READ MORE >>   Ramadhan 2004

Tulisan kesembilan dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ikhlasul Amal.

Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS Az-Zumar: 53.

Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian. Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan disebut sebagai hadits hasan dalam kitab Sahih Jami’ Shagir - 5235.

Kedua dalil naqli di atas ditulis sebagai awal buku DR. Yusuf Qardhawi, Tuntunan Taubat. Buku tersebut dengan jelas membawa kabar gembira, harapan, dan kasih sayang Allah kepada anak Adam yang — disadari atau tidak — tentu memiliki dosa sepanjang perjalanan hidupnya di dunia yang fana ini. Sifat manusia itu sendiri yang tidak lepas dari kekhilafan, yang berada di antara sifat-sifat baik dan nafsu, atau karena keadaan lingkungannya, sedikit atau banyak tentulah berlumur dosa.

Sebagian pendapat mengelompokkan dosa sebagai dosa besar dan dosa kecil, namun yang lebih penting bagi kita adalah dorongan untuk segera bertobat, meminta ampunan Allah, dan tidak berputus asa dengan rahmat-Nya. Hal ini penting karena kita tidak pernah tahu peristiwa yang akan terjadi kemudian, sehingga menunda-nunda bertobat justru dapat mencelakakan kita sendiri. Dosa kecil pun yang disepelekan dapat menjadi dosa besar karena keangkuhan pelakunya, sedangkan dosa besar yang disesali dan dimintakan ampunan kepada Allah tentulah akan dikabulkan. Seperti yang telah dijanjikan sendiri oleh Allah dan sifat Allah itu sendiri yang Maha Penerima Taubat (At Tawwab).

Bertobat dapat dijadikan sarana untuk “mengosongkan” diri kita. Meluruhkan semua endapan-endapan perasaan dan sikap tidak terpuji yang telah menggumpal. Dengan meminta maaf kepada orang lain — sebagai salah satu syarat bertobat, sebelum meminta ampun kepada Allah — kita dapat menjalankan amanah yang diminta Allah kepada umat-Nya. Bahkan dengan sangat bagus, Jalaluddin Rakhmat menulis bahwa ibadah untuk Allah itu adalah berpuasa dengan pengkhidmatan kepada sesama ciptaan-Nya.

Ah, Ramadhan ini, aku ingin terus berada di dalam suasanamu yang senyap, sehingga dapat kudengar hatiku sendiri yang bersuara lebih bening. Jika Engkau memberi banyak waktu-waktu baik untuk berdoa selama bulan Ramadhan ini, melipatgandakan balasan untuk amal perbuatan baik di bulan ini, aku ingin berhenti berpikir egois bahwa itu semua dilimpahkan untuk diriku, melainkan kesempatan yang lebih banyak lagi untuk menghamba hanya kepada-Mu.

  READ MORE >>   Ramadhan 2004