READ MORE >>   Renungan & Hikmah

Salah seorang teman kami menceritakan sekelumit pengalaman ruhani mendapat ketenangan batin dengan jalan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal yang berkesan olehnya adalah cerita tentang si fulan (biasanya diperankan dengan tokoh Abu Nawas?) yang mencari kunci yang hilang dengan mengacak-acak halaman, di luar, rumah. Setelah ditanya seseorang, dia menjawab bahwa kunci tersebut hilang di dalam rumah. Seharusnyalah “mencari sesuatu” tersebut dilakukan dari dalam terlebih dulu, jangan mengacak-acak dan sibuk di luar. Akhirnya kembali pada hati dan jiwa kita, karena itulah “bagian dalam”, interior, yang dimiliki manusia.

Teman yang menceritakan pengalaman ruhani ini mempraktekkannya dengan ikhlas, melakukan adjustment terhadap dirinya, dan alhamdulillah, masalah kritis yang dihadapi dapat diselesaikan. Mudah-mudahan ridla Allah besertanya, yang telah berusaha memperbaiki keadaan dengan memperbaiki diri sendiri terlebih dulu.

Cerita mencari “di dalam” atau “di luar” di atas menjadi favorit teman yang lain pada sisi sebaliknya. Dia berpendapat bahwa apabila pencarian kita di dalam hanya berpusing-pusing seperti mengurai benang kusut dan menguras tenaga terlalu banyak, ada saatnya pergi keluar, menjauh (bukan menghindar) dari benang kusut tersebut dan melihat persoalan dari sudut pandang “luar” yang jelas lebih lapang dan kemungkinan beroleh pemandangan yang berbeda.

Jika kita sudah sampai pada substansial yang lebih hakiki: apa sebenarnya “luar” dan “dalam”? Batasnya hanya setipis pintu. Penekanan sebenarnya pada introspeksi terhadap diri sendiri — yang hal itu dapat diperoleh dari melihat diri kita sendiri atau menyadari keragaman yang terdapat di luar.

Hidup sendiri tidak selalu seperti film Hollywood yang menyederhanakan persoalan dengan jagoan segera dimenangkan. Bagaimana jika dalam cerita teman tentang pengalaman ruhani tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan? Ini penting, karena pertama, tidak semua harapan kita merupakan sesuatu yang memang baik atau cocok dengan kondisi kita. Sebagian orang malah seperti “tidak berpengharapan” dalam konteks meyakini bahwa segala sesuatu yang dialami dalam perjalanan hidupnya itulah yang terbaik baginya. Mereka bukan orang-orang pasrah yang kemudian menjalani hidup dengan bermalas-malas, melainkan para pekerja keras karena percaya dalam “tiada berpengharapan” tersebut mereka harus tetap bermanfaat bagi sesama.

Kedua, semata-mata memang harapan tersebut belum juga segera terwujud. Sebuah email dari teman lama pernah mempertanyakan hal itu kepadaku: saya sudah melakukan introspeksi, memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, namun mengapa persoalan ini belum juga usai?

Doaku kepada mereka yang masih seperti berkelanjutan menghadapi masalah seperti tidak ada ujung akhirnya tersebut: semoga rahmat Allah dicurahkan kepada mereka, sehingga dihindarkan mereka dari putus asa. Saya tetap harus menjawab pertanyaan tersebut — tampaknya yang ia perlukan hari ini adalah seorang teman yang dapat memahami kesulitan yang dihadapi. Saya perlu berhati-hati agar tidak overdosis menasehati dia untuk mengorek kekurangan diri sendiri terus (kurang ikhlas, kurang beribadah, kurang dekat dengan Allah, misalnya), karena memikirkan diri sendiri terus-menerus dengan tensi berat dapat berakhir dengan putus asa karena frustasi.

Saya jawab begini,

Menurutku, semua hal/persoalan/keadaan senantiasa ada batas akhirnya, karena kita hidup di dunia yang fana. Batas akhirnya bisa berupa persoalan tersebut diselesaikan baik-baik atau tidak pernah selesai namun kita menjemput maut (yang berarti persoalan tsb. selesai, kan?). Tidak ada masalah yang abadi, karena Tuhan juga Maha Adil; atau sebaliknya, kita manusia demikian tidak bisa bersyukur sehingga setiap hari dianggap bermasalah.

Maksud dari penjelasanku di atas bukan menyudutkanmu. Bukan pula membela pihak lain. Atau sebaliknya. Kalimat-kalimat di atas itu netral, berlaku untuk semua hubungan antarmanusia.

Jika kita berpendapat kondisi yang sedang dialami sekarang merupakan “penderitaan”, coba dicari akar persoalannya: bagian mana penyebab penderitaan tersebut. Apabila sudah didapat, coba pertimbangkan baik-baik kondisi seharusnya (yang kita inginkan). Apabila dalam waktu dekat kondisi seharusnya tersebut sulit dicapai, beri batas waktu akhir dari persoalan tsb. menurut kita. Karena tidak mungkin seseorang hidup dalam persoalan terus-menerus sepanjang hidupnya, apalagi jika persoalan tsb. dibuat/terjadi karena keputusan manusia (lain).

Nah, dalam menuju batas jangka panjang tersebut, kita harus menghargai solusi-solusi jangka pendek. Misalnya menikmati hidup, mensyukuri pemberian-Nya, dan hal-hal lain yang barangkali bagi orang lain tidak terlihat. Rasakan dengan mata hati, sehingga dalam menuju batas jangka panjang tersebut kita bisa ikhlas.

Setelah itu, apabila dalam jangka panjang persoalan tersebut tetap tidak dapat diselesaikan sendiri, lakukan perundingan yang baik terhadap penyebab kondisi tersebut. Dalam beberapa hal, terkadang diperlukan pihak ketiga yang dapat melihat persoalan tersebut dengan lebih jernih dan adil.

Hidup memang sulit, jika kita kita sibuk mengitari bagian yang sulit; dan sebaliknya, hidup juga mudah, jika kita berusaha mendapatkan bagian-bagian yang memudahkannya. Di antara keduanya itu ada penderitaan, pengorbanan, dan keikhlasan.

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah