READ MORE >>   Traveling Club

Aku berangkat pada hari Senin jam 10 pagi dari kota Eindhoven, Nederland, memakai kereta Intercity menuju kota Bonn, Germany. Aku dan kakakku berencana mengunjungi kakak ipar kami orang jerman yang sedang 6 bulan bekerja di kota Bonn, Germany. Kakak iparku bernama Michael Henk, namun dia dipanggil dengan nama Michelle oleh kedua orang tuanya. Perjalanan kereta memakan waktu kira-kira 3 jam. Dari Eindhoven ke Venlo, kemudian dari Venlo ke kota Muenchenglabach, dari Muenchenlabach ke Koeln dan dari Koeln baru ke Bonn. Di Bonn sudah menanti Mike, julukanku untuk kakak iparku, di peron kereta. Hari Senin itu kebetulan sekali hari libur nasional, paskah, di negara jerman sehingga Mike mempunyai waktu untuk menjemput kami. Kemudian kami diantar untuk berkeliling kota Bonn sore itu. Pertama-tama Mike bercerita bahwa di station kereta Bonn sangat tidak aman. Banyak sekali anak-anak mudanya yang mengedarkan ganja secara illegal. Memang di negara jerman ini, soft drugs tidak dijualbelikan secara legal seperti halnya di negara tetangganya, belanda. Saya sempat membaca suatu hasil riset yang meneliti tentang perilaku pemakaian drugs di negara-negara eropa. Walaupun drugs dijualbelikan secara legal di negara Belanda, tetapi percentage orang-orang muda belanda dalam memakai drugs terkecil bila dibandingkan dengan negara-negara eropa lainnya seperti Perancis, Germany, Italy dan Spain. Ternyata, barang yang dilarang mempunyai daya tarik yang lebih tinggi bila dibandingkan barang yang dijual bebas. Malah keuntungan lainnya dari penjualan bebas drugs ini adalah bahwa jumlahnya bisa dikontrol sehingga tidak over, selain itu pun pemerintah mendapat untung dari pajak yang dikenakannya. Pintar sekali negara belanda ini bah.

Di kota Bonn itu kita lanjutkan acara jalan-jalan keliling. Kita mengunjungi rumah Bethoven. Yak, benar sekali saudara-saudara sekalian. Bethoven lahir dan tinggal serta mati di kota Bonn. Malahan di kota Bonn ini, patung Bethoven didirikan secara megahnya dan menjadi simbol kota Bonn. Di rumah Bethoven, keajaiban terjadi. Kami bertemu dengan enam orang pelajar Indonesia yang kebetulan juga sedang menikmati sejarah Bethoven. Malahan, 3 orang pelajar Indonesia tersebut berasal dari kota Bandung, sehingga membuatku langsung ngomong bahasa sunda dengan mereka. Kan aneh yach, sudah jauh-jauh di negara jerman, eh, malahan ketemunya sama orang Indonesia lagi. Itulah, Tuhan Maha Kuasa dan Maha Berencana. Setelah capai berjalan-jalan dan becanda ria dengan orang-orang Indonesia itu, tak lupa tentunya aku minta nomor telepon gadis bandung yang belajar di kota Dusseldorf tersebut, kami berjalan pulang menuju kediaman rumah Mike. Disana ibunda Mike telah memasak ayam goreng untuk kami semua. Akhirnya sore itu kami makan sepuas-puasnya sampai perut kami kenyang tidak karuan. Hmm.. enak sekali rasa ayam goreng itu. Setelah makan malam selesai, aku, kakakku dan Mike pergi ke atas untuk beristirahat. Sebelum tidur, kami mengobrol tentang kondisi Indonesia. Mike bercerita bahwa di kota Bonn ini, yang dulunya bekas capital city negara jerman, banyak sekali diplomat-diplomat Indonesia petatang peteteng memakai mobil mercedes terbaru. Hatiku rasanya sakit mendengar hal ini karena aku merasa bahwa masih banyak orang-orang miskin di negara Indonesia yang setiap harinya untuk mencari makan saja sudah sulit, apalagi untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti baju, rumah, pendidikan anak, pensiun, kesehatan, boro-boro memikirkan refreshing, pergi ke bioskop atau pun makan enak di restaurant mahal. Malangnya nasib orang miskin di negaraku.

Keesokan harinya kami semua diantar oleh ayahanda Mike mengelilingi kota Bonn sekitarnya. Kami pergi dengan menaiki mobil Renault Scenic kepunyaannya. Mobil ini sangat bagus dan modern. Tidak pakai kunci, tapi hanya memakai kartu untuk membuka pintu dan menstarter mesin mobilnya. Semua peralatan elektronik di dashboardnya sudah memakai sistem digital dan tidak ada lagi manual. Kereen bo! Pertama-tama kami berkunjung ke atas gunung untuk bisa melihat kota Bonn dari atas. Ayahanda Mike sudah berumur 72 tahun tapi masih menyetir mobil layaknya umur 26 tahun saja. Dia pun masih kuat untuk mendaki gunung sedangkan aku dan kakakku sudah ngos-ngosan. Sesampainya di puncak gunung, ternyata ada restaurant kelas atas bernama Rolandsbogen. Bill Clinton pernah kesini waktu dia berkunjung di negara jerman. Ternyata restaurant ini ada sejarahnya, yaitu dulunya, sekitar tahun 1200, rumah ini kepunyaan seorang rider, atau knight. Waktu si Knight ini berangkat perang, istri si Knight ini mengira bahwa suaminya sudah mati di medan perang dan tidak akan pernah kembali lagi. Akhirnya istri si Knight ini memutuskan untuk menjadi biarawati dan dia pun turun gunung untuk memasuki sekolah katolik. Ketika si Knight ini pulang dari peperangan, dia mendapati istrinya sudah tidak ada lagi di rumahnya. Dan dia mendengar kabar bahwa istrinya berada di sekolah katolik yang dari puncak gunung itu bisa terlihat jelas ke bawah. Akhirnya laki-laki malang tersebut hanya bisa meratapi nasibnya dengan melihat sekolah katolik itu dari puncak gunung. Cerita yang mengiris hati, namun nyata.

