READ MORE >>   Renungan & Hikmah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua…

Mohon maaf, jika saya menuangkan perasaan saya di milis ini.

Satu kata komentar saya tentang jalannya acara debat calon presiden PPIG semalem:

Excellent!!

Salut buat Pak Moderator yang gagah dan tegas.
Salut buat Pak Notulen yang setia mengawal jalannya acara.
Salut buat Temen2 Panitia Pemilu yg berhasil menyewa ruangan
bersejarah dan megah untuk hajatan ini.
Salut buat Ketiga Kandidat yang telah berjuang siang malam, berhari-hari, mengurangi waktu tidur dan belajar, ‘hanya’ untuk memberikan yang terbaik bagi kita semua. Mengumpulkan masukan dan harapan kita semua, yang kemudian menjadi program yang menarik dan mengakar.

Dan tak kalah seru, yang membuat saya semakin bangga menjadi anggota PPI (baru kali ini aku merasa bangga), adalah para peserta, para anggota PPI yang hadir dalam acara debat ini.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua…

Mohon maaf, jika saya menuangkan perasaan saya di milis ini.

Satu kata komentar saya tentang jalannya acara debat calon presiden PPIG semalem:

Excellent!!

Salut buat Pak Moderator yang gagah dan tegas.
Salut buat Pak Notulen yang setia mengawal jalannya acara.
Salut buat Temen2 Panitia Pemilu yg berhasil menyewa ruangan
bersejarah dan megah untuk hajatan ini.
Salut buat Ketiga Kandidat yang telah berjuang siang malam, berhari-hari, mengurangi waktu tidur dan belajar, ‘hanya’ untuk memberikan yang terbaik bagi kita semua. Mengumpulkan masukan dan harapan kita semua, yang kemudian menjadi program yang menarik dan mengakar.

Dan tak kalah seru, yang membuat saya semakin bangga menjadi anggota PPI (baru kali ini aku merasa bangga), adalah para peserta, para anggota PPI yang hadir dalam acara debat ini.

Mengapa?

Ketika masing-masing diri kita memasuki ruangan debat, ada sebuah perasaan yang tidak bisa dinafikan. Perasaan yang tidak bisa diabaikan. Perasaan yg tidak bisa dihilangkan begitu saja. Perasaan yang menuntut untuk diterima dan diakui keberadaannya. Karena perasaan itulah wakil dan perwujudan dari masing-masing diri kita.

Perasaan apa itu?

Perasaan bahwa: saya berbeda dengan anda!

Luar biasa, ketika saya mencoba melihat ‘perbedaan’ ini dari kaca mata lain, kacamata ‘Bhinneka Tunggal Ika’, saya melihat sebuah kekuatan. Dan saya semakin kagum saja dengan para pendiri negara Indonesia yg telah menemukan semboyan tersebut. Dengan semboyan itu, saya merasa ‘diakui’ bahwa saya orang Jawa Timur, beragama Islam, memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda dengan kawan2 saya dari Madura, Batak, Irian Jaya. Dan bukan hanya diakui, namun saya merasa ’satu’ dengan mereka semua.

Saya bersyukur sekali, bahwa semboyan negara kita bukan “United Indonesia”. Karena, tidak terasa adanya ‘ruh pengakuan’ atas ‘perbedaan’ dalam semboyan itu. Semua satu. Semua sama.

Mengapa perbedaan perlu diakui dan diangkat ke permukaan?

Saya teringat dua minggu lalu, bersama istri membacakan buku buat kedua anak saya, Lala (5th) dan Malik (3th), sebelum mereka tidur. Saya ajak mereka berimajinasi. Saya bertanya: “Jika Lala dan Malik menjadi burung, mau melakukan apa?” Saya pikir mereka semua sama. Sama-sama anak2. Sama-sama suka burung. Apa yang terjadi?

Malik langsung menjawab, “Aku mau terbang ke Indonesia, mengambil mainan dinosaurus yang tertinggal.” Kalau Lala mau apa? Lala merengut, marah dan bilang “Lala bukan burung! Lala manusia!” Tapi ini hanya imajinasi saja, La. “Lala ndak mau jadi burung, Lala mau jadi kupu-kupu, karena cantik!”

Disitu saya tersadar, bahwa meskipun mereka sama-sama anak2, yang dengan mudah bisa saja kita abaikan perasaan mereka, namun pada dasarnya MEREKA BERBEDA. Mereka Unik. Dan keunikan mereka menuntut untuk diakui dan difasilitasi. Lala protes jika disamakan dg Malik. Dia menuntut saya untuk memberi ruang bagi dia mengungkapkan perasaannya yang berbeda. Dia menuntut saya memfasilitasi keunikannya.

Harapan saya….

Kita di PPI, tidak berbeda dengan anak-anak itu. Sudah terang dan jelas, bw kita berbeda. Tidak ada yg memungkiri itu. Saya berharap, PPI mendatang tidak lagi merasa ‘tabu’, ’sungkan’, atau ‘ragu’ membicarakan perbedaan-2 yang ada dalam diri kita. Kita akui, kita berbeda agama, keyakinan, minat, hobi, bidang studi, kedewasaan, kebutuhan, dll. Kita akui, ada PD dan deGromiest yg menjadi simbol keunikan perbedaan dalam hal spiritualitas, seperti halnya kita mengakui adanya group di PPI yg suka bola, fulzaal, game, jalan-jalan, dll.

Saya berharap, kita berani bilang bahwa “kita berbeda, dan kita mengenali perbedaan itu”. Dengan mengakui adanya perbedaan, kita akan mengenali diri kita sendiri. Mengenali apa yang diinginkan oleh masing-2 elemen itu. Setelah mengenali, kita bisa memfasilitasi.

Saya khawatir, mengingkari adanya perbedaan, sama saja dengan meingingkari eksistensi elemen2 yang berbeda unik itu. Seperti kasus Lala, saya bisa mematikan daya imajinasi kreatif unik dia. Dan dalam lingkup PPI, pengingkaran tersebut akan terus menimbulkan perasaan yang tidak enak dan tak terungkapkan. Tampak bagus diluar, tapi sakit di dalam.

Saya memimpikan, di milis MIG, elemen2 yang berbeda itu diakui. Mereka diberi ruang untuk berbicara. PD bisa mengumumkan pemikirannya, acara2nya di milis MIG. deGromiest juga bisa menyampaikan info2 kepada anggotanya yg banyak di mlis MIG. Persis spt temen2 yang suka futzal, basket dan bola meramaikan milis MIG. Tanpa ada perasaan sungkan, kuatir diprotes (seperti beberapa tahun lalu), atau yg tersinggung. Karena semua sudah mengakui dan menerima adanya perbedaan. Ini hanya satu contoh pengakuan dan penerimaan atas perbedaan itu.

Pertanyaan saya (untuk direnungkan atau dibahas), bukan hanya buat para kandidat. Tapi buat semua anggota PPIG:

Bisakah kita melebarkan pintu hati kita, untuk menerima perbedaan, mengakuinya, dan kemudian melihat indahnya ‘Bhinneka Tunggal Ika’ di keluarga besar kita ini?

Semoga Tuhan YME merahmati dan selalu menerangi hati dan pikiran kita.

Wassalam,

Ismail Fahmi
- anggota PPI dan mantan ketua deGromiest 2003/2004

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah