READ MORE >>   Ramadhan 2004

Tulisan kelima dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Bahrul Fuad.

Heboh tentang pemikiran Abu Zayd yang kontroversial tersebut adalah imbas dari kemajuan teknologi Informasi dewasa ini. Ide atau pemikiran yang sebenarnya hanya untuk konsumsi kalangan terbatas menjadi milik publik. Ide pak Abu Zayd tentang Kritik Nalar al Quran, sebenarnya bukanlah barang aneh bagi orang-orang yang pernah belajar Ilmu tafsir lebih khusus sejarah tafsir. Dikalangan anak-anak IAIN jurusan Ilmu Tafsir Hadist pemikiran Abu zayd ini menjadi salah satu kajian bahkan salah satu buku beliau jadi bahan referensi mereka.

Sedikit dari ilmu tafsir, menurut ilmu ini Al-Quran terdiri dari dua unsur pokok. Pertama adalah Text, dia adalah tulisan yang dibuat oleh manusia. Karena Al Quran adalah media komunikasi antara Allah dan manusia. Bahasa Allah yang transendent,qodim,azali dan mutlak tentu tidak akan dapat dipahami oleh manusia. Oleh karena itu butuh perantara, yaitu al Qur’an yang ditulis dengan bahasa Arab. Tentu bukan bahasa Jawa, Padang ataupun Inggris karena memang nabi Muhammad tidak lahir di Padang melainkan di Arab. Menurut para ilmuwan bahasa itu kan produk budaya, simbol-simbol yang dikodifikasikan oleh manusia untuk menandai sesuatu, bisa berupa barang, nama orang dll. Nah yang menjadi persoalan, Kalamullah yang azali,qodim dan mutlak itu harus diterjemshksn dslsm bahasa lisan dan bahkan tulis dari manusia yang sifatnya terbatas. Tentu bahasa tidak mampu sepenuhnya menerjemahkan maksud Allah yang amat agung, universal dan mutlak.

Unsur kedua adalah pesan yang terkandung di balik text itu sendiri. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Al Quran itu kan tidak diturunkan Allah gedebug..30 juz seperti sekarang yang kita punya sekarang. Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahunan untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh ummat kala itu. Maka sesungguhnya urutan Al Quran itu tidak seperti yang kita punya sekarang. Yang pertama kan “Iqra’ bismirabbikal ladhi khalaq” trus yang terakhir kan “Al Yauma Akmaltu lakum diinakum…. ” Nah Al Quran turun itu kan pesannya disampaikan secara general, umum sehingga ummat waktu itu pun ada yang kurang jelas. Sehingga muncullah Hadist sebagai penjelasan Al Quran.

Al Quran sudah berumur lebih dari 1400 tahun. namun tetap utuh tak satupun huruf yang hilang. Seperti janji Allah “Kami yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya kamilah yang akan menjaganya”. maka Insya Allah bunyi Al Quran itu akan abadi hingga yaumil Qiamah. Nah yang menjadi perdebatan para ulama itu kan penafsirannya. Menyingkap pesan di balik text al Quran. Semenjak dahulu, sepeninggal Rasulullah banyak ulama’ yang menafsirkan Al Quran denag beraneka ragam, karena memang sudah tidak ada lagi yang di jadikan tempat klarifikasi (Nabi Muhammad). Sekedar info, madzab fiqih itu sebenarnya bukan hanya 4 tapi ada lebih dari 350 an madzab. Nah lo…

Bagi saya “pribadi” apa yang dilontarkan pak Abu Zayd bahwa Al Quran adalah produk budaya juga tidaklah terlalu salah, untuk tidak mengatakan benar. Dalam konteks memamang Al Quran turun untuk merenpon kondisi masyarakat setempat yang tidak lepas dari budaya setempat juga. (ini untuk saya pribadi bukan untuk ummat).

Saya juga melihat bahwa sebagai konsekuensi dari kemajuan tehnologi informasi, maka ide Abu Zayd ini bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga menimbulkan berbagai kelompok pro atau kontra yeng sebenarnya bisa memberi keuntungan pada kelompok yang ingin memecah belah ummat Islam. Ide abu zayd yang sebenarnya hanya pada tataran tafsir, seolah-olah menjadi Abu Zayd ingin merubah Al Quran. Sebagai umat Islam seharusnya kita lebih waspada dengan pihak ketiga ini.

Apa yang terjadi pada diri pak zayd bisa dilihat sebagai pergulatan pemikiran atau proses mencari kebenaran seorang anak manusia yang penuh dengan keterbatasan. Sehingga tidak layak bagi kita untuk mencaci maki dia, mengkafirkan dll. Karena kalo kita pertanyakan siapakah sebenarnya yang benar atau yang salah, kita tidak pernah tahu karena Allahlah yang maha tahu. Seperti seorang anak yang bertanya pada ayahnya “bagaimana bentuk Tuhan dan di mana Dia? ” tentu sangat tidak bijaksana kalo ayahnya memarahi anaknya karena pertanyaan yang jujur itu. Begitu pula Allah, dengan sifat rahman rahimnya Dia akan senyum-senyum melihat tingkah pak Abu zayd. Bukan seperti sebagian kita yang mencaci maki bahkan mengkafirkan atau menuduhnya sebagai agen Yahudi dan Kristen. Subhanallaah……Bukankah di Al Quran dikatakan bahwa “janganlah sekali kamu mencaci sebagian dari kamu, karena sesungguhnya kamu belum tentu lebih baik dari yang kamu caci”.

Nah sebagai masyarakat awam saya hanya mengambil hikmah dari dua beda pendapat ini. Sehingga saya sebenarnya punya keuntungan ganda untuk dapat juga belajar dari pemikiran Abu Zayd dan kelompok yang menentangnya. namanya kan kalo ada perbedaan dikalangan ulama’ maka itu kan menjadi rahmah bagi ummatnya.

Saya bersyukur dilahirkan sebagai ummat Islam, karena Islam sangat luas sekali dan kaya akan ilmu pengetahuan. Ini hanya sebagian kecil dari khasanah Islam, kita belum lihat yang lainnya, psikologi, politik, hukum, fisika, biologi dll.

  READ MORE >>   Ramadhan 2004