READ MORE >>   Ramadhan 2004

Tulisan kedelapan dari hajatan Zakat: Sumberdaya yang Terabaikan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Bahrul F. Masduqie.

Setiap tahun di bulan Ramadhan, Zakat menjadi primadona yang marak dibicarakan orang disampaing puasa yang merupakan isu pokok dibulan Ramadhan. Banyak orang ramai membicarakan Zakat baik melalui artikel, opini dikoran dan majalah ataupun menjadi tema pokok dalam acara ceramah subuh dan dialog menjelang berbuka puasa ditelevisi.

Memang zakat selain merupakan salah satu rukun Islam, Zakat juga memiliki kedudukan sangat penting dalam Al Quran. Oleh karena itu Allah s.w.t meletakkan perintah zakat ini pada posisi kedua setelah sholat. Ada sekitar 30 ayat dalam Al Quran yang menerangkan Zakat dan sekitar 27 ayat diantaranya mencantumkan kata zakat bersamaan dengan perintah sholat. “Aqimish sholaata wa atuzhzhakaata….”. dari sini kita dapat melihat betapa urgennya persoalan zakat ini. Sholat sebagai manifestasi keimanan umat pada sang Khaliq, sementara Zakat merupakan berkas sinar keimanan seorang hamba yang terpancarkan melalui kepedulian sosial.

Sebenarnya inilah inti pokok ajaran Islam. Islam tidak hanya mengutamakan persoalan uhrawi, namun keshalehan spiritual seorang muslim haruslah berimbas pada lingkungan disekitarnya dimana seorang muslim berada. Dengan kata lain seorang Muslim dituntut untuk memiliki keseimbangan relasi antara dengan Tuhan dan dengan sesama manusia, “hablum minal Allaah wa hablum minan naas”.

Menurut Masdar F. Masudi, Zakat dan Puasa memiliki dua tujuan yang sama yaitu sebagai sarana pensucian.Puasa adalah sarana untuk mensucikan diri dengan cara mengendalikan nafsu makan, minum, seks, emosi dan sebagainya. Sedangkan zakat lebih spesifik pada pensucian harta,dimana harta yang kita dapat ada sebagian darinya yang merupakan hak bagi saudara kita yang tercantum sebagai 8 asnaf (penerima zakat).

Pengelolaan Zakat di Indonesia secara teknis sudah tergolong modern dengan pembentukan lembaga-lembaga zakat dan terakhir penulis dengar seorang wajib zakat bisa membayar zakat melalui sms. Namun secara subtansial zakat masih dipahami secara textual atau tradisional. Pengertian obyek atau sasaran Zakat masih merefer pada zaman semasa Rasulullah Muhammad seperti pertanian, emas, perdagangan,peternakan (onta, domba dll). Memang onta pada masa itu menjadi symbol kekayaan yang dibanggakan. Namun sejalan dengan perkembangan zaman tentu hal tersebut perlu untuk disesuaikan. Definisi amwal yang berarti harta benda atau kekayaan dalam kalimat Hudz min amwaalihim shadaqatan tuthahiruhum…… dalam kontext sekarang tentulah harus disesuaikan. Jabatan dan profesi bisa dimaknai sebagai kekayaan karena keduanya dapat menjadi sumber kehidupan dan menghasilkan harta benda sebagaimana onta dan domba di masa Nabi.

Dengan demikian seorang mentri atau presiden tidaklah layak jika hanya mengeluarkan sekian ton beras dan gula setiap tahun yang mereka anggap sebagai zakat mereka. Sedangkan kebanyakan harta yang mereka miliki bukan hanya dari gaji sebagai president, mentri, ataupun pejabat eselon. Namun tak jarang dari mereka yang merangkap sebagai komisaris sebuah perusahaan, memiliki tanah, villa, emas dan deposit di bank. Jika mengikuti ketentuan zakat maka 2.5% dari total harta masing-masing dari mereka harus dikeluarkan sebagai pembayaran zakat. Sebagaimana pernah dilaporkan oleh sebuah lembaga pemeriksa kekayaan pejabat beberapa tahun lalu, ada seorang pejabat yang memiliki total kekayaan senilai 6 milyard rupiah atau bahkan lebih dari itu. Umpamakan saja 6 milyard dikalikan 2.5 % sudah ada sekitar 150 juta rupiah, itu untuk satu pejabat. Asumsinya negara kita mayoritas penduduknya adalah muslim sehingga para pejabatnya pun kebanyakan juga muslim. Hal ini belum termasuk para pedagang, konglomerat, pialang saham, para direktur dan eksekutif.

Memang Zakat sesungguhnya merupakan potensi ekonomi yang amat besar bagi bangsa Indonesia. Jika kita menengok jumlah muslim yang mayoritas di negara kita maka seharusnya zakat bisa menjadi solusi bagi pemecahan masalah kemiskinan di Indonesia. Jumlah muslim yang 90% dari total populasi 200 juta, maka anggap saja muslim yang wajib zakat sekitar 60% sehingga ada sekitar 120 juta penduduk. Jika diasumsikan harga 2.5 Kg beras Rp.5000 maka pada malam hari raya Idul Fitri bisa terkumpul uang sebesar 600 milyard rupiah, itu belum termasuk zakat harta, infaq dan shadaqah para orang kaya dan pejabat yang bisa mencapai 150 juta rupiah per orang. Anggap saja jumlah konglomerat muslim di indonesia ada sekitar 1 juta orang, jika setiap konglomerat membayar zakat 100 juta rupiah maka totalnya bisa mencapai 100 trilyun rupiah. Sehingga bila digabung maka jumlahnya bisa setara dengan APBN kita.

Jika pengelolaan zakat tersebut dapat dilakukan dengan baik maka maka persoalan sosial seperti TKI terlantar, pengungsi, anak jalanan, anak putus sekolah, dan pengangguran akan dapat teratasi. Karena pada dasarnya harta hasil Zakat dapat dikelola menjadi lebih modern dan berdaya guna semisal pemberian beasiswa, pemberian kursus ketrampilan, peminjaman modal usaha dll. Namun sekali lagi yang perlu disayangkan adalah bahwa Zakat masih lebih banyak dimaknai sebagai rutinitas dan ritualitas yang maknanya tak lepas dari 2.5 Kg beras yang dibayarkan menjelang malam Idul Fitri.

Saya mensarankan kepada pelaku survey kemiskinan agar melakukan research kemiskinan di Indonesia menjelang malam Idul Fitri, bisa dipastikan angka kemiskinan akan turun sangat drastis dimalam itu dan jangan melakukan research di hari lain karena seusai shalat Idul fitri angka kemiskinan akan kembali melonjak sangat drastis pula.

Mungkin ini bisa menjadi bahan pemikiran masyarakat deGromist seusai study dan tinggal di Indonesia.Pengelolaan Zakat dapat menjadi salah satu agenda program alumni deGromiest untuk melanjutkan pertautan silaturrahiim diantara kita. Amiin.

  READ MORE >>   Ramadhan 2004