READ MORE >>   Ramadhan 2004

Tulisan kesepuluh dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Elfahmi Yaman.

Waktu berjalan sangatlah cepat, terasa belum begitu lama kita berbicara tentang persiapan menyambut bulan Ramadhan, ternyata sekarang sudah memasuki pertigaan terakhir, sepertiga bulan yang menurut para ulama dalam menukil hadist adalah waktu ditutupnya pintu neraka. Lalu bagaimana dengan pertigaan pertama dan kedua yang sudah berlalu. Apakah kita bisa merasakan sepertiga awal sebagai masa mendapatkan rahmat yang berlimpah dari Allah SWT ?, begitu juga dengan sepertiga kedua, apakah kita bisa merasakan meraih ampunan (maghfirah) atas dosa-dosa yang telah sengaja atau tidak, melumuri diri ?. Allahu ‘alam, Allah lah yang maha tahu, karena ini memang hak “mutlak” dari Sang Pencipta. Yang bisa kita lakukan adalah berupaya mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah ditetapkan dalam Al-qur’an dan hadist Rasullullah serta penjelasan para ulama. Namun proses evaluasi (mutaba’ah) tentu kita bisa lakukan merujuk kepada parameter-parameter yang dijelaskan dalam petunjuk-petunjuk tersebut. Hari demi hari kita lalui dengan berbagai aktivitas seperti biasa, sekolah, bekerja, menulis, berkarya, beribadah, membaca. Barangkali dengan intensitas yang lebih kuat demi berupaya menggapai keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan.

Pada suatu kesempatan seorang guru menganalogikan keberhasilan seseorang dalam meraih keutamaan bulan Ramadhan itu dengan hitungan matematik sangat sederhana, tidak perlu menggunakan rumus integral, diferensial, atau apalah namanya yang rumit-rumit. Andaikan “kualitas” iman, ibadah, kedekatan (taqarrub) kepada Allah SWT sebelum memasuki bulan Ramadhan bisa dinilai dengan angka 5, maka saat berproses selama bulan Ramadhan dengan aktivitas ibadah yang meningkat, itupun kalau dilakukan dengan niat ikhlas maka nilai meningkat menjadi 15 diakhir bulan. Selanjutnya sebagaimana biasa setelah bulan puasa intensitas ibadah berkurang, tidak ada lagi puasa wajib, taraweh dan lain-lain sehingga berkurang menjadi 12 atau 10. Sang guru berkesimpulan bahwa yang demikian ini berarti berhasil meraih keutamaan bulan Ramadhan. Yang sering terjadi adalah nilai tersebut berbalik kembali ke jumlah semula, atau malah lebih kurang ?. Pertanyaan kritis yang juga sangat sederhana muncul, terus bagaimana mengukurnya sehingga keluar angka-angka kuantitatif tersebut. Nah disinilah masaalahnya karena itu merupakan ketetapan Allah SWT terhadap individu. Sang guru kemudian melanjutkan bahwa individu tersebut sebenarnya bisa merasakan perubahan dalam dirinya sendiri, misal mulai dari semakin sensitifnya diri dalam menindak lanjuti kebaikan-kebaikan dan sebaliknya, semula susah sabar menjadi relatif lebih bisa mengontrol emosi, jadi lebih takut kepada Allah SWT dalam melakukan berbagai tindakan.

Perubahan-perubahan yang dirasakan ini dengan sendirinya berpengaruh keluar diri sehingga memberikan manfaat kepada orang lain. Sebuah pertanyaan “nakal” menghampiri benak walau tidak sampai pada sang guru. Bagaimana kalau sebelum Ramadhan korupsinya M-M an, terus puasa dan setelah lebaran korupsinya berkurang jadi J-J an, apakah termasuk berhasil meraih keutamaan puasa ?. Lha, jelas saja tidak, karena berapapun jumlahnya korupsi itu tetap dilarang karena memakan yang bukan hak. Kalau begitu betapa banyak yang berpuasa namun tidak meraih keutamaannya, seperti sebuah hadits bahwa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan haus dan lapar saja. Buktinya memerangi korupsi di Indonesia sangat sulit sekali bahkan banyak orang yang sudah pesimis terhadapnya. Belum laginya yang namanya “korupsi non materi”.

Kembali kepada evaluasi (mutaba’ah), tentu merupakan suatu yang urgen dilakukan, karena dengan demikian bisa diketahui pencapaian-pencapaian dari target yang telah ditetapkan. Sebuah penelitian butuh pertemuan pihak terkait sekali seminggu dengan memaparkan apa yang telah dilakukan, bagaimana hasilnya, kenapa ada kendala serta berbagai pertanyaan lainnya. Berdasarkan hasil evaluasi ini dilakukan perbaikan-perbaikan untuk masa selanjutnya. Kalau proses evaluasi tidak dilakukan maka sulit mengukur sudah sampai dimana pencapaian target. Cukupkah waktu 7-8 hari ini bisa melengkapi “nilai” puasa sebagai sebuah hasil mutaba’ah 22 hari yang lalu ? Semoga Allah SWT “melembutkan hati ini” sehingga senantiasa selalu terbuka menerima kebaikan-kebaikan serta tergerak melkukannya. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan energi dalam rangka berlari mendekati-Nya, Amiin.

  READ MORE >>   Ramadhan 2004