READ MORE >>   Bedah Buku

Berbagai macam cara dan rahasia, resep dan metoda orang untuk bahagia, menikmati hidup, atau hanya sekedar “melewati kejemuan karena hidup”. Dari sekian banyak orang-orang itu, mungkin segelintir saja yang sudah mendefenisikan kebahagiaan seperti apa yang menjadi sasaran mereka, atau hidup bagaimana yang nikmat. Saya tidak tahu memang, apakah sudah ada riset statistik untuk hal demikian. Namun, gampang sekali untuk menemukan jawabannya untuk kasus lokal: bertanyalah pada diri sendiri, apakah saya menikmati pilihan-pilihan hidupku selama ini?

Ada sebuah cerita, tentang “kesederhanaan” seorang petualang yang menikmati kesimpelan hidupnya sebagai sebuah kebahagiaan. Kesederhanaan yang tidak hanya dinikmati sendiri, tapi juga melibatkan orang banyak.

Semoga bermanfaat…

Hotel CITY

Suatu kali, ketika saya di Jenewa, Swiss, untuk menghadiri sebuah pertemuan Masyarakat Fisika, saya berjalan-jalan dan kebetulan melewati gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Wah! Saya mau masuk dan lihat-lihat ah!” pikirku. Dandanan saya kurang pantas sebenarnya untuk jalan-jalan di dalam gedung penting itu – saya memakai celana kumal dan jaket tua. Ternyata ada semacam tur yang bisa kita ikuti untuk masuk ke dalam gedung dengan didampingi seorang pemandu.

Tur itu sendiri cukup menarik, tapi bagian yang paling mengagumkan adalah ruangan auditoriumnya yang besar dan hebat. Tahu lah, bagaimana seriusnya mereka membuat segala sesuatu untuk simbol internasional ini. Apa yang biasanya menjadi panggung sekarang terbagi beberapa lapis: anda harus menaiki seluruh anak tangga menuju panggung kayu raksasa, dan sebuah layar raksasa ada di belakang anda. Di depan anda adalah tempat duduk para tamu. Karpetnya begitu anggun, dan pintunya besar-besar dengan gagang dari kuningan yang indah. Setiap sisi auditorium, agak ke atas sedikit, ada tempat para penterjemah melakukan pekerjaannya. Tempat itu benar-benar fantastis, dan saya terus-terusan berpikir, “Wow! Saya mau sekali untuk memberi ceramah di tempat seperti ini!”

Segera sesudah itu, kami berjalan sepanjang koridor di sebelah auditorium itu. Si pemandu menunjuk lewat jendela dan berkata, “Anda lihat bangunan-bangunan di sana yang sedang dalam perbaikan? Mereka akan dipakai pertama kali nantinya untuk Konferensi Atom untuk Perdamaian, sekitar enam minggu lagi.”

Saya tiba-tiba teringat bahwa Murray Gell-Mann dan saya akan berbicara pada sebuah konferensi tentang kondisi terkini fisika energi-tinggi. Bagianku adalah di sesi pleno, jadi saya tanya si pemandu, “Pak, di mana kira-kira ceramah untuk sesi pleno pada konferensi itu?”

“Itu, di ruangan yang baru saja kita lewati tadi.”

“Oh!” kataku dengan senang. “Jadi saya akan memberi ceramah di ruangan auditorium hebat itu!” kataku dalam hati.

Pemandu itu melihat ke celana kumal dan kaos kusut saya. Saya sadar betapa buruk kesan si pemandu terhadap saya, tapi saya benar-benar senang dan bangga setelah mengetahui di mana sidang pleno akan diadakan.

Kami lanjutkan tur, dan pemandu berkata, “itu adalah ruang tunggu untuk para delegasi, di mana biasanya mereka melakukan diskusi informal.” Ada sebuah jendela berbentuk bujur sangkar kecil di pintu menuju ruang tunggu itu yang bisa dipakai untuk melihat keadaan di dalam, jadi orang-orang dalam tur melihatnya. Ada beberapa orang sedang duduk dan berbicara di ruang tunggu itu.

Saya ikutan melihat, dan saya elihat Igor Tamm, kenalasan saya seorang fisikawan Rusia. “Oh!” seruku, “saya kenal dia!” dan saya buka pintu itu.
Pemandu itu berteriak, “Jangan, jangan! Jangan masuk ke sana!” Saat itu dia sudah yakin bahwa salah seorang peserta turnya adalah maniak, tapi dia tidak bisa mengejar saya sebab dia tidak diizinkan melewati pintu sendirian!
Tamm senang saat tahu ada saya di sana, dan kita bicara sebentar. Pemandu itu merasa lega dan melanjutkan tur tanpa saya, dan saya harus berlari untuk mengejarnya.

* * *

Pada pertemuan Masyarakat Fisika, seorang teman baik saya, Bob Bacher, berkata, “Dengar: nanti bakalan susah untuk mendapatkan penginapan saat Konferensi Atom untuk Perdamaian. Kenapa kamu tidak minta tolong Departemen Kota mendapatkan satu ruangan untuk mu, jika kamu belum membuat reservasi?”

