READ MORE >>   Traveling Club,

Perjalanan ini aku mulai dari kota Koeln dengan menaiki kereta api super cepat Thalys. Aku dan kakakku berangkat dari Koeln jam 10 pagi dan kami tiba di station Gare du Noord, Paris jam 2 siang. Total perjalanan hanya 4 jam saja sedangkan jarak Koeln - Paris adalah 600 km. Dengan memakai perhitungan fisika sederhana, rata-rata kecepatan kereta Thalys trayek Koeln - Paris adalah 150 km/jam. Setelah tiba di station Gare du Nord, aku rangkul kakakku dan aku bilang, “We are in France my friend”, kakakku langsung protes, “my broer!”. Kemudian aku bilang, “Kalo aku bilang broer, situ yang enak sedangkan sini tidak enak, situ big brother sini little brother yang biasanya harus nurut sama big brother, so.. this time, I’ll call you my friend, then we are equal, okay?”. Kemudian kami menuju pusat informasi turis. Disana kami mem-booking hotel seharga 60 euro dan kami pun mendapatkan booklet yang berisi informasi tentang kota Paris dan informasi tentang transportasi-line di kota Paris seperti Metro dan Bus. Tempat-tempat touristic pun ada dan lengkap di booklet tersebut sehingga kami tidak membutuhkan buku tambahan lainnya. Setelah mendapatkan informasi tersebut kami pun turun ke underground untuk membeli tiket terusan mengelilingi kota Paris dalam dua hari. Tiket tersebut berharga 28 euro untuk dua orang, dengan tiket ini kami berhak menggunakan Metro dan Bus selama dua hari penuh di seluruh kota Paris.

Dari statiun Gare du Nord kami harus menggunakan metro ke halte Pigalle. Yang mengejutkan adalah ketika kami keluar dari underground di station Pigalle, ternyata Pigalle adalah daerah “mesum”-nya kota Paris. Di Pigalle bertebaranlah tempat-tempat mesum seperti kabin untuk menonton live show, cafe-cafe yang menyediakan wanita-wanita cantik dan yang paling terkenal di antara semuanya, adalah Moulin Rouge (dibaca red: Mulan Ruge). Ketika kami tiba di hotel bintang tiga yang telah kami pesan di station Gare du Nord, ternyata pemesanan kami tidak diterima oleh pihak hotel karena sudah tidak ada kamar kosong di hotel tersebut. Terpaksa kami menginap di hotel lain yang lebih jelek. Saat itu saya marah ke orang hotel namun apa daya, untuk mencari hotel lain yang masih kosong pun tidak bisa dan kami tidak bisa membuang waktu lama untuk berkeliling mencari hotel. Apa daya, hati marah kepala masih harus tetap dingin. Kebetulan kami bertemu dengan orang Irlandia yang sudah menginap dua malam di hotel tersebut. Mereka bilang keamanan di hotel itu bagus, tapi hati-hati bila nanti keluar dan ada wanita di cafe-cafe melambai-lambaikan tangannya, janganlah tergoda untuk masuk karena mereka akan menyedot duit anda dari dompet.

Setelah beristirahat secukupnya di kamar hotel, kami pun pergi ke luar hotel. Benar saja, di sebelah kanan hotel kami ada cafe yang di jendelanya bertengger tiga buah wanita cantik yang melambai-lambaikan tangannya ke arah kami. Namun karena kami sudah diperingati oleh orang Irlandia tersebut, maka duit yang ada di dompet pun kami jaga dengan ketat. Tujuan kami sore itu adalah menara Eiffel. Dari Pigalle, kami berangkat dengan menaiki metro menuju ke halte Trocadero. Dari Trocadero kami jalan menuju menara Eiffel. Sore itu banyak sekali orang mengantri untuk bisa naik ke puncak menara Eiffel. Tapi kami lebih memilih untuk tidak ikut mengantri. Kami pun berangkat lagi, setelah mengambil foto di Eiffel, menuju Champs Elysees, pusat perbelanjaan dan pertokoan di kota Paris. Disana kami masuk ke salah satu bioskop untuk menonton film Million Dollar Baby. Film yang dibintangi oleh Cleant Eastwood ini benar-benar film yang top bgt, istilah anak gaul mah. Setelah menonton film, kami pun berjalan sepanjang jalan di Champs Elysees, malam itu benar-benar malam yang indah, diterangi oleh lampu-lampu di kiri-kanan jalan dan di depan kami terpajang PL.Charles De Gaulle. Menara apa itu aku tidak tahu tetapi banyak sekali orang yang berfoto-foto di sekitarnya.

