READ MORE >>   Ramadhan 2004

Tulisan ketujuh dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Febdian Rusydi.

Sebuah Nasihat Abadi Pada Diri Saya

Tentu kita sudah memikirkan bahwa Bulan tidak memancarkan cahayanya sendiri, melainkan memantulkan dari cahaya Matahari. Namun sudah pernah kah kita memikirkan kenapa dia bisa memantulkan sedemikian rupa? Apakah kalau kita di Bulan juga akan melihat Bumi memantulkan cahaya Matahari?

Ach, tinggalkan dulu pertanyaan itu. Kita nikmati sejenak sinar sang rembulan ini.

Sinar Bulan memang membuat dia indah, tak peduli betapa capuk wajahnya. Lagian berapa banyak yang tahu wajahnya capuk? Sama dengan kegunaannya. “Tentu saja Bulan lebih berguna daripada Matahari. Bulan terbit malam ketika gelap, sementara Matahari terbit siang ketika hari sudah terang,” Begitu seloroh polos Badrun teman saya.

Salah kah mereka? Kalau mereka memang tertipu oleh indahnya sinar sang Bulan, mereka jelas tidak salah. Tahu tertipu pun siapa yang peduli, kala malam datang sinar Bulan menolong mereka menerangi jalan.

Bulan ini mirip-mirip dengan kita. Banyak sekali orang-orang pintar yang terlahir merubah wajah dunia ini. Sebut saja Isaac Newton, hanya dengan memakai persamaan geraknya bangsa Amerika sudah berkali-kali menerbangkan roket bolak-balik Bumi — luar angkasa. Dan banyak lagi contoh orang-orang terkenal lainnya. Mereka itu memang bulan. Suka atau tidak, mereka sudah menerangi beberapa jalan pada kita. Terlepas dari pilihan kita untuk setuju atau tidak, tho wajah peradaban dunia sudah digaris-garisi oleh kehadiran mereka.

Kita juga adalah bulan. Kita mencerahkan orang, dengan segala kelebihan yang kita punya. Namun, wajah kita tak luput dari capuk. Capuk? Ya. Capuk karena kita resah, walau disisi lain orang lain tercerahkan karena kita. Atau capuk karena tak sanggup mencerahkan orang lain. Lebih parah lagi, terang kita seperti bulan sabit.

Tengoklah bulan sabit. Dia tetap bersinar walau cuma separuh atau malah kurang. Sinarnya remang-remang. Coba lah keluar saat bulan sabit bersinar. Jalanan gelappun masih bisa terlihat, walah kadang ga bisa bedakan selokan ama rumput.. Keindahannua juga berkurang. Namun demi praktis kita masih berpikir “selama emang masih bisa menuntun, peduli apa dengan keindahan?”.

Semakin banyak ilmu yang kita pahami, semakin banyak rahasia alam yang kita mengerti, semakin bersinar lah kita. Namun sinar itu belum membuat kita menjadi purnama. Sialnya lagi, malah mulai berpikir seperti Badrun teman saya.

Berapa banyak orang-orang pintar kemudian menafikan keeksistesian Tuhan? Apakah lantas kemudian Tuhan mencabut kasihNya? Atau tiba-tima membuatnya jadi bodoh? Mereka seperti Bulan sabit, tetap bersinar walau cuma separuh.

Sementara itu ada orang-orang seperti Kang Bejo. Siapa yang sangka beliau yang cuma tahu mencangkul begitu bahagia dengan sebatang rokoknya. Dia tidak tahu bahwa alam semesta ini mengembang, dia tidak tahu bahwa paradigma kita tentang dimensi alam semesta harus dirubah, dari 4 ke 11 dimensi, jikalau Superstring Theory adalah benar. Dia malah mungkin masih menganut geometri euclidian. Dia tidak peduli tetangganya berlomba-lomba mencari harta. Baginya hidup adalah kesederhanaan, tak perlu muluk-muluk dengan dunia. Jalani sajalah sambil tetap bersukur. Kesedikittahuannya pada modernisasi justru membuatnya tetap dekat dengan Tuhannya. Dia juga bersinar, walau mungkin hanya untuk dirinya sendiri.

Namun, sebegitukahnya kita sehingga, sengaja atau tidak, mengacuhkan saudara yang lain yang butuh pencerahan? Keegosian tanpa sengaja ini juga ibarat Bulan sabit, bersinar tapi cuma separuh.

Tuhan memang Maha Adil. Bulan purnama bersinar, yang sabitpun bisa bersinar. Walau, kalau kita boleh memilih tentu lebih ingin menjadi purnama. Kecapukan kita mungkin tak terhilangkan. Namun keindahan kita bisa ditambah untuk mengimbangi kecapukan tersebut.

Siapa sih yang ga pengen jadi Bulan Purnama, berotak Newton berhati Kang Bejo?

  READ MORE >>   Ramadhan 2004