READ MORE >>   Catatan Pribadi

Minggu sore (3/4/05), bersama teman-teman deGromiest aku ke rumah Hari dan Dian di Hornsemeer. Tuan rumah mengadakan syukuran atas kelahiran Dhafin, sang calon pemimpin, yang meskipun prematur tetapi selamat dan semakin baik keadaannya. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Sang Pengasih kepada setiap hambaNya.

hehehee..

Seperti biasa kalau lagi ngumpul, selalu diwarnai dengan ngobrol ngalor ngidul, guyon sana sini, dan ngrumpi ini itu. Di atas sebuah sofa yang empuk, aku duduk bersama Pak Totok dan Mas Nandang. Di pinggirku duduk Mas Eko di kursi kecil yang agak keras, tak seempuk sofa yang menopang berat badanku. Teman-teman yang lain di kursi seberang, asyik dengan obrolan hangat yang ditemani berbagai jenis jajanan. Sementara para ibu dan mbak-mbak memilih lesehan di atas karpet, sambil menyanyikan lagu Sunda “Abdi Teh Ayeu Na” bagi Michelle. Kasihan sekali anak Teguh ini. “Didoktrin” paham Sunda oleh Uyung dan kawan-kawan.

Obrolanku sendiri bermula dari cerita Eko tentang semakin mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. Untuk biaya masuk SD di Bogor–contoh kasus anaknya Eko–sekolah mematok 10 juta. Itu pun sudah termasuk yang murah. Sedikit banyak kami membandingkan dengan kondisi di sini, sekolah yang gratis namun cukup berkualitas. Lalu diskusi mengalir ke arah penyebab mahalnya sekolah di Indonesia. Salah satunya karena kecilnya belanja sosial yang dikeluarkan pemerintah untuk kesehatan dan pendidikan. Karena anggaran yang sangat kecil untuk pendidikan, akhirnya masyarakat sendiri yang harus membayar mahal.

Nah, dari sini lah diskusi jadi makin hangat, ketika Pak Totok yang sudah kenyang dengan asam garam dunia pengambilan kebijakan, menyampaikan pandangan dan pengalamannya yang dilatarbelakangi oleh arena bermainnya di lingkaran pusat kebijakan. Tentu tak lupa diselingi dengan guyonan sana sini. Kadang-kadang komentarnya sangat tegas dan pedas. Kami membahas soal kemiskinan, data kemiskinan–di PPI baru saja ada diskusi hangat tentang data kemiskinan ini–dan soal kenaikan BBM. Terlalu panjang kalau diceritakan di sini.

Sebagai bocoran saja, inti atau moral dari pendapat pak Totok adalah bangsa Indonesia itu sudah sangat lelah tak berdaya menghadapi kronisnya penyakit yang diderita. Masalah KKN? Itu masalah klasik, tatapi itulah realitasnya. Masalah kenaikan harga BBM saja sebenarnya cukup kompleks, bukan sekedar masalah banyaknya orang miskin yang semakin miskin karena tak mampu membeli BBM. Kalau di runut dari sejarah awal subsidi BBM dan pembangunan di Indonesia, kita akan bisa melihat permasalahan yang tidak populer ini mulai berakar. Banyak perusahaan yang minta disubsidi melalui BBM. Dan hingga saat ini, perusahaan seperti itu yang paling boros meminum subsidi BBM, bukan rakyat kecil.

Sementara sebagian orang menganjurkan alternatif lain, selain dari mencabut subsidi, misalnya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, Pak Totok memperlihatkan secara sederhana betapa sulitnya borok itu diobati. Dari ujung ke ujung bisa dilihat borok tersebut di sana sini. Mau menyalahkan siapa? Pemerintah? Apa yang bisa pemerintah lalkukan untuk memberantas korupsi dalam waktu yang singkat, ketika dirinya juga termasuk dalam lingkaran penyakit?

Akhirnya beliau memberikan saran tentang apa yang bisa dan paling realistik kita lakukan. Sarannya mengingatkanku pada Gandhi yang mengajak rakyat India untuk bangkit dengan segala kemampuan yang ada, yang dimiliki masing-masing. Penting sekali bangsa Indonesia menyadari bahwa kita sedang tak berdaya melawan sang penyakit. Saling menyalahkan tidaklah banyak membantu. Yang dibutuhkan oleh tubuh bangsa ini adalah agar masing-masing anggota tubuh melakukan ’self-healing’. Melakukan yang paling baik dan paling bermanfaat yang bisa dia lakukan saat ini. Sarannya juga mengingatkanku pada konsep Aa Gym: 3M. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini juga. Beliau menekankan, itulah yang bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia, kalau bisa dari para warga, pak RT, hingga presiden. Sebagai pelajar ada yang bisa kita lakukan. Dalam lingkup keluarga juga demikian.

TIga puluh menit telah berlalu, namun diskusi rasanya masih hangat dan belum selesai. Pak Totok dan kawan-kawan dari Bappenas sebenarnya memiliki pengalaman segudang dan lebih dari itu, mereka telah mendapatkan ‘wisdom’ masing-masing yang tidak atau belum didapatkan oleh kaum muda yang sedang belajar di sini. Aku merasakan sebuah aliran “kesadaran” dari ‘pemahaman tentang kondisi global bangsa Indonesia’ yang kemudian membawa kepada ‘pilihan aksi lokal’ walaupun itu sekedar membantu kawan kita mendapatkan beasiswa. Ini sudah merupakan hal luar biasa untuk ’self-healing’.

Aku meminta kesediaan pak Totok, agar suatu saat kita bisa diskusi khusus tentang permasalahan bangsa dari sudut pandang makro dan riil ini. Dari penyebaran semangat dan pengetahuan ini, diharapkan akan mengalir sebuah semangat “Now Habit”, untuk melakukan sekecil apapun hal positif saat ini dengan sekecil apapun yang kita miliki, untuk diri, keluarga, dan bangsa. “Ada yang tertarik ndak?” tanya beliau.

  READ MORE >>   Catatan Pribadi