READ MORE >>   Catatan Pribadi

Wardi

Setelah update berita mengenai perkembangan milis yang akhir-akhir ini makin seru, ada satu conversation antara Wangsa dan Mia yang mengingatkan saya pada seseorang. Alkisah, ada seorang jejaka bernama Wardi. Wardi ini lahir dan besar di Pemalang. Pendidikannya cuma sampai kelas 4 SD. Sampai dengan umur 24 tahun, dia bekerja di sawah, mengkomando kerbau narik bajak, menemani sang kerbau merumput (tentunya si Wardi tetap makan nasi dan nggak ikut merumput), dan bantu-bantu hal lainnya. tidak jelas apakah si Wardi ini termasuk pengangguran terselubung atau bukan. Suatu hari, kakak ipar wardi yang bekerja di Jakarta pulang kampung dan menawarkan pekerjaan di Jakarta, karena menurut sang kakak, value si Wardi ini bisa ditingkatkan. Kalau di Pemalang, pendapatan Wardi tidak bisa dinilai dengan uang. Di Jakarta bisa. Paling tidak, tiap dua bulan sekali bisa beli satu kambing, dan masih bersisa untuk keperluan sehari-hari dan ditabung.

Wardi yang selalu membawa kartu anggota NU di dompetnya itu, awalnya agak bimbang. Maklumlah, embel-embel di depan nama Wardi itu “mas”. Kalau “uda”, tanpa berfikir dua kali pasti sudah dikemas pakaiannya yang tidak seberapa banyak itu dalam kurang dari sepuluh menit.

Sesampainya di Jakarta, Wardi bekerja sebagai “office boy“. Memang, job description agak berbeda dengan yang biasa dia kerjakan di sawah dengan kerbaunya. Tetapi pada hakikatnya, tetap kerja sedikit ini, sedikit itu (tapi kalau digabung jadi banyak juga), namun dengan beban relatif lebih ringan. Wardi diberikan sebuah kamar di kantornya tempat dia tinggal. Tidak bisa dibilang bagus, tetapi masih lebih bagus dari kamarnya di Pemalang. Paling tidak, sekarang kamarnya dikelilingi tembok, dan kaca yang tergantung di tembok itu ukurannya 5 kali lipat dari kaca spion yang dahulu selalu dia gunakan waktu menyisir rambutnya. Di meja di dekat kaca tersebut, ada sebuah radio tape lengkap dengan pemutar CDnya. Dan, yang paling membuat Wardi senang adalah, itu kamarnya sendiri. nggak usah bagi-bagi dengan orang lain.

Setiap hari Wardi dapat makanan dari kantornya. Walaupun selera makan Wardi cukup besar, namun jatah dari kantornya itu masih mencukupi. Sehabis main course, Wardi selalu menyiapkan dua hal untuk pencuci mulut. Secangkir kopi tubruk, dan dua batang rokok kretek. Sehari-hari, Wardi jarang meninggalkan kantor itu. Bukan karena tidak boleh atau tidak ada waktu karena mengejar deadline, tetapi karena memang dia tidak melihat kepentingannya untuk jalan-jalan. Saat malam-malam banyak anak muda nongkrong di belakang kantor di sekitar warung rokok, lantunan suara Wardi yang melagukan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu sayup-sayup terdengar dari arah kamarnya.

Suatu ketika, salah seorang “boss” Wardi bertanya :”Di, kamu tuh punya pacar enggak sih?” Wardi menjawab :”Enggak Mas”, sambil tersipu-sipu dengan cengkok Pemalangnya yang masih kental. “Biar dicariin di kampung aja”, lanjutnya lagi. Pada hari lainnya, ada penggantian perabot di wilayah “kekuasaan” Wardi di kantor itu. Tivi yang biasa ia tonton, dipindahkan, dan diganti dengan tivi yang lebih besar dan lebih bagus. Akses ke saluran tivi kabel yang dahulu hanya ada di ruang rapat dan kamar kerja para boss juga diberikan. Keesokan paginya, saat “boss besar” datang, Wardi menghampirinya, seraya berkata “Pak, mohon maaf, tapi, apa saya boleh minta tivi yang dulu saja? saya bingung mau nonton yang mana, dan tivinya besar sekali, pusing Pak”. Sang bos besar cuma bisa melongo saja mendengar curhat si Wardi. Akhirnya tivi si Wardi yang kecilpun dipasang kembali. Namun, walau sekarang menggunakan antena biasa, akses tivi kabelnya dibiarkan menggantung di sebelah tivi tersebut, kalau-kalau saja suatu waktu nanti Wardi tiba-tiba berhasrat ingin menonton MTV.

Wardi itu cuma salah satu contoh orang yang kehidupannya sederhana, dan tidak banyak maunya. Saat musim naik gaji, Wardi sempat bertanya, mengapa ia terima uang banyak sekali, sementara pendapat kebanyakan orang adalah :”gak bisa tambah lagi ya?”. Memang disatu sisi, sepertinya kehidupannya monoton, datar, tidak berkembang. . Tetapi, dilain pihak, Wardi merasa kesejahteraannya terjamin, dan ia merasa senang sentosa. nggak pingin motor, mobil, gak pingin komputer dengan prosesor 4GHz dan Windows 64 bit, gak pingin mikir negara kesatuan atau federal, gak pingin punya saham Philip Morris. Relatif jarang ya orang kayak gini?

Ada yang berminat dengan Wardi? masih belum punya pacar lho… ^_^

  READ MORE >>   Catatan Pribadi