READ MORE >>   Diskusi Milis

Ada satu anekdot yang relevan dg maksud yg ingin saya sampaikan. Lagi-lagi dari Gus Dur:

Saat Presiden Gus Dur bertemu Presiden AS Bill Clinton, Januari 2000, tentu saja banyak diliput pers. Koran-koran Amerika memuat foto Gus Dur bersama Bill Clinton, dan Clinton terlihat ketawa terbahak sampai kepalanya mendongak.

Apa yang dikatakan Gus Dur sampqi membuat Clinton terpingkal-pingkal begitu?

Menurut Gus Dur, barangkali tentang joke yang disampaikan Presiden John Kennedy.

Gus Dur bercerita, suatau hari Kennedy mengajak serombongan wartawan ke ruang kerja Presiden AS. Di salah satu dindingnya ada sebuah lubang kecil tempat Presiden Dwight Eisenhower menaruh peralatan golfnya.

“Ini lho, perpustakaannya Eisenhower,” kata Kennedy mengejek pendahulunya itu. Clinton terpingkal mendengarkan cerita Gus Dur itu.

Dari mana Tus Dur mendapat cerita itu? “Saya baca di buku Ted Sorrensen,” kata Gus Dur.

“Lho jadi Presiden Clinton sendiri tidak tahu cerita itu?” tanya Jaya Suprana.

“Ya mungkin nggak tahu, sebab dia nggak baca buku. Mana mungkin Presiden Amerika baca buku? Kalau dia baca buku berarti kelihatan dia nggak punya kerjaan.

Nah, kalau Presiden Indonesia, justru harus baca buku sebab nggak ada kerjaan,” timpal Gus Dur.

[untuk selanjutnya, mohon maaf for this longist email, agar maksud saya ditangkap dg jelas. bagi yang ndak punya waktu semoga anekdot di atas menghibur, dan bagi yg ingin baca hingga tuntas semoga mendapat manfaat]

On Wed, 16 Mar 2005 10:04:41 -0800 (PST), Wangsa Tirta Ismaya wrote:
>
> Kalau masalah milist, gue lebih cenderung dibiarkan bebas menggelora seperti
> sekarang. biarin aja setiap orang menulis dengan gaya dan kaca mata
> masing-masing, mau berdasarkan filsafat, pemikiran sendiri, pandangan
> seorang tokoh, Qur’an, hadits, bahkan injil juga boleh (yang terakhir ini
> jarang en kelebihan kali yee). Maksudnya, biar diskusinya kaya dan lebih
> plural, jadi mata kita bisa lebih kebuka akan fenomena dan hal-hal lain yang
> mungkin kalo dibahas berdasarkan Qur’an en hadits jadi ngga berkembang
> karena didalamnya sudah diterangkan dan garus demikian ….. titik. Bukan
> menawarkan kompromi, tapi sekedar untuk diketahui karena kita berhadapan
> dengan dunia yang menawarkan begitu banyak alternatif yang menggoda en
> sounds lebih resonable en logics (manusiawi lah …)
>

Aku suka sekali dengan bagian ini: “kita berhadapan dengan dunia yang menawarkan begitu banyak alternatif yang menggoda en sounds lebih resonable en logics (manusiawi lah …) ” Wuih.. dalem tah.. Aku juga sepakat 100 persen dengan diskusi yg kaya, plural, dan keragaman kacamata. Apalagi diskusi yang menggelora. Wuih.. menggairahkan. Sepakat!

Maksud wamod mengajukan usul agar ada pembahasan permilisan dan IT–yang belum terjawab di email Aa–sebenarnya didasari oleh semangat yang mirip dengan anekdot di atas. Wamod ingin agar para anggota milis nantinya merasa seperti dalam generasi Kennedy, bukan Eisenhower–baca: dalam konteks anekdot di atas. Yaitu generasi yang perpustakaanya bukan sebesar lobang peralatan golf Eisenhower di dinding. Apa maksudnya? Begini.

