READ MORE >>   Catatan Pribadi

Kota Bandung

Hari ini adalah hari rabu tanggal 20 April 2005. Ini adalah hari pertamaku di kota Bandung semenjak aku menginjakkan kakiku di negara Indonesia tercinta ini. Aku berangkat dari Jakarta jam setengah sembilan pagi dengan memakai kijang inova baru milik ibuku. Kakakku yang pertama-tama menyetir karena dia pun ingin mencoba mobil baru ini. Dia bilang kijang naik kelas karena sekarang segala accesorinya dari mulai mesin hingga dashboard dibuat dengan kualitas yang sangat bagus. Kakakku mengantarku hanya sampai perbatasan, dia masih ada urusan di Jakarta. Kemudian perjalanan selanjutnya dilanjutkan oleh supir pribadiku, Ajat. Kami tiba di kota Bandung pukul 11.30 siang. Kami langsung menuju kantor imigrasi Bandung untuk memperpanjang pasporku yang harus diperpanjang 5 tahun lagi. Disana sudah menunggu seseorang yang memang bekerja untuk mengurus dan memudahkan segala keperluan orang yang ingin memperpanjang paspor. Karena aku memang tidak punya banyak waktu untuk mengurus sendiri dan memang kalau aku mengurus sendiri akan memakan waktu yang sangat lama, maka aku putuskan untuk memakai jasa seseorang, mumpung sekalian bagi-bagi rezeki kepada orang yang membutuhkan, mudah-mudahan Tuhan menerima niat baikku ini.

Urusan paspor berjalan dengan sangat lancar. Ternyata sudah tiba waktu makan siang. Aku telepon teman lamaku yang sudah pulang bekerja dari negeri Norwegia di salah satu perusahaan swasta terbesar di dunia di bidang perminyakan. Dia sudah keluar dari perusahaan tersebut karena pada umurnya yang juga seumuranku dia sudah divonis oleh dokter menderita sakit hypertensi kronis akibat kelelahan bekerja di perusahaan swasta tersebut. Namun departemen sumber daya manusia perusahaan tersebut bermain sinetron dengan departemen tenaga kerja untuk tidak memberikan pesangon yang selayaknya kepada temanku tersebut. Malang nian nasibnya. Oleh karena itu kuniatkan untuk bertemu dengannya sekalian melepaskan rindu setelah sekian tahun tidak bertemu dengannya. Sekarang dia bisnis sendiri di rumahnya dengan melalui internet. Yaitu bisnis forex alias foreign exchange. Beli dengan harga rendah dan jual dengan harga tinggi. Atau beli dengan harga tinggi dan jual dengan harga yang lebih tinggi lagi. Simpel dan sederhana. Cukup main satu bulan sekali saja, yaitu pada saat sentimen pasar yang sangat tinggi untuk menjamin profit yang cukup besar. Dia menceritakan kepadaku kapan saja waktu yang tepat untuk bermain. Sekali main bisa profit sampai 2000 US dollar. Jumlah yang fantastis untuk satu jam permainan. Tentu saja risiko ruginya pun ada, yaitu ketika salah menterjemahkan sentimen pasar. Uang yang ada bisa ludes sekaligus.

Dia bercerita kalau kondisi pasar Amerika memang mirip dengan kondisi pasar di Indonesia. Banyak peluang potensi pasar dan yang sukses bisa sukses banget dan yang bangkrut bisa bangkrut banget. Memang benar. Namun di Eropa, sistem sudah sangat mapan sehingga tidak ada orang miskin dan tidak ada orang kaya, semua sama rata. Menurutku dia terlalu mengeneralisir. Kondisi seperti ini hanya ada di negara-negara scandinavia saja, seperti Norwey, Denmark dan Finlandia. Belanda memang menganut sistem sosial namun karena krismon yang dashyat seperti saat ini, negeri ini pun dilanda kemiskinan. Tentunya kemiskinan yang disesuaikan dengan kondisi dan standar negara belanda dan tidak bisa dibandingkan dengan kemiskinan absolut yang diderita oleh masyarakat di negara Indonesia. Di Eropa yang paling dijunjung tinggi adalah hukum dan hak asasi manusia serta kode etik. Memang sebagian benar tapi tetap tidak bisa digeneralisir begitu saja. Tentunya seperti di semua negara dan di dunia rusak ini, dimana-mana outlier akan selalu ada. Ini pasti. Seperti telah diajarkan oleh hukum statistik.

Makan siang terjadi di Bandung Indah Plaza. Aku memesan nasi timbel komplit dengan dua ayam goreng ditambah sayur asam ditambah dengan minuman es kelapa muda dan teh botol dingin. Rasanya nikmat tidak terkira karena memang menu ini adalah menu favoritku setiap aku pulang ke Indonesia. Sambil makan kami mengobrol banyak tentang ini dan itu selayaknya waktu jaman dahulu ketika kami kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan matematika. Bedanya sekarang kami sudah pernah mengalami apa yang dinamakan dengan dunia kerja yang keras. Sekarang sudah bukan waktunya untuk main-main lagi seperti jaman di universitas, namun sekarang hutan rimba yang ada di depan mata kami. Kalau tidak cerdik, akan diterkam oleh harimau. Kalau tidak pintar, akan lenyap ditelan gelapnya malam di tengah-tengah hutan belantara. Selayaknya teori evolusi Darwin, survival of the fittest tetap berlaku pada manusia karena sebenernya menurut Darwin, manusia adalah termasuk salah satu jenis binatang yang mempunyai akal pikiran. Jadi binatang pintar maksudnya dia begitu. Namun saya punya argumentasi lain yang berbeda dengan Darwin, manusia tetap berbeda dengan binatang, manusia mempunyai hati. Seburuk atau sejelek apa pun manusia, tetap ada sisi kebaikannya, aku yakin akan hal ini. Inilah yang membuatku bisa tetap exist di dunia manusia ini. Kalau aku sudah tidak percaya terhadap kaum manusia, aku tidak akan bisa hidup di dunia yang penuh dengan kerusakan dan kebusukan dan lengkap dengan tipu dayanya ini.

