READ MORE >>   Ramadhan 2004

(Reportase Nuzulul Quran dari seorang Buyung)

Alhamdulillah, semua puji syukur pada Allah Semesta Alam. Sudah kita lewati lagi satu dari sekian rangkaian acara Gerakan Perindu Ramadhan dengan selamat dan insyaallah penuh hikmah. Acara ini adalah Nuzulul Quran, bisa dikatakan acara puncak Gerakan Perindu Ramadhan kita.

Sekali lagi, saya dengan segala kerendahan dan ketulusan hati mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada rakyat deGromiest yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu. Acara ini adalah acara kita bersama; tidak ada yang berhak mengklaim secara pribadi maupun kelompok, tapi ini adalah milik ummat Islam yang kebetulan diamanahkan kepada kita untuk diselenggarakan di bumi Groningen.

Namun, Gerakan Perindu Ramadhan belum selesai. Perjalanan masih panjang, Ramadhan masih tersisa 13 atau 14 hari lagi. Mari saling membahu dan saling mengingatkan untuk membakar semangat menjadi energi. Energi ini yang kita pakai untuk mengisi detik demi detik Ramadhan dengan penuh hikmah, zikir, fikir, dan ibadah. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang benar-benar bertaqwa, amien ya Rabbal Alamin.

Kisah Di Bawah Meja (makan)

Nama GPR (Gerakan Perindu Ramadhan) sebenarnya lahir dari celoteh Bang Is yang saat itu masih terpengaruh dengan lahirnya Gerombolan Pencicip Makanan Pencinta Sains (gpmps). Nama itu langsung saya resmikan sebagai nama kepanitian yang diamanahkan kepada saya untuk menjadi event organizer deGromiest selama bulan suci Ramadhan.

Dari sekian banyak acara, Nuzulul Quran justru luput dari perhatian saya. Syukurlah beberapa rekan mengingatkan saya dengan peristiwa paling penting dalam sejarah Islam tersebut. Itulah untungnya mensosialisasikan ide-ide kepada massa.

Format acara prematur segera disusun berdasarkan hasil obrolan dengan rekan-rekan. Ketika dilemparkan ke publik, mendapatkan tanggapan positif. Langsung saja, pada tanggal 16 Oktober 2004, saat buka puasa pertama di Websterbadstraat 48, pembagian peran di mulai. Cara pembagian peran yang terlihat ganjil, tapi ternyata dirasakan tepat seperti yang rekan-rekan nikmati malam tadi. Mudah2an memang Allah lah yang sudah memilihkannya untuk kita.

Tim materi mengadakan rapat maraton lewat email, membahas apa tema utama dan bagaimana menyampaikan pesan-pesannya. Minggu 24 Oktober 2004 menjadi hari bersejarah dalam persiapan Nuzulul Quran ini. Para aktor berkumpul di Bezettingslaan 30 untuk mematangkan materi dan berlatih. Format acara pasti disusun, seperti yang rekan-rekan nikmati tadi malam.

Terungkap bahwa, lagu “Doa Khatam Quran” yang kita bawakan tadi bukanlah lagu gampangan. Indra, Bang Budi, dan Pak Toto, pemusik yang bisa dibilang handal di bidang masing-masing butuh waktu setengah hari untuk menemukan chordnya. Teguh, salah satu musisi handal kita terus terang pada saya menyerah untuk mempelajari chord lagu ini dalam satu hari. Itulah alasannya kenapa kita tidak melihat Teguh tampil tadi malam.

Pak Toto menguraikan bahwa lagu ini tidak mengikuti pakem biasanya. Kuncinya tidak berulang, melainkan berubah-rubah terus dari awal sampai akhir. Sebagai musisi Pak Toto tidak suka dengan alur demikian, karena ini mengurangi harmonisnya sebuah lagu.

Namun, ada sesuatu yang lain. Lagu ini bukan lah lagu pop yang biasa kita dengar. Ini adalah doa, doa kepada Allah, sebuah harapan. Dan doa ini dibawakan dan dinikmati oleh hati. Sehingga ketidakpakeman tidak menghalangi pendengar untuk menikmatinya. Karena yang menikmatinya bukan telinga, tapi hati. Subhanallah.

Ada lagi cerita lain. Beberapa rekan merasa keberatan dengan plot yang saya buat berkenaan waktu dan sajian makanan. Saya bersikeukeuh untuk mengadakannya selepas Maghrib dan menghindari makanan serius demi tercapainya kesyahduan acara. Sementara dari sisi lain, ini bisa mengurangi minat orang yang datang. Alasannya, makanan adalah daya tarik utama dan jam 7pm dirasa terlalu larut untuk orang beraktivitas. Namun, Alhamdulillah huznusan saya tidaklah melenceng terlalu jauh; acara tetap syahdu (walau ini tentu relatif) dan rekan-rekan yang datang tidak harus kelaparan. Alhamdulillah.

Selain itu, kedatangan para wakil dari KBRI memberi warna tersendiri. Kita bisa meluaskan manfaat dari acara GPR: kesempatan bagi warga Indonesia di Groningen bertemu para wakil KBRI dan melakukan “Lapor Diri”. Diskusi intens juga terjadi antara para tokoh deGromiest dengan wakil KBRI. Lagi-lagi, Alhamdulillah.

Merdunya alunan surah Al Baqarah 1-10 dari Indra, indahnya terjemahaan dari Ratih, disambung oleh Loedroek Cap Martini Tower yang dimotori trio Cak Tri, Cak Fu, dan Cak Toto benar-benar membuka Nuzulul Quran begitu bewarna. Warnanya kental, dan mempesona, terasa sampai ke belakang di mana rekan-rekan non-muslim yang sedang menunggu selesainya proses “Lapor Diri”. Mudah-mudahan ini menjadi dakwah, amin.

Tidak hanya sampai di sana, nyanyi “Doa Khatam Quran” yang di pandu oleh Uda Khairul, Kak Agnes, dan Yunia dan diiringi oleh flute Pak Toto, gitar Indra dan Bang Budi membuat penonton larut. Larut bersama harapan untuk mendapatkan berkah dengan membaca Al Quran. Saya berharap, pesan untuk membudayakan membaca Al Quran sampai hendaknya pada penonton.

Acara disambung oleh puisi Kematian oleh Bang Ismail. Saya merasa terhanyut oleh ekspresi beliau yang begitu menjiwai pesan-pesan maut dari Taufiq Ismail. Kemudian, dengan cantiknya, kontras dengan puisi pertama, puisi Kehidupan pun dikumandangkan oleh saya sendiri. Sebuah puisi yang lahir dari refleksi pemahaman saya pada fisika partikel dan kosmologi yang saya dalami, mencoba mengajak kita senantiasa berfikir dan berzikir setiap saat dalam kehidupan ini. Saya tidak tahu apakah pesan tersebut tersampaikan, kalau tidak mudah-mudahan resume singkat ini membantu.

Akhirul kalam…

Dan, akhirnya kepengerusan deGromiest resmi beralih dari zaman Ismail Fahmi ke zaman trio Wangsa, Toto, dan Indra. Sebuah suksesi yang begitu cantik, di hari baik di tanggal baik di bulan baik. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, langkah kanan insyaallah sudah kita mulai untuk de Gromiest ke depan.

Masih banyak agenda kita, masih banyak yang harus dibenahi. Perjuangan masih panjang, revolusi belum berhenti. Riak-riak mungkin terjadi, tapi mari selalu saling mengingatkan supaya perbedaan itu menjadi sesuatu yang indah. Ayo kita bahu-membahu menuntaskan revolusi yang sudah kita mulai, lewat deGromiest untuk Islam!

…
Biar apa pun luka yang terbina
Takkan gentar merela kehendakNya
Terdengarlah bicara tersembunyi
Yang tertebar di langit dan bumi

Siapakah yang mampu menundukkan bayu?
Siapakah yang tahu hanya ada Satu.

…

4.17am, 30 Oktober 2004
Duindoornstraat 121

Febdian Rusydi
Pesuruh 1 Gerakan Perindu Ramadhan

  READ MORE >>   Ramadhan 2004