Sigit Wahyunandika 126a.jpg

Dari puncak gunung tersebut kita melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja Mike, kakak iparku. Mike bekerja di toko sepeda besar di kota Bonn. Sepeda-sepeda di tokonya sangat banyak sekali. Tapi tidak ada merk sepeda-sepeda belanda. Tidak ada Batavus, Maxwel atau pun merk lainnya. Hanya merk terkenal jerman yang ada seperti Hercules, Kepler dan lainnya. Harganya pun jauh lebih murah dibanding sepeda belanda. Dan sekilas saya lihat, sepeda buatan jerman jauh lebih bagus kualitasnya. Tidak akan mudah rusak seperti sepeda belanda yang saya miliki. Sebagai contoh saja, sepeda terbaik belanda, batavus, harganya berkisar antara 800 sampai lebih dari 1000 euro. Sedangkan sepeda terbaik jerman, Hercules, hanya 400 euro saja. Memang edan harga-harga di negeri belanda ini. Sepulang dari sana, aku dan kakaku jalan-jalan sendirian di kota Bonn. Kami mengunjungi universitas Bonn. Memang indah sekali. Aku yang kebetulan senang dengan matematika, menyempatkan diri untuk mengunjungi museum Arithmeum yang kebetulan tidak jauh dari universitas Bonn. Disana adalah tempat bagi discrete matematik. Disana aku melihat alat-alat matematika yang dibuat pada zaman dahulu. Ada alat hitung abacus, ada batu yang ditulisi oleh bahasa mesir, ada alat fancy yang fungsinya aku tidak tahu. Ada alat hitung seperti komputer yang bernama millioner, dibuat oleh orang jerman yang bernama Otto Steiger pada tahun 1893. Alat ini berharga 3000 Swiss Franc pada saat itu. Salah satu fungsinya bisa untuk menghitung berapa dividend yang harus dibayarkan kepada investors. Ada juga IBM Mainframe Computer Maestro, S/390 G3 Enterprise Server, 10-Way-Parralel Processor, Nenek moyangnya computer jaman sekarang, namun komputer ini gede banget.

Tidak lupa di kota Bonn ini kami menonton film Miss Congeniality 2 yang dibintangi oleh Sandra Bullock. Namun sayang, dari awal film sampai akhir film tidak ada satu kalimat yang saya mengerti karena film ini didubbing oleh bahasa jerman. Ini yang saya tidak begitu mengerti. Negara yang superpower seperti jerman ini masih saja mendubbing film-filmnya dengan bahasa jerman. Kapan kalo begitu anak-anak mudanya belajar bahasa inggris? Padahal kalau saya berdiskusi dan berdebat ekonomi dengan orang-orang jerman tentang kapitalisme dan sosialisme, Adam Smith versus Karl Marx, bahasa inggris mereka jauh lebih bagus daripada bahasa inggris saya. Macam-macam saja negara jerman ini, macam-macam pula negaraku. Malam terakhir kami di kota Bonn, ayahanda Mike, ibunda Mike dan Mike beserta kami menonton video rame-rame. Video itu bercerita tentang kota Bonn di waktu setelah perang dunia kedua. Hancur lebur. Tidak ada gedung-gedung, jalan-jalan hancur dibom oleh sekutu. Namun yang mengherankan dan ajaib adalah kota Bonn dalam kurun waktu lima tahun saja sudah kembali seperti semula dan malah lebih bagus dan lebih maju lagi. Orang-orang kota Bonn sendirilah yang pada saat itu, termasuk ayahanda Mike, yang membangun dan membersihkan puing-puing kota. Mereka bekerja keras untuk membangun kotanya sendiri. Ada satu kebanggaan terpancar dari raut muka ayahanda Mike ketika beliau bercerita mengenai hal ini. Hal yang membuatku dan kakakku menjadi semangat untuk membangun kota kelahiran kami, Tasikmalaya, menjadi kota yang lebih tertib, lebih teratur dan lebih baik dari keadaan sekarang.

Kalau kita mau saja merenung sedikit, negara jerman pada saat setelah perang dunia kedua sudah sangat hancur lebur. Keadaan saat itu sangat parah. Negara tersebut kalah perang. Harus bayar ini dan itu. Namun yang tidak hilang adalah semangat untuk berjuang dan melawan. Mereka membangun kembali negaranya dengan semangat yang tinggi. Dan dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun, pulihlah negara jerman ini sedikit demi sedikit. Dan sekarang bisa kita lihat hasilnya. Negara jerman adalah salah satu negara adidaya di dunia. Kapan negara kita, Indonesia, negara yang kita cintai bisa seperti ini? Jawabannya tentu berpulang kepada kita-kita semua sebagai anak-anak bangsa. Mau dikemanakan negara kita? Mau dikemanakan negara ini bapak-bapak yang sudah duduk-duduk enak sekali di kursi pemerintahan? Sila menjawab di komentar di bawah ini. Silakan.

Sigit Wahyunandika 192a.jpg

  READ MORE >>   Traveling Club