Saya sering mendapat email dari milis tetangga–misal milis PPI di kota/negara lain kayak ppiindia, juga milis ibu-ibu spt WeRMom, Fahima–yang isinya memperlihatkan perhatian mereka yg mendalam tentang berbagai persoalan penting (misal masalah yg dihadapi bangsa, pendidikan, dll). Saya lihat kualitas dan potensi pemikiran mereka luar biasa, demikian pula dengan semangat dan kepekaan mereka.

Kemudian saya teringat kembali diskusi lama tentang peran generasi muda Indonesia di luar negeri yang oleh Uda Fahmi dirunut mulai dari Agus Salim, Hatta, dll. Intinya ada fungsi advokasi dalam diri generasi ini. Itu yang dulu diharapkan dimainkan oleh PPI Groningen. Saya menyadari adanya kelembaman yang besar sekali, membutuhkan energi yg sangat besar untuk menjadikan PPIG berperan seperti itu. Sulit mengharapkan hal ini terjadi di sana.

Nah, relevansi antara anekdot, tetangga, fungsi advokasi, PPIG, dan milis deGromiest ini adalah: DISKUSI.

Why diskusi?

Karena ini gratis, bisa dilakukan oleh siapapun baik yang punya banyak uang atau tidak, punya jaringan atau tidak, punya hubungan ke Aa Gym atau tidak, mikirnya bisa dilakukan sambil naik sepeda atau belanja ke super deBoer, dan cukup beberapa menit untuk mengetik. Bisa dilakukan berulang-ulang dengan ikhlas, tak perlu kuatir tabungan berkurang.

Dan yang paling penting, diskusi–meski hanya diskusi–merupakan sarana yang luar biasa bagi kita untuk belajar–untuk menjadi manusia pembelajar (istilah Andreas Harefa). Dengan berdiskusi, kita akan:

* semakin bijaksana dan dewasa dalam pikiran dan tindakan (ntar kalau ada yang jadi anggota DPR, setidaknya tidak mengandalkan otot dalam menyampaikan pendapat, tetapi otak dan hati)

* menambah wawasan–yang akhirnya menjadi lebih bijaksana

* belajar mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain

* belajar menyampaikan pendapat dan mengkritik yang konstruktif tetapi tetap menentramkan

* belajar membaca permasalahan

* dll

Nah, dari sinilah, akhirnya saya mencoba memperkenalkan style baru dalam diskusi di milis deGromiest: “diskusi yang dimoderasi.” Di sini, pertanyaan dan permasalahan dicoba diartikulasikan dengan jelas sehingga semua anggota bisa memandang dengan lebih jeli, dan membedahnya dengan pisau bedah yang paling tajam yang mereka punya.

Adanya moderator adalah untuk memotivasi anggota–sebisa mungkin semua anggota–agar turut serta dalam diskusi. Dan di akhir setiap diskusi, moderator bersama anggota (yang bersedia) akan mendokumentasikan permasalahan, pendapat yang terlontar, dan juga pemikiran-pemikiran jitu ke dalam sebuah artikel yang enak dibaca di Cafe deGromiest. Siapapun akhirnya bisa membacanya. Pemikiran–semua pemikiran–yang lahir dari kepekaan anggota akan menjadi lebih abadi di dalam perpustakaan maya yang–sudah pasti–lebih besar dari lobang peralatan golf Eisenhower.

Jadi, inilah pemikiran yang melandasi usulan tentang moderasi diskusi di milis. Semoga jelas maksud yang saya sampaikan. Tanpa dukungan penuh–termasuk ikut aktif dalam mendorong anggota dan berdiskusi–dari Trinitas Plus, upaya diskusi semacam ini tidak akan jalan. Why? Karena kita belum terbiasa, sehingga perlu upaya khusus bersama untuk mewujudkannya.

Saran, masukan, komentar, kritik, dll dari Trinitas Plus dan seluruh anggota “are welcome”.

Terakhir, saya ingin mengutip kata-kata bijak Ali Bin Abi Tholib:

“IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA”

  READ MORE >>   Diskusi Milis