuterima, semua kurangkul. Nyi Roro Kidul pun (kalau memang ada) beristana di dalam dasarku. Namun lihat, aku tetap samudera yang tunduk patuh kepada perintahNya untuk selalu bertasbih memujiNya.”

Sang Samudera

Di tepian pantai,
gemuruh ombak memukul dan mencabik karang
saling berebut tempat dan jalan
dengan kuat dan tajam

Sekejap waktu tiba,
sang ombak kembali ke induknya
membawa serta butiran pasir yang terkikis
lalu kembali lagi, menghantam!

Pelaut pun berlayar semakin jauh,
meninggalkan hiruk-pikuk ombak dan karang
di atas luasnya samudera
dia berlabuh

Waktu seolah berhenti,
ketika di atas permukaan biru,
badai menerjang
menghancurkan kapal

Di kedalaman hati samudera
ditemukannya kedamaian
tempat kembali segala yang yang dipermukaan
kapal, besi, kayu, bangkai, emas, harta karun, kotoran, dslb…

  READ MORE >>   Islam Aktual