“Ah, tak usah!” jawabku. “Saya tidak akan minta tolong Departemen Kota untuk melakukan hal-hal remeh seperti itu untuk saya! Saya akan lakukan sendiri.”
Ketika saya balik ke hotel yang saya tinggali sekarang, saya katakan pada mereka bahwa saya akan pulang seminggu lagi, tapi saya akan kembali lagi di penghujung musim panas nanti: “Bisakah saya membuat reservasi sekarang untuk nanti?”

“Tentu saja! Kapan anda akan kembali?”

“Minggu kedua September…”

“Oh, kami benar-benar minta maaf, Profesor Feynman; saat itu semua ruangan sudah dipesan.”

Jadi saya berkelana dari hotel satu ke hotel lainnya, dan memang mereka semua sudah dipesan enam minggu sebelum konferensi itu!
Lalu saya teringat sebuah trik yang saya pakai sekali saat seorang teman sesama fisikawan datang ke tempat saya, dia orang Inggris yang sopan dan santun.

Kita pergi melintasi Amerika Serikat dengan mobil, dan saat melewati Tulsa, Oklahoma, ada banjir di depan. Kita singgah ke kota kecil ini dan melihat banyak mobil parkir di mana-mana, dengan orang-orang serta familinya di dalam mobil berusaha untuk tidur. Temanku itu berkata, “Sebaiknya kita berhenti di sini. Jelas bagi saya, kita tidak bisa jalan lebih jauh.”

“Ah, ayolah!” kataku. “Bagaimana kamu tahu? Mari kita lihat, apakah bisa kita teruskan perjalanan: saat kita sampai di sana, mungkin saja airnya sudah surut.”

“Kita seharusnya tidak membuang-buang waktu seperit itu,” jawabnya. “Mungkin kita bisa menyewa satu kamar hotel di sini kalau kita cari.”

“Ah, jangan khawatir soal itu! Ayo berangkat!” kataku.

Kami lanjutkan perjalanan sampai sepuluh atau dua belas mil dan sampai ke sebuah sungai dengan arus yang besar. Ya, bahkan untuk saya, airnya terlalu banyak. Tidak ada keraguan: kita tidak perlu mencoba melewati air itu.
Kami kembali, temanku menggerutu sepanjang jalan kalau-kalau kami tidak bisa mendapatkan kamar lagi. Saya katakan kalau tidak usah khawatir mengenai itu.

Kembali ke kota kecil itu. Kota itu benar-benar ditutupi oleh orang-orang yang tidur di mobil, jelas karena tidak ada lagi kamar yang bisa disewa. Semua hotel pasti sudah disewa. Saya lihat ada tanda di sebuah pintu: HOTEL. Hotel ini adalah jenis hotel yang saya kenal baik di Albuquerque, saat saya di sana berkeliling kota mencari berbagai keperluan untuk istriku yang sedang di rumah sakit. Hanya ada satu pintu, begitu masuk anda akan jumpai tangga ke atas dan kantornya tepat saat anda sampai di atas sana.

Kami naik ke atas menuju kantornya dan saya katakan pada manajer hotel itu, “Kami butuh satu kamar.”

“Baik pak. Kami punya satu dengan dua tempat tidur di lantai tiga.”

Teman saya kagum: satu kota penuh dengan orang-orang yang tidur di dalam mobil, kami di sini dapat satu kamar!

Kami pergi menuju kamar itu, secara perlahan-lahan menjadi jelas bagi dia jenis hotel apa itu: tidak ada pintu di kamar itu, hanyalah kain yang digantung sebagai pengganti pintu. Kamarnya cukup bersih, ada wastafel kecil untuk cuci muka dan tangan; tidak terlalu jelek. Kami bersiap untuk tidur.

“Saya mau pipis,” kata temanku.

“Ada kamar mandi di aula bawah.”

Kami dengar ada suara gadis-gadis tertawa genit dan berjalan mondar-mandir menuju aula itu. Dia cemas, dan tidak mau ke luar.

“Baiklah, pipis saja di wastafel itu,” kataku.

“Ha? Itukan tidak sehat.”

“Ah, tidak apa-apa; pastikan airnya mengalir, itu saja.”

“Saya tidak bisa pipis di wastafel,” katanya.

Kami letih, jadi kami berbaring saja. Cukup panas di sana, jadi kami tidak memakai selimut, dan temanku tidak bisa tidur sebab sedikit bising. Saya sih masih bisa tidur.

Tidak beberapa lama kemudian saya dengar bunyi orang berjalan di lantai, dan saya buka sedikit mataku. Saya lihat dia di sana, di dalam gelap, diam-diam naik ke wastafel.

* * *

Baiklah, kembali ke masalah hotel di Jenewa. Saya tahu ada hotel di sana bernama Hotel City, jenis hotel seperti yang saya ceritakan tadi: satu pintu masuk yang langsung disambut tangga menuju kantor di lantai pertamanya. Di sana biasanya ada kamar yang bisa disewa, dan tidak ada yang membuat reservasi.

