READ MORE >>   Bedah Buku

Beberapa saat setelah peluncurannya, buku karangan Dan Brown ini menjadi best seller dan laris di mana-mana. Apakah yang menjadi “rahasia” kesuksesan buku ini?

Ada dua “menu” yang dihadirkan buku ini :

1. Ketegangan (suspens) dan alur
Jika diperhatikan, cerita yang dihadirkan oleh Dan Brown adalah “petualangan” seorang Robert Langdon. Brown menghadirkan permasalahan ke depan Langdon, yang pemecahannya harus menggunakan ilmu simbologi yang dimiliki Landon terhadap beberapa karya Leonardo Da Vinci. Sementara itu, dalam menganalisa dan memecahkan teka-teki yang dihadapinya, unsur ketegangan dihadirkan dengan “berlari”nya Langdon dari kejaran polisi dan pihak-pihak yang juga menginginkan apa yang tersembunyi dalam beberapa karya Da Vinci tersebut.

Alur utama yang disajikan Dan Brown adalah kronologis. Teka-teki sedikit demi sedikit terbuka. Selain itu, ada pula beberapa kejutan yang cukup membuat pembaca berfikir. Kemudian, ada beberapa alur kilas balik, yang kesemuanya berfungsi untuk membantu pembaca memahami secara penuh rangkaian peristiwa yang berujung kepada petualangan Brown tersebut.

2. Fakta/fiksi di sekitar karya Leonardo da Vinci yang berhubungan dengan Jesus
Hampir seluruh bagian dari novel ini, diwarnai oleh fakta/fiksi di sekitar karya Leonardo da Vinci yang berhubungan dengan Jesus. Adapun fakta/fiksi tersebut, mungkin sekitar 10%nya saja yang diciptakan oleh Brown. Sementara sisanya memang sudah diketahui oleh komunitas yang memang punya perhatian terhadap masalah-masalah itu. Dengan kata lain, untuk komunitas-komunitas tersebut, fakta/fiksi ini bukan lagi barang baru. Namun demikian, jumlah “anggota” komunitas-komunitas ini memang tidak banyak dibandingkan dengan pembaca lainnya dari novel ini.

——

Memang tidak dapat dielakkan, kepiawaian Brown dalam meracik fakta/fiksi tersebut ke dalam alur yang ia buat, telah membuat novelnya menjadi best seller, dan tentu menambah tabungan Brown. Selain itu, fakta/fiksi yang dihadirkan Brown memang cukup “mengguncang” pemikiran orang-orang yang bukan “anggota” dari komunitas-komunitas di atas, karena dirasa mendobrak mainstream yang dipercaya dan dianut di hampir seluruh dunia.

Akan tetapi, dari segi cerita, sajian Dan Brown tidak dapat dikatakan terlalu istimewa. Para pembaca buku-buku thriller tentu sudah terbiasa dengan penyajian seperti diatas. Bahkan mungkin ada dari beberapa pembaca yang sudah dapat kurang lebih menebak akhir ceritanya. Pembaca “The Da Vinci Code” setelah membaca novel tersebut akan hampir selalu terpancing untuk mendiskusikan fakta/fiksi tersebut. Sedangkan di lain pihak, sedikit yang akan tertarik untuk mendiskusikan alur , ketegangan, serta jalan ceritanya itu sendiri.

Dari analisa singkat di atas, sepertinya, jawaban dari pertanyaan di awal artikel ini :”apakah yang menjadi rahasia kesuksesan buku ini?” sudah dapat terjawab.
Pertama, Brown cukup berhasil mengawinkan fakta/fiksi dengan alur dan ketegangan yang ia sajikan. Kedua, Brown mengangkat perihal yang kontroversial, yang mengguncang kemapanan mainstream yang telah ada. Tidak tanggung-tanggung, Brown mengguncang kemapanan salah satu agama yang penganutnya cukup besar di muka bumi ini.

Namun, perlu ditekankan, bahwa ada catatan kecil dibalik dua rahasia sukses di atas. Yang dilakukan Brown selain alur cerita dan ketegangannya, ia hanya mengangkat perihal yang sudah bukan barang baru, dari publik terbatas ke publik yang lebih luas. Dan dalam topik ini, Brown bukanlah yang pertama. Walaupun begitu, boleh jadi dia adalah yang pertama yang menjadi kaya karenanya.

  READ MORE >>   Bedah Buku