Sigit Wahyunandika 057a.jpg

Ketika itu malam sudah larut sehingga kami pun memutuskan untuk pulang ke hotel saja. Namun seperti di paragraph sebelumnya dijelaskan bahwa hotel kami berada di daerah red light kota Paris. Ternyata pada saat itu kami baru tahu bahwa Moulin Rouge berada pula di daerah tersebut. Kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto di depan Moulin Rouge. Hanya sekadar ingin tahu, kami melihat dari menu yang dipajang di luar, harga tiket sekali masuk adalah 165 euro, lengkap dengan dinner dan pertunjukan musical. Ruangan makannya sangat mewah dan didesain hanya untuk orang-orang kelas atas kota Paris atau tamu kenegaraan. Kakakku bercerita bahwa daerah red light Paris ini dulunya adalah downtown-nya kota Paris. Darimana dia tau aku pun tak tahu dan tidak terlalu penting untuk kutahu. Malam itu aku tidak bisa tidur karena kakakku mengorok keras sekali. Setiap kali dia mengorok aku lempar dengan handphone-ku dan dia berhenti mengorok hanya selama satu dua detik saja dan selanjutnya dia lanjutkan dengan ngoroknya yang kedengerannya begitu nikmat di telingaku. Tapi akhirnya bisa juga aku tidur. Alhamdulillah.

Keesokan harinya aku mandi dan turun ke bawah untuk makan pagi. Makan pagi harus bayar lagi 10 euro. Kebetulan sekali wanita yang menjaga di balie adalah wanita kulit hitam yang berasal dari Senegal. Waktu kutanya apakah dia muslim dia menjawab ya, saya muslim. Kemudian dia bertanya kembali kepadaku dari mana asalku. Aku jawab bahwa aku dari Indonesia dan aku terangkan pula bahwa aku juga muslim. Kemudian salah satu keajaiban terjadi lagi, dia mengatakan bahwa ada satu orang di Indonesia yang berusaha untuk menyatukan semua agama yang berbeda di dunia ini dan orang itu mempunyai visi lain tentang islam, tetapi wanita itu tidak tahu nama orang ini. Saya bilang bahwa orang tersebut bernama Aa gym, atau nama lengkapnya Abdullah Gymnasiar. Nama Aa Gym sampai ke belahan dunia yang lain. Dan harum lagi namanya. Saat itu, ada rasa bangga menghangati hatiku. Rasa bangga sebagai orang Indonesia, dan rasa bangga bahwa ada salah satu anak bangsa yang harum namanya di dunia international. Apalagi waktu dia berkata bahwa perempuan Indonesia cantik-cantik. Rasa syukurku kepada Tuhan Yang Maha Esa tidaklah terkira rasanya. Walaupun negeri Indonesia sedang dilanda oleh masalah-masalah besar, tetapi masih ada orang yang baik dan peduli dan mempunyai segudang harapan, ide dan semangat yang tinggi untuk selalu memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat sekitarnya dan bangsa Indonesia secara globalnya. Kemudian dia tanya lagi apakah aku sudah beristri kemudian aku jawab dengan jawaban sudah. Kemudian dia tanya lagi apakah aku berencana untuk mempunyai lebih dari satu istri, aku jawab tentu saja tidak. Aku tanya balik, “Emangnya kenapa?”. Dia jawab, rata-rata lelaki Senegal mempunyai 3 atau 4 istri. Aku pun tidak berkata apa-apa lagi setelah itu.

Dari hotel kami pun berjalan lagi menuju Musee du Louvre. Dari Pigalle kami naik Metro menuju halte Concorde. Dari situ kami bisa lihat jelas Place de la Concorde, menara yang berasal dari Mesir tetapi diambil dan dialihkan ke kota Paris oleh orang-orang Perancis. Menara tersebut memang indah. Menara tersebut terbuat dari batu dan diukir oleh tulisan mesir kuno. Di sisinya terlihat bagaimana menara tersebut dibuat dan didirikan. Sungguh teknologi yang canggih untuk zaman itu. Bagaimana engineering sudah maju dan berkembang sungguh merupakan suatu keajaiban yang luar biasa. Dari situ kami pun tidak lupa untuk berjalan sedikit menuju kanal dan mengambil foto dengan latar belakang sungai Rhein, sungai terpanjang di Eropa yang melintasi beberapa negara Eropa seperti Belanda, Germany, France dan Swiss. Setelah itu kami masuk pintu gerbang istana raja Louis XIV yang pintu gerbangnya sangat besar dan halamannya sangat panjang. Sekitar 30 menit kami berjalan barulah kami sampai ke piramid Musee du Louvre. Piramid tersebut adalah pintu masuk utama Musee du Louvre. Untuk masuk pintu itu tidak perlu kami membayar tiket. Setelah di dalam, kami menemui banyak sekali orang-orang yang mengantri untuk membeli tiket. Pertama-tama kami mengambil boklet informasi untuk mengetahui peta seluruh museum. Setelah itu kami membeli tiket dari mesin automaat. Lumayan, tidak usah antri seperti orang lain yang membeli dari balie.

