READ MORE >>   Traveling Club

Aku ingin berbagi cerita kepada teman2 semua mengenai perjalananku mengelilingi beberapa negara di Eropa. Perjalanan ini dimulai dari tanggal 26 Maret 2005 sampai dengan 31 Maret 2005. Hanya enam hari perjalanan, namun perjalanan ini sangat berkesan di hatiku. Perjalanan pertama aku lakukan dari kota Groningen ke kota Eindhoven. Disana aku bertemu kakak kandung yang bernama Sigit yang sudah dua hari satu malam menginap di tempat teman lamanya, Sinta. Sinta sudah 14 tahun tinggal di Belanda. Bahasa Belandanya pun sangat fasih. Namun begitu, budaya Indonesianya pun masih kental dan terlihat jelas. Ini terbukti waktu kita makan malam, spaghetti yang aku makan sangat pedas karena Sinta menambahkan sambal ABC banyak-banyak. Terpaksa tidak aku makan karena perut penulis tidak tahan pedas.

Keesokan harinya, aku dan kakakku dan Sinta dan temannya Sinta beserta anaknya berangkat ke Belgia memakai mobil kepunyaan Sinta. Kami menuju kota Eiper. Dalam perjalanan menuju kota Eiper, kami melewati kota-kota terkenal Belgia seperti Antwerpen, Brussel, Gent dan Brugge. Akhirnya setelah 3 jam perjalanan, sampailah kami di kota Eiper. Kami menuju Disneyland nomer duanya Belgia, yaitu Walabi. Disana banyak sekali terdapat mainan anak-anak dari mulai bom-bom car sampai roller coaster. Anak temennya Sinta senang sekali bermain dengan mainan-mainan tersebut. Namun aku tidak mampu mengikuti keinginan anak kecil karena setelah satu kali bermain teh poci putar, perutku sangat mual dan rasanya ingin muntah dan terpaksa berhenti saja.

Ada satu pengalaman menarik yang menggelitik hatiku. Yaitu ketika anak temennya Sinta ingin main salah satu mainan yang namanya aku tidak tau, dia salah masuk pintu. Dia masuk lewat pintu keluar bersama kakakku. Anak kecil tersebut beserta kakakku telah berada di depan mainan tersebut dan tinggal masuk saja. Namun si penjaga pintu tidak mengizinkan anak kecil itu dan kakakku untuk masuk mainan. Malahan si penjaga pintu tersebut menyuruh anak kecil dan kakak untuk kembali keluar dan lewat dari pintu masuk yang sebenarnya, bukan dari pintu keluar. Tentu saja ibu si anak kecil, Sinta dan kakak sewot. Karena memang tinggal satu langkah dari pintu mainan tapi disuruh keluar lagi. Tapi memang karena kejadian ini bertempat tinggal di Belgia dan memang ini adalah aturan Belgia, maka tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain menuruti permintaan si penjaga pintu. Aku bayangkan apabila kejadian ini terjadi di negaraku, mungkin saja anak kecil dan kakak sudah masuk mainan tanpa susah payah tanpa harus balik keluar lagi. Ada-ada saja Belgia, ada-ada saja negaraku.

Setelah berputar-putar kesana kemari di Disneyland keduanya Belgia, Walabi, akhirnya kami capai dan kami memutuskan untuk menengok tempat kerja suaminya Sinta, Henk. Henk bekerja di salah satu mainan yang besar dan memerlukan tenaga ahli yang harus mengupayakan agar mainan tersebut bekerja dengan baik dan benar dan yang terpenting aman. Henk sudah bekerja beberapa hari di tempat tersebut tanpa pulang ke rumah, ini yang membuat kita semua menengoknya. Apa saja yang dikerjakannya? Memang dia bekerja di mainan tersebut dan memang benar pekerjaannya dia sangat penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Jadi Henk tidak bisa main-main. Karena perut sudah lapar dan keroncongan maka kita semua, tidak termasuk Henk karena masih harus bekerja, keluar dari Walabi dan mencari restaurant Chinese. Ternyata, restaurant Chinese di Belgia dua kali lipat lebih mahal daripada restaurant chinese di Belanda. Namun apa daya, perut lapar butuh makan dan makan butuh duit. Dengan berat hati diberikanlah uang untuk membeli makanan tersebut.

Sore harinya kami pulang lagi ke Eindhoven. Kami mampir di tempat temennya Sinta untuk mengantarkan temennya Sinta dan anaknya. Disini keajaiban terjadi. Saya bertemu dengan suaminya temennya Sinta dan ternyata 15 tahun yang lalu, aku pernah bertemu dengannya di kota Tasikmalaya di rumahku. Dia mengajariku bermain keyboard dan sekarang kami bertemu di Eindhoven. Memang segala sesuatunya di bumi ini sudah ada yang mengatur. Bukan saya yang berencana untuk bertemu dengannya, tetapi Tuhan telah merencanakan pertemuan ini, dan saya pun hanyalah sekedar menjalankan apa yang sudah ditakdirkan olehNya. Sungguh saya tidak punya kemampuan apa-apa untuk membuat hal ini terjadi. Namun takdirNya sudah pasti dan tidak ada seorang pun yang bisa melawan kehendakNya.

Sigit Wahyunandika 079d.jpg

  READ MORE >>   Traveling Club