Saya naik ke atas menuju kantor itu dan mengatakan pada petugas jaga bahwa saya akan kembali ke Jenewa dalam enam minggu, dan saya ingin menginap di hotel mereka: “Bisakah saya membuat reservasi untuk itu?”

“Tentu saja, pak. Tentu saja bisa!”

Petugas itu menulis namaku di selembar kertas – mereka tidak punya buku reservasi – dan saya ingat petugas itu mencoba mencari gantungan untuk meletakkan kertas itu, semacam pengingatnya biar tidak lupa nanti. Jadi saya sekarang punya “reservasi”, dan semuanya berjalan lancar.

Saya kembali ke Jenewa enam minggu kemudian, langsung menuju Hotel City, dan mereka sudah menyiapkan satu kamar untuk saya; kamar itu di tingkat paling atas. Meskipun murah, tapi bersih. (Ini Swiss, semuanya bersih!) Alas kasurnya sedikit berlubang, tapi bersih. Pagi hari mereka menyediakan sarapan ala Eropa ke kamarku; mereka senang sekali punya tamu yang membuat reservasi enam minggu di depan.

Lalu saya pergi ke gedung PBB itu untuk menghadiri Konferensi Atom untuk Perdamaian. Ada sedikit antrian di meja respsionis, tempat di mana orang-orang melaporkan kedatangannya. Seorang perempuan mencatat semua alamat dan nomor telelpon orang-orang itu, jadi pihak penyelenggara bisa menghubungi mereka kalau ada hal-hal yang dibutuhkan.

“Di mana anda menginap, Profesor Feynman?” tanyanya.

“Di Hotel City.”

“Oh, maksud anda Hotel Cité.”

“Bukan, bukan, tapi ‘City’: C-I-T-Y,” saya eja pelan-pelan. (Kenapa tidak? Kita memang menyebut “Cité” di Amerika, tapi mereka menyebut “City” di Jenewa, sebab kedengarannya aneh.)

“Tapi hotel itu tidak dalam daftar kami. Apakah anda yakin namanya ‘City’?”

“Coba lihat di buku telepon untuk mengetahui nomor teleponnya. Anda akan menemukannya.”

“Oh!” serunya, setelah mengecek buku telepon. “Daftar saya tidak lengkap! Beberapa orang masih mencari kamar, jadi mungkin saya bisa menyarankan mereka ke Hotel City.”

Dia pasti kemudian mendapatkan informasi lain tentang Hotel City dari orang lain, sebab tidak ada orang lain dari konferensi menginap di sana selain saya. Sekali waktu petugas hotel menerima telepon untuk saya dari PBB, dan mereka berlari menempuh dua lantai untuk memberi tahu saya, dengan terpesona dan gembira, untuk turun ke bawah menjawab telepon.

Ada sebuah kejadian lucu yang saya ingat di Hotel City itu. Satu malam saya sedang melihat lewat jendela kamarku ke arah halaman. Sesuatu, dari gedung di seberang halaman, tertangkap oleh sudut mataku: sepertinya mangkuk terbalik di atas bibir jendela. Saya pikir benda itu bergerak, jadi saya amati beberapa saat, tapi tidak bergerak lagi. Lalu, setelah beberapa lama, benda itu bergerak sedikit ke arah lain. Saya tidak bisa menemukan jawaban apakah benda itu.

Setelah beberapa lama saya temukan jawabannya: itu adalah seorang pria dengan sepasang teropong yang dipasangnya di atas bibir jendela, mengamati gedung di depannya ke arah kamar tepat di bawah kamarku!
Ada juga kejadian lain di Hotel City yang akan selalu saya ingat. Saat itu larut malam, saya baru kembali dari konferensi dan membuka pintu menuju tangga. Ada pemilik hotel itu di sana, berusaha telihat acuh-tak acuh dengan cerutu dan satu tangannya mendorong sesuatu di tangga. Sedikit ke atas, perempuan yang biasa menyediakan sarapan pagiku memakai dua tangannya untuk menarik benda berat itu. Dan di ujung atas tangga, menunggu seorang perempuan, dengan selendang bulu binatang palsu, dada tersembul ke luar, tangannya di paha, menunggu dengan angkuh.

“Pelanggan”nya sedikit mabuk, dan tidak mampu menaiki tangga. Saya tidak tahu apakah pemilik hotel itu tahu bahwa saya tahu apa yang terjadi; saya lewati saja mereka. Dia malu dengan kondisi hotelnya, tapi, tentu saja, bagi saya hari-hari di hotel ini sangat menyenangkan.

* * *

Cerita ini dikutip dari naskah (masih nafkah!!!) alih bahasa sebuah buku biografi seseorang. Dianjurkan untuk membaca kisahnya dari awal, biar utuh informasinya :-)

Penempelan foto tidak berhubungan langsung dengan tokoh yang diceritakan, harap maklum!

* * *

michelle_feynma.JPG

  READ MORE >>   Bedah Buku