Musee du Louvre dibagi menjadi tiga bagian dan setiap bagian mempunyai pintu masuk masing-masing (Access). Richelieu Access, Sully Access dan Denon Access adalah ketiga pintu utama di Musee du Louvre. Arts of Islam berada di bagian Richelieu sehingga kami pun berjalan pertama ke pintu Richelieu Access. Di Arts of Islam kami melihat benda-benda peninggalan sejarah kerajaan islam di masa lalu. Dari mulai pisau, pedang, baju besi sampai ke buku-buku kuno serta model planet bumi ini. Ternyata pada zaman dahulu planet bumi ini sudah dimodelkan dan teknologi astronomi pada saat itu pun sudah sangat maju. Kekuasaan kerajaan bani Ummayah mencakup daratan Saudi Arabia, Irak, Turki serta bagian selatan Spanyol yaitu Granada, Malaga dan sekitarnya. Contoh yang nyata di Granada terdapat benteng Alhambra yang besar dan megah. Di dalam benteng Alhambra itu terdapat taman yang sangat indah yang dulunya dipakai oleh raja-raja islam untuk refreshing. Sebagian besar artifak-artifak bersejarah islam ini diperoleh dari kerajaan besar Perancis. Artifak-artifak ini berasal dari negara-negara Mediteranian, Iran, Central Asia dan India. Sebagian besar merupakan keramik, metal, kayu, karpet dan lukisan-lukisan yang berasal dari abad ketujuh sampai dengan abad kesembilan belas.

Dari Arts of Islam kami melihat kamar Napoleon. Ternyata kamar Napoleon sangat besar. Disana bukan hanya kamar tapi juga lengkap dengan tempat makan kerajaan. Lampu gantung dari kristal bergantung tiga buah dengan megahnya. Meja makan panjang dari ujung sampai akhir didereti oleh kursi-kursi yang jumlahnya lebih dari 30 buah. Hanya keluarga istana dan kerabat dekat serta jenderal-jenderal perang Napoleon saja yang berhak menduduki tempat makan Napoleon. Tentu ditambah dengan pengusaha-pengusaha, pengacara-pengacara, hakim-hakim lengkap dengan jaksa agungnya. Terbayang sudah keagungan Napoleon zaman dahulu yang kekuasaannya melewati batas negara Perancis saat ini, sampai ke negara Rusia saat itu. Bahkan kota Groningen pun saat itu menanti kedatangan tamu agung Napoleon sampai digelarlah kota Groningen ini dengan persiapan pesta yang akbar. Namun sayang, Napoleon membatalkan rencana kunjungannya ke kota Groningen ini saat itu. Mungkin dia ada urusan lain yang lebih penting daripada sekadar mengunjungi kota kecil Groningen yang terletak di ujung negara Holland. Kekalahan Napoleon pada saat itu adalah karena kekalahan dia akan hawa nafsunya sendiri, dia bisa dengan gagah melawan dan menaklukan semua musuh-musuhnya, namun musuhnya yang paling besar ternyata adalah dirinya sendiri, yang tidak bisa ia lawan dan ia taklukan. Tragis sekali akhir cerita dari anak nakal yang bernama Napoleon ini.

Kami melewati berbagai macam daerah seni lainnya seperti seni Romawi yang megah dengan patung dewa-dewa dan raja-raja agung kekaisaran Roma. Namun, tujuan terakhir kami adalah lukisan Monalisa, hasil karya agung Leonardo da Vinci, orang Itali. Ternyata untuk mencapai tempat dimana lukisan Monalisa digantung tidaklah mudah. Kami harus melewati banyak sekali lukisan-lukisan lainnya. Dan ternyata lukisan Monalisa yang terkenal itu cuman kecil saja. Namun banyak sekali orang yang mengerubunginya sehingga menyulitkan kakakku untuk mengambil fotonya. Setelah mendapatkan foto lukisan Monalisa kami sangat capai. Kami memutuskan untuk pulang saja ke Groningen karena kakakku hari Sabtunya harus pulang kembali ke Indonesia. Kami membeli tiket Thalys seharga 82,5 euro untuk trayek Paris - Schiphol selama kurang lebih 4 jam perjalanan. Dari Schiphol kami masih harus duduk di kereta jurusan Schiphol - Groningen selama 2,5 jam. Akhirnya tibalah kami hari kamis malam yang dingin kembali di kota tercinta, Groningen. Adapun hikmah yang bisa kita ambil dari perjalanan di Paris ini adalah bahwa manusia, sehebat apa pun, semegah apa pun kerajaan yang dimilikinya, sebesar apa pun daerah kekuasaannya, namun apabila belum bisa melawan hawa nafsunya sendiri, dia pun akhirnya akan merugi sendiri. Sejarah telah membuktikannya dan kita sebagai makhluk yang berfikir harus bisa menarik pelajaran emas dari sejarah manusia di bumi ini.

Rotation of Sigit Wahyunandika 024a.jpg

Rotation of Sigit Wahyunandika 039a.jpg

  READ MORE >>   Traveling Club,