Setelah selesai makan siang aku pun pergi lagi ke kantor imigrasi Bandung untuk foto dan mengambil paspor baruku. Kemudian setelah itu aku pergi ke Geger Kalong Bandung untuk menginap di MQ Guest House. Ternyata nona Shirley yang cantik dan manis itu masih mengenaliku disana dan dia tersenyum sangat lebar menyambutku. “Kapan datang dari belanda pak?”, tanyanya. “Ooh, ini hari ketiga saya berada di Indonesia”, jawabku. “Mau menginap disini pak?”, tanyanya. Aku sedikit mengerutkan kening karena bukankah sudah jelas bahwa aku akan menginap disini karena aku membawa koper dan ransel serta keresek penuh dengan makanan. Namun aku segera ingat bahwa memang budaya di Indonesia untuk selalu berbasa-basi. Lalu aku pun mengangguk dan menyambut basa-basi tersebut dengan basa-basi lagi. Bersambutlah percakapan tersebut dengan sangat enak dan ramah. Sesuatu yang tidak mungkin aku bisa dapatkan di negeri Eropa. Di Eropa, segala sesuatu ada harganya, walaupun itu senyum atau pun sekadar basa-basi saja. Di Indonesia, masih ada dan mungkin tidak banyak aku pun tidak tahu karena belum pernah mengadakan riset tentang hal ini, orang yang tulus dan ikhlas untuk saling membantu dan memberi. Sayangnya di dunia rusak ini sudah semakin sedikit saja orang seperti ini.

Karena aku dianggap tamu langganan, aku pun mendapat diskon. Memang mungkin sudah menjadi rejekiku untuk mendapatkan diskon hari ini di MQ Guest House. Sudah tempatnya enak ditambah servicenya juga memuaskan. Setelah mandi dan membersihkan diri dari keringat busuk selama di perjalanan 3 jam Jakarta Bandung, aku pun pergi ke MQ Travel untuk memberikan paspor baruku ke seseorang yang bernama kang Sukarta. Beliau bekerja sebagai customer service dan bertugas untuk mengurus dan membantu serta melayani customer dalam setiap acara. Yang membuat saya terkesan adalah walaupun kaki kanan beliau lumpuh namun beliau sangat mandiri dan tidak membutuhkan bantuan orang lain. Bahkan dari segi finansial beliau adalah orang yang sudah sangat mandiri. Kekaguman saya akan beliau sangat tinggi sehingga mengingatkan saya pada seseorang di negeri Belanda yang juga sangat saya kagumi kepribadiannya, yaitu Cak Fu. Malam itu pula saya ajak kang Sukarta ke Warnet untuk mengunjungi web site Cak Fu dan kami mengirimkan email kepada beliau agar kang Sukarta dan Cak Fu bisa saling berkenalan dan saling berbagi cerita, ide dan gagasan. Tidak terkira senang dan bahagianya kang Sukarta ketika saya ceritakan segalanya mengenai Cak Fu dan DeGromiest. Dia tidak pernah mengira bahwa hari ini akan ada seseorang yang memberi tahu informasi ini. Ini adalah pertama kalinya dia mengetahui akan keberadaan seorang Cak Fu. Dan hal ini merupakan intan berlian penuh emas permata bagi seorang seperti Kang Sukarta.

Setelah selesai mengirim email saya pun mencoba berbaur dengan masyarakat sekitar untuk mengetahui lebih jauh kondisi setempat di Geger Kalong. Seperti apa komposisi masyarakatnya dan apa saja kegiatan disana. Sangat impresif menurut pandangan saya. Semua ini dimulai dari 3M, yaitu mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil dan mulai saat ini juga. Akhirnya lingkaran kecil ini bertambah besar dan bertambah besar lagi, bahkan bukan tidak mungkin bahwa akhirnya lingkaran besar ini menjadi lingkaran cosmic yang menutupi seluruh jagat raya. Siapa tau? Yang terpenting adalah setiap orang menyadari posisinya masing-masing dan kalau setiap orang sudah menerapkan 3M ini, maka bukan tidak mungkin, peradaban manusia yang kita damba-dambakan akan terwujud. Yaitu peradaban civil society yang diliputi oleh perasaan tentram, damai, tenang, penuh dengan kepercayaan satu sama lain, saling tolong-menolong dan saling membantu baik itu dalam kesulitan ataupun saling membantu dalam kesenangan. Saling mengingatkan dan sangat didambakan bahwa seorang manusia menjadi saudara bagi manusia lainnya dan bukan menjadi mangsa dan pemangsa. Bukan pula survival of the fittest karena kita tidaklah sama dengan bangsa binatang.

  READ MORE >>   Catatan Pribadi