READ MORE >>   Ramadhan 2004

Tulisan keduabelas dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Wangsa Tirta Ismaya.

Bersih… bersiiih… Ulfa Dwiyanti berteriak dengan gembira pada salah satu iklan komersial yang beredar di televisi swasta di Indonesia. Sang ikon masyarakat ini lalu berlari ke sana kemari dengan sebuah botol pembersih di tangan kiri dan kain pel di tangan kanannya. Ida Kusumah yang berlakon sebagai nyonya rumah dengan mata terbelakak melihat lantai rumahnya yang bersih dan wangi, tidak hanya bebas dari kotoran tetapi juga enak dipandang oleh mata. Pembersih bermerek ZyXrWT ini memang ampuh…

Terpaku memandang jam yang tergantung pada tembok di hadapan, sudah hampir jam 12.30, waktu setempat, sholat Jumah belum juga mulai. Kultum yang menurut kebiasaan setempat selalu diselenggarakan harusnya sudah berlalu sejak . mungkin setengah jam yang lalu. Hahaha, mungkin harus diganti namanya menjadi Kultung : Kuliah dugi ka tutung . Alhamdulillah, akhirnya mulai juga Bang berdendang, tapi ini baru Bang pertama lho, sesudah sholat sunnah dua rakaat, barulah Bang kedua diperdengarkan dan imam akhirnya memulai ceramahnya, yang sudah ditunggu sejak sekitar satu jam yang lalu. Hari itu memang hujan sangat lebat, namun menurut warga setempat, memang begitulah adanya. Masjid sudah penuh sejak satu jam sebelumnya bukan karena hujan tapi memang begitu kebiasaannya. Maklum, di negri bernafaskan kental ke-Islaman ini memang hanya menyelenggarakan sholat Jumat pada masjid tertentu. Ingin yang lebih fenomenal? Bagi sebagian umat Islam di sini, sholat Jumat BUKAN merupakan suatu kewajiban. Wah, reformasi?

Bla .. bla .. bla .. dan entah apa lagi yang imam sampaikan dalam ceramahnya. Sampai akhirnya … .. Para jamaah sekalian, sebentar lagi kita akan mengakhiri bulan Ramadhan ini, jangan lah lupa kita akan kewajiban membayarkan zakat fitrah. Ibadah ini diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wassalam sebagai sarana membersihkan diri dan harta kita dari kotoran yang menggerogoti nilai kehalalan harta kita. Jadi, pakcik, jika dalam perniagaan berbuat suatu kesilapan dengan mencurangi timbangan dan semacamnya, marilah kita bersihkan dengan zakat fitrah ini . Ajakan yang mulia, yang memang merupakan esensi dari zakat fitrah yang seharusnya dilaksanakan pada setiap akhir bulan Ramadhan.

Ehem, benarkah? Bukan kah itu berarti Islam membenarkan kita untuk berlaku curang, melakukan kesilapan yang secara sadar dilakukan. Bukan kah itu berarti kita bisa berbuat kesalahan dan membersihkannya setiap kali ada kesempatan seperti pada akhir bulan Ramadhan ini. Benarkah zakat fitrah itu tak ada bedanya dengan pembersih yang iklannya beredar diseantero dunia pertelevisian?

Zakat fitrah. Membawa yang melaksanakannya kembali kepada fitrah. Fitrah? Ya, bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan bersih, seperti lembaran kertas putih, menurut kata ulama. Lembaran kertas yang dapat ditulisi apa saja? Yang dapat dilipat ke dalam bentuk apa saja? Yang dapat dibakar hingga tak berbekas? Mengapa tidak terlahir bagaikan lantai yang putih, setidaknya jika terbakar hingga gosong pun masih bisa digosok sekeras-kerasnya agar kembali menjadi putih. Kertas terbakar berubah menjadi putih bersih? Perlu tukang sulap rasanya.
Mungkin Rasulullah atau bahkan Allah subhanahu wa taala sendiri yang menyatakan bahwa zakat fitrah adalah sarana pembersihan dosa. Benarkah? Segala yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya adalah selalu benar adanya, bukan begitu?

Zakat fitrah, sarana pembersihan dosa. Dosa yang BOLEH diulang-ulang karena memang sudah tersedia alat pembersihnya, begitukah? Ibarat lantai putih yang kita injak dengan sepatu kotor, lalu dipel kembali, lalu diinjak kembali dengan sepatu kotor, dipel kembali dan begitu seterusnya . Mengapa kita tidak belajar daripadanya dan membersihkan sepatu setiap kali akan menginjak lantai. Menjaganya agar tetap bersih. Membersihkan lantai secara teratur bukan karena selalu kotor terinjak tapi karena memang kita mencintai kebersihan, mencintai lantai yang tampak rupawan jika berada dalam keadaan bersih. Seperti zakat fitrah yang dilaksanakan karena kita mencintai Allah dan takut kepada-Nya, bukan karena ingin kembali menjadi bersih dari dosa karena memang sudah kita jaga semampu kita untuk terhindar dari padanya.

Entahlah, mungkin kini saatnya Ulfa mulai berteriak dengan gembira: Zakat fitrah. Zakat fitraaaah.

  READ MORE >>   Ramadhan 2004