READ MORE >>   Renungan & Hikmah

Seorang ibu sedang menunggu pesawat di sebuah airport kota yang teramat padat. Di seberang ibu itu ada seorang bayi mungil diselimuti oleh hangatnya kereta dorong–tampaknya masih gress, berbau toko. Jalan di antara ibu itu dengan si bayi benar-benar ramai. Orang-orang dewasa melintas, lalu lalang, seperti mengejar pintu kereta yang sudah siap berangkat. Setiap orang memiliki tujuannya masing-masing.

Melintas di depan ibu itu, seorang anak laki-laki–berusia 3 tahun–menggandeng ibunya yang berjalan cepat-cepat; mereka tidak ingin terlambat ‘boarding’. Sejenak, dia menatap sang bayi. Dan seketika itu, dia lepaskan genggaman ibunya. Anak laki-laki itu berlari menuju persembuyian hangat si bayi. Tubuhnya merunduk, wajahnya mendekati sosok mungil yang lucu, lantas Teddy Bear–boneka kesayangannya–mendarat lembut di atas dahi si bayi. Makhluk mungil itu pun terjaga. Tangannya bergerak ingin meraih si Teddy. Mata mereka saling bertatapan. Tak ada kata yang terucap, namun perhatian dan cinta seorang anak berusia 3 tahun itu sungguh sangat mengagumkan. Orang-orang dewasa? Mereka tetap lalu-lalang tidak menyadari kontak polos dua malaikat kecil di pagi itu.

Kita semua sibuk. Pesawat dan bus menuntut para penumpang tepat waktu; jika tidak mereka akan ditinggal. Pekerjaan menunggu di kantor. Janjian meeting menghiasi agenda hari itu. Lantas bagaimana dengan anak-anak? Mereka juga sama dengan kita; mereka sama-sama akan naik pesawat. Namun, mereka masih bisa menikmati irama meredu pagi hari yang tak terdengar oleh jiwa yang grusa-grusu. Bisakah kita seperti mereka? Atau bisakah kita mengambil nafas sejenak dan membiarkan anak-anak kita menjadi diri mereka yang sejati–makhluk yang dermawan, tercerahkan, dan penuh perhatian?

Aku teringat setiap pagi selalu buru-buru agar Lala tidak terlambat sekolah. Selepas mengucapkan salam kepada wanita yang melahirkan kedua anakku, kami menuruni tangga rumah. Aku berusaha berjalan lebih cepat, agar sepeda keluar rumah lebih cepat. Namun, Lala dengan “slow motion” menuruni tangga itu. Seolah dia sedang menikmati setiap 5 inchi berkurangnya ketinggian di atas permukaan bumi. Tidak punya aku kesabaran seperti itu. Dan secepat Flash Gordon, sepeda pun siap di depan pintu sebelum dia menyelesaikan hitungan langkah demi langkah pagi harinya.

Alhamdulillah, aku mendapat pencerahan dari cerita ibu di airport tadi pagi. Allah sebenarnya telah hadirkan malaikat kecil yang berusaha mengajariku tentang kejernihan, syukur, dan menikmati setiap inchi kehidupan. Namun kaca mata minus kesibukan yang kupakai tak mampu memperjelas a-b-c-d-nya abjad yang menetes dari salju di penghujung musim dingin ini.

Hari-hari belakangan salju turun dengan cukup tebal. Mungkin nanti–pulang dari kantor–aku harus melepas sepatu dan kaos kaki, lantas berlari-lari di atas salju putih selembut kapas–seperti yang telah “diajarkan” oleh malaikat “Malik”-ku Kamis lalu. Sifat dan kelakuan alamiah malaikat-malaikat kecil, anak-anak kita itu, akan menyetrum kembali jiwa terdalam kita dan menghadirkan keindahan kanak-kanak ke atas hamparan kering jiwa–yang tertekan oleh derik roda kereta yang bernama modernitas dan Internet.

Do you have an Internet Addicted Disorder? Jauhi komputer, dan berlarilah dengan kaki telanjang di atas salju.

—- one day after:

“I made it!” Biarin aja kalau aku dibilang kayak Wong Ndeso yang baru lihat salju. Peduli amat juga kalau dibilang kayak anak-anak. Emang jadi seperti anak-anak itu asyik punya. Jadi wong ndeso juga asyik. Berbuat aneh—termasuk yang ndak umum—pun akan dimaklumi. Ndak perlu pasang topeng monyet gengsi. Yang penting fresh..fresh..

Indra, kayaknya kau juga bikin ginian pula. Share dong…

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah