READ MORE >>   Renungan & Hikmah

Hari ini saya membaca sebuah berita di detik.com tentang boikot terhadap katering Wong Solo. Boikot ini dilakukan sebagian aktivis perempuan NU, yang dimotori Ibu Shinta Nuriah Abdurrahman Wahid, dengan alasan pemilik Wong Solo telah melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dengan melakukan poligami.

Baca berita lengkap di

Saya sendiri sebenarnya bukan seorang pendukung poligami. Namun akhir-akhir ini saya sedikit terusik dengan kampanye anti poligami yang dilakukan oleh sebagian kalangan anti poligami. Biasanya mereka mengusung 2 tema besar, keadilan dan kekerasan terhadap perempuan. Tapi seberapa objektifkah tema ini dibawakan.

Bicara soal keadilan, maka pertanyaan yang selalu diusung adalah mempukah laki-laki yang beristri lebih dari satu bersikap adil.

Bagi saya pertanyaan “mampukah bersikap adil?” ini, lebih baik ditanyakan kepada SBY, Megawati, Amien Rais, Wiranto, atau Hamzah Haz ketika mereka akan mencalonkan diri menjadi Presiden dulu. Sebab seandainya saja, katakan seorang laki-laki yang beristri lebih dari satu bersikap tidak adil, maka yang terzhalimi hanyalah istri-istri dan anak-anaknya saja. Sedangkan bila calon-calon Presiden itu yang bersikap tidak adil, maka akan ada ribuan keluarga yang terzhalimi. Tapi ini menjadi tidak penting bagi kita, karena masalah ini tidak lah sesensitif masalah poligami.

Kemudian ketika berbicara soal kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, saya merasa ada kecenderungan dewasa ini untuk mengindentikkan poligami dengan kekerasan di rumah tangga. Jadi poligami = kekerasan di rumah tangga, dan sebaliknya kekerasan di rumah tangga = poligami. Padahal kekerasan di rumah tangga bisa dilakukan siapa saja, termasuk oleh laki-laki beristri satu. Dan sebaliknya pengayoman terhadap perempuan juga bisa dilakukan siapa saja, termasuk oleh laki-laki yang beristri lebih dari satu.

Maka saya menjadi heran kenapa kita bisa begitu toleran memisahkan secara objektif, misalnya, siaran TV, pengaruh baiknya, dan pengaruh buruknya, tapi tidak demikian halnya dengan poligami dan kekerasan di rumah tangga. Sekali lagi, ini mungkin karena masalah ini tidak lah sesensitif masalah poligami.

Kita kembali lagi ke masalah boikot terhadap Wong Solo-nya Puspo Wardoyo yang menjadi inspirasi saya menulis ini.

Sebagian kita mungkin sudah mengenal siapa Puspo Wardoyo. Pria setengah baya, beristri empat, pemilik rumah makan Wong Solo, dan selama ini dikenal sebagai icon-nya poligami karena kegetolannya berpromosi soal poligami.

Saya sendiri bukan orang yang tahu mendetail tentang Puspo Wardoyo. Tapi kebetulan kami sama-sama berasal dari satu kota, Medan, dan salah seorang anaknya adalah kakak kelas saya di SMU.

Nama Puspo Wardoyo sendiri rasanya sudah berkali-kali dihujat, khususnya oleh para aktivis perempuan, karena keputusannya berpoligami. Namun pernahkah mereka melihat sisi lain dari Puspo Wardoyo si pelaku poligami ini?

Di saat laki-laki pengusaha lainnya begitu giat mengeksploitasi pekerja perempuannya untuk memperoleh keuntungan, maka Puspo Wardoyo mewajibkan semua pekerja perempuan di restorannya menggunakan kerudung.

Puspo Wardoyo pun berkali-kali membuka pintu lebar-lebar untuk wartawan datang ke rumahnya, dan mewawancarai istri-istrinya. Pesannya adalah “Silahkan lihat rumah tangga saya yang berpoligami ini, dan tanyakan kepada istri-istri saya apakah saya menzholimi mereka?”

Suatu saat Puspo Wardoyo pun pernah diwawancarai dalam sebuah acara di Metro TV. Selesai acara, seperti biasa pembawa acara, yang kebetulan hari itu perempuan, menyalami, dengan berjabat tangan, dengan si nara sumber. Tapi dia menolak. Pesan apa yang saya tangkap adalah, “Betul saya beristri empat, tapi saya hanya mau menggauli muhrim saya”.

Membaca petikan-petikan cerita di atas, masihkah kita menganggap Puspo Wardoyo yang beristri empat itu, lebih rendah laki-laki yang memang beristri satu tapi mata dan tangannya entah sudah ‘merayap’ kemana-mana?

Saya sedikit pun tidak hendak berkata bahwa Puspo Wardoyo itu adalah dewa. Cerita Puspo Wardoyo ini saya majukan hanya untuk menunjukkan betapa seringnya masyarakat bersikap tidak objektif terhadap kasus poligami.

Dan tulisan ini saya buat bukan untuk mengubah pendapat orang menjadi setuju terhadap poligami. Karena saya harap kita bisa sama-sama berkata ‘no’ untuk berpoligami dan ‘no’ untuk dipoligami, namun kali ini dalam bingkai yang lebih objektif.

Mungkin kah? Ah, rasanya susah, karena ini menyangkut perasaan, apalagi perasaan wanita.

Semoga bermanfaat

Wassalam

